{فَلَوْلا
كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ
الْفَسَادِ فِي الأرْضِ إِلا قَلِيلا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ
الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ (116) وَمَا كَانَ
رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ (117)
}
Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang
sebelum kalian orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari
(mengerjakan) kerusakan di muka bumi,
kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di
antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang
mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan
Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim,
sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.Allah Swt. berfirman, "Mengapa tidak ada dari umat-umat yang terdahulu orang-orang yang masih berbuat kebaikan, di mana mereka mengerjakan nahi munkar di kalangan sesama mereka terhadap perbuatan-perbuatan jahat yang dikerjakan di antara mereka, juga terhadap perbuatan-perbuatan kemungkaran dan kerusakan di muka bumi ini?"
Firman Allah Swt.:
{إِلا
قَلِيلا}
kecuali sebagian kecil. (Hud: 116)Dengan kata lain, memang di kalangan mereka terdapat sejumlah orang dari jenis ini, tetapi tidak banyak. Mereka adalah orang-orang yang diselamatkan oleh Allah Swt. di kala murka Allah dan azab-Nya datang menimpa mereka secara tiba-tiba. Karena itulah maka Allah Swt. memerintahkan kepada umat yang dimuliakan ini (umat Nabi Saw.), hendaklah di kalangan mereka terdapat orang-orang yang menggalakkan amar maruf dan nahi munkar, seperti yang disebutkan Allah Swt. dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
{وَلْتَكُنْ
مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}
Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah
orang-orang yang beruntung. (Ali Imran: 104)Di dalam sebuah hadis disebutkan:
"إِنَّ
النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكِرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوهُ، أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُم
اللَّهُ بِعِقَابٍ"
Sesungguhnya manusia itu apabila melihat perkara mungkar, lalu mereka
tidak mencegahnya, niscaya dalam waktu yang dekat Allah akan menimpakan siksaan
secara umum kepada mereka.Untuk itulah dalam surat ini disebutkan melalui firman-Nya:
{فَلَوْلا
كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ
الْفَسَادِ فِي الأرْضِ إِلا قَلِيلا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ}
Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kalian orang-orang yang
mempunyai keutamaan yang melarang dari (mengerjakan) kerusakan di muka
bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di
antara mereka. (Hud: 116)
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَاتَّبَعَ
الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ}
dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang
ada pada mereka. (Hud: 116)Dengan kata lain, mereka tetap mengerjakan maksiat dan perkara mungkar yang biasa mereka lakukan, dan sama sekali tidak tergerak untuk mengingkarinya. Mereka adalah orang-orang yang bakal dikejutkan oleh azab Allah yang menimpa mereka secara tiba-tiba.
{وَكَانُوا
مُجْرِمِينَ}
dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (Hud: 116)Kemudian Allah Swt. menyebutkan bahwa tidak sekali-kali Dia membinasakan suatu penduduk kota melainkan bila penduduk kota itu berbuat aniaya terhadap diri mereka sendiri. Dan tidak sekali-kali azab dan pembalasan-Nya datang menimpa suatu penduduk kota yang berbuat baik, kecuali bila mereka berbuat aniaya. Sehubungan dengan hal ini Allah Swt. telah berfirman:
{وَمَا
ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ}
Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri
mereka sendiri. (Hud: 101)
{وَمَا
رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ}
dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.
(Fushshilat: 46)
{وَلَوْ
شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
(118) إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ
لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (119)
}
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia
menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,
kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah
menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, bahwa sesungguhnya Aku
akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka)
kesemuanya.Allah Swt. menyebutkan bahwa Dia berkuasa untuk menjadikan seluruh manusia sebagai umat yang satu dalam hal keimanan atau kekufurannya. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan-Nya dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
{وَلَوْ
شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا}
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka
bumi seluruhnya. (Yunus: 99)Adapun firman Allah Swt.:
{وَلا
يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ}
tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang
diberi rahmat oleh Tuhanmu. (Hud: 118-119)Maksudnya, perselisihan masih tetap ada di kalangan manusia dalam masalah agama, dan akidah mereka menjadi terbagi ke dalam berbagai mazhab dan pendapat.
Ikrimah mengatakan bahwa mereka masih tetap berselisih pendapat dalam hal petunjuk. Al-Hasan Al-Basri mengatakan, mereka berselisih pendapat dalam masalah rezeki; sebagian dari mereka menguasai sebagian yang lain. Tetapi pendapat yang terkenal dan yang sahih adalah yang pertama tadi.
Firman Allah Swt.:
{إِلا
مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ}
kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. (Hud: 119)Artinya, kecuali orang-orang yang diberi rahmat dari kalangan para pengikut rasul-rasul; yaitu mereka yang tetap berpegang teguh kepada perintah-perintah agama yang diwajibkan atas diri mereka dan disampaikan oleh rasul-rasul Allah kepada mereka. Demikianlah keadaan mereka secara terus-menerus hingga datanglah Nabi Saw. sebagai akhir dari para rasul dan para nabi, lalu mereka mengikutinya, membenarkan dan membantu perjuangannya. Akhirnya mereka beruntung karena meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, mereka adalah golongan yang diselamatkan; seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan di dalam kitab-kitab musnad dan kitab-kitab sunnah melalui berbagai jalur yang sebagian darinya memperkuat sebagian yang lain, yaitu:
"إِنَّ
الْيَهُودَ افترقت على
إِحْدَى
وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَإِنَّ النَّصَارَى افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ
وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ
فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا فِرْقَةَ وَاحِدَةً". قَالُوا: وَمَنْ هُمْ
يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: "مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي".
Sesungguhnya orang-orang Yahudi itu telah berpecah belah menjadi tujuh
puluh satu golongan, dan sesungguhnya orang-orang Nasrani itu telah berpecah
belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan kelak umat ini akan berpecah belah
menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.
Lalu para sahabat bertanya, "Siapakah mereka yang satu golongan itu, wahai
Rasulullah?" Rasulullah Saw. menjawab: (Orang-orang yang) mengerjakan apa
yang aku dan sahabat-sahabatku mengerjakannya.Imam Hakim meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya dengan tambahan ini.
Ata mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. (Hud: 118) Yakni orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Majusi. kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. (Hud: 119) Yaitu orang-orang yang memeluk agama yang hanif (agama Islam).
Qatadah mengatakan bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah adalah ahlul jama'ah, sekalipun tempat tinggal dan kebangsaan mereka berbeda-beda. Dan orang-orang yang ahli maksiat adalah ahli dalam perpecahan, sekalipun tempat tinggal dan kebangsaan mereka sama.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَلِذَلِكَ
خَلَقَهُمْ}
Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 119)Al-Hasan Al-Basri —menurut suatu riwayat yang bersumberkan darinya— menyebutkan bahwa makna ayat ini ialah 'mereka diciptakan untuk berselisih pendapat'.
Makki ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah menciptakan mereka dalam keadaan berpecah belah, yakni berbeda-beda. Pengertiannya sama saja dengan firman Allah Swt. dalam ayat yang lain, yaitu:
{فَمِنْهُمْ
شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ}
maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Hud:
105)Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah Allah menciptakan mereka untuk dirahmati.
Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muslim ibnu Khalid, dari Abu Najih, dari Tawus, bahwa pernah ada dua orang lelaki bersengketa kepadanya dengan persengketaan yang sengit. Lalu Tawus berkata, "Kalian sering bertengkar dan berselisih pendapat." Salah seorang di antara keduanya menjawab, "Memang demikianlah kita diciptakan.' Tawus berkata, "Kamu dusta." Lalu lelaki itu berkata, "Bukankah Allah Swt. telah berfirman: 'tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (Hud: 118-119)?" Tawus berkata, "Allah tidaklah menciptakan mereka agar mereka berselisih pendapat, tetapi Dia menciptakan mereka agar bersatu dan untuk dirahmati." Seperti yang telah diriwayatkan oleh Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa mereka diciptakan untuk dirahmati, bukan untuk diazab.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ad-Dahhak, dan Qatadah. Kesimpulan pendapat ini merujuk kepada pengertian yang terkandung di dalam firman Allah Swt.:
{وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ}
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56)Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah bahwa untuk rahmat dan perselisihan Allah menciptakan mereka.
Seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri dalam suatu riwayat yang bersumberkan darinya sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 118-119) Bahwa manusia itu senantiasa berselisih pendapat dalam masalah agamanya hingga terbagi-bagi menjadi berbagai macam pendapat. kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. (Hud: 119) Maka barang siapa yang dirahmati oleh Tuhanmu, berarti dia tidak berselisih pendapat. Ketika dikatakan kepadanya, "Untuk itulah Allah menciptakan mereka." Al-Hasan Al-Basri menjawab, "Allah menciptakan sebagian dari mereka untuk surganya, sebagian yang lainnya untuk neraka-Nya, dan sebagian yang lain untuk azab-Nya."
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ata ibnu Abu Rabah dan Al-A'masy.
Ibnu Wahb pernah mengatakan bahwa ia telah bertanya kepada Malik tentang makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 118-119) Malik menjawab bahwa segolongan dimasukkan ke dalam surga dan segolongan yang lain dimasukkan ke dalam neraka sa'ir. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir dan Abu Ubaid Al-Farra.
Dari Malik, menurut apa yang telah kami riwayatkan darinya di dalam kitab Tafsir sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (Hud: 119) Disebutkan bahwa mereka diciptakan untuk dirahmati. Sedangkan suatu kaum dari kalangan ulama mengatakan bahwa mereka diciptakan untuk berselisih.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَتَمَّتْ
كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ}
Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan bahwa sesungguhnya
Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka)
kesemuanya. (Hud: 119)Allah Swt. menyebutkan bahwa telah ditetapkan di dalam qada dan takdirNya berkat pengetahuan-Nya yang Maha Sempurna dan kebijaksanaanNya yang Mahaperiksa, bahwa di antara makhluk yang diciptakan-Nya ada yang berhak mendapat surga, ada pula yang berhak mendapat neraka. Dan sudah merupakan suatu kepastian bahwa Dia akan memenuhi neraka Jahanam dari kedua jenis makhluknya, yaitu jin dan manusia. Allah mempunyai hujah yang kuat dan kebijakan yang sempurna dalam semua perbuatan-Nya. Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"اخْتَصَمَتِ
الْجَنَّةُ وَالنَّارُ، فَقَالَتِ الْجَنَّةُ: مَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا
ضَعَفَةُ النَّاسِ وسَقطُهم؟ وَقَالَتِ النَّارَ: أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ
وَالْمُتَجَبِّرِينَ. فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِلْجَنَّةِ، أَنْتِ رَحْمَتِي
أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ. وَقَالَ لِلنَّارِ: أَنْتَ عَذَابِي، أَنْتَقِمُ بِكِ
مِمَّنْ أَشَاءُ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمَا مِلْؤُهَا. فَأَمَّا الْجَنَّةُ
فَلَا يَزَالُ فِيهَا فَضْلٌ، حَتَّى يُنْشِئَ اللَّهُ لَهَا خَلْقًا يَسْكُنُ
فَضْلَ الْجَنَّةِ، وَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَزَالُ تَقُولُ: هَلْ مِنْ مَزِيدٍ؟
حَتَّى يَضَعَ عَلَيْهِ رَبُّ الْعِزَّةِ قَدمه، فَتَقُولُ: قَطْ قَطٍ،
وَعَزَّتِكُ"
Surga dan neraka mengadu (kepada Allah). Surga berkata, "Mengapa
aku, tiada yang memasuki aku kecuali hanya orang-orang yang lemah dan
orang-orang yang rendah?” Neraka berkata, "Aku dipilih untuk tempat orang-orang
yang angkuh dan orang-orang yang kelewat batas.” Maka Allah Swt. berfirman
kepada surga, 'Engkau adalah rahmat-Ku, Aku merahmati orang yang Aku kehendaki
denganmu.” Dan berfirman kepada neraka, 'Engkau adalah azab-Ku, Aku membalas
denganmu terhadap orang yang Aku kehendaki. Dan bagi masing-masing dari kamu
berdua Aku akan memenuhinya.” Adapun surga, maka di dalamnya masih terus-menerus
terjadi lebihan hingga Allah menciptakan baginya suatu ciptaan yang membuat
lebihan surga menjadi terisi. Sedangkan neraka, maka ia masih terus mengatakan,
"Apakah masih ada tambahan lagi, " hingga Allah meletakkan padanya telapak kaki
kekuasaan-Nya; maka saat itu barulah neraka mengatakan "Cukup, cukup, demi
keagungan-Mu.”
{وَكُلا
نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ
فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (120)
}
Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan
kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat
ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi
orang-orang yang beriman.Allah Swt. menyebutkan bahwa semua kisah para rasul terdahulu bersama umatnya masing-masing sebelum engkau (Muhammad) Kami ceritakan kepadamu perihal mereka. Juga perihal pertentangan dan permusuhan yang dilancarkan oleh mereka terhadap nabinya masing-masing, dan pendustaan serta gangguan mereka yang dilancarkan terhadap para nabinya. Lalu Allah menolong golongan orang-orang yang beriman dan menghinakan musuh-musuh-Nya yang kafir. Semuanya itu diceritakan untuk meneguhkan hatimu, hai Muhammad. Dan agar engkau mempunyai suri teladan dari kalangan saudara-saudaramu para rasul yang terdahulu.
Firman Allah Swt.:
{وَجَاءَكَ
فِي هَذِهِ الْحَقُّ}
dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran. (Hud: 120)Yakni di dalam surat ini. Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, dan sejumlah ulama Salaf.
Menurut suatu riwayat yang bersumber dari Al-Hasan dan Qatadah disebutkan di dalam dunia ini. Tetapi pendapat yang benar ialah yang mengatakan di dalam surat ini yang mengandung kisah-kisah para nabi. Bagaimana Allah menyelamatkan mereka bersama orang-orang yang beriman kepada mereka, lalu Allah membinasakan orang-orang yang kafir. Surat ini disampaikan kepadamu yang di dalamnya terkandung kisah-kisah yang benar dan berita yang benar serta sebagai pelajaran untuk membuat jera orang-orang kafir, juga sebagai peringatan buat orang-orang yang beriman.
{وَقُلْ
لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنَّا عَامِلُونَ (121)
وَانْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ (122) }
Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak
beriman, "Berbuatlah menurut kemampuan kalian, sesungguhnya kami pun berbuat
(pula).” Dan tunggulah (akibat
perbuatan kalian), sesungguhnya kami pun menunggu (pula).”Allah Swt. berfirman memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada orang-orang yang tidak beriman kepada apa yang telah disampaikan olehnya dari Tuhannya dengan nada ancaman:
{اعْمَلُوا
عَلَى مَكَانَتِكُمْ}
Berbuatlah menurut kemampuan kalian. (Hud: 121) Yakni menurut cara dan metode kalian sendiri.
{إِنَّا
عَامِلُونَ}
sesungguhnya kami pun berbuat (pula). (Hud: 87) Yaitu menurut cara dan metode Kami sendiri.
{وَانْتَظِرُوا
إِنَّا مُنْتَظِرُونَ}
Dan tunggulah (akibat perbuatan kalian); sesungguhnya kami pun
menunggu (pula)." (Hud: 122)Dengan kata lain seperti apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lainnya, yaitu:
فَسَوْفَ
تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ
الظَّالِمُونَ
Kelak kalian akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan
memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim
itu tidak akan mendapat keberuntungan. (Al-An'am: 135)Allah menunaikan kepada Rasul-Nya janji yang telah diutarakan-Nya, dan Allah mendukungnya serta menjadikan kalimah-Nya tinggi dan menjadikan kalimah orang-orang yang kafir rendah dan hina. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
{وَلِلَّهِ
غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ
وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (123)
}
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit
dan di bumi dan kepada-Nyalah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka
sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai
dari apa yang kalian kerjakan.Allah Swt. menyebutkan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang gaib yang terdapat di langit dan di bumi, dan hanya kepada-Nyalah semuanya akan dikembalikan. Lalu Dia akan memberikan kepada setiap orang apa yang diamalkannya selama di dunia kelak pada hari perhitungan amal perbuatan. Dan hanya milik Dialah semua makhluk serta semua urusan. Allah telah memerintahkan agar diri-Nya disembah dan sebagai sandaran untuk bertawakal, karena sesungguhnya Dia akan memberikan kecukupan kepada siapa yang bertawakal dan kembali kepada-Nya.
Firman Allah Swt.:
{وَمَا
رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ}
Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kalian kerjakan.
(Hud: 123)Maksudnya, tiada sesuatu pun yang samar dari apa yang disembunyikan oleh orang-orang yang mendustakanmu, hai Muhammad. Bahkan Dia Maha Mengetahui semua sikap dan ucapan mereka. Maka kelak Dia akan memberikan balasannya kepada mereka dengan balasan yang sempurna di dunia ini dan di akhirat nanti mereka dengan balasan yang sempurna di dunia ini dan di akhirat nanti. Dan Allah akan menolongmu bersama golonganmu dalam menghadapi mereka di dunia dan akhirat.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Hubab, dari Ja'far ibnu Sulaiman, dari Abu Imran Al-Jauni, dari Abdullah ibnu Rabah, dari Ka'b yang telah mengatakan bahwa penutup kitab Taurat sama dengan penutup surat Hud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar