{قَالَ
يَا مُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاتِي وَبِكَلامِي فَخُذْ
مَا آتَيْتُكَ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (144) وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الألْوَاحِ
مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلا لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ
وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ (145)
}
Allah berfirman, "Hai Musa. sesungguhnya Aku
memilih kamu lebih dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara
langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan
kepada kalian, dan hendaklah kalian termasuk orang-orang yang bersyukur.” Dan
telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu
sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman),
"Berpeganglah kepadanya dengan teguh, dan suruhlah kaummu berpegang teguh
kepada (perintah-perintahnya) yang sebaik-baiknya, nanti Aku akan
memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasikAllah Swt. menceritakan bahwa Dia berbicara kepada Musa, Dia memilihnya di atas semua orang-orang yang semasanya untuk membawa risalah-Nya dan untuk berbicara langsung dengan-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah penghulu semua anak Adam dari yang pertama hingga yang terakhir. Karena itulah Allah Swt. menjadikannya sebagai penutup para nabi dan para rasul, dan syariatnya terus berlaku sampai hari kiamat terjadi. Para pengikutnya lebih banyak daripada para pengikut nabi-nabi dan rasul-rasul lainnya. Sesudah beliau Saw. dalam hal kemuliaan dan keutamaan menyusul Nabi Ibrahim a.s. kekasih Allah, kemudian Musa ibnu Imran yang pernah diajak berbicara langsung dengan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dalam ayat ini disebutkan:
{فَخُذْ
مَا آتَيْتُكَ}
sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu.
(Al-A'raf: 144)Yakni pembicaraan dan munajat secara langsung ini.
{وَكُنْ
مِنَ الشَّاكِرِينَ}
dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. (Al-A'raf:
144)Maksudnya, bersyukur atas karunia tersebut, dan janganlah kamu meminta apa yang tidak ada kekuatan bagimu terhadapnya.
Selanjutnya Allah Swt. menceritakan bahwa Dia telah menuliskan untuk Musa di dalam luh-luh (kitab Taurat) segala sesuatunya sebagai pelajaran dan keterangan bagi segala sesuatu. Menurut suatu pendapat, luh-luh tersebut dari pertama, dan bahwa Allah Swt. menuliskan di dalamnya semua pelajaran dan hukum-hukum yang terinci menerangkan tentang halal dan haram. Dan luh-luh tersebut di dalamnya tercakup isi kitab Taurat yang disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya.
{وَلَقَدْ
آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الأولَى
بَصَائِرَ لِلنَّاسِ}
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat)
sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita
bagi manusia. (Al-Qashash: 43)Menurut suatu pendapat, luh-luh itu diberikan kepada Musa sebelum dia menerima kitab Taurat.
Pada garis besarnya luh-luh tersebut merupakan pengganti bagi Musa dari permohonan yang dia mintakan untuk dapat melihat Allah, lalu Allah Swt melarangnya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{فَخُذْهَا
بِقُوَّةٍ}
Berpeganglah kepadanya dengan teguh. (Al-A'raf: 145) Yakni dengan tekad yang bulat untuk taat.
{وَأْمُرْ
قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا}
dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya)
yang sebaik-baiknya. (Al-A'raf: 145)Sufyan ibnu Uyaynah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'b, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Nabi Musa a.s. diperintahkan (oleh Allah) untuk memegang teguh perintah-perintah yang paling berat yang ia anjurkan kepada kaumnya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{سَأُرِيكُمْ
دَارَ الْفَاسِقِينَ}
nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.
(Al-A'raf: 145)Yaitu kamu akan melihat akibat orang-orang yang menentang perintahKu dan menyimpang dari jalan ketaatan kepada-Ku, bagaimanakah kehancuran dan kebinasaan serta kerusakan yang akan mereka alami.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa sesungguhnya dikatakan oleh firman Allah Swt.: nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik. (Al-A'raf: 145) Hal ini perumpamaannya sama dengan perkataan seseorang kepada lawan bicaranya, "Besok saya akan memperlihatkan kepadamu apa yang akan dialami oleh orang yang menentang perintahku," mengandung nada ancaman dan peringatan terhadap orang yang membangkang dan menentang perintahnya. Kemudian dinukil pula hal yang semisal dari Mujahid dan Al-Hasan Al-Basri.
Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud oleh firman-Nya: nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik (Al-A'raf: 145) Yakni penduduk negeri Syam, dan Aku akan memberikannya kepadamu.
Sedangkan menurut pendapat lainnya lagi, negeri yang dimaksud ialah negeri tempat tinggal kaum Fir'aun. Tetapi pendapat yang pertamalah yang lebih utama, karena hal ini terjadi setelah Musa dan kaumnya meninggalkan negeri Mesir, sedangkan khitab ini ditujukan kepada kaum Bani Israil sebelum mereka memasuki Padang Tih.
{سَأَصْرِفُ
عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ
يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا
يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا ذَلِكَ
بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ (146) وَالَّذِينَ
كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ هَلْ يُجْزَوْنَ
إِلا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (147) }
Aku akan memalingkan
orang-orang yang menyombongkan dirinya dimuka bumi tanpa
alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika
melihat tiap-tiap ayat-Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka
melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya; tetapi
jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu
adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari
padanya. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan
menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari
apa yang telah mereka kerjakan.Firman Allah Swt.:
{سَأَصْرِفُ
عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ
الْحَقِّ}
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka
bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. (Al-A'raf:
146)Artinya Aku akan mencegah hati orang-orang yang sombong, tidak mau taat kepada-Ku, lagi menyombongkan dirinya terhadap orang lain tanpa alasan yang dibenarkan untuk dapat memahami hujah-hujah dan dalil-dalil yang menunjukkan akan kebesaran-Ku, syariat-Ku, dan hukum-hukum-Ku. Dengan kata lain, sebagaimana mereka menyombongkan dirinya tanpa alasan yang dibenarkan, maka Allah balas menghinakan mereka dengan kebodohan. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan di dalam ayat-ayat lain melalui firman-Nya:
{وَنُقَلِّبُ
أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ
مَرَّةٍ}
Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan
penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya
(Al-Qur'an) pada permulaannya. (Al-An'am: 110)
{فَلَمَّا
زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ}
Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah
memalingkan hati mereka. (Ash-Shaff: 5)Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa orang yang pemalu dan orang yang menyombongkan dirinya tidak akan memperoleh ilmu (agama). Ulama lainnya ada pula yang mengatakan, "Barang siapa yang tidak sabar terhadap kesulitan menuntut ilmu, selama sesaat, niscaya ia akan tetap berada dalam kehinaan kebodohan selamanya."
Sufyan ibnu Uyaynah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaanKu. (Al-A'raf: 146) Makna yang dimaksud ialah 'Aku mencabut dari hati mereka pemahaman mengenai Al-Qur'an, dan Aku akan memalingkan mereka dari ayat-ayat-Ku'.
Ibnu Jarir mengatakan, hal ini menunjukkan bahwa Khitab ayat ini ditujukan kepada umat ini (umat Nabi Saw.)
Menurut hemat kami hal tersebut tidaklah pasti, mengingat Ibnu Uyaynah hanya bermaksud bahwa hal ini berlaku atas semua umat. Dalam hal ini tidak ada bedanya antara satu individu dengan individu lainnya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَإِنْ
يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا}
Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-(Ku), mereka tidak beriman kepadanya.
(Al-A'raf: 146)Sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh Allah dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
{إِنَّ
الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ
كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ}
Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu,
tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan,
hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Yunus: 96-97)Adapun firman Allah Swt.:
{وَإِنْ
يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا}
Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak
mau menempuhnya. (Al-A'raf: 146)Maksudnya, apabila mereka melihat jalan yang menuju kepada keselamatan, mereka tidak mau menempuhnya; dan apabila mereka melihat jalan kebinasaan dan kesesatan, maka mereka menjadikannya sebagai jalannya.
Dalam firman berikutnya Allah menyebutkan penyebab mereka terjerumus ke dalam keadaan itu, yaitu:
{ذَلِكَ
بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا}
Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami.
(Al-A'raf: 146)Artinya, hal tersebut terjadi karena hati mereka mendustakan ayat-ayat Allah.
{وَكَانُوا
عَنْهَا غَافِلِينَ}
Dan mereka selalu lalai darinya. (Al-A'raf: 146)Yakni mereka sama sekali tidak mengamalkan apa yang terkandung di dalam ayat-ayat Allah.
*******************
Firman Allah Swt.
{وَالَّذِينَ
كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ}
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan
menemui akhirat, sia-sialah perbuatannya. (Al-A'raf: 147)Maksudnya, barang siapa yang melakukan hal tersebut di antara mereka, kemudian perbuatannya itu berlangsung sampai ia meninggal dunia, maka semua amalannya sia-sia.
Firman Allah Swt.:
{هَلْ
يُجْزَوْنَ إِلا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}
Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.
(Al-A'raf: 147)Ayat di atas mengandung arti, sesungguhnya Kami membalas mereka hanyalah sesuai dengan amal perbuatan mereka yang telah mereka kerjakan, Jika amalnya baik, maka balasannya baik; dan jika amalnya buruk, maka balasannya buruk pula; sebagaimana engkau berbuat, maka engkau akan mendapat balasannya'.
{وَاتَّخَذَ
قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ
يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلا يَهْدِيهِمْ سَبِيلا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا
ظَالِمِينَ (148) وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ وَرَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ
ضَلُّوا قَالُوا لَئِنْ لَمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا لَنَكُونَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِينَ (149) }
Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke Gunung
Tur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas)
mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui
bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat
(pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai
sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. Dan setelah mereka sangat
menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun
berkata. ”Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak
mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi."Allah Swt. menceritakan perihal kesesatan orang-orang yang sesat dari kalangan kaum Bani Israil karena mereka menyembah patung anak lembu yang dibuat oleh Samiri dari perhiasan bangsa Qibti. Perhiasan emas itu asal mulanya mereka pinjam dari orang-orang Qibti di negeri Mesir, kemudian Samiri meleburnya dan menjadikannya patung anak lembu.
Kemudian Samiri memasukkan debu dari bekas teracak kuda Malaikat Jibril a.s. ke dalam leburan emas itu sehingga jadilah sebuah patung yang berbentuk dan bersuara. Al-khuwar ialah suara lembu. Hal ini terjadi setelah kepergian Musa untuk memenuhi janji Tuhannya. Maka Allah Swt. memberitahukan hal tersebut kepada Musa ketika Musa berada di Bukit Tur. Hal ini diungkapkan oleh Allah Swt., menceritakan perihal apa yang telah dilakukan oleh diri-Nya:
{قَالَ
فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْ بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ
السَّامِرِيُّ}
Allah berfirman, "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu
tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri."(Thaha: 85)Para ahli tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan anak lembu ini, apakah ia mempunyai darah dan daging serta dapat bersuara, ataukah ujudnya tetap seperti patung emas, hanya di dalam rongganya terdapat udara sehingga bersuara seperti suara sapi. Ada dua pendapat mengenainya, hanya Allah yang lebih mengetahui.
Menurut suatu pendapat, ketika anak lembu itu bersuara, maka mereka menari-nari di sekelilingnya dan teperdaya oleh buatan Samiri itu, lalu mereka mengatakan bahwa inilah tuhan kalian dan tuhan Musa, tetapi Musa melupakannya. Maka Allah Swt. berfirman:
{أَفَلا
يَرَوْنَ أَلا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلا وَلا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلا
نَفْعًا}
Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak
dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudaratan kepada
mereka dan tidak pula kemanfaatan. (Thaha: 89)Dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{أَلَمْ
يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلا يَهْدِيهِمْ سَبِيلا}
Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara
dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?
(Al-A'raf: 148)Allah Swt. mengingkari kesesatan mereka karena anak lembu itu dan kealpaan mereka kepada Pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu dan yang memilikinya, sebab mereka menyembah dan mempersekutukan-Nya dengan patung anak lembu yang bersuara itu, padahal anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka, tidak pula menunjukkan jalan kebaikan kepada mereka. Tetapi memang gelapnya kebodohan dan kesesatan telah menutupi pandangan hati mereka, seperti yang disebutkan di dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Abu Daud, dari Abu Darda yang telah menceritakan, bahwa Rasulullah Saw. pemah bersabda:
"حُبُّكَ
الشَّيْءَ يُعْمي ويُصِم"
Cintamu kepada sesuatu dapat membualmu buta dan pekak (tuli).
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَلَمَّا
سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ}
Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya. (Al-A'raf: 149)Setelah mereka dijatuhkan oleh tangan mereka sendiri, yakni menyesali perbuatannya sendiri.
{وَرَأَوْا
أَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوا قَالُوا لَئِنْ لَمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ
لَنَا}
dan mengetahui bahwa dirinya telah sesat, berkatalah mereka, "Sungguh jika
Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami.
(Al-A'raf: 149)Sebagian ulama tafsir ada yang membacanya tarhamna dengan memakai huruf ta, sedangkan lafaz rabbuna dibaca rabbana menjadi munada, dan yagfirlana dibaca tagfir lana.
{لَنَكُونَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِينَ}
pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi. (Al-A'raf:
149)Artinya, niscaya kami termasuk orang-orang yang binasa. Hal ini merupakan pengakuan dari mereka tentang dosa yang telah mereka kerjakan dan kesadaran mereka untuk kembali kepada Allah Swt.
{وَلَمَّا
رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي
مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الألْوَاحَ وَأَخَذَ
بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ
اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلا تُشْمِتْ بِيَ الأعْدَاءَ وَلا
تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (150) قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلأخِي
وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (151)
}
Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya
dengan marah dan sedih hati, berkatalah dia, "Alangkah buruknya perbuatan yang
kalian kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kalian hendak mendahului janji Tuhan
kalian?” Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala
saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata, "Hai anak
ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka
membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku,
dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim." Musa
berdoa, "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam
rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para
Penyayang.”Allah Swt. menceritakan bahwa ketika Musa a.s. kembali kepada kaumnya setelah bermunajat kepada Tuhannya, ia kembali dalam keadaan marah dan bersedih hati. Abu Darda mengatakan, al-asaf artinya sangat marah.
{قَالَ
بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي}
Musa berkata, "Alangkah buruknya perbuatan yang kalian kerjakan sesudah
kepergianku." (Al-A'raf: 150)Musa mengatakan, "Seburuk-buruk perbuatan adalah apa yang telah kalian lakukan, yaitu karena kalian menyembah patung anak lembu setelah aku pergi meninggalkan kalian."
Firman Allah Swt,:
{أَعَجِلْتُمْ
أَمْرَ رَبِّكُمْ}
Apakah kalian hendak mendahului janji Tuhan kalian? (Al-A'raf:
150)Musa mengatakan, "Kalian membuatku tergesa-gesa kembali kepada kalian lebih cepat daripada waktu yang sebenarnya yang telah ditetapkan oleh Allah Swt."
Firman Allah Swt.:
{وَأَلْقَى
الألْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ}
Dan Musa pun melemparkan lempengan-lempengan (Taurat) itu dan
memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke
arahnya. (Al-A'raf: 150)Menurut suatu pendapat, lempengan-lempengan tersebut dari batu Jamrud; sedangkan menurut pendapat yang lain dari batu yaqut. Ada yang mengatakan dari es, ada pula yang mengatakan dari daun sidr. Sehubungan dengan kisah pelemparan luh-luh ini, ada sebuah hadis yang mengatakan bahwasanya berita itu tidaklah seperti menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
Kemudian menurut makna lahiriahnya dapat dikatakan bahwa konteks kalimat menunjukkan, 'adakalanya Musa melemparkan luh-luh karena marah kepada kaumnya', seperti apa yang dikatakan oleh jumhur ulama Salaf dan Khalaf.
Sehubungan dengan hal ini Ibnu Jarir telah meriwayatkan suatu pendapat dari Qatadah yang isinya garib, bila dinilai tidak sah penyandarannya kepada hakayat (periwayatan) Qatadah.
Ibnu Atiyyah dan ulama lainnva yang bukan hanya seorang telah membantah pendapat ini, dan memang pendapat ini layak dibantah. Di dalamnya terkandung pengertian seakan-akan Qatadah menerimanya dari sebagian ahli kitab, padahal dikalangan ahli kitab banyak terdapat pendusta, pembuat kisah palsu, pembohong, suka membuat-buat, dan zindiq.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَأَخَذَ
بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ}
dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil
menariknya ke arahnya. (Al-A'raf: 150)Musa a.s. bersikap demikian karena merasa khawatir bila saudaranya itu berbuat kelalaian dalam melarang mereka, seperti yang diungkapkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{قَالَ
يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا أَلا تَتَّبِعَنِ
أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي. قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلا
بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ
تَرْقُبْ قَوْلِي}
Berkata Musa, "Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat
mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu
telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” Harun menjawab, "Hai putra
ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pulai) kepalaku; sesungguhnya
aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah
belah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku'." (Thaha:
92-94)Sedangkan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{ابْنَ
أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلا تُشْمِتْ
بِيَ الأعْدَاءَ وَلا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ}
Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan
hampir-hampir mereka membunuhku sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh
gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang
yang zalim. (Al-A'raf: 150)Maksudnya, janganlah engkau masukkan aku ke dalam golongan mereka, jangan pula engkau anggap aku salah seorang dari mereka.
Dan sesungguhnya Harun menyebutnya dengan panggilan 'anak ibuku' dengan maksud agar lebih menyentuh hati Musa, karena sesungguhnya Musa adalah saudara sekandung Harun.
Setelah terbukti bagi Musa bahwa saudaranya —Harun— tidak terlibat dengan mereka dan dirinya bersih dari perbuatan kaumnya, seperti yang diungkapkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَلَقَدْ
قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِنْ قَبْلُ يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ وَإِنَّ
رَبَّكُمُ الرَّحْمَنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي}
Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya, "Hai
kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu, dan
sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku
dan taatilah perintahku." (Thaha: 90)Maka saat itu Musa berkata:
{رَبِّ
اغْفِرْ لِي وَلأخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ
الرَّاحِمِينَ}
Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam
rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”
(Al-A'raf: 151)
قَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَاحِ،
حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانة، عَنْ أَبِي بِشْر، عَنْ سَعِيدِ
بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى، لَيْسَ الْمُعَايِنُ كَالْمُخْبَرِ؛
أَخْبَرَهُ رَبُّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، أَنَّ قَوْمَهُ فُتِنُوا بَعْدَهُ، فَلَمْ
يُلْقِ الْأَلْوَاحَ، فَلَمَّا رَآهُمْ وَعَايَنَهُمْ أَلْقَى
الْأَلْوَاحَ"
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu
Muhammad ibnus Sabbah, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan
kepada kami Abu Awanah. dari Abu Bisyr. dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas
yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw telah bersabda : Semoga Allah merahmati
Musa, orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri tidaklah sama dengan
orang yang diberi tahu. Tuhannya memberi tahu kepadanya bahwa kaumnya teperdaya
sesudah kepergiannya, dan ternyata ia tidak melemparkan luh-luh itu. Tetapi
setelah ia melihat mereka dan menyaksikan perbuatan mereka, maka barulah ia
melemparkan luh-luh itu.
{إِنَّ
الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ (152) وَالَّذِينَ
عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ
بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (153) }
Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak
lembu (sebagai sembahannya), kelak akan
menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di
dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat
kesombongan. Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertobat sesudah
itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah tobat yang disertai dengan iman
itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Murka Allah yang menimpa kaum Bani Israil karena mereka menyembah patung anak lembu itu ialah, Allah tidak menerima tobat mereka sebelum sebagian dari mereka membunuh'sebagian yang lain, seperti yang telah dijelaskan di dalam surat Al Baqarah:
{فَتُوبُوا
إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ
بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ
الرَّحِيمُ}
Maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kalian, dan bunuhlah diri
kalian. Hal itu adalah lebih baik bagi kalian pada sisi Tuhan yang menjadikan
kalian; maka Allah akan menerima tobat kalian. Sesungguhnya Dialah Yang Maha
Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 54)Adapun mengenai kehinaan yang menimpa mereka sesudah itu ialah kehinaan dan kenistaan mereka dalam kehidupan di dunia.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَكَذَلِكَ
نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ}
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat
kebohongan. (Al-A'raf: 152)Pembalasan ini pasti akan menimpa orang yang membuat-buat perkara bid'ah, karena sesungguhnya kehinaan bid'ah dan kenistaan melanggar petunjuk berhubungan langsung dengan hatinya dan ditanggung di atas kedua bahunya, seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, "Sesungguhnya kehinaan bid'ah berada di atas bahu para pelakunya, sekalipun begal-begal membawa mereka dan kuda-kuda ditunggangi oleh mereka."
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ayyub As-Sukhtiyani, dari Abu Qilabah Al-Jurmi, bahwa ia membaca ayat ini dengan bacaan berikut:
{وَكَذَلِكَ
نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ}
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat
kebohongan. (Al-A'raf: 152)Kemudian ia mengatakan, "Demi Allah, kehinaan itu akan terus menimpa setiap orang yang membuat-buat kedustaan sampai hari kiamat"
Sufyan ibnu Uyaynah mengatakan bahwa semua pelaku bid'ah adalah orang yang hina.
Kemudian Allah Swt. mengingatkan hamba-hamba-Nya dan memberi petunjuk kepada mereka, bahwa Dia menerima tobat hamba-hamba-Nya dari semua dosa apa pun, sekalipun dari kekufuran atau kemusyrikan atau kemunafikan atau perpecahan. Dalam ayat selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya:
{وَالَّذِينَ
عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ
رَبَّكَ}
Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertobat sesudah itu dan
beriman; sesungguhnya Tuhanmu (Al-A'raf: 153)hai Muhammad, hai Rasul tobat, hai Nabi pembawa rahmat.
{مِنْ
بَعْدِهَا}
sesudah itu (Al-A'raf: 153) yakni sesudah tobat yang disertai dengan iman itu.
{لَغَفُورٌ
رَحِيمٌ}
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang- (Al-A'raf: 153)Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Aban, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Azrah, dari Al-Hasan, Al-Urni, dari Alqamah, dari Abdullah ibnu Mas'ud, bahwa ia pernah ditanya mengenai masalah tersebut, yakni masalah seorang lelaki yang berbuat zina dengan seorang wanita, lalu lelaki itu mengawininya. Maka Abdullah ibnu Mas'ud membacakan firman-Nya: Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertobat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah tobat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-A'raf: 153)
Abdullah ibnu Mas'ud membaca ayat ini sepuluh kali tanpa ber-amar ma 'ruf dan ber-nahi munkar terhadap mereka.
{وَلَمَّا
سَكَتَ عَنْ مُوسَى الْغَضَبُ أَخَذَ الألْوَاحَ وَفِي نُسْخَتِهَا هُدًى
وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ (154) }
Sesudah amarah Musa menjadi reda. lalu
diambilnya (kembali) luh-luh
(Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk
orang-orang yang takut kepada Tuhannya.Mengenai firman Allah Swt.:
{وَلَمَّا
سَكَتَ}
Sesudah terdiam (Al-A'raf: 154) artinya reda dan tenang.
{عَنْ
مُوسَى الْغَضَبُ}
kemarahan Musa. (Al-A'raf: 154)yakni kemarahannya terhadap kaumnya telah reda dan menjadi tenang kembali.
{أَخَذَ
الألْوَاحَ}
lalu Musa mengambil (kembali) luh-luh itu. (Al-A'raf: 154)Maksudnya, dipungutnya kembali luh-luh yang tadi ia lemparkan pada saat ia sedang marah sekali karena mereka menyembah patung anak lembu. Kemarahannya itu ditimbulkan oleh rasa cemburunya karena Allah dan kebenciannya terhadap perbuatan tersebut karena Allah.
{وَفِي
نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ}
dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang
takut kepada Tuhannya. (Al-A'raf: 154)Kebanyakan ulama tafsir mengatakan, "Sesungguhnya ketika Musa melempar luh-luh itu, maka luh-luh itu pecah berantakan, kemudian Musa mengumpulkannya kembali." Karena itulah menurut sebagian ulama Salaf, di dalamnya Musa menjumpai tertulis petunjuk dan rahmat, sedangkan perincian isi luh-luh itu telah lenyap. Mereka menduga bahwa pecahannya masih tetap ada tersimpan di dalam perbendaharaan raja-raja dari kalangan Bani Israil, lalu berpindah tangan sampai kepada negara Islam. Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran kisah ini.
Adapun menurut dalil yang jelas menyatakan bahwa luh-luh itu pecah ketika dilemparkan oleh Musa, luh-luh itu terbuat dari permata surga. Allah Swt. menceritakan bahwa ketika Musa mengambilnya kembali sesudah melemparkannya, di dalamnya ia menjumpai: petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya. (Al-A'raf: 154)
Ar-rahbah atau takut mengandung makna tunduk patuh, karena itulah maka ia di-muta'addi-kan (dihubungkan) dengan memakai huruf lam.
Qatadah telah mengajakan sehubungan dengan makna firman-Nya: lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu. (Al-A'raf: 154) Musa berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku lihat dalam tulisan luh-luh itu tertera nama suatu umat yang merupakan sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk umat manusia: mereka memerintahkan (manusia) berbuat kebajikan dan melarang (manusia) berbuat mungkar, maka jadikanlah mereka itu sebagai umatku. Allah Swt. menjawab, "Itu adalah umat Ahmad (Nabi Saw.)." Musa berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku lihat dalam luh-luh itu tertera perihal suatu umat; mereka adalah orang-orang yang terakhir, tetapi mereka adalah orang-orang yang terdahuIu.""Yakni paling akhir penciptaannya, tetapi paling dahulu masuk surga. Nabi Musa berkata, "Ya Tuhanku, jadikanlah mereka sebagai umatku." Allah Swt. berfirman, "Mereka adalah umat Ahmad (yakni Nabi Muhammad Saw.)." Musa berkata, "Wahai Tuhanku, dalam tulisan luh-luh itu aku menjumpai suatu umat yang kitab-kitab mereka adalah dada mereka, mereka membacanya secara hafalan. Padahal orang-orang sebelum mereka membaca kitabnya dengan melihatnya, hingga apabila kitab mereka diangkat, maka mereka tidak hafal sesuatu pun darinya dan tidak mengingatnya lagi. Dan sesungguhnya Allah telah memberikan kepada umat itu suatu hafalan (kekuatan daya hafal) yang belum pernah diberikan oleh Allah kepada suatu umat pun." Musa melanjutkan perkataannya, "Ya Tuhanku, jadikanlah mereka sebagai umatku." Allah Swt. menjawab, "Mereka adalah umat Ahmad." Musa berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melihat dalam luh-luh itu tertuliskan tentang suatu umat yang beriman kepada kitab-kitab terdahulu dan kitab yang terakhir, dan mereka memerangi berbagai macam kesesatan, hingga mereka memerangi si buta sebelah yang pendusta (Dajjal), maka jadikanlah mereka sebagai umatku." Allah Swt. berfirman, "Mereka adalah umat Ahmad." Musa berkata, "Ya Tuhanku, aku menjumpai di dalam luh-luh itu tertuliskan suatu umat yang sedekah mereka dimakan oleh mereka sendiri, dimasukkan ke dalam perut mereka, tetapi mereka beroleh pahala dari sedekahnya. Sedangkan di kalangan umat-umat sebelum mereka, apabila ada suatu sedekah, Lalu sedekah itu diterima, maka Allah mengirimkan kepadanya api, kemudian api itu melahapnya. Jika sedekah itu ditolak, maka dimakan oleh hewan-hewan buas dan burung-burung pemangsa. Dan sesungguhnya Allah mengambil sedekah (zakat) dari kalangan hartawan mereka untuk kaum fakir miskin mereka." Musa melanjutkan perkataannya, "Ya Tuhanku, jadikanlah mereka sebagai umatku." Allah Swt. menjawab, "Mereka adalah umat Ahmad." Musa berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku temui di dalam luh-luh itu tertuliskan suatu umat yang apabila seseorang dari mereka berniat akan melakukan suatu kebaikan, lalu ia tidak mengerjakannya, maka dicatatkan baginya pahala satu kebaikan. Jika dia mengerjakannya, maka dicatatkan baginya pahala sepuluh kebaikan yang semisal dengan kebaikannya sampai tujuh ratus kali lipat. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka sebagai umatku. Allah Swt. menjawab, "Mereka adalah umat Ahmad." Musa berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku lihat di dalam luh-luh itu tertuliskan perihal suatu umat, mereka adalah orang-orang memberi syafaat dan diberi izin untuk memberikan syafaat. Maka jadikanlah mereka sebagai umatku." Allah Swt. berfirman, "Mereka adalah umat Ahmad." Qatadah mengatakan, diceritakan kepada kami bahwa setelah itu Nabi Musa a.s. mengesampingkan luh-luh itu dan berdoa, "Ya Allah, jadikanlah diriku termasuk umat Ahmad (yakni Nabi Muhammad Saw.)."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar