|
5. Al Maa'idah
|
|
Larangan bertanya tentang hal yang menyebabkan kemudharatan
101. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan
menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan,
niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal
itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
102. Sesungguhnya telah ada segolongsn manusia sebelum
kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka
tidak percaya kepadanya[448].
|
|
[448]. Maksudnya: sesudah diterangkan kepada mereka
hukum-hukum yang mereka tanyakan itu, mereka tidak menaatinya, hal ini
menyebabkan mereka menjadi kafir.
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
103. Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya
bahiirah[449], saaibah[450], washiilah[451] dan haam[452]. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap
Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.
|
|
[449]. Bahiirah: ialah unta betina yang telah
beranak lima kali dan anak kelima itu jantan, lalu unta betina itu dibelah
telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan tidak boleh diambil
air susunya.
[450]. Saaibah: ialah unta betina yang dibiarkan pergi kemana saja lantaran sesuatu nazar. Seperti, jika seorang Arab Jahiliyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, maka ia biasa bernazar akan menjadikan untanya saaibah bila maksud atau perjalanannya berhasil dengan selamat. [451]. Washiilah: seekor domba betina melahirkan anak kembar yang terdiri dari jantan dan betina, maka yang jantan ini disebut washiilah, tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala. [452]. Haam: unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat lagi, karena telah dapat membuntingkan unta betina sepuluh kali. Perlakuan terhadap bahiirah, saaibah, washiilah dan haam ini adalah kepercayaan Arab Jahiliyah. |
|
5. Al Maa'idah
|
|
104. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah
mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul." Mereka
menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami
mengerjakannya." Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang
mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak
(pula) mendapat petunjuk?.
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
105. Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu;
tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu
telah mendapat petunjuk[453]. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan
menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
|
|
[453]. Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan
memberi mudharat kepadamu, asal kamu telah mendapat petunjuk. Tapi tidaklah
berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari yang
munkar
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
ANJURAN BERWASIAT DENGAN PERSAKSIAN
106. Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang
kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat
itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang
berlainan agama dengan kamu[454], jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa
bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk
bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu
ragu-ragu: "(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga
yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan
tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau
demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa."
|
|
[454]. Ialah: mengambil orang lain yang tidak seagama
dengan kamu sebagai saksi dibolehkan, bila tidak ada orang Islam yang akan
dijadikan saksi.
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
107. Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) membuat dosa[455], maka dua orang yang lain di antara
ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal
(memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan
nama Allah: "Sesungguhnya persaksian kami labih layak diterima daripada
persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya kami
kalau demikian tentulah termasuk orang yang menganiaya diri sendiri."
|
|
[455]. Maksudnya: melakukan kecurangan dalam
persaksiannya, dan hal ini diketahui setelah ia melakukan sumpah.
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
108. Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi)
mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat
untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada
ahli waris) sesudah mereka bersumpah[456]. Dan bertakwalah kepada Allah dan
dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik.
|
|
[456]. Maksud sumpah itu dikembalikan, ialah saksi-saksi
yang berlainan agama itu ditolak dengan bersumpahnya saksi-saksi yang terdiri
dari karib kerabat, atau berarti orang-orang yang bersumpah itu akan mendapat
balasan di dunia dan akhirat, karena melakukan sumpah palsu.
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
SALAH SATU PERISTIWA DI HARI KIAMAT
109. (Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para
rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka): "Apa jawaban kaummu terhadap
(seruan)mu?." Para rasul menjawab: "Tidak ada pengetahuan kami
(tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang
ghaib."
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
BEBERAPA KISAH TENTANG ISA A.S.
110. (Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa
putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku
menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di
waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku
mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu
kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku,
kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya)
dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta
sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku,
dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi
hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil
(dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka
keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka
berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
111. Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut
Isa yang setia: "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku."
Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa
sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)."
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
112. (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata:
"Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari
langit kepada kami?." Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika kamu
betul-betul orang yang beriman."
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
113. Mereka berkata: "Kami ingin memakan hidangan itu
dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata
benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan
itu."
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
114. Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami
turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari
turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama
kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau;
beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama."
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
115. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan
menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah
(turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan
yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat
manusia."
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
116. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa
putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku
dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?." Isa menjawab: "Maha Suci
Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku
(mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui
apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri
Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib."
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
117. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa
yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah
Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap
mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku,
Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala
sesuatu.
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
118. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka
adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
|
|
5. Al Maa'idah
|
|
119. Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang
bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga
yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya[457]. Itulah keberuntungan yang paling
besar."
|
|
[457]. Maksudnya: Allah meridhai segala
perbuatan-perbuatan mereka, dan merekapun merasa puas terhadap nikmat yang
telah dicurahkan Allah kepada mereka.
|
|
5. Al Maa'idah
|
|||
|
120. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa
yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar