{وَإِنْ
مِنْ شَيْءٍ إِلا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنزلُهُ إِلا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
(21) وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنزلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ (22) وَإِنَّا لَنَحْنُ
نُحْيِي وَنُمِيتُ وَنَحْنُ الْوَارِثُونَ (23) وَلَقَدْ عَلِمْنَا
الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَأْخِرِينَ (24) وَإِنَّ
رَبَّكَ هُوَ يَحْشُرُهُمْ إِنَّهُ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (25) }
Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi
Kamilah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang
tertentu. Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit,
lalu Kami beri minum kalian dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kalian yang
menyimpannya. Dan sesungguhnya benar-benar Kamilah yang menghidupkan dan
mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi. Dan sesungguhnya Kami telah
mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada kalian dan sesungguhnya Kami
mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripada kalian).
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang akan menghimpunkan mereka. Sesungguhnya Dia
adalah Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.Allah Swt. menyebutkan bahwa Dialah yang memiliki segala sesuatu, dan bahwa segala sesuatu mudah bagi-Nya serta tiada harganya bagiNya. Di sisi-Nya Dia memiliki perbendaharaan segala sesuatu yang terdiri atas berbagai macam jenis dan ragamnya.
{وَمَا
نُنزلُهُ إِلا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ}
dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.
(Al-Hijr: 21)Yakni menurut apa yang dikehendaki dan yang disukai-Nya, dan karena adanya hikmah yang sangat besar serta rahmat bagi hamba-hamba-Nya dalam hal tersebut, bukanlah sebagai suatu keharusan; bahkan Dia menetapkan atas diri-Nya kasih sayang (rahmat).
Yazid ibnu Abu Ziyad telah meriwayatkan dari Abu Juhaifah, dari Abdullah, bahwa tiada suatu daerah pun yang diberi hujan selama setahun penuh, tetapi Allah membagi-bagikannya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Maka Dia memberikan hujan secara terbagi-bagi, terkadang di sana dan terkadang di sini. Kemudian Abdullah ibnu Mas'ud membacakan firman-Nya: Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanah (perbendaharaannya. (Al-Hijr: 21), hingga akhir ayat.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.
Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Salim, dari Al-Hakam ibnu Uyaynah sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. (Al-Hijr: 21) Bahwa tiada suatu tahun pun yang lebih banyak hujannya daripada tahun yang lain, tidak pula kurang; tetapi suatu kaum diberi hujan, sedangkan kaum yang lain tidak diberi berikut semua hewan yang ada di laut.
Ibnu Jarir mengatakan, 'Telah sampai suatu berita kepada kami bahwa seiring dengan turunnya hujan, turun pula para malaikat yang bilangannya jauh lebih banyak daripada bilangan anak-anak iblis dan anak-anak Adam. Bilangan mereka sama dengan setiap tetes dari air hujan, turun di tempat mana pun tetes air hujan jatuh dan di daerah mana pun yang menumbuhkan tetumbuhan."
قَالَ
الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا دَاوُدُ -وَهُوَ ابْنُ بَكْرٍ التُّسْتُري -حَدَّثَنَا
حبَّان بْنُ أَغْلَبَ بْنِ تَمِيمٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ
مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "خَزَائِنُ اللَّهِ
الْكَلَامُ، فَإِذَا أَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ: كُنْ، فَكَانَ"
Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Daud Ibnu Bukair, telah
menceritakan kepada kami Hayyan ibnu Aglab ibnu Tamim, telah menceritakan
kepadaku ayahku, dari Hisyam, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Perbendaharaan Allah
ialah Kalam-(Nya), apabila Dia hendak menciptakan sesuatu. Dia hanya berfirman
kepadanya, "Jadilah kamu!" Maka jadilah ia.Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa hadis ini tiada yang meriwayatkannya selain Aglab, sedangkan dia orangnya tidak kuat. Sejumlah ulama terdahulu ada yang membicarakannya, dan ternyata tiada yang meriwayatkan darinya kecuali hanya anaknya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَأَرْسَلْنَا
الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ}
Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan).
(Al-Hijr 22)Yakni membuahi awan, maka awan mengucurkan air (hujan)nya; dan mengawinkan tumbuh-tumbuhan, maka terbukalah daun-daunnya dan kuntum-kuntum bunganya. Lafaz riyah disebutkan dalam bentuk jamak, dengan maksud angin yang bermanfaat. Lain halnya dengan angin yang kering, maka ia diungkapkan dalam bentuk tunggal, yakni ar-rih; lalu disifati dengan kata al-'aqim yang artinya tidak menyuburkan atau angin kering. Disebutkan pula dengan bentuk jamak karena mengandung pengertian adanya faktor interaksi di antara dua hal atau lebih.
Al-A'masy mengatakan dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Qais ibnus Sakan, dari Abdullah ibnu Mas'ud sehubungan dengan firman-Nya: Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan). (Al-Hijr: 22) Angin dikirimkan, maka angin itu membawa air dari langit; kemudian berlalu seirama dengan bergeraknya awan hingga awan itu menjatuhkan hujan sebagaimana air susu keluar dari tetek sapi perahan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibrahim An-Nakha'i, dari Qatadah.
Qatadah mengatakan, Allah mengirimkan angin kepada awan, maka angin membuahinya sehingga awan penuh dengan air. Ubaid ibnu Umair Al-Laisi mengatakan bahwa Allah mengirimkan angin yang membawa kesuburan pada suatu daerah, maka bumi daerah itu menjadi subur. Lalu Allah mengirimkan angin yang mengarak awan, kemudian mengirimkan angin yang membawa air sehingga awan mengandung banyak air. Setelah itu Allah mengirimkan angin yang mengawinkan tumbuh-tumbuhan, maka tumbuh-tumbuhan itu menjadi berbuah dengan suburnya. Setelah itu Qatadah membaca firman Allah Swt.: Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan). (Al-Hijr: 22)
وَقَدْ
رَوَى ابْنُ جَرِيرٍ، مِنْ حَدِيثِ عُبَيْس بْنِ مَيْمُونٍ، عَنْ أَبِي المُهَزَّم،
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
"الرِّيحُ الْجَنُوبُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَهِيَ [الرِّيحُ اللَّوَاقِحُ، وَهِيَ
الَّتِي] ذَكَرَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، وَفِيهَا مَنَافِعُ
لِلنَّاسِ"
Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui hadis Ubais ibnu Maimun, dari Abul
Mihzam, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Angin selatan
berasal dari surga, angin inilah yang disebutkan oleh Allah di dalam Kitab-Nya,
dan angin ini banyak mengandung manfaat bagi manusia.Sanad hadis ini berpredikat daif.
قَالَ
الْإِمَامُ أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ الحُمَيدي فِي
مَسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ، أَخْبَرَنِي
يَزِيدُ بْنُ جُعْدبة اللَّيْثِيُّ: أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مِخْراق،
يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ فِي الْجَنَّةِ رِيحًا بَعْدَ الرِّيحِ بِسَبْعِ
سِنِينَ، وَإِنَّ مِنْ دُونِهَا بَابًا مُغْلَقًا، وَإِنَّمَا يَأْتِيكُمُ الرِّيحُ
مِنْ ذَلِكَ الْبَابِ، وَلَوْ فُتِحَ لَأَذْرَتْ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
مِنْ شَيْءٍ، وَهِيَ عِنْدَ اللَّهِ الأزَيبُ، وَهِيَ فِيكُمُ
الْجَنُوبُ"
Imam Abu Bakar Abdullah ibnuz Zubair Al-Humaidi mengatakan di dalam kitab
Musnad-nya, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan
kepada kami Amr ibnu Dinar, telah menceritakan kepadaku Ibnu Ja'diyyah Al-Laisi;
ia mendengar Abdur Rahman ibnu Mikhraq menceritakan hadis berikut dari Abu Zar
yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Allah
telah menciptakan angin di dalam surga, yang jaraknya sama dengan perjalanan
tujuh tahun, dan sesungguhnya sebelumnya terdapat sebuah pintu yang tertutup.
Sesungguhnya angin yang datang kepada kalian berasal dari pintu itu. Seandainya
pintu angin itu dibuka (semuanya), tentulah akan menerbangkan segala
sesuatu yang ada di antara langit dan bumi. Angin itu yang ada di sisi Allah
dinamakan azib, sedangkan yang ada di antara kalian adalah angin
selatan.
*******************
Firman Allah Swt.:
{فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ}
lalu Kami beri minum kalian dengan air itu. (Al-Hijr: 22)Artinya, Kami menurunkan hujan itu dalam keadaan tawar sehingga dapat kalian meminumnya. Seandainya Dia menghendaki, tentulah Dia menjadikan air itu berasa asin, seperti yang diisyaratkan-Nya dalam ayat yang lain melalui firman-Nya dalam surat Al-Waqi'ah, yaitu:
{أَفَرَأَيْتُمُ
الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ أَأَنْتُمْ أَنزلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ
الْمُنزلُونَ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلا
تَشْكُرُونَ}
Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kalian minum. Kaliankah yang
menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki,
niscaya Kami jadikan air itu asin, maka mengapakah kalian tidak bersyukur?
(Al-Waqi'ah: 68-70)Demikian pula dalam firman Allah Swt.:
{هُوَ
الَّذِي أَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ
تُسِيمُونَ}
Dialah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kalian,
sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan)
tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kalian menggembalakan
ternak kalian. (An-Nahl: 10)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{وَمَا
أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ}
dan sekali-kali bukanlah kalian yang menyimpannya. (Al-Hijr: 22)Menurut Sufyan As-Sauri, makna yang dimaksud ialah 'dan sekali-kali kalian tidak dapat mencegah (turun)nya'.
Tetapi dapat pula diartikan bahwa makna yang dimaksud ialah 'dan kalian bukanlah orang-orang yang memeliharanya, tetapi Kami-lah yang menurunkannya dan yang memeliharanya untuk kalian, lalu Kami menjadikannya mata air dan sumber-sumber air di bumi'. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia akan mengeringkan air itu dan melenyapkannya. Tetapi karena rahmat-Nya, hujan diturunkan dan dijadikan berasa tawar, lalu disimpan di dalam mata air-mata air, sumur-sumur, dan sungai-sungai serta tempat-tempat penyimpanan air lainnya, agar mencukupi mereka selama satu tahun, untuk minum mereka dan hewan ternak mereka, serta untuk pengairan lahan pertanian mereka.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَإِنَّا
لَنَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ}
Dan sesungguhnya benar-benar Kamilah yang menghidupkan dan mematikan..
(Al-Hijr: 23)Allah menyebutkan tentang kekuasaan-Nya dalam memulai penciptaan dan mengulanginya, dan bahwa Dialah Yang menciptakan makhluk dari tiada, kemudian Dia mematikan mereka, lalu Dia membangkitkan mereka semua pada hari perhimpunan. Allah menyebutkan pula bahwa Dialah yang mempusakai bumi dan semua makhluk yang ada padanya, dan hanya kepada-Nyalah mereka kembali.
Kemudian Allah Swt. menyebutkan perihal ilmu-Nya Yang Mahasempurna tentang mereka, mulai dari yang pertama hingga yang paling akhir. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{وَلَقَدْ
عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ }
Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada
kalian. (Al Hijr: 24)Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan orang-orang yang terdahulu ialah semua orang yang telah mati sejak dari Nabi Adam a.s. Sedangkan yang dimaksud dengan orang-orang yang terkemudian ialah orang-orang yang masih hidup dan orang-orang yang akan ada nanti sampai hari kiamat. Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ikrimah, Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah, Muhammad ibnu Ka'b, Asy-Sya'bi, dan lain-lainnya. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Mu'tamir ibnu Sulaiman, dari ayahnya, dari seorang lelaki, dari Marwan ibnul Hakam yang mengatakan bahwa ada sejumlah lelaki yang mengambil saf paling belakang demi seorang wanita, lalu Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada kalian, dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripada kalian). (Al-Hijr: 24)
Sehubungan dengan makna ayat ini ada sebuah hadis garib sekali yang berkenaan dengan latar belakangnya. Ibnu Jarir mengatakan: telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Musa Al-Jarasyi, telah menceritakan kepada kami Nuh ibnu Qais, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Qais, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Malik, dari Abul Jauza, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa dahulu ada seorang wanita yang salat di belakang Nabi Saw. Wanita itu sangat cantik. Ibnu Abbas mengatakan, "Demi Allah, tidak ada seorang wanita pun yang pernah aku lihat secantik wanita itu." Sebagian dari kaum muslim apabila salat maju ke saf yang terdepan agar tidak melihat wanita itu, sedangkan sebagian lainnya mengambil safnya di belakang wanita-itu. Apabila mereka (yang ada di depan) sujud, mereka melihat wanita itu dari bawah tangan mereka. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada kalian dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripada kalian). (Al-Hijr: 24)
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Abu Hatim di dalam kitab tafsirnya.
Imam Turmuzi dan Imam Nasai meriwayatkan hadis ini di dalam kitab tafsir masing-masing, bagian dari kitab sunnahnya; begitu pula Ibnu Majah, melalui berbagai jalur dari Nuh ibnu Qais Al-Haddani yang dinilai siqah oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Daud serta lain-lainnya.
Tetapi telah diriwayatkan dari Ibnu Mu'in bahwaNuh ibnu Qais orangnya daif.
Imam Muslim dan ahli sunan mengetengahkan hadis ini, tetapi di dalam hadis ini terkandung predikat munkar yang parah.
Abdur Razzaq telah meriwayatkannya dari Ja'far ibnu Sulaiman, dari Amr ibnu Malik (yakni An-Nakri), bahwa ia pernah mendengar Abul Jauza mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada kalian. (Al-Hijr: 24) Yakni dalam saf salat. dan orang-orang yang terkemudian (daripada kalian). (Al-Hijr: 24)
Menurut pengertian lahiriahnya, kata-kata ini berasal dari perkataan Abul Jauza, sedangkan nama Ibnu Abbas tidak disebut-sebut di dalamnya. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hal ini mirip dengan riwayat Nuh ibnu Qais.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari-Muhammad ibnu Abu Ma'syar, dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Aun ibnu Abdullah menceritakan tentang pendapat Muhammad ibnu Ka'b sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada kalian, dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripada kalian). (Al-Hijr: 24) Ketika disebutkan kepada Muhammad ibnu Ka'b bahwa makna ayat ini berkenaan dengan saf-saf dalam salat, maka Muhammad ibnu Ka'b menyanggahnya dan mengatakan bahwa maknanya tidaklah demikian. Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada kalian. (Al-Hijr: 24) yang telah mati atau yang telah terbunuh. dan orang-orang yang terkemudian (daripada kalian). (Al-Hijr: 24) Yaitu orang-orang yang akan diciptakan kemudian. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang akan menghimpunkan mereka. Sesungguhnya Dia adalah Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al-Hijr: 25) Maka Aun ibnu Abdullah mengatakan, "Semoga Allah memberimu taufik dan memberi balasan kebaikan kepadamu."
{وَلَقَدْ
خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (26) وَالْجَانَّ
خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ (27) }
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
(Adam) dari tanah liat kering (yang
berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami menciptakan jin
sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan salsal dalam ayat ini ialah tanah liat kering.
Makna lahiriah ayat sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{خَلَقَ
الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ وَخَلَقَ الْجَانَّ مَن مَّارِجٍ مِّنْ
نَّارٍ}
Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia
menciptakan jin dari nyala api. (Ar-Rahmah: 14-15)Dari Mujahid, disebutkan pula bahwa salsal artinya tanah yang berbau busuk. Tetapi tafsir ayat dengan ayat yang lain adalah lebih utama.
*******************
Firman Allah Swt.:
{مِنْ
حَمَإٍ مَسْنُونٍ}
dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (Al-Hijr: 26)Makna yang dimaksud ialah tanah liat. Sedangkan al-masnun artinya yang licin, seperti pengertian dalam perkataan seorang penyair:
ثُمَّ
خَاصَرْتُهَا إِلَى الْقُبَّةِ الخضراءتمشي فِي مَرْمَرٍ مَسْنُونٍ
Kemudian pinggangnya ditempelkan di
kubah hijau sambil berjalan di atas marmer yang licin lagi
mengilap.
Yang dimaksud dengan masnun dalam syair ini ialah licin lagi mengilap.
Karena itulah diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia pernah mengatakan, "Makna
yang dimaksud ialah tanah yang basah." Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan Ad-Dahhak, bahwa al-hama-il masnun ialah tanah yang berbau busuk.
Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan masnun dalam ayat ini ialah yang dituangkan.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَالْجَانَّ
خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ}
Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya. (Al-Hijr: 27) Yakni sebelum menciptakan manusia.
{مِنْ
نَارِ السَّمُومِ}
dari api yang sangat panas. (Al-Hijr: 27)Ibnu Abbas mengatakan, makna yang dimaksud ialah angin panas yang dapat membunuh (mematikan). Sebagian ulama mengatakah bahwa samum ialah angin panas di malam dan siang hari. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa kalau samum terjadi di malam hari, dan harur terjadi di siang hari.
Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Ishaq yang mengatakan bahwa ia masuk ke dalam rumah Umar Al-Asam menjenguknya, lalu Umar Al-Asam mengatakan, "Maukah aku ceritakan kepada kamu sebuah hadis yang pernah kudengar dari Abdullah ibnu Mas'ud. Dia mengatakan bahwa angin yang panas ini adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian angin panas yang jin diciptakan darinya. Kemudian Ibnu Mas'ud membacakan firman-Nya: 'Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas' (Al-Hijr: 27)."
Dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa al-jan (jin) diciptakan dari nyala api. Menurut riwayat lain, dari nyala api yang paling baik.
Dari Amr ibnu Dinar, disebutkan dari api matahari.
Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan:
"خُلقت
الملائكة من نور،
وخُلقت
الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وخُلق بَنُو آدَمَ مِمَّا وصِف
لَكُمْ"
Para malaikat diciptakan dari nur, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam
diciptakan dari apa yang digambarkan kepada kalian.Makna yang dimaksud oleh ayat ialah menonjolkan kemuliaan Adam a.s. dan keharuman serta kesucian unsur kejadiannya.
{وَإِذْ
قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ
مَسْنُونٍ (28) فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ
سَاجِدِينَ (29) فَسَجَدَ الْمَلائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ (30) إِلا إِبْلِيسَ
أَبَى أَنْ يَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ (31) قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلا
تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ (32) قَالَ لَمْ أَكُنْ لأسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ
مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (33) }
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
"Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering
(yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku
telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya roh
(ciptaan)-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.”
Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia
enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, "Hai
iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang
sujud itu?” Berkata iblis, "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang
Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari
lumpur hitam yang diberi bentuk.”Allah Swt. menyebutkan perihal Adam di kalangan para malaikat-Nya sebelum Adam diciptakan dan dimuliakan-Nya dengan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya. Allah menyebutkan pula pembangkangan yang dilakukan oleh iblis yang tidak mau bersujud kepada Adam, pada saat itu iblis berada bersama golongan para malaikat. Iblis tidak mau bersujud kepada Adam karena kafir, ingkar, sombong, dan membanggakan dirinya dengan kebatilan. Iblis menjawab alasan penolakannya, seperti yang disitir oleh firman-Nya:
{لَمْ
أَكُنْ لأسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَأٍ
مَسْنُونٍ}
"Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau lelah
menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam
yang diberi bentuk.” (Al-Hijr: 33)Dalam ayat lain disebutkan:
{أَنَا
خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ}
Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan
dia Engkau ciptakan dari tanah. (Al A’raf: 12; Shad: 76)Dalam ayat lainnya lagi disebutkan:
{أَرَأَيْتَكَ
هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِي إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
لأحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلا قَلِيلا}
Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku?
(Al-Isra: 62), hingga akhir ayat.Dalam bab ini Ibnu Jarir telah meriwayatkan sebuah asar yang garib lagi aneh melalui hadis Syabib ibnu Bisyr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika Allah telah menciptakan para malaikat, berfirmanlah Dia: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kalian bersungkur dengan bersujud kepadanya. (Shad: 71-72) Mereka menjawab, "Kami tidak akan menurut." Maka Allah mengirimkan api kepada mereka dan membakar habis mereka. Kemudian Allah menciptakan malaikat lainnya, dan berfirman kepada mereka seperti firman-Nya yang pertama, tetapi mereka menjawab dengan jawaban yang sama seperti pendahulunya. Maka Allah mengirimkan kepada mereka api yang membakar habis mereka semua. Kemudian Allah menciptakan malaikat yang lain, setelah itu Dia berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Apabila Aku telah menciptakannya, maka bersujudlah kalian kepadanya!" Tetapi mereka membangkang. Maka Allah mengirimkan api kepada mereka dan membakar habis mereka semuanya. Kemudian Allah menciptakan malaikat lainnya, lalu berfirman kepada mereka, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah, apabila Aku telah menciptakannya, maka bersujudlah kalian kepadanya!" Mereka menjawab, "Kami tunduk dan patuh kepada perintahMu," kecuali iblis, dia termasuk kaum yang kafir seperti para pendahulunya.
Akan tetapi, kebenaran asar ini dari Ibnu Abbas masih terlalu jauh dari kebenaran. Jelasnya asar ini berasal dari kisah israiliyat.
{قَالَ
فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (34) وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى
يَوْمِ الدِّينِ (35) قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (36)
قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (37) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ
(38) }
Allah berfirman, "Keluarlah dari surga, karena
sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai
hari kiamat.” Berkata iblis, "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari
(manusia) dibangkitkan.”Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka
sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari
(suatu waktu) yang telah ditentukan.”Allah Swt. menyebutkan bahwa Dia memerintahkan kepada iblis dengan perintah paksa yang tidak dapat ditentang atau dicegah, yaitu mengusir iblis dari kedudukan yang tinggi yang ditempati sebelumnya oleh iblis, hingga jadilah iblis makhluk yang terkutuk. Dan bahwa iblis selalu diikuti oleh laknat Allah yang terus-menerus menimpa dirinya sampai hari kiamat nanti.
Dari Sa'id ibnu Jubair, disebutkan bahwa setelah Allah melaknat iblis, maka berubahlah rupa iblis yang tadinya sama dengan para malaikat; rupanya menjadi hitam seperti noda. Maka setiap noda yang ada di dunia sampai hari kiamat berasal darinya. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.
Disebutkan pula bahwa setelah murka Allah yang tak tertolak itu menimpanya, iblis meminta kepada Allah agar ditangguhkan sampai hari kiamat, yaitu sampai hari berbangkit; hal ini merupakan dorongan kedengkian hatinya terhadap Adam dan anak cucunya. Lalu Allah memperkenankan permintaannya sebagai istidraj dan membiarkan dia terjerumus lebih sesat lagi. Setelah permintaan masa penangguhannya diperkenankan oleh Allah, ia berkata:
{قَالَ
رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ
أَجْمَعِينَ (39) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ
عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (41) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلا
مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (42) وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ
أَجْمَعِينَ (43) لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ
مَقْسُومٌ (44) }
berkata, "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah
memutuskan bahwa aku "sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik
(perbuatan maksiat) di muka bumi, dan
pasti 'aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang
ikhlas di antara mereka.” Allah berfirman, "Ini adalah jalan yang lurus,
kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada
kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu
orang-orang yang sesat.” Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang
telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan), semuanya.
Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan)
untuk golongan yang tertentu dari mereka.Allah menceritakan perihal iblis dan pembangkangan serta keangkuhannya, bahwa ia berkata kepada Tuhannya:
{بِمَا
أَغْوَيْتَنِي}
oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat. (Al-Hijr: 39)Sebagian ulama mengatakan bahwa iblis bersumpah atas nama penyesatan Allah terhadap dirinya. Menurut kami, makna ayat dapat ditakwilkan bahwa 'karena Engkau telah menyesatkan aku'.
{لأزَيِّنَنَّ
لَهُمْ فِي
الأرْضِ}
pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat)
di muka bumi. (Al-Hijr: 39)Yang dimaksud dengan "mereka' ialah anak cucu dan keturunan Adam a.s. Dengan kata lain iblis mengatakan, "Sesungguhnya aku akan membuat mereka senang dan memandang baik perbuatan-perbuatan maksiat, dan aku akan anjurkan mereka serta menggiring mereka dengan gencar untuk melakukan kemaksiatan."
{وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ}
dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. (Al-Hijr: 39)Yakni sebagaimana Engkau telah menyesatkan aku danmenakdirkanku menjadi sesat, maka aku akan berupaya keras untuk menyesatkan mereka.
{
إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ}
kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka. (Al-Hijr:
40)Ayat ini semakna dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{أَرَأَيْتَكَ
هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِي إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
لأحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلا قَلِيلا}
Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku?
Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya
benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.
(Al-Isra: 62)Allah Swt. berfirman dengan nada mengancam:
{هَذَا
صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ}
Allah berfirman, "Inilah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah
(menjaganya)." (Al-Hijr: 41)Dengan kata lain, kembali kalian semua adalah kepada-Ku, maka Aku akan membalas kalian sesuai dengan amal perbuatan kalian. Jika amal kalian baik, maka balasannya baik, jika buruk, maka balasannya buruk pula. Sama halnya dengan firman-Nya:
{إِنَّ
رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ}
sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. (Al-Fajr: 14)Menurut pendapat lain, jalan yang benar kembalinya kepada Allah dan berujung kepada-Nya. Demikianlah menurut Mujahid Al-Hasan dan Qatadah, sama dengan firman-Nya:
{وَعَلَى
اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ}
Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus. (An-Nahl:
9)Qais ibnu Ubadah, Muhammad ibnu Sirin, dan Qatadah mengartikan ayat ini, yaitu firman-Nya: Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). (Al-Hijr: 41) Sama dengan firman-Nya:
{وَإِنَّهُ
فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ}
Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuz)
di sisi Kami adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak
mengandung hikmah. (Az-Zukhruf: 4)Yakni bernilai tinggi.
Akan tetapi, pendapat yang terkenal adalah yang pertama tadi.
*******************
Firman Allah Swt.:
{إِنَّ
عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ}
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka.
(Al-Hijr: 42)Yaitu orang-orang yang telah Aku takdirkan mendapat hidayah, tiada jalan bagimu kepada mereka, tidak pula kalian dapat sampai kepada mereka.
{إِلا
مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ}
kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.
(Al-Hijr: 42)Istisna dalam ayat ini bersifat munqati’ yakni hanya hamba-hamba Allah yang mengikuti iblis saja, yaitu mereka yang sesat.
Ibnu Jarir dalam bab ini mengetengahkan sebuah hadis melalui Abdullah ibnul Mubarak, dari Abdulah ibnu Mauhib, bahwa telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Qasit, bahwa di masa silam para nabi mempunyai masjid-masjid di luar kota mereka tinggal. Apabila seorang nabi menghendaki munajat kepada Tuhannya untuk menanyakan sesuatu masalah, maka ia keluar menuju masjidnya, lalu melakukan salat seperti yang telah diwajibkan oleh Allah kepadanya, kemudian dia memohon kepada Allah apa yang diinginkannya. Ketika seorang nabi sedang berada di masjidnya, tiba-tiba datanglah musuh Allah —yakni iblis—, lalu iblis duduk antara dia dan arah kiblat. Nabi berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk." Maka ucapan-ta'awwuz-nya itu mengusir iblis sebanyak tiga kali. Iblis berkata, "Dengan apakah kamu dapat selamat dariku?" Nabi balik bertanya, "Tidak, tetapi ceritakanlah kepadaku, dengan apakah kamu mengalahkan Anak Adam?" Pertanyaan ini diulanginya sebanyak dua kali, maka masing-masing pihak saling bersitegang. Nabi itu mengatakan; "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk." Musuh Allah iblis berkata, "Tahukah kamu ta'awwuz yang baru kamu ucapkan? Itulah dia yang menyelamatkanmu." Nabi berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk." Maka bacaan itu mengusir iblis sebanyak tiga kali. Musuh Allah —iblis— berkata, "Ceritakanlah kepadaku, karena apakah engkau dapat selamat dariku?" Nabi menjawab, "Tidak, tetapi ceritakanlah kepadaku dengan apakah kamu dapat mengalahkan Ibnu Adam (manusia)?" Sebanyak dua kali. Maka masing-masing pihak saling bersitegang. Akhirnya nabi itu mengatakan bahwa sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman: Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Al-Hijr: 42) Musuh Allah —iblis— berkata, "Demi Allah, saya telah mendengar firman ini sebelum kamu dilahirkan." Nabi itu mengatakan bahwa Allah telah berfirman pula: Dan jikar kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-A'raf; 200) "Dan sesungguhnya aku, tidak sekali-kali —demi Allah— merasakan adanya godaanmu melainkan aku berlindung kepada Allah dari godaanmu." Iblis berkata, "Kamu benar, dengan itulah kamu selamat dari godaanku." Nabi bertanya, "Ceritakanlah kepadaku karena apakah kamu dapat mengalahkan manusia?" Iblis menjawab, "Saya merasukinya di saat sedang marah dan melalui hawa nafsunya."
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَإِنَّ
جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ}
Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan
kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. (Al-Hijr: 43)Artinya, neraka Jahanam adalah tempat yang dijanjikan bagi semua pengikut iblis. Sama halnya dengan yang disebutkan dalam firman-Nya yang menceritakan tentang Al-Qur'an:
{وَمَنْ
يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ}
Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan
sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang
diancamkan baginya (Hud: 17)Kemudian Allah Swt. menceritakan bahwa neraka Jahanam itu mempunyai tujuh buah pintu:
{لِكُلِّ
بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ}
Tiap-tiap pintu (telah d itetapkan) untuk golongan yang tertentu
dari mereka. (Al-Hijr: 44)Yakni telah ditetapkan bagi tiap-tiap pintu dari neraka Jahanam akan dimasuki oleh para pengikut iblis, mereka tidak dapat menyelamatkan diri darinya; semoga Allah melindungi kita dari neraka Jahanam. Masing-masing pengikut iblis memasuki neraka Jahanam sesuai dengan amal perbuatannya, lalu ia tinggal di lapisan yang sesuai dengan amalnya pula.
Ismail ibnu Aliyyah dan Syu'bah telah meriwayatkan dari Abu Harun Al-Ganawi, dari Hattan ibnu Abdullah; ia pernah mengatakan bahwa ia telah mendengar Ali ibnu Abu Talib berkata dalam khotbahnya, "Sesungguhnya pintu-pintu Jahanam itu bertingkat-tingkat, sebagiannya berada di atas sebagian yang lain." Abu Harun mengatakan demikian seraya memperagakannya.
Israil telah meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Hubairah ibnu Abu Maryam, dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa pintu-pintu Jahanam itu ada tujuh buah, sebagiannya berada di atas sebagian yang lain. Bila pintu yang pertama penuh, maka pintu yang kedua diisi, kemudian pintu yang ketiga, hingga semuanya penuh.
Ikrimah mengatakan, yang dimaksud dengan tujuh buah pintu ialah tujuh tingkatan.
Ibnu Juraij mengatakan bahwa tujuh buah pintu itu yang pertama dinamakan Jahanam, lalu Laza, lalu Hutamah, lalu Sa'ir, lalu Saqar, lalu Jahim, dan yang terakhir ialah Hawiyah. Ad-Dahhak telah meriwayatkan hal yang semisal dari Ibnu Abbas. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Al-A'masy.
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka. (Al-Hijr: 44) Hal itu —demi Allah— merupakan tingkatan-tingkatan amal perbuatan mereka. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.
Juwaibir telah meriwayatkan dari Ad-Dahhak sehubungan dengan makna firman-Nya: Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka. (Al-Hijr: 44) Bahwa ada pintu untuk orang-orang Yahudi, pintu untuk orang-orang Nasrani, pintu untuk orang-orang Sabi-in, pintu untuk orang-orang Majusi, pintu untuk orang-orang musyrik (yaitu orang-orang kafir Arab), pintu untuk orang-orang munafik, dan pintu untuk ahli tauhid. Tetapi ahli tauhid mempunyai harapan untuk dikeluarkan, sedangkan yang selain mereka tidak ada harapan sama sekali untuk selama-lamanya.
قَالَ
التِّرْمِذِيُّ: حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْد، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ
عُمَرَ، عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَل، عَنْ جُنَيْد عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ قَالَ: "لِجَهَنَّمَ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ:
بَابٌ مِنْهَا لِمَنْ سلَّ السَّيْفَ عَلَى أُمَّتِي -أَوْ قَالَ: عَلَى أُمَّةِ
مُحَمَّدٍ.
Imam Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid,
telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Umar, dari Malik ibnu Mugawwil, dari
Humaid ibnu Umar, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Neraka Jahanam
mempunyai tujuh buah pintu, sebuah pintu darinya buat orang yang menghunus
senjatanya terhadap umatku —atau kepada umat Muhammad—.Kemudian Imam Turmuzi mengatakan, "Kami tidak mengenal hadis ini selain melalui hadis Malik ibnu Mugawwil."
وَقَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا، عَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ
الْخَلَّالُ، حَدَّثَنَا زَيْدُ -يَعْنِي: ابْنُ يحيى -حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ
بَشِيرٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ أبي نضرة، عَنْ سَمُرَة بْنِ جُنْدَب، عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ: {لِكُلِّ بَابٍ
مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ} قَالَ: "إِنَّ مِنْ أَهْلِ النَّارِ مَنْ تَأْخُذُهُ
النَّارُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَإِنَّ مِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى
حُجزته، وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى تَرَاقِيهِ، مَنَازِلُ
بِأَعْمَالِهِمْ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: {لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ
مَقْسُومٌ}
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah
menceritakan kepada kami Abbas ibnul Walid Al-Khallal, telah menceritakan kepada
kami Zaid ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Basyir. dari
Qatadah. dari AbuNadrah, dari Samu-rah ibnu Jundub, dari Nabi Saw. sehubungan
dengan makna firman-Nya: Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk
golongan yang tertentu dari mereka. (Al-Hijr: 44) Nabi Saw. bersabda:
Sesungguhnya di antara ahli neraka ada yang dimakan api neraka sampai batas
kedua mata kakinya, dan sesungguhnya di antara mereka ada yang dimakan api
neraka sampai batas pinggangnya, dan di antara mereka ada yang dimakan api
neraka sampai batas tenggorokannya. Tempat-tempat mereka sesuai dengan amal
perbuatan mereka. Yang demikian itu adalah firman Allah Swt. yang mengatakan,
"Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari
mereka " (Al-Hijr: 44).
{إِنَّ
الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (45) ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ آمِنِينَ (46)
وَنزعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ
(47) لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ (48) نَبِّئْ
عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (49) وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ
الْعَذَابُ الألِيمُ (50) }
Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu
berada dalam surga (taman-taman) dan
(di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada
mereka), "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman.” Dan Kami
lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedangkan mereka
merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak
merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya.
Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya Azab-Ku adalah azab yang sangat
pedih.Setelah Allah menyebutkan keadaan ahli neraka, maka hal itu diiringiNya dengan sebutan tentang ahli surga, bahwa mereka berada di dalam taman-taman yang bermata air banyak.
Firman Allah Swt.:
{ادْخُلُوهَا
بِسَلامٍ}
Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera. (Al-Hijr: 46)Yakni dalam keadaan terbebas dari semua penyakit dan kalian selalu dalam keadaan sejahtera.
{آمِنِينَ}
lagi aman. (Al-Hijr: 46)Maksudnya, aman dari semua ketakutan dan keterkejutan; dan janganlah kalian takut akan dikeluarkan, jangan pula takut akan terputus serta fana (mati).
Firman Allah Swt.:
{وَنزعْنَا
مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ
مُتَقَابِلِينَ}
Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka,
sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.
(Al-Hijr: 47)Al-Qasim telah meriwayatkan dari Abu Umamah yang mengatakan bahwa ahli surga masuk ke dalam surga berikut dengan apa yang terpendam di dalam hati mereka ketika di dunia, yaitu rasa benci dan dendam. Tetapi setelah mereka saling berhadapan dan bersua satu sama lainnya, maka Allah melenyapkan rasa dendam yang ada dalam hati mereka ketika di dunia. Kemudian Abu Umamah membacakan firman-Nya: Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka. (Al-Hijr: 47)
Demikianlah menurut riwayat ini, tetapi Al-Qasim ibnu Abdur Rahman dalam riwayatnya yang dari Abu Umamah berpredikat daif.
Sunaid di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudalah, dari Luqman, dari Abu Umamah yang mengatakan, "Tidaklah masuk surga seorang mukmin sebelum Allah melenyapkan rasa dendam yang ada dalam hatinya. Allah mencabut rasa dendam darinya sebagaimana hewan pemangsa mencabut mangsanya."
Pendapat inilah yang sesuai dengan apa yang terdapat di dalam hadis sahih melalui riwayat Qatadah, telah menceritakan kepada kami Abul Mutawakkil An-Naji; Abu Sa'id Al-Khudri pernah menceritakan hadis kepada mereka, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"يَخْلُص
الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فيُحبسون عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ
وَالنَّارِ، فيُقتص لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضِهِمْ، مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ
فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا هُذِّبوا ونُقّوا، أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ
الْجَنَّةِ"
Orang-orang mukmin diselamatkan dari neraka, lalu mereka ditahan di atas
sebuah jembatan yang terletak di antara surga dan neraka. Maka sebagian dari
mereka meng-qisas sebagian yang lainnya menyangkut perkara penganiayaan yang
pernah terjadi di antara mereka ketika di dunia. Setelah mereka dibersihkan dan
disucikan (dari semua kesalahan), barulah mereka diizinkan untuk masuk
surga.Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Muhammad ibnu Sirin yang mengatakan bahwa Al-Asytar meminta izin masuk kepada Khalifah Ali r.a. yang saat itu di hadapannya terdapat Ibnu Talhah. Maka Ali menangguhkannya, kemudian memberinya izin untuk masuk. Setelah Al-Asytar masuk, ia berkata, "Sesungguhnya aku berpendapat bahwa tidak sekali-kali engkau menahanku untuk masuk melainkan karena orang ini." Ali menjawab, "Benar." Al-Asytar berkata, "Sesungguhnya aku berpendapat bahwa seandainya di sisimu terdapat anak Usman, tentulah kamu menahanku untuk masuk." Ali menjawab, "Benar, sesungguhnya aku berharap semoga aku dan Usman termasuk orang-orang yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: 'Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan' (Al-Hijr: 47).”
Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah Ad- Darir, telah menceritakan kepada kami Abu Malik Al-Asyja'i, telah menceritakan kepada kami Abu Habibah maula Talhah yang mengatakan bahwa Imran ibnu Talhah masuk menemui Ali r.a. setelah selesai dari Perang Jamal. Maka Ali menyambutnya dengan hangat dan berkata, "Sesungguhnya aku benar-benar berharap semoga Allah menjadikan aku dan ayahmu termasuk orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah Swt.: 'Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan' (Al-Hijr: 47).”
Telah menceritakan pula kepada kami Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah Ad-Darir (yang tuna netra), telah menceritakan kepada kami Abu Malik Al-Asyja'i, dari Abu Habibah maula Talhah yang mengatakan bahwa Imran ibnu Talhah masuk menemui Ali r.a. setelah usai Perang Jamal. Ali menyambutnya dengan hangat seraya berkata, "Sesungguhnya aku benar-benar berharap semoga Allah menjadikan aku dan ayahmu termasuk orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: 'Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan' (Al-Hijr: 47).” Saat itu di sudut lain dari hamparan tersebut terdapat dua orang lelaki. Lalu kedua lelaki itu berkata, "Allah lebih adil daripada hal tersebut, engkau perangi mereka kemarin, kemudian kalian menjadi bersaudara." Ali r.a. berkata, "Suatu kaum dari tanah yang paling jauh, maka siapakah mereka itu kalaulah bukan aku dan Talhah?" Abu Mu'awiyah melanjutkan asar ini hingga selesai.
Waki' telah meriwayatkan dari Aban ibnu Abdullah Al-Bajali, dari Na'im ibnu Abu Hindun, dari Rab'i ibnu Khirasy hal yang semisal dengan asar ini.
Di dalam riwayat ini disebutkan bahwa lalu ada seorang lelaki dari Bani Hamdan berdiri dan berkata, "Allah lebih adil daripada hal itu, wahai Amirul Mu’minin." Maka Ali berteriak dengan teriakan yang keras, sehingga saya menduga bahwa gedung (tempat mereka berada) seakan-akan bergetar karena teriakannya, kemudian ia (Ali r.a.) berkata, "Jika bukan kita, lalu siapa lagi mereka?" Sa'id ibnu Masruq telah meriwayatkan dari Abu Talhah, lalu ia mengemukakan hal yang semisal. Di dalam riwayatnya ini disebutkan bahwa Al-Haris ibnu A'war mengatakan kalimat tersebut. Maka Ali r.a. berdiri dan menghampirinya, lalu memukul kepalanya (Al-Haris) dengan sesuatu yang ada di tangannya, seraya berkata, "Hai A'war, siapa lagikah mereka jika bukan kita?"
Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Mansur, dari Ibrahim yang menceritakan bahwa Ibnu Jarmuz —pembunuh Az-Zubair— datang meminta izin masuk menemui Khalifah Ali r.a. Namun Ali menahannya dalam waktu yang cukup lama, kemudian memberinya izin untuk masuk. Ibnu Jarmuz berkata kepada Ali, "Mengapa kamu menjauhi orang-orang yang tertimpa musibah?" Ali berkata, "Semoga mulutmu penuh dengan debu. Sesungguhnya aku berharap semoga aku, Talhah, dan Az-Zubair termasuk orang-orang yang disebutkan Allah dalam firman-Nya: 'Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan' (Al-Hijr: 47).”
Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh As-Sauri, dari Ja'far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari Ali.
Sufyan ibnu Uyaynah telah meriwayatkan dari Israil, dari Abu Musa yang telah mendengar Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa Ali pernah mengatakan, "Demi Allah, berkenaan dengan kita ahli Badar ayat ini diturunkan," yakni firman Allah Swt.: Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (Al-Hijr: 47)
Kasir An-Nawa telah mengatakan bahwa ia masuk menemui Abu Ja'far Muhammad ibnu Ali, lalu ia berkata kepadanya,-"Penolongku adalah penolong kamu, perdamaianku adalah perdamaianmu, musuhku adalah musuhmu, perangku adalah perangmu. Aku bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah engkau berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar?" Abu Ja'far menjawab dengan membacakan firman-Nya: sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk (Al-An'am: 56) "Hai Kasir, jadikanlah keduanya sebagai pemimpinmu, dan apa saja yang menimpamu berada pada tanggung jawabku." Kemudian Abu Ja'far membacakan firman-Nya: sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (Al-Hijr: 47)
Abu Ja'far menakwilkan bahwa mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan Ali; semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka.
As-Sauri telah meriwayatkan dari seorang lelaki, dari Abu Saleh sehubungan dengan makna firman-Nya: sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (Al-Hijr: 47)
Bahwa mereka berjumlah sepuluh orang, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Talhah, Az-Zubair, Abdur Rahman ibnu Auf, Sa'd ibnu Abu Waqqas, Sa'id ibnu Zaid, dan Abdullah ibnu Mas'ud; semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka.
Firman Allah yang mengatakan, ""Mutaqabilin menurut Mujahid artinya sebagian dari mereka tidak membelakangi sebagian yang lainnya. Sehubungan dengan masalah ini terdapat sebuah hadis marfu' yang menerangkannya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Hissan ibnu Hissan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Mu'in, dari Ibrahim Al-Qaumasi, dari Sa'id ibnu Syurahbil, dari Zaid ibnu Abu Aufa yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. keluar menemui kami, lalu membaca firman-Nya: sedangkan mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (Al-Hijr: 47) Yakni merasa bersaudara karena Allah, sebagian dari mereka memandang sebagian yang lain.
*******************
Firman Allah Swt.:
{لَا
يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ}
Mereka tidak merasa lelah di dalamnya. (Al-Hijr: 48)Artinya, tidak pernah merasa lelah dan tidak pernah sakit, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis dalam kitab Sahihain:
"إِنَّ
اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أُبَشِّرَ خَدِيجَةَ بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قصَب،
لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ"
Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku agar menyampaikan berita
gembira kepada Khadijah dengan sebuah rumah di dalam surga terbuat dari bambu,
tiada kegaduhan di dalamnya dan tidak pula kelelahan.
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{وَمَا
هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ}
dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya.
(Al-Hijr:48)Semakna dengan yang diterangkan di dalam sebuah hadis yang mengatakan:
"يُقَالُ
يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ، إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَمْرَضُوا أَبَدًا،
وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَعِيشُوا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ
تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أبدا، وإن لكم أَنْ تُقِيمُوا فَلَا تَظْعَنُوا
أَبَدًا"
Dikatakan kepada ahli surga, "Sesungguhnya kalian tetap sehat dan tidak
akan sakit selama-lamanya. Sesungguhnya kalian tetap hidup dan tidak akan mati
selama-lamanya. Sesungguhnya kalian tetap muda dan tidak akan tua
selama-lamanya. Dan sesungguhnya kalian tetap tinggal di dalam surga dan tidak
akan pindah darinya selama-lamanya.”
{خَالِدِينَ
فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلا}
mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya.
(Al-Kahfi: 108)
*******************
Firman Allah Swt.:
{نَبِّئْ
عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ
الألِيمُ}
Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang
sangat pedih. (Al-Hijr: 49-50)Maksudnya, beritakanlah —hai Muhammad— kepada hamba-hamba-Ku, bahwasanya Akulah Tuhan yang mempunyai rahmat dan yang mempunyai azab yang sangat pedih.
Dalam pembahasan terdahulu telah diterangkan pembahasan yang semisal dengan makna ayat ini, yang intinya menunjukkan bahwa ayat ini mengandung makna raja' (harapan) dan Khauf (ketakutan).
Disebutkan pula mengenai penyebab turunnya ayat ini menurut riwayat Musa ibnu Ubaidah, dari Mus'ab ibnu Sabit yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. melewati sejumlah orang dari kalangan sahabatnya yang sedang tertawa-tawa, maka beliau Saw. bersabda:
مَرَّ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ
يَضْحَكُونَ، فَقَالَ: "اذْكُرُوا الْجَنَّةَ، وَاذْكُرُوا النَّارَ". فَنَزَلَتْ:
{نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ
الْعَذَابُ الألِيمُ}
Ingatlah surga dan ingatlah pula neraka! Maka turunlah firman-Nya:
Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang
sangat pedih. (Al-Hijr: 49-50)Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Hadis ini berpredikat mursal.
قَالَ
ابْنُ جَرِيرٍ، حَدَّثَنِي الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، أَخْبَرَنَا ابْنُ
الْمَكِّيِّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، أَخْبَرَنَا مُصْعَبُ بْنُ ثَابِتٍ،
حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ رَجُلٍ
مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: طَلَعَ
عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من الْبَابِ الَّذِي
يَدْخُلُ مِنْهُ بَنُو شَيْبَةَ، فَقَالَ: "أَلَا أَرَاكُمْ تَضْحَكُونَ؟ " ثُمَّ
أَدْبَرَ، حَتَّى إِذَا كَانَ عِنْدَ الْحَجَرِ رَجَعَ إِلَيْنَا الْقَهْقَرَى،
فَقَالَ: "إِنِّي لَمَّا خَرَجْتُ جَاءَ جِبْرِيلُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ:
يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ لِمَ تُقَنِّطُ عِبَادِي؟ {نَبِّئْ عِبَادِي
أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ
الألِيمُ}
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah
menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnul Makki,
telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami
Mus'ab ibnu Sabit, telah menceritakan kepada kami Asim ibnu Abdullah, dari Ibnu
Abu Rabah, dari seorang lelaki dari kalangan sahabat Nabi Saw. yang mengatakan
bahwa Rasulullah Saw. muncul menemui kami dari pintu yang biasa dipakai masuk
oleh Bani Syaibah, lalu beliau Saw. bersabda, "Jangan sekali lagi aku melihat
kalian dalam keadaan tertawa-tawa." Kemudian beliau berpaling, dan manakala
beliau telah sampai di Hijir Ismail, tiba-tiba beliau kembali kepada kami dengan
langkah mundur, lalu bersabda: Sesungguhnya ketika aku keluar, Jibril datang
dan berkata, "Hai Muhammad, sesungguhnya Allah telah berfirman, 'Kami tidak akan
membuat hamba-hamba Kami berputus asa. Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa
sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa
sesungguhnya azabKu adalah azab yang sangat pedih'."Sa’id telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Hijr: 49) Menurut riwayatnya, telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"لَوْ
يَعْلَمُ الْعَبْدُ قَدْرَ عَفْوِ اللَّهِ لَمَا تَوَرَّعَ مِنْ حَرَامٍ، وَلَوْ
يَعْلَمُ قَدْرَ عِقَابِهِ لَبَخَعَ نَفْسَهُ"
Seandainya seorang hamba mengetahui kadar pemaafan Allah, tentulah tidak
segan-segan ia melakukan hal yang haram; dan seandainya seorang hamba mengetahui
kadar azab Allah, tentulah ia menekan hawa nafsunya.
{وَنَبِّئْهُمْ
عَنْ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ (51) إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلامًا قَالَ
إِنَّا مِنْكُمْ وَجِلُونَ (52) قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ
عَلِيمٍ (53) قَالَ أَبَشَّرْتُمُونِي عَلَى أَنْ مَسَّنِيَ الْكِبَرُ فَبِمَ
تُبَشِّرُون (54) قَالُوا بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلا تَكُنْ مِنَ الْقَانِطِينَ
(55) قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلا الضَّالُّونَ (56)
}
Dan
kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke
tempatnya, lalu mereka mengucapkan, "Salam.” Berkata Ibrahim, "Sesungguhnya kami
merasa takut kepada kalian.” Mereka berkata, "Janganlah kamu merasa takut,
sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang)
anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim.” Berkata
Ibrahim, "Apakah kalian memberi kabar gembira kepadaku, padahal usiaku telah
lanjut. Maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang
kalian kabarkan ini?” Mereka menjawab, "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu
dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa."
Ibrahim berkata, "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya,
kecuali orang-orang yang sesat."Allah Swt. berfirman kepada Nabi Muhammad, bahwa ceritakanlah kepada mereka kisah:
{ضَيْفِ
إِبْرَاهِيمَ}
tamu-tamu Ibrahim. (Al-Hijr: 51)Lafaz الضَّيْفُ dapat dipakai untuk bentuk tunggal dan bentuk jamak sekaligus, perihalnya sama dengan lafaz الزَّوْرِ (dosa) dan السُّفْر (perjalanan),
yaitu di saat:
{دَخَلُوا
عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلامًا قَالَ إِنَّا مِنْكُمْ وَجِلُونَ}
masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan, "Salam.”Berkata Ibrahim,
"Sesungguhnya kami merasa takut kepada kalian.” (Al-Hijr:52)Yakni Nabi Ibrahim dan istrinya merasa takut kepada tamu-tamunya itu. Disebutkan bahwa rasa takut timbul dalam hati Nabi Ibrahim kepada tamu-tamunya itu tatkala ia melihat tangan mereka tidak mau menyantap suguhan jamuan yang d isediakannya, yaitu anak sapi yang dipanggang.
{قَالُوا
لَا تَوْجَلْ}
Mereka berkata, "Janganlah kamu merasa takut.” (Al-Hijr: 53)Al-wajal artinya al-khauf, yakni janganlah kamu takut kepada kami. Lalu mereka menyampaikan berita gembira kepada Ibrahim a.s. bahwa dia akan mendapat seorang anak yang 'alim (pandai). Anak yang dimaksud adalah Ishaq a.s., seperti yang telah disebutkan di dalam surat Hud.
Kemudian Nabi Ibrahim berkata dengari nada keheranan, mengingat usianya yang telah lanjut; begitu pula usia istrinya, tetapi perasaan tersebut dibarengi dengan rasa ingin agar janji tersebut segera dinyatakan:
{أَبَشَّرْتُمُونِي
عَلَى أَنْ مَسَّنِيَ الْكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُون}
Apakah kalian memberi kabar gembira kepadaku, padahal usiaku telah lanjut,
maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kalian
kabarkan ini? (Al-Hijr: 54)Maka mereka menjawabnya dengan nada yang tegas akan terealisasinya berita gembira yang mereka sampaikan kepadanya:
{قَالُوا
بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلا تَكُنْ مِنَ الْقَانِطِينَ}
Mereka menjawab, "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar,
maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.” (Al-Hijr:
55)Sebagian ulama membacanya الْقَنِطِينَ.
Maka Ibrahim a.s. menjawab mereka, bahwa sesungguhnya dirinya tidaklah berputus asa, melainkan selalu berharap kepada Allah agar memberinya anak, sekalipun usianya telah lanjut, begitu pula istrinya. Karena sesungguhnya Ibrahim a.s. mengetahui benar akan kekuasaan Allah dan rahmat-Nya yang jauh lebih besar dari hal tersebut.
{قَالَ
فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ (57) قَالُوا إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى
قَوْمٍ مُجْرِمِينَ (58) إِلا آلَ لُوطٍ إِنَّا لَمُنَجُّوهُمْ أَجْمَعِينَ (59)
إِلا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَا إِنَّهَا لَمِنَ الْغَابِرِينَ (60) }
Berkata (pula) Ibrahim, "Apakah urusan kalian yang penting
(selain itu), hai para utusan?” Mereka menjawab, "Kami sesungguhnya
diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Lut beserta pengikut-pengikutnya.
Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semuanya, kecuali istrinya. Kami
telah menentukan bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal
(bersama-sama dengan orang kafir lainnya).”Allah Swt. berfirman menceritakan perihal Ibrahim a.s. setelah rasa takutnya lenyap dan mendapat berita gembira bahwa sesungguhnya dia balik bertanya kepada para utusan itu tentang latar belakang dan tujuan kedatangan mereka kepadanya. Maka mereka menjawab:
{إِنَّا
أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمٍ مُجْرِمِينَ}
Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa. (Al-Hijr: 58)Yang mereka maksud adalah kaum Nabi Lut. Lalu mereka memberitakan kepada Ibrahim a.s. bahwa mereka akan menyelamatkan keluarga Lut dari kalangan kaumnya, kecuali istrinya; karena sesungguhnya istrinya termasuk orang-orang yang binasa bersama-sama kaumnya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{إِلا
امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَا إِنَّهَا لَمِنَ الْغَابِرِينَ}
kecuali istrinya. Kami telah menentukan bahwa sesungguhnya ia itu termasuk
orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).
(Al-Hijr: 60)Yakni termasuk orang yang tertinggal dan dibinasakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar