تَفْسِيرُ سُورَةِ طه
Makkiyyah, 135 ayat Kecuali ayat
20 dan 121 Madaniyyah Turun sesudah Surat Maryam
Imamul Aimmah Muhammad ibnu Ishaq ibnu Khuzaimah telah meriwayatkan di dalam
Kitdbut Tauhi:
عَنْ
زِيَادِ بْنِ أَيُّوبَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْمُنْذِرِ الحِزَامي، حَدَّثَنَا
إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُهَاجِرِ بْنِ مِسْمَارٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ حَفْصِ بْنِ
ذَكْوَان، عَنْ مَوْلَى الحُرقة -يَعْنِي عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ يَعْقُوبَ -عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " إِنَّ
اللَّهَ قَرَأَ " طه " وَ " يس " قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ آدَمَ بِأَلْفِ عَامٍ،
فَلَمَّا سَمِعَتِ الْمَلَائِكَةُ قَالُوا: طُوبَى لِأَمَةٍ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ
هَذَا وَطُوبَى لِأَجْوَافٍ تَحْمِلُ هَذَا، وَطُوبَى لِأَلْسُنٍ تَتَكَلَّمُ
بِهَذَا "
dari Ziyad ibnu Ayyub, dari Ibrahim ibnul Munzir Al-Khuzami, telah
menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhajir ibnu Mismar, dari Umar ibnu Hafs
ibnuZakwan, dari Maula Al-Harqah (yakni Abdur Rahman ibnu Ya'qub), dari Abu
Hurairah yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Sesungguhnya Allah telah membaca surat Thaha dan surat Yasin seribu tahun
sebelum Dia menciptakan Adam. Ketika para malaikat mendengarnya, mereka
mengatakan, "Beruntunglah bagi umat yang diturunkan kepada mereka surat ini.
Beruntunglah bagi hati-hati yang hafal surat ini, dan beruntunglah bagi
lisan-lisan yang membacanya.”Hadis berpredikat garib, di dalam matanya terdapat nakarah (hal yang tidak dapat diterima), dan Ibrahim ibnu Muhajir serta gurunya banyak dibicarakan oleh ahli hadis akan ke-daif-annya.
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang
{طه
(1) مَا أَنزلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى (2) إِلا تَذْكِرَةً لِمَنْ
يَخْشَى (3) تَنزيلا مِمَّنْ خَلَقَ الأرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلا (4)
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (5) لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي
الأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى (6) وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ
فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى (7) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ
الأسْمَاءُ الْحُسْنَى (8) }
Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini
kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang
takut (kepada Allah), yaitu diturunkan
dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi, (yaitu) Tuhan
Yang Maha Pemurah,. Yang bersemayam di atas Arasy. Kepunyaan-Nyalah semua yang
ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang
di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia
mengetahui rahasia yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan
(yang barhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al-asma-ul husna
(nama-nama yang baik).Pembahasan mengenai huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada permulaan surat-surat Al-Qur'an telah diterangkan di dalam permulaan tafsir surat Al-Baqarah. Jadi tidak perlu diulangi lagi dalam tafsir surat ini.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Muhammad ibnu Syaibah Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Salim Al-Aftas, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Thaha artinya 'hai lelaki!'. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Ata, Muhammad ibnu Ka'b, Abu Malik, Atiyyah Al-Aufi, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, As-Saddi, dan Ibnu Abza. Mereka semua mengatakan bahwa Thaha artinya 'hai lelaki!'.
Menurut riwayat yang lain dari Ibnu Abbas, Sa'id ibnu Jubair, dan As-Sauri, Thaha adalah suatu kalimat dengan bahasa Nabat yang artinya 'hai lelaki'!.
Abu Saleh mengatakan bahwa Thaha adalah kalimat yang telah diarahkan dari bahasa lain.
Al-Qadi Iyad di dalam kitabnya Asy-Syifa telah meriwayatkan melalui jalur Abdu ibnu Humaid di dalam kitab tafsirnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim. Dari Ibnu Ja'far, dari Ar-Rabi' ibnu Anas yang mengatakan bahwa Nabi Saw. apabila hendak salat beliau berdiri dengan satu kaki, sedangkan kaki lainnya diangkat. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Thaha. (Thaha: 1) Yakni hai Muhammad, jejakkanlah kedua kakimu ke bumi. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. (Thaha: 2) Kemudian Al-Qadi Iyad mengatakan, "Tidak samar lagi bahwa sikap tersebut mengandung pengertian yang menunjukkan penghormatan dan etika yang baik."
*******************
Firman Allah Swt.:
{مَا
أَنزلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى}
Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.
(Thaha: 2)Juwaibir telah meriwayatkan dari Ad-Dahhak, bahwa ketika Allah Swt. menurunkan Al-Qur'an kepada Rasul-Nya, dan Rasul beserta para sahabatnya mengamalkannya, maka orang-orang musyrik berkata bahwa tidak sekali-kali Allah menurunkan Al-Qur'an ini kepada Muhammad melainkan agar dia menjadi susah. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut (kepada Allah). (Thaha: 1-3)
Padahal duduk perkara yang sebenarnya tidaklah seperti apa yang didugakan oleh orang-orang yang tidak percaya kepada Al-Qur'an, bahkan barang siapa yang di beri ilmu oleh Allah, maka sesungguhnya Allah menghendaki baginya kebaikan yang banyak, dan ilmu itu adalah wahyu Al-Qur'an. Seperti yang telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Mu'awiyah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda.
"مَنْ
يُرد اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُهُ فِي الدِّينِ".
Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah menjadikannya
pandai dalam agama.Alangkah baiknya hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani sehubungan dengan hal ini. Ia mengatakan:
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ زُهَيْرٍ، حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ بْنُ سَالِمٍ، حَدَّثَنَا
إِبْرَاهِيمُ الطَّالَقَانِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ سُفْيَانَ،
عَنْ سِمَاك بْنِ حَرْبٍ، عَنْ ثَعْلَبَةَ بْنِ الْحَكَمِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم: "يقول اللَّهُ تَعَالَى لِلْعُلَمَاءِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا قَعَدَ عَلَى كُرْسِيِّهِ لِقَضَاءِ عِبَادِهِ: إِنِّي
لَمْ أَجْعَلْ عِلْمِي وَحِكْمَتِي فِيكُمْ إِلَّا وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أَغْفِرَ
لَكُمْ عَلَى مَا كَانَ مِنْكُمْ، وَلَا أُبَالِي"
telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Zuhair, telah menceritakan kepada
kami Al-Ala ibnu Salim, telah menceritakan kepada kami Ibrahim At-Taliqani,
telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, dari Sufyan, dari Sammak ibnu
Harb, dari Sa'labah ibnul Hakam yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah
bersabda: Allah Swt. berfirman kepada para ulama kelak di hari kiamat, yaitu
bilamana Dia telah duduk di atas Kursi-Nya untuk menjalankan peradilan terhadap
hamba-hamba-Nya, "Sesungguhnya Aku tidak sekali-kali menganugerahkan ilmu dan
hikmah-Ku kepada kalian, melainkan dengan maksud Aku hendak memberikan ampunan
kepada kalian terhadap semua (dosa) yang kalian lakukan tanpa
peduli.”Sanad hadis berpredikat jayyid (baik), dan Sa'labah ibnul Hakam yang disebutkan dalam sanad hadis adalah Al-Laisi, disebutkan dengan sebutan yang baik oleh Abu Amr di dalam kitab Isti'ab-nya. Ia mengatakan bahwa ia tinggal di Basrah, kemudian pindah ke Kufah; dan telah mengambil riwayat darinya Sammak ibnu Harb.
Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. (Thaha: 2) Ayat ini semakna dengan firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:
{فَاقْرَءُوا
مَا تَيَسَّرَ مِنَ}
karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.
(Al-Muzzammil: 20)Tersebutlah bahwa sebelumnya mereka menggantungkan tali pada dada mereka dalam salatnya (agar jangan mengantuk).
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. (Thaha: 2) Tidak, demi Allah, Allah tidak menjadikan Al-Qur'an baginya sebagai kesusahan. Tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat, cahaya, dan petunjuk ke surga.
{إِلا
تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى}
tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).
(Thaha: 3)Sesungguhnya Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an)-Nya dan mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat buat hamba-hamba-Nya, agar orang ingat kepada-Nya, dan mengambil manfaat dari apa yang ia dengar dari Kitabullah. Al-Qur'an adalah peringatan yang diturunkan oleh Allah, di dalamnya disebutkan halal dan haram.
*******************
Firman Allah Swt.:
{تَنزيلا
مِمَّنْ خَلَقَ الأرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلا}
yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.
(Thaha: 4)Al-Qur'an yang diturunkan kepadamu, hai Muhammad, adalah dari Tuhanmu, Tuhan segala sesuatu dan Yang Memilikinya serta Yang Mahakuasa atas apa yang dikehendaki-Nya. Dialah yang menciptakan bumi yang datar lagi padat (tebal), dan Dialah yang menciptakan langit yang tinggi lagi lembut (tidak kelihatan)
Di dalam hadis yang dinilai sahih oleh Imam Turmuzi dan lain-lainnya disebutkan bahwa ketebalan setiap langit sama dengan jarak perjalanan lima ratus tahun. Dan antara permukaan suatu langit ke langit yang lainnya sama dengan jarak perjalanan lima ratus tahun.
Ibnu Abu Hatim dalam bab ini telah mengetengahkan Hadisul Au’lai melalui riwayat Al-Abbas, paman Rasulullah.
*******************
Firman Allah Swt.:
{الرَّحْمَنُ
عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah Yang istiwa di atas 'Arasy. (Thaha:
5)Mengenai pembahasan makna istiwa telah disebutkan di dalam surat Al-A'raf, sehingga tidak perlu diulangi lagi dalam surat ini. Dan pemahaman yang lebih aman dalam mengartikan makna lafaz ini (yang menurut makna asalnya ialah bersemayam) adalah menurut pemahaman ulama Salaf, yaitu memberlakukan makna hal yang seperti ini dari KitabulIah maupun sunnah Rasul Saw. dengan pengertian yang tidak dibarengi dengan penggambaran, tidak diselewengkan, tidak diserupakan, tidak dikurangi, tidak pula dimisalkan.
*******************
Firman Allah Swt.:
{لَهُ
مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ
الثَّرَى}
Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit dan yang di bumi, semua yang di
antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Thaha: 6)Yakni semua adalah milik Allah, berada dalam genggaman kekuasaanNya, dan berada dalam pengaturan-Nya, kehendak dan keinginan serta hukum-Nya. Dialah Yang Menciptakan semuanya, Yang Memilikinya, dan yang menjadi Tuhannya; tiada Tuhan selain Dia.
Firman Allah Swt.:
{وَمَا
تَحْتَ الثَّرَى}
dan semua yang di bawah tanah. (Thaha: 6)Muhammad ibnu Ka'b mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah semua yang ada di bawah bumi lapis ketujuh.
Al-Auza'i mengatakan, sesungguhnya Yahya ibnu Abu Kasir pernah menceritakan kepadanya bahwa Ka'b pernah ditanya, "Apakah yang ada di bawah bumi ini?" Ka'b menjawab, "Air." Ditanyakan lagi, "Apakah yang ada di bawah air?" Ka'b menjawab.”Tanah." Ditanyakan lagi.”Apakah yang ada di bawah tanah?" Ka'b menjawab, "Air." Ditanyakan lagi, "Apakah yang ada di bawah air?" Ka'b menjawab, "Tanah." Ditanyakan lagi, "Apakah yang ada di bawah tanah?" Ka'b menjawab, "Air." Ditanyakan lagi, "Apakah yang ada di bawah air?" Ka'b menjawab, "Tanah." Ditanyakan lagi, "Apakah yang ada di bawah tanah?" Ka'b menjawab, "Air." Ditanyakan lagi, "Apakah yang ada di bawah air?" Ka'b menjawab, "Tanah." Ditanyakan lagi, "Apakah yang ada di bawah tanah?" Ka'b menjawab, "Batu besar." Ditanyakan lagi, "Apakah yang ada di bawah batu besar?" Ka'b menjawab, "Malaikat". Ditanyakan lagi, "Apakah yang ada di bawah Malaikat?" Ka'b menjawab, "Ikan yang menggantungkan buntutnya ke ' Arasy." Ditanyakan lagi, "Apakah yang ada di bawah ikan itu?" Ka'b menjawab, "Udara dan kegelapan," lalu terputuslah pengetahuannya sampai di sini.
قَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدِ الله بن أخي بن وَهْبٍ، حَدَّثَنَا
عَمِّي، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَيَّاش، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
سُلَيْمَانَ عَنْ دَرَّاج، عَنْ عِيسَى بْنِ هِلَالٍ الصَّدَفي، عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: "إِنَّ الْأَرَضِينَ بَيْنَ كُلِّ أَرْضٍ وَالَّتِي تَلِيهَا مَسِيرَةُ
خَمْسِمِائَةِ عَامٍ، وَالْعُلْيَا مِنْهَا عَلَى ظَهْرِ حُوتٍ، قَدِ الْتَقَى
طَرَفَاهُ فِي السَّمَاءِ، وَالْحُوتُ عَلَى صَخْرَةٍ، وَالصَّخْرَةُ بِيَدِ
الْمَلَكِ، وَالثَّانِيَةُ سِجْنُ الرِّيحِ، وَالثَّالِثَةُ فِيهَا حِجَارَةُ
جَهَنَّمَ، وَالرَّابِعَةُ فِيهَا كِبْرِيتُ جَهَنَّمَ، وَالْخَامِسَةُ فِيهَا
حَيَّاتُ جَهَنَّمَ وَالسَّادِسَةُ فِيهَا عَقَارِبُ جَهَنَّمَ، وَالسَّابِعَةُ
فِيهَا سَقَر، وَفِيهَا إِبْلِيسُ مُصَفّد بالحديد، يد أمامه ويد
خلفه، فَإِذَا
أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يُطْلِقَهُ لِمَا يَشَاءُ أَطْلَقُهُ"
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidillah
keponakanku, telah menceritakan kepada kami pamanku, telah menceritakan kepada
kami Abdullah ibnu Ayyasy, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu
Sulaiman, dari Darij, dari Isa ibnu Hilal As-Sadfi, dari Abdullah ibnu Amr yang
mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Sesungguhnya bumi itu
berlapis-lapis; jarak antara satu lapis dengan lapis lainnya sama dengan
perjalanan lima ratus tahun. Lapisan yang paling atas darinya berada di atas
punggung ikan besar yang kedua sisinya (ekor dan kepalanya) bertemu di langit,
sedangkan ikan itu berada di atas batu yang mahabesar, dan batu besar berada di
tangan malaikat. Lapis yang kedua adalah tempat penahanan angin, lapis yang
ketiga mengandung batu-batuan Jahanam, lapis yang keempat mengandung kibrit
(fosfor) neraka Jahanam, lapis yang kelima dihuni oleh ular-ular Jahanam, lapis
yang keenam dihuni oleh kalajengking Jahanam, dan lapis yang ketujuh terdapat
saqar dan juga iblis yang dibelenggu dengan besi; salah satu dari tangannya
dikedepankan, sedangkan yang satunya lagi dikebelakangkan; apabila Allah
bermaksud melepaskannya untuk sesuatu yang dikehendaki-Nya, maka Dia
melepaskannya."Hadis ini berpredikat garib sekali. Mengenai predikat marfu'-nya masih diragukan.
قَالَ
الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى فِي مُسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْهَرَوِيُّ،
عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ الْفَضْلِ [قَالَ] : قُلْتُ: ابْنُ الْفَضْلِ
الْأَنْصَارِيُّ؟ قَالَ: نَعَمْ، [عَنِ الْقَاسِمِ] بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ
مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كُنْتُ مَعَ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ،
فَأَقْبَلْنَا رَاجِعِينَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ، فَنَحْنُ مُتَفَرِّقُونَ بَيْنَ
وَاحِدٍ وَاثْنَيْنِ، مُنْتَشِرِينَ، قَالَ: وَكُنْتُ فِي أَوَّلِ الْعَسْكَرِ:
إِذْ عَارَضَنَا رَجُلٌ فَسَلّم ثُمَّ قَالَ: أَيُّكُمْ مُحَمَّدٌ؟ وَمَضَى
أَصْحَابِي وَوَقَفْتُ مَعَهُ، فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قد أَقْبَلَ فِي وَسَطِ العَسْكَر عَلَى جَمَلٍ أَحْمَرَ، مُقَنَّع
بِثَوْبِهِ عَلَى رَأْسِهِ مِنَ الشَّمْسِ، فَقُلْتُ: أَيُّهَا السَّائِلُ، هَذَا
رَسُولُ اللَّهِ قَدْ أَتَاكَ. فَقَالَ: أَيُّهُمْ هُوَ؟ فَقُلْتُ: صَاحِبُ البَكْر
الْأَحْمَرِ. فَدَنَا مِنْهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِ رَاحِلَتِهُ، فَكَفَّ عَلَيْهِ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقال: أَنْتَ مُحَمَّدٌ؟
قَالَ: "نَعَمْ". قَالَ: إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَسْأَلَكَ عَنْ خِصَالٍ، لَا
يَعْلَمُهُنَّ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ إِلَّا رَجُلٌ أَوْ رَجُلَانِ، فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "سَلْ عَمَّا شِئْتَ".
فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَيَنَامُ النَّبِيُّ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "تَنَامُ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ". قَالَ:
صَدَقْتَ. ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مِنْ أَيْنَ يُشْبِهُ الْوَلَدُ أَبَاهُ
وَأُمَّهُ؟ قَالَ مَاءَ الرَّجُلِ أَبْيَضُ غَلِيظٌ، وَمَاءُ الْمَرْأَةِ أَصْفَرُ
رَقِيقٌ، فَأَيُّ الْمَاءَيْنِ غَلَبَ عَلَى الْآخَرِ نَزَعَ الْوَلَدُ". فَقَالَ
صَدَقْتَ. فَقَالَ: مَا لِلرَّجُلِ مِنَ الْوَلَدِ وَمَا لِلْمَرْأَةِ مِنْهُ؟
فَقَالَ: "لِلرَّجُلِ الْعِظَامُ وَالْعُرُوقُ وَالْعَصَبُ، وَلِلْمَرْأَةِ
اللَّحْمُ وَالدَّمُ وَالشَّعْرُ قَالَ: صَدَقْتَ. ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَا
تَحْتَ هَذِهِ، يَعْنِي الْأَرْضَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "خَلْقٌ". فَقَالَ: فَمَا تَحْتَهُمْ؟ قَالَ: "أَرْضٌ". قَالَ:
فَمَا تَحْتَ الْأَرْضِ؟ قَالَ "الْمَاءُ" قَالَ: فَمَا تَحْتَ الْمَاءِ؟ قَالَ:
"ظُلْمَةٌ". قَالَ: فَمَا تَحْتَ الظُّلْمَةِ؟ قَالَ: "الْهَوَاءُ". قَالَ: فَمَا
تَحْتَ الْهَوَاءِ؟ قَالَ: "الثَّرَى". قَالَ: فَمَا تَحْتَ الثَّرَى؟ فَفَاضَتْ
عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبُكَاءِ، وَقَالَ:
"انْقَطَعَ عِلْمُ الْمَخْلُوقِينَ عِنْدَ عِلْمِ الْخَالِقِ، أَيُّهَا السَّائِلُ،
مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ". قَالَ: فَقَالَ: صَدَقْتَ،
أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَيُّهَا النَّاسُ، هَلْ تَدْرُونَ مَنْ هَذَا؟ " قَالُوا:
اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: "هَذَا جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan di dalam kitab Musnad-nya, bahwa telah
menceritakan kepada kami Abu Musa Al-Harawi, dari Al-Abbas ibnul Fadl. Abu Ya'la
bertanya, "Apakah dia adalah Ibnul Fadl Al-Ansari?" Abu Musa Al-Harawi menjawab,
"Ya." Dia meriwayatkan dari Al-Qasim yang mengatakan bahwa ia pernah bersama
Rasulullah Saw. dalam perang Tabuk. Ketika kaum muslim yang terlibat dalam
perang tabuk itu pulang di hari yang panas sekali, dan kaum muslim berjalan
secara berpencar. Perawi saat itu berada di bagian paling depan dari pasukan
kaum muslim. Tiba-tiba ada seorang lelaki berpapasan dengan kami, lalu lelaki
itu bertanya, "Siapakah di antara kalian yang bernama Muhammad?" Teman-temanku
meneruskan perjalanannya, sedangkan aku berhenti meladeni lelaki itu. Tiba-tiba
Rasulullah Saw. muncul di tengah pasukan kaum muslim dengan mengendarai unta
merah seraya menutupi kepalanya dari sengatan panas matahari yang terik. Lalu
saya berkata kepada lelaki itu, "Hai kamu yang bertanya, inilah Rasulullah Saw.
telah tiba menuju ke arahmu!" Lelaki itu bertanya, "Siapakah dia di antara
mereka?" Aku menjawab, "orang yang mengendarai unta merah." Lelaki itu
mendekatinya dan memegang tali kendali untanya. Maka unta yang dikendarai oleh
Nabi Saw. berhenti, dan lelaki itu bertanya, "Engkaukah yang bernama Muhammad?"
Nabi Saw. menjawab, "Ya." Lelaki itu berkata, "Sesungguhnya aku hendak
bertanya kepadamu tentang beberapa perkara yang tiada seorang pun dari kalangan
penduduk bumi mengetahuinya kecuali hanya seorang atau dua orang saja."
Rasulullah Saw. bersabda, "Tanyakanlah apa yang kamu kehendaki!" Lelaki
itu berkata, "Hai Muhammad, apakah seorang nabi tidur?" Rasulullah Saw.
menjawab, "Kedua matanya tidur, tetapi hatinya tidak tidur." Si lelaki
berkata, "Engkau benar." Kemudian lelaki itu bertanya, "Hai Muhammad, mengapa
anak itu mirip ayahnya dan (adakalanya) mirip ibunya?" Rasulullah Saw. menjawab:
Air mani lelaki putih lagi kental, sedangkan air mani wanita kuning lagi
encer. Maka mana saja di antara kedua air mani itu yang mengalahkan lainnya,
anak tersebut akan lebih mirip kepadanya. Lelaki itu berkata, "Engkau
benar." Lalu ia bertanya, "Apa sajakah yang diciptakan dari air mani lelaki dan
air mani perempuan dalam tubuh anaknya?" Maka Rasulullah Saw. bersabda: Air
mani laki-laki membentuk tulang dan urat-urat serta otot-otot, sedangkan air
mani wanita membentuk daging, darah, dan rambut. Lelaki itu berkata, "Engkau
benar." Kemudian lelaki itu bertanya, "Hai Muhammad, apakah yang ada di bawah
tanah ini?" Rasulullah Saw. menjawab, "Makhluk." Lelaki itu bertanya, Di
bawah mereka itu ada apa?" Rasulullah Saw. menjawab, "Bumi." Lelaki itu
bertanya, "Apakah yang ada di bawah bumi itu?" Rasulullah Saw. menjawab,
"Air." Ia bertanya, "Lalu apakah yang ada di bawah air itu?" Rasulullah
Saw. menjawab, "Kegelapan." Ia bertanya, "Lalu apakah yang ada di bawah
kegelapan itu?" Rasulullah Saw. menjawab, "Udara." Ia bertanya, "Apakah
yang ada di bawah udara itu?" Rasulullah Saw. menjawab, "Bumi." Ia
bertanya, "Lalu apakah yang ada di bawah bumi itu?" Rasulullah Saw. menangis dan
bersabda, "Hanya sampai di situlah pengetahuan makhluk bila dibandingkan
dengan pengetahuan Pencipta. Hai orang yang bertanya, tidaklah orang yang
ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya." Lelaki itu berkata,
"Engkau benar, saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah." Maka Rasulullah
Saw. bersabda, "Hai manusia, tahukah kalian siapakah orang ini?" Mereka
menjawab," Hanya Allah dan Rasul-Nyalah yang lebih mengetahui." Rasulullah Saw.
bersabda,"Orang ini adalah Jibril a.s.Hadis berpredikat garib sekali, dan konteksnya sangat aneh, ia hanya diriwayatkan oleh Al-Qasim ibnu Abdur Rahman. Yahya ibnu Mu'in mengatakan tentangnya, bahwa ia adalah orang yang tidak pantas menjadi rawi hadis. Abu Hatim Ar-Razi menilainya daif; sedangkan menurut Ibnu Addi, Al-Qasim ibnu Abdur Rahman adalah perawi yang tidak dikenal.
Menurut kami hadis ini bercampur aduk, sesuatu dimasukkan ke dalam sesuatu yang lain, dan suatu hadis dimasukkan ke dalam hadis lainnya menjadi satu. Dapat dikatakan bahwa perawinya sengaja melakukan pencampuradukan itu atau memasukkan ke dalamnya sesuatu yang lain. Hanya Allah-lah yang lebih mengetahui kebenarannya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَإِنْ
تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى}
Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui
rahasia dan yang lebih tersembunyi. (Thaha: 7)Yakni Al-Qur'an ini diturunkan oleh Tuhan yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi, yang mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{قُلْ
أَنزلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ
وَالأرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا}
Katakanlah, "Al-Qur'an ini diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui
rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Al-Furqan: 6)Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (Thaha: 7) Yang dimaksud dengan rahasia ialah apa yang disembunyikan oleh anak Adam dalam hatinya, sedangkan yang lebih tersembunyi ialah apa yang tidak diketahui oleh anak Adam, padahal ia yang mengerjakannya. Maka Allah mengetahui kesemuanya itu. Pengetahuan Allah tentang apa yang telah berlalu dari hal ini dan apa yang akan datang meliputi semuanya, dan semua makhluk bagi Allah dalam hal ini sama dengan salah satu dari mereka. Seperti yang disebutkan oleh Firman-Nya dalam ayatyang lain, yaitu:
{مَا
خَلْقُكُمْ وَلا بَعْثُكُمْ إِلا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ}
Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kalian (dari dalam kubur)
itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu
jiwa saja. (Luqman: 28)Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (Thaha: 7) Arti sirr ialah sesuatu yang dibicarakan olehmu dalam dirimu, sedangkan akhfa ialah sesuatu yang belum kamu bicarakan dalam dirimu.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan, "Anda mengetahui apa yang Anda rahasiakan hari ini, tetapi Anda tidak akan mengetahui apa yang bakal Anda rahasiakan keesokan harinya. Allah mengetahui apa yang Anda rahasiakan hari ini dan apa yang akan Anda rahasiakan keesokan harinya.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Akhfa" bahwa yang dimaksud dengannya ialah bisikan hati. Dan ia serta Sa'id ibnu Jubair mengatakan pula bahwa akhfa artinya sesuatu yang dilakukan oleh manusia tanpa diniatkannya dahulu dalam hatinya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{اللَّهُ
لَا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى}
Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Dia mempunyai asma-ul husna
(nama-nama yang baik). (Thaha: 8)Yakni Tuhan Yang menurunkan Al-Qur'an kepadamu. Dialah Allah Yang tidak ada Tuhan selain Dia Yang mempunyai nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang tinggi. Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan asma-ul husna ini berikut keterangannya, yaitu dalam tafsir ayat-ayat terakhir dari surat Al-A'raf.
{وَهَلْ
أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى (9) إِذْ رَأَى نَارًا فَقَالَ لأهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي
آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِقَبَسٍ أَوْ أَجِدُ عَلَى النَّارِ
هُدًى (10) }
Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika
ia melihat api, lalu ia berkata kepada keluarganya, "Tinggallah kalian
(di sini), sesungguhnya aku melihat api,
mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepada kalian atau aku akan
mendapat petunjuk di tempat api itu.”Mulai dari sini Allah kembali menceritakan kisah Musa, saat pertama kalinya ia menerima wahyu dan saat dia diajak bicara langsung oleh Allah Swt. Demikian itu terjadi setelah Musa menyelesaikan masa perjanjian kontrak kerja menggembalakan ternak terhadap mertuanya. Lalu Musa berjalan dengan keluarganya yang menurut suatu pendapat menyebutkan bahwa tujuannya adalah negeri Mesir, yaitu setelah dalam waktu yang lama ia meninggalkannya, lebih dari sepuluh tahun. Dalam perjalanan itu Musa membawa istrinya.
Musa sesat jalan, saat itu sedang musim dingin; lalu ia beristirahat di sebuah lereng bukit, sedangkan cuaca saat itu sangat dingin di sertai dengan kabut, awan, dan gelapnya malam. Kemudian Musa membuat api dengan batu pemantik apinya sebagaimana yang biasa dilakukan di masanya dalam menyalakan api. Akan tetapi, usahanya tidak membuahkan sepercik api pun.
Ketika Musa dalam keadaan kedinginan, tiba-tiba ia melihat cahaya api yang bersumber dari arah Bukit Tur, yang ada di sebelah kanannya. Maka Musa berkata kepada keluarganya seraya menyenangkan hati mereka:
{إِنِّي
آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِقَبَسٍ}
Sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit
darinya kepada kalian. (Thaha: 10)Yakni sebuah obor api. Di dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya dengan ungkapan lain, yaitu:
{أَوْ
جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ}
atau (membawa) suluh api. (Al-Qashash: 29) Yaitu obor api.
{لَعَلَّكُمْ
تَصْطَلُونَ}
agar kalian dapat menghangatkan badan. (Al-Qashash: 29)Hal ini menunjukkan bahwa saat itu cuaca sangat dingin. Sedangkan yang disebutkan dalam ayat ini yaitu oleh firman-Nya, "Biqabasin, " yang artinya obor api; hal ini menunjukkan bahwa suasana malam itu sangat gelap.
*******************
Firman Allah Swt.:
{أَوْ
أَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى}
atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu. (Thaha: 10)Yakni seseorang yang menunjukkan jalan kepadaku. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Musa a.s. saat itu sesat jalan.
Hal ini seperti apa yang diriwayatkan oleh As-Sauri, dari Abu Sa'd Al-A'war, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu. (Thaha: 10) Yaitu seseorang yang memberikan petunjuk jalan kepadaku.
Mereka saat itu berada di musim dingin dan sesat jalan. Ketika Musa melihat api, ia berkata, "Jika aku tidak menjumpai seseorang yang menunjukkan kepadaku jalan yang sebenarnya, aku akan mendatangkan kepadamu api yang dapat dipakai untuk berdiang kalian."
{فَلَمَّا
أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَى (11) إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ
إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى (12) وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا
يُوحَى (13) إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ
الصَّلاةَ لِذِكْرِي (14) إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى (15) فَلا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَا يُؤْمِنُ
بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَى (16) }
Maka
ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil, "Hai Musa, sesungguhnya Aku
inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di
lembah yang suci, Tuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang
akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada
Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.
Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar
tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali
janganlah kamu dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan
oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi
binasa.”Firman Allah Swt.:
{فَلَمَّا
أَتَاهَا}
Maka ketika ia datang ke tempat api itu. (Thaha: 11) Maksudnya, mendekati tempat api yang menyala itu.
{نُودِيَ
يَا مُوسَى}
ia dipanggil, "Hai Musa.” (Thaha: 11) Di dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:
{نُودِيَ
مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الأيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ
أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ}
Diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya)
pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: "Ya Musa,
sesungguhnya Aku adalah Allah.”(Al-Qashash: 30)Sedangkan dalam ayat ini disebutkan:
{إِنِّي
أَنَا رَبُّكَ}
Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu. (Thaha: 12) Yakni yang berbicara denganmu.
{فَاخْلَعْ
نَعْلَيْكَ}
maka tanggalkanlah (lepaskanlah) kedua terompahmu. (Thaha:
12)Ali ibnu Abu Talib, Abu Zar, dan Abu Ayyub serta sahabat lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa kedua terompahnya itu terbuat dari kulit keledai yang tidak disembelih.
Menurut pendapat yang lain, sesungguhnya Musa diperintahkan untuk melepaskan kedua terompahnya hanyalah demi memuliakan tanah yang Musa berada padanya.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa perintah ini sama dengan perintah yang ditujukan kepada seseorang yang hendak memasuki Ka'bah.
Menurut pendapat yang lainnya lagi, dimaksudkan agar Musa menginjak tanah suci itu dengan kedua telapak kakinya tanpa memakai terompah. Dan pendapat yang lainnya lagi mengatakan selain itu. Hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya.
Sehubungan dengan firman-Nya, "Tuwa, Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Tuwa adalah nama lembah. Hal yang sama telah dikatakan pula oleh lainnya yang bukan hanya seorang.
Berdasarkan pengertian demikian, berarti 'ataf disini adalah 'ataf bayan (penjelasan).
Menurut pendapat lain, Tuwa maksudnya adalah kata perintah untuk menginjak tanah dengan kedua telapak kaki (tanpa alas kaki).
Menurut pendapat yang lainnya lagi, disebutkan demikian karena tempat itu disucikan sebanyak dua kali: Tuwa artinya tanah yang diberkati, penyebutannya merupakan sebutan ulangan (dengan ungkapan lain). Akan tetapi, pendapat yang paling sahih adalah pendapat pertama. Seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
{إِذْ
نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى}
Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Tuwa.
(An-Nazi'at: 16)Adapun firman Allah Swt.:
{وَأَنَا
اخْتَرْتُكَ}
Dan Aku telah memilih kamu. (Thaha: 13) Ayat ini semakna dengan firman-Nya:
{إِنِّي
اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاتِي وَبِكَلامِي}
Sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain
(di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung
dengan-Ku. (Al-A'raf: 144)Yaitu melebihkan kamu di atas semua manusia di masanya. Dengan kata lain, dapat pula diartikan bahwa Allah Swt. berfirman kepada Musa a.s., "Hai Musa, tahukah kamu mengapa Aku mengistimewakan kamu hingga kamu dapat berbicara langsung dengan-Ku, bukan orang lain?" Musa menjawab, "Tidak tahu." Allah berfirman, "Karena sesungguhnya Aku menghargai sikapmu yang rendah diri itu."
Firman Allah Swt.:
{فَاسْتَمِعْ
لِمَا يُوحَى}
Maka dengarkanlah apa yang diwahyukan kepadamu (Thaha: 13)Artinya sekarang dengarkanlah olehmu apa yang Aku firmankan melalui wahyu-Ku kepadamu ini:
{إِنَّنِي
أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا}
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak)
selain Aku. (Thaha: 14)Ini merupakan kewajiban pertama bagi orang-orang mukalaf, yaitu hendaknya ia mengetahui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Firman Allah Swt.:
{فَاعْبُدْنِي}
maka sembahlah Aku. (Thaha: 14)Maksudnya, Esakanlah Aku dan sembahlah Aku tanpa mempersekutukan Aku.
{وَأَقِمِ
الصَّلاةَ لِذِكْرِي}
dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. (Thaha: 14)Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah salatlah kamu untuk mengingat-Ku.
Menurut pendapat lain, maksudnya ialah dirikanlah salat bilamana kamu ingat kepada-Ku.
Makna yang kedua ini diperkuat oleh hadis yang dikemukakan oleh Imam Ahmad. Ia mengatakan:
حَدَّثَنَا
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى بْنُ سَعِيدٌ، عَنْ
قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم قال: "إِذَا
رَقَد أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلَاةِ، أَوْ غَفَلَ عَنْهَا، فَلْيُصَلِّهَا إِذَا
ذَكَرَهَا؛ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ: {وَأَقِمِ الصَّلاةَ
لِذِكْرِي}
telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan
kepada kami Al-Musanna ibnu Sa'id, dari Qatadah, dari Anas, dari Rasulullah Saw.
yang telah bersabda: Apabila seseorang di antara kalian tertidur hingga
meninggalkan salatnya atau lupa kepada salatnya, hendaklah ia mengerjakannya
saat mengingatnya. Karena sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman, "Dirikanlah
salat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui sahabat Anas r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"مَنْ
نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا، فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا
ذَكَرَهَا، لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ"
Barang siapa tidur meninggalkan salat (nya) atau lupa kepadanya,
maka kifaratnya ialah mengerjakannya (dengan segera) manakala ingat
kepadanya, tiada kifarat lain kecuali hanya itu.
*******************
Firman Allah Swt.:
{إِنَّ
السَّاعَةَ آتِيَةٌ}
Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. (Thaha: 15) Yakni pasti akan datang dan pasti terjadi.
Firman Allah Swt.:
{أَكَادُ
أُخْفِيهَا}
Aku merahasiakan (waktu)nya. (Thaha: 15)Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan maknanya, bahwa Ibnu Abbas membacanya dengan bacaan berikut: "Aku hampir saja merahasiakan waktunya terhadap diri-Ku sendiri." Makna yang dimaksud ialah bahwa waktu hari kiamat itu dirahasiakan oleh Allah Swt. terhadap semua makhluk. Dikatakan demikian karena tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah Swt. selamanya.
Sa'id ibnu Jubair telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa bacaannya adalah: Min nafsihi (terhadap diri-Nya sendiri). Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Abu Saleh, dan Yahya ibnu Rafi'.
Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Aku merahasiakan (waktu(Thaha: 15) Artinya, Aku tidak akan memperlihatkan tentang waktunya kepada seorang pun selain diri-Ku sendiri.
Menurut As-Saddi, tiada seorang pun dari kalangan penduduk langit dan bumi, melainkan Allah merahasiakan terhadapnya tentang waktu hari kiamat.
Ayat ini menurut bacaan Ibnu Mas'ud disebutkan seperti berikut: "Aku hampir menyembunyikan waktunya terhadap diri-Ku sendiri." Dengan kata lain, Aku merahasiakan waktu hari kiamat terhadap semua makhluk; sehingga andaikan Aku dapat menyembunyikannya terhadap diri-Ku sendiri, tentulah Aku akan melakukannya.
Menurut pendapat yang lain bersumber dari Qatadah, disebutkan bahwa firman-Nya: Aku merahasiakan (waktu)nya. (Thaha: 15) Menurut suatu qiraat (bacaan) disebutkan, "Aku menyembunyikan waktunya dengan sengaja." Demi usiaku, sesungguhnya Allah menyembunyikan waktunya terhadap para malaikat yang terdekat, para nabi, dan para rasulNya.
Menurut kami, ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{قُلْ
لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا
اللَّهُ}
Katakanlah, "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui
perkara yang gaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65)Dan firman Allah Swt.:
{ثَقُلَتْ
فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلا بَغْتَةً}
Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit
dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepada kalian melainkan dengan
tiba-tiba. (Al-A'raf: 187)Yakni amatlah berat pengetahuan mengenainya bagi makhluk yang ada di langit dan di bumi.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah menceritakan kepada kami Minjab, telah menceritakan kepada kami Abu Namilah, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sahl Al-Asadi, dari warga yang mengatakan bahwa Sa'id ibnu Jubair telah membacakan kepadanya ayat berikut: Aku merahasiakan (waktu)nya. (Thaha: 15) dengan bacaan akhfiha yang artinya menampakkannya yakni hampir-hampir Allah Swt. menampakkan pengetahuan mengenai waktu hari kiamat. Kemudian ia mengatakan bahwa tidakkah engkau pernah mendengar perkataan seorang penyair yang mengatakan dalam salah satu bait syairnya:
دَأبَ
شَهْرَين، ثُمَّ شَهْرًا دَمِيكًا ...
بأريكَين يَخْفيان غَميرًا ...
Telah berlalu masa dua bulan, kemudian
ditambah lagi satu bulan penuh tinggal di Arbakin dan tanam-tanaman mulai
menguning.
As-Saddi mengatakan bahwa al-gamir ialah tanaman basah yang tumbuh di
pematang yang kering, yakni tanamannya sudah mulai masak. Arbakin nama
sebuah tempat. Ad-damik satu bulan penuh. Syair ini dikatakan oleh Ka'b
ibnu Zuhair.
*******************
Firman Allah Swt.:
{لِتُجْزَى
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى}
agar tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. (Thaha:
15)Yakni Aku pasti mengadakan hari kiamat agar Aku melakukan pembalasan kepada setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya.
{فَمَنْ
يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
شَرًّا يَرَهُ}
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia
akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan
kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
(Az-Zalzalah: 7-8)Dan firman Allah Swt. yang mengatakan:
{إِنَّمَا
تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ}
sesungguhnya kalian hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kalian
kerjakan. (Ath-Thur: 16)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{فَلا
يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
فَتَرْدَى}
Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan darinya oleh orang yang tidak
beriman kepadanya. (Thaha: 16), hingga akhir ayat.Makna yang dimaksud ialah bahwa khitab dalam ayat ini ditujukan kepada setiap individu orang-orang mukallaf, sekalipun lahiriahnya khitab ditujukan kepada Nabi Saw. Dengan kata lain, janganlah kalian mengikuti jalan orang-orang yang tidak percaya dengan adanya hari kiamat, mereka hanya mengejar kesenangan dan kenikmatan duniawi lagi durhaka kepada Tuhannya serta mengikuti hawa nafsunya. Maka barang siapa yang mengikuti jejak mereka, sesungguhnya dia telah merugi dan kecewa.
{فَتَرْدَى}
yang menyebabkan kamu binasa. (Thaha: 16)Yakni kamu akan binasa dan hancur bila mengikuti jejak mereka, Allah Swt. telah berfirman dalam ayat lain:
{وَمَا
يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى}
Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.
(Al-Lail: 11)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar