{وَلَقَدْ
أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ
يَذَّكَّرُونَ (130) فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ
تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلا إِنَّمَا
طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (131)
}
Dan sesungguhnya Kami telah menghukum
(Fir'aun dan) kaumnya (mendatangkan)
musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka
mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka
berkata, "Ini adalah karena (usaha) kami." Dan jika mereka ditimpa
kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang
besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari
Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuiAdapun firman Allah Swt.:
{وَلَقَدْ
أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ}
Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya.
(Al-A'raf: 130)Maksudnya, Kami telah menguji dan mencoba serta menimpakan musibah kepada mereka.
{بِالسِّنِينَ}
dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang.
(Al-A'raf:130)Yakni tahun-tahun yang kering, paceklik yang berkepanjangan, dan kelaparan karena minimnya tetumbuhan.
{وَنَقْصٍ
مِنَ الثَّمَرَاتِ}
dan kekurangan buah-buahan. (Al-A'raf: 130)Mujahid mengatakan bahwa keparahan ini masih di bawah keparahan yang pertama. Abi Ishaq mengatakan dari Raja ibnu Haiwah bahwa masa-masa itu pohon kurma hanya membuahkan sebiji buahnya.
{لَعَلَّهُمْ
يَذَّكَّرُونَ * فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ}
supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka
kemakmuran. (Al-A'raf: 130-131)Yaitu berupa kesuburan dan rezeki yang banyak.
{قَالُوا
لَنَا هَذِهِ}
mereka berkata, "Ini adalah karena (usaha) kami." (Al-A'raf:
131) Artinya, keadaan ini dihasilkan karena usaha dan jerih payah kami.
{وَإِنْ
تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ}
Dan jika mereka ditimpa kesusahan. (Al-A'raf: 131) Yakni kekeringan dan paceklik.
{يَطَّيَّرُوا
بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ}
mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang
bersamanya. (Al-A'raf: 131)Maksudnya, hal tersebut terjadi karena ulah Musa dan para pengikutnya serta apa yang dibawa oleh mereka.
{أَلا
إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ}
Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah.
(Al-A'raf: 131)Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah (Al-A'raf: 131) Yakni musibah yang menimpa mereka itu berdasarkan ketetapan dari Allah. tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al-A'raf: 131)
Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah. (Al-A1rif: 131) Yakni datangnya dari Allah Swt.
{وَقَالُوا
مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ
بِمُؤْمِنِينَ (132) فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ
وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا
وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ (133) وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا
يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا
الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ (134)
فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ
يَنْكُثُونَ (135) }
Mereka berkata, "Bagaimanapun kamu mendatangkan
keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami
sekali-kali tidak akan beriman kepadamu." Maka Kami kirimkan kepada mereka
topan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka
tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Dan ketika mereka
ditimpa azab (yang telah diterangkan itu),
merekapun berkata, "Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan
(perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada di sisimu. Sesungguhnya
jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman
kepadamu, dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." Maka setelah Kami
hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya,
tiba-tiba mereka mengingkarinyaDemikianlah kisah dari Allah Swt. mengenai keingkaran Fir'aun dan kaumnya, kekerasan dan kesombongan mereka terhadap perkara yang hak, serta tenggelamnya mereka dalam kebatilan. Hal ini dapat dipahami dari ucapan mereka yang dikisahkan oleh firman-Nya:
{مَهْمَا
تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ
بِمُؤْمِنِينَ}
Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami
dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman
kepadamu.”(Al-A'raf: 132)Mereka mengatakan bahwa mukjizat apa pun yang kamu datangkan kepada kami, dan dalil serta hujah apa pun yang kamu tegakkan terhadap kami niscaya kami tolak mentah-mentah. Kami tidak akan menerimanya dan tidak akan beriman kepadamu, tidak pula kepada ajaran yang kamu sampaikan.
Allah Swt. berfirman:
{فَأَرْسَلْنَا
عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ}
Maka Kami kirimkan kepada mereka topan. (Al-A'raf: 133)Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna topan ini.
Dari Ibnu Abbas, dalam salah satu riwayat darinya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan topan ini adalah hujan besar yang menenggelamkan dan merusak semua tanaman dan buah-buahan. Hal yang sama dikatakan oleh Ad-Dahhak ibnu Muzahim.
Dalam riwayat lainnya lagi Ibnu Abbas menyebutkan bahwa makna yang dimaksud ialah banyaknya kematian. Hal yang sama dikatakan oleh Ata.
Mujahid mengatakan, yang dimaksud dengan topan ialah air bah dan penyakit ta'un (kolera).
قَالَ
ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الرِّفَاعِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ
يَمان، حَدَّثَنَا المِنْهَال بْنُ خَلِيفَةَ، عَنِ الْحَجَّاجِ، عَنِ الْحَكَمِ
بْنِ مِيناء، عَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "الطُّوفَانُ
الْمَوْتُ".
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Hisyam Ar-Rifa'i,
telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Yaman, telah menceritakan kepada kami
Al-Minhal ibnu Khalifah, dari Al-Hajjaj, dari Al-Hakam ibnu Mina, dari Siti
Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Topan
artinya kematian.Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih melalui hadis Yahya ibnu Yaman dengan lafaz yang sama, tetapi hadis ini garib.
Dalam riwayat lainnya Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan topan ialah azab dari Allah yang meliputi mereka. Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman Allah Swt. yang mengatakan: lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. (Al-Qalam: 19)
Adapun mengenai al-jarad atau belalang, sudah dikenal, yaitu sejenis serangga yang dapat dimakan, karena berdasarkan apa yang telah disebutkan di dalam hadis Sahihain dari Abu Ya'fur yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Abdullah ibnu Abu Aufa tentang belalang. Maka Abdullah ibnu Abu Aufa menceritakan:
غَزَوْنَا
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ
الْجَرَادَ
Kami pernah ikut berperang bersama Rasulullah Saw. sebanyak tujuh kali
peperangan, makanan kami adalah belalang.Imam Syafii dan Imam Ahmad ibnu Hambal serta Imam Ibnu Majah telah meriwayatkan melalui hadis Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, dari Ibnu Umar, dari Nabi Saw. yang telah bersabda:
"أُحِلَّتْ
لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ: الْحُوتُ وَالْجَرَادُ، وَالْكَبِدُ
وَالطِّحَالُ"
Dihalalkan bagi kita dua jenis bangkai dan dua jenis darah, yaitu ikan,
belalang, hati, dan limpa.Abul Qasim Al-Bagawi telah meriwayatkannya dari Daud ibnu Rasyid, dari Suwaid ibnu Abdul Aziz, dari Abu Tamam Al-Aili, dari Zaid ibnu Aslam, dari Ibnu Umar secara marfu dengan lafaz yang semisal.
وَرَوَى
أَبُو دَاوُدَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْفَرَجِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الزِّبْرِقان
الْأَهْوَازِيِّ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، عَنْ
سَلْمَانَ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ
الْجَرَادِ فَقَالَ: "أَكْثَرُ جُنُودِ اللَّهِ، لَا آكُلُهُ، وَلَا
أُحَرِّمُهُ"
Abu Daud telah meriwayatkan dari Muhammad ibnul Faraj, dari Muhammad ibnu
Zabarqan Al-Ahwazi, dari Sulaiman At-Taimi, dari Abu Usman, dari Salman yang
mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya mengenai belalang. Maka beliau
Saw. bersabda: Balatentara Allah yang paling banyak jumlahnya. Aku tidak
memakannya, tidak pula mengharamkannya.Sesungguhnya Rasulullah Saw. tidak mau memakannya hanyalah karena tidak suka, sebagaimana beliau yang mulia tidak suka makan biawak, tetapi mengizinkannya untuk dimakan.
Al-Hafiz Ibnu Asakir telah meriwayatkan di dalam Bab "Belalang" yang ia himpunkan dalam satu juz, melalui hadis Abu Sa'id Al-Hasan ibnu Ali Al-Adawi, bahwa telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Khalid, dari Ibnu Juraij dari Ata, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. tidak mau memakan belalang, ginjal, tidak pula dab (semacam biawak) tanpa mengharamkannya. Adapun belalang, karena ia berasal dari azab dan pembalasan Allah; sedangkan kedua ginjal, karena letaknya yang berdekatan dengan kandung kemih. Mengenai dab (biawak), beliau Saw. bersabda:
"أَتَخَوَّفُ
أَنْ يَكُونَ مَسْخًا"
Aku merasa khawatir bila ia berasal dari kutukan.Kemudian Ibnu Asakir mengatakan bahwa hadis ini garib, dan ia tidak menulisnya melainkan hanya dari jalur ini.
Disebutkan bahwa Amirul Mukminin Umaribnul Khattab r.a. sangat menyukai belalang.
Telah diriwayatkan oleh Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar, bahwa Khalifah Umar pernah ditanya mengenai belalang. Maka ia menjawab, "Aduhai, sekiranya pada kita terdapat setumpuk atau dua tumpuk darinya untuk kita makan."
Ibnu Majah telah meriwayatkan bahwa Ahmad ibnu Mani’ telah menceritakan kepada kami, dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Abu Sa'd Sa'id ibnul Mirzaban Al-Baqqal yang pernah mendengar Anas ibnu Malik mengatakan.”Dahulu istri-istri Nabi Saw. saling berkirim hadiah belalang di antara sesama mereka yang dikirimkan dengan memakai piring besar."
وَقَالَ
أَبُو الْقَاسِمِ الْبَغَوِيُّ: حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْد، حَدَّثَنَا
بَقِيَّة بْنُ الوليد، عن نُمَيْر بن يزيد
القَيْني
حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ صُدَيّ بْنِ عَجْلان، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ مَرْيَمَ بِنْتَ
عِمْرَانَ، عَلَيْهَا السَّلَامُ، سَأَلَتْ رَبَّهَا [عَزَّ وَجَلَّ] أَنْ
يُطْعِمَهَا لَحْمًا لَا دَمَ لَهُ، فَأَطْعَمَهَا الْجَرَادَ، فَقَالَتْ:
اللَّهُمَّ أَعِشْهُ بِغَيْرِ رَضَاعٍ، وَتَابِعْ بَيْنَه بِغَيْرِ شِيَاعٍ"
وَقَالَ نُمَير: "الشَيَاع": الصَّوْتُ.
Abul Qasim Al-Bagawi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu
Rasyid, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ibnul Walid, dari Yahya ibnu
Yazid Al-Qa'nabi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Sada ibnu Ajian, dari
Abu Umamah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Sesungguhnya Maryam binti Imran a.s. pernah memohon kepada Tuhannya agar Dia
memberinya makan daging yang tidak ada darahnya. Maka Allah memberinya makan
belalang, dan Maryam berdoa, "Ya Allah, berilah ia kehidupan tanpa menyusu
(yakni lsa), dan lahirkaanlah ia tanpa bersuara.”Menurut Numair, syiya’ artinya suara tangisan.
وَقَالَ
أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَاوُدَ: حَدَّثَنَا أَبُو تَقِيٍّ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ
الْمَلِكِ اليَزَني حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ
بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ ضَمْضَم بْنِ زُرْعَة، عَنْ شُرَيْح بْنِ عُبَيْدٍ، عَنْ أَبِي
زُهَيْر النُّمَيْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: "لَا تُقَاتِلُوا الْجَرَادَ، فَإِنَّهُ جُنْدُ اللَّهِ
الْأَعْظَمُ".
Abu Bakar ibnu Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Baqi
Hisyam ibnu Abdul Malik Al-Muzani, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ibnul
Walid, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ayyasy, dari pamdam ibnu
Zur'ah, dari Syuraih ibnu Ubaid, dari Abu Zuhair An-Numatri yang mengatakan
bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Janganlah kalian membunuh belalang,
karena sesungguhnya belalang itu adalah balatentara Allah yang sangat
besar.Hadis ini berpredikat garib sekali.
Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman Allah Swt. Maka Kami kirimkan kepada mereka topan dan belalang. (Al-A'raf: 133) Bahwa belalang-belalang itu memakan habis semua paku pintu-pintu mereka tanpa memakan kayunya.
Ibnu Asakir telah meriwayatkan melalui hadis Ali ibnu Zaid Al-Kharaiti, dari Muhammad ibnu Kasir, ia pernah mendengar Al-Auza'i mengatakan bahwa ia pernah keluar menuju Padang Sahara, tiba-tiba ia melihat seorang lelaki di dalam kumpulan belalang di langit. Ternyata lelaki itu menaiki seekor belalang dari kumpulan belalang yang ada bersamanya, sedangkan lelaki itu menyandang senjatanya. Setiap kali lelaki itu mengisyaratkan tangannya (seperti ini), maka pasukan belalangnya mengarah ke tujuan yang diisyaratkan oleh tangannya. Sedangkan lelaki itu tiada hentinya mengatakan, "Dunia ini batil, batillah semua yang ada padanya. Dunia ini fana, fanalah semua yang ada padanya. Dunia ini batil, dan batillah semua yang ada padanya."'
Al-Hafiz Abul Faraj Al-Mu'afa Ibnu Zakaria Al-Hariri mengatakan, mengatakan dan menceritakan kepada kami Al Hasan Ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahim, telah menceritakan kepada kami Waki, dari Al-A'masy, telah menceritakan kepada kami Amir yang mengatakan bahwa Syuraih Al-Qadi pernah ditanya mengenai belalang. Maka ia menjawab, "Semoga Allah memburukkan belalang, padanya terdapat tujuh ciri khas makhluk yang angkuh, kepalanya mirip kepala kuda, lehernya mirip leher banteng, dadanya mirip dada harimau (singa), sayapnya mirip sayap burung elang, kakinya mirip kaki unta, jantan, ekornya mirip ekor ular, dan perutnya mirip perut kalajengking."
Dalam tafsir firman Allah Swt. yang lalu, yaitu:
{أُحِلَّ
لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ
وَلِلسَّيَّارَةِ}
Dihalalkan bagi kalian binatang buruan laut dan makanan (yang berasal)
dari laut sebagai makanan yang lezat bagi kalian dan bagi orang-orang yang
dalam perjalanan. (Al-Maidah: 96)telah disebutkan hadis Hammad ibnu Salamah, dari Abul Mihzam, dari Abu Hurairah yang di dalamnya disebutkan, "Kami berangkat bersama Rasulullah Saw. untuk menunaikan ibadah haji atau umrah. Maka kami bersua dengan sekumpulan belalang. Lalu kami memukulinya dengan tongkat-tongkat yang ada pada kami, sedangkan kami dalam keadaan ihram. Kemudian kami bertanya kepada Rasulullah Saw. (tentang perbuatan kami itu), maka beliau Saw. menjawab:
"لَا
بَأْسَ بِصَيْدِ الْبَحْرِ"
'Tidak mengapa dengan binatang buruan laut'."
وَرَوَى
ابْنُ مَاجَهْ، عَنْ هَارُونَ الْحَمَّالِ عَنْ هَاشِمِ بْنِ الْقَاسِمِ، عَنْ
زِيَادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُلاثة، عَنْ مُوسَى بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ
إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَنَسٍ وَجَابِرٍ [رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا] عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ أَنَّهُ كَانَ
إِذَا دَعَا عَلَى الْجَرَادِ قَالَ: "اللَّهُمَّ أَهْلِكْ كِبَارَهُ، وَاقْتُلْ
صِغَارَهُ، وَأَفْسِدْ بَيْضَهُ، وَاقْطَعْ دَابِرَهُ، وَخُذْ بِأَفْوَاهِهِ عَنْ
مَعَايِشِنَا وَأَرْزَاقِنَا، إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ". فَقَالَ لَهُ جَابِرٌ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَتَدْعُو عَلَى جُنْدٍ مِنْ أَجْنَادِ اللَّهِ بِقَطْعِ
دَابِرِهِ؟ فَقَالَ: "إِنَّمَا هُوَ نَثْرَةُ حُوتٍ فِي الْبَحْرِ"
Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Harun Al-Hamani, dari Hisyam ibnul Qasim,
dari Ziyad ibnu Abdullah ibnu Ilasah dan dari Musa ibnu Muhammad ibnu Ibrahim
At-Taimi, dari ayahnya, dari Anas dan Jabir, dari Rasulullah Saw. Disebutkan
bahwa apabila Rasulullah Saw. berdoa dalam menghadapi wabah belalang, beliau
mengucapkan: Ya Allah, binasakanlah yang besar-besarnya, matikanlah yang
kecil-kecilnya, rusakkanlah telur-telurnya, hancurkanlah keturunannya serta
hindarkanlah mulutnya dari tempat penghidupan kami dan dari rezeki kami.
Sesungguhnya Engkau Maha Memperkenankan doa. Maka Jabir bertanya kepadanya,
"Wahai Rasulullah, apakah engkau mendoakan untuk kebinasaan suatu pasukan dari
balatentara Allah agar mereka dihancurkan?" Rasulullah Saw. bersabda:
Sesungguhnya belalang itu bersumber dari apa yang disebarkan oleh ikan di
laut.Hisyam mengatakan, telah menceritakan kepadanya Ziyad. Ziyad mendapat berita dari seseorang yang pernah melihat ikan menyebarkan belalang, bahwa belalang itu disebarkan oleh ikan di laut. Ziyad melanjutkan perkataannya, "Sesungguhnya ikan itu apabila bertelur di tepi pantai, lalu airnya mengalami surut sehingga telur-telur itu terkena sinar mentari, maka semuanya menetaskan belalang yang langsung terbang."
Dalam tafsir firman-Nya yang mengatakan:
{إِلا
أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ}
melainkan umat-umat (juga) seperti kalian. (Al-An'am: 38)Telah disebutkan hadis Umar r .a., bahwa Allah Swt. telah menciptakan seribu umat; enam ratus di antaranya di laut, sedangkan yang empat ratusnya hidup di daratan. Dan sesungguhnya umat yang mula-mula dibinasakan (punah) adalah belalang.
قَالَ
أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَاوُدَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ الْمُبَارَكِ،
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ قَيْس، حَدَّثَنَا سَالِمُ بْنُ سَالِمٍ،
حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ الْجَوْزَجَانِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ مَالِكٍ، عَنِ
الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: "لَا وَباء مَعَ السَّيْفِ، وَلَا نَجَاءَ مَعَ
الْجَرَادِ".
Abu Bakar ibnu Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid
ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Qais, telah
menceritakan kepada kami Salim ibnu Salim, telah menceritakan kepada kami Abul
Mugirah Al-Jaurjani Muhammad ibnu Malik, dari Al-Barra ibnu Azib yang mengatakan
bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda : Tidak ada wabah (penyakit)
bersama pedang, dan tidak ada janggut bersama belalang.Hadis ini garib.
Adapun mengenai kutu, maka disebutkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan kutu ialah semacam ulat yang keluar dari biji gandum. Dari Ibnu Abbas pula disebutkan bahwa kutu adalah belalang kecil yang tidak bersayap. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, dan Qatadah. Disebutkan pula dari Al-Hasan serta Sa'id ibnu Jubair bahwa kutu ialah hewan kecil lagi hitam.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, al-qummal artinya nyamuk kecil. Ibnu Jarir mengatakan bahwa al-qummal adalah bentuk jamak, sedangkan bentuk tunggalnya ialah qumlah, artinya sejenis serangga yang menyerupai kutu yang suka menyedot darah unta. Menurut berita yang sampai kepadaku, serangga inilah yang dimaksudkan oleh Al-A'sya dalam syairnya yang mengatakan:
قَوْمٌ
تُعَالِجُ قُمَّلا أَبْنَاؤُهُمْ وَسَلَاسِلًا أجُدا وَبَابًا مُؤْصَدَا
Mereka adalah suatu kaum yang
anak-anaknya sedang menanggulangi wabah kutu, dan rantai-rantai besi serta
pintu yang terkunci.
Sebagian ahli nahwu dari kalangan ulama Basrah menduga bahwa qummal
menurut orang Arab artinya sama dengan hamnan yang bentuk tunggalnya
ialah hamnanah, artinya sejenis serangga yang bentuknya seperti kera,
lebih besar sedikit daripada kutu.Imam Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Ya'qub Al-Qummi, dari Ja'far ibnu Abul Mugirah, dari Sa'id ibnu Jubair yang menceritakan bahwa ketika Musa a.s. datang kepada Fir'aun, Musa a.s. berkata kepadanya, "Lepaskanlah kaum Bani Israil untuk pergi bersamaku." Lalu Allah mengirimkan topan, yakni hujan yang sangat lebat kepada Fir'aun dan kaumnya. Dan ketika sesuatu dari hujan itu menimpa mereka, mereka merasa khawatir bila hujan itu merupakan azab. Lalu mereka berkata kepada Musa a.s.”Doakanlah buat kami kepada Tuhanmu agar Dia menghentikan hujan ini dari kami, maka kami akan beriman kepadamu dan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu." Lalu Nabi Musa a.s. berdoa kepada Tuhannya (hingga hujan itu berhenti), tetapi mereka tidak mau beriman dan tidak melepaskan kaum Bani Israil bersamanya. Maka pada tahun itu juga Allah Swt. menumbuhkan tetumbuhan, rerumputan, dan buah-buahan yang banyak, sebelum itu belum pernah terjadi demikian. Maka mereka berkata, "Inilah yang selalu kami dambakan." Lalu Allah mengirimkan belalang kepada mereka yang merusak semua tetumbuhan mereka. Ketika mereka melihat kerusakan yang diakibatkan oleh belalang itu, maka mereka mengetahui bahwa tiada sesuatu pun dari tanaman mereka yang selamat. Mereka berkata, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu buat kami agar Dia mengusir belalang ini dari kami, maka kami akan beriman kepadamu dan akan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu." Nabi Musa a.s. berdoa kepada Tuhannya, maka Allah mengusir belalang itu dari mereka, tetapi mereka tidak mau beriman dan tidak melepaskan kaum Bani Israil pergi bersama Musa. Dan mereka berlindung masuk ke dalam rumah-rumah mereka, lalu mereka berkata, "Kami telah berlindung." Maka Allah mengirimkan kutu, yakni ulat yang keluar dari bebijian, kepada mereka. Tersebutlah bahwa seseorang lelaki bila keluar dengan membawa sepuluh karung biji gandum ke tempat penggilingannya, maka begitu ia sampai ke tempat penggilingannya tiada yang tersisa kecuali hanya tiga genggam gandum saja (semuanya berubah menjadi ulat). Mereka berkata, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan kutu ini dari kami, maka kami akan beriman kepadamu dan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu." Nabi Musa a.s. berdoa kepada Tuhannya, maka lenyaplah kutu itu dari mereka. Tetapi mereka menolak, tidak mau melepaskan kaum Bani Israil pergi bersama Musa. Ketika Musa a.s. sedang duduk di hadapan Raja Fir'aun, tiba-tiba terdengarlah suara katak. Lalu Musa berkata kepada Fir'aun, "Apakah yang kamu dan kaummu jumpai dari katak ini?" Fir'aun berkata, "Barangkali ini pun merupakan tipu muslihat yang lain." Maka tidak lama kemudian —yakni pada petang harinya— tiada seorang pun yang duduk melainkan seluruh negeri penuh dengan katak sampai mencapai dagunya. Dan bila seseorang hendak berkata, begitu ia membuka mulutnya, maka pasti ada katak yang masuk ke dalam mulutnya. Kemudian mereka berkata, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan katak-katak ini dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan nfelepaskan kaum Bani Israil bersamamu." (Setelah katak lenyap) mereka tetap tidak juga mau beriman. Lalu Allah mengirimkan darah kepada mereka, sehingga tidak sekali-kali mereka mengambil air minum —baik dari sungai ataupun dari sumur-sumur— melainkan mereka menjumpai air itu dalam wadahnya berubah menjadi merah, yakni berubah menjadi darah segar. Lalu mereka mengadu kepada Fir'aun, "Sesungguhnya kami telah dicoba dengan darah, dan kami tidak lagi mempunyai air minum." Fir'aun berkata, "Sesungguhnya dia (Musa) telah menyihir kalian." Mereka berkata, "Mana mungkin dia menyihir kami, tidak sekali-kali kami menjumpai air dalam wadah-wadah kami melainkan kami menjumpainya berubah menjadi darah yang segar."' Mereka datang kepada Musa dan berkata kepadanya, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan darah ini dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan kami akan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu." Musa berdoa kepada Tuhannya, maka Allah melenyapkan darah itu dari mereka, tetapi mereka tetap tidak mau beriman, tidak mau pula melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamanya.
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, As-Saddi, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf, bahwa masing-masing telah menceritakan hal tersebut.
Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah mengatakan bahwa musuh Allah —yaitu Fir'aun— kembali kepada kekufurannya ketika para ahli sihirnya telah beriman dalam keadaan kalah dan terhina. Ia tetap tidak mau beriman, melainkan hanya menetapi kekufurannya serta tenggelam ke dalam kejahatannya. Maka Allah mengirimkan berbagai tanda (mukjizat-mukjizat) kepada Fir'aun. Maka pada awal mulanya Fir'aun dan kaumnya mengalami musim paceklik yang panjang, kemudian menyusul topan, lalu belalang, kutu, katak, dan darah serta berbagai mukjizat lainnya yang terinci. Allah mengirimkan topan dalam bentuk air bah yang memenuhi semua permukaan tanah, sehingga mereka tidak dapat lagi bercocok tanam, juga tidak dapat berbuat sesuatu pun; akhirnya mereka kelaparan. Ketika keadaan mereka sangat kritis, maka disebutkan oleh firman-Nya: Mereka berkata, "Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kendbianyang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." (Al-A'raf: 134) Maka Musa a.s. berdoa kepada Tuhannya, dan Allah melenyapkan azab itu dari mereka, tetapi mereka tidak memenuhi sesuatu pun dari apa yang telah mereka janjikan. Karena itu, Allah mengirimkan belalang kepada mereka. Menurut berita yang disampaikan kepadaku, belalang itu memakan semua pepohonan, hingga memakan pula semua paku pintu-pintu dan kusen-kusen rumah mereka, padahal paku-paku tersebut terbuat dari besi. Pada akhirnya rumah dan tempat tinggal mereka ambruk semua. Maka mereka mengatakan pula kepada Musa seperti apa yang disebutkan di dalam ayat di atas. Nabi Musa berdoa kepada Tuhannya agar melenyapkan azab itu dari mereka. Tetapi setelah azab dilenyapkan, mereka tidak memenuhi sesuatu pun dari apa yang telah mereka janjikan. Lalu Allah mengirimkan kutu kepada mereka. Menurut kisah yang sampai kepadaku, Nabi Musa a.s. diperintahkan oleh Allah untuk berjalan menuju sebuah bukit pasir, lalu memukulnya dengan tongkatnya. Kemudian Nabi Musa a.s. berjalan menuju bukit pasir Uhail yang sangat besar, lalu ia memukulnya dengan tongkatnya, maka berhamburanlah kutu-kutu itu menuju mereka, hingga memenuhi rumah-rumah dan makanan mereka. Mereka tidak dapat tidur dan tidak dapat menetap dengan tenang. Ketika keadaan mareka sangat kritis, maka mereka mengatakan kepada Musa seperti apa yang mereka katakan semula. Musa a.s. berdoa kepada Tuhannya, memohon agar bencana itu dilenyapkan. Maka Allah melenyapkan azab itu dari mereka, tetapi mereka tidak memenuhi sesuatu pun dari apa yang telah mereka janjikan. Kemudian Allah mengirimkan katak kepada mereka, akhirnya katak memenuhi rumah, makanan, dan semua wadah milik mereka. Sehingga tidak sekali-kali seseorang membuka tempat pakaian dan makanan melainkan ia menjumpai katak; katak benar-benar telah memenuhinya Ketika hal tersebut membuat mereka benar-benar dalam keadaan kritis, lalu mereka mengatakan kepada Musa a.s. seperti perkataan mereka sebelumnya. Maka Musa a.s. memohon kepada Tuhannya, dan Allah melenyapkan azab dari mereka, tetapi ternyata mereka tidak memenuhi sesuatu pun dari apa yang telah mereka janjikan itu. Maka Allah mengirimkan darah kepada mereka, sehingga semua air keluarga Fir'aun berubah menjadi darah. Mereka tidak dapat minum baik dari sungai ataupun dari sumur, dan tidak sekali-kali mereka menciduk air dari tempatnya melainkan air itu berubah menjadi darah segar.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami An-Nadr, telah menceritakan kepada kami Israil, telah menceritakan kepada kami Jabir ibnu Yazid, dari Ikrimah, dari Ubaidillah ibnu Amr yang mengatakan, "Janganlah kalian membunuh katak, karena sesungguhnya ketika katak dikirimkan kepada kaum Fir'aun, maka ada seekor katak darinya yang menjatuhkan diri ke dalam pemanggangan roti yang ada apinya. Katak itu melakukan demikian demi memperoleh rida Allah. Maka Allah menggantikan panasnya api itu dengan kesejukan yang lebih daripada kesejukan air yang pernah ia rasakan, dan Allah menjadikan suaranya sebagai tasbih."
Telah diriwayatkan pula melalui jalur Ikrimah, dari Ibnu Abbas, hal yang semisal. Zaid ibnu Aslam mengatakan, yang dimaksud dengan darah ialah seperti darah mimisan. Demikian menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.
{فَانْتَقَمْنَا
مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ (136) وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا
يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الأرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا
وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا
وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ
(137) }
Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami
tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan
mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. Dan Kami pusakakan
kepada kaum yang telah ditindas itu negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian
baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan
Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk
Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah
dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.Allah Swt. menceritakan bahwa ketika mereka bersikap sombong dan ingkar, padahal Allah telah menimpakan berbagai ayat (mukjizat) yang bertubi-tubi kepada mereka satu demi satu, dan mereka masih tetap sombong serta ingkar, maka Allah menghukum mereka dengan menenggelamkan mereka (Fir'aun dan balatentaranya) ke dalam laut. Laut itu adalah laut yang dibelah oleh Nabi Musa a.s., lalu ia menyeberanginya bersama kaum Bani Israil yang mengikutinya. Kemudian Fir'aun dan balatentaranya memakai jalan yang sama untuk mengejar mereka. Setelah mereka semuanya masuk ke dalam laut itu, maka laut kembali menutup, menenggelamkan mereka sampai habis. Demikian itu terjadi karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan kelalaian mereka terhadapnya.
Kemudian Allah menceritakan bahwa setelah itu Dia mempusaka-kan belahan timur dan belahan barat bumi kepada orang-orang yang dahulunya hidup tertindas dari kalangan kaum Bani Israil. Hal ini diungkapkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:
{وَنُرِيدُ
أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً
وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ * وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَنُرِيَ
فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا
يَحْذَرُونَ}
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi
(Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka
orang yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di
muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya
apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka (kaum Bani Israil) itu.
(Al-Qashash: 5-6)
{كَمْ
تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ * وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيم وَنَعْمَةٍ كَانُوا
فِيهَا فَاكِهِينَ * كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا آخَرِينَ}
Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan
kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah, dan kesenangan-kesenangan yang
mereka menikmatinya, demikianlah. Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang
lain. (Ad-Dukhan: 25-28)Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri dan Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya, yang telah Kami beri berkah padanya. (Al-A'raf: 137) Menurutnya, makna yang dimaksud adalah negeri Syam.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَتَمَّتْ
كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا
صَبَرُوا}
Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji)
untukBani Israil disebabkan kesabaran mereka. (Al-A'raf: 137)Menurut Mujahid dan Ibnu Jarir, yang dimaksud dengan perkataan 'Tuhanmu yang baik' ialah apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam surat lain, yaitu:
{وَنُرِيدُ
أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً
وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ * وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَنُرِيَ
فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا
يَحْذَرُونَ}
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi
(Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka
orang yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di
muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya
apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka (kaum Bani Israil) itu.
(Al-Qashash: 5-6)Adapun firman Allah Swt:
{وَدَمَّرْنَا
مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ}
Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya.
(Al-A'raf: 137)artinya. Kami rusak semua yang telah dibuat oleh Fir'aun dan kaumnya berupa bangunan-bangunan dan lahan-lahan pertanian.
{وَمَا
كَانُوا يَعْرِشُونَ}
dan apa yang telah dibangun mereka. (Al-A'raf: 137)Menurut Mujahid dan Ibnu Abbas, makna ya'risyun ialah bangunan-bangunan mereka, yakni apa yang telah mereka bangun.
{وَجَاوَزْنَا
بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى
أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ
قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ (138) إِنَّ هَؤُلاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ
وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (139) }
Dan kami seberangkan Bani Israil ke seberang
lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah
berhala mereka, Bani Israil berkata, "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan
(berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)."
Musa menjawab, "Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang tidak mengetahui
(sifat-sifat Tuhan)." Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan
kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka
kerjakan.Allah Swt. menceritakan apa yang diucapkan oleh orang-orang yang bodoh dari kalangan kaum Bani Israil kepada Musa a.s. setelah mereka menyeberangi lautan itu, dan mereka telah menyaksikan beberapa ayat kebesaran Allah dan kebesaran kekuasaan-Nya dengan mata kepala mereka sendiri.
{فَأَتَوْا}
maka setelah mereka sampai. (Al-A'raf: 138) yakni setelah mereka menyeberang, maka mereka bersua.
{عَلَى
قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ}
dengan suatu kaum yang sedang menyembah berhala mereka. (Al-A'rif:
138)Sebagian kalangan ulama tafsir ada yang mengatakan bahwa kaum tersebut berasal dari orang-orang Kan'an. Menurut pendapat lain, mereka adalah orang-orang Lakham.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa kaum tersebut menyembah berhala yang berbentuk sapi. Karena itulah maka hal tersebut memberikan pengaruh kesyubhatan bagi kaum Bani Israil dalam penyembahan mereka terhadap anak sapi sesudah peristiwa tersebut.
Kemudian mereka berkata, seperti yang dikisahkan firman-Nya:
{يَا
مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ
تَجْهَلُونَ}
Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah berhala sebagaimana mereka
mempunyai beberapa berhala. Musa menjawab, "Sesungguhnya kalian ini
adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)." (Al-A'raf: 138)Maksudnya, kalian adalah kaum yang tidak mengetahui keagungan dan kebesaran Allah serta hal-hal yang wajib dibersihkan dari-Nya berupa sekutu dan persamaan.
{إِنَّ
هَؤُلاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ}
Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya.
(Al-A'raf: 139)yakni mereka akan dibinasakan oleh kepercayaannya sendiri.
{وَبَاطِلٌ
مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}
dan akan batallah apa yang selalu mereka kerjakan. (Al-A'raf: 139)
وَرَوَى
الْإِمَامُ أَبُو جَعْفَرِ بْنُ جَرِيرٍ [رَحِمَهُ اللَّهُ] تَفْسِيرَ هَذِهِ
الْآيَةِ مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ وعَقِيل، وَمَعْمَرٍ كُلِّهِمْ،
عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سِنَانِ بْنِ أَبِي سِنَانٍ، عَنْ أَبِي وَاقِدٍ
اللَّيْثِيِّ: أَنَّهُمْ خَرَجُوا مِنْ مَكَّةَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى حُنَيْنٍ، قَالَ: وَكَانَ لِلْكُفَّارِ سِدْرَةٌ
يَعْكُفُونَ عِنْدَهَا، وَيُعَلِّقُونَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ، يُقَالُ لَهَا:
"ذَاتُ أَنْوَاطٍ"، قَالَ: فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ خَضْرَاءَ عَظِيمَةٍ، قَالَ:
فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ
أَنْوَاطٍ. فَقَالَ: "قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، كَمَا قَالَ قَوْمُ
مُوسَى لِمُوسَى: {اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ
قَوْمٌ تَجْهَلُونَ. إِنَّ هَؤُلاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَا
كَانُوا يَعْمَلُونَ}
Imam Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini
melalui hadis Muhammad ibnu Ishaq, Uqail, dan Ma'mar yang ketiga-tiganya dari
Az-Zuhri, dari Sinan ibnu Abu Sinan, dari Abu Waqid Al-Laisi, bahwa mereka
(sahabat) berangkat keluar dari Mekah bersama-sama Rasulullah Saw. menuju ke
Medan Hunain. Disebutkan bahwa dahulu orang-orang kafir mempunyai sebuah pohon
sidrah tempat mereka melakukan semedi dan menggantungkan senjata-senjata mereka,
pohon tersebut mereka namai Zatu Anwat. Kemudian kami melewati sebuah
pohon sidrah yang hijau lagi besar. Maka kami katakan "Wahai Rasulullah
jadikanlah untuk kami Zatu Anwat sebagaimana dahulu mereka mempunyai
Zatu Anwat" Maka Rasulullah Saw. bersabda: Demi Tuhan
yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, kalian ini telah
mengatakan perkataan seperti yang diucapkan oleh kaum Musa kepada Musa, yaitu:
"Buatlah untuk kami sebuah berhala sebagaimana mereka mempunyai beberapa
berhala. Musa menjawab, 'Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang tidak
mengetahui (sifat-sifat Tuhan)*," Sesungguhnya mereka itu akan
dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka
kerjakan.
وَقَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، حَدَّثَنَا مَعْمَر، عن
الزُّهْرِيِّ، عَنْ سِنَانِ بْنِ أَبِي سِنَانٍ الدِّيلي، عَنْ أَبِي وَاقِدٍ
اللَّيْثِيِّ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قبل حُنَيْنٍ، فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ
اجْعَلْ لَنَا هَذِهِ "ذَاتَ أَنْوَاطٍ"، كَمَا لِلْكَفَّارِ ذَاتُ أَنْوَاطٍ،
وَكَانَ الْكَفَّارُ يَنُوطُونَ سِلَاحَهُمْ بِسِدْرَةٍ، وَيَعْكُفُونَ حَوْلَهَا.
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اللَّهُ أَكْبَرُ، هَذَا
كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى: {اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ
آلِهَةٌ [قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ] } إِنَّكُمْ تَرْكَبُونَ سَنَنَ مَنْ
قَبِلَكُمْ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah
menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Sinan ibnu Abu Sinan
Ad-Daili, dari Abu Waqid Al-Laisi.yang mengatakan, "Kami keluar bersama
Rasulullah Saw. menuju ke arah Hunain. Lalu kami melewati sebuah pohon sidrah,
maka saya berkata, *Hai Nabi Allah, jadikanlah untuk kami pohon ini sebagai
Zatu Anwat seperti yang dipunyat oleh orang-orang kafir.' Di masa silam
orang-orang kafir selalu menggantungkan senjata mereka di pohon sidrah, lalu
mereka bersemedi di sekitarnya." Maka Nabi Saw. bersabda: Allah Mahahesar,
ini sama dengan apa yang pernah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa,
(yaitu): "Jadikanlah untuk kami sebuah berhala sebagaimana mereka
mempunyai beberapa berhala”. Sesungguhnya kalian melakukan
perbuatan seperti yang pernah dilakukan oleh umat-umat terdahulu sebelum
kalian.Kedua hadis diketengahkan oleh Ibnu Jarir. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Kasir ibnu Abdullah ibnu Amr ibnu Auf Al-Muzanni, dari ayahnya, dari kakeknya secara marfu'.
{قَالَ
أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
(140) وَإِذْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ
يُقَتِّلُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلاءٌ
مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (141) }
Musa menjawab.”Patutkah aku mencari tuhan untuk
kalian yang selain dari Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas
segala umat.” Dan (ingatlah hai Bani
Israil), ketika Kami menyelamatkan kalian dari (Fir'aun) dan kaumnya,
yang mengazab kalian dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh
anak-anak lelaki kalian dan membiarkan hidup wanita-wanita kalian. Dan pada yang
demikian itu cobaan yang besar dari Tuhan kalian.Nabi Musa a.s. mengingatkan mereka (kaum Bani Israil) akan nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, yang antara lain diselamatkan-Nya mereka dari penindasan Fir'aun dan kezalimannya yang membuat mereka hidup terhina. Kemudian mengingatkan mereka pula dengan kesudahan yang mereka peroleh, yaitu kejayaan dan perasaan puas mereka melihat musuh mereka terhina, binasa, dihancurkan, dan ditenggelamkan. Tafsir ayat ini telah diterangkan di dalam surat Al-Baqarah.
{وَوَاعَدْنَا
مُوسَى ثَلاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ
أَرْبَعِينَ لَيْلَةً وَقَالَ مُوسَى لأخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي
وَأَصْلِحْ وَلا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ (142) }
Dan telah Kami janjikan kepada Musa
(memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan
jumlah malam itu dengan sepuluh (malam
lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh
malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya, yaitu Harun, "Gantikanlah aku dalam
(memimpin) kaumku, perbaikilah, dan jangan kamu mengikuti jalan
orang-orang yang membuat kerusakan."Allah Swt. menceritakan perihal anugerah-Nya yang telah diberikan kepada kaum Bani Israil, yaitu berupa hidayah yang mereka peroleh, Musa a.s, diajak bicara langsung oleh-Nya dan diberi-Nya kitab Taurat yang di dalamnya terkandung hukum-hukum buat mereka dan perincian syariat mereka. Untuk itu, Allah menceritakan bahwa Dia telah menjanjikan hal itu kepada Musa selang tiga puluh hari kemudian.
Ulama tafsir mengatakan bahwa selama itu Nabi Musa a.s. melakukan puasa secara lengkap. Setelah waktu yang telah dijanjikan itu sempurna, maka Musa bersiwak terlebih dahulu dengan akar kayu. Tetapi Allah Swt. memerintahkan kepadanya agar menggenapkannya dengan sepuluh hari lagi hingga genap menjadi empat puluh hari.
Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan sepuluh hari tambahannya itu, yaitu bulan apa jatuhnya.
Menurut kebanyakan ulama tafsir, yang tiga puluh hari adalah bulan Zul Qa’dah, sedangkan yang sepuluh hari tambahannya jatuh pada bulan Zul Hijjah. Demikianlah menurut Mujahid, Masruq, dan Ibnu Juraij.
Hal yang serupa telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas. Berdasarkan pendapat ini, berarti miqat telah disempurnakan pada Hari Raya Kurban. Pada hari itu pula terjadilah pembicaraan Allah kepada Musa a.s. secara langsung. Dan pada hari itu pula Allah Swt. menyempurnakan agama Islam bagi Nabi Muhammad Saw,, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ
الإسْلامَ دِينًا}
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian. (Al-Maidah: 3)
Setelah masa yang telah dijanjikan tiba dan Musa bersiap-siap hendak berangkat menuju Bukit Tursina, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
{يَا
بَنِي إِسْرَائِيلَ قَدْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ وَوَاعَدْنَاكُمْ
جَانِبَ الطُّورِ الأيْمَنَ}
Hai Bani Israil, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kamu sekalian dari
musuh kalian, dan Kami telah mengadakan perjanjian dengan kamu sekalian
(untuk munajat) di sebelah kanan gunung itu. (Tana: 80)Maka saat itu Musa mengangkat saudaranya, yaitu Harun untuk menggantikan dirinya memimpin kaum Bani Israil. Musa mewasiatkan kepada saudaranya agar berbuat baik terhadap kaumnya dan tidak menimbulkan kerusakan. Hal ini semata-mata hanyalah sebagai peringatan belaka, karena sesungguhnya Harun a.s. adalah seorang nabi yang dimuliakan oleh Allah, sama dengan kedudukan nabi-nabi lainnya.
{وَلَمَّا
جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ
إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ
مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا
وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ
وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ (143) }
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan
dan Tuhan berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, "Ya Tuhanku,
tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau." Tuhan
berfirman, "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke
bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala), niscaya
kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri pada gunung itu,
kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan.
Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Mahasuci Engkau, aku bertobat
kepada Engkau, dan aku orang yangpertama-tama beriman."Allah Swt. menceritakan perihal Musa a.s., bahwa ketika masa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadanya telah tiba, dan pembicaraan langsung kepada Allah sedang berlangsung, maka Musa memohon kepada Allah untuk dapat melihat-Nya. Musa berkata seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
{رَبِّ
أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي}
Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat
melihat Engkau.” Tuhan berfirman.”Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku"
(Al-A'raf: 143)Makna huruf lan dalam ayat ini menyulitkan analisis kebanyakan ulama tafsir, mengingat pada asalnya huruf lan diletakkan untuk menunjukkan makna ta-bid (selamanya). Karena itulah orang-orang Mu'tazilah berpendapat bahwa melihat Zat Allah merupakan suatu hal yang mustahil di dunia ini dan di akhirat nanti. Tetapi pendapat ini sangat lemah, mengingat banyak hadis mutawatir dari Rasulullah Saw. yang menyatakan bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Allah di akhirat nanti, pembahasannya akan kami ketengahkan dalam tafsir firman Allah Swt.:
{وُجُوهٌ
يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ. وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ
بَاسِرَةٌ}
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada
Tuhannyalah mereka melihat. (Al-Qiyamah: 22-23)Dan firman Allah SWT yang menceritakan perihal orang-orang kafir:
{كَلا
إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ}
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup
dari (melihat) Tuhan mereka. (Al-Muthaffifin: 15)Menurut suatu pendapat, huruf lan dalam ayat ini menunjukkan makna pe-nafi-an terhadap pengertian ta-bid di dunia, karena menggabungkan antara pengertian ayat ini dengan dalil qat'i yang membenarkan adanya penglihatan kelak di hari akhirat.
Menurut pendapat lain, makna kalimat ayat ini sama dengan makna kalimat yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{لَا
تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ
الْخَبِيرُ}
Dan Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat
melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.
(Al-An'am: 103)Tafsir ayat ini telah dikemukakan dalam surat Al-An' am.
Menurut yang tertera di dalam kitab-kitab terdahulu, Allah Swt. berfirman kepada Musa a.s., "Hai Musa, sesungguhnya tidak ada makhluk hidup pun yang melihat-Ku melainkan pasti mati, dan tiada suatu benda mati pun melainkan ia pasti hancur luluh." Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh Firman-Nya:
{فَلَمَّا
تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى
صَعِقًا}
Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung
itu hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan. (Al-A'raf: 143)Sehubungan dengan tafsir ayat ini Abu Ja'far ibnu Jarir At-Tabari di dalam kitabnya mengatakan bahwa:
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ سُهَيْل الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا قُرَّة بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا
الْأَعْمَشُ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وسلم قال: "لما تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ، أَشَارَ بِإِصْبَعِهِ فَجَعَلَهُ
دَكًّا" وَأَرَانَا أَبُو إِسْمَاعِيلَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ
telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sahl Al-Wasiti, telah menceritakan
kepada kami Qurah ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari
seorang lelaki, dari Anas, dari Nabi Saw., "Ketika Tuhannya menampakkan
diriNya pada gunung itu dan menunjukkan isyarat-Nya ke gunung itu, maka dengan
serta merta gunung, itu menjadi hancur karenaNya." Abu Ismail (perawi)
menceritakan hadis ini seraya memperlihatkan kepada kami isyarat dengan jari
telunjuknya. Di dalam sanad hadis ini terdapat seorang lelaki yang tidak disebutkan namanya."
Kemudian Abu Ja'far ibnu Jarir At-Tabari mengatakan:
حَدَّثَنِي
الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا حجَّاج بْنُ مِنْهال، حَدَّثَنَا حَمَّاد، عَنْ لَيْث،
عَنْ أَنَسٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ هَذِهِ
الْآيَةَ: {فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا} قَالَ: "هَكَذَا
بِإِصْبَعِهِ -وَوَضَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِصْبَعَهُ
الْإِبْهَامَ عَلَى الْمَفْصِلِ الْأَعْلَى مِنَ الْخِنْصَرِ-فَسَاخَ
الْجَبَلُ"
telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Hajjaj
ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Lais, dari Anas, bahwa
Nabi Saw. membaca ayat berikut: Tatkala Tuhannya tampak bagi gunitng itu,
kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh. (Al-A'raf: 143) Lalu Nabi
Saw. mengisyaratkan dengan salah satu jarinya, beliau meletakkan jari jempolnya
pada ujung jari kelingkingnya dan bersabda, "Maka hancur luluhlah gunung
itu." Demikianlah sanad yang disebutkan di dalam riwayat ini, yaitu Hammad ibnu Salamah, dari Lais, dari Anas, Tetapi menurut riwayat yang masyhur adalah Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas.
Seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir:
حَدَّثَنِي
الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا هُدْبَة بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ،
عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: قَالَ {فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا} قَالَ:
وَضَعَ الْإِبْهَامَ قَرِيبًا مِنْ طَرْفِ خِنْصَرِهِ، قَالَ: فَسَاخَ الْجَبَلُ
-قَالَ حُمَيْدٌ لِثَابِتٍ: تَقُولُ هَذَا؟ فَرَفَعَ ثَابِتٌ يَدَهُ فَضَرَبَ
صَدَرَ حُمَيْدٍ، وَقَالَ: يَقُولُهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، وَيَقُولُهُ أَنَسٌ وَأَنَا أَكْتُمُهُ؟
telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Hudbah
ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit,
dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. membaca firman Allah Swt.:
Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu
hancur luluh. (Al-A'raf: 143) Lalu beliau Saw. meletakkan jari jempolnya
pada ujung jari kelingkingnya seraya bersabda, "Maka seketika itu juga
gunung itu hancur luluh." Humaid berkata kepada Sabit, "Apakah beliau Saw.
mengisyaratkan seperti itu?" Maka Sabit menarik tangannya dan memukulkannya ke
dada Humaid seraya berkata, "Hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah Saw,
diisyaratkan pula oleh Anas, lalu apakah saya menyembunyikannya?"Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya, bahwa:
حَدَّثَنَا
أَبُو الْمُثَنَّى، مُعَاذُ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ
بْنُ
سَلَمَةَ،
حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ: {فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ
لِلْجَبَلِ [جَعَلَهُ دَكًّا] } قال: قال هكذا -يعني أنه خرج طَرَفَ الْخِنْصَرِ
-قَالَ أَحْمَدُ: أَرَانَا مُعَاذٌ، فَقَالَ لَهُ حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ: مَا تُرِيدُ
إِلَى هَذَا يَا أَبَا مُحَمَّدٍ؟ قَالَ: فَضَرَبَ صَدْرَهُ ضَرْبَةً شَدِيدَةً
وَقَالَ: مَنْ أَنْتَ يَا حُمَيْدُ؟! وَمَا أَنْتَ يَا حُمَيْدُ؟! يُحَدِّثُنِي
بِهِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
فَتَقُولُ أَنْتَ: مَا تُرِيدُ إِلَيْهِ؟!
telah menceritakan kepada kami Abul Musanna Mu’az ibnu Mu’az Al-Anbari, telah
menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami
Sabit Al-Bannani, dari Anas ibnu Malik, dari Nabi Saw. sehubungan dengan makna
firmanNya: Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu. (Al-A'raf: 143) Maka
Nabi Saw. mengisyaratkan demikian, yakni beliau Saw. mengeluarkan jari
kelingkingnya. Ahmad mengatakan bahwa Mu'az memperagakannya kepada kami
demikian. Humaid At Tawil berkata kepadanya, "Apakah yang engkau maksudkan
dengan isyarat itu, hai Abu Muhammad?" Maka Mu'az memukul dadanya dengan pukulan
yang cukup kuat, lalu berkata, "Siapakah engkau ini, hai Humaid; dan mengapa
engkau ini, hai Humaid? Yang menceritakan demikian kepadaku ialah Anas ibnu
Malik, dari Nabi Saw. Lalu apakah yang kamu maksudkan?"Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dalam tafsir ayat ini, dari Abdul Wahhab ibnul Hakam Al-Warraq, dari Mu'az ibnu Mu'az dengan sanad yang sama. Juga dari Abdullah ibnu Abdur Rahim Ad-Darimi, dari Sulaiman ibnu Harb, dari Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih garib, kami tidak mengenalnya melainkan melalui hadis Hammad.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui berbagai jalur dari Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama. Lalu Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.
Abu Muhammad Al-Hasan ibnu Muhammad ibnu Ali Al-Khalal telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ali ibnu Suwaid, dari Abul Qasim Al-Bagawi, dari Hudbah ibnu Khalid, dari Hammad ibnu Salamah, lalu ia mengetengahkannya. Dan ia mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih, tidak ada cacatnya.
Daud ibnul Muhabbar telah meriwayatkannya dari Syu'bah, dari Sabit, dari Anas secara marfu'. Tetapi riwayat ini tidak dianggap, mengingat Daud Ibnul Muhabbar seorang pendusta.
Abul Qasim At-Tabrani dan Abu Bakar ibnu Murdawaih telah meriwayatkannya melalui dua jalur, dari Sa'id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Anas secara marfu dengan lafaz yang semisal. Ibnu Murdawaih menyandarkannya melalui jalur Ibnul Bailamani, dari ayahnya, dari Ibnu Umar secara marfu', hal ini pun tidak sahih. Imam Turmuzi meriwayatkannya, dan Imam Hakim menilainya sahih, tetapi dengan syarat Imam Muslim.
As-Saddi telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah Swt.: Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu. (Al-A'raf: 143) Bahwa tiada yang ditampakkan oleh Allah melainkan hanya sebesar jari kelingking. kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh. (Al-A'raf: 143) Dakkan artinya 'menjadi abu'. dan Musa pun jatuh pingsan. (Al-A'raf: 143) Yakni jatuh tak sadarkan dirinya. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Musa pun jatuh pingsan. (Al-A'raf: 143) Maksudnya, jatuh dalam keadaan mati.
Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa bukit itu jebol dan jatuh menggelinding ke laut. Sedangkan Nabi Musa ikut bersama gunung itu.
Sunaid telah meriwayatkan dari Hajjaj ibnu Muhammad Al-A'war, dari Abu Bakar Al-Huzali sehubungan dengan makna firman-Nya: Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh, (Al-A'raf: 143) Disebutkan bahwa gunung itu amblas ke dalam bumi dan tidak akan muncul lagi sampai hari kiamat. Di dalam sebagian kisah disebutkan bahwa gunung itu amblas ke dalam tanah dan terns amblas ke dalamnya sampai hari kiamat. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Murdawaih.
قَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ شَبَّة، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
يَحْيَى أَبُو غَسَّانَ الْكِنَانِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ
عِمْرَانَ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ الْجَلْدِ بْنِ أيوب، عَنْ
مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّة، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لَمَّا تَجَلَّى اللَّهُ
لِلْجِبَالِ
طَارَتْ
لِعَظَمَتِهِ سِتَّةُ أَجْبُلٍ، فَوَقَعَتْ ثَلَاثَةٌ بِالْمَدِينَةِ وَثَلَاثَةٌ
بِمَكَّةَ، بِالْمَدِينَةِ: أُحُدٌ، وَوَرْقَانُ، وَرَضْوَى. وَوَقَعَ بِمَكَّةَ:
حِرَاءٌ، وثَبِير، وَثَوْرٌ".
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Syaibah,
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya Abu Gassan Al-Kannani, telah
menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Imran, dari Mu'awiyah ibnu Abdullah,
dari Al-Jalad ibnu Ayyub, dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari Anas ibnu Malik,
bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Ketika Allah tampak bagi gunung-gunung itu,
maka beterbanganlah karena kebesaran-Nya enam buah gunung; tiga di antaranya
jatuh di Madinah, dan yang tiga lagi jatuh di Mekah. Di Madinah adalah
Uhud, Warqan, dan Radwa; sedangkan yang di Mekah ialah Hira, Sabir, dan
Saur.Hadis ini garib, bahkan munkar.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Abul Balah, bahwa telah menceritakan kepada kami Ai-Ha isain ibnu Kharijah, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Husain ibnul Allaf, dari Urwah ibnu Ruwayyim yang mengatakan bahwa sebelum Allah menampakkan Diri-Nya kepada Musa di Tursina, gunung-gunung itu dalam keadaan rata lagi licin. Tetapi setelah Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa di Tursina, maka hancur leburlah gunungnya, sedangkan gunung-gunung lainnya terbelah dan retak-retak serta terbentuklah gua-gua.
Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan. (Al-A'raf: 143) Bahwa ketika hijab Allah dibuka-Nya kepada gunung itu dan gunung itu melihat cahaya-Nya, maka jadilah bukit itu seperti tepung.
Sebagian ulama ada yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh. (Al-A'raf: 143) Bahwa makna yang dimaksud dengan dakka ialah fitnah.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi melihatiah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya kamu dapat melihat-Ku. (Al-A'raf: 143) Menurutnya, dikatakan demikian karena gunung itu lebih besar dan lebih kuat daripada Musa sendiri. Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu. kejadian itu menjadikan gunung itu. (Al-A'raf: 143) Allah memandang gunung itu, maka gunung itu tidak kuat, lalu hancur luluh sampai ke akarnya. Melihat pemandangan itu, yakni yang terjadi pada gunung itu, maka Musa pun jatuh pingsan.
Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh. (Al-A'raf: 143) Bahwa Allah memandang ke gunung itu, maka gunung itu berubah menjadi padang pasir.
Sebagian ulama qiraat membacanya dengan bacaan demikian, kemudian dipilih oleh Ibnu Jarir. Dan bacaan ini diperkuat dengan adanya sebuah hadis marfu' mengenainya yang diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih.
Pengertian as-sa'qu dalam ayat ini ialah pingsan, menurut tafsiran Ibnu Abbas dan lain-lainnya, tidak seperti penafsiran yang dikemukakan oleh Qatadah yang mengatakan bahwa makna as-sa'qu dalam ayat ini ialah mati, sekalipun tafsir yang dikemukakan oleh Qatadah dibenarkan menurut peristilahan bahasa. Seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
{وَنُفِخَ
فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ
اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ
يَنْظُرُونَ}
Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi
kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali
lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).
(Az-Zumar: 68)Karena sesungguhnya dalam ayat ini terdapat qarinah (bukti) yang menunjukkan makna mati, sebagaimana dalam ayat yang sedang kita bahas terdapat qarinah yang menunjukkan makna pingsan, yaitu firman-Nya:
{فَلَمَّا
أَفَاقَ}
Maka setelah Musa sadar kembali. (Al-A'raf: 143) Al-Ifaqah atau sadar tiada lain dari orang yang tadinya pingsan.
{قَالَ
سُبْحَانَكَ}
Musa berkata, "Mahasuci Engkau." (Al-A'raf: 143)Sebagai ungkapan memahasucikan. mengagungkan, dan memuliakan Allah, bahwa bila ada seseorang yang melihat-Nya di dunia ini niscaya dia akan mati.
*******************
Firman Allah Swt.:
{تُبْتُ
إِلَيْكَ}
aku bertobat kepada Engkau. (Al-A'raf: 143)Mujahid mengatakan makna yang dimaksud ialah 'saya kapok, tidak akan meminta untuk melihat-Mu lagi'.
{وَأَنَا
أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ}
dan aku orang yang pertama-tama beriman. (Al-A'raf: 143)Demikianlah menurut takwil Ibnu Abbas dan Mujahid, dari Bani Israil; pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.
Menurut riwayat yang lain dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan aku orang yang pertama-tama beriman. (Al-A'raf: 143) Disebutkan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melihat-Mu.
Hal yang sama dikatakan oleh Abul Aliyah, bahwa sebelum itu memang telah ada orang-orang yang beriman, tetapi makna yang dimaksud di sini ialah "saya orang yang mula-mula beriman kepada Engkau, bahwa tidak ada seorang makhluk-Mu yang dapat melihat-Mu sampai hari kiamat". Pendapat ini cukup baik dan mempunyai alasan.
Muhammad ibnu Jarir di dalam kitab Tafsir-nya. sehubungan dengan ayat ini telah mengetengahkan sebuah asar yang cukup panjang mengenainya di dalamnya terdapat banyak hal yang garib dan ajaib, bersumber dari Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar. Tetapi seakan-akan Muhammad ibnu Ishaq menerimanya dari berita-berita Israiliyat.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَخَرَّ
مُوسَى صَعِقًا}
Dan Musa pun jatuh pingsan. (Al-A'raf: 143)Sehubungan dengan makna ayat ini terdapat hadis Abu Sa'id dan Abu Hurairah, dari Nabi Saw., yang menerangkan tentangnya.
Hadis Abu Sa'id di-sanad-kan oleh Imam Bukhari dalam kitab Sahih-nya, dalam bab tafsir ayat ini. Untuk itu ia mengatakan:
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى
الْمَازِنِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ مِنَ اليهود إلى النبي صلى الله عليه وسلم قَدْ لُطِمَ
وَجْهُهُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِكَ مِنَ
الْأَنْصَارِ لَطَمَ وَجْهِي. قَالَ: "ادْعُوهُ" فَدَعَوْهُ، قَالَ: "لِمَ لَطَمْتَ
وَجْهَهُ؟ " قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي مَرَرْتُ بِالْيَهُودِيِّ
فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: وَالَّذِي اصْطَفَى مُوسَى عَلَى
الْبَشَرِ.
قَالَ:
قُلْتُ: وَعَلَى مُحَمَّدٍ؟ فَأَخَذَتْنِي غَضْبَةٌ فَلَطَمْتُهُ، قَالَ: "لَا
تُخَيِّرُونِي مِنْ بَيْنِ الْأَنْبِيَاءِ، فَإِنَّ النَّاسَ يُصْعَقُونَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُفِيقُ، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ
بِقَائِمَةٍ مِنْ قَوَائِمِ الْعَرْشِ، فَلَا أَدْرِي أَفَاقَ قَبْلِي أَمْ جُوزِيَ
بِصَعْقَةِ الطُّورِ".
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada
kami Sufyan, dari Amr ibnu Yahya Al-Mazini, dari ayahnya, dari Abu Sa'id
Al-Khudri r.a. yang menceritakan bahwa seorang lelaki Yahudi datang kepada Nabi
Saw., sedangkan mukanya baru saja ditampar, lalu ia mengadu, "Hai Muhammad,
sesungguhnya seseorang dari sahabatmu dari kalangan Ansar telah menampar
wajahku." Nabi Saw. bersabda, "Panggillah dia!" Lalu mereka memanggil
lelaki itu dan bersabda kepadanya, "Mengapa engkau tampar mukanya?"
Lelaki Ansar menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ketika saya sedang lewat
bersua dengan orang Yahudi, lalu orang Yahudi itu kudengar mengatakan, 'Demi
Tuhan yang telah memilih Musa atas manusia semuanya.' Lalu saya mengatakan
kepadanya, 'Dan juga di atas Muhammad?' Lelaki itu menjawab, 'Ya juga di atas
Muhammad.' Maka saya menjadi emosi, lalu kutampar mukanya," Rasulullah Saw.
bersabda: Janganlah kalian melebihkan aku di atas para nabi semuanya, karena
sesungguhnya manusia pasti pingsan di hari kiamat, dan aku adalah orang yang
mula-mula sadar. Tiba-tiba aku menjumpai Musa sedang memegang kaki A’rasy. Aku
Tidak mengetahui apakah dia sadar sebelumku ataukah dia telah beroleh balasannya
ketika mengalami pingsan di Bukit Tur.Imam Bukhari telah meriwayatkannya di berbagai tempat (bab) dari kitab Sahih-nya, dan Imam Muslim meriwayatkannya di dalam kitab Sahih-nya dalam pembahasan "Kisah-kisah para Nabi".
Imam Abu Daud telah meriwayatkannya di dalam kitab Sunnah-nya melalui berbagai jalur dari Amr ibnu Yahya ibnu Imarah ibnu Abul Hasan Al-Mazini Al-Ansari Al-Madani, dari ayahnya, dari Abu Sa'id Sa'd ibnu Malik ibnu Sinan Al-Khudri dengan lafaz yang sama.
Adapun mengenai hadis Abu Hurairah, Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya menyebutkan bahwa:
حَدَّثَنَا
أَبُو كَامِلٍ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ شِهَابٍ،
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ،
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: اسْتَبَّ رَجُلَانِ: رَجُلٌ
مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَرَجُلٌ مِنَ الْيَهُودِ، فَقَالَ الْمُسْلِمُ: وَالَّذِي
اصْطَفَى مُحَمَّدًا عَلَى الْعَالَمِينَ. وَقَالَ الْيَهُودِيُّ: وَالَّذِي
اصْطَفَى مُوسَى عَلَى الْعَالَمِينَ، فَغَضِبَ الْمُسْلِمُ عَلَى الْيَهُودِيِّ
فَلَطَمَهُ، فَأَتَى الْيَهُودِيُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، فَسَأَلَهُ فَأَخْبَرَهُ، فَدَعَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاعْتَرَفَ بِذَلِكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَا تُخَيِّرُونِي عَلَى مُوسَى؛ فَإِنَّ النَّاسَ
يُصْعَقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُفِيقُ، فَأَجِدُ مُوسَى
مُمْسِكًا بِجَانِبِ الْعَرْشِ، فَلَا أَدْرِي أَكَانَ مِمَّنْ صَعِقَ فَأَفَاقَ
قَبْلِي، أَمْ كَانَ مِمَّنِ اسْتَثْنَاهُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ"
telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami
Ibrahim ibnu Sa'd, telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab, dari Abu Salamah
ibnu Abdur Rahman dan Abdur Rahman Al-A'raj, dari Abu Hurairah r.a. yang
menceritakan bahwa ada dua orang lelaki bertengkar, salah seorangnya adalah
orang muslim, sedangkan yang lain orang Yahudi. Orang Muslim mengatakan, "Demi
Tuhan yang telah memilih Muhammad atas semua manusia." Maka si Yahudi berkata,
"Demi Tuhan yang telah memilih Musa atas semua manusia." Maka orang muslim itu
marah kepada si Yahudi, lalu ia menamparnya. Kemudian orang Yahudi itu datang
kepada Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah Saw. menanyakan kedatangannya, maka
lelaki Yahudi itu mengadukan perkaranya. Lalu Rasulullah Saw. memanggil si
lelaki muslim itu, dan si lelaki muslim mengakui hal tersebut. Maka Rasulullah
Saw. bersabda: Janganlah kalian melebihkan aku atas Musa, karena sesungguhnya
semua orang mengalami pingsan di hari kiamat nanti, dan aku adalah orang yang
mula-mula sadar. Tiba-tiba aku melihat Musa sedang memegang bagian sisi 'Arasy.
Aku tidak mengetahui apakah dia termasuk orang-orang yang pingsan, lalu ia sadar
sebelumku, ataukah dia termasuk orang yang dikecualikan oleh Allah Swt.
(tidak mengalami pingsan)Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahihain melalui hadis Az-Zuhri dengan sanad yang sama.
Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Abud Dunya telah meriwayatkan bahwa orang yang menampar si Yahudi itu dalam kasus tersebut adalah sahabat Abu Bakar As- Siddiq r.a. Akan tetapi, menurut keterangan hadis yang terdahulu dari kitab Sahihain disebutkan bahwa lelaki yang menampar si Yahudi itu adalah seorang Ansar; hal ini lebih sahih dan lebih jelas.
Pengertian yang tersirat dari sabda Nabi Saw. yang mengatakan:
"لَا
تُخَيِّرُونِي عَلَى مُوسَى"
Janganlah kalian mengutamakan aku atas Musa.Sama halnya dengan pengertian yang terkandung di dalam sabdanya yang lain, yaitu:
"لَا
تُفَضِّلُونِي عَلَى الْأَنْبِيَاءِ وَلَا عَلَى يُونُسَ بْنِ
مَتَّى"
Janganlah kalian mengutamakan diriku atas para nabi, jangan pula atas
Yunus ibnu MataMenurut suatu pendapat, hal ini termasuk ke dalam Bab "Tawadu’ (rendah diri) Nabi Saw.".
Tetapi menurut pendapat lain, hal tersebut diungkapkan oleh Nabi Saw. sebelum Nabi Saw. mengetahui keutamaan dirinya di atas semua makhluk. Menurut pendapat lainnya,-Nabi Saw. melarang bila dirinya paling diutamakan di antara para nabi lainnya dengan cara emosi dan fanatisme. Dan menurut pendapat lainnya lagi, hal tersebut dilarang bila dikatakan hanya sekadar pendapat sendiri dan seenaknya.
Sabda Nabi Saw. yang mengatakan:
"فَإِنَّ
النَّاسَ يُصْعَقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"
Sesungguhnya semua manusia akan mengalami pingsan pada hari kiamat
nanti.Menurut makna lahiriahnya 'pingsan' ini terjadi menjelang hari kiamat, karena pada hari itu terjadilah suatu perkara yang membuat mereka semuanya tidak sadarkan dirinya.
Barangkali pula hal tersebut terjadi di saat Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi datang untuk memutuskan peradilan, lalu Dia menampakkan diri-Nya pada semua makhluk untuk melakukan pembalasan terhadap mereka. Perihalnya sama dengan pingsan yang dialami oleh Musa a.s. karena Tuhan menampakkan diri-Nya. Untuk itulah, maka dalam hadis ini disebutkan melalui sabdanya:
"فَلَا
أَدْرِي أَفَاقَ قَبْلِي أَمْ جُوزِيَ بِصَعْقَةِ الطُّورِ"؟
Aku tidak mengetahui apakah Musa sadar sebelumku. ataukah dia sudah cukup
mendapat balasannya ketika mengalami pingsan di Bukit Tur.Al-Qadi Iyad di dalam permulaan kitab Asy-Syifa telah meriwayatkan berikut sanadnya dari Muhammad ibnu Muhammad ibnu Marzuq:
حَدَّثَنَا
قَتَادَةُ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّابٍ،
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
"لَمَّا تَجَلَّى اللَّهُ لِمُوسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ، كَانَ يُبْصِرُ
النَّمْلَةَ عَلَى الصَّفَا فِي اللَّيْلَةِ الظَّلْمَاءِ، مَسِيرَةَ عَشَرَةِ
فَرَاسِخَ"
bahwa telah menceritakan kepada kami Qatadah, telah menceritakan kepada kami
Al-Hasan, dari Qatadah, dari Yahya ibnu Wassab, dari Abu Hurairah, dari Nabi
Saw. yang telah bersabda: Ketika Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa as.,
maka Musa dapat melihat semut yang berada di Bukit Safa (Mekah) dalam
kegelapan malam sejauh perjalanan sepuluh farsakh (pos).Kemudian Al-Qadi Iyad mengatakan, "Tidaklah jauh pengertian hal ini dengan apa yang dialami oleh Nabi kita. sebagai keistimewaan buatnya, sesudah beliau mengalami Isra dan menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang terbesar."
Demikianlah menurut Al-Qadi Iyad, seakan-akan dia menilai sahih hadis ini. Tetapi kesahihan hadis ini masih perlu dipertimbangkan, mengingat para perawi yang disebutkan di dalam sanadnya terdapat orang-orang yang tidak dikenal. Sedangkan hal semisal ini hanya dapat diterima bila diketengahkan melalui periwayatan orang-orang yang adil lagi dabit sampai ke penghujung sumbernya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar