{أَوَلَمْ
يَرَ الإنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ
(77) وَضَرَبَ لَنَا مَثَلا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ
وَهِيَ رَمِيمٌ (78) قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ
بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ (79) الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الأخْضَرِ
نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ (80) }
Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa
Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang
nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya;
ia berkata, "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur
luluh?” Katakanlah, "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama
kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Tuhan Yang
menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan
(api) dari kayu itu.”Mujahid, Ikrimah, Urwah ibnuz Zubair, As-Saddi, dan Qatadah mengatakan bahwa Ubay ibnu Khalaf laknatullah datang kepada Rasulullah Saw. dengan membawa sebuah tulang yang sudah rapuh, lalu ia remas-remas tulang itu hingga hancur dan menebarkannya ke udara seraya berkata, "Hai Muhammad, apakah engkau mengira bahwa Allah akan membangkitkan hidup kembali tulang ini?" Rasulullah Saw. menjawab:
"نَعَمْ،
يُمِيتُكَ اللَّهُ تَعَالَى ثُمَّ يَبْعَثُكَ، ثُمَّ يَحْشُرُكَ إِلَى
النَّارِ"
Benar, Allah akan mematikanmu, kemudian membangkitkanmu hidup kembali,
lalu menggiringmu ke neraka. Dan turunlah ayat-ayat berikut hingga akhir
surat, yaitu: Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami
menciptakannya dari setitik air (mani). (Yasin: 77), hingga akhir surat.
قَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الحسين بْنِ الْجُنَيْدِ، حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الزَّيَّاتُ، عَنْ
هُشَيْم، عَنْ أَبِي بِشْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ، عَنِ ابن عباس، أن
العاصى بْنَ وَائِلٍ أَخَذَ عَظْمًا مِنَ الْبَطْحَاءِ ففتَّه بِيَدِهِ، ثُمَّ
قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُحْيِي اللَّهُ
هَذَا بَعْدَ مَا أَرَى؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: "نَعَمْ، يُمِيتُكَ اللَّهُ ثُمَّ يُحْيِيكَ، ثُمَّ يدخلك جهنم".
قال: وَنَزَلَتِ
الْآيَاتُ مِنْ آخَرِ "يس".
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain
ibnul Junaid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Ala, telah
menceritakan kepada kami Usman ibnu Sa'id Az-Zayyat, dari Has'yim, dari Abu
Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa
sesungguhnya Al-As ibnu Wa'il memungut sepotong tulang dari Bat-hah, lalu
menghancurkannya dengan tangannya, kemudian ia berkata kepada Rasulullah Saw.,
"Apakah Allah akan menghidupkan kembali hewan ini sesudah apa yang kulihat
sekarang?" Rasulullah Saw. menjawab: Benar, Allah akan mematikanmu, lalu
menghidupkanmu, kemudian memasukkanmu ke dalam neraka Jahanam. Ibnu Abbas
mengatakan bahwa setelah itu turunlah ayat-ayat yang terakhir dari surat Yasin.
Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Ya'qub ibnu Ibrahim, dari Hasyim, dari Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, lalu disebutkan hal yang semisal, tetapi dalam periwayatan ini tidak disebutkan Ibnu Abbas.
Telah diriwayatkan pula melalui jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Ubay datang dengan membawa sepotong tulang, lalu ia menghancurkannya, selanjutnya disebutkan hal yang semisal. Hal ini jelas mungkar karena surat ini adalah Makkiyyah, sedangkan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul hanya ada di Madinah.
Akan tetapi, pada garis besarnya dapat dikatakan bahwa sama saja apakah ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ubay ibnu Khalaf, atau Al-As ibnu Wa'il, atau berkenaan dengan kedua-duanya, makna ayat mengandung pengertian yang umum mencakup semua orang yang ingkar terhadap adanya hari berbangkit.
Huruf alif dan lam yang ada di dalam firman-Nya:
{أَوَلَمْ
يَرَ الإنْسَانُ}
Dan apakah manusia tidak memperhatikan. (Yasin: 77)Menunjukkan pengertian al-liljinsi yang berarti mencakup semua orang yang ingkar terhadap adanya hari berbangkit.
********
{أَنَّا
خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ}
bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba
ia menjadi penantang yang nyata. (Yasin: 77)Yakni apakah orang yang ingkar terhadap adanya hari berbangkit tidak menyimpulkan dari permulaan penciptaan dirinya yang menunjukkan kepada pengembaliannya? Karena sesungguhnya Allah mulai menciptakan manusia dari sari pati air yang hina. Dia menciptakannya dari sesuatu yang hina, lemah, dan kecil, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{أَلَمْ
نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ * فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ * إِلَى
قَدَرٍ مَعْلُومٍ}
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan
dia dalam tempat yang kokoh (Rahim). Sampai waktu yang ditentukan (Al Mursalat :
20-21)Dan firman Allah Swt.:
{إِنَّا
خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ}
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang
bercampur. (Al-Insan: 2)Yaitu dari air mani yang bercampur, dan Tuhan yang menciptakan manusia dari nutfah yang lemah ini pasti dapat menghidupkannya kembali sesudah matinya.
Imam Ahmad mengatakan di dalam kitab musnadnya:
حَدَّثَنَا
أَبُو الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا حَريز، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ
مَيْسَرة، عَنْ جُبَيْر بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ بُسْر ابن جَحَّاش؛ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَصق يَوْمًا فِي كفِّه، فَوَضَعَ
عَلَيْهَا أُصْبُعَهُ، ثُمَّ قَالَ: "قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ابْنَ آدَمَ، أنَّى
تُعجزني وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ مِثْلِ هَذِهِ، حَتَّى إِذَا سَوَّيتك وعَدَلتك،
مَشَيْتَ بَيْنَ بردَيك وَلِلْأَرْضِ مِنْكَ وَئِيدٌ، فَجَمَعْتَ وَمَنَعْتَ،
حَتَّى إِذَا بَلَغَت التَّرَاقِي قُلْتَ: أتصدقُ وأنَّى أَوَانُ الصَّدَقَةِ؟
".
Telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami
Hariz, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Maisarah, dari Jubair ibnu
Nafir, dari Bisyr ibnu Jahhasy yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah
Saw. meludah di telapak tangannya pada suatu hari, lalu meletakkan jari
telunjuknya pada ludahnya itu dan bersabda: Allah SWT berfirman, "Hai
Bani Adam, bagaimanakah engkau menganggap-Ku tidak berkuasa, sedangkan Aku telah
menciptakanmu dari hal semisal ini; dan manakala Aku telah menyempurnakan
bentukmu dan menyelesaikan ciptaanmu hingga kamu dapat berjalan dengan
mengenakan baju burdahmu dan bumi ini sebagai tempat berpijakmu, lalu kamu
menghimpun (harta) dan tidak mau bersedekah. Hingga manakala roh sampai
di tenggorokan, lalu kamu katakan, 'Aku akan bersedekah', tetapi masa bersedekah
telah habis.”Ibnu Majah meriwayatkannya melalui Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Yazid ibnu Harun, dari Hariz ibnu Usman dengan sanad yang sama.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{وَضَرَبَ
لَنَا مَثَلا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ
رَمِيمٌ}
Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia
berkata, "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur
luluh?" (Yasin: 78)Yakni dia menganggap mustahil bahwa Allah Yang mempunyai kekuasaan Yang besar yang telah menciptakan langit dan bumi ini dapat mengembalikan jasad dan tulang-belulang yang telah hancur luluh menjadi hidup kembali. Dia lupa akan dirinya, bahwa Allah telah menciptakannya dari tiada menjadi ada. Padahal kalau dia merenungkan kejadian dirinya, tentulah ia dapat membuktikan hal yang lebih kuat daripada keingkarannya yang membuktikan kekuasaan Allah Swt. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{قُلْ
يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ
عَلِيمٌ}
Katakanlah, "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama
kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (Yasin: 79)Yakni mengetahui tulang-belulang yang berserakan di seantero bumi, kemana perginya dan ke mana bercerai-berainya.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانة، عَنْ عَبْدِ
الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ رِبْعيّ قَالَ: قَالَ عُقْبَةُ بْنُ عَمْرٍو
لِحُذَيْفَةَ: أَلَا تحدثُنا مَا سمعتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: سَمِعْتُهُ يَقُولُ: "إِنْ رَجُلًا حَضَرَهُ
الْمَوْتُ، فَلَمَّا أَيِسَ مِنَ الْحَيَاةِ أَوْصَى أَهْلَهُ: إِذَا أَنَا مُتُّ
فَاجْمَعُوا لِي حَطَبا كثيرًا جزَلا
ثُمَّ أَوْقَدُوا فِيهِ نَارًا، حَتَّى إِذَا [أَكَلَتْ] لَحْمِي وخلَصت إِلَى
عَظْمِي فامتُحِشْتُ، فَخُذُوهَا فَدُقُّوهَا فَذَروها فِي الْيَمِّ. فَفَعَلُوا،
فَجَمَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ فَقَالَ لَهُ: لِمَ فَعَلْتَ ذَلِكَ؟ قَالَ: مِنْ
خَشْيَتِكَ. فَغَفَرَ اللَّهُ لَهُ". فَقَالَ عُقْبَةُ بْنُ عَمْرٍو: وَأَنَا
سُمْعَتُهُ يَقُولُ ذَلِكَ، وَكَانَ نبَّاشا.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah
menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Rib'i
yang mengatakan bahwa Uqbah ibnu Amr berkata kepada Huzaifah, "Mengapa engkau
tidak menceritakan kepada kami hadis yang pernah engkau dengar dari Rasulullah
Saw.?" Huzaifah r.a. menjawab, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw.
bersabda: Sesungguhnya pernah ada seorang lelaki yang menjelang ajalnya;
ketika ia merasa putus harapan untuk dapat hidup, ia berwasiat kepada
keluarganya, "Apabila aku telah mati, maka kumpulkanlah kayu bakar yang banyak
sekali untukku, kemudian bakarlah kayu itu. Manakala api telah menghanguskan
dagingku dan membakar tulangku hingga hangus, maka ambillah tubuhku, lalu
tumbuklah, setelah itu tebarkanlah abuku ke laut." Maka keluarganya melakukan
apa yang diwasiatkannya itu, dan Allah menghimpun kembali semua abunya ke
hadapan-Nya, kemudian Allah bertanya kepadanya, "Mengapa engkau lakukan itu?” Ia
menjawab, "Karena rasa takutku kepada Engkau, " maka Allah memberikan ampunan
baginya. Uqbah ibnu Amr mengatakan bahwa ia pernah pula mendengar hadis
tersebut dari Nabi Saw., dan beliau menjelaskan bahwa lelaki itu adalah tukang
mencuri perlengkapan mayat yang telah dikubur dengan menggali kembali
kuburnya.Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahih masing-masing melalui hadis Abdul Malik ibnu Umair dengan teks yang cukup banyak, yang antara lain menyebutkan bahwa lelaki tersebut memerintahkan kepada anak-anaknya agar setelah ia mati, jasadnya dibakar, lalu abunya ditaburkan separonya di daratan dan separonya lagi di laut di hari yang berangin besar; kemudian mereka melakukan hal tersebut. Kemudian Allah Swt. memerintahkan kepada laut agar mengumpulkan abu itu yang ada padanya, dan memerintahkan pula kepada bumi untuk mengumpulkan abu itu yang ada padanya. Sesudah itu Allah Swt. berfirman kepadanya, "Jadilah kamu!" Maka dengan serta merta kembalilah abu itu ke ujud yang semula sebagai lelaki tersebut dalam keadaan utuh, lalu Allah bertanya kepadanya, "Apakah yang mendorongmu berbuat seperti itu?" Lelaki itu menjawab, "Karena takut kepada Engkau, dan Engkau lebih mengetahui." Maka tidak lama kemudian Allah memberikan ampunan kepadanya.
**************
Firman Allah Swt.:
{الَّذِي
جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الأخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ
تُوقِدُونَ}
yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka
tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. (Yasin: 80)Tuhanlah yang menciptakan pohon ini dari air sejak semula hingga menjadi pohon yang hijau lagi segar berbuah dan dapat dituai buahnya, kemudian Dia mengembalikannya hingga jadilah ia kayu yang kering dan dapat dijadikan sebagai kayu bakar. Dia Maha berbuat terhadap apa yang dikehendaki-Nya, lagi Mahakuasa terhadap apa yang diinginkan-Nya, tiada sesuatu pun yang dapat mencegah-Nya.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. (Yasin: 80) Bahwa Tuhan Yang mengeluarkan api dari pohon itu mampu mengembalikannya hidup kembali.
Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah pohon marakh dan 'ifar yang tumbuh di tanah Hijaz. Orang yang tidak mempunyai pemantik api bisa saja mengambil dua buah tangkai yang masih hijau dari masing-masing pohon itu, lalu menggesekkan yang satu dengan yang lainnya, maka timbullah api dari keduanya, sama saja dengan menyalakan api memakai pemantik api. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. Di dalam peribahasa (Arab) disebutkan bahwa masing-masing pohon mempunyai apinya sendiri, dan yang paling banyak ialah marakh dan 'ifar. Orang-orang bijak mengatakan bahwa setiap pohon itu mempunyai api, kecuali pohon anggur.
{أَوَلَيْسَ
الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ
بَلَى وَهُوَ الْخَلاقُ الْعَلِيمُ (81) إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا
أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (82) فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ
كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (83) }
Dan tidakkah Tuhan Yang menciptakan langit
dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar Dia berkuasa.
Dan Dialah Maha Pencipta lagr Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila
Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka terjadilah
ia. Maka Mahasuci (Allah) yang di
tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.
Allah Swt. berfirman seraya memberitakan dan mengingatkan (manusia) akan kekuasaan-Nya Yang Mahabesar di langit yang tujuh lapis; berikut semua bintang yang ada padanya, baik yang tetap maupun yang beredar, Yang Mahabesar di bumi lapis tujuh berikut semua gunung, padang pasir, laut, dan hutan belantara serta apa yang ada di antaranya. Dia memberikan petunjuk melalui hal tersebut yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya, bahwa Tuhan Yang Menciptakan segala sesuatu yang besar-besar itu mampu menghidupkan kembali, jasad-jasad yang telah mati.
Allah Swt. telah berfirman:
{لَخَلْقُ
السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ}
Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan
manusia. (Al-Mu-min: 57)
**********
Adapun firman Allah Swt.:
{أَوَلَيْسَ
الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ
مِثْلَهُمْ}
Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa
menciptakan yang serupa dengan itu? (Yasin: 81)Yakni serupa dengan manusia, maka Dia mengembalikan mereka menjadi hidup kembali sebagaimana Dia memulai penciptaan mereka. Demikianlah menurut pendapat Ibnu Jarir.
Dan ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{أَوَلَمْ
يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ وَلَمْ يَعْيَ
بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى بَلَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ}
Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah yang
menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya,
kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia
Mahakuasa atas segala sesuatu. (Al-Ahqaf: 33)Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{بَلَى
وَهُوَ الْخَلاقُ الْعَلِيمُ إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ
لَهُ كُنْ فَيَكُونُ}
Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata
kepadanya, "Jadilah!" Maka terjadilah ia. (Yasin: 81-82)Yakni sesungguhnya Dia hanya memerintahkan kepada sesuatu sekali perintah, tidak perlu diulangi atau ditegaskan: Apabila Allah menghendaki suatu urusan, maka Dia hanya berfirman kepadanya, "Jadilah," sekali ucap, maka jadilah ia.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْر، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ المسَيَّب،
عَنْ شَهْر، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْم، عَنْ أَبِي ذَر، رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ
اللَّهَ يَقُولُ: يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ مُذْنِبٌ إِلَّا مِنْ عَافَيْتُ،
فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ. وَكُلُّكُمْ فَقِيرٌ إِلَّا مَنْ أَغْنَيْتُ،
إِنِّي جَوَادٌ مَاجِدٌ وَاجِدٌ أَفْعَلُ مَا أَشَاءُ، عَطَائِي كَلَامٌ،
وَعَذَابِي كَلَامٌ، إِذَا أَرَدْتُ شَيْئًا فَإِنَّمَا أَقُولُ لَهُ كُنْ
فَيَكُونُ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Namir,
telah menceritakan kepada kami Musa ibnul Musayyab, dari Syahr, dari Abdur
Rahman ibnu Ganam, dari Abu Zar r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya
Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. berfirman, "Hai
hamba-hamba-Ku, kalian semua berdosa terkecuali orang yang Aku maafkan. Maka
mohonlah ampunan kepada-Ku, tentu Aku mengampuni kalian. Dan kalian semua
miskin, kecuali orang yang Aku beri kecukupan; sesungguhnya Aku Maha Pemurah,
Mahaagung, Mahakaya, Aku melakukan apa saja yang Kukehendaki. Pemberian-Ku hanya
satu kata, dan azab-Ku hanya satu kata; apabila Aku menghendaki sesuatu,
sesungguhnya Aku hanya mengatakan kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah
ia.”
********
Firman Allah Swt.:
{فَسُبْحَانَ
الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ}
Maka Mahasuci (Allah) yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala
sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Yasin: 83)Yakni Mahasuci dan Mahabersih Allah, sebagai ungkapan memahasucikan dan memahabersihkan Tuhan Yang Hidup, Yang terus menerus mengatur makhluk-Nya dari semua keburukan. Di tangan kekuasaan-Nyalah terletak semua kendali kekuasaan di langit dan di bumi, dan hanya kepada-Nyalah dikembalikan semua utusan. Dialah Yang Menciptakan dan Yang Memerintah, dan kepada-Nyalah dikembalikan semua hamba pada hari mereka dibangkitkan, lalu Dia membalas setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya. Dia Mahaadil, Pemberi Nikmat dan Pemberi Karunia. Maka firman Allah Swt.: Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu. (Yasin: 83)
Semakna dengan firman Allah Swt.:
{قُلْ
مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ}
Katakanlah, "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala
sesuatu ?” (Al-Mu-minun: 88)Dan firman Allah Swt.:
{تَبَارَكَ
الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ}
Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan. (Al-Mulk:
1)Lafaz al-mulk dan al-malakut sama, seperti halnya lafaz rahmah dan rahmut, rahbah, dan rahbut, dan jabar dan jabarut.
Di antara ulama ada yang menduga bahwa al-mulk adalah alam jasad, sedangkan al-malakut alam roh. Pendapat yang benar adalah yang pertama, pendapat itulah yang dipegang oleh kebanyakan ulama tafsir dan lain-lainnya.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ،
حَدَّثَنِي ابْنُ عَمٍّ لِحُذَيْفَةَ، عَنْ حُذَيْفَةَ -وَهُوَ ابْنُ
الْيَمَانِ-رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَقَرَأَ السَّبْعَ
الطُّوَل فِي
سَبْعِ رَكَعَاتٍ، وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ قَالَ: "سَمِعَ
اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ". ثُمَّ قَالَ: "الْحَمْدُ لِذِي ذِي الْمَلَكُوتِ
وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ" وَكَانَ رُكُوعُهُ مِثْلَ
قِيَامِهِ، وَسُجُودُهُ مِثْلَ رُكُوعِهِ، فَأَنْصَرِفُ وَقَدْ كَادَتْ تَنْكَسِرُ
رِجْلَايَ.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammad dari Abdul Malik
ibnu Umair, telah menceritakan kepadaku saudara sepupu Huzaifah, dari Huzaifah
ibnul Yaman r.a. yang menceritakan bahwa ia salat bersama Rasulullah Saw. di
suatu malam. Maka beliau Saw. membaca tujuh surat yang panjang-panjang dalam
beberapa rakaat. Dan beliau bila mengangkat kepalanya dari rukuk mengucapkan:
Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Kemudian dilanjutkan: Segala
puji bagi Allah Yang mempunyai segala kerajaan, keperkasaan, kebesaran, dan
keagungan. Dan lama rukuknya sama dengan lama berdirinya, dan lama sujudnya
sama dengan lama rukuknya. Ketika beliau bersalam, kedua kakiku terasa hampir
patah (karena lamanya salat).Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi di dalam kitab Asy-Syama'il serta Imam Nasai telah meriwayatkan melalui hadis Syu'bah ibnu Amr ibnu Murrah:
عَنْ
عَمْرِو بْنِ مُرة، عَنْ أَبِي حَمْزة -مَوْلَى الْأَنْصَارِ-عَنْ رَجُلٍ مِنْ
بَنِي عَبْس، عَنْ حُذَيْفَةَ؛ أَنَّهُ رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اللَّيْلِ، وَكَانَ يَقُولُ: "اللَّهُ أَكْبَرُ -ثَلَاثًا
-ذُو الْمَلَكُوتِ وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ". ثُمَّ
اسْتَفْتَحَ فَقَرَأَ الْبَقَرَةَ، ثُمَّ رَكَعَ فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ
قِيَامِهِ، وَكَانَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ: "سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ". ثُمَّ
رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، فَكَانَ قِيَامُهُ نَحْوًا مِنْ] رُكُوعِهِ،
يَقُولُ: " لِرَبِّي الْحَمْدُ". ثُمَّ سَجَدَ، فَكَانَ سُجُودُهُ نَحْوًا مِنْ]
قِيَامِهِ، وَكَانَ يَقُولُ فِي سجوده: "سبحان ربي الأعلى". ثم
رفع رَأْسَهُ
مِنَ السُّجُودِ، وَكَانَ يَقْعُدُ فِيمَا بَيْنُ السَّجْدَتَيْنِ نَحْوًا مِنْ
سُجُودِهِ، وَكَانَ يَقُولُ: "رَبِّ، اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِي". فَصَلَّى
أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، فَقَرَأَ فِيهِنَّ الْبَقَرَةَ، وَآلَ عِمْرَانَ،
وَالنِّسَاءَ، وَالْمَائِدَةَ -أَوِ الْأَنْعَامَ --شَكَّ شُعْبَةُ-هَذَا لَفْظُ
أَبِي دَاوُدَ.
dari Abu Hamzah maula Al-Ansar, dari seorang lelaki dari Bani Abs, dari
Huzaifah r.a., bahwa ia pernah melihat Rasulullah Saw. sedang salat di malam
hari, dan beliau Saw. mengucapkan: Allahu Akbar —tiga kali— Yang memiliki
semua kerajaan, kebesaran dan keagungan. Setelah itu beliau membuka salatnya
(membaca Al-Fatihah), dan membaca surat Al-Baqarah, lalu rukuk, dan lama
rukuknya sama dengan lamanya berdiri. Dalam rukuknya itu beliau membaca:
Mahasuci Tuhanku Yang Mahabesar. Beliau mengangkat kepalanya dari rukuk,
dan i'tidal yang dilakukannya hampir sama dengan rukuknya. Dalam i'tidalnya
beliau membaca: Bagi Tuhanku segala puji. Kemudian sujud, dan lama
sujudnya itu sama dengan lama berdirinya. Dalam sujudnya beliau membaca:
Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi. Kemudian beliau mengangkat kepalanya
dari sujud, lalu melakukan duduk di antara dua sujud dalam waktu yang lamanya
sama dengan sujudnya. Dalam duduknya itu beliau mengucapkan: Tuhanku, berilah
ampunan bagiku. Tuhanku, berilah ampunan bagiku. Rasulullah Saw. melakukan
salatnya itu empat rakaat, yang padanya beliau membaca surat Al-Baqarah, Ali
Imran, An-Nisa, Al-Maidah atau Al-An'am —di sini Syu'bah ragu—.
Demikianlah menurut lafaz yang ada pada Imam Abu Daud.Imam Nasai mengatakan bahwa Abu Hamzah menurut kami adalah Talhah ibnu Yazid, dan lelaki ini diduga kuat adalah Silah, demikianlah menurut Imam Nasai. Tetapi yang lebih kuat lagi diduga dia adalah saudara sepupu Huzaifah, seperti yang telah disebutkan di dalam riwayat Imam Ahmad; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Adapun riwayat Silah ibnu Zufar, dari Huzaifah r.a., maka sesungguhnya riwayat ini berada di dalam kitab Sahih Muslim, tetapi di dalam teksnya tidak disebutkan penuturan kata al-malakut, wal jabarut, wal kibriya wal 'azamah.
قَالَ
أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ،
حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ
حُمَيْد، عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ: قمتُ مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَقَامَ فَقَرَأَ سُورَةَ
الْبَقَرَةِ، لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ فَسَأَلَ، وَلَا يَمُرُّ
بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ فَتَعَوَّذَ. قَالَ: ثُمَّ رَكَعَ بِقَدْرِ
قِيَامِهِ، يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ: "سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ
وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ". ثُمَّ سَجَدَ بِقَدْرِ قِيَامِهِ، ثُمَّ قَالَ
فِي سُجُودِهِ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قَامَ فَقَرَأَ بِآلِ عِمْرَانَ، ثُمَّ قَرَأَ
سُورَةً سُورَةً.
Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Saleh,
telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Mu'awiyah
ibnu Saleh, dari Amr ibnu Qais, dari Asim ibnu Humaid, dari Auf ibnu Malik
Al-Asyja'i r.a. yang mengatakan bahwa ia ikut salat bersama Rasulullah Saw. di
suatu malam, maka Rasulullah Saw. berdiri dan membaca surat Al-Baqarah. Dan
tidak sekali-kali beliau melalui ayat rahmat, melainkan berhenti dan meminta;
dan tidak sekali-kali bacaannya melewati ayat azab, melainkan beliau berhenti,
lalu memohon perlindungan. Kemudian beliau rukuk dengan lama yang hampir sama
dengan berdirinya. Dalam rukuknya itu beliau mengucapkan: Mahasuci Tuhan Yang
mempunyai keperkasaan, kerajaan, kebesaran, dan keagungan. Kemudian sujud
dengan lama yang sama dengan lama berdirinya, dan dalam sujudnya beliau
mengucapkan doa yang semisal. Lalu berdiri (setelah membaca Al-Fatihah) membaca
surat Ali Imran, lalu Al-Baqarah. Imam Turmuzi meriwayatkannya di dalam kitab Asy-Syama’il —juga Imam Nasai— melalui hadis Mu'awiyah ibnu Saleh dengan sanad yang sama.
Demikianlah akhir tafsir surat Yasin, segala puji dan karunia adalah milik Allah belaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar