{وَمَا
نَتَنزلُ إِلا بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا
بَيْنَ ذَلِكَ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا (64) رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ
وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ
سَمِيًّا (65) }
Dan tidaklah kami (Jibril) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu.
Kepunyaan-Nyalah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang
kita, dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa. Tuhan
-(yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara
keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya.
Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut
disembah)?Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'la dan waki'. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Zar, dari ayahnya, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada Malaikat Jibril, "Apakah gerangan yang mencegahmu untuk tidak mengunjungiku lebih banyak lagi dari biasanya?" Maka turunlah firman-Nya: Dan tidaklah kami (Jibril) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu. (Maryam: 64), hingga akhir ayat.
Imam Bukhari mengetengahkannya secara munfarid. Di dalam kitab tafsirnya ia meriwayatkan sehubungan dengan makna ayat ini melalui Abu Na'im, dari Umar ibnu Zar dengan sanad yang sama.
Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Umar ibnu Zar dengan sanad yang sama, tetapi menurut riwayat keduanya di akhir hadis terdapat tambahan, yaitu bahwa jawaban tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Malaikat Jibril tidak turun kepada Rasulullah Saw. dalam waktu yang cukup lama. Maka Rasulullah Saw. dirundung rasa sedih dan duka karenanya. Kemudian Malaikat Jibril datang dan mengatakan, "Hai Muhammad: Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu.. (Maryam: 64), hingga akhir ayat.
Mujahid mengatakan bahwa Jibril tidak turun kepada Muhammad Saw. selama dua belas malam atau kurang dari itu. Ketika Jibril turun, Nabi Saw. berkata kepadanya, "Hai Jibril, sesungguhnya kamu membuat saya sedih, sehingga kaum musyrik mempunyai dugaan yang tidak-tidak kepada saya." Maka turunlah firman-Nya: Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. (Maryam: 64), hingga akhir ayat.
Mujahid mengatakan bahwa ayat ini sama maknanya dengan ayat yang terdapat di dalam surat Adh-Dhuha. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak ibnu Muzahim, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan tertahannya Malaikat Jibril.
Al-Hakam ibnu Aban telah meriwayatkan dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Jibril lama tidak turun kepada Nabi Saw. dalam waktu empat puluh hari. Kemudian Jibril turun di suatu hari. Maka Nabi Saw. bersabda kepadanya, "Mengapa kamu lama tidak furun kepadaku, sehingga aku rindu kepadamu." Jibril menjawab, "Bahkan aku selalu rindu kepadamu, tetapi aku menunggu perintah, lalu Allah mewahyukan kepadaku agar aku menyampaikan kepadamu firman Allah Swt. sebagai berikut: Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. (Maryam: 64), hingga akhir ayat.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim, hadis ini berpredikat garib.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Mujahid yang mengatakan bahwa utusan Allah datang lambat kepada Nabi Saw. Kemudian Jibril datang, maka Nabi Saw. bertanya, "Apakah gerangan yang menahanmu, hai Jibril?" Maka Jibril berkata, "Bagaimana saya datang kepada kalian, sedangkan kalian tidak memotong kuku kalian, tidak membersihkan sela-sela jari-jemari tangan dan kaki kalian, tidak mencukur kumis kalian, serta tidak bersiwak lagi?" Kemudian Jibril membacakan firman-Nya: Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. (Maryam: 64), hingga akhir ayat.
Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir An-Nahwi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ibrahim As-Suri, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Abdur Rahman Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Sa'labah ibnu Muslim, dari Ubay ibnu Ka'b maula Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw. yang telah bersabda bahwa Malaikat Jibril lama tidak turun kepadanya. Ketika Nabi Saw. mengatakan hal tersebut kepada Jibril, maka Jibril menjawab: Bagaimana saya turun, sedangkan kalian tidak lagi bersiwak, tidak memotong kuku, tidak mencukur kumis, dan tidak membersihkan sela-sela jari-jemari tangan dan kaki kalian?
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abul Yaman, dari Ismail ibnu Ayyasy, dari Ibnu Abbas dengan lafaz yang semisal.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سَيَّار، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ،
حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ حَبِيبٍ -[خَتَنُ] مَالِكِ بْنِ دِينَارٍ-حَدَّثَنِي
شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: قَالَ لِي رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَصْلِحِي لَنَا الْمَجْلِسَ،
فَإِنَّهُ يَنْزِلُ مَلَكٌ إِلَى الْأَرْضِ، لَمْ يَنْزِلْ إِلَيْهَا
قَطُّ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sayyar, telah
menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman Al-Mugirah ibnu Habib, dari Malik
ibnu Dinar, telah menceritakan kepadaku seorang syekh dari kalangan ulama
Madinah, dari Ummu Salamah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda
kepadanya: Benahilah majelis ini untuk kami, karena sesungguhnya akan turun
ke bumi seorang malaikat yang belum pernah turun sama sekali ke bumi ini.
*******************
{لَهُ
مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا}
Kepunyaan-Nyalah apa-apa yang ada di hadapan dan apa-apa yang ada di
belakang kita. (Maryam: 64)Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksudkan dengan apa-apa yang ada di hadapan kita ialah perkara dunia; sedangkan apa-apa yang ada di belakang kita ialah perkara akhirat.
{وَمَا
بَيْنَ ذَلِكَ}
dan apa-apa yang ada di antara keduanya. (Maryam: 64)Yakni apa-apa yang ada di antara dua tiupan sangkakala. Demikianlah menurut pendapat Abul Aliyah, Ikrimah, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, dan Qatadah menurut suatu riwayat yang bersumber dari keduanya, juga menurut As-Saddi serta Ar-Rabi' ibnu Anas.
Menurut pendapat yang lain, makna mabaina aidina ialah apa-apa yang bakal terjadi menyangkut urusan akhirat, sedangkan wama khalfana artinya apa-apa yang telah lalu menyangkut urusan dunia. Dan makna wama baina zalika artinya apa yang ada di antara dunia dan akhirat. Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Sa'id ibnu Jubair, Ad-Dahhak, Qatadah, Ibnu Juraij, dan As-Sauri. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir; hanya Allah yang mengetahui kebenarannya.
Firman Allah Swt.:
{وَمَا
كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا}
dan tidaklah Tuhanmu lupa. (Maryam: 64)Mujahid dan As-Saddi mengatakan makna yang dimaksud ialah Tuhanmu tidak akan melupakanmu. Dalam keterangan yang terdahulu telah disebutkan bahwa makna ayat ini sama dengan firman-Nya:
{وَالضُّحَى
وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى}
Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah
sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkanmu dan tiada (pula) benci kepadamu.
(Adh-Dhuha: 1-3)
قَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الصَّمَدِ
الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ -يَعْنِي أَبَا الْجُمَاهِرِ
-حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ رَجَاءِ بْنِ
حَيْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ يَرْفَعُهُ قَالَ: "مَا أَحَلَّ
اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ
[عَنْهُ] فَهُوَ عَافِيَةٌ، فَاقْبَلُوا مِنَ اللَّهِ عَافِيَتَهُ، فَإِنَّ اللَّهَ
لَمْ يَكُنْ لِيَنْسَى شَيْئًا" ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: {وَمَا كَانَ رَبُّكَ
نَسِيًّا}
Ibnu Abu Hatim mengatakan telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Muhammad
ibnu AbdusSamad Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Usman
(yakni Abul Jamahir), telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ayyasy, telah
menceritakan kepada kami Asim ibnu Raja ibnu Haiwah, dari ayahnya, dari Abu
Darda yang me-rafa'-kan hadis ini: Apa saja yang dihalalkan Allah di
dalam Kitab-Nya, maka hal itu halal; dan apa-apa yang diharamkan oleh Allah,
maka hal itu haram; dan apa saja yang Allah diam terhadapnya, maka hal itu
dimaafkan. Maka terimalah kemurahan dari-Nya, karena sesungguhnya Allah tidak
pernah melupakan sesuatu pun. Kemudian Abu Darda membacakan ayat berikut,
yaitu firman-Nya: dan tidaklah Tuhanmu lupa. (Maryam: 64) Adapun firman Allah Swt.:
{رَبُّ
السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا}
Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi. (Maryam: 65)Yakni Yang Menciptakannya, Yang Mengaturnya, Yang Menguasainya, dan Yang Mengurusnya, tiada yang mempertanyakan apa yang di-putuskan-Nya.
{فَاعْبُدْهُ
وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ
تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا}
maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah
kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah).
(Maryam: 65)Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna ayat ialah,'apakah kamu mengetahui misal atau yang serupa dengan Tuhan (mu)?'. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Qatadah, dan Ibnu Juraij serta lain-lainnya.
Ikrimah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa tiada seorang pun yang bernama Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) selain Allah Swt. sendiri Yang Mahasuci lagi Mahatinggi serta Maha suci nama-Nya.
{وَيَقُولُ
الإنْسَانُ أَئِذَا مَا مِتُّ لَسَوْفَ أُخْرَجُ حَيًّا (66) أَوَلا يَذْكُرُ
الإنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا (67) فَوَرَبِّكَ
لَنَحْشُرَنَّهُمْ وَالشَّيَاطِينَ ثُمَّ لَنُحْضِرَنَّهُمْ حَوْلَ جَهَنَّمَ
جِثِيًّا (68) ثُمَّ لَنَنزعَنَّ مِنْ كُلِّ شِيعَةٍ أَيُّهُمْ أَشَدُّ عَلَى
الرَّحْمَنِ عِتِيًّا (69) ثُمَّ لَنَحْنُ أَعْلَمُ بِالَّذِينَ هُمْ أَوْلَى بِهَا
صِلِيًّا (70) }
Dan berkata manusia, "Betulkah, apabila aku
telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?”
Dan tidaklah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya
dahulu, sedangkan ia tidak ada sama sekali? Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami
bangkitkan mereka bersama setan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke
sekeliling Jahanam dengan berlutut. Kemudian pasti akan Kami tarik tiap-tiap
golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah. Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya
dimasukkan ke dalam neraka.Allah Swt. menceritakan tentang manusia, bahwa manusia itu merasa heran dan menganggap mustahil akan adanya kehidupan sesudah mati.
Pengertiannya sama dengan yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَإِنْ
تَعْجَبْ فَعَجَبٌ قَوْلُهُمْ أَئِذَا كُنَّا تُرَابًا أَئِنَّا لَفِي خَلْقٍ
جَدِيدٍ}
Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut
mengherankan adalah ucapan mereka, “Apabila kami telah menjadi tanah, apakah
kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru.?”
(Ar-Ra'd: 5)Dan firman Allah Swt. yang mengatakan:
{أَوَلَمْ
يَرَ الإنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ *
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ
رَمِيمٌ * قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ
خَلْقٍ عَلِيمٌ}
Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari
setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi musuh yang nyata? Dan dia
membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata,
"Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?"
Katakanlah, "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan Yang Menciptakannya pertamakah. Dan
Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (Yasin: 77-79)Sedangkan dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
{وَيَقُولُ
الإنْسَانُ أَئِذَا مَا مِتُّ لَسَوْفَ أُخْرَجُ حَيًّا * أَوَلا يَذْكُرُ
الإنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا}
Dan berkata manusia, "Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku
sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?” Dan tidakkah manusia
itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedangkan ia
tidak ada sama sekali? (Maryam: 66-67)Untuk menunjukkan kekuasaan-Nya yang mampu menghidupkan kembali orang yang mati, Allah Swt. mengambil contoh dari permulaan penciptaan yang dilakukan-Nya. Dengan kata lain, Allah Swt. telah menciptakan manusia, sedangkan manusia tidak ada sama sekali; maka mudahlah bagiNya mengembalikan manusia hidup kembali, bahkan mengembalikannya jauh lebih mudah karena telah ada. Sama halnya dengan pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
{وَهُوَ
الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ
عَلَيْهِ}
Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian
mengembalikan (menghidupkannya kembali, dan menghidupkan kembali itu
adalah jauh lebih mudah bagi-Nya. (Ar-Rum: 27)Di dalam kitab sahih disebutkan sebuah hadis yang mengatakan:
"يَقُولُ
اللَّهُ تَعَالَى: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يُكَذِّبَنِي،
وَآذَانِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يُؤْذِيَنِي، أَمَّا تَكْذِيبُهُ
إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: لَنْ يُعِيدَنِي كَمَا بَدَأَنِي، وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ
بِأَهْوَنَ عَلِيَّ مِنْ آخِرِهِ، وَأَمَّا أَذَاهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: إِنَّ لِي
وَلَدًا، وَأَنَا الْأَحَدُ الصَّمَدُ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ
يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ"
Allah Swt. berfirman, "Anak Adam mendustakan-Ku, padahal tidaklah pantas
baginya mendustakan-Ku; anak Adam menyakitiKu, padahal tidaklah pantas baginya
menyakiti-Ku.” Dia mendustakan Aku melalui ucapannya, 'Bahwa Aku tidak akan
menghidupkannya kembali sebagaimana Aku menciptakannya pada yang pertama kali.'
Padahal penciptaan yang pertama tidaklah lebih mudah daripada penciptaan yang
terakhir. Dia menyakiti Aku melalui ucapannya, "Sesungguhnya Aku beranak,
padahal Aku adalah Tuhan Yang Maha Esa, bergantung kepada-Ku segala sesuatu, Aku
adalah Tuhan yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tiada seorang pun
yang setara dengan-Ku.”
*******************
Firman Allah Swt.:
{فَوَرَبِّكَ
لَنَحْشُرَنَّهُمْ وَالشَّيَاطِينَ}
Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama setan.
(Maryam: 68)Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi bersumpah dengan menyebut nama diri-Nya Yang Mahamulia, bahwa sesungguhnya Dia pasti akan membangkitkan mereka bersama setan-setan yang menyembah selain Allah.
{ثُمَّ
لَنُحْضِرَنَّهُمْ حَوْلَ جَهَنَّمَ جِثِيًّا}
kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahanam dengan berlutut.
(Maryam: 68)Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna Jisiyyan ialah berlutut; sama pengertiannya dengan apa yang terdapat di dalam firman-Nya:
{وَتَرَى
كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً}
Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut.
(Al-Jatsiyah: 28)As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Jisiyyan, " artinya dalam keadaan berdiri. Dan telah diriwayatkan dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud hal yang semisal.
Firman Allah Swt.:
{ثُمَّ
لَنَنزعَنَّ مِنْ كُلِّ شِيعَةٍ}
Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan. (Maryam:
69)Yakni dari tiap-tiap umat, menurut Mujahid.
{أَيُّهُمْ
أَشَدُّ عَلَى الرَّحْمَنِ عِتِيًّا}
siapa di antara mereka yang paling durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
(Maryam: 69)As-Sauri telah meriwayatkan dari Ali ibnul Aqmar, dari Abul Ahwas, dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa orang-orang yang pertama ditahan menunggu orang-orang yang terakhir. Setelah bilangan mereka lengkap, barulah mereka didatangi, kemudian dilakukan peradilan mulai dari yang terbesar dosanya, lalu menyusul yang besar dosanya, demikianlah seterusnya. Hal inilah yang dimaksudkan oleh firman-Nya: Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam: 69)
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam: 69) Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap pemeluk agama pembesar-pembesar dan pemimpin-pemimpin kejahatannya.
Hal yang sama telah di katakan oleh Ibnu Juraij dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf.
Makna ayat ini sama dengan firman-Nya:
{حَتَّى
إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لأولاهُمْ رَبَّنَا
هَؤُلاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ}
sehingga apabila mereka masuk ke dalam semuanya berkatalah orang-orang
yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu,
"Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu timpakanlah kepada
mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” (Al-A'raf: 38)sampai dengan firman-Nya:
بِمَا
كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ
karena perbuatan yang telah kalian lakukan.” (Al-A'raf: 39)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{ثُمَّ
لَنَحْنُ أَعْلَمُ بِالَّذِينَ هُمْ أَوْلَى بِهَا صِلِيًّا}
Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya
dimasukkan ke dalam neraka. (Maryam: 70)Lafaz summa dalam ayat ini untuk meng-ataf-kan kalimat berita kepada kalimat berita lainnya. Makna yang dimaksud ialah, bahwa Allah Swt. lebih mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang lebih berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka Jahanam dan tinggal kekal di dalamnya, dan siapa yang berhak mendapat siksaan yang berlipat ganda. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat terdahulu yang mengatakan:
{قَالَ
لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لَا تَعْلَمُونَ}
Allah berfirman, "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat
ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.” (Al-A'raf: 38)
{وَإِنْ
مِنْكُمْ إِلا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا (71) ثُمَّ
نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا (72)
}
Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan
mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah
ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan
membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan
berlutut.Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Harb, telah menceritakan kepada kami Khalid Ibnu Sulaiman, dari Kasir ibnu Ziyad Al-Bursuni, dari Abu Sumayyah yang mengatakan, "Kami berselisih pendapat tentang makna al-wurud (mendatangi) yang ada dalam ayat ini. Sebagian dari kami mengatakan bahwa neraka Jahanam tidak dimasuki oleh orang-orang mukmin. Sebagian lainnya mengatakan bahwa semua manusia memasukinya, kemudian Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa. Kemudian saya bersua dengan Jabir ibnu Abdullah dan kutanyakan kepadanya masalah tersebut, "Sesungguhnya kami berselisih pendapat tentang makna al-wurud, apakah maknanya?' Jabir menjawab, 'semuanya mendatangi neraka'."
Sulaiman ibnu Murrah mengatakan bahwa mereka semua memasukinya. Lalu ia mengisyaratkan kedua jari telunjuknya ke arah kedua telinganya dan mengatakan bahwa ia akan diam seandainya belum pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
"لَا
يَبْقَى بَرٌّ وَلَا فَاجِرٌ إِلَّا دَخَلَهَا، فَتَكُونُ عَلَى الْمُؤْمِنِ
بَرْدًا وَسَلَامًا، كَمَا كَانَتْ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، حَتَّى إِنَّ لِلنَّارِ
ضَجِيجًا مِنْ بَرْدِهِمْ، ثُمَّ يُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا، وَيَذَرُ
الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا"
Tiada seorang pun yang bertakwa dan tiada pula seorang pun yang durhaka
melainkan memasuki neraka. Maka neraka Jahanam bagi orang mukmin terasa sejuk
dan menjadi keselamatan sebagaimana yang pernah dialami oleh Nabi Ibrahim,
sehingga neraka terdengar bersuara gemuruh karena sejuknya mereka. Kemudian
Allah Swt. selamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang
zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.Hadis berpredikat garib, para ahli hadis tidak ada yang mengetengahkannya selain dari Sulaiman ibnu Murrah.
Al-Hasan ibnu Arafah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu'awiyah, dari Bakkar ibnu Abu Marwan, dari Khalid ibnu Ma'dan yang mengatakan bahwa ahli surga setelah memasuki surga berkata, "Bukankah Tuhan kita telah menjanjikan kepada kita akan mendatangi neraka?" Allah Swt. berfirman, "kalian telah mendatanginya sedang neraka dalam keadaan padam."
Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ibnu Uyaynah, dari Ismail ibnu Abu Khalid, dari Qais ibnu Abu Hazim yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Rawwahah di suatu hari sedang meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya. Lalu ia menangis, dan istrinya ikut menangis. Maka Abdullah bertanya, "Mengapa kamu ikut menangis?" Istrinya menjawab, "Saya melihat kanda menangis, maka saya ikut menangis." Abdullah ibnu Rawwahah berkata bahwa ia teringat akan firman Allah Swt. yang mengatakan: Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan mendatangi neraka itu. (Maryam: 71) (Abdullah ibnu Rawwahah berkata), "Saya tidak mengetahui apakah diri saya dapat selamat dari neraka ataukah tidak." Menurut riwayat yang lain, saat itu Abdullah ibnu Rawwahah sedang dalam keadaan sakit.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ibnu Yaman, dari Malik ibnu Magul, dari Abu Ishaq, bahwa Abu Maisarah apabila berbaring di tempat peraduannya selalu mengatakan, "Aduhai, sekiranya ibuku tidak melahirkan diriku." Kemudian ia menangis. Maka ketika ditanyakan kepadanya, "Hai Abu Maisarah, mengapa engkau menangis?" Abu Maisarah menjawab, "Kita diberi tahu bahwa kita akan mendatangi neraka itu dan tidak diberi tahu bahwa kita akan keluar darinya."
Abdullah ibnul Mubarak telah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri yang mengatakan bahwa seorang lelaki berkata kepada saudaranya, "Apakah engkau pernah mendapat berita bahwa engkau akan mendatangi neraka?" Ia menjawab, "Ya." Ditanyakan lagi, "Dan apakah engkau mendapat berita bahwa engkau akan keluar darinya?" Ia menjawab, "Tidak." Dikatakan lagi, "Lalu mengapa engkau masih dapat tertawa?" Al-Hasan Al-Basri selanjutnya menceritakan bahwa sejak saat itu lelaki tersebut tidak kelihatan pernah tertawa hingga meninggal dunia.
Abdur Razzaq telah meriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah, dari Amr, telah menceritakan kepadaku seseorang yang pernah mendengar Ibnu Abbas berdebat dengan Nafi' Al-Azraq. Ibnu Abbas mengatakan bahwa al-wurud artinya memasuki. Sedangkan Nafi' berkata, "Bukan." Lalu Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah adalah umpan Jahanam, kalian pasti masuk ke dalamnya. (Al-Anbiya: 98) Ibnu Abbas mengatakan, "Apakah mereka memasukinya ataukah tidak?" Ibnu Abbas membacakan lagi firman-Nya: Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. (Hud: 98) Ibnu Abbas mengatakan, "Bukankah Fir'aun memasuki neraka? Adapun aku dan kamu, maka kita sama-sama akan memasukinya, lalu kita tunggu apakah kita bakal dikeluarkan darinya ataukah tidak. Menurut hematku, Allah tidak akan mengeluarkan kamu dari neraka, bila kamu tidak percaya." Maka Nafi' tertawa.
Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ata, bahwa Abu Rasyid Al-Haruri (yaituNafi' Al-Azraq) membacakan firman-Nya: mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka. (Al-Anbiya: 102) Maka Ibnu Abbas berkata, "Celakalah kamu, apakah kamu ini gila? Lalu bagaimanakah dengan firman Allah Swt. yang menyebutkan: Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka' (Hud: 98) 'dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga' (Maryam: 86) 'Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan mendatangi neraka itu' (Maryam: 71) Demi Allah, sesungguhnya doa orang yang terdahulu mengatakan, "Ya Allah, keluarkanlah daku dari neraka dalam keadaan selamat, dan masukkanlah aku ke dalam surga dalam keadaan beruntung'."
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ubaid Al-Muharibi, telah menceritakan kepada kami Asbat, dari Abdul Malik, dari Ubaidillah, dari Mujahid yang mengatakan bahwa ketika ia berada di rumah Ibnu Abbas, datanglah kepadanya seorang lelaki yang dikenal dengan panggilan Abu Rasyid, yaitu Nafi' ibnul Azraq. Maka Nafi' berkata kepada Ibnu Abbas, "Hai Ibnu Abbas, bagaimanakah menurutmu makna firman Allah Swt.: 'Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan' (Maryam: 71) Ibnu Abbas menjawab, "Adapun saya dan kamu, hai Abu Rasyid, pasti akan mendatanginya. Maka tunggulah apakah kita dapat keluar darinya ataukah tidak."
Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, Syu'bah pernah mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnus Sa-ib, dari seseorang yang mendengar Ibnu Abbas membacakan firman-Nya ini dengan bacaan berikut: Wa-in minhum illa wariduha, artinya: Dan tidak ada seorang pun dari mereka melainkan memasuki neraka itu. Lalu Ibnu Abbas berkata bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang kafir.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Umar ibnul Walid Al-Busti, bahwa ia pernah mendengar Ikrimah membacanya dengan bacaan berikut: Wa-in minhum illa wariduha, artinya: Dan tidak ada seorang pun dari mereka melainkan memasuki neraka itu. Bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang yang zalim. Ikrimah mengatakan, "Kami biasa membacanya dengan bacaan demikian (yakni minhum, bukan minkum)." Semuanya diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan mendatanginya (Maryam: 71) Yaitu orang yang baik dan orang yang jahat semuanya masuk neraka, Tidakkah Anda mendengar firman Allah Swt. tentang Fir'aun: Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat, lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. (Hud: 98), hingga akhir ayat. Dan firman Allah Swt. yang mengatakan: dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga. (Maryam: 86) Al-wurud dalam ayat ini berarti masuk, bukannya keluar.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، عَنْ إِسْرَائِيلَ، عَنِ
السُّدِّيِّ، عَنْ مُرَّة، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ -هُوَ ابْنُ مَسْعُودٍ- {وَإِنْ
مِنْكُمْ إِلا وَارِدُهَا} قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: "يَرِدُ النَّاسُ [النَّارَ] كلهم، ثم يصدرون عنها
بأعمالهم"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, dari
Israil, dari As-Saddi, dari Murrah, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan
sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tidak ada seorang pun dari kalian
melainkan mendatangi neraka itu. (Maryam: 71) Bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda: Seluruh umat manusia mendatangi neraka, kemudian mereka dikeluarkan
darinya menurut amal perbuatannya masing-masing.Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Abdu ibnu Humaid, dari Ubaidillah, dari Israil, dari As-Saddi dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi meriwayatkannya pula melalui jalur Syu'bah, dari As-Saddi, dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud secara marfu'.
Demikianlah menurut riwayat ini hadis dikemukakan secara marfu'.
Asbat telah meriwayatkannya dari As-Saddi, dari Murrah, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa manusia semuanya melewati sirat (jembatan yang menghubungkan antara mauqif dan surga, sedangkan di tengah-tengahnya adalah neraka). Pengertian wurud ialah berdirinya mereka di pinggir neraka, kemudian mereka keluar dari sirat sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing. Di antara mereka ada orang yang lewat seperti kilat, ada orang yang lewat seperti angin yang cepat, ada orang yang melaluinya seperti cepatnya burung terbang ada orang yang melaluinya secepat kuda balap yang sangat kencang, ada orang yang melaluinya seperti larinya unta yang cepat, ada pula yang melewatinya dengan berlari kencang, sehingga orang yang terakhir dari mereka (kaum muslim) melewatinya adalah seseorang yang cahayanya hanya sampai pada bagian kedua jempol jari kakinya. Ia melewati sirat sedangkan sirat menjadi goyang karenanya. Sirat adalah jembatan yang sangat licin, padanya terdapat duri-duri yang sangat tajam, sedangkan di kedua tepi sirat terdapat malaikat-malaikat yang membawa kaitan dari api yang digunakan mereka untuk menyambar orang-orang yang melewati sirat (dan ditakdirkan untuk masuk neraka), hingga akhir hadis. Hadis yang sama telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khallad ibnu Aslam, telah menceritakan kepada kami An-Nadr, telah menceritakan kepada kami Israil, telah menceritakan kepada kami Abu lshaq, dari Abul Ahwas, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan mendatangi neraka itu. (Maryam: 71) Bahwa sirat berada di atas neraka, tajamnya sama seperti pedang yang paling tajam. Maka golongan orang yang pertama melaluinya seperti kilat yang menyambar, golongan kedua cepatnya seperti angin yang kencang, golongan ketiga cepatnya seperti kuda balap, dan golongan keempat cepatnya seperti ternak yang larat. Kemudian lewatlah para malaikat seraya berkata, "Ya Allah, selamatkanlah kami, selamatkanlah kami."
Hadis ini mempunyai banyak bukti yang menguatkannya terdapat di dalam kitab Sahihain dan kitab hadis lainnya melalui riwayat Anas, Abu Sa'id, Abu Hurairah, Jabir, dan lain-lainnya dari kalangan para sahabat.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Al-Jariri, dari Abus Salil, dari Ganim ibnu Qais yang mengatakan bahwa mereka membicarakan tentang makna wurud. Ka'b berkata, "Api neraka menyekap manusia seakan-akan seperti penjara yang maha besar, hingga semua manusia berada di atas neraka, baik yang bertakwa maupun yang durhaka. Kemudian terdengarlah suara yang menyeru neraka, 'Tahanlah orang-orang yang harus masuk neraka, dan lepaskanlah teman-temanku!" Maka setiap ahli neraka dibenamkan ke dalamnya oleh penjaga neraka, sedangkan penjaga neraka itu lebih mengenal ahlinya daripada seseorang terhadap anaknya. Dan orang-orang yang beriman dikeluarkan dari neraka dalam keadaan pakaian mereka basah. Ka'b melanjutkan kisahnya, "Di antara malaikat penjaga mereka ada malaikat yang panjang di antara kedua pundaknya sama dengan perjalanan satu tahun. Tiap-tiap malaikat dari mereka membawa gada besar yang bercabang dua untuk mendorong ahli neraka masuk ke dalam neraka. Bila malaikat itu menggunakan gadanya, maka masuklah ke dalam neraka sebanyak tujuh ratus ribu orang."
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشِ، عَنْ
أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ، عَنِ أُمِّ مُبَشِّر، عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ: قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنِّي لَأَرْجُوَ أَلَّا
يَدْخُلَ النَّارَ -إِنْ شَاءَ اللَّهُ-أَحَدٌ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَةَ"
قَالَتْ فَقُلْتُ: أَلَيْسَ اللَّهُ يَقُولُ {وَإِنْ مِنْكُمْ إِلا وَارِدُهَا} ؟
قَالَتْ: فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: {ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ
الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا}
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah
menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, dari Ummu
Mubasysyir, dari Hafsah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Sesungguhnya aku benar-benar berharap semoga tidak ada seorang pun dari
kalangan ahli Badar dan Hudaibiyyah yang masuk neraka, insya Allah. Hafsah
bertanya, "Bukankah Allah Swt. telah berfirman di dalam Al-Qur'an: 'Dan tidak
ada seorang pun dari kalian melainkan mendatangi neraka itu' (Maryam: 71)
Maka Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Kemudian Kami akan menyelamatkan
orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka
dalam keadaan berlutut. (Maryam: 72)
قَالَ
[الْإِمَامُ] أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ، حَدَّثَنَا
الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ ، عَنْ جَابِرٍ، عَنْ أُمِّ مُبَشِّرٍ
-امْرَأَةِ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ-قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِ حَفْصَةَ، فَقَالَ: "لَا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ
شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَةَ" قَالَتْ حَفْصَةُ: أَلَيْسَ اللَّهُ يَقُولُ:
{وَإِنْ مِنْكُمْ إِلا وَارِدُهَا} ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا}
Imam Ahmad telah mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu
Idris, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir,
dari Ummu Mubasysyir (istri Zaid ibnu Harisah) yang telah menceritakan bahwa
ketika Rasulullah Saw. berada di rumah Siti Hafsah, beliau bersabda: Tidak
akan masuk neraka seseorang yang ikut dalam peperangan Badar dan peperangan
Hudaibiyah. Siti Hafsah bertanya, bahwa bukankah Allah Swt. Telah berfirman:
Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi neraka itu.
(Maryam: 71) Yakni mendatangi neraka itu alias memasukinya, kemudian
Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Kemudian Kami akan menyelamatkan
orang-orang yang bertakwa. (Maryam: 72)Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui Az-Zuhri, dari Sa'id, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"لا
يَمُوتُ لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ تَمَسُّهُ
النَّارُ، إِلَّا تَحِلَّة الْقَسَمِ".
Tidak ada seorang pun dari kaum muslim yang ditinggal mati oleh ketiga
anaknya (yang belum berusia balig, lalu ia bersabar) masuk ke dalam
neraka melainkan hanya sekejap saja.
قَالَ
عَبْدُ الرَّزَّاقِ: قَالَ مَعْمَرٌ: أَخْبَرَنِي الزَّهْرِيِّ، عَنِ ابْنِ
الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: "مَنْ مَاتَ لَهُ ثَلَاثَةٌ لَمْ تَمَسَّهُ النَّارُ إِلَّا
تَحِلَّةَ الْقَسَمِ"
Abdur Razzaq mengatakan, Ma'mar pernah mengatakan bahwa telah menceritakan
kepadanya Az-Zuhri, dari Ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw.
pernah bersabda: Barang siapa yang kematian tiga orang anaknya, tidak akan
disentuh api neraka kecuali hanya sekejap saja.Makna yang dimaksud ia hanya mendatanginya saja, kemudian keluar darinya.
قَالَ
أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ: حَدَّثَنَا زَمْعَة، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ
سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "لَا يَمُوتُ لِمُسْلِمٍ ثَلَاثَةٌ
مِنَ الْوَلَدِ، تَمَسُّهُ النَّارُ إِلَّا تَحِلَّةَ الْقَسَمِ"
Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zam'ah, dari
Az-Zuhri, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ia
pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang
kematian tiga orang anaknya disentuh oleh api neraka kecuali hanya sebentar
saja.Az-Zuhri mengatakan seakan-akan Rasulullah Saw. bermaksud dengan apa yang disebutkan oleh ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. (Maryam: 71)
قَالَ
ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي عِمْرَانُ بْنُ بَكَّارٍ الْكَلَاعِيُّ ، حَدَّثَنَا
أَبُو الْمُغِيرَةَ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ تَمِيمٍ،
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَعُودُ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِهِ وعِكًا، وَأَنَا مَعَهُ، ثُمَّ قَالَ: "إِنَّ
اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: هِيَ نَارِي أُسَلِّطُهَا عَلَى عَبْدِي الْمُؤْمِنِ؛
لِتَكُونَ حَظَّهُ مِنَ النَّارِ فِي الْآخِرَةِ"
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Imran ibnu Bakkar
Al-Kala'i, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan
kepada kami Abdur Rahman ibnu Yazid ibnu Tamim, telah menceritakan kepada kami
Ismail ibnu Ubaidillah, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa
Rasulullah Saw. menjenguk seorang lelaki dari kalangan sahabatnya yang sedang
sakit, sedangkan aku bersama beliau Saw. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda:
Sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman, "Sakit itu merupakan neraka-Ku yang
Aku timpakan kepada hamba-Ku yang mukmin sebagai ganti dari api neraka di
akhirat.”Hadis berpredikat garib bila ditinjau dari segi jalur ini.
Telah menceritakan pula kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, dari Usman ibnul Aswad, dari Mujahid yang mengatakan bahwa sakit demam merupakan bagian tiap orang mukmin dari neraka. Kemudian ia membacakan firman-Nya:Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan mendatangi neraka itu. (Maryam: 71)
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَة، حَدَّثَنَا
زَبَّان بْنِ فَائِدٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ الْجُهَنِيِّ، عَنْ
أَبِيهِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَنْ
قَرَأَ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} حَتَّى يَخْتِمَهَا عشر مَرَّاتٍ،
بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ". فَقَالَ عُمَرُ: إِذًا نَسْتَكْثِرُ
يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ [صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"لَلَّهُ] َكْثَرُ وَأَطْيَبُ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah
menceritakan kepada kami Ibnu Luhai'ah, telah menceritakan kepada kami Zaban
ibnu Fa-id, dari Sahl ibnu Mu'az ibnu Anas Al-Juhani, dari ayahnya, dari
Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Barang siapa membaca surat Ikhlas
sebanyak sepuluh kali, maka Allah membangunkan baginya sebuah gedung di dalam
surga. Maka Umar berkata, "Kalau demikian, kami akan memperbanyak bacaannya,
hai Rasulullah." Rasulullah Saw. menjawab, "Allah akan membalasnya dengan
pahala yang lebih banyak dan lebih baik."Rasulullah Saw. telah bersabda pula:
مَنْ
قَرَأَ أَلْفَ آيَةٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، كُتب يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ
النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ، وَحَسُنَ
أُولَئِكَ رَفِيقًا، إِنْ شَاءَ اللَّهُ. وَمَنْ حَرَسَ مِنْ وَرَاءِ
الْمُسْلِمِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مُتَطَوِّعًا لَا بِأُجْرَةِ سُلْطَانٍ، لَمْ
يَرَ النَّارَ بِعَيْنَيْهِ إِلَّا تَحِلَّةَ الْقَسَمِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
{وَإِنْ مِنْكُمْ إِلا وَارِدُهَا} وَإِنَّ الذِّكْرَ فِي سَبِيلِ [اللَّهِ]
يُضْعفُ فَوْقَ النَّفَقَةِ بِسَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ". وَفِي رِوَايَةٍ:
"بِسَبْعِمِائَةِ أَلْفِ ضِعْفٍ"
Barang siapa yang membaca seribu ayat di jalan Allah, maka kelak di hari
kiamat ia akan dikumpulkan bersama para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan
orang-orang saleh; mereka adalah sebaik-baik teman, insya Allah. Dan barang
siapa yang menjaga tapal batas untuk melindungi kaum muslim (dari serangan
musuh) di jalan allah secara suka rela, bukan karena mendapat upah dari
sultan, niscaya ia tidak akan melihat neraka kecuali hanya dalam waktu yang
sebentar. Allah Swt. telah berfirman: Dan tidak ada seorang pun dari
kalian melainkan mendatangi neraka itu. (Maryam: 71) Dan sesungguhnya
berzikir di jalan Allah, pahalanya dilipatgandakan tujuh ratus kali
membelanjakan harta di jalan Allah. Menurut riwayat yang lain adalah
tujuh ratus ribu kali lipatnya.
وَرَوَى
أَبُو دَاوُدَ، عَنْ أَبِي الطَّاهِرِ، عَنِ ابْنِ وَهْبٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ
أَيُّوبَ [وَسَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ] كِلَاهُمَا عَنْ زَبَّانَ، عَنْ سَهْلٍ،
عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ
الصَّلَاةَ وَالصِّيَامَ وَالذِّكْرَ تُضَاعَفُ عَلَى النَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ بِسَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ"
Abu Daud telah meriwayatkan dari Abut Tahir, dari Ibnu Wahb dan Yahya ibnu
Ayyub; keduanya dari Zaban, dari Sahl, dari ayahnya, dari Rasulullah Saw. yang
telah bersabda: Sesungguhnya membaca salawat untukku, puasa, dan berzikir,
pahalanya dilipatgandakan lebih dari membelanjakan harta di jalan Allah dengan
tujuh ratus kali lipat.Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan mendatangi neraka itu. (Maryam: 71) Bahwa yang dimaksud dengan wurud ialah melaluinya.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan mendatangi neraka itu. (Maryam: 71) Yang dimaksud dengan mendatangi neraka bagi kaum muslim ialah melewati jembatan yang terpancang di antara kedua tepinya, sedangkan yang dimaksud dengan mendatangi bagi kaum musyrik ialah memasukinya. Dan Nabi Saw. telah bersabda:
"الزَّالُّونَ
وَالزَّالَّاتُ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَقَدْ أَحَاطَ بِالْجِسْرِ يَوْمَئِذٍ
سِمَاطان مِنَ الْمَلَائِكَةِ، دُعَاؤُهُمْ: يَا أَللَّهُ سَلِّمْ
سَلِّمْ"
Laki-laki dan wanita yang terpeleset pada hari itu banyak sekali, pada
hari itu jembatan tersebut dikepung oleh dua barisan malaikat yang dalam doanya
mengatakan, "Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.”As-Saddi telah meriwayatkan dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud sehubungan dengan makna firman-Nya: Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. (Maryam: 71) Makna yang dimaksud ialah sumpah yang wajib dilaksanakan.
Menurut Mujahid, kemestian yang sudah ditetapkan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Juraij.
*******************
Firman Allah Swt.:
{ثُمَّ
نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا}
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa. (Maryam:
72)Yakni apabila semua makhluk melewati neraka dan orang-orang kafir, serta orang-orang ahli maksiat terjerumus ke dalamnya sesuai dengan amal perbuatan mereka, maka Allah menyelamatkan orang-orang mukmin yang bertakwa dari neraka sesuai dengan amal perbuatannya. Mereka melewati sirat dengan kecepatan yang berbeda-beda sesuai dengan amal perbuatan masing-masing selama mereka di dunia.
Kemudian diberikan syafaat terhadap orang-orang yang berdosa besar dari kalangan kaum mukmin. Maka para malaikat, para nabi, dan orang-orang mukmin memberikan syafaatnya kepada mereka sehingga dikeluarkan dari neraka sejumlah besar makhluk yang telah hangus di makan api neraka, kecuali wajah mereka, yaitu anggota badan mereka yang dipakai sujud dalam salat. Mereka di keluarkan dari api neraka secara prioritas sesuai dengan kadar iman yang ada di dalam kalbu mereka. Orang-orang yang mula-mula dikeluarkan dari neraka ialah orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat uang dinar, kemudian menyusu! orang yang imannya lebih kecil daripada itu. Demikianlah seterusnya hingga dikeluarkan dari neraka orang-orang yang di dalam hatinya masih terdapat iman yang kadarnya lebih kecil daripada semut yang paling kecil. Setelah itu Allah mengeluarkan dari neraka orang yang pada suatu hari dari usianya pernah mengucapkan kalimah, "Tiada Tuhan selain Allah", sedangkan dia tidak pernah beramal kebaikan barang sekalipun. Setelah itu tidak ada lagi yang tertinggal di dalam neraka kecuali hanya orang-orang yang menjadi penghuni tetapnya untuk selama-lamanya. Seperti yang telah disebutkan oleh hadis-hadis sahih dari Rasulullah Saw. Karena itulah disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
{ثُمَّ
نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا
جِثِيًّا}
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan
orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (Maryam:
72)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar