|
4. An Nisaa'
|
|
Kewajiban mengerjakan shalat dalam keadaan bagaimanapun
101. Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka
tidaklah mengapa kamu men-qashar[343] sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang
kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.
|
|
[343]. Menurut pendapat jumhur arti qashar di sini ialah:
sembahyang yang empat rakaat dijadikan dua rakaat. Mengqashar di sini ada kalanya
dengan mengurangi jumlah rakaat dari 4 menjadi 2, yaitu di waktu bepergian
dalam keadaan aman dan ada kalanya dengan meringankan rukun-rukun dari yang 2
rakaat itu, yaitu di waktu dalam perjalanan dalam keadaan khauf. Dan ada
kalanya lagi meringankan rukun-rukun yang 4 rakaat dalam keadaan khauf di
waktu hadhar.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
102. Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka
(sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka
hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang
senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah
menyempurnakan serakaat)[344], maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi
musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang,
lalu bersembahyanglah mereka denganmu[345]], dan hendaklah mereka bersiap siaga
dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap
senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan
tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat
sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap
siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan
bagi orang-orang kafir itu[346].
|
|
[344]. Menurut jumhur mufassirin bila telah selesai
serakaat, maka diselesaikan satu rakaat lagi sendiri, dan Nabi duduk menunggu
golongan yang kedua.
[345]. Yaitu rakaat yang pertama, sedang rakaat yang kedua mereka selesaikan sendiri pula dan mereka mengakhiri sembahyang mereka bersama-sama Nabi. [346]. Cara sembahyang khauf seperti tersebut pada ayat 102 ini dilakukan dalam keadaan yang masih mungkin mengerjakannya, bila keadaan tidak memungkinkan untuk mengerjakannya, maka sembahyang itu dikerjakan sedapat-dapatnya, walaupun dengan mengucapkan tasbih saja. |
|
4. An Nisaa'
|
|
103. Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu),
ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.
Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana
biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas
orang-orang yang beriman.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
104. Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka
(musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun
menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu
mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
KEHARUSAN MENJAGA KEBENARAN DAN KEADILAN Keharusan adil dan tidak memihak dalam menetapkan sesuatu hukum
105. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu
dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa
yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang
(orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat[347],
|
|
[347]. Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan
berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu'mah dan ia menyembunyikan
barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu'mah tidak mengakui
perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi.
Hal ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu'mah kepada Nabi s.a.w. dan mereka
meminta agar Nabi membela Thu'mah dan menghukum orang-orang Yahudi,
kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu'mah, Nabi
sendiri hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu'mah dan kerabatnya itu terhadap
orang Yahudi.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
106. dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
107. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela)
orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,
|
|
4. An Nisaa'
|
|
108. mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak
bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam
mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redlai. Dan adalah Allah
Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
109. Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang
berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang
akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah
yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)?
|
|
4. An Nisaa'
|
|
110. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan
menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia
mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
111. Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya
ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
112. Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa,
kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia
telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
113. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya
kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk
menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan
mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena)
Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan
kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar
atasmu.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
114. Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan
mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi
sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan
barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak
Kami memberi kepadanya pahala yang besar.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
115. Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas
kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin,
Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
|
|
[348]. Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
Kejelekan syirik dan pengaruh syaitan
116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain
syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan
(sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
117. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain
hanyalah berhala[349], dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah
menyembah syaitan yang durhaka,
|
|
[349]. Asal makna Inaatsan ialah
wanita-wanita. Patung-patung berhala yang disembah Arab Jahiliyah itu
biasanya diberi nama dengan nama-nama perempuan sebagai Laata, al Uzza dan
Manah. Dapat juga berarti di sini orang-orang mati, benda-benda yang tidak
berjenis dan benda-benda yang lemah.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
118. yang dila'nati Allah dan syaitan itu mengatakan:
"Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang
sudah ditentukan (untuk saya)[350],
|
|
[350]. Pada tiap-tiap manusia ada persediaan untuk baik
dan ada persediaan untuk jahat, syaitan akan mempergunakan persediaan untuk
jahat untuk mencelakakan manusia.
|
|
4. An Nisaa'
|
|
119. dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan
membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong
telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya[351], dan akan aku suruh mereka (mengubah
ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya[352]." Barangsiapa yang menjadikan
syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita
kerugian yang nyata.
|
|
[351]. Menurut kepercayaan Arab Jahiliyah,
binatang-binatang yang akan dipersembahkan kepada patung-patung berhala,
haruslah dipotong telinganya lebih dahulu, dan binatang yang seperti ini
tidak boleh dikendarai dan tidak dipergunakan lagi, serta harus dilepaskan
saja.
[352]. Meubah ciptaan Allah dapat berarti, mengubah yang diciptakan Allah seperti mengebiri binatang. Ada yang mengartikannya dengan meubah agama Allah. |
|
4. An Nisaa'
|
|
120. Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan
membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak
menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar