{إِنَّ
الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (57) وَالَّذِينَ هُمْ
بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ (58) وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ
(59) وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى
رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (60) أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا
سَابِقُونَ (61) }
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati
karena takut (azab) Tuhan mereka, dan
orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang
tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), dan
orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang
takut, sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu
bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang
segera memperolehnya.Firman Allah Swt.:
{إِنَّ
الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ}
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab)
Tuhan mereka. (Al Mu’minun: 57)Yakni keadaan mereka yang selalu mengerjakan perbuatan yang baik dan beriman serta mengamalkan perbuatan yang saleh, juga mereka takut kepada Allah dan selalu dicekam oleh rasa khawatir akan tertimpa tipu daya Allah. Seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, bahwa sesungguhnya orang mukmin itu menggabungkan dalam dirinya kebaikan dan rasa takut kepada Allah. Dan sesungguhnya orang munafik itu menggabungkan dalam dirinya keburukan dan merasa aman dari azab Allah.
{وَالَّذِينَ
هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ}
dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. (Al
Mu’minun: 58)Maksudnya, mereka beriman kepada ayat-ayat (tanda-tanda)-Nya, baik yang bersifat alami maupun yang bersifat hukum syar'i, seperti yang disebutkan di dalam firman Allah Swt. yang menceritakan tentang Maryam a.s.:
{وَصَدَّقَتْ
بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ}
dan dia membenarkan kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya. (At-Tahrim:
12)Yaitu Maryam merasa yakin bahwa sesungguhnya apa yang terjadi pada dirinya (mengandung tanpa suami) tiada lain merupakan takdir dan keputusan Allah dan syariat yang telah drtetapkan-Nya. Syariat Allah itu jika berupa perintah, berarti subyeknya disukai dan diridai-Nya. Dan jika berupa larangan, berarti subyeknya dibenci dan ditolak-Nya. Dan jika kebaikan, berarti subyeknya adalah perkara yang hak. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
{وَالَّذِينَ
هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ}
Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka
(sesuatu apa pun). (Al Mu’minun: 59)Yakni mereka tidak menyembah se(ain-Nya bersama Dia, melainkan mengesakan-Nya dan mengamalkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak beristri, dan tidak beranak, dan bahwa Dia tiada tandingan dan tiada yang menyamai-Nya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَالَّذِينَ
يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ
رَاجِعُونَ}
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati
yang takut, sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. (Al
Mu’minun: 60)Yaitu mereka mengasihkan pemberiannya dengan rasa takut dan malu bila tidak diterima, yang hal ini bersumber dari perasaan takut mereka bila diri mereka dinilai oleh Allah telah berlaku sembrono terhadap persyaratan memberi.
Hal seperti ini termasuk ke dalam Bab "Bersikap Hati-hati dan Merasa Takut kepada Allah." Seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad:
حَدَّثَنَا
يَحْيَى بْنُ آدَمَ، حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَل، حَدَّثَنَا عَبْدُ
الرَّحْمَنِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ وَهْبٍ، عَنْ عَائِشَةَ؛ أَنَّهَا قَالَتْ: يَا
رَسُولَ اللَّهِ، {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} ،
هُوَ الَّذِي يَسْرِقُ وَيَزْنِي وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ، وَهُوَ يَخَافُ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: "لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ، يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ،
وَلَكِنَّهُ الَّذِي يُصَلِّي وَيَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ، وَهُوَ يَخَافُ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ".
telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam, telah menceritakan kepada
kami Malik ibnu Magul, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Sa'id
ibnu Wahb, dari Aisyah yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya, "Wahai
Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan “orang-orang yang mengerjakan
perbuatan mereka, sedangkan hati mereka takut” itu adalah orang yang
mencuri, berzina, dan minum khamr dalam keadaan takut kepada Allah?" Rasulullah
Saw. menjawab: Tidak, hai anak perempuan As-Siddiq. Tetapi dia adalah orang
yang salat, puasa, dan bersedekah, sedangkan ia takut kepada Allah Swt.Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Abu Hatim melalui hadis Malik ibnu Magul, dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
"لَا
يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يُصَلُّونَ وَيَصُومُونَ
وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُمْ، {أُولَئِكَ
يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ}
Tidak, hai anak perempuan As-Siddiq. Tetapi mereka adalah orang-orang yang
salat, puasa, dan bersedekah, sedangkan hati mereka merasa takut tidak diterima
amalnya. mereka itu bersegera mendapat kebaikan-kebaikan. (Al Mu’minun:
61)Imam Turmuzi mengatakan, telah diriwayatkan melalui hadis Abdur Rahman ibnu Sa'id, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. hal yang semisal.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dan Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan tafsir ayat ini.
Ulama lain ada yang membaca ayat ini dengan bacaan berikut yang artinya:
"وَالَّذِينَ
يَأْتُونَ مَا أَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ"
Dan orang-orang yang mengerjakan amal perbuatan mereka dengan hati yang
takut (tidak akan diterima oleh Allah amalannya).Hal ini telah diriwayatkan secara marfu' dari Nabi Saw. bahwa beliau Saw. pernah membacanya dengan bacaan tersebut.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Sakhr ibnu Juwariyah, telah menceritakan kepada kami Ismail Al-Makki, telah menceritakan kepada kami Abu Khalaf, maula Bani Jumah, bahwa ia masuk bersama Ubaid ibnu Umair ke dalam rumah Siti Aisyah r.a. Maka Siti Aisyah r.a. menyambut keduanya dengan ucapan Marhaban, "Selamat datang dengan Abu Asim, mengapa engkau lama sekali tidak berkunjung kepadaku, apakah ada sesuatu halangan?" Ia menjawab, "Saya khawatir akan membosankan bila terlalu sering." Siti Aisyah berkata, "Jangan kamu berbuat begitu lagi." Aku (Ubaid ibnu Umar) berkata, "Saya datang kepadamu untuk menanyakan tentang suatu ayat dari Kitabullah, bagaimanakah bacaan Rasulullah Saw. Terhadapnya?" Siti Aisyah bertanya, "Ayat yang mana?" Saya menjawab bahwa ayat tersebut adalah firman Allah Swt.: Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan. (Al Mu’minun: 60) dan firman-Nya: Dan orang-orang yang mengerjakan amal perbuatan mereka. Siti Aisyah r.a. bertanya, "Manakah di antara dua bacaan itu yang kamu sukai?" Saya menjawab, "Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya salah satu di antara keduanya memang lebih saya sukai daripada dunia ini atau dunia dan seisinya," Siti Aisyah bertanya, "Manakah yang kamu sukai?" Saya membacakan firman-Nya: Dan orang-orang yang mengerjakan amal perbuatan mereka. Siti Aisyah r.a. menjawab, "Aku bersaksi bahwa Rasulullah Saw. memang membacanya seperti itu, dan memang ayat itu diturunkan dengan bacaan seperti itu, tetapi dialeknya memang berbeda-beda."
Di dalam sanad hadis ini terdapat Ismail ibnu Muslim Al-Makki, sedangkan ia orangnya daif dalam periwayatan hadis. Akan tetapi, qiraat yang pertama yang dianut oleh jumhur ulama sab'ah dan lain-lainnya adalah pendapat yang lebih kuat, karena di dalam firman selanjutnya disebutkan:
{أُولَئِكَ
يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ}
mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah
orang-orang yang segera memperolehnya. (Al Mu’minun: 61)Disebutkan bahwa Allah menjadikan mereka termasuk orang-orang yang bersegera mendapat kebaikan-kebaikan. S
eandainya makna yang dimaksud adalah seperti qiraat yang lainnya, tentulah kelanjutannya tidak disebutkan seperti itu, melainkan Minal Muqtasidin atau Muqsirin yang artinya orang-orang yang pertengahan atau orang-orang yang membatasi dirinya. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
{وَلا
نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنْطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ
لَا يُظْلَمُونَ (62) بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِنْ هَذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ
مِنْ دُونِ ذَلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ (63) حَتَّى إِذَا أَخَذْنَا
مُتْرَفِيهِمْ بِالْعَذَابِ إِذَا هُمْ يَجْأَرُونَ (64) لا تَجْأَرُوا الْيَوْمَ
إِنَّكُمْ مِنَّا لَا تُنْصَرُونَ (65) قَدْ كَانَتْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ
فَكُنْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ تَنْكِصُونَ (66) مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا
تَهْجُرُونَ (67) }
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut
kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran,
dan mereka tiada dianiaya. Tetapi hati orang-orang kafir itu dalam kesesatan
dari (memahami kenyataan) ini, dan
mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan (buruk) selain dari itu
mereka tetap mengerjakannya. Hingga apabila Kami timpakan azab kepada
orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, dengan serta merta mereka memekik
minta tolong. Janganlah kalian memekik minta tolong pada hari ini. Sesungguhnya
kalian tiada akan mendapat pertolongan dari Kami. Sesungguhnya ayat-ayat-Ku
(Al-Qur'an) selalu dibacakan kepada kamu sekalian, maka kalian selalu
berpaling ke belakang dengan menyombongkan diri terhadap Al-Qur'an itu dan
mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kalian bercakap-cakap
di malam hari.Allah Swt. menceritakan tentang keadilan dalam syariat-Nya terhadap hamba-hamba-Nya di dunia, bahwa Dia sama sekali tidak pernah membebankan kepada seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Yakni melainkan menurut apa yang kuat disanggah dan dikerjakannya. Dan bahwa kelak di hari kiamat Dia akan menghisab amal perbuatan mereka yang telah tercatat di dalam kitab catatan amal perbuatan mereka; tiada sesuatu pun dari amal perbuatan mereka yang tidak tercatat atau hilang. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{وَلَدَيْنَا
كِتَابٌ يَنْطِقُ بِالْحَقِّ}
dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran. (Al
Mu’minun: 62)Yaitu kitab catatan amal perbuatan.
{وَهُمْ
لَا يُظْلَمُونَ}
dan mereka tidak dianiaya. (Al Mu’minun: 62)Maksudnya, tidak dirugikan barang sedikit pun dari kebaikannya. Adapun amal buruknya, maka Allah banyak memaaf dan mengampuninya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
Kemudian Allah berfirman mengingkari orang-orang kafir dan orang-orang musyrik dari kalangan Quraisy:
{بَلْ
قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ}
Tetapi hati orang-orang kafir itu dalam kesesatan. (Al Mu’minun: 63)
Yakni tenggelam di dalam kesesatannya.
{مِنْ
هَذَا}
Dari (memahami kenyataan) ini. (Al Mu’minun: 63)Maksudnya, dari memahami Al-Qur'an yang diturunkan kepada Rasulullah Saw.
Firman Allah Swt.:
{وَلَهُمْ
أَعْمَالٌ مِنْ دُونِ ذَلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ}
dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan (buruk) selain
dari itu, mereka tetap mengerjakannya. (Al Mu’minun: 63)Al-Hakam ibnu Aban telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan selain dari itu. (Al Mu’minun: 63) Yakni perbuatan-perbuatan yang buruk selain dari kemusyrikannya itu. mereka tetap mengerjakannya. (Al Mu’minun: 63) Artinya, mereka harus mengerjakannya.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Al-Hasan serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Sedangkan ulama lainnya mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan (buruk) selain dari itu, mereka tetap mengerjakannya. (Al Mu’minun: 63) Yaitu telah tercatat atas mereka perbuatan-perbuatan buruk yang harus mereka kerjakan sebelum mereka mati, sebagai suatu kepastian, agar mereka berhak mendapat azab Allah.
Hal yang semisal telah diriwayatkan melalui Muqatil ibnu Hayyan, As-Saddi, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.
Pendapat inilah yang menang, kuat, lagi baik.
Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan hadis Ibnu Mas'ud yang mengatakan:
"فَوَالَّذِي
لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ
الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلُهَا".
Maka demi Tuhan yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya seorang
laki-laki benar-benar mengamalkan perbuatan ahli surga, sehingga tiada jarak
antara dia dan surga selain satu hasta, tetapi- ketetapan takdir telah
mendahuluinya, akhirnya ia mengerjakan perbuatan ahli neraka dan ia dimasukkan
ke dalam neraka.
*******************
Firman Allah Swt.:
{حَتَّى
إِذَا أَخَذْنَا مُتْرَفِيهِمْ بِالْعَذَابِ إِذَا هُمْ
يَجْأَرُونَ}
Hingga apabila Kami timpakan azab kepada orang-orang yang hidup mewah di
antara mereka, dengan serta-merta mereka memekik minta tolong. (Al Mu’minun:
64)Yakni hingga manakala orang-orang yang hidup mewah di antara mereka kedatangan azab Allah dan pembalasan-Nya yang menimpa mereka.
{إِذَا
هُمْ يَجْأَرُونَ}
dengan serta-merta mereka memekik minta tolong. (Al Mu’minun: 64)Yaitu menjerit dan meminta tolong, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah Swt. yang mengatakan:
{وَذَرْنِي
وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلا. إِنَّ لَدَيْنَا
أَنْكَالا وَجَحِيمًا }
Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang
mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beritangguhlah mereka
barang sebentar Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang
besar dan neraka yang menyala-nyala. (Al-Muzzammil: 11-12) Dan firman Allah Swt.:
{كَمْ
أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ فَنَادَوْا وَلاتَ حِينَ
مَنَاصٍ}
Berapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu
mereka meminta tolong, padahal (waktu itu) bukanlah saat lari untuk
melepaskan diri. (Shad: 3)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{لا
تَجْأَرُوا الْيَوْمَ إِنَّكُمْ مِنَّا لَا تُنْصَرُونَ}
Janganlah kalian memekik minta tolong pada hari ini. Sesungguhnya kalian
tiada akan mendapat pertolongan dari Kami. (Al Mu’minun: 65)Artinya, tiada seorang pun yang dapat melindungi kalian dari keburukan yang menimpa kalian, baik kalian menjerit meminta tolong maupun kalian diam, tiada jalan selamat dan tiada penolong, perintah telah ditetapkan dan azab wajib dilaksanakan. Kemudian Allah menyebutkan dosa mereka yang paling besar melalui firman-Nya:
{قَدْ
كَانَتْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ
تَنْكِصُونَ}
Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (Al-Qur'an) selalu dibacakan kepada kamu
sekalian, maka kalian selalu berpaling kebelakang. (Al Mu’minun: 66)Yakni apabila kalian diseru, maka kalian menolak; dan apabila diperintah, maka kalian membangkang. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{ذَلِكُمْ
بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ
تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ}
Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah.
Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini)
adalah pada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. (Al-Mu’min: 12)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{مُسْتَكْبِرِينَ
بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ}
dengan menyombongkan diri terhadap Al-Qur'an itu dan mengucapkan
perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kalian bercakap-cakap di malam
hari. (Al Mu’minun: 67)Mengenai tafsir ayat ini ada dua pendapat.
Salah satunya mengatakan, bahwa mustakbirin berkedudukan menjadi kata keterangan keadaan saat mereka berpaling ke belakang dari perkara yang hak, dan mereka menolaknya karena kesombongan mereka terhadap perkara yang hak itu; mereka menganggap rendah perkara yang hak dan orang-orang yang mengikutinya. Berdasarkan pendapat ini damir bihi yang ada padanya mengandung tiga pengertian:
-
Pertama, damir merujuk kepada tanah suci, yakni Mekah. Mereka dicela
karena mereka begadang di malam hari di tanah suci tanpa berbicara sepatah kata
pun (menunjukkan kesombongan mereka).
-
Kedua, damir merujuk kepada Al-Qur'an. Mereka melakukan begadang,
memperbincangkan tentang Al-Qur'an dengan sebutan yang keji. Mereka mengatakan
bahwa Al-Qur'an itu adalah sihir, sesungguhnya Al-Qur'an itu syair, dan
sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah ramalan dan perkataan-perkataan keji
lainnya.
-
Ketiga, damir kembali kepada Nabi Muhammad Saw. Mereka menjadikannya
bahan pergunjingan mereka di malam hari dengan sebutan-sebutan yang keji, dan
mereka membuat perumpamaan-perumpamaan yang batil terhadapnya, bahwa dia adalah
seorang penyair, atau tukang ramal atau pendusta atau gila atau penyihir.
Semuanya itu batil belaka, bahkan sesungguhnya dia adalah hamba dan rasul Allah
yang Allah akan memenangkannya atas mereka, dan dia bakal mengusir mereka dari
tanah suci dalam keadaan hina dan rendah.
Menurut pendapat yang lain, makna firman-Nya: dengan menyombongkan diri terhadapnya. (Al Mu’minun: 67) Yakni menyombongkan dirinya di Baitullah dengan keyakinan bahwa diri merekalah para pengurusnya, padahal kenyataannya tidaklah demikian.
Seperti yang dikatakan oleh Imam Nasai di dalam kitab tafsir bagian dari kitab sunannya, bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah, dari Israil, dari Abdul A'la; ia pernah mendengar Sa'id ibnu Jubair menceritakan hadis berikut dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa sesungguhnya begadang itu dimakruhkan sejak ayat berikut diturunkan, yaitu firman Allah Swt.: dengan menyombongkan diri terhadapnya dan mengucapkan perkataan-perkataan yang keji di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari. (Al Mu’minun: 67) Yakni mereka membanggakan dirinya dengan Baitullah seraya mengatakan bahwa diri merekalah yang tiada hentinya sepanjang siang dan malam mengurusnya. Ibnu Abbas menceritakan bahwa mereka membangga-banggakan dirinya dan begadang di dalamnya, tidak memakmurkannya, dan mereka mengucapkan perkataan-perkataan yang keji di dalamnya.
Imam Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan hal ini telah membahasnya dalam pembahasan yang cukup panjang, yang ringkasnya adalah seperti yang telah disebutkan di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar