تَفْسِيرُ
سُورَةِ
الْحِجْرِ
Makkiyyah, 99 ayat
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.
الر
تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَقُرْآنٍ مُبِينٍ (1)
Alif Lam Ra.
(Surat) ini adalah (sebagian dari)
ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Al-Qur’an
yang memberi penjelasan.Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan pembahasan mengenai huruf-huruf yang mengawali banyak surat Al-Qur'an.
**************************************
Akhir juz
13
**************************************
رُبَمَا
يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا
وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الأمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (3)
Orang-orang yang kafir itu sering kali
(nanti di akhirat) menginginkan kiranya
mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka
(di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan
(kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan
mereka). (Al-Hijr: 2-3)Firman Allah Swt.:
{رُبَمَا
يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ}
Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat)
menginginkan. (Al-Hijr: 2), hingga akhir ayat.Ayat ini menceritakan tentang orang-orang kafir, bahwa di akhirat kelak mereka akan menyesali kekafiran mereka selama di dunia, dan mereka hanya bisa berharap seandainya saja mereka menjadi orang-orang muslim ketika di dunia.
As-Saddi di dalam kitab tafsirnya telah menukil sebuah asar berikut sanadnya yang berpredikat masyhur dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud serta sahabat-sahabat lainnya, bahwa orang-orang kafir Quraisy —saat mereka akan dimasukkan ke dalam neraka— berharap seandainya saja mereka dahulu menjadi orang-orang muslim.
Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah setiap orang kafir di saat menghadapi kematiannya menginginkan seandainya saja dia menjadi orang mukmin sebelumnya.
Menurut pendapat yang lainnya, ayat ini menceritakan perihal hari kiamat, sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَلَوْ
تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلا
نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ}
Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke
neraka, lalu mereka berkata, "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan
tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,
" (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). (Al-An'am:
27)Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Salamah ibnu Kahil, dari Abuz Zahiriyah, dari Abdullah (Ibnu Mas'ud) sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (Al-Hijr: 2) Bahwa ayat ini menceritakan perihal orang-orang yang menghuni neraka Jahanam ketika melihat teman-teman mereka dikeluarkan dari neraka.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Muslim, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Farwah Al-Abdi, bahwa Ibnu Abbas dan Anas ibnu Malik menakwilkan ayat ini, yaitu firman-Nya: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (Al-Hijr: 2) dengan pengertian berikut: Ayat ini menceritakan hari (ketika itu) Allah memasukkan orang-orang yang berdosa dari kalangan kaum muslim ke dalam neraka bersama orang-orang musyrik. Kemudian orang-orang musyrik berkata kepada mereka, "Tiada manfaatnya bagi kalian penyembahan kalian (kepada Allah) ketika di dunia." Maka Allah murka kepada orang-orang musyrik, lalu berkat kemurahan dari-Nya, Dia mengeluarkan orang-orang muslim dari neraka. Yang demikian itu disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (Al-Hijr: 2)
Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, dari Hammad, dari Ibrahim dan dari Khasifi dari Mujahid, keduanya mengatakan bahwa penghuni tetap neraka berkata kepada ahli tauhid yang berada di dalam neraka, "Tiada manfaatnya bagi kalian iman kalian." Manakala mereka mengatakan demikian, Allah berfirman, "Keluarkanlah semua orang yang di dalam kalbunya terdapat iman sebesar biji sawi!" Perawi mengatakan bahwa yang demikian itulah apa yang disebutkan oleh firman Allah Swt.: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (Al-Hijr: 2)
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ad-Dahhak, Qatadah, Abul Aliyah, dan lain-lainnya.
Masalah ini disebutkan pula dalam banyak hadis marfu’ seperti penjelasan berikut.
Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan:
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ الْعَبَّاسِ، هُوَ الْأَخْرَمُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
مَنْصُورٍ الطُّوسِيُّ، حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ إِسْحَاقَ الْجَهْبَذُ دَلَّنِي
عَلَيْهِ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ حَدَّثَنَا مُعَرّف بْنُ وَاصِلٍ، عَنْ يَعْقُوبَ
بْنِ أَبِي نُبَاتَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَغَرِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ نَاسًا مِنْ أَهْلٍ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
يَدْخُلُونَ النَّارَ بِذُنُوبِهِمْ، فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُ اللَّاتِ
وَالْعُزَّى: مَا أَغْنَى عَنْكُمْ قَوْلُكُمْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَأَنْتُمْ مَعَنَا فِي النَّارِ؟. فَيَغْضَبُ اللَّهُ لَهُمْ، فَيُخْرِجُهُمْ،
فَيُلْقِيهِمْ فِي نَهْرِ الْحَيَاةِ، فَيَبْرَءُونَ مِنْ حَرْقِهِمْ كَمَا
يَبْرَأُ الْقَمَرُ مِنْ خُسُوفِهِ، فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، ويسمَّون فِيهَا
الْجَهَنَّمِيِّينَ" فَقَالَ رَجُلٌ: يَا أَنَسُ، أَنْتَ سمعتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ أَنَسٌ: سمعتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "مِنْ كَذَبَ عَلِيَّ مُتَعَمَّدًا،
فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ". نَعَمْ، أَنَا سَمِعْتُ رسول الله صلى
الله عليه وسلم يقول هَذَا.
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Abbas (yaitu Al-Akhram), telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mansur At-Tusi, telah menceritakan kepada
kami Saleh ibnu Ishaq Al-Jahbaz dan Ibnu Ulayyah Yahya ibnu Musa, telah
menceritakan kepada kami Ma'ruf ibnu Wasil, dari Ya'qub ibnu Nabatah, dari Abdur
Rahman Al-Agar, dari Anas ibnu Malik r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda: Sesungguhnya ada sebagian orang dari kalangan orang-orang yang
mengucapkan, "Tidak ada Tuhan selain Allah, " masuk ke dalam neraka karena
dosa-dosa mereka. Maka berkatalah kepada mereka para penyembah Lata dan 'Uzza
(orang-orang musyrik), "Tiada manfaatnya bagi kalian ucapan kalian,
'Tidak ada Tuhan selain Allah, ' sedangkan kalian sekarang berada di dalam
neraka bersama-sama kami.” Maka Allah murka terhadap mereka, lalu Allah
mengeluarkan ahli tauhid yang berdosa itu (dari neraka) dan melemparkan
mereka ke dalam sungai kehidupan, maka mereka menjadi bersih dari kehangusannya,
sebagaimana bersihnya rembulan setelah gerhana. Lalu mereka dimasukkan ke dalam
surga, dan mereka di dalam surga dijuluki dengan sebutan golongan Jahannamiyyun.
Lalu ada seorang lelaki berkata kepada sahabat Anas, "Hai Anas, apakah benar
kamu mendengar hadis ini dari Rasulullah Saw.?" Sahabat Anas menjawab bahwa ia
pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang mendustakan aku
dengan sengaja, maka hendaklah ia bersiap-siap untuk menduduki tempatnya di
neraka.”Ya, saya mendengarnya langsung dari Rasulullah Saw. saat beliau
mengatakan hadis ini." Kemudian Imam Tabrani mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Al-Jahbaz secara munfarid.
Hadis kedua:
Imam Tabrani mengatakan:
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنَا أَبُو الشَّعْثَاءِ
عَلِيُّ بْنُ حَسَنٍ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ نَافِعٍ
الْأَشْعَرِيُّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي
مُوسَى، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِذَا اجْتَمَعَ أَهْلُ النَّارِ فِي النَّارِ، وَمَعَهُمْ
مَنْ شَاءَ اللَّهُ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ، قَالَ الْكُفَّارُ لِلْمُسْلِمِينَ:
أَلَمْ تَكُونُوا مُسْلِمِينَ؟ قَالُوا: بَلَى. قَالُوا: فَمَا أَغْنَى عَنْكُمُ
الْإِسْلَامُ! فَقَدْ صِرْتُمْ مَعَنَا فِي النَّارِ؟ قَالُوا: كَانَتْ لَنَا
ذُنُوبٌ فَأُخِذْنَا بِهَا. فَسَمِعَ (10) اللَّهُ مَا قَالُوا، فَأَمَرَ بِمَنْ
كَانَ فِي النَّارِ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ فَأُخْرِجُوا، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ
مَنْ بَقِيَ مِنَ الْكُفَّارِ قَالُوا: يَا لَيْتَنَا كُنَّا مُسْلِمِينَ
فَنَخْرُجَ كَمَا خَرَجُوا". قَالَ: ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، {الر تِلْكَ
آيَاتُ الْكِتَابِ وَقُرْآنٍ مُبِين رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ
كَانُوا مُسْلِمِينَ}
telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ahmad ibnu Hambal, telah
menceritakan kepada kami Abusy Sya'sa Ali ibnu Hasan Al-Wasiti, telah
menceritakan kepada kami Khalid ibnu Nafi' Al-Asy'ari, dari Sa'id ibnu Abu
Burdah, dari ayahnya, dari Abu Musa r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw.
pernah bersabda: Apabila ahli neraka telah berkumpul di dalam neraka yang
antara lain termasuk ahli kiblat yang dikehendaki oleh Allah (masuk neraka),
maka orang-orang kafir berkata kepada orang-orang muslim, "Bukankah kalian
orang-orang muslim?” Orang-orang muslim menjawab, "Benar, kami orang muslim.”
Mereka berkata, "Tiada manfaatnya Islam bagi kalian, sedangkan kalian menjadi
orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka bersama-sama kami.” Orang-orang
muslim menjawab, "Dahulu kami banyak melakukan dosa, maka kami dihukum
karenanya.” Allah mendengar apa yang dikatakan oleh mereka, maka Dia
memerintahkan agar orang-orang yang ada di dalam neraka dari kalangan ahli
kiblat dikeluarkan. Ketika orang-orang kafir yang masih tetap di dalam neraka
melihat hal tersebut, maka mereka berkata, "Sekiranya kami dahulu menjadi
orang-orang muslim, tentulah kami akan dikeluarkan (dari neraka)
sebagaimana mereka dikeluarkan.” Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa
setelah itu Rasulullah Saw. membacakan firman Allah yang dimulainya dengan
bacaan, "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk." Alif,
Lam, Ra. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab
(yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Al-Our'an yang memberi
penjelasan. Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat)
menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang
muslim. (Al-Hijr: 1-2)Ibnu Abu Hatim meriwayatkan hadis ini melalui Khalid ibnu Nafi' dengan sanad yang sama, tetapi di dalamnya disebutkan "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang" sebagai ganti dari isti’azah.
Hadis yang ketiga:
Imam Tabrani telah mengatakan pula:
حَدَّثَنَا
مُوسَى بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ قَالَ: قُلْتُ
لِأَبِي أُسَامَةَ: أَحَدَّثَكُمْ أَبُو رَوْقٍ -وَاسْمُهُ عَطِيَّةُ بْنُ
الْحَارِثِ-: حَدَّثَنِي صَالِحُ بْنُ أَبِي طَرِيفٍ قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا سَعِيدٍ
الْخُدْرِيَّ فَقُلْتُ لَهُ: هَلْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي هَذِهِ الْآيَةِ: {رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ
كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ} ؟ قَالَ: نَعَمْ، سَمِعْتُهُ يَقُولُ: "يُخرج
اللَّهُ نَاسًا من المؤمنين من
النار
بعد ما يَأْخُذُ نِقْمَتَهُ مِنْهُمْ"، وَقَالَ: "لَمَّا أَدْخَلَهُمُ اللَّهُ
النَّارَ مَعَ الْمُشْرِكِينَ قَالَ لَهُمُ الْمُشْرِكُونَ: تَزْعُمُونَ أَنَّكُمْ
أَوْلِيَاءُ اللَّهِ فِي الدُّنْيَا، فَمَا بَالُكُمْ مَعَنَا فِي النَّارِ؟
فَإِذَا سَمِعَ اللَّهُ ذَلِكَ مِنْهُمْ، أَذِنَ فِي الشَّفَاعَةِ لَهُمْ
فَتَشْفَعُ الْمَلَائِكَةُ وَالنَّبِيُّونَ، وَيَشْفَعُ الْمُؤْمِنُونَ، حَتَّى
يَخْرُجُوا بِإِذْنِ اللَّهِ، فَإِذَا رَأَى الْمُشْرِكُونَ ذَلِكَ، قَالُوا: يَا
لَيْتَنَا كُنَّا مِثْلَهُمْ، فَتُدْرِكَنَا الشَّفَاعَةُ، فَنَخْرُجُ مَعَهُمْ".
قَالَ: "فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: {رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ
كَانُوا مُسْلِمِينَ} فَيُسَمَّوْنَ فِي الْجَنَّةِ الجُهَنَّمِيِّين مِنْ أَجْلِ
سَواد فِي وُجُوهِهِمْ، فَيَقُولُونَ: يَا رَبِّ، أَذْهِبْ عَنَّا هَذَا الِاسْمَ،
فَيَأْمُرُهُمْ فَيَغْتَسِلُونَ فِي نَهْرِ الْجَنَّةِ، فَيَذْهَبُ ذَلِكَ الِاسْمُ
عَنْهُمْ"، فَأَقَرَّ بِهِ أَبُو أُسَامَةَ، وَقَالَ: نَعَمْ.
telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Harun, telah menceritakan kepada
kami Ishaq ibnu Rahawaih, yang telah mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada
Abu Usamah, "Apakah pernah Abu Rauq yang nama aslinya Atiyyah ibnul Haris
menceritakan kepadamu bahwa telah menceritakan kepadanya Saleh ibnu Abu Syarif
yang telah mengatakan bahwa dia pernah bertanya kepada Abu Sa'id Al-Khudri,
'Pernahkah engkau mendengar dari Rasulullah Saw. tafsir firman Allah Swt.
berikut', yaitu: Orang-orang yang kafir itu sering kali {nanti di
akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi
orang-orang muslim. (Al-Hijr: 2) Abu Sa'id menjawab, 'Ya, saya pernah
mendengar beliau bersabda', yakni: Allah mengeluarkan sejumlah manusia dari
kalangan kaum mukmin dari nereka sesudah mereka menerima kemurkaan dari-Nya.
Dan beliau Saw. bersabda pula: Setelah Allah memasukkan mereka
(orang-orang mukmin yang durhaka) bersama dengan orang-orang musyrik ke
dalam neraka., maka orang-orang musyrik bertanya kepada mereka, "Kamu mengira
bahwa kamu adalah kekasih-kekasih Allah ketika di dunia, lalu mengapa kamu bisa
dimasukkan ke dalam neraka bersama-sama dengan kami?” Maka apabila Allah
mendengar ucapan tersebut dari orang-orang musyrik, lalu Allah memberi izin
untuk diberikan syafaat kepada mereka (orang-orang mukmin yang durhaka itu).
Lalu para malaikat, para nabi, dan orang-orang mukmin yang bersih memberi
syafaat kepada mereka, hingga mereka dikeluarkan dari neraka dengan seizin
Allah. Dan apabila orang-orang musyrik melihat hal tersebut, berkatalah mereka,
"Aduhai, sekiranya kami dahulu seperti mereka, tentulah kami pun akan beroleh
syafaat pula dan dikeluarkan dari neraka ini bersama-sama dengan
mereka.”Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa yang demikian itulah yang dimaksud oleh firman Allah Swt.: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (Al-Hijr: 2) Maka orang-orang mukmin durhaka yang terbelakang masuk surganya itu diberi nama kaum Jahannamiyyin karena wajah mereka masih kelihatan menghitam. Lalu mereka berkata, "Ya Tuhanku, lenyapkanlah julukan ini dari kami." Maka Allah memerintahkan kepada mereka untuk mandi, lalu mereka mandi di sungai surga, setelah itu lenyaplah julukan itu dari mereka (karena muka mereka tidak hitam lagi).
Lalu Abu Usamah mengakui pernah mendengar hadis itu, dan menjawab Ishaq ibnu Rahawaih dengan kata-kata mengiakan.
Hadis keempat.
قَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ، حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ
بْنُ الْوَلِيدِ النَّرْسِيُّ حَدَّثَنَا مِسْكِينٌ أَبُو فَاطِمَةَ، حَدَّثَنِي
الْيَمَانُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ حِمْير عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ،
عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم:
"مِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ
تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى حُجْزَتِهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى
عنُقه، عَلَى قَدْرِ ذُنُوبِهِمْ وَأَعْمَالِهِمْ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْكُثُ فِيهَا
شَهْرًا ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهَا، وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْكُثُ فِيهَا سَنَةً ثُمَّ
يَخْرُجُ مِنْهَا، وَأَطْوَلُهُمْ فِيهَا مُكْثًا بِقَدْرِ الدُّنْيَا مُنْذُ
يَوْمِ خُلِقَتْ إِلَى أَنْ تَفْنَى، فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَخْرُجُوا
مِنْهَا قَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى وَمَنْ فِي النَّارِ مِنْ أَهْلِ
الْأَدْيَانِ وَالْأَوْثَانِ، لِمَنْ فِي النَّارِ مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ:
آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، فَنَحْنُ وَأَنْتُمُ الْيَوْمَ فِي
النَّارِ سَوَاءً، فَيَغْضَبُ اللَّهُ لَهُمْ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْهُ لِشَيْءٍ
فِيمَا مَضَى، فَيُخْرِجُهُمْ إِلَى عَيْنٍ فِي الْجَنَّةِ، وَهُوَ قَوْلُهُ:
{رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ}
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain,
telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnul Walid Al-Bursi, telah menceritakan
kepada kami Miskin Abu Fatimah, telah menceritakan kepadaku Al-Yaman ibnu Yazid,
dari Muhammad ibnu Jubair, dari Muhammad ibnu Ali, dari ayahnya, dari kakeknya
yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Di antara ahli neraka
ada yang dibakar oleh api neraka sampai batas lututnya, di antara mereka ada
yang dibakar api neraka sampai batas pinggangnya, di antara mereka ada yang
dibakar api neraka sampai batas lehernya, masing-masing orang disesuaikan dengan
kadar dosa dan amal perbuatannya. Di antara mereka ada yang tinggal di dalam
neraka selama satu bulan, kemudian dikeluarkan darinya. Di antara mereka ada
yang tinggal di dalamnya selama satu tahun, kemudian dikeluarkan darinya. Dan
orang yang paling lama menghuni neraka adalah seusia dunia sejak dunia
diciptakan hingga kiamat. Apabila Allah hendak mengeluarkan mereka dari neraka,
berkatalah orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan para penghuni neraka
dari kalangan agama lain dan para penyembah berhala kepada penghuni neraka dari
kalangan ahli tauhid, "Kalian telah beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, dan
rasul-rasul-Nya, tetapi kami dan kalian sekarang sama saja berada di dalam
neraka.” Maka Allah murka dengan kemurkaan yang tidak pernah dialami-Nya sebelum
itu karena sesuatu hal, lalu Allah mengeluarkan ahli tauhid (dan
melemparkan mereka) ke dalam mata air di dalam surga. Hal ini disebutkan oleh
firman Allah, "Orang-orang yang kafir itu (nanti di akhirat) menginginkan
kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim "
(Al-Hijr: 2).
*******************
Firman Allah Swt.:
{ذَرْهُمْ
يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا}
Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang.
(Al-Hijr: 3)Dalam ayat ini terkandung peringatan yang keras dan ancaman yang pasti, seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lainnya melalui firman Allah Swt.:
{قُلْ
تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِ}
Katakanlah, "Bersenang-senanglah kalian, karena sesungguhnya tempat
kembali kalian ialah neraka.” (Ibrahim: 30)
{كُلُوا
وَتَمَتَّعُوا قَلِيلا إِنَّكُمْ مُجْرِمُونَ}
(Dikatakan kepada orang-orang kafir), "Makanlah dan bersenang-senanglah
kalian (di dunia dalam waktu) yang pendek, sesungguhnya kalian adalah
orang-orang yang berdosa.” (Al-Mursalat: 46) .Dan dalam firman berikutnya disebutkan:
{وَيُلْهِهِمُ
الأمَلُ}
dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong). (Al-Hijr: 3) Maksudnya, lalai dari bertobat dan tidak mau sadar.
{فَسَوْفَ
يَعْلَمُونَ}
maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (Al-Hijr.
3)
{وَمَا
أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلا وَلَهَا كِتَابٌ مَعْلُومٌ (4) مَا تَسْبِقُ مِنْ
أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ (5) }
Dan Kami tiada membinasakan sesuatu kota pun,
melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan. Tidak ada suatu umat
pun yang dapat mendahulukan ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan
(nya).Allah Swt. menceritakan bahwa tidak sekali-kali Dia membinasakan penduduk suatu kota melainkan setelah tegaknya bukti atas kota itu dan telah sampai ajal mereka. Dia tidak akan menangguhkan suatu umat pun dari ajalnya bila telah tiba saatnya, dan mereka tidak dapat pula dibinasakan terlebih dahulu dari waktu ajalnya. Hal ini mengandung peringatan bagi ahli Mekah dan sekaligus mengandung petunjuk agar mereka menanggalkan kemusyrikan, keingkaran, dan kekafirannya yang membuat mereka berhak untuk dibinasakan.
{وَقَالُوا
يَا أَيُّهَا الَّذِي نزلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ (6) لَوْ مَا
تَأْتِينَا بِالْمَلائِكَةِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (7) مَا نُنزلُ
الْمَلائِكَةَ إِلا بِالْحَقِّ وَمَا كَانُوا إِذًا مُنْظَرِينَ (8) إِنَّا نَحْنُ
نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9) }
Mereka berkata.”Hai orang-orang yang diturunkan
Al-Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Mengapa kamu
tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang
benar?” Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiadalah mereka ketika itu
diberi tangguh. Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya
Kami benar-benar memeliharanya.Allah Swt. menceritakan tentang kekafiran dan keingkaran mereka dalam ucapannya yang disitir oleh firman-Nya:
{يَا
أَيُّهَا الَّذِي نزلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ}
Hai orang yang diturunkan Al-Qur’an kepadanya. (Al-Hirj: 6) Maksudnya, orang yang mengakui Al-Qur'an diturunkan kepadanya.
{إِنَّكَ
لَمَجْنُونٌ}
sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. (Al-Hijr. 6)Yakni dalam seruanmu yang kamu tujukan kepada kami agar kami mengikutimu dan meninggalkan apa yang kami jumpai nenek moyang kami melakukannya.
{لَوْ
مَا} أَيْ: هَلَّا {تَأْتِينَا بِالْمَلائِكَةِ}
Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami. (Al-Hijr: 7)Yaitu para malaikat yang mempersaksikan kebenaran dari apa yang kamu sampaikan itu. Perihalnya sama dengan ucapan Fir'aun yang disitir oleh firman-Nya:
{فَلَوْلا
أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسَاوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلائِكَةُ
مُقْتَرِنِينَ}
Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang
bersama-sama dia untuk mengiringkannya? (Az-Zukhruf: 53)
{وَقَالَ
الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلا أُنزلَ عَلَيْنَا الْمَلائِكَةُ أَوْ
نَرَى رَبَّنَا لَقَدْ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا
يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلائِكَةَ لَا بُشْرَى يَوْمَئِذٍ لِلْمُجْرِمِينَ
وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَحْجُورًا}
Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuannya) dengan Kami,
"Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita
(tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang
diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan)
kezaliman. Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar
gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata, "Hijram Mahjura.”
(Al-Furqan: 21 -22)Dan dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
{مَا
نُنزلُ الْمَلائِكَةَ إِلا بِالْحَقِّ وَمَا كَانُوا إِذًا
مُنْظَرِينَ}
Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa
azab) dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh. (Al-Hijr: 8)Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar. (Al-Hijr: 8) untuk membawa risalah dan azab.
Kemudian Allah Swt. menetapkan bahwa Dialah yang menurunkan Al-qur'an, dan Dia pulalah yang memeliharanya dari perubahan dan penggantian. Di antara ulama tafsir ada yang merujukkan damir yang ada dalam firman-Nya, "Lahu Lahafizun," kepada Nabi Muhammad Saw., bukan kepada Al-Qur'an. Yakni sama dengan pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَاللَّهُ
يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ}
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
(Al-Maidah: 67)Tetapi makna yang pertama lebih utama karena bersesuaian dengan makna lahiriah konteks ayat.
{وَلَقَدْ
أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي شِيَعِ الأوَّلِينَ (10) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ
رَسُولٍ إِلا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (11) كَذَلِكَ نَسْلُكُهُ فِي قُلُوبِ
الْمُجْرِمِينَ (12) لَا يُؤْمِنُونَ بِهِ وَقَدْ خَلَتْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ (13)
}
sesungguhnya Kami telah mengutus
(beberapa rasul) sebelum kamu kepada
umat-umat yang terdahulu. Dan tidak datang seorang rasul pun, melainkan mereka
selalu mernperolok-olokkannya. Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan
memperolok-olokkan itu) ke dalam hati orang-orang yang berdosa
(orang-orang kafir), mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur'an)
dan sesungguhnya telah berlalu Sunnatullah terhadap orang-orang yang
dahulu.Allah Swt. menghibur hati Rasul-Nya di saat beliau menghadapi tantangan dari orang-orang yang mendustakannya dari kalangan orang-orang kafir Quraisy, bahwa Dia telah mengutus rasul-rasul-Nya di kalangan umat-umat terdahulu sebelumnya. Dan sesungguhnya tidak sekali-kali datang kepada suatu umat seorang rasul, melainkan mereka mendustakan dan mernperolok-olokkannya.
Kemudian Allah Swt. memberitahukan bahwa Dia telah memasukkan rasa ingkar ke dalam hati orang-orang yang berdosa, yaitu mereka yang ingkar dan menyombongkan dirinya, tidak mau mengikuti hidayah (petunjuk).
Anas dan Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) ke dalam hati orang-orang yang berdosa. (Al-Hijr: 12) Makna yang dimaksud ialah kemusyrikan.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَقَدْ
خَلَتْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ}
dan sesungguhnya telah berlalu Sunnatullah terhadap orang-orang dahulu.
(Al-Hijr: 13)Artinya, telah diketahui apa yang diperbuat oleh Allah terhadap orang-orang yang mendustakan rasul-rasul-Nya, yaitu Dia membinasakan dan menghancurkan mereka: juga bagaimana Allah menyelamatkan para nabi dan para pengikutnya di dunia dan di akhirat.
{وَلَوْ
فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ (14)
لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُونَ (15)
}
Dan jika seandainya Kami membukakan kepada
mereka salah satu dari (pintu-pintu)
langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata,
"Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang
yang kena sihir."Allah Swt. menceritakan perihal kuatnya kekafiran, keingkaran, dan kesombongan orang-orang kafir terhadap perkara yang hak. Bahwa seandainya dibukakan bagi mereka sebuah pintu ke langit, lalu mereka menaikinya, niscaya mereka tetap tidak akan mempercayainya, bahkan mereka akan mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:
{سُكِّرَتْ
أَبْصَارُنَا}
Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan. (Al-Hijr: 15)Mujahid dan Ibnu Kasir serta Ad-Dahhak mengatakan bahwa makna ayat tersebut ialah 'pandangan mata kamilah yang tertutup'.
Qatadah, dari Ibnu Abbas, menyebutkan bahwa pandangan mata kamilah yang dibutakan.
Menurut Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, pandangan mata kami dikaburkan dan sesungguhnya kami terkena sihir.
Al-Kalbi mengatakan, mata kamilah yang dibutakan.
Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: pandangan kamilah yang dikaburkan. (Al-Hijr: 15) As-sakran artinya orang yang tidak sadar akan akal sehatnya (yakni mabuk).
{وَلَقَدْ
جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ (16)
وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ (17) إِلا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ
فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُبِينٌ (18) وَالأرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا
رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ (19) وَجَعَلْنَا
لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ (20) }
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan
bintang-bintang (di langit) dan Kami
telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandangi(nya), dan Kami
menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk, kecuali setan yang mencuri-curi
(berita) yang dapat didengar (dari malaikat), lalu dia dikejar
oleh semburan api yang terang. Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan
padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.
Dan Kami telah menjadikan untuk kalian di bumi keperluan-keperluan hidup dan
(Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kalian sekali-kali bukan
pemberi rezeki kepadanya.Allah Swt. menyebutkan tentang langit yang diciptakan-Nya, yang sangat tinggi disertai dengan bintang-bintang yang menghiasinya, baik yang tetap maupun yang beredar. Hal tersebut dapat dijadikan tanda-tanda yang jelas menunjukkan kekuasaan-Nya bagi orang yang merenungkannya dan menggunakan akal pikirannya dalam menganalisis keajaiban-keajaiban alam yang sangat mengagumkan itu dan membuat terpesona orang yang memandangnya.
Karena itulah Mujahid dan Qatadah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-buruj dalam ayat ini ialah bintang-bintang.
Menurut kami (penulis), makna ayat ini sama dengan yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
{تَبَارَكَ
الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا
مُنِيرًا}
Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang.
(Al-Furqan: 61), hingga akhir ayat.Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa al-buruj artinya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi matahari dan bulan.
Atiyyah Al-Aufi mengatakan bahwa al-buruj dalam ayat ini artinya gedung-gedung yang di dalamnya ada penjaganya. Dan dijadikanlah bintang-bintang meteor sebagai penjaganya dari gangguan setan-setan yang jahat, agar setan-setan tidak dapat mencuri dengar percakapan para malaikat yang ada di langit. Maka barang siapa di antara setan-setan membangkang dan berani berbuat mencuri dengar, maka dia akan dilempar oleh bintang yang menyala terang itu hingga membinasakannya. Akan tetapi, adakalanya setan telah menyampaikan pembicaraan yang telah didengarnya itu kepada setan yang ada di bawahnya sebelum ia dikenai oleh bintang yang menyala. Lalu setan yang menerimanya itu menyampaikannya kepada setan lainnya yang ada di bawahnya, kemudian ia menyampaikannya kepada kekasihnya, seperti yang disebutkan dengan jelas dalam hadis sahih.
Sehubungan dengan tafsir ayat ini Imam Bukhari mengatakan:
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو، عَنْ عِكْرِمَةَ،
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يبلُغُ بِهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
قَالَ: "إِذَا قَضَى اللَّهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ، ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ
بِأَجْنِحَتِهَا خُضعانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى
صَفوان".
telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada
kami Sufyan. dari Amr, dari Ikrimah, dari Abu Hurairah yang menyampaikannya dari
Nabi Saw., bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Apabila Allah memutuskan urusan
di langit, malaikat mengepakkan sayapnya karena tunduk patuh kepada firman-Nya.
(yang bunyinya) seakan-akan seperti suara rantai (yang dijatuhkan)
di atas batu yang licin (berbunyi gemerincing).Ali dan lain-lainnya mengatakan bahwa seakan-akan suaranya seperti suara rantai yang jatuh di atas batu yang licin dan menembusnya karena wibawa dan pengaruh firman Allah kepada mereka. Manakala para malaikat terkejut dan takut, mereka berkata, "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?" Maka mereka berkata kepada malaikat yang bertanya, "Sesungguhnya apa yang difirmankan oleh-Nya adalah hak belaka. Dia Mahatinggi lagi Mahabesar."
Maka percakapan mereka didengar oleh setan yang mencuri dengar. Setan-setan yang mencuri dengar itu —menurut yang digambarkan dan diperagakan oleh sufyan dengan tangannya seraya membuka semua jari tangannya yang kanan dan menegakkannya serta menyusunnya yang satu di atas yang lainnya— satu sama lainnya saling mengusung. Adakalanya bintang yang membakar itu mengenai setan yang mencuri dengar percakapan para malaikat, sebelum setan menyampaikannya kepada teman yang ada di bawahnya. Adakalanya setan sempat menyampaikan hasil curi dengarnya itu kepada teman yang dibawahnya sebelum ia terkena oleh bintang yang membakar. Kemudian temannya itu meneruskannya sampai kepada setan yang ada di bumi.
Adakalanya Sufyan mengatakan, "Hingga sampai di bumi, lalu dilemparkan ke dalam mulut penyihir atau tukang tenung (tukang ramal); setan memasukkannya disertai dengan seratus kali dusta, maka tukang sihir itu percaya. Dan para tukang sihir dan tukang tenung itu mengatakan, 'Bukankah kita telah diberi tahu bahwa hari anu akan terjadi peristiwa anu dan anu, dan ternyata kami menjumpainya benar sesuai dengan berita yang dicuri dengar dari langit' "
Kemudian Allah Swt. menyebutkan penciptaannya terhadap bumi, dan bumi itu dipanjangkan, diluaskan serta digelarkan-Nya. Dia menjadikan padanya gunung-gunung yang menjulang tinggi, lembah-lembah, dataran-dataran rendah, dan padang-padang sahara. Dia juga menumbuhkan tanam-tanaman dan berbagai macam buah yang beraneka ragam.
Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: segala sesuatu menurut ukuran. (Al-Hijr: 19) Yakni menurut ukurannya yang telah dimaklumi.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Sa'id ibnu Jubair, Ikrimah, Abu Malik, Mujahid, Al-Hakam ibnu Uyaynah, Al-Hasan ibnu Muhammad, Abu Saleh, dan Qatadah.
Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa makna ayat ini ialah, "Segala sesuatu menurut ukurannya yang pantas."
Ibnu Zaid mengatakan, makna ayat ialah "segala sesuatu menurut kadar dan ukurannya yang sesuai". Ibnu Zaid mengatakan pula bahwa yang dimaksud dengan lafaz mauzun ialah timbangan yang biasa dipakai di pasar-pasar.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَجَعَلْنَا
لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ}
Dan Kami telah menjadikan untuk kalian di bumi keperluan-keperluan hidup.
(Al-Hijr. 20)Allah Swt. menyebutkan bahwa Dia telah menciptakan berbagai macam sarana dan penghidupan di muka bumi. Ma'ayisy adalah bentuk jamak dari ma'isyah.
Firman Allah Swt.:
{وَمَنْ
لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ}
dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kalian sekali-kali
bukanlah pemberi rezeki kepadanya. (Al-Hijr: 20)Menurut Mujahid, makhluk yang dimaksud ialah hewan-hewan liar dan hewan-hewan ternak. Sedangkan Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah budak-budak belian, hewan liar, dan hewan ternak.
Makna yang dimaksud ialah Allah telah menganugerahkan kepada mereka segala macam sarana dan mata pencaharian serta penghidupan untuk fasilitas mereka. Allah juga telah menundukkan buat mereka hewan-hewan untuk kendaraan mereka, serta hewan ternak yang mereka makan dagingnya, dan budak-budak lelaki dan wanita yang melayani mereka; sedangkan rezeki mereka dari Penciptanya, bukan dari orang-orang yang memiliki mereka, karena mereka hanya memanfaatkannya saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar