|
7. Al A'raaf
|
|
181. Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat
yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka
menjalankan keadilan.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
182. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami,
nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan),
dengan cara yang tidak mereka ketahui.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
183. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya
rencana-Ku amat teguh.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
184. Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa
teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain
hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
185. Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit
dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah
dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan
beriman sesudah Al Quran itu?
|
|
7. Al A'raaf
|
|
186. Barangsiapa yang Allah sesatkan[587], maka baginya tak ada orang yang
akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam
kesesatan.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
Hanya Allahlah yang mengetahui waktu datangnya hari kiamat
187. Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat:
"Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan
tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat
menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru
haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan
datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba." Mereka bertanya kepadamu
seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya
pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui."
|
|
7. Al A'raaf
|
|
188. Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik
kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang
dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku
membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan.
Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi
orang-orang yang beriman."
|
|
7. Al A'raaf
|
|
Tuhan mengingatkan manusia kepada asal usul kejadiannya
189. Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan
dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.
Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan,
dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa
berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya
berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh,
tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur."
|
|
7. Al A'raaf
|
|
190. Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak
yang sempurna, maka keduanya[588] menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah
dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang
mereka persekutukan.
|
|
[588]. Maksudnya: orang-orang musyrik itu menjadikan
sekutu bagi Tuhan dalam menciptakan anak itu dengan arti bahwa anak itu
mereka pandang sebagai hamba pula bagi berhala yang mereka sembah. Karena
itulah mereka menamakan anak-anak mereka dengan Abdul Uzza, Abdu Manaah, Abdu
Syam dan sebagainya.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
191. Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan)
berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan
berhala-berhala itu sendiri buatan orang.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
192. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi
pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun
berhala-berha]a itu tidak dapat memberi pertolongan.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
193. Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya
(berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat
memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka
ataupun kamu berdiam diri.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
Berhala tidak patut disembah
194. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain
Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka
serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka mmperkenankan
permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
195. Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu
ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang
dengan keras[589], atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau
mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah:
"Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian
lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku. tanpa memberi tangguh
(kepada-ku)."
|
|
[589]. Kata yabthisyuun di sini diartikan
bertindak dengan keras; maksudnya: menampar, merusak, memukul, merenggut
dengan kasar dan sebagainya.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
196. Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah
menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
197. Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah
tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
198. Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala)
untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-herhala itu tidak dapat mendengarnya.
Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak
melihat.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
Dasar-dasar al-akhlaqul kariimah
199. Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan
yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
200. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah
kepada Allah[590]
|
|
[590]. Maksudnya: membaca A'udzubillahi
minasy-syaithaanir-rajiim.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
201. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka
ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga
mereka melihat kesalahan-kesalahannya.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
202. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik)
membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya
(menyesatkan).
|
|
7. Al A'raaf
|
|
ADAB MENDENGAR PEMBACAAN AL QUR'AN DAN BERZIKIR
203. Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran
kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat
itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang
diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata
dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
|
|
7. Al A'raaf
|
|
204. Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah
baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat[591].
|
|
[591]. Maksudnya: jika dibacakan Al Quran kita diwajibkan
mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik dalam sembahyang maupun
di luar sembahyang, terkecuali dalam shalat berjamaah ma'mum boleh membaca Al
Faatihah sendiri waktu imam membaca ayat-ayat Al Quran.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
205. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan
merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu
pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
206. Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi
Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya
dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud[592].
|
|
[592]. Ini salah satu ayat sajdah yang disunatkan kita
bersujud setelah membacanya atau mendengarnya, baik di dalam sembahyang
maupun di luar sembahyang. Sujud ini dinamakan sujud tilawah.
|
|
7. Al A'raaf
|
|
Penutup
|
|
Surat Al A'raaf dimulai dengan pengutaraan tentang kewajiban manusia mengikuti rasul serta akibat-akibat mengingkarinya. Selanjutnya diterangkan tentang perselisihan antara Nabi Adam dan iblis di surga yang juga merupakan permulaan perselisihan antara golongan yang taat kepada perintah Allah dan golongan yang mengingkari sebagaimana yang terjadi pada nabi-nabi dahulu dengan umat-umatnya. Kemudian surat ini ditutup dengan adab-adab orang mukmin, adab-adab mendengarkan ayat-ayat Allah dan bagaimana cara berdoa dan berzikir kepada-Nya. HUBUNGAN ANTARA SURAT AL A'RAAF DENGAN SURAT AL ANFAAL 1. Akhir surat Al A'raaf mengemukakan keadaan beberapa orang rasul sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dalam menghadapi kaumnya, sedang permulaan surat Al Anfaal menerangkan keadaan Nabi Muhammad s.a.w. dalam menghadapi umatnya. 2. Permusuhan antara Adam dan iblis di surga kemudian dilanjutkan dengan permusuhan antara manusia yang menerima petunjuk Allah dengan yang mengingkarinya, hal ini diterangkan dalam surat Al A'raaf. Hal yang serupa diterangkan lebih jelas dalam surat Al Anfaal sebagaimana pertentangan ke dua golongan itu, serta tingkah laku mereka dalam peperangan Badar. Surat Al A'raaf termasuk surat yang banyak persesuaiannya dengan surat-surat Al Quran yang lain: seperti dengan surat Al Baqarah, Ali 'Imran, At Taubah, Yunus dan sebagainya. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar