{فَلَمَّا
رَجَعُوا إِلَى أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ
مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (63) قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ
عَلَيْهِ إِلا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَى أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ فَاللَّهُ خَيْرٌ
حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (64) }
Maka tatkala mereka telah kembali kepada ayah
mereka (Ya'qub), mereka berkata, "Wahai
ayah kami, kami tidak mendapat sukatan (gandum) lagi, (jika tidak
membawa saudara kami). Sebab itu, biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama
kami supaya kami mendapat sukatan, dan sesungguhnya kami benar-benar akan
menjaganya.” Berkata Ya'qub, "Bagaimana aku akan mempercayakannya
(Bunyamin) kepada kalian, kecuali seperti aku telah mempercayakan
saudaranya (Yusuf) kepada kalian dahulu?” Maka Allah adalah
sebaik-baikPenjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para
Penyayang.Allah Swt. menceritakan perihal saudara-saudara Yusuf, bahwa mereka kembali kepada ayah mereka.
{قَالُوا
يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ}
mereka berkata,”Wahai ayah kami, kami tidak mendapat sukatan (gandum)
lagi. (Yusuf: 63)Mereka bermaksud sesudah kali ini, yakni jika engkau tidak membiarkan saudara kami Bunyamin pergi bersama kami, niscaya kami tidak akan mendapat jatah makanan lagi. Maka izinkanlah dia pergi bersama kami agar kami mendapat jatah makanan, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.
Sebagian ulama membacanya yaktal, yakni supaya dia mendapat -jatah makanan.
{وَإِنَّا
لَهُ لَحَافِظُونَ}
dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya. (Yusuf:63)Yakni janganlah khawatir terhadap keselamatan Bunyamin, karena sesungguhnya dia akan dikembalikan kepadamu, sebagaimana alasan mereka sama seperti yang dikatakan dalam peristiwa Yusuf:
{أَرْسِلْهُ
مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ}
Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat)
bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti
menjaganya. (Yusuf: 12)Karena itulah ayah mereka berkata kepada mereka:
{هَلْ
آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَى أَخِيهِ مِنْ
قَبْلُ}
Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepada kalian,
kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kalian
dahulu. (Yusuf: 64)Yakni tiadalah kalian akan memperlakukannya kecuali seperti apa yang telah kalian lakukan kepada saudaranya (Yusuf) sebelumnya. Kalian menjauhkannya dariku dan menghalang-halangi antara aku dan dia.
{فَاللَّهُ
خَيْرٌ حفظًا}
Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga. (Yusuf: 64) Sebagian ulama membacanya hifzan.
{وَهُوَ
أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ}
dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (Yusuf:
64)Yakni Dia Maha Penyayang di antara para penyayang kepadaku, dan Dia pasti akan merahmatiku karena usiaku yang telah lanjut, kelemahanku, dan kerinduanku kepada anakku (Yusuf); aku pun selalu berharap kepada Allah, semoga Dia mengembalikan Yusuf kepadaku dan menghimpunkan kekuatanku berkat bersatu dengannya. Sesungguhnya Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.
{وَلَمَّا
فَتَحُوا مَتَاعَهُمْ وَجَدُوا بِضَاعَتَهُمْ رُدَّتْ إِلَيْهِمْ قَالُوا يَا
أَبَانَا مَا نَبْغِي هَذِهِ بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ إِلَيْنَا وَنَمِيرُ أَهْلَنَا
وَنَحْفَظُ أَخَانَا وَنزدَادُ كَيْلَ بَعِيرٍ ذَلِكَ كَيْلٌ يَسِيرٌ (65) قَالَ
لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّى تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي
بِهِ إِلا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ فَلَمَّا آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللَّهُ عَلَى
مَا نَقُولُ وَكِيلٌ (66) }
Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka
menemukan kembali barang-barang {penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka.
Mereka berkata, "Wahai ayah kami, apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang
kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami,
dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan
sukatan (gandum) seberat beban seekor
unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi Raja Mesir)." Ya'qub berkata,
"Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kalian,
sebelum kalian memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa
kalian pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kalian dikepung
musuh." Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Ya'qub berkata, "Allah
adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)."Allah Swt. menceritakan bahwa ketika saudara-saudara Yusuf membuka karung-karung mereka, ternyata mereka menjumpai barang-barangnya dikembalikan kepada mereka. Yusuflah yang memerintahkan kepada pelayan-pelayannya agar memasukkan kembali barang-barang mereka ke dalam karungnya masing-masing. Setelah mereka mendapati barang-barang mereka ada di dalam karungnya:
{قَالُوا
يَا أَبَانَا مَا نَبْغِي هَذِهِ
بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ إِلَيْنَا}
Mereka berkata, "Wahai ayah kami, apa lagi yang kita inginkan. Ini
barang-barang kita dikembalikan kepada kita.” (Yusuf: 65)Menurut Qatadah, artinya adalah 'tiada yang kita inginkan selain ini, sesungguhnya barang-barang kita dikembalikan kepada kita, padahal sukatan kita telah disempurnakan bagi kita'.
{وَنَمِيرُ
أَهْلَنَا}
dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami. (Yusuf: 65)Yakni jika engkau melepaskan saudara kami pergi bersama-sama kami, niscaya kami dapat memberikan jatah makanan kepada keluarga kami.
{وَنَحْفَظُ
أَخَانَا وَنزدَادُ كَيْلَ بَعِيرٍ}
dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat
tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. (Yusuf: 65)Demikian itu karena Yusuf memberikan kepada setiap orang seberat beban seekor unta. Mujahid mengatakan bahwa makanan itu seberat beban seekor keledai, dengan alasan bahwa menurut sebagian dialek terkadang keledai disebut dengan sebutan ba'ir (unta).
{ذَلِكَ
كَيْلٌ يَسِيرٌ}
Itu adalah sukatan yang mudah (bagi Raja Mesir). (Yusuf: 65)Ayat ini merupakan kesempurnaan bagi kalam sebelumnya dan berfungsi memperindahnya. Dengan kata lain, sesungguhnya sukatan itu amatlah mudah bila dibandingkan dengan imbalannya, yaitu jasa membawa saudara mereka.
{قَالَ
لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّى تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ}
Ya’qub berkata "Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi)
bersama-sama kalian, sebelum kalian memberikan kepadaku janji yang teguh atas
nama Allah.” (Yusuf: 66)Yakni kalian ucapkan janji dan kesetiaan dengan menyebut nama Allah.
{لَتَأْتُنَّنِي
بِهِ إِلا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ}
bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu
dikepung musuh. (Yusuf: 66)Artinya, terkecuali jika kalian semua dikalahkan oleh musuh dan kalian tidak mampu lagi menyelamatkannya.
{فَلَمَّا
آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ}
Tatkala mereka memberikan janji mereka. (Yusuf: 66) Nabi Ya'qub mengukuhkan sumpah mereka seraya berkata:
{اللَّهُ
عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ}
Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini). (Yusuf:
66)Ibnu Ishaq mengatakan, sesungguhnya Ya'qub melakukan hal tersebut karena dia tidak menemukan cara lain kecuali harus melepaskan Bunyamin pergi bersama mereka demi mendapatkan sukatan gandum yang merupakan makanan pokok mereka. Karena itulah, maka Ya'qub terpaksa melepaskan Bunyamin pergi bersama-sama mereka.
{وَقَالَ
يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ
مُتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ
إِلا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
(67) وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُمْ مَا كَانَ يُغْنِي
عَنْهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِلا حَاجَةً فِي نَفْسِ يَعْقُوبَ قَضَاهَا
وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا
يَعْلَمُونَ (68) }
Dan Ya’qub berkata, "Hai anak-anakku, janganlah
kalian (bersama-sama) masuk dari satu
pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang lain-lain; namun
demikian, aku tiada dapat melepaskan kalian barang sedikitpun dari (takdir)
Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah;
kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang
bertawakal berserah diri.” Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan
ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan
mereka sedikit pun dari takdir Allah, tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri
Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan,
karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tiada
mengetahui.Allah Swt. menceritakan tentang Nabi Ya'qub a.s., bahwa dia memerintahkan kepada anak-anaknya ketika melepas keberangkatan mereka bersama Bunyamin menuju negeri Mesir, bahwa janganlah mereka masuk dari satu pintu gerbang semuanya, tetapi hendaklah masuk dari berbagai pintu gerbang yang berlainan.
Menurut Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka'b, Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, hal itu untuk menghindari 'ain (kesialan). Demikian itu karena mereka adalah orang-orang yang berpenampilan bagus dan mempunyai rupa yang tampan-tampan serta kelihatan berwibawa. Maka Ya'qub a.s. merasa khawatir bila mereka tertimpa 'ain disebabkan pandangan mata orang-orang. Karena sesungguhnya 'ain itu adalah benar, ia dapat menurunkan pengendara kuda dari kudanya.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha'i sehubungan dengan firman-Nya: dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lainan. (Yusuf: 67) Ya'qub merasa yakin bahwa Yusuf pasti akan menjumpai salah seorang dari saudara-saudaranya di antara pintu-pintu gerbang itu.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَمَا
أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ}
namun demikian, aku tiada dapat melepaskan kalian barang sedikit pun dari
(takdir) Allah. (Yusuf: 67)Yakni sesungguhnya tindakan hati-hati ini tidak dapat menolak takdir dan keputusan Allah; karena sesungguhnya apabila Allah menghendaki sesuatu, maka kehendak-Nya itu tidak dapat dicegah, tidak dapat pula ditolak.
{إِنِ
الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ
الْمُتَوَكِّلُونَ وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُمْ مَا كَانَ
يُغْنِي عَنْهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِلا حَاجَةً فِي نَفْسِ يَعْقُوبَ
قَضَاهَا}
Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah
aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal
berserah diri. Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka,
maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikit
pun dari takdir Allah, tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang
telah ditetapkannya. (Yusuf: 67-68)Menurut banyak ulama tafsir, Ya'qub melakukan hal itu untuk menghindarkan anak-anaknya dari terkena penyakit 'ain.
{وَإِنَّهُ
لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ}
Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan
kepadanya. (Yusuf: 68)Qatadah dan As-Sauri mengatakan, makna yang dimaksud ialah sesungguhnya Ya'qub adalah orang yang mengamalkan ilmunya. Menurut Ibnu Jarir, sesungguhnya Ya'qub mempunyai pengetahuan karena Kami telah mengajarkan kepadanya.
{وَلَكِنَّ
أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ}
Akan tetapi, kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Yusuf:
68)
{وَلَمَّا
دَخَلُوا عَلَى يُوسُفَ آوَى إِلَيْهِ أَخَاهُ قَالَ إِنِّي أَنَا أَخُوكَ فَلا
تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (69) }
Dan
tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf membawa saudaranya
(Bunyamin) ke tempatnya. Yusuf berkata, "Sesungguhnya aku (ini)
adalah saudaramu, maka janganlah kamu berduka cita terhadap apa yang telah
mereka kerjakan.”Allah Swt. menceritakan tentang saudara-saudara Yusuf, ketika mereka tiba ke hadapan Yusuf bersama saudara sekandungnya (yaitu Bunyamin), bahwa lalu Yusuf membawa mereka masuk ke dalam ruangan kehormatannya, yaitu tempat tamu-tamu terhormatnya. Dan Yusuf melimpahkan kepada mereka semua penghormatannya, sikap lemah lembut, dan kebajikannya. Kemudian ia sendiri membawa saudara sekandungnya terpisah dari mereka, dan Yusuf membuka rahasia dirinya kepada Bunyamin serta menceritakan kepadanya tentang semua yang telah dialaminya.
Selanjutnya Yusuf berkata, "Janganlah kamu bersedih hati atas apa yang telah mereka perbuat terhadap diriku." Yusuf memerintahkan kepada Bunyamin agar merahasiakan hal itu dari mereka dan jangan menceritakan kepada mereka bahwa dirinya adalah saudara mereka. Yusuf bersepakat dengan Bunyamin. bahwa dirinya akan membuat tipu daya terhadap mereka untuk membiarkan Bunyamin tinggal di dekatnya dalam keadaan dihormati dan dimuliakan.
{فَلَمَّا
جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ السِّقَايَةَ فِي رَحْلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ
مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ (70) قَالُوا وَأَقْبَلُوا
عَلَيْهِمْ مَاذَا تَفْقِدُونَ (71) قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ
جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ (72) }
Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan
makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian
berteriaklah seseorang yang menyerukan, "Hai kafilah, sesungguhnya kalian adalah
orang-orang yang mencuri.” Mereka menjawab sambil menghadap kepada
penyeru-penyeru itu, "Barang apakah yang hilang dari kalian?” Penyeru-penyeru
itu berkata, "Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya
akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin
terhadapnya.”Setelah disiapkan bahan makanan mereka, lalu dimuatkan ke atas unta-unta mereka, Yusuf memerintahkan kepada salah seorang dari pelayannya untuk menaruh piala, yaitu tempat untuk minum yang terbuat dari perak, menurut kebanyakan ulama; menurut Ibnu Zaid terbuat dari emas. Piala ialah wadah minuman —juga dipakai untuk menakar makanan— yang mahal di saat itu, menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Ad-Dahhak, dan Abdur Rahman ibnu Zaid.
Syu'bah telah meriwayatkan dari Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa piala raja adalah tempat minum yang terbuat dari perak, bentuknya seperti mangkuk. Al-Abbas memiliki hal yang serupa di masa Jahiliahnya.
Lalu piala itu diletakkan di tempat (karung) milik Bunyamin tanpa sepengetahuan seorang pun. Kemudian berserulah orang-orang yang berseru di antara mereka seraya mengatakan:
{أَيَّتُهَا
الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ}
Hai kafilah, sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang mencuri.
(Yusuf: 70)Maka mereka menoleh kepada orang yang berseru itu, dan bertanya:
{مَاذَا
تَفْقِدُونَ قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ}
"Barang apakah yang hilang dari kalian?” Penyeru-penyeru itu berkata,
"Kami kehilangan piala raja.” (Yusuf: 71-72)Yakni sa' atau alat takarnya.
{وَلِمَنْ
جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ}
dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan -makanan
(seberat) beban unta. (Yusuf: 72)Hal ini termasuk ke dalam Bab "Ju'alah" (hadiah).
{وَأَنَا
بِهِ زَعِيمٌ}
dan aku menjamin terhadapnya. (Yusuf: 72)Dalam hal ini termasuk ke dalam Bab "Daman" (garansi) dan "Kafalah (tanggungan).
{قَالُوا
تَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِي الأرْضِ وَمَا كُنَّا
سَارِقِينَ (73) قَالُوا فَمَا جَزَاؤُهُ إِنْ كُنْتُمْ كَاذِبِينَ (74) قَالُوا
جَزَاؤُهُ مَنْ وُجِدَ فِي رَحْلِهِ فَهُوَ جَزَاؤُهُ كَذَلِكَ نَجْزِي
الظَّالِمِينَ (75) فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ
اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ كَذَلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ مَا كَانَ
لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ نَرْفَعُ
دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ (76) }
Saudara-saudara Yusuf menjawab, "Demi Allah,
sesungguhnya kalian mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan
di negeri (ini) dan kami bukanlah
orang-orang yang mencuri." Mereka berkata, "Tetapi apa balasannya jikalau kalian
betul-betul pendusta?” Mereka menjawab, "Balasannya ialah pada siapa diketemukan
(barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya
(tebusannya)." Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang
yang zalim. Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum
(memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala
raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai
maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut
undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang
yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada
lagi Yang Maha Mengetahui.Ketika penyeru-penyeru itu menuduh saudara-saudara Yusuf mencuri, maka saudara-saudara Yusuf berkata kepada mereka:
{تَاللَّهِ
لَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِي الأرْضِ وَمَا كُنَّا
سَارِقِينَ}
Demi Allah, sesungguhnya kalian mengetahui bahwa kami datang bukan untuk
membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah orang-orang yang
mencuri. (Yusuf: 73)Dengan kata lain, sesungguhnya kalian telah mengecek dan mengetahui kami sejak kalian mengenal kami. Karena mereka mengetahui dan menyaksikan dari sepak terjang saudara-saudara Yusuf perilaku yang baik. Sesungguhnya kami: datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah orang-orang yang mencuri. (Yusuf: 73) Maksudnya, watak dan tabiat kami bukanlah watak pencuri. Maka para penyeru itu berkata kepada mereka:
{فَمَا
جَزَاؤُهُ}
Tetapi apa balasannya. (Yusuf: 74) Yakni balasan bagi pencuri jika memang ternyata ada di antara kalian.
{إِنْ
كُنْتُمْ كَاذِبِينَ}
jikalau kalian betul-betul pendusta. (Yusuf: 74)Yaitu hukuman apakah yang pantas bagi si pencuri, jika kami menjumpainya ada di antara kalian dan ternyata dia telah mengambilnya?
{قَالُوا
جَزَاؤُهُ مَنْ وُجِدَ فِي رَحْلِهِ فَهُوَ جَزَاؤُهُ كَذَلِكَ نَجْزِي
الظَّالِمِينَ}
Mereka menjawab, "Balasannya ialah pada siapa diketemukan (barang yang
hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya)."
Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim.
(Yusuf: 75)Demikianlah hukum yang berlaku di dalam syariat Nabi Ibrahim a.s., yaitu bahwa si pencuri diserahkan nasibnya kepada orang yang dicuri. Dan hal inilah yang diinginkan oleh Yusuf a.s. Untuk menyembunyikan tujuannya, Yusuf memulai pemeriksaan terhadap karung-karung mereka sebelum karung milik saudara sekandungnya.
{ثُمَّ
اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ}
kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya.
(Yusuf: 76)Dan Yusuf menetapkan hukum atas mereka berdasarkan pengakuan dan ketetapan mereka sendiri, serta sekaligus mengharuskan bagi mereka menuruti ketentuan hukum yang diyakini oleh mereka (yaitu syariat Nabi Ibrahim a.s.). Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{كَذَلِكَ
كِدْنَا لِيُوسُفَ}
Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. (Yusuf:
76)Cara ini merupakan tipu muslihat yang disukai dan diridai Allah, karena mengandung hikmah dan maslahat yang diperlukan.
Firman Allah Swt.:
{مَا
كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ}
Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja.
(Yusuf: 76)Artinya, hukuman yang dijatuhkan oleh Yusuf terhadap saudaranya bukanlah berdasarkan undang-undang raja yang berlaku. Demikianlah menurut Ad-Dahhak dan lain-lainnya. Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi Yusuf agar memberikan keputusan terhadap saudara-saudaranya dengan keputusan yang mereka ketahui dari syariat mereka. Atas hal itu dalam firman selanjutnya dipuji oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:
{نَرْفَعُ
دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ}
Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki. (Yusuf: 76) Ayat ini semisal dengan firman Allah Swt. dalam ayat lainnya:
{يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ}
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Al-Mujadilah:
11)Adapun firman Allah Swt.:
{وَفَوْقَ
كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ}
dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha
Mengetahui. (Yusuf: 76)Al-Hasan Al-Basri mengatakan, tiada seorang alim pun melainkan di atasnya ada orang yang lebih alim lagi, hingga hal ini berakhir sampai kepada Allah Swt.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Sufyan As-Sauri, dari Abdul A'Ia As-Sa'Iabi, dari Sa'id ibnu Jubair yang menceritakan, "Ketika kami sedang berada di hadapan Ibnu Abbas, maka Ibnu Abbas menceritakan suatu hadis yang menakjubkan. Kemudian ada seorang lelaki yang karena takjubnya lalu berkata, 'Segala puji bagi Allah, di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang lebih alim (daripadanya).' Ibnu Abbas berkata, 'Seburuk-buruk ucapan adalah apa yang kamu katakan. Maksudnya Allah Maha Mengetahui di atas semua orang yang berpengetahuan'."
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. (Yusuf: 76) Maksudnya, orang ini lebih alim (berpengetahuan) daripada yang lainnya; dan ada lagi yang lebih berpengetahuan darinya, sedangkan Allah di atas semua orang yang berpengetahuan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. (Yusuf: 76) hingga pengetahuan ini sampai kepada Allah, dan hanya dari Allah-lah pengetahuan itu, lalu dipelajari oleh para ulama; dan hanya kepada-Nyalah ilmu pengetahuan kembali.
Menurut qiraat sahabat Abdullah ibnu Mas'ud disebutkan wafauqa kulli alimin 'alim, yang artinya 'dan di atas tiap-tiap orang yang alim ada lagi Yang Mahaalim'.
{قَالُوا
إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي
نَفْسِهِ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْ قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ
أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ (77) }
Mereka berkata, "Jika ia mencuri, maka
sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya, sebelum itu.” Maka Yusuf
menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada
mereka. Dia berkata (dalam hatinya),
"Kalian lebih buruk kedudukan kalian (sifat-sifat kalian) dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kalian terangkan itu.”Ketika saudara-saudara Yusuf melihat piala raja dikeluarkan dari karung milik Bunyamin, berkatalah mereka:
{إِنْ
يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ}
Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya
sebelum itu. (Yusuf: 77)Mereka membela dirinya di hadapan Aziz dan membersihkan diri mereka dari ketularan sifat mencuri. Mereka menyebutkan pula bahwa perbuatan ini pernah dilakukan oleh saudara sekandungnya sebelum itu. Yang mereka maksudkan adalah Yusuf a.s.
Sa'id ibnu Jubair telah meriwayatkan dari Qatadah, bahwa dahulu Yusuf pernah mencuri sebuah berhala milik kakeknya dari pihak ibu, lalu berhala itu ia pecahkan.
Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid yang mengatakan, "Menurut berita yang sampai kepadaku, mula-mula musibah (cobaan) yang menimpa diri Yusuf ialah disebabkan bibinya, yaitu anak perempuan Nabi Ishaq. Bibinya itu adalah anak tertua Nabi Ishaq, dialah yang memiliki ikat pinggang Nabi Ishaq. Mereka mewarisinya secara turun-menurun bagi orang yang paling tua di antara mereka. Dan tersebutlah bahwa Yusuf dituduh menyimpan ikat pinggang itu dari bibi yang memeliharanya, sehingga dirinya menjadi milik bibinya yang memperlakukannya menurut apa yang dikehendakinya.
Tersebutlah bahwa ketika Ya'qub mempunyai anak (yaitu Yusuf), Yusuf dipelihara oleh bibinya yang mencintainya dengan kecintaan yang sangat mendalam. Selang beberapa tahun kemudian, ketika Yusuf tumbuh bertambah besar, maka Ya'qub merasa rindu kepada Yusuf. Lalu ia datang untuk mengambil Yusuf dan berkata, 'Wahai saudara perempuanku, kembalikanlah Yusuf kepadaku. Demi Allah, aku tidak kuat lagi berpisah dengannya barang sesaat pun.' Bibi Yusuf menjawab, 'Demi Allah, aku tidak akan membiarkannya terlepas dariku.' Kemudian bibi Yusuf berkata, 'Biarkanlah Yusuf berada di rumahku beberapa hari lagi, aku akan mempertimbangkannya, barangkali saja pendapatku berubah.' atau alasan lainnya.
Setelah Ya'qub keluar dari rumah bibi Yusuf, maka dengan sengaja bibi Yusuf mengambil ikat pinggang Nabi Ishaq, lalu ia ikatkan di pinggang Yusuf, di bawah bajunya. Setelah itu ia berpura-pura merasa kehilangan ikat pinggang Ishaq, lalu ia memerintahkan kepada semua orang untuk mencari siapa orang yang mengambilnya.
Bibi Yusuf berpura-pura sibuk mencari-cari ikat pinggang itu, lalu ia berkata, 'Periksalah semua ahli bait.' Lalu mereka memeriksa semua ahli bait, dan ternyata mereka mendapatkan ikat pinggang itu ada pada Yusuf. Maka bibi Yusuf berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya Yusuf sejak sekarang telah menjadi milikku, aku menguasainya sepenuhnya menurut apa yang aku kehendaki.'
Ketika Ya'qub datang berkunjung kepada bibi Yusuf dan bibi Yusuf menceritakan peristiwa itu (yang direkayasa olehnya), maka Ya'qub berkata kepada saudara perempuannya, 'Jika dia memang mengambilnya, maka dia diserahkan kepadamu secara utuh, aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain itu.' Maka bibi Yusuf memegang Yusuf, dan Ya'qub tidak mempunyai kekuasaan apa pun untuk merenggut Yusuf dari tangan bibinya, hingga bibinya meninggal dunia. Setelah itu barulah Yusuf kembali kepada ayahnya.
Mujahid mengatakan bahwa hal itulah yang dimaksud oleh saudara-saudara Yusuf dalam pembelaan diri mereka di saat saudara mereka dituduh mencuri. Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu. (Yusuf: 77)
*******************
Adapun firman Allah Swt. yang mengatakan:
{فَأَسَرَّهَا
يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ}
Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelannya itu pada dirinya. (Yusuf:
77)Yakni ungkapan rasa kejengkelannya yang disebutkan dalam firman selanjutnya, yaitu:
{أَنْتُمْ
شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ}
Kalian lebih buruk kedudukan kalian (sifat-sifat kalian) dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kalian terangkan itu. (Yusuf: 77)Artinya, Allah Maha Mengetahui hakikat dari apa yang kalian sebutkan itu. Yusuf mengatakan kalimat ini hanya dalam hatinya, tidak mengucapkannya kepada mereka. Hal ini termasuk ke dalam Bab "Idmar" (menyembunyikan sesuatu) sebelum mengungkapkannya. Hal seperti ini banyak didapat, antara lain dalam perkataan seorang penyair:
جَزَى
بَنُوه أَبَا الْغَيْلَانِ عَنِ كبَرٍ ...
وحسْن فِعْلٍ كَمَا يُجزَى سِنِمَّارُ
Semoga Abul Gailan dibalas oleh
anak-anaknya di masa tuanya dengan perlakuan yang baik sebagaimana Sinimmar
mendapat balasan.
Hal ini banyak dalil yang menguatkannya di dalam Al-Qur'an, hadis, dan
lugat (bahasa), baik yang berupa syair, prosa, maupun kisah-kisah
mereka.Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya. (Yusuf: 77) Maksudnya, Yusuf menyimpan kata-kata berikut di dalam hatinya, yaitu yang disebutkan oleh firman Allah Swt.: "Kalian lebih buruk kedudukan kalian (sifat-sifat kalian), dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian terangkan itu." (Yusuf: 77)
{قَالُوا
يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا
مَكَانَهُ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (78) قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ
نَأْخُذَ إِلا مَنْ وَجَدْنَا مَتَاعَنَا عِنْدَهُ إِنَّا إِذًا لَظَالِمُونَ (79)
}
Mereka berkata, "Wahai Al-Aziz, sesungguhnya ia
mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang
dari kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang
yang berbuat baik.” Berkata Yusuf, "Aku mohon perlindungan kepada Allah dari
menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya,
jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang
zalim."Setelah terbukti kesalahan Bunyamin dan telah ditetapkan ia harus ditinggalkan pada Yusuf sesuai dengan pengakuan mereka, maka mereka meminta belas kasihan kepada Yusuf agar Bunyamin dilepaskan:
{قَالُوا
يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا}
Mereka berkata, "Wahai Al-Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah
lanjut usianya.” (Yusuf: 78)Mereka bermaksud bahwa ayah mereka sangat mencintainya dan menjadikannya sebagai hiburannya dan pelampiasan kerinduannya terhadap anaknya yang lain yang hilang.
{فَخُذْ
أَحَدَنَا مَكَانَهُ}
lantaran itu ambillah salah seorang dari kami sebagai gantinya.
(Yusuf: 78)Yakni sebagai gantinya untuk ditahan olehmu.
{إِنَّا
نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ}
sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik.
(Yusuf: 78)Yaitu orang yang adil, penyantun lagi menerima perkara yang baik.
{قَالَ
مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلا مَنْ وَجَدْنَا مَتَاعَنَا
عِنْدَهُ}
Berkata Yusuf, "Aku mohon perlindungan kepada Allah dari menahan seorang,
kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya.” (Yusuf: 79)Seperti yang kalian katakan dan kalian akui sebelumnya.
{إِنَّا
إِذًا لَظَالِمُونَ}
jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami termasuk orang-orang
yang berbuat zalim. (Yusuf: 79)Yakni jika kami mengambil orang yang tidak bersalah sebagai ganti dari orang yang bersalah, berarti kami benar-benar orang yang zalim.
{فَلَمَّا
اسْتَيْأَسُوا مِنْهُ خَلَصُوا نَجِيًّا قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ
أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا
فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ فَلَنْ أَبْرَحَ الأرْضَ حَتَّى يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ
يَحْكُمَ اللَّهُ لِي وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ (80) ارْجِعُوا إِلَى أَبِيكُمْ
فَقُولُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلا بِمَا عَلِمْنَا
وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ (81) وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا
فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا وَإِنَّا لَصَادِقُونَ (82)
}
Maka tatkala mereka berputus asa dari
(putusan) Yusuf, mereka menyendiri
sambil berunding dengan bisik-bisik. Berkatalah yang tertua di antara mereka,
"Tidakkah kalian ketahui bahwa sesungguhnya ayah kalian telah mengambil janji
dari kalian dengan nama Allah dan sebelum itu kalian telah menyia-nyiakan Yusuf.
Sebab itu, aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan
kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan
Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” Kembalilah kepada ayah kalian dan
katakanlah, "Wahai ayah kami, sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya
menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga
(mengetahui) hal yang gaib. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang
kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya
kami adalah orang-orang yang benar.”Allah Swt. menceritakan bahwa setelah saudara-saudara Yusuf putus asa dalam upaya mereka menyelamatkan saudara mereka Bunyamin, padahal sebelum itu mereka telah berjanji kepada ayah mereka bahwa mereka akan membawanya pulang kembali bersama-sama mereka, dan mereka bersumpah dengan nama Allah untuk itu. Usaha mereka ditolak, lalu:
{خَلَصُوا}
mereka menyendiri. (Yusuf: 80) Maksudnya, mereka memisahkan diri dari orang-orang.
{نَجِيًّا}
sambil berunding dengan berbisik-bisik. (Yusuf: 80) Yakni mereka berbisik-bisik di antara sesama mereka.
{قَالَ
كَبِيرُهُمْ}
Berkatalah yang tertua di antara mereka. (Yusuf: 80)Dia adalah Rubel. Menurut pendapat lain, dia adalah Yahuza; dialah yang mengisyaratkan kepada mereka agar melemparkan Yusuf ke dalam sumur ketika mereka berniat hendak membunuhnya. Ia berkata kepada mereka:
{أَلَمْ
تَعْلَمُوا أَنَّ أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ
اللَّهِ}
Tidakkah kalian ketahui bahwa sesungguhnya ayah kalian telah mengambil
janji dari kalian dengan nama Allah. (Yusuf: 80)bahwa sesungguhnya kalian benar-benar akan membawa Bunyamin pulang kembali kepadanya. Dan sekarang telah kalian alami sendiri bagaimana kalian telah berusaha, tetapi tetap tidak berhasil, padahal sebelumnya kalian telah menyia-nyiakan Yusuf dan memisahkannya dari dia.
{فَلَنْ
أَبْرَحَ الأرْضَ}
Sebab itu, aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir. (Yusuf: 80) Artinya, aku tidak akan meninggalkan negeri ini.
{حَتَّى
يَأْذَنَ لِي أَبِي}
sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali). (Yusuf: 80) Yakni untuk kembali kepadanya dalam keadaan rela kepadaku.
{أَوْ
يَحْكُمَ اللَّهُ لِي}
atau Allah memberi keputusan terhadapku. (Yusuf: 80)Menurut suatu pendapat adalah dijatuhi hukuman mati dengan pedang. Sedangkan menurut pendapat lainnya, Allah memberikan kemampuan kepadaku untuk mengambil saudaraku pulang.
{وَهُوَ
خَيْرُ الْحَاكِمِينَ}
Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (Yusuf: 80)Kemudian saudara tertua mereka memerintahkan kepada mereka untuk menceritakan semua yang terjadi kepada ayah mereka, sehingga mereka mempunyai alasan di hadapannya, sekaligus untuk membela diri mereka dan membersihkan nama mereka dari apa yang terjadi melalui ucapan mereka.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَمَا
كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ}
dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) hal yang
gaib. (Yusuf: 81)Qatadah dan Ikrimah mengatakan, maksudnya adalah 'kami tidak mengetahui bahwa anakmu mencuri'. Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa 'kami tidak mengetahui di belakang kami bahwa dia (Bunyamin) mencuri sesuatu. Sesungguhnya kami hanya menanyakan apakah balasan bagi pencuri itu.'
{وَاسْأَلِ
الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا}
Dan tanyakanlah (penduduk) negeri yang kami berada di situ.
(Yusuf: 82)Menurut Qatadah, yang dimaksud adalah negeri Mesir. Menurut pendapat lain adalah yang lainnya.
{وَالْعِيرَ
الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا}
dan kafilah yang kami datang bersamanya. (Yusuf: 82)Maksudnya kafilah yang datang bersama kami, yakni tanyakanlah kepada mereka kebenaran dari kisah kami ini dan kepercayaan, penjagaan serta pemeliharaan kami terhadap saudara kami.
{وَإِنَّا
لَصَادِقُونَ}
dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar. (Yusuf: 82)Yaitu dalam kisah kami tentang saudara kami itu, bahwa dia telah mencuri dan mereka menangkapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar