{وَلَقَدْ
آتَيْنَا مُوسَى وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ (48)
الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ
(49) وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنزلْنَاهُ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ (50)
}
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa
dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang
bertakwa, (yaitu) orang-orang yang takut
akan (azab) Tuhan mereka, sedangkan mereka tidak melihat-Nya, dan mereka
merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. Dan Al-Qur’an ini adalah suatu
kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka
mengapakah kamu mengingkarinya?Dalam pembahasan yang terdahulu telah kami peringatkan bahwa Allah Swt. sering membarengkan sebutan Musa dengan Muhammad Saw. beserta kitabnya masing-masing. Maka dalam ayat ini pun disebutkan oleh firman-Nya:
{وَلَقَدْ
آتَيْنَا مُوسَى وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ}
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat.
(Al-Anbiya: 48)Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Al-Furqdn dalam ayat ini ialah Kitab.
Abu Saleh mengatakan, makna yang dimaksud ialah kitab Taurat.
Menurut Qatadah yaitu kitab Taurat yang di dalamnya diterangkan halal dan haram, serta dibedakan antara perkara yang hak dan perkara yang batil.
Ibnu Zaid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah pertolongan.
Kesimpulan dari semua pendapat mengenai hal ini ialah bahwa semua Kitab samawi di dalamnya terkandung pemisah antara perkara yang hak dan perkara yang batil, jalan hidayah dan jalan sesat, kekeliruan dan kebenaran, halal dan haram. Sebagaimana kitab samawi pun mengandung cahaya penerang bagi hati, hidayah, membangkitkan rasa takut, dan berserah diri kepada Allah. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{الْفُرْقَانَ
وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ}
kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang
bertakwa. (Al-Anbiya: 48)Yakni sebagai peringatan dan pengajaran buat mereka. Kemudian Allah menyifati mereka yang bertakwa melalui firman-Nya, yaitu:
{الَّذِينَ
يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ}
orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedangkan mereka
tidak melihat-Nya. (Al-Anbiya: 49)Sama halnya dengan firman Allah Swt. yang mengatakan:
{مَنْ
خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ}
(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, sedangkan Dia
tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat.
(Qaf: 33)
{إِنَّ
الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ
كَبِيرٌ}
Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak tampak oleh
mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (Al-Mulk:
12)Adapun firman Allah Swt.:
{وَهُمْ
مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ}
dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Al-Anbiya:
49)Maksudnya, takut dan gentar terhadapnya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَهَذَا
ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنزلْنَاهُ}
Dan Al-Qur’an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai
berkah yang telah Kami turunkan. (Al-Anbiya: 50)Yaitu Al-Qur'an yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.
{أَفَأَنْتُمْ
لَهُ مُنْكِرُونَ}
Maka mengapakah kalian mengingkarinya? (Al-Anbiya: 50)Yakni apakah kalian mengingkari kebenaran Al-Qur'an, padahal Al-Qur'an begitu jelas dan gamblang?
{وَلَقَدْ
آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ (51) إِذْ
قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا
عَاكِفُونَ (52) قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ (53) قَالَ لَقَدْ
كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (54) قَالُوا أَجِئْتَنَا
بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاعِبِينَ (55) قَالَ بَل رَبُّكُمْ رَبُّ
السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ
الشَّاهِدِينَ (56) }
Dan
sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum
(Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaannya.
(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, "Patung-patung
apakah ini yang kalian tekun beribadat kepadanya?” Mereka menjawab, "Kami
mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” Ibrahim berkata, "Sesungguhnya kalian
dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata.” Mereka menjawab,
"Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk
orang-orang yang bermain-main?" Ibrahim berkata, "Sebenarnya Tuhan kalian ialah
Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang
yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.”Allah Swt. menceritakan perihal kekasih-Nya, yaitu Nabi Ibrahim a.s.; bahwa Dia telah menganugerahinya hidayah kebenaran sebelum itu. Yakni sejak ia kecil Allah telah mengilhamkan kebenaran dan hujah kepadanya untuk mendebat kaumnya, seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَتِلْكَ
حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ}
Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi
kaumnya. (Al-An'am: 83)Diceritakan pula kisah-kisah lainnya yang menyangkut Nabi Ibrahim, bahwa semasa kecilnya ayahnya pernah memasukkannya ke dalam sebuah terowongan; saat itu ia masih menyusu. Sesudah beberapa hari ayahnya membawa keluar sehingga Ibrahim dapat melihat bintang-bintang di malam hari dan juga makhluk-makhluk lainnya, maka Ibrahim melihat adanya kekuasaan Allah Swt. pada kesemuanya itu.
Kisah-kisah yang dikemukakan oleh ulama tafsir, juga oleh selain mereka, kebanyakan bersumber dari hadis-hadis israiliyat. Maka mana pun di antaranya yang sesuai dengan keterangan yang ada pada kita bersumber dari Nabi Saw. yang terpelihara, kita dapat menerimanya. Dan mana saja dari kisah-kisah itu yang tidak sesuai dengan pegangan kita, maka kita tidak dapat menerimanya. Sedangkan mengenai kisah-kisah itu yang tidak ada kesesuaian dan pertentangannya dengan sumber-sumber yang ada pada kita, kita bersikap tidak membenarkannya, tidak pula mendustakannya, melainkan kita bersikap abstain (tidak memberikan tanggapan apa pun) terhadapnya.
Kebanyakan ulama Salaf memperbolehkan mengemukakan kisah-kisah jenis terakhir ini dalam periwayatannya, tetapi kebanyakan dari kisah-kisah jenis ini tidak mengandung faedah apa pun dan tiada suatu masukan pun yang bermanfaat bagi agama kita. Seandainya kisah-kisah ini mengandung faedah yang bermanfaat bagi agama orang-orang yang mukallaf, tentulah hal tersebut dijelaskan oleh syariat agama kita yang sempurna ini.
Sikap yang kami ambil dalam tafsir ini ialah mengesampingkan banyak hadis israiliyat, mengingat dengan mengemukakannya berarti menyia-nyiakan waktu. Juga karena di dalam kisah-kisah israiliyat banyak hal dusta yang dipublikasikan oleh para empunya; Karena sesungguhnya menurut mereka tidak ada bedanya antara berita yang benar dan berita yang dusta, seperti yang telah dibuktikan oleh para Imam ahli huffaz yang mendalam dari kalangan umat ini (umat Islam).
Secara garis besarnya dapat disimpulkan, Allah Swt. memberitahukan bahwa Dia telah memberikan hidayah kebenaran kepada Ibrahim a.s. sebelum Musa dan Harun.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَكُنَّا
بِهِ عَالِمِينَ}
dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Al-Anbiya: 51)Yakni Ibrahim a.s. memang berhak untuk memperolehnya. Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:
{إِذْ
قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا
عَاكِفُونَ}
(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya,
"Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadah kepadanya?"
(Al-Anbiya: 52)Inilah yang dimaksud dengan hidayah kebenaran yang telah diperoleh Ibrahim sejak dia masih usia kanak-kanak. Ia mengingkari kaumnya yang menyembah berhala-berhala selain Allah Swt. untuk itu ia berkata kepada mereka, seperti yang disitir oleh firman-Nya: Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadah kepadanya? (Al-Anbiya: 52) Yakni kalian menyembahnya dengan penuh ketekunan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad As-Sabbah, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah yang tuna netra, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Tarif, dari Al-Asbag ibnu Nabatah yang menceritakan bahwa Khalifah Ali r.a. melewati suatu kaum yang sedang bermain catur. Maka ia berkata "Patung-patung apakah ini yang kalian tekun memainkannya? Sungguh bila seseorang di antara kalian memegang bara api hingga padam, jauh lebih baik daripada menyentuh permainan catur itu."
{قَالُوا
وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ}
Mereka menjawab, "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.”
(Al-Anbiya: 53)Mereka tidak mempunyai suatu alasan pun selain perbuatan bapak-bapak mereka yang sesat. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{لَقَدْ
كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ}
Sesungguhnya kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang
nyata. (Al-Anbiya: 54)Yaitu berbicara dengan bapak-bapak kalian yang perbuatan mereka kalian jadikan alasan, sama saja dengan berbicara dengan kalian; kalian dan mereka sama saja berada dalam kesesatan dan bukan berada dalam jalan yang lurus.
Setelah Ibrahim a.s. menilai dangkalnya pikiran mereka dan sesatnya bapak-bapak mereka serta menghina berhala-berhala sesembahan mereka.
{قَالُوا
أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاعِبِينَ}
Mereka menjawab, "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh
ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” (Al-Anbiya: 55)Mereka mengatakan bahwa apakah perkataanmu ini sebagai kata laknat atau sebagai kata mainan, karena sesungguhnya kami belum pernah mendengar kata-kata seperti itu sebelum kamu.
{قَالَ
بَل رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ}
Ibrahim berkata, "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang
telah menciptakannya.” (Al-Anbiya: 56)Yakni Tuhan kalian ialah Tuhan yang tiada Tuhan selain Dia; Dialah yang menciptakan langit dan bumi dan semua makhluk yang ada di dalamnya. Dialah yang memulai penciptaan mereka, dan Dialah yang menciptakan segala sesuatu.
{وَأَنَا
عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ}
dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang
demikian itu. (Al-Anbiya: 56)Artinya, dan saya bersaksi bahwa Dia adalah Tuhan yang tiada Tuhan selain Dia.
{وَتَاللَّهِ
لأكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ (57) فَجَعَلَهُمْ
جُذَاذًا إِلا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ (58) قَالُوا مَنْ
فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ (59) قَالُوا سَمِعْنَا
فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ (60) قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى
أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ (61) قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا
بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ (62) قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا
فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ (63) }
Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu
daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya. Maka
Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong, kecuali yang
terbesar (induk) dari patung-patung yang
lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata,
"Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya
dia termasuk orang-orang yang zalim.” Mereka berkata, "Kami dengar ada seorang
pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” Mereka berkata,
"(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak
agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya, "Apakah kamu, yang melakukan
perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab,
"Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada
berhala itu, jika mereka dapat berbicara.”Kemudian Ibrahim a.s. bersumpah —yang sumpahnya dapat didengar oleh sebagian kaumnya— bahwa sesungguhnya dia akan membuat tipu daya terhadap berhala-berhala mereka, yakni dia benar-benar akan menyakiti hati mereka dengan memecahkan berhala-berhala mereka sesudah mereka pergi menuju ke tempat perayaan mereka. Menurut kisahnya, mereka (kaum Nabi Ibrahim) mempunyai hari pasaran tertentu yang mereka rayakan di suatu tempat.
As-Saddi mengatakan bahwa ketika hari raya itu sudah dekat masanya, ayah Ibrahim berkata, "Hai anakku, seandainya kamu keluar bersama kami menuju ke tempat perayaan kami, niscaya kamu akan kagum kepada agama kami." Maka Ibrahim keluar (berangkat) bersama mereka. Ketika di tengah jalan, Ibrahim menjatuhkan dirinya ke tanah dan berkata, "Sesungguhnya aku sakit." Ketika kaumnya melaluinya, sedangkan dia dalam keadaan tergeletak, mereka bertanya, "Mengapa kamu?" Ibrahim menjawab, "Sesungguhnya saya sakit."
Setelah sebagian besar dari kaumnya telah berlalu dan yang tertinggal hanyalah orang-orang yang lemah dari kalangan mereka, Ibrahim berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya:
{تَاللَّهِ
لأكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ}
Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap
berhala-berhala kalian. (Al-Anbiya: 57)Maka ucapannya itu didengar oleh mereka.
Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Abul Ahwas dari Abdullah yang telah mengatakan, bahwa ketika kaum Nabi Ibrahim ke luar menuju ke tempat perayaan mereka, mereka melalui Ibrahim, lalu berkata kepadanya, "Hai Ibrahim, tidakkah engkau keluar bersama kami?" Ibrahim menjawab, "Sesungguhnya aku sedang sakit." Dan adalah sebelumnya, yakni kematian. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya. (Al-Anbiya: 57) Maka ucapannya itu didengar oleh sebagian orang dari kalangan kaumnya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{فَجَعَلَهُمْ
جُذَاذًا}
Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong.
(Al-Anbiya: 58)Yakni hancur berkeping-keping dipecahkan oleh Nabi Ibrahim, kecuali berhala yang paling besar. Di dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:
{فَرَاغَ
عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ}
Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulinya dengan tangan
kanannya (dengan kuat). (Ash-Shaffat: 93)Adapun firman Allah Swt.:
{لَعَلَّهُمْ
إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ}
agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. (Al-Anbiya:
58)Menurut suatu kisah, Ibrahim a.s. meletakkan kapak di tangan berhala yang terbesar, untuk memberikan gambaran kepada mereka bahwa berhala yang terbesarlah yang memecahkan berhala-berhala lainnya. Karena mereka tidak mau menyembahnya, maka ia memecahkan semua berhala kecil yang membangkang kepadanya.
{قَالُوا
مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ}
Mereka berkata, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap
tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.”
(Al-Anbiya: 59)Yakni setelah mereka kembali dari perayaannya dan menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh Ibrahim terhadap berhala-berhala mereka, sebagai suatu penghinaan dan ejekan yang menunjukkan bahwa berhala-berhala itu bukanlah tuhan dan para penyembahnya hanyalah orang-orang yang kurang waras akalnya. Mereka berkata, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim. (Al-Anbiya: 59) Maksudnya, orang yang berbuat ini adalah orang yang zalim.
Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:
{قَالُوا
سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ}
Mereka berkata, "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela
berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (Al-Anbiya: 60)Orang yang melaporkan demikian adalah seseorang yang mendengar Ibrahim mengucapkan sumpahnya, bahwa dia akan membuat tipu daya terhadap berhala-berhala mereka. Ia melaporkan kepada kaumnya: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. (Al-Anbiya: 60)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Auf telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Jarir ibnu Abdul Hamid, dari Qabus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa tidak sekali kali Allah mengutus seorang nabi melainkan masih berusia muda, dan tidaklah seseorang dianugerahi ilmu melainkan selagi ia masih berusia muda. Lalu Ibnu Abbas membaca firman-Nya: Mereka berkata, "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (Al-Anbiya: 60)
*******************
Allah Swt. berfirman, menceritakan ucapan mereka:
{قَالُوا
فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ}
Mereka berkata, "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang
dapat dilihat orang banyak.” (Al-Anbiya: 61)Yakni di mata orang banyak, yang saat itu semua orang hadir. Ternyata apa yang telah direncanakan oleh Nabi Ibrahim mencapai sasarannya dengan tepat. Dalam pertemuan yang besar ini Ibrahim a.s. bermaksud menjelaskan kepada mereka akan kebodohan dan kekurangan akal mereka karena menyembah berhala-berhala tersebut yang tidak dapat menolak suatu mudarat pun dari dirinya, tidak pula dapat membela dirinya. Maka mengapa berhala-berhala itu dimintai sesuatu dari hal tersebut?
{قَالُوا
أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ قَالَ بَلْ فَعَلَهُ
كَبِيرُهُمْ هَذَا}
Mereka bertanya, "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap
tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab, "Sebenarnya patung yang besar
itu yang melakukannya. (Al-Anbiya: 62-63)Yakni berhala yang dibiarkannya dan tidak dipecahkannya itu.
{فَاسْأَلُوهُمْ
إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ}
maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.
(Al-Anbiya: 63)Sesungguhnya Ibrahim a.s. melontarkan jawaban ini tiada lain agar mereka menyadari bahwa berhala itu tidak dapat bicara karena berhala itu berupa patung yang terbuat dari benda mati (lalu mengapa mereka menyembahnya).
Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui Hisyam ibnu Hissan, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِنَّ
إِبْرَاهِيمَ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، لَمْ يَكْذِبْ غَيْرَ ثَلَاثٍ: ثِنْتَيْنِ فِي
ذَاتِ اللَّهِ، قَوْلُهُ: {بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا} وَقَوْلُهُ {إِنِّي
سَقِيمٌ} قَالَ: "وَبَيْنَا هُوَ يَسِيرُ فِي أرض جبار من الجبابرة
ومعه سَارَةُ،
إِذْ نَزَلَ مَنْزِلًا فَأَتَى الْجَبَّارَ رَجُلٌ، فَقَالَ: إِنَّهُ قَدْ نَزَلَ
بِأَرْضِكَ رَجُلٌ مَعَهُ امْرَأَةٌ أَحْسَنُ النَّاسِ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ
فَجَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذِهِ الْمَرْأَةُ مِنْكَ؟ قَالَ: هِيَ أُخْتِي. قَالَ:
فَاذْهَبْ فَأَرْسِلْ بِهَا إِلَيَّ، فَانْطَلَقَ إِلَى سَارَةَ فَقَالَ: إِنَّ
هَذَا الْجَبَّارَ سَأَلَنِي عَنْكِ فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّكِ أُخْتِي فَلَا
تُكَذِّبِينِي عِنْدَهُ، فَإِنَّكِ أُخْتِي فِي كِتَابِ اللَّهِ، وَأَنَّهُ لَيْسَ
فِي الْأَرْضِ مُسْلِمٌ غَيْرِي وَغَيْرُكِ، فَانْطَلَقَ بِهَا إِبْرَاهِيمُ ثُمَّ
قَامَ يُصَلِّي. فَلَمَّا أَنْ دَخَلَتْ عَلَيْهِ فَرَآهَا أَهْوَى إِلَيْهَا،
فَتَنَاوَلَهَا، فَأُخِذَ أَخْذًا شَدِيدًا، فَقَالَ: ادْعِي اللَّهَ لِي وَلَا
أَضُرُّكِ، فَدَعَتْ لَهُ فَأُرْسِلَ، فَأَهْوَى إِلَيْهَا، فَتَنَاوَلَهَا
فَأُخِذَ بِمِثْلِهَا أَوْ أَشَدَّ. فَفَعَلَ ذَلِكَ الثَّالِثَةَ فَأُخِذَ،
[فَذَكَرَ] مِثْلَ الْمَرَّتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ فَقَالَ ادْعِي اللَّهَ فَلَا
أَضُرُّكِ. فَدَعَتْ، لَهُ فَأُرْسِلَ، ثُمَّ دَعَا أَدْنَى حُجَّابِهِ، فَقَالَ:
إِنَّكَ لَمْ تَأْتِنِي بِإِنْسَانٍ، وَإِنَّمَا َتَيْتَنِي بِشَيْطَانٍ،
أَخْرِجْهَا وَأَعْطِهَا هَاجَرَ، فَأُخْرِجَتْ وَأُعْطِيَتْ هَاجَرَ،
فَأَقْبَلَتْ، فَلَمَّا أَحَسَّ إِبْرَاهِيمُ بِمَجِيئِهَا انْفَتَلَ مِنْ
صِلَاتِهِ، قَالَ: مَهْيَم؟ قَالَتْ: كَفَى اللَّهُ كَيْدَ الْكَافِرِ الْفَاجِرِ،
وَأَخْدَمَنِي هَاجَرَ"
Sesungguhnya Ibrahim as. tidak berdusta selain dalam tiga hal. Dua di
antaranya terhadap Zat Allah, yaitu yang disebutkan di dalam firman-Nya,
"Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya" (Al-Anbiya: 63). Dan
apa yang disebutkan oleh firman-Nya, "Sesungguhnya aku sakit" (Ash-Shaffat:
89). Dan ketika Ibrahim sedang berjalan di suatu negeri yang berada di bawah
kekuasaan seorang raja yang angkara murka, saat itu ia membawa Sarah
—istrinya—lalu ia turun istirahat di suatu tempat. Maka ada seseorang melaporkan
kepada raja yang angkara murka itu, bahwa sesungguhnya telah singgah di negerimu
ini seorang lelaki dengan membawa seorang wanita yang sangat cantik. Maka si
raja lalim itu mengirimkan utusannya memanggil Ibrahim, kemudian Ibrahim datang
menghadap, dan si raja lalim bertanya, "Siapakah wanita yang kamu bawa itu?”
Ibrahim Menjawab, "Saudara perempuanku.” Si raja berkata,
"Pergilah kamu dan bawalah dia menghadap kepadaku.” Maka Ibrahim pergi menuju ke
tempat Sarah, lalu ia berkata kepadanya, "Sesungguhnya si raja lalim ini telah
bertanya kepadaku tentang kamu, saya jawab bahwa engkau adalah saudara
perempuanku, maka janganlah kamu mendustakan aku di hadapannya. Karena
sesungguhnya engkau adalah saudara perempuanku menurut Kitabullah. Dan
sesungguhnya di muka bumi ini tiada seorang muslim pun selain aku dan kamu.”
Ibrahim membawa Sarah pergi, lalu Ibrahim melakukan salat. Setelah Sarah masuk
ke dalam istana raja dan si raja melihatnya. Maka si raja menubruknya dengan
maksud akan memeluknya, tetapi si raja mendadak menjadi sangat kaku sekujur
tubuhnya. Lalu ia berkata, "Doakanlah kepada Allah untuk kesembuhanku, maka aku
tidak akan mengganggumu.” Sarah berdoa untuk kesembuhan si raja. Akhirnya si
raja sembuh, tetapi si raja kembali menubruknya dengan maksud memeluknya.
Tiba-tiba ia mendadak mengalami peristiwa yang pertama tadi, bahkan kali ini
lebih parah. Raja melakukan hal itu sebanyak tiga kali; setiap kali ia
melakukannya, ia ditimpa musibah itu seperti kejadian yang pertama dan yang
kedua. Akhirnya si raja berkata, "Doakanlah kepada Allah, maka aku tidak akan
mengganggumu lagi.” Sarah berdoa untuk kesembuhan si raja, dan si raja sembuh
seketika itu juga. Sesudah itu si raja memanggil penjaga
(pengawal)nya yang terdekat dan berkata, "Sesungguhnya yang kamu
datangkan kepadaku bukanlah manusia melainkan setan. Keluarkanlah dia dan
berikanlah Hajar kepadanya.” Maka Sarah dikeluarkan (dibebaskan) dan
diberi hadiah seorang budak wanita bernama Hajar, lalu pulang (ke tempat
suaminya). Setelah Ibrahim merasakan kedatangan istrinya, ia berhenti dari
salatnya, lalu bertanya, "Bagaimanakah beritanya?” Sarah menjawab, "Allah telah
melindungiku dari tipu daya si kafir yang durhaka itu dan memberiku seorang
pelayan bernama Hajar.”Muhammad ibnu Sirin mengatakan bahwa Abu Hurairah apabila usai menceritakan kisah ini mengatakan, "Itulah cerita ibu kalian, hai orang-orang nomaden."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar