Translate

Jumat, 02 September 2016

An Naazi´aat



79. An Naazi´aat


79. An Naazi´aat
 Muqaddimah 

Surat An Naazi´aat terdiri atas 46 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat An Naba´. Dinamai An Naazi´aat diambil dari perkataan An Naazi´aat yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Dinamai pula as Saahirah yang diambil dari ayat 14, dinamai juga Ath Thaammah diambil dari ayat 34.

Pokok-pokok isinya:
1. Keimanan:
Penegasan Allah tentang adanya hari kiamat dan sikap orang- orang musyrik terhadapnya; manusia dibagi 2 golongan di akhirat; manusia tidak dapat mengetahui kapan terjadinya saat kiamat.
2. Kisah:
Kisah Musa a.s. dengan Fir´aun.

79. An Naazi´aat


AN NAAZI´AAT (MALAIKAT-MALAIKAT YANG MENCABUT)
SURAT KE 79 : 46 ayat


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang


PENEGASAN HARI BERBANGKIT KEPADA ORANG-ORANG YANG MUSYRIK YANG MENGINGKARINYA
1. Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras,

79. An Naazi´aat


2. dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut,

79. An Naazi´aat


3. dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat,

79. An Naazi´aat


4. dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang,

79. An Naazi´aat


5. dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)[1550].


[1550]. Dalam ayat 1 s/d 5 Allah bersumpah dengan malaikat-malaikat yang bermacam-macam sifat dan urusannya, bahwa manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat. Sebahagian ahli tafsir berpendapat, bahwa dalam ayat-ayat itu Allah bersumpah dengan bintang-bintang.

79. An Naazi´aat


6. (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam,

79. An Naazi´aat


7. tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua.

79. An Naazi´aat


8. Hati manusia pada waktu itu sangat takut,

79. An Naazi´aat


9. Pandangannya tunduk.

79. An Naazi´aat


10. (Orang-orang kafir) berkata: "Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?[1551] Asbabun nuzul


[1551]. Setelah orang-orang kafir mendengar adanya hari kebangkitan sesudah mati mereka merasa heran dan mengejek sebab menurut keyakinan mereka tidak ada hari kebangkitan itu. Itulah sebabnya mereka bertanya demikian itu.


 Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun firman Allah S.79:10 sebagai keterangan kepada Rasulullah yang terdengar oleh kaum kuffar Quraisy, mereka berkata: "Kalau kita dihidupkan kembali sesudah mati, tentu kita akan rugi." Maka turun ayat berikut (S.79:12) sebagai keterangan dari Allah kepada Rasul-Nya tentang ucapan kaum kuffar Quraisy.
(Diriwayatkan oleh Sa'id bin Mansyur yang bersumber dari Muhammad bin Ka'b)

79. An Naazi´aat


11. Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?"

79. An Naazi´aat


12. Mereka berkata: "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan."

79. An Naazi´aat


13. Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja,

79. An Naazi´aat


14. maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.

79. An Naazi´aat

KISAH MUSA A.S. DAN FIR´AUN SEBAGAI PENGHIBUR BAGI NABI MUHAMMAD S.A.W.


15. Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa.

79. An Naazi´aat


16. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa;

79. An Naazi´aat


17. "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas,

79. An Naazi´aat


18. dan katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)."

79. An Naazi´aat


19. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?"

79. An Naazi´aat


20. Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.

79. An Naazi´aat


21. Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai.

79. An Naazi´aat


22. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa).

79. An Naazi´aat


23. Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya.

79. An Naazi´aat


24. (Seraya) berkata:"Akulah tuhanmu yang paling tinggi."

79. An Naazi´aat


25. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.

79. An Naazi´aat


26. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).

79. An Naazi´aat

MEMBANGKITKAN MANUSIA ADALAH MUDAH BAGI ALLAH SEPERTI MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA
27. Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya,

79. An Naazi´aat


28. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,

79. An Naazi´aat


29. dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.

79. An Naazi´aat


30. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.

79. An Naazi´aat


31. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.

79. An Naazi´aat


32. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh,

79. An Naazi´aat


33. (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

79. An Naazi´aat

DI HARI KIAMAT ITU TERINGATLAH MANUSIA AKAN PERBUATANNYA DI DUNIA
34. Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang.

79. An Naazi´aat


35. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya,

79. An Naazi´aat


36. dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.

79. An Naazi´aat


37. Adapun orang yang melampaui batas,

79. An Naazi´aat


38. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,

79. An Naazi´aat


39. maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).

79. An Naazi´aat


40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,

79. An Naazi´aat


41. maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).

79. An Naazi´aat


42. (Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?[1552] Asbabun nuzul


[1552]. Kata-kata ini mereka ucapkan adalah sebagai ejekan saja, bukan karena mereka percaya akan hari berbangkit.


 Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini (S 79:42,43,44) turun ketika Rasulullah saw. ditanya tentang permulaan qiamat. Ayat ini turun sebagai penegasan bahwa hanya Allah yang mengetahui waktunya.
(Diriwayatkan oleh al-Hakim dan Ibnu Jarir yang bersumber dari Aisyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum musyrikin Makkah bertanya dengan sinis kepada Rasulullah saw.: "kapan terjadinya qiamat?" Allah menurunkan ayat ini (S.79:42-46) yang menegaskan bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui akan waktunya.
(Diriwayatkan oleh Ibnu abi Hatim dari Juwaibir dari ad-Dlahhak yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Rasulullah saw. sering menyebut-nyebut qiamat. Maka turunlah ayat ini (S.79:43,44) sebagai perintah untuk menyerahkan persoalannya kpqada Allah saw.
(Diriwayatkan oleh at-Thabarani dan Ibnu Jarir yang bersumber dari Thariq bin Syihab. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari 'Urwah.)

79. An Naazi´aat


43. Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)? Asbabun nuzul

79. An Naazi´aat


44. Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Asbabun nuzul

79. An Naazi´aat


45. Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)

79. An Naazi´aat


46. Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari[1553].


[1553]. Karena hebatnya suasana hari berbangkit itu mereka merasa bahwa hidup di dunia adalah sebentar saja.

79. An Naazi´aat
 Penutup 

Surat An Naazi´aat mengutarakan sumpah Allah dengan menyebut malaikat yang bermacam-macam tugasnya, bahwa hari kiamat pasti terjadi, dan membangkitkan manusia itu adalah mudah bagi Allah, serta mengancam orang- orang musyrik yang mengingkari kebangkitan dengan siksaan yang telah dialami Fir´aun dan pengikut-pengikutnya. Selanjutnya surat ini menerangkan keadaan orang-orang musyrik pada hari kiamat dan bagaimana kedahsyatan hari kiamat itu.

HUBUNGAN SURAT AN NAAZI´AAT DENGAN SURAT ´ABASA

Pada akhir surat An Naazi´aat ditaerangkan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. hanyalah pemberi peringatan kepada orang-orang yang takut dengan hari kiamat, sedang pada permulaan surat ´Abasa dibayangkan bahwa dalam memberikan peringatan itu hendaklah memberikan penghargaan yang sama kepada orang-orang yang diberi peringatan dengan tidak memandang kedudukan seseorang dalam masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar