{كَذَلِكَ
نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا
ذِكْرًا (99) مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا
(100) خَالِدِينَ فِيهِ وَسَاءَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِمْلا (101)
}
Demikianlah Kami kisahkan kepadamu
(Muhammad) sebagian kisah umat yang
telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu
peringatan (Al-Qur'an). Barang siapa berpaling dari Al-Qur’an, maka
sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, mereka kelak di
dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari
kiamat.Allah Swt. berfirman kepada Nabi-Nya, bahwa telah Kami ceritakan kepadamu kisah Musa dan semua apa yang terjadi pada dirinya dalam menghadapi Fir'aun dan bala tentaranya, yaitu dengan kisah yang jelas dan sesuai dengan kejadiannya. Begitu pula telah Kami ceritakan kepadamu kisah-kisah masa lalu lainnya sesuai dengan kejadiannya tanpa ada penambahan atau pengurangan, dan ini:
{وَقَدْ
آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا} أَيْ: عِنْدِنَا {ذِكْرًا}
sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan.
(Thaha: 99) Yakni Al-Qur'an yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha-bijaksana lagi Maha Terpuji. Tiada seorang nabi pun sejak mereka diutus hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad Saw. diberi sebuah Kitab yang semisal dengan Al-Qur'an, tiada suatu kitab pun yang lebih sempurna dan lebih mencakup isinya daripada Al-Qur'an. Di dalamnya termuat kisah-kisah terdahulu, kisah masa Al-Qur'an, dan kisah masa mendatang, di dalamnya terkandung pula hukum yang memutuskan di antara manusia.
Firman Allah Swt.:
{مَنْ
أَعْرَضَ عَنْهُ}
Barang siapa berpaling dari Al-Qur’an. (Thaha: 100)Yaitu mendustakannya dan berpaling, tidak mau mengikuti perintah dan larangannya, lalu ia mencari petunjuk dari selain Al-Qur'an, maka sesungguhnya Allah akan menyesalkannya dan menuntunnya ke jalan yang menjerumuskannya ke dalam neraka Jahim. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{مَنْ
أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا}
Barang siapa berpaling dari Al-Qur’an, maka sesungguhnya ia akan memikul
dosa yang besar di hari kiamat. (Thaha: 100)Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman lainnya yang mengatakan:
{وَمَنْ
يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ}
Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan
sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang
diancamkan baginya. (Hud: 17)Makna ayat ini bersifat umum mencakup semua orang yang sampai kepadanya Al-Qur'an, baik dari kalangan orang Arab maupun non-Arab, dan baik dari kalangan ahli kitab maupun lainnya. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{لأنْذِرَكُمْ
بِهِ وَمَنْ بَلَغَ}
supaya dengan Al-Qur’an Aku memberi peringatan kepada kalian dan kepada
orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya). (Al-An'am: 19)Setiap orang yang sampai kepadanya Al-Qur'an, maka Al-Qur'an memberikan peringatan kepadanya dan menyerunya. Maka barang siapa yang mengikutinya akan mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang menentangnya serta berpaling darinya, sesatlah ia dan celakalah ia di dunia ini, dan tempat yang diancamkan baginya kelak di hari kiamat adalah neraka. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{مَنْ
أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا * خَالِدِينَ
فِيهِ}
Barang siapa berpaling dari Al-Qur’an, maka sesungguhnya ia akan memikul
dosa yang besar di hari kiamat, mereka kekal di dalam keadaan itu. (Thaha:
100-101)Artinya tidak ada jalan selamat bagi mereka dari siksa neraka, dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya.
{وَسَاءَ
لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِمْلا}
Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat.
(Thaha: 101)Yakni seburuk-buruk beban adalah beban yang mereka pikul.
{يَوْمَ
يُنْفَخُ فِي الصُّورِ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا (102)
يَتَخَافَتُونَ بَيْنَهُمْ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا عَشْرًا (103) نَحْنُ أَعْلَمُ
بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا
يَوْمًا (104) }
(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup
sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa
dengan muka yang biru muram; mereka berbisik-bisik di antara mereka, "Kalian
tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari).” Kami
lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus
jalannya di antara mereka, "Kalian tidak berdiam (di dunia), melainkan
hanyalah sehari saja.”Telah disebutkan di dalam sebuah hadis, bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang as-sur atau sangkakala ini. Maka beliau menjawab:
"قَرنٌ
يُنفَخ فِيهِ"
Seperti sebuah tanduk yang dapat ditiupDi dalam hadis mengenai sangkakala ini yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., disebutkan bahwa sur adalah tanduk (terompet yang berbentuk tanduk) yang sangat besar. Garis tengahnya sama dengan luasnya langit dan bumi, Malaikat Israfillah yang ditugaskan untuk meniupnya. Di dalam hadis lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
"كَيْفَ
أنعَمُ وَصَاحِبُ القَرْن قَدِ الْتَقَمَ القَرْن، وَحَنَى جَبْهَتَهُ، وَانْتَظَرَ
أَنْ يُؤْذَنَ لَهُ" فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ نَقُولُ؟ قَالَ:
"قُولُوا: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، عَلَى اللَّهِ
تَوَكَّلْنَا"
Bagaimana aku dapat bersenang-senang, sedangkan malaikat yang ditugaskan
meniup sangkakala telah meletakkan sangkakala pada mulutnya dan mengernyitkan
dahinya siap melakukan tiupan sambil menunggu perintah. Para sahabat yang
hadir mengatakan, "Wahai Rasulullah, apakah yang harus kami ucapkan?" Rasulullah
Saw. menjawab: Katakanlah oleh kalian, "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami
dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, hanya kepada Allah-lah kami bertawakal
(berserah diri)."
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَنَحْشُرُ
الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا}
dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa
dengan muka yang biru muram. (Thaha: 102)Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah mata mereka biru karena kerasnya kengerian yang dialami oleh mereka di hari itu.
{يَتَخَافَتُونَ
بَيْنَهُمْ}
mereka berbisik-bisik di antara mereka. (Thaha: 103)Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka saling berbisik di antara sesamanya. Mereka mengatakan kalimat berikut:
{إِنْ
لَبِثْتُمْ إِلا عَشْرًا}
Kalian tidak berdiam melainkan hanyalah sepuluh (hari). (Thaha:
103)Yakni masa tinggal kalian di dunia hanya sebentar, yaitu sepuluh hari atau yang semisal dengannya. Lalu Allah Swt. berfirman:
{نَحْنُ
أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ}
Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan. (Thaha: 104) Saat mereka melakukan bisik-bisik di antara sesama mereka,
{إِذْ
يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً}
ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka.
(Thaha: 104)Makna yang dimaksud ialah orang yang paling sehat akalnya di antara mereka.
{إِنْ
لَبِثْتُمْ إِلا يَوْمًا}
Kalian tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari saja.
(Thaha: 104)karena pendeknya masa hidup di dunia menurut mereka di hari kiamat itu. Kehidupan di dunia ini, sekalipun waktunya terus berulang dan silih berganti malam dan siang harinya, keadaannya seakan-akan sama dengan satu hari. Karena itulah orang-orang kafir pada hari kiamat nanti merasa kehidupan mereka di dunia sangat pendek. Tujuan mereka mengatakan demikian ialah untuk menolak tegaknya hujah terhadap diri mereka, yaitu dengan mengemukakan alasan bahwa masa hidup mereka di dunia amatlah pendek. Karena itulah disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
{وَيَوْمَ
تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ
سَاعَةٍ}
Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa,
bahwa mereka tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sesaat (Ar-Rum:
55)sampai dengan firman-Nya:
وَلَكِنَّكُمْ
كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
akan tetapi kamu sekalian selalu tidak meyakini{nya). (Ar-Rum: 56)
Demikian pula firman Allah Swt. yang mengatakan:
{أَوَلَمْ
نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ
فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ}
Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur kalian dengan masa yang cukup
untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang
kepada kalian pemberi peringatan? (Fathir: 37), hingga akhir ayat.Dan firman Allah Swt.:
{كَمْ
لَبِثْتُمْ فِي الأرْضِ عَدَدَ سِنِينَ * قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ
يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ * قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا قَلِيلا لَوْ
أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ}
Berapa tahunkah lamanya kalian tinggal di bumi? Mereka menjawab, "Kami
tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada
orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman, "Kalian tidak tinggal (di
bumi) melainkan sebentar saja, kalau kalian sesungguhnya mengetahui.”
(Al-Mu’minun : 112-114)Yakni sesungguhnya masa tinggal kalian di dunia hanyalah sebentar. Kalau kalian sesungguhnya mengetahui, tentulah kalian akan memilih kehidupan yang kekal daripada kehidupan yang fana. Tetapi kalian telah diberi kebebasan untuk memilih, dan ternyata kalian salah memilih karena kalian lebih memprioritaskan kehidupan yang fana dan melalaikan kehidupan yang kekal dan abadi.
{وَيَسْأَلُونَكَ
عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا (105) فَيَذَرُهَا قَاعًا
صَفْصَفًا (106) لَا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلا أَمْتًا (107) يَوْمَئِذٍ
يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلا
تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا (108) }
Dan mereka bertanya kepadamu tentang
gunung-gunung, maka katakanlah, "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan
menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit
pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi. Pada hari
itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak
berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka
kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.Firman Allah Swt.:
{وَيَسْأَلُونَكَ
عَنِ الْجِبَالِ}
Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung. (Thaha: 105)apakah gunung-gunung itu masih tetap ada kelak di hari kiamat, ataukah akan lenyap?
{فَقُلْ
يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا}
maka katakanlah, "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat)
dengan sehancur-hancurnya. (Thaha: 105)Maksudnya, Allah melenyapkan dari tempatnya dan menghancurkannya serta menghambur-hamburkannya dengan sehambur-hamburnya.
{فَيَذَرُهَا قَاعًا
صَفْصَفًا}
maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama
sekali. (Thaha: 106)Yaitu bumi menjadi hamparan yang rata seluruhnya, seakan-akan menjadi satu hamparan. Al-qa' artinya tanah rata, sedangkan safsaf mempunyai arti yang sama untuk menguatkannya. Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah tanah yang tiada tumbuh-tumbuhannya. Tetapi makna pendapat yang pertama lebih baik, sekalipun makna pendapat yang kedua juga termasuk ke dalam pengertiannya secara tidak langsung. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{لَا
تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلا أَمْتًا}
tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang
tinggi-tinggi. (Thaha: 107)Yakni pada hari itu kamu tidak akan melihat di bumi suatu lembah pun, tidak pula suatu dataran tinggi pun; tiada tempat yang rendah, tiada pula tempat yang tinggi, semuanya rata dan datar. Demikianlah menurut pendapat Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, Al-Hasan Al-Basri, Ad-Dahhak, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf.
{يَوْمَئِذٍ
يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُ}
Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru
dengan tidak berbelok-belok. (Thaha: 108)Yakni di hari mereka menyaksikan keadaan dan huru-hara hari kiamat ini, mereka bersegera memenuhi seruan yang memanggil mereka. Ke mana pun seruan itu memerintahkan kepada mereka, maka mereka segera menurutinya. Seandainya ketaatan seperti itu dilakukan oleh mereka ketika hidup di dunia, tentulah membawa manfaat bagi mereka. Tetapi nasi telah menjadi bubur, hal itu tiada manfaatnya bagi mereka. Hal yang sama telah disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:
{أَسْمِعْ
بِهِمْ وَأَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنَا}
Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan
mereka pada hari mereka datang kepada kami. (Maryam: 38)Dan firman Allah Swt. yang mengatakan:
{مُهْطِعِينَ
إِلَى الدَّاعِ}
mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. (Al-Qamar: 8)Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan bahwa kelak di hari kiamat Allah menggiring manusia dalam kegelapan, langit telah digulung, bintang-bintang berhamburan, dan matahari serta rembulan telah lenyap. Lalu terdengarlah suara seruan (yang menyeru manusia), maka manusia pun mengikutinya dengan taat. Yang demikian itu disebutkan di dalam firman Allah Swt.: Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok, (Thaha: 108)
Menurut Qatadah, makna yang dimaksud ialah mereka tidak menyimpang dari perintah seruan. Menurut Abu Saleh, tidak berbelok-belok.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَخَشَعَتِ
الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ}
dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Thaha:
108)Ibnu Abbas mengatakan bahwa semuanya diam, tiada yang bersuara. Hal yang sama dikatakan oleh As-Saddi.
{فَلا
تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا}
maka kamu tidak mendengar kecuali hanya bisikan saja. (Thaha: 108)Sa'id ibnu Jubair telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan hams ialah suara langkah. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah, Mujahid, Ad-Dahhak, Ar-Rabi' ibnu Abas, Qatadah, Ibnu Zaid, dan lain-lainnya.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. (Thaha: 108) Yakni suara bisikan, dan itu adalah riwayat yang bersumber dari Ikrimah dan Ad-Dahhak.
Sa'id ibnu Jubair telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. (Thaha: 108) Yakni suara bisikan dan suara langkah kaki.
Sa'id menggabungkan kedua takwil tersebut, dan itu bisa saja terjadi. Yang dimaksud dengan langkah kaki ialah suara langkah manusia ketika menuju ke Padang Mahsyar, mereka berjalan dengan tenang dan merendahkan diri. Adapun yang dimaksud dengan suara bisikan, barangkali terjadi di suatu keadaan tertentu, tidak di semua keadaan saat itu. Sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman:
{يَوْمَ
يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ
وَسَعِيدٌ}
Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara melainkan
dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia.
(Hud: 105)
{يَوْمَئِذٍ
لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا
(109) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِهِ
عِلْمًا (110) وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ
ظُلْمًا (111) وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلا يَخَافُ
ظُلْمًا وَلا هَضْمًا (112) }
Pada hari itu tidak berguna syafaat kecuali
(syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah
telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridai perkataannya. Dia mengetahui
apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan
ilmu mereka tidak meliputi ilmu-Nya. Dan tunduklah semua muka (dengan
berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus
(makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan
kezaliman. Dan barang siapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam
keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil
(terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan
haknya.Firman Allah Swt.:
{يَوْمَئِذٍ}
أَيْ: يَوْمَ الْقِيَامَةِ {لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ} أَيْ: عِنْدَهُ {إِلا مَنْ
أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا}
Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang
Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridai
perkataannya. (Thaha: 109)Yaitu pada hari kiamat itu tiada suatu syafaat pun yang diterima di sisiNya, kecuali pertolongan syafaat dari orang yang telah mendapat izin dari Allah Swt. Yang Maha Pemurah. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{مَنْ
ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ}
Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?
(Al-Baqarah: 255)
{وَكَمْ
مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلا مِنْ بَعْدِ
أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى}
Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak
berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan
diridai-Nya. (An-Najm: 26)
{وَلا
يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى}
dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah
(Al-Anbiya: 28)
{وَلا
تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ}
Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang
telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat (Saba: 23)Dan firman Allah Swt.:
{يَوْمَ
يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ
الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا}
Pada hari ketika roh dan malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak
berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha
Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. (An-Naba: 38)Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui berbagai jalur dari Rasulullah Saw., penghulu anak Adam dan makhluk yang paling mulia, dari Allah Swt. Disebutkan bahwa beliau pernah bersabda:
"آتِي
تَحْتَ الْعَرْشِ، وَأَخِرُّ لِلَّهِ سَاجِدًا، ويَفْتَح عَلَيَّ بِمَحَامِدَ لَا
أُحْصِيهَا الْآنَ، فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَدَعَنِي، ثُمَّ يَقُولُ:
يَا مُحَمَّدُ، ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَقُلْ يُسْمَعْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ". قَالَ:
"فَيَحِدُّ لِي حَدًّا، فَأُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ، ثُمَّ أَعُودُ"،
Aku datang ke bagian bawah 'Arasy dan aku menyungkur bersujud
kepada Allah, lalu Allah mengajariku pujian-pujian yang tidakdapat aku
hitung-hitung jumlahnya sekarang, dan Allah membiarkan aku selama apa yang
dikehendaki-Nya. Setelah itu Allah Swt. berfirman, "Hai Muhammad, angkatlah
mukamu. Berkatalah, pasti di dengar. Dan mintalah syafaat, pasti diberi izin
memberi syafaat.” Lalu Allah memberikan batasan sejumlah tertentu, maka aku
masukkan mereka ke dalam surga, lalu aku meminta lagi.Nabi Saw. dalam hadisnya ini menyebutkan bahwa beliau melakukan hal tersebut sebanyak empat kali. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpahkan kepadanya, juga kepada para nabi lainnya.
Di dalam hadis yang lain disebutkan pula:
يَقُولُ
تَعَالَى: أَخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ
مِنْ إِيمَانٍ، فَيُخْرِجُون خَلْقًا كَثِيرًا، ثُمَّ يَقُولُ: أَخْرِجُوا مِنَ
النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ نِصْفُ مِثْقَالٍ مِنْ إِيمَانٍ، أَخْرِجُوا مِنَ
النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مَا يَزِنُ ذَرَّةً، مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ
أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ"
الْحَدِيثَ
Allah Swt. berfirman, "Keluarkanlah oleh kalian (para malaikat)
dari dalam neraka orang yang di dalam kalbunya terdapat iman sebesar biji
sawi!" Maka keluarlah (dari neraka) sejumlah besar manusia. Kemudian
Allah Swt. berfirman lagi, "Keluarkanlah dari neraka orang yang di dalam
kalbunya terdapat iman sebesar separo biji sawi, dan keluarkanlah dari neraka
orang yang di dalam kalbunya terdapat iman seberat semut yang kecil, dan
(juga) orang yang dalam hatinya terdapat iman yang lebih kecil daripada
semut yang terkecil."
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{يَعْلَمُ
مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ}
Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang
mereka. (Thaha: 110)Artinya, pengetahuan Allah meliputi semua makhluk.
Firman Allah Swt.:
{وَلا
يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا}
sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. (Thaha: 110) Ayat ini semakna dengan firman-Nya:
{وَلا
يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ}
dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang
dikehendaki-(Nya). (Al-Baqarah: 225)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{وَعَنَتِ
الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ}
Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang
Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus makhluk-Nya. (Thaha: 111)Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa semua wajah saat itu tunduk, merasa hina dan berserah diri kepada Tuhannya Yang Mahahidup dan Yang tidak mati lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan tidak tidur; sedangkan Dia terus mengurus segala sesuatu, mengaturnya, dan memeliharanya. Dia adalah Zat Yang Maha Sempurna, segala sesuatu berhajat kepada-Nya karena tidak dapat bertahan kecuali dengan pertolongan-Nya.
Firman Allah Swt.:
{وَقَدْ
خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا}
Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman.
(Thaha: 111)Yakni mereka akan merugi pada hari kiamat, karena sesungguhnya pada hari itu Allah akan menunaikan setiap hak kepada pemiliknya masing-masing, sehingga kambing yang tidak bertanduk membalas kambing yang bertanduk (yang dahulu ketika di dunia pernah menanduknya).
Di dalam sebuah hadis disebutkan:
"يَقُولُ
اللَّهُ تَعَالَى: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي، لَا يُجَاوِزُنِي الْيَوْمَ ظُلْمُ
ظَالِمٍ"
Allah Swt. berfirman,''Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku, pada hari
(kiamat) ini Aku tidak akan melewatkan (pembalasan) suatu
perbuatan zalim pun dari pelakunya.”Di dalam hadis sahih disebutkan:
"إِيَّاكُمْ
وَالظُّلْمَ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ". وَالْخَيْبَةُ
كُلَّ الْخَيْبَةِ مَنْ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ مُشْرِكٌ بِهِ؛ فَإِنَّ اللَّهَ
تَعَالَى يَقُولُ: {إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ}
Janganlah kalian berbuat zalim, karena sesungguhnya perbuatan zalim itu
merupakan kegelapan kelak di hari kiamat. Kekecewaan yang sesungguhnya ialah
bagi orang yang menghadap kepada Allah, sedangkan ia dalam keadaan musyrik
kepada-Nya. Karena sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman, "Sesungguhnya
perbuatan syirik itu benar-benar perbuatan zalim (dosa) yang
besar.”
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَمَنْ
يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلا يَخَافُ ظُلْمًا وَلا
هَضْمًا}
Dan barang siapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan
beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya)
dan tidak (pula) akan pengurangan haknya. (Thaha: 112)Setelah menyebutkan perihal orang-orang zalim dan ancaman yang telah dijanjikan buat mereka, kemudian Allah menyebutkan perihal orang-orang yang bertakwa dan nasib mereka, bahwa pahala mereka tidak akan dikurangi, dan haknya tidak pula akan dikurangi. Dengan kata lain, dosa mereka tidak ditambahi, dan kebaikan mereka tidak dikurangi.
Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, Al-Hasan, dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Bahwa makna zalim ialah adanya penambahan, misalnya ditambahkan kepada seseorang dosa dari orang lain. Al-hadm maknanya pengurangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar