{وَبَرَزُوا
لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا
لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ
قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ
صَبَرْنَا مَا لَنَا مِنْ مَحِيصٍ (21) }
Dan mereka semuanya (di Padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat
Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong,
"Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikut kalian, maka dapatkah kalian
menghindarkan dari kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?” Mereka
menjawab, "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat
memberi petunjuk kepada kalian. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh
ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan
diri.”Firman Allah Swt.:
{وَبَرَزُوا
[لِلَّهِ]}
Dan mereka semuanya (di Padang Mahsyar) akan berkumpul.
(Ibrahim: 21)Yakni semua makhluk —baik yang taat maupun yang durhaka— berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha-menang. Dengan kata lain, mereka berkumpul di suatu lapangan (Padang Mahsyar). Di tempat itu tiada sesuatu pun yang menutupi seorang pun.
{فَقَالَ
الضُّعَفَاءُ}
Maka berkatalah orang-orang yang lemah. (Ibrahim: 21)Mereka adalah orang-orang yang mengikuti pemimpin, panglima, dan pembesar mereka. kepada orang-orang yang sombong. (Ibrahim: 21) yang tidak mau menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan tidak mau taat kepada para rasul. Orang-orang yang lemah itu berkata kepada mereka:
{إِنَّا
كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا}
Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikut kalian. (Ibrahim:
21)Maksudnya, dahulu manakala kalian memerintahkan sesuatu kepada kami, kami selalu taat dan mengerjakannya.
{فَهَلْ
أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ}
maka dapatkah kalian menghindarkan dari kami azab Allah (walaupun)
sedikit saja? (Ibrahim: 21)Yakni dapatkah kalian menghindarkan, kami dari azab Allah seperti yang pernah kalian janjikan kepada kami di masa lalu? Maka para pemimpin mereka berkata kepada mereka:
{لَوْ
هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ}
Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi
petunjuk kepada kalian. (Ibrahim: 21)Tetapi telah pasti atas diri kami azab Tuhan kami, serta takdir Allah telah menentukan kami dan kalian untuk menerimanya. Dan kepastian siksaan Allah telah ditetapkan atas orang-orang kafir.
{سَوَاءٌ
عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِنْ مَحِيصٍ}
Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali
kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri. (Ibrahim: 21)Artinya, tiada keselamatan bagi kita dari apa yang sedang kita alami sekarang, baik kita bersabar ataupun mengeluh terhadapnya.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa sesungguhnya sebagian dari ahli neraka berkata kepada sebagian yang lain, "Marilah kalian semua, sesungguhnya ahli surga memperoleh surga tiada lain berkat tangisan dan permohonan mereka dengan rendah diri kepada Allah Swt. Sekarang marilah kita menangis dan memohon dengan rendah diri kepada Allah." Lalu menangislah mereka seraya memohon kepada Allah dengan berendah diri. Setelah mereka merasakan bahwa hal itu tidak bermanfaat, berkatalah mereka, "Sesungguhnya ahli surga memperoleh surga tiada lain berkat kesabaran mereka, maka marilah kita bersabar." Kemudian bersabarlah mereka dengan kesabaran yang belum pernah terlihat mereka melakukannya. Akan tetapi, ternyata kesabaran mereka tidak bermanfaat pula. Maka saat itu juga mereka berkata: Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. (Ibrahim: 21), hingga akhir ayat.
Menurut kami, makna lahiriah dari perdebatan yang terjadi di dalam neraka sesudah mereka berada di dalamnya sama saja pengertiannya dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
{وَإِذْ
يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا
إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ
النَّارِ قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ
حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ}
Dan (ingatlah) ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka
orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri,
"Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikut kalian, maka dapatkah kalian
menghindarkan dari kami sebagian azab api neraka?" Orang-orang yang
menyombongkan diri menjawab, "Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka,
karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-Nya).''
(Al-Mu’min: 47-48)
{قَالَ
ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ فِي
النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّى إِذَا ادَّارَكُوا
فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لأولاهُمْ رَبَّنَا هَؤُلاءِ أَضَلُّونَا
فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لَا
تَعْلَمُونَ وَقَالَتْ أُولاهُمْ لأخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ
فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ}
Allah berfirman, "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat
jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kalian. Setiap sesuatu umat masuk
(ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya);
sehingga apabila mereka masuk semuanya, berkatalah orang-orang yang masuk
kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, "Ya Tuhan
kami. mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka
siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” Allah berfirman, "Masing-masing
mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.”
Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang
yang masuk kemudian, "Kalian tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami,
maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan."
(Al-A'raf: 38-39)
{يَوْمَ
تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ
وَأَطَعْنَا الرَّسُولا وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا
وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ
الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا}
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan
pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang
benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan
kutuklah mereka dengan kutukan yang besar. (Al-Ahzab: 67-68)Adapun mengenai perdebatan mereka (ahli neraka) di Padang Mahsyar, hal ini disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:
{وَلَوْ
تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَى
بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلا
أَنْتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ
اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَكُمْ بَلْ
كُنْتُمْ مُجْرِمِينَ وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا
بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَنْ نَكْفُرَ بِاللَّهِ
وَنَجْعَلَ لَهُ أَنْدَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ
وَجَعَلْنَا الأغْلالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلا مَا
كَانُوا يَعْمَلُونَ}
Dan (alangkah) hebatnya kalau kamu lihat ketika orang-orang yang
zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebagian dari mereka menghadapkan
perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata
kepada orang-orang yang menyombongkan diri, "Kalau tidaklah karena kalian,
tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.” Orang-orang yang menyombongkan
diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, "Kamikah yang telah
menghalangi kalian dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepada kalian?
(Tidak), sebenarnya kalian sendirilah orang-orang yang berdosa." Dan
orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan
diri, "(Tidak), sebenarnya tipu daya (kalian) di waktu malam dan
siang (yang menghalangi kami), ketika kalian menyeru kami supaya kami
kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.” Kedua belah pihak
menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan Kami pasang belenggu di
leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang
telah mereka kerjakan. (Saba': 31-33)
{وَقَالَ
الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ
وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا
أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ
مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا
أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (22)
وَأُدْخِلَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ
تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ تَحِيَّتُهُمْ فِيهَا
سَلامٌ (23) }
Dan berkatalah setan tatkala perkara
(hisab) telah diselesaikan,
"Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan aku
pun telah menjanjikan kepada kalian, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak
ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekadar) aku menyeru
kalian, lalu kalian mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kalian mencerca
aku, tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong
kalian, dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku
tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukan aku (dengan Allah)
sejak dahulu." Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang
pedih. Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan
seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah
'salam'.Allah Swt. menceritakan pembicaraan iblis terhadap para pengikutnya setelah Allah menetapkan keputusan di antara hamba-hamba-Nya, dan Allah memasukkan orang-orang mukmin ke dalam surga serta menempatkan orang-orang kafir di dalam lapisan bawah neraka. Maka pada hari itu berdirilah iblis di kalangan ahli neraka seraya berkhotbah kepada mereka untuk menambah kesedihan di atas kesedihan yang sedang mereka alami, menambahkan kerugian di atas kerugian, dan kekecewaan di atas kekecewaan. Iblis berkata kepada penduduk neraka:
{إِنَّ
اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ}
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar.
(Ibrahim: 22)Yaitu melalui lisan rasul-rasul-Nya, dan Dia menjanjikan kepada kalian bila kalian mengikuti para rasul, Dia akari menyelamatkan dan menyejahterakan kalian; dan janji Allah itu dipenuhi-Nya, karena janji-Nya adalah benar dan beritanya benar pula. Adapun aku, maka aku pernah berjanji kepada kalian, tetapi aku menyalahinya. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
{يَعِدُهُمْ
وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا}
Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan
angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada
mereka selain dari tipuan belaka. (An-Nisa: 120)Adapun firman Allah Swt.:
{وَمَا
كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ}
Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian. (Ibrahim:
22)Maksudnya 'dalam apa yang aku serukan untuk kalian kepadanya tiadalah suatu dalil pun, tiada pula suatu bukti pun; begitu pula dalam apa yang telah aku janjikan kepada kalian'.
{إِلا
أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي}
melainkan (sekadar) menyeru kalian, lalu kalian mematuhi seruanku.
(Ibrahim: 22)tanpa berpikir panjang lagi, padahal telah ditegakkan atas kalian hujah-hujah dan bukti-bukti serta dalil-dalil yang benar yang disampaikan oleh para rasul sebagai bukti akan kebenaran dari apa yang mereka sampaikan kepada kalian. Tetapi ternyata kalian menentang mereka, sehingga jadilah kalian seperti dalam keadaan sekarang ini.
{فَلا
تَلُومُونِي}
Oleh sebab itu, janganlah kalian mencerca aku (Ibrahim: 22) pada hari ini.
{وَلُومُوا
أَنْفُسَكُمْ}
tetapi cercalah diri kalian sendiri. (Ibrahim: 22)karena sesungguhnya kesalahan itu adalah kesalahan kalian sendiri, sebab kalian menentang bukti-bukti yang jelas, lalu kalian mengikutiku hanya karena aku menyeru kalian kepada kebatilan.
{مَا
أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ}
Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian. (Ibrahim: 22)Yakni aku tidak dapat memberikan manfaat kepada kalian, tidak pula dapat menyelamatkan dan membebaskan kalian dari keadaan yang kalian alami sekarang.
{وَمَا
أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ}
dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. (Ibrahim: 22)Maksudnya, tidak dapat memberikan manfaat kepadaku dengan menyelamatkan diriku dari azab dan pembalasan-Nyayang sedang kualami.
{إِنِّي
كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ}
Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukan aku
(dengan Allah) sejak dahulu. (Ibrahim: 22)Qatadah mengatakan, makna yang dimaksud ialah disebabkan kalian mempersekutukan aku dengan Allah sejak dahulu.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa setan berkata, "Sesungguhnya aku tidak membenarkan bila diriku dianggap sebagai sekutu Allah Swt."
Pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir ini merupakan pendapat yang rajih (kuat), semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَمَنْ
أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى
يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ
كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ}
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah
sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan
(doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari
(memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada
hari kiamat), niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan
mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (Al-Ahqaf: 5-6)
{كَلا
سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا}
sekali-kali tidak. Kelak (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari
penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka
(sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka. (Maryam:
82)
*******************
Firman Allah Swt.:
{إِنَّ
الظَّالِمِينَ}
Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu. (Ibrahim: 22) karena berpaling dari perkara yang hak dan mengikuti perkara yang batil.
{لَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ}
mendapat siksaan yang pedih. (Ibrahim: 22)Makna lahiriah konteks ayat menunjukkan bahwa pembicaraan ini dilakukan oleh iblis sesudah mereka memasuki neraka, seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya.
Tetapi disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim yang lafaznya seperti berikut, juga oleh Ibnu Jarir melalui riwayat Abdur Rahman ibnu Ziyad. Disebutkan bahwa:
حَدَّثَنِي
دُخَيْنٌ الحَجْري، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الْأَوَّلِينَ
وَالْآخَرِينَ، فَقَضَى بَيْنَهُمْ، فَفَرَغَ مِنَ الْقَضَاءِ، قَالَ
الْمُؤْمِنُونَ: قَدْ قَضَى بَيْنَنَا رَبُّنَا، فَمَنْ يَشْفَعُ لَنَا؟
فَيَقُولُونَ: انْطَلِقُوا بِنَا إِلَى آدَمَ -وَذَكَرَ نُوحًا، وَإِبْرَاهِيمَ،
وَمُوسَى، وَعِيسَى -فَيَقُولُ عِيسَى: أَدُلُّكُمْ عَلَى النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ.
فَيَأْتُونِي، فَيَأْذَنُ اللَّهُ لِي أَنْ أَقُومَ إِلَيْهِ فَيَثُورُ [مِنْ]
مَجْلِسِي مِنْ أَطْيَبِ رِيحٍ شَمَّهَا أَحَدٌ قَطُّ، حَتَّى آتِيَ رَبِّي
فَيُشَفِّعَنِي، وَيَجْعَلَ لِي نُورًا مِنْ شَعَرِ رَأْسِي إِلَى ظُفْرِ قَدَمِي،
ثُمَّ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَذَا: قَدْ وَجَدَ الْمُؤْمِنُونَ مَنْ يَشْفَعُ
لَهُمْ، فَمَنْ يَشْفَعُ لَنَا؟ مَا هُوَ إِلَّا إِبْلِيسُ هُوَ الَّذِي
أَضَلَّنَا، فَيَأْتُونَ إِبْلِيسَ فَيَقُولُونَ: قَدْ وَجَدَ الْمُؤْمِنُونَ مَنْ
يَشْفَعُ لَهُمْ، فَقُمْ أَنْتَ فَاشْفَعْ لَنَا، فَإِنَّكَ أَنْتَ أَضْلَلْتَنَا.
فَيَقُومُ فَيَثُورُ مِنْ مَجْلِسِهِ مِنْ أَنْتَنِ رِيحٍ شَمَّهَا أَحَدٌ قَطُّ،
ثُمَّ يَعْظُمُ نَحِيبُهُمْ {وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأمْرُ إِنَّ
اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ
لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا
تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ}
telah menceritakan kepadaku Dakhin Al-Hijri, dari Uqbah ibnu Amir, dari
Rasulullah Saw., bahwa beliau Saw. pernah bersabda, "Apabila Allah
mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian, maka
Allah memutuskan peradilan di antara mereka. Dan setelah selesai dari peradilan,
orang-orang mukmin berkata, 'Telah diputuskan oleh Tuhan kita di antara sesama
kita, maka siapakah yang dapat memberikan syafaat kepada kita?' Mereka
berkata, 'Marilah kita berangkat menghadap Adam,' lalu disebutkan Nuh, Ibrahim,
Musa, dan Isa. Tetapi Isa berkata, 'Maukah kalian aku tunjukkan kepada Nabi yang
ummi’ Maka mereka datang kepadaku, dan Allah memberikan izin kepadaku untuk
menghadap kepada-Nya. Maka dari majelisku tersebarlah bau wewangian yang paling
wangi yang belum pernah tercium oleh seorang pun. Akhirnya sampailah aku ke
hadapan Tuhanku, maka Dia memberiku izin untuk memberi syafaat, dan Dia
menjadikan bagiku nur (cahaya) mulai dari rambut kepalaku hingga kuku jari
telapak kakiku. Kemudian orang-orang kafir berkata, 'Sesungguhnya
orang-orang mukmin telah menjumpai orang yang memberi syafaat buat mereka. Maka
siapakah yang akan memberi syafaat buat kita? Dia tiada lain kecuali iblis yang
telah menyesatkan kita.' Maka mereka mendatangi iblis dan mengatakan kepadanya,
' Sesungguhnya orang-orang mukmin telah menjumpai orang yang memberi syafaat
buat mereka. Maka bangkitlah kamu dan mintakanlah syafaat buat kami, karena
sesungguhnya kamu adalah yang menyesatkan kami.' Iblis bangkit, dan dari
majelisnya tersebarlah bau busuk yang amat busuk yang belum pernah tercium oleh
seorang pun, kemudian siksaan mereka bertambah besar." Dan berkatalah
setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, "Sesungguhnya Allah
telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan
kepada kalian, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku
terhadap kalian, melainkan (sekadar) aku menyeru kalian, lalu kalian
mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kalian mencerca aku, tetapi
cercalah diri kalian sendiri.” (Ibrahim: 22)Demikianlah bunyi hadis menurut teks yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Al-Mubarak meriwayatkannya dari Rasyidin ibnu Sa'd, dari Abdur Rahman ibnu Ziyad ibnu An'am, dari Dakhin, dari Uqbah dengan lafaz yang sama secara marfu'.
Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan bahwa ketika ahli neraka berkata: Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Sekali-kali tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri. (Ibrahim: 21) Maka iblis berkata kepada mereka: Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar. (Ibrahim: 22), hingga akhir ayat. Setelah mereka mendengar ucapan iblis, maka mereka membenci diri mereka sendiri, lalu mereka diseru: Sesungguhnya kebencian Allah (kepada kalian) lebih besar daripada kebencian kalian kepada diri kalian sendiri karena kalian diseru untuk beriman, lalu kalian kafir. (Al-Mu’min: 10)
Amir Asy-Sya'bi mengatakan bahwa di hari kiamat kelak akan ada dua pembicaraan yang berbicara di hadapan semua orang. Allah Swt. berfirman kepada Isa, putra Maryam: Apakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah!' (Al-Maidah: 116) sampai dengan firman-Nya: Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. (Al-Maidah: 119) Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa iblis laknatulldh berdiri, lalu berkata: Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekadar) aku menyeru kalian, lalu kalian mematuhi semanku. (Ibrahim: 22), hingga akhir ayat.
*******************
Setelah Allah Swt. menyebutkan tempat kembali orang-orang yang celaka dan
kehinaan serta pembalasan Allah yang mereka terima —dan setelah disebutkan bahwa
teman bicara mereka adalah iblis— maka Allah mengiringinya dengan kisah tentang
orang-orang yang berbahagia. Untuk itu Allah Swt. berfirman: Dan
dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Ibrahim: 23) Sungai-sungai itu mengalir
menurut apa yang dikehendaki oleh penghuni surga. Ke mana pun mereka
menghendaki, maka sungai-sungai itu menuruti mereka dalam alirannya.
{خَالِدِينَ
فِيهَا}
mereka kekal di dalamnya. (Ibrahim: 23)Yakni tinggal untuk selama-lamanya, tidak dipindahkan dan tidak dilenyapkan darinya.
{بِإِذْنِ
رَبِّهِمْ تَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلامٌ}
dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu
ialah 'salam'. (Ibrahim: 23)Seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{حَتَّى
إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلامٌ
عَلَيْكُمْ}
Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu, sedangkan pintu-pintunya
telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, "Kesejahteraan
(dilimpahkan) atas'kalian.” (Az-Zumar: 73)
{وَالْمَلائِكَةُ
يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ سَلامٌ عَلَيْكُمْ}
sedangkan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu
(sambil mengucapkan), "Salamun 'Alaikum." (Ar-Ra'd: 23-24)
{وَيُلَقَّوْنَ
فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلامًا}
dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.
(Al-Furqan: 75)Dan firman Allah Swt.:
{دَعْوَاهُمْ
فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلامٌ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ
أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
Doa mereka di dalamnya ialah, "Subhanakallahumma" dan salam penghormatan
mereka ialah, "Salam.” Dan penutup doa mereka ialah, "Alhamdulillahi Rabbil
'Alamin." (Yunus: 10) .
{أَلَمْ
تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ
أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ
بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ
يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ
مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26) }
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah
membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan
cabangnya (menjulang) ke langit, pohon
itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan
perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut
dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak)
sedikit pun.Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: perumpamaan kalimat yang baik. (Ibrahim: 24) Yakni syahadat atau persaksian yang bunyinya 'tidak ada Tuhan selain Allah'. seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) Yang dimaksud ialah orang mukmin. akarnya teguh. (Ibrahim: 24) Yaitu kalimat, 'Tidak ada Tuhan selain Allah' tertanam dalam di hati orang mukmin. dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Ibrahim: 24) Maksudnya, berkat kalimat tersebut amal orang mukmin dinaikkan ke langit.
Demikianlah menurut Ad-Dahhak, Sa'id ibnu Jubair, Ikrimah, Mujahid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa sesungguhnya hal ini merupakan perumpamaan tentang amal perbuatan orang mukmin, ucapannya yang baik, dan amalnya yang saleh. Dan sesungguhnya orang mukmin itu seperti pohon kurma, amal salehnya terus-menerus dinaikkan (ke langit) baginya di setiap waktu, pagi dan petang.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Saddi, dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma. Juga menurut riwayat Syu'bah, dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari Anas, bahwa pohon itu adalah pohon kurma.
Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Syu'aib ibnul Habhab, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. mendapat kiriman sekantong buah kurma. Maka beliau Saw. membaca firman-Nya: perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) Yakni pohon kurma.
Tetapi telah diriwayatkan melalui jalur ini dari lainnya (Syu'aib ibnul Habhab), dari Anas secara mauquf. Hal yang sama telah di-Mas-kan oleh Masruq, Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Ad-Dahhak Qatadah, dan lain-lainnya.
قَالَ
الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا عُبَيدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ أَبِي أُسَامَةَ، عَنْ
عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: "أَخْبِرُونِي عَنْ شَجَرَةٍ
تُشْبِهُ -أَوْ: كَالرَّجُلِ -اَلْمُسْلِمِ، لَا يَتَحَاتُّ وَرَقُهَا [وَلَا وَلَا
وَلَا] تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ". قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَوَقَعَ فِي نَفْسِي
أَنَّهَا النَّخْلَةُ، وَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَا يَتَكَلَّمَانِ،
فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ، فَلَمَّا لَمْ يَقُولُوا شَيْئًا، قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هِيَ النَّخْلَةُ". فَلَمَّا قُمْنَا
قُلْتُ لِعُمَرَ: يَا أَبَتَا، وَاللَّهِ لَقَدْ كَانَ وَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا
النَّخْلَةُ. قَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكَلَّمَ؟ قَالَ: لَمْ أَرَكُمْ
تَتَكَلَّمُونَ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ أَوْ أَقُولَ شَيْئًا. قَالَ عُمَرُ:
لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Ismail,
dari Abu Usamah, dari Ubaidillah, dari Nafi', dari Ibnu Umar yang mengatakan,
"Ketika kami sedang bersama Rasulullah Saw., beliau bersabda, 'Ceritakanlah
kepadaku tentang pohon yang menyerupai seorang muslim, ia tidak pernah rontok
daunnya, baik di musim panas maupun di musim dingin, dan ia mengeluarkan buahnya
setiap musim dengan seizin Tuhannya'." Ibnu Umar mengatakan, "Lalu terdetik
di dalam hatiku jawaban yang mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma.
Tetapi aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak bicara, maka aku merasa segan untuk
mengemukakannya. Setelah mereka tidak menjawab sepatah kata pun, bersabdalah
Rasulullah Saw. bahwa pohon tersebut adalah pohon kurma. Ketika kami bangkit
(untuk pergi), aku berkata kepada Umar, 'Wahai ayahku, demi Allah, sesungguhnya
telah terdetik di dalam hatiku jawabannya, bahwa pohon itu adalah pohon kurma.'
Umar berkata, 'Apakah yang mencegahmu untuk tidak mengatakannya?'Aku menjawab,
'Aku tidak melihat kalian menjawab, maka aku segan untuk mengatakannya atau aku
segan mengatakan sesuatu.' Umar berkata, 'Sesungguhnya bila kamu katakan jawaban
itu lebih aku sukai daripada anu dan anu'."
قَالَ
أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ:
صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ، فَلَمْ أَسْمَعْهُ يُحَدِّثُ عَنْ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَدِيثًا وَاحِدًا
-قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى
بِجِمَارٍ. فَقَالَ: "مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةٌ مَثَلُهَا مَثَلُ الرَّجُلِ
الْمُسْلِمِ". فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ: هِيَ النَّخْلَةُ، فَنَظَرَتْ فَإِذَا
أَنَا أَصْغَرُ الْقَوْمِ، [فَسَكَتُّ] فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هِيَ النَّخْلَةُ"
Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Abu
Najih, dari Mujahid, bahwa ia pernah menemani Ibnu Umar ke Madinah, dan ia tidak
mendengar dari Ibnu Umar suatu hadis dari Rasulullah Saw. kecuali sebuah hadis.
Ia mengatakan, "Ketika kami (para sahabat) sedang berada di hadapan Rasulullah
Saw., tiba-tiba disuguhkan kepada beliau Saw. setandan buah kurma. Maka beliau
Saw. bersabda: 'Di antara pohon itu ada sebuah pohon yang perumpamaannya sama
dengan seorang lelaki muslim.' Aku bermaksud mengatakan bahwa pohon itu
adalah pohon kurma. Tetapi aku memandang ke sekeliling, ternyata aku adalah
orang yang paling muda di antara kaum yang ada (maka aku diam tidak menjawab),
dan Rasulullah Saw. bersabda, 'Pohon itu adalah pohon kurma'."Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
قَالَ
مَالِكٌ وَعَبْدُ الْعَزِيزِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ
عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا
لِأَصْحَابِهِ: "إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَطْرَحُ وَرَقُهَا، مِثْلُ
الْمُؤْمِنِ". قَالَ: فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي، وَوَقَعَ فِي
قَلْبِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ [فَاسْتَحْيَيْتُ، حَتَّى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هِيَ النَّخْلَةُ] "
Malik dan Abdul Aziz telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu
Umar yang menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw. bersabda kepada
para sahabatnya: Sesungguhnya di antara pepohonan itu terdapat sebuah pohon
yang tidak pernah gugur dedaunannya menjadi perumpamaan orang mukmin. Ibnu
Umar melanjutkan kisahnya, "Orang-orang (yang hadir) menduganya pohon yang ada
di daerah pedalaman, sedangkan di dalam hatiku terdetik bahwa pohon itu adalah
pohon kurma, tetapi aku malu mengutarakannya; hingga Rasulullah Saw. bersabda
bahwa pohon itu adalah pohon kurma." Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari, juga oleh Imam Muslim.
قَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ،
حَدَّثَنَا أَبَانُ -يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ الْعَطَّارَ -حَدَّثَنَا قَتَادَةُ:
أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ!
فَقَالَ: "أَرَأَيْتَ لو عمد إلى متاع
الدُّنْيَا،
فَرَكَّبَ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ أَكَانَ يَبْلُغُ السَّمَاءَ؟ أَفَلَا أُخْبِرَكَ
بِعَمَلٍ أَصْلُهُ فِي الْأَرْضِ وَفَرْعُهُ فِي السَّمَاءِ؟ ". قَالَ: مَا هُوَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: "تَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ
أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ"، عَشْرَ مَرَّاتٍ فِي دُبُرِ
كُلِّ صَلَاةٍ، فَذَاكَ أَصْلُهُ فِي الْأَرْضِ وَفَرْعُهُ فِي
السَّمَاءِ"
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah
menceritakan kepada kami Musa ibny Ismail, telah menceritakan kepada kami Aban
(yakni Ibnu Zaid Al-Attar), telah menceritakan kepada kami Qatadah, bahwa
seorang lelaki pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, orang-orang yang berharta
telah pergi dengan memborong banyak pahala." Maka Rasulullah Saw. bersabda:
"Bagaimanakah pendapatmu, seandainya dia dengan sengaja menghimpun harta
kesenangan duniawi, lalu ia menumpukkan sebagian darinya di atas sebagian yang
lain, apakah (tingginya) dapat mencapai langit? Maukah kamu bila
kuberitahukan kepadamu suatu amal yang akarnya tertanam di dalam bumi,
sedangkan cabangnya menjulang ke langit?” Lelaki itu bertanya, "Wahai
Rasulullah, amal apakah itu?” Rasulullah Saw. menjawab, "Kamu ucapkan kalimah
'Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar. Mahasuci Allah, dan segala puji
bagi Allah' sebanyak sepuluh kali seusai mengerjakan tiap-tiap salat. Maka
itulah yang akarnya tertanam di bumi, sedangkan cabangnya menjulang ke
langit.”Diriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) bahwa pohon tersebut adalah sebuah pohon yang ada di dalam surga.
*******************
Firman Allah Swt.:
{تُؤْتِي
أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ}
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim. (Ibrahim: 25)Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan kulla hinin ialah setiap pagi dan petang. Menurut pendapat lain yaitu setiap bulan, sedangkan pendapat lainnya mengatakan setiap dua bulan. Pendapat lain menyebutkan setiap enam bulan, ada yang mengatakan setiap tujuh bulan, ada pula yang mengatakan setiap tahun.
Makna lahiriah konteks ayat menunjukkan bahwa perumpamaan orang mukmin sama dengan pohon yang selalu mengeluarkan buahnya setiap waktu, baik di musim panas maupun di musim dingin, siang dan malam hari. Begitu pula keadaan seorang mukmin, amal salehnya terus-menerus diangkat (ke langit) baginya, baik di tengah malam maupun di siang hari, setiap waktu.
{بِإِذْنِ
رَبِّهَا}
dengan seizin Tuhannya. (Ibrahim: 25)Yakni mengeluarkan buahnya yang sempurna, baik, banyak, bermanfaat, lagi diberkati.
{وَيَضْرِبُ
اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ}
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka
selalu ingat. (Ibrahim: 25)
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَمَثَلُ
كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ}
Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk. (Ibrahim:
26)Inilah perumpamaan kekufuran orang yang kafir, tiada landasan baginya dan tiada keteguhan baginya; perihalnya sama dengan pohon hanzal atau pohon bertawali. Syu'bah telah meriwayatkannya dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari Anas ibnu Malik, bahwa pohon tersebut adalah pohon hanzal (bertawali).
Abu Bakar Al-Bazzar Al-Hafiz mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Muhammad As-Sakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Sa'id ibnur Rabi', telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari Anas, menurut dugaanku (perawi) ia membacakan firman-Nya: perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) Anas mengatakan bahwa pohon yang dimaksud ialah pohon kurma. Lalu ia membacakan firman-Nya: Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk. (Ibrahim: 26) Dan ia mengatakan bahwa pohon yang dimaksud ialah pohon syiryan (bertawali). Kemudian ia (Abu Bakar Al-Bazzar) meriwayatkannya dari Muhammad ibnul Musanna, dari Gundar, dari Syu'bah, dari Mu'awiyah, dari Anas secara mauquf.
Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Syu'aib ibnul Habhab, dari Anas ibnu Malik, bahwa Nabi Saw. membacakan firman-Nya: Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk (Ibrahim: 26) Lalu beliau bersabda bahwa pohon itu adalah pohon hamalah (bertawali). Kemudian aku (perawi) menceritakan hal tersebut kepada Abul Aliyah. Ia menjawab, "Hal yang sama pernah kami dengar." Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama.
Abu Ya'la di dalam kitab Musnad-nya telah meriwayatkan hadis ini dalam bentuk yang lebih lengkap daripada riwayat di atas. Untuk itu dia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Gassan, dari Hammad, dari Syu'aib, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. mendapat kiriman sekarung buah kurma, lalu beliau Saw. membacakan firman-Nya: Perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. (Ibrahim: 24-25) Maka beliau bersabda bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (Ibrahim: 26) Beliau Saw. bersabda, "Pohon yang dimaksud adalah pohon hanzal." Syu'aib mengatakan, ia menceritakan hadis ini kepada Abul Aliyah, maka Abul Aliyah menjawab bahwa hal yang sama pernah ia (dan rekan-rekannya) dengar.
*******************
{اجْتُثَّتْ}
yang telah dicabut. (Ibrahim: 26) Maksudnya, telah dijebol dan dicabut dengan akar-akarnya.
Firman Allah Swt.:
{مِنْ
فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ}
dari permukaan bumi; tidak dapat tetap(tegak) sedikit pun. (Ibrahim:
26)Yakni tidak ada landasan dan tidak ada keteguhan baginya. Demikian pula halnya orang kafir, ia tidak mempunyai pokok, tidak pula cabang, tiada suatu amal pun darinya yang dinaikkan (diterima), dan tiada sesuatu pun yang diterima darinya.
{يُثَبِّتُ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي
الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)
}
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh
itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang
yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.
قَالَ
الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، أَخْبَرَنِي
عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَد قَالَ: سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ، عَنِ الْبَرَاءِ
بْنِ عَازِبٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "اَلْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ، شَهِدَ أَنْ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ:
{يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ}
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Walid, telah
menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepadaku Alqamah ibnu
Marsad; ia pernah mendengar Sa'd ibnu Ubaidah menceritakan hadis dari Al-Barra
ibnu Azib r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Orang muslim apabila
ditanya di dalam kuburnya, ia mengemukakan persaksian bahwa tidak ada Tuhan
selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Yang demikian itu adalah
firman-Nya, "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan
ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat" (Ibrahim:
27).Imam Muslim telah meriwayatkannya pula, demikian juga jamaah lainnya yang semuanya melalui hadis Syu'bah dengan sanad yang sama.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنِ
المِنْهَال بْنِ عَمْرٍو، عَنْ زَاذَانَ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ:
خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةِ
رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلَحَّدْ،
فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ،
كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرَ، وَفِي يَدِهِ عُودٌ يَنْكت بِهِ فِي
الْأَرْضِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: "اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ
الْقَبْرِ"، مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: "إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ
إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ نَزَلَ
إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ، بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ
الشَّمْسُ، مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وحَنُوط مِنْ حَنُوط
الْجَنَّةِ، حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ. ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ
الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ
الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ". قَالَ:
"فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاء فَيَأْخُذُهَا،
فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، حَتَّى
يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الحنُوط،
وَيَخْرُجَ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ.
فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ -يَعْنِي بِهَا -على ملأ من
الملائكة
إِلَّا
قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ [الطَّيِّبُ] ؟ فَيَقُولُونَ: فَلَانٌ ابْنُ فُلَانٍ،
بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِي [كَانُوا] يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا،
حَتَّى يَنْتَهُوا بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ،
فَيُفْتَحُ لَهُ، فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ
الَّتِي تَلِيهَا، حَتَّى يَنْتَهِيَ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ،
فَيَقُولُ اللَّهُ: اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي فِي عِليين، وَأَعِيدُوهُ إِلَى
الْأَرْضِ، فَإِنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ، وَمِنْهَا
أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى".
قَالَ:
"فتُعَاد رُوحُهُ [فِي جَسَدِهِ] فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ
فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ. فَيَقُولَانِ لَهُ:
مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: دِينِي الْإِسْلَامُ. فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا
الرَّجُلُ الَّذِي بُعث فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللَّهِ. فَيَقُولَانِ
لَهُ: وَمَا عِلْمُكَ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ، فَآمَنْتُ بِهِ
وَصَدَّقْتُ. فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ صَدَقَ عَبْدِي،
فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ
بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ -قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِها وَطِيبِهَا، وَيُفْسَحُ
لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ. وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ
الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، هَذَا
يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ لَهُ مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ
الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ. فَيَقُولُ:
رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ. رَبِّ، أَقِمِ السَّاعَةَ، حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي
وَمَالِي".
قَالَ:
"وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا
وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ، نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ
الْوُجُوهِ، مَعَهُمُ المُسُوح، فَجَلَسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ. ثُمَّ يَجِيءُ
مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا
النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، اخْرُجِي إِلَى سَخَط مِنَ اللَّهِ وغَضَب". قَالَ:
"فتَفرق فِي جَسَدِهِ، فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّود مِنَ الصُّوفِ
الْمَبْلُولِ، فَيَأْخُذُهَا، فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ
طَرْفَةَ عَيْنٍ، حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ. وَيَخْرُجَ مِنْهَا
كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ، فَيَصْعَدُونَ بِهَا
فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلأ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا
الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟ فَيَقُولُونَ: فَلَانٌ ابْنُ فُلَانٍ، بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ
الَّتِي كَانَ يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا [حَتَّى يَنْتَهِيَ بِهِ إِلَى
السَّمَاءِ الدُّنْيَا] فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ فَلَا يُفْتَحُ لَهُ". ثُمَّ قَرَأَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ
أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي
سَمِّ الْخِيَاطِ} [الْأَعْرَافِ: 40] ، فَيَقُولُ اللَّهُ: "اكْتُبُوا كِتَابَهُ
فِي سِجِّينٍ، فِي الْأَرْضِ السُّفْلَى، فَتُطْرَحَ رُوحُهُ طَرْحًا". ثُمَّ
قَرَأَ: {وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ
فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ}
[الْحَجِّ: 31] .
"فَتُعَادُ
رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ وَيَقُولَانِ لَهُ:
مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي. فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا
دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي. فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا
الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي.
فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ كَذَبَ فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ،
وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ. فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسُمُومِهَا،
وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ، حَتَّى تختلف فيه أضلاعه، ويأتيه
رجل
قَبِيحُ
الْوَجْهِ، قَبِيحُ الثِّيَابِ، مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي
يَسُوءُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ: وَمَنْ أَنْتَ
فَوَجْهُكَ [الْوَجْهُ] يَجِيئُ بِالشَّرِّ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ،
فَيَقُولُ: رَبِّ، لَا تُقِمِ السَّاعَةَ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah
menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Zadzan, dari
Al-Barra ibnu Azib yang mengatakan, "Kami berangkat bersama Rasulullah Saw.
untuk melayat jenazah seorang Ansar. Setelah kami sampai di kuburnya, si jenazah
masih belum dimasukkan ke liang lahadnya. Maka Rasulullah Saw. duduk, dan kami
duduk di sekitarnya, saat itu di atas kepala kami seakan-akan ada burung. Pada
waktu itu tangan Rasulullah Saw. memegang setangkai kayu yang beliau
ketuk-ketukkan ke tanah, lalu beliau mengangkat kepala dan bersabda,
'Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur,' sebanyak dua atau
tiga kali. Kemudian beliau Saw. bersabda: Sesungguhnya seorang hamba yang
beriman apabila habis masa hidupnya di dunia ini dan akan berpulang ke alam
akhirat, turunlah kepadanya malaikat dari langit yang berwajah putih,
seakan-akan wajah mereka adalah matahari. Mereka membawa kain kafan dari kafan
surga dan wewangian dari wewangian surga, lalu mereka duduk di dekatnya sejauh
mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut yang langsung duduk di dekat
kepalanya, lalu ia berkata, 'Hai jiwa yang baik, keluarlah kamu menuju kepada
ampunan dan rida dari Allah.' Maka keluarlah rohnya dengan mudah seperti setetes
air yang keluar dari mulut wadah minuman, lalu malaikat maut mengambilnya.
Apabila malaikat maut telah mengambilnya, maka dia tidak membiarkannya berada di
tangannya barang sekejap pun melainkan para malaikat itu mengambilnya dengan
segera, lalu mereka masukkan ke dalam kain kafan dan wewangian yang mereka bawa
itu. Maka keluarlah darinya bau minyak kesturi yang paling harum di muka bumi
ini. Mereka membawanya naik (ke langit). Maka tidak sekali-kali mereka melewati
sejumlah malaikat, melainkan malaikat-malaikat itu bertanya, 'Siapakah pemilik
roh yang wangi ini?' Para malaikat yang membawanya menjawab, 'Fulan bin Fulan,'
dengan menyebutkan nama terbaiknya yang menjadi sebutan namanya ketika di dunia.
Hingga sampailah mereka ke langit pertama, lalu mereka mengetuk pintunya dan
dibukakanlah pintu langit untuknya. Maka ikut mengiringinya semua malaikat yang
menghuni langit pertama itu sampai ke langit berikutnya, hingga sampailah ia ke
langit yang ketujuh. Maka Allah berfirman, 'Catatlah bagi hamba-Ku ini catatan
orang-orang yang masuk surga Illiyyin, dan kembalikanlah jasadnya ke bumi,
karena sesungguhnya Aku menciptakan mereka dari tanah, maka Aku kembalikan
mereka ke tanah, dan Aku akan hidupkan mereka dari tanah kali yang lain.' Maka
rohnya dikembalikan ke jasadnya, dan datanglah dua malaikat kepadanya, lalu
kedua malaikat itu mendudukkannya dan bertanya kepadanya, 'Siapakah Tuhanmu?' Ia
menjawab, 'Tuhanku Allah.' Keduanya bertanya, 'Apakah agamamu?' Ia menjawab,
'Agamaku Islam.' Keduanya bertanya, 'Siapakah lelaki ini yang diutus kepada
kalian?' Ia menjawab, 'Dia adalah utusan Allah.' Keduanya bertanya, 'Apakah
ilmumu?' Ia menjawab, 'Saya telah membaca Kitabullah, maka saya beriman
kepadanya dan membenarkannya.' Maka berserulah suara dari langit yang
mengatakan, 'Benarlah apa yang dikatakan hamba-Ku. Maka hamparkanlah untuknya
hamparan dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya
sebuah pintu yang menuju surga.' Maka kenikmatan dan wewangian surgawi
datang kepadanya, dan diluaskanlah kuburnya sejauh mata memandang baginya. Lalu
datanglah kepadanya seorang lelaki yang berwajah tampan, berpakaian indah, dan
baunya sangat wangi. Lelaki itu berkata, 'Bergembiralah kamu dengan keadaan yang
menggembirakanmu ini. Hari ini adalah hari kamu yang pernah dijanjikan
kepadamu.' Maka ia bertanya kepada lelaki itu, 'Siapakah kamu ini, melihat
rupamu kamu adalah orang yang datang dengan membawa kebaikan.' Maka lelaki itu
menjawab, 'Aku adalah amalmu yang saleh.' Maka ia berkata, 'Wahai Tuhanku,
jadikanlah hari kiamat, wahai Tuhanku, jadikanlah hari kiamat, agar aku dapat
kembali kepada keluarga dan harta bendaku.' Dan sesungguhnya seorang hamba yang
kafir apabila telah terputus dari dunianya dan akan menghadap ke alam
akhiratnya, turunlah kepadanya malaikat-malaikat dari langit yang semuanya
berwajah hitam dengan karung yang kasar. Lalu para malaikat itu duduk di
dekatnya sejauh mata memandang: Kemudian datanglah malaikat maut yang langsung
duduk di dekat kepalanya. Maka malaikat maut berkata, 'Hai jiwa yang buruk,
keluarlah kamu menuju kepada murka dan benci Allah!' Maka rohnya berpencar ke
seluruh tubuhnya (yakni menolak), hingga malaikat maut mencabutnya sebagaimana
seseorang mencabut tusuk sate dari kain bulu yang basah; malaikat maut
mencabutnya dengan paksa. Apabila ia telah mencabutnya, ia tidak membiarkannya
di tangannya barang sekejap pun melainkan para malaikat memasukkannya ke dalam
karung itu. Dan keluarlah darinya bau bangkai yang terbusuk yang ada di muka
bumi. Para malaikat membawanya naik, dan tidak sekali-kali mereka
melewati sekumpulan malaikat melainkan bertanya, 'Siapakah yang memiliki ruh
yang buruk ini?' Para malaikat yang membawanya berkata bahwa dia adalah si Anu
bin Anu, dengan menyebut nama terburuknya yang biasa disebutkan untuknya di
dunia. Hingga sampailah mereka di langit pertama, lalu pintunya diketuk, tetapi
tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya:
'Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak
(pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum'
(Al-A'raf: 40). Kemudian Allah berfirman, 'Catatkanlah ketetapannya di
dalam Sijjin di lapisan bumi yang terbawah,' lalu rohnya dicampakkan dengan
kasar. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia
seakan-akan jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin
di tempat yang jauh. (Al-Hajj: 31) Kemudian rohnya dikembalikan ke jasadnya.
Lalu ia didatangi oleh dua malaikat, dan kedua malaikat itu mendudukkannya serta
bertanya kepadanya, 'Siapakah Tuhanmu?' Ia menjawab, 'Ha, ha, saya
tidak tahu.' Keduanya bertanya lagi, 'Apakah agamamu?' Ia menjawab, 'Ha, ha,
saya tidak tahu.' Keduanya bertanya, 'Siapakah lelaki ini yang diutus di antara
kalian?' Ia menjawab, 'Ha, ha, saya tidak tahu.' Lalu terdengarlah suara dari
langit yang mengatakan, 'Hamba-Ku berdusta, maka gelarkanlah untuknya hamparan
dari neraka dan bukakanlah baginya suatu pintu dari neraka!' Maka panasnya
neraka dan asapnya sampai kepadanya, lalu kuburannya menggencetnya sehingga
tulang-tulang iganya berantakan. Kemudian datanglah kepadanya seorang lelaki
yang buruk wajahnya dan pakaiannya serta busuk baunya, lalu lelaki itu berkata,
'Bersenang-senanglah kamu dengan hal yang menyiksamu, inilah harimu yang telah
dijanjikan kepadamu.' Ia bertanya, 'Siapakah kamu, wajahmu menandakan wajah
orang yang datang membawa keburukan?' Maka lelaki itu menjawab, 'Akulah amal
perbuatanmu yang buruk.' Maka ia berkata, 'Wahai Tuhanku, janganlah Engkau
jadikan hari kiamat'."Imam Abu Daud meriwayatkan hadis ini melalui hadis Al-A'masy, sedangkan Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Al-Minhal ibnu Amr dengan sanad yang sama.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Yunus ibnu Habib, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Zadzan, dari Al-Barra ibnu Azib r.a. yang mengatakan, "Kami berangkat bersama Rasulullah Saw. melayat jenazah," kemudian disebutkan hadis yang semisal. Di dalam riwayat ini disebutkan bahwa:
"حَتَّى
إِذَا خَرَجَ رُوحُهُ صَلَّى عَلَيْهِ كُلُّ مَلَكٍ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ،
[وَكُلُّ مَلَكٍ فِي السَّمَاءِ] وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، لَيْسَ مِنْ
أَهْلِ بَابٍ إِلَّا وَهُمْ يَدْعُونَ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، أَنْ يَعْرُجَ
بِرُوحِهِ مَنْ قِبَلِهِمْ".
apabila rohnya telah keluar (dari jasad orang mukmin), maka memohonkan
ampunan dan rahmat buatnya semua malaikat yang ada di antara langit dan bumi,
demikian pula semua malaikat yang ada di langit. Dan semua pintu langit dibuka,
tiada ahli suatu pintu langit pun melainkan mereka berdoa kepada Allah Swt. agar
rohnya dinaikkan oleh mereka.Di akhir hadis ini disebutkan,
"ثُمَّ
يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَصَمُّ أَبْكَمُ، وَفِي يَدِهِ مرزبَّة لَوْ ضُرِبَ بِهَا
جَبَلٌ لَكَانَ تُرَابًا، فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً فَيَصِيرُ تُرَابًا. ثُمَّ
يُعِيدُهُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، كَمَا كَانَ، فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً أُخْرَى
فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ". قَالَ
الْبَرَاءُ: ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى النَّارِ، وَيُمَهَّدُ مِنْ فُرُشِ
النَّارِ
"Lalu ia diserahkan kepada malaikat yang bengis, kejam, dan dingin serta
tidak bicara; tangannya memegang gada, seandainya gada itu dipukulkan ke sebuah
gunung, tentulah gunung itu hancur menjadi debu dengan sekali pukul. Lalu
malaikat itu memukulnya sekali pukul, maka ia jadi debu, kemudian Allah
mengembalikannya seperti semula; dan malaikat itu kembali memukulnya dengan
pukulan yang lain, maka menjeritlah ia dengan jeritan yang sangat keras, suara
jeritannya terdengar oleh segala sesuatu kecuali manusia dan jin." Al-Barra
mengatakan, "Lalu dibukakan baginya sebuah pintu yang menuju neraka dan
dihamparkan baginya hamparan dari neraka."Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari ayahnya, dari Khaisamah, dari Al-Barra sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. (Ibrahim: 27) Bahwa makna yang dimaksud ialah azab kubur.
Al-Mas'udi telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Mukhariq, dari ayahnya, dari Abdullah yang mengatakan bahwa sesungguhnya orang mukmin itu apabila mati, ia didudukkan di dalam kuburnya, lalu ditanyai, "Siapakah Tuhanmu, apakah agamamu, dan siapakah nabimu?" Maka Allah meneguhkannya, dan ia menjawab, "Tuhanku Allah, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad Saw." Lalu Abdullah membacakan firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. (Ibrahim: 27)
Imam Abdu ibnu Humaid telah meriwayatkan di dalam kitab Musnad-nya:
حَدَّثَنَا
يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ
قَتَادَةَ، حَدَّثَنَا أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ،
وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ، إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ". قَالَ:
"فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي
هَذَا الرَّجُلِ؟ " قَالَ: "فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ: أَشْهَدُ أَنَّهُ
عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ". قَالَ: "فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ
مِنَ النَّارِ، قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الْجَنَّةِ". قَالَ
نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "فَيَرَاهُمَا جميعا".
قال
قَتَادَةُ:
وَذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا، وَيُمْلَأُ
عَلَيْهِ خَضِرًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
bahwa telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan
kepada kami Syaiban ibnu Abdur Rahman, dari Qatadah; telah menceritakan kepada
kami Anas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya seorang hamba
itu apabila diletakkan di dalam kuburnya, dan teman-temannya telah berpaling
meninggalkannya, sesungguhnya dia benar-benar mendengar suara terompah mereka,
lalu ia didatangi oleh dua malaikat. Kedua malaikat itu mendudukkannya dan
menanyainya, "Bagaimanakah menurutmu tentang lelaki ini (maksudnya Nabi
Saw.)?" Adapun orang mukmin, ia akan menjawab, "Saya bersaksi bahwa dia
adalah hamba dan utusan Allah." Lalu dikatakan kepadanya, "Lihatlah tempat
dudukmu di neraka itu, kini Allah telah menggantinya untukmu dengan tempat duduk
di surga." Nabi Saw. bersabda, "Maka dia melihat keduanya itu."
Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa sesungguhnya diluaskan
baginya tempat kuburnya seluas tujuh puluh hasta, dan dipenuhi dengan
tumbuh-tumbuhan yang hijau segar sampai hari kiamat.Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dari Abd ibnu Humaid. Imam Nasai mengetengahkannya melalui hadis Yunus ibnu Muhammad Al-Mu-addib dengan sanad yang sama.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْج،
أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ، أَنَّهُ سَأَلَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ
فَتَّاني الْقَبْرِ فَقَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ: "إِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا، فَإِذَا
أُدْخِلَ الْمُؤْمِنُ قَبَرَهُ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ، جَاءَ مَلَكٌ
شَدِيدُ الِانْتِهَارِ، فَيَقُولُ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟
فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: أَقُولُ: إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ وَعَبْدُهُ. فَيَقُولُ
لَهُ الْمَلَكُ: انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ الَّذِي كَانَ لَكَ فِي النَّارِ، قَدْ
أَنْجَاكَ اللَّهُ مِنْهُ، وَأَبْدَلَكَ بِمَقْعَدِكَ الَّذِي تَرَى مِنَ النَّارِ
مَقْعَدَكَ الَّذِي تَرَى مِنَ الْجَنَّةِ، فَيَرَاهُمَا كِلَيْهِمَا. فَيَقُولُ
الْمُؤْمِنُ: دَعُونِي أُبَشِّرُ أَهْلِي. فَيُقَالُ لَهُ: اسْكُنْ. وَأَمَّا
الْمُنَافِقُ فَيُقْعَدُ إِذَا تَوَلَّى عَنْهُ أَهْلُهُ، فَيُقَالُ لَهُ: مَا
كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، أَقُولُ كَمَا
يَقُولُ النَّاسُ. فَيُقَالُ لَهُ: لَا دَرَيْتَ، هَذَا مَقْعَدُكَ الَّذِي كَانَ
لَكَ فِي الْجَنَّةِ، قَدْ أُبْدِلْتَ مَكَانَهُ مَقْعَدَكَ مِنَ
النَّارِ".
قَالَ
جَابِرٌ: فَسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
"يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ فِي الْقَبْرِ عَلَى مَا مَاتَ، الْمُؤْمِنُ عَلَى
إِيمَانِهِ، وَالْمُنَافِقُ عَلَى نِفَاقِهِ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, dari
Ibnu Juraij; telah menceritakan kepadaku AbuzZubair, bahwa ia pernah bertanya
kepada Jabir ibnu Abdullah tentang fitnah kubur. Maka Jabir berkata bahwa ia
pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya umat ini akan diuji
di dalam kuburnya. Apabila seorang mukmin dimasukkan ke dalam kuburnya dan
teman-temannya telah berpaling meninggalkannya, datanglah kepadanya malaikat
yang sangat bengis. Lalu malaikat bertanya kepadanya, "Apakah yang kamu katakan
sehubungan dengan lelaki ini (maksudnya Nabi Saw.)?" Seorang mukmin akan
menjawab bahwa sesungguhnya dia adalah utusan dan hamba Allah. Maka malaikat
berkata kepadanya, "Lihatlah tempat tinggalmu yang telah disediakan untukmu di
dalam neraka, kini Allah telah menyelamatkan kamu darinya dan menggantikannya
dengan tempat tinggal di surga seperti yang kamu lihat sekarang.” Dia melihat
kedua-duanya. Maka orang mukmin akan berkata, "Biarkanlah aku menyampaikan
berita gembira ini kepada keluargaku.” Maka dikatakan kepadanya, "Tinggallah
kamu di sini!" Adapun orang munafik, maka ia didudukkan; dan apabila semua
keluarganya telah pergi meninggalkannya, dikatakan kepadanya, "Bagaimanakah
pendapatmu tentang lelaki ini?” Ia menjawab, "Tidak tahu, saya hanya mengatakan
seperti apayang dikatakan oleh orang lain.” Dikatakan kepadanya, "Kamu tidak
tahu, sekarang inilah tempat tinggalmu yang telah disediakan di surga untukmu,
kini telah diganti dengan tempat tinggal di dalam neraka buatmu.” Jabir
mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Setiap hamba di dalam
kuburnya dibangkitkan sesuai dengan iman yang dibawanya mati. Orang mukmin
berada dalam keimanannya, dan orang munafik berada dalam kemunafikannya.Sanad hadis ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ رَاشِدٍ،
عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدٍ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
الْخُدْرِيِّ قَالَ: شَهِدنا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ جِنَازَةً، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ تُبتَلى فِي قُبُورِهَا، فَإِذَا
الْإِنْسَانُ دُفِنَ وَتَفَرَّقَ عَنْهُ أَصْحَابُهُ، جَاءَهُ مَلِكٌ فِي يَدِهِ
مِطْرَاقٌ فَأَقْعَدَهُ، قَالَ: مَا تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَإِنْ كَانَ
مُؤْمِنًا قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ لَهُ: صَدَقْتَ. ثُمَّ يَفْتَحُ
لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ، فَيَقُولُ: هَذَا كَانَ مَنْزِلُكَ لَوْ كَفَرْتَ
بِرَبِّكَ، فَأَمَّا إِذْ آمَنْتَ فَهَذَا مَنْزِلُكَ. فَيَفْتَحُ لَهُ بَابًا
إِلَى الْجَنَّةِ، فَيُرِيدُ أَنْ يَنْهَضَ إِلَيْهِ، فَيَقُولُ لَهُ: اسْكُنْ.
وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ". "وَإِنْ كَانَ كَافِرًا أَوْ مُنَافِقًا يَقُولُ
لَهُ: مَا تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، سَمِعْتُ النَّاسَ
يَقُولُونَ شَيْئًا فَيَقُولُ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ وَلَا اهْتَدَيْتَ.
ثُمَّ يَفْتَحُ لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ، فيقول له: هذا
مَنْزِلُكَ
لَوْ آمَنْتَ بِرَبِّكَ، فَأَمَّا إِذْ كَفَرْتَ بِهِ فَإِنَّ اللَّهَ، عَزَّ
وَجَلَّ، أَبْدَلَكَ بِهِ هَذَا. فَيُفْتَحُ لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ، ثُمَّ
يقمَعه قَمْعَةً بِالْمِطْرَاقِ يَسْمَعُهَا خَلْقُ اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ،
كُلُّهُمْ غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ". فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
مَا أَحَدٌ يَقُومُ عَلَيْهِ مَلَكٌ فِي يَدِهِ مِطْرَاقٌ (2) إِلَّا هِيلَ عِنْدَ
ذَلِكَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {يُثَبِّتُ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ}
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir, telah
menceritakan kepada kami Abbad ibnu Rasyid, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Abu
Nadrah, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang mengatakan, kami melayat jenazah seseorang
bersama Rasulullah Saw., lalu Rasulullah Saw. bersabda: Hai manusia,
sesungguhnya umat ini akan diuji di dalam kuburnya. Apabila seseorang telah
dikuburkan dan teman-temannya bubar meninggalkannya, datanglah kepadanya seorang
malaikat yang ditangannya memegang sebuah palu besi, lalu malaikat itu
mendudukkannya, dan berkata kepadanya, "Bagaimanakah menurutmu tentang lelaki
ini?” Jika dia seorang mukmin, maka ia menjawab, "Saya bersaksi bahwa tidak ada
Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya.” Maka malaikat berkata kepadanya, "Kamu benar.” Lalu dibukakan
untuknya sebuah pintu menuju neraka, dan malaikat itu berkata, "Inilah tempatmu
jika kamu kafir kepada Tuhanmu. Tetapi sekarang karena kamu beriman, maka inilah
tempatmu, "Lalu dibukakan untuknya sebuah pintu yang menuju surga, ketika ia
hendak bangkit menuju kepadanya, dikatakan kepadanya, "Diamlah kamu di sini!"
Dan diluaskan baginya tempat tinggal dalam kuburnya. Jika dia seorang kafir atau
seorang munafik, ketika ditanyakan kepadanya, "Bagaimanakah menurutmu tentang
lelaki ini (Nabi Saw)?” Maka ia menjawab, "Saya tidak tahu, saya hanya
mendengar orang-orang mengatakan sesuatu tentangnya.” Maka berkatalah malaikat
itu, "Kamu tidak tahu, tidak pernah membaca, tidakpernah pula mencari petunjuk.”
Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu menuju surga, dan malaikat itu berkata
kepadanya, "Inilah tempatmu jika kamu beriman. Tetapi karena sekarang ternyata
kamu kafir, maka sesungguhnya Allah Swt. telah menggantikannya untukmu dengan
ini.” Lalu dibukakan untuknya sebuah pintu menuju neraka, kemudian malaikat itu
memukulnya dengan palu sekali pukul, maka ia menjerit dengan jeritan yang keras,
suara jeritannya terdengar oleh semua makhluk Allah Swt. kecuali jin dan
manusia. Salah seorang di antara mereka (para sahabat) bertanya, "Wahai
Rasulullah, tiada seorang pun yang berdiri di hadapannya seorang malaikat dengan
membawa palu melainkan dia pasti ketakutan saat itu?" Rasulullah Saw. membacakan
firmanya-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan
ucapan yang teguh itu. (Ibrahim: 27)Sanad hadis ini tidak ada masalah, karena sesungguhnya Abbad ibnu Rasyid At-Tamimi adalah seorang yang pernah diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara maqrun (bersamaan), tetapi sebagian ulama menilainya daif.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي
ذِئْبٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَار، عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ
الْمَيِّتَ تَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ، فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ الصَّالِحُ
قَالُوا: اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ
الطَّيِّبِ، اخْرُجِي حَمِيدَةً، وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبٍّ غَيْرِ
غَضْبَانَ". قَالَ: "فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ حَتَّى تَخْرُجَ، ثُمَّ
يُعْرَج بِهَا إِلَى السَّمَاءِ، فَيُسْتَفْتَحُ لَهَا فَيُقَالُ: مَنْ هَذَا؟
فَيُقَالُ: فَلَانٌ. فَيَقُولُونَ: مَرْحَبًا بِالرُّوحِ الطَّيِّبَةِ كَانَتْ فِي
الْجَسَدِ الطَّيِّبِ، ادْخُلِي حَمِيدَةً، وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ،
وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ" قَالَ: فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ، حَتَّى
يَنْتَهِيَ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي فِيهَا اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ.
وَإِذَا
كَانَ الرَّجُلُ السُّوءُ قَالُوا: اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ
كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ، اخْرُجِي ذَمِيمَةً، وَأَبْشِرِي بِحَمِيمٍ
وغَسَّاق، وَآخَرَ مِنْ شَكْلِهِ أَزْوَاجٍ. فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ
حَتَّى تَخْرُجَ، ثُمَّ يُعْرَجُ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ، فَيُسْتَفْتَحُ لَهَا
فَيُقَالُ: مَنْ هَذَا؟ فَيُقَالُ: فَلَانٌ، فَيُقَالُ: لَا مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ
الْخَبِيثَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ، ارْجِعِي ذَمِيمَةً، فَإِنَّهُ لَا
تُفْتَحُ لَكِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ. فَيُرْسَلُ مِنَ السَّمَاءِ، ثُمَّ يَصِيرُ
إِلَى الْقَبْرِ"، فَيَجْلِسُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَيُقَالُ لَهُ مِثْلَ مَا
قِيلَ فِي الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ، وَيَجْلِسُ الرَّجُلُ السُّوءُ فَيُقَالُ لَهُ
مِثْلَ مَا قِيلَ فِي الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad,
dari Ibnu Abu Zi-b, dari Muhammad ibnu Amr ibnu Ata, dari Sa'id ibnu Yasar, dari
Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang bersabda: bahwa sesungguhnya mayat (orang
yang sedang menjelang ajalnya) dihadiri oleh para malaikat. Apabila dia adalah
seorang yang saleh, maka malaikat-malaikat itu berkata, "Hai jiwa yang baik yang
berada di dalam jasad yang baik, keluarlah. Keluarlah kamu dalam keadaan
terpuji, dan bergembiralah kamu dengan ketenteraman, nikmat, dan Tuhan yang
tidak murka." Kalimat itu terus-menerus diucapkan sehingga rohnya keluar,
kemudian dibawa naik ke langit dan dimintakan izin baginya untuk naik. Maka
ditanyakan, "Siapakah yang mau masuk ini?" Maka dijawab, "Orang ini adalah si
Fulan." Para penjaga pintu langit berkata, "Selamat datang kepada roh yang baik
yang berada di dalam jasad yang baik, masuklah kamu dalam keadaan terpuji, dan
bergembiralah dengan ketenteraman dan nikmat, serta Tuhan yang tidak murka."
Kalimat ini terus-menerus diucapkan kepadanya hingga sampailah ia ke langit yang
tertinggi untuk dihadapkan kepada Allah Swt. Apabila dia adalah seorang yang
buruk, maka malaikat-malaikat itu berkata, "Hai jiwa yang buruk yang berada di
dalam tubuh yang buruk keluarlah kamu dalam keadaan tercela dan bergembiralah
kamu dengan air yang sangat panas dan air yang sangat dingin serta berbagai azab
lain yang serupa itu." Kalimat ini terus-menerus dikatakan kepadanya hingga ia
keluar dari jasadnya. Kemudian rohnya dibawa naik ke langit. Lalu pintu langit
diketuk untuknya, maka dijawab dengan pertanyaan, "Siapakah orang ini?" Dijawab
bahwa dia adalah si Fulan, dan dikatakan kepadanya, "Tiada selamat datang bagi
jiwa yang buruk yang tadinya berada di dalam jasad yang buruk. Kembalilah kamu
dalam keadaan tercela, karena t sesungguhnya pintu-pintu langit tidak
akan dibuka untukmu!" Maka rohnya dilemparkan dari langit, dan akhirnya kembali
ke kuburnya. Orang yang saleh didudukkan, dan ditanyakan kepadanya
pertanyaan seperti yang disebutkan pada hadis pertama. Sedangkan orang yang
buruk (jahat) didudukkan pula, lalu ditanyakan kepadanya pertanyaan-pertanyaan
seperti yang disebutkan pada hadis pertama.Imam Nasai meriwayatkan hadis ini melalui jalur Ibnu Abu Zi-b dengan lafaz yang semisal, begitu pula Imam Ibnu Majah.
Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan, "Apabila roh seorang hamba mukmin keluar dari tubuhnya, maka ia disambut oleh dua malaikat yang langsung membawanya naik (ke langit)." Hammad mengatakan bahwa di dalam riwayat ini disebutkan perihal baunya yang sangat harum, disebutkan pula perihal minyak kesturi. Dilanjutkan bahwa para malaikat penghuni langit berkata, "Ini adalah roh yang baik yang datang dari bumi, semoga Allah merahmatimu, juga merahmati jasadmu yang dahulu kamu pakai." Maka dibawalah ia menghadap kepada Allah swt. Allah Swt. berfirman, "Bawalah ia pergi sampai akhir masa (kebangkitannya)!" Sesungguhnya orang yang kafir itu apabila rohnya keluar, Hammad menyebutkan perihal baunya yang sangat busuk, disebutkan pula dosanya. Maka penduduk langit berkata, "Ini adalah roh yang buruk yang datang dari bumi." Maka dikatakan, "Bawalah dia pergi sampai akhir masanya." Abu Hurairah mengatakan seraya memperagakan bahwa lalu Rasulullah Saw. menutupkan kembali kain kafan yang tadinya menutupi hidung (si jenazah).
Ibnu Hibban mengatakan di dalam kitab Sahih-nya bahwa:
حَدَّثَنَا
عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَمْدَانِيُّ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ،
حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ
قَسَامَةَ بْنِ زُهَيْرٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عليه وسلم قال: "إن الْمُؤْمِنَ إِذَا قُبض، أَتَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ
بِحَرِيرَةٍ بَيْضَاءَ، فَيَقُولُونَ: اخْرُجِي إِلَى رَوْحِ اللَّهِ. فَتَخْرُجُ
كَأَطْيَبِ رِيحِ مِسْكٍ، حَتَّى إِنَّهُ لَيُنَاوِلُهُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا
يَشُمُّونَهُ حَتَّى يَأْتُوا بِهِ بَابَ السَّمَاءِ، فَيَقُولُونَ مَا هَذَا
الرِّيحُ الطَّيِّبَةُ الَّتِي جَاءَتْ مِنْ قِبل الْأَرْضِ؟ وَلَا يَأْتُونَ
سَمَاءً إِلَّا قَالُوا مِثْلَ ذَلِكَ، حَتَّى يَأْتُوا بِهِ أَرْوَاحَ
الْمُؤْمِنِينَ، فَلهُم أَشُدُّ فَرَحًا بِهِ مِنْ أَهْلِ الْغَائِبِ
بِغَائِبِهِمْ، فَيَقُولُونَ: مَا فَعَلَ فُلَانٌ؟ فَيَقُولُونَ: دَعُوهُ حَتَّى
يَسْتَرِيحَ، فَإِنَّهُ كَانَ فِي غَمٍّ! فَيَقُولُ: قَدْ مَاتَ، أَمَا أَتَاكُمْ؟
فَيَقُولُونَ: ذُهب بِهِ إِلَى أُمِّهِ الْهَاوِيَةِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ
فَيَأْتِيهِ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ بمسْح فَيَقُولُونَ: اخْرُجِي إِلَى غَضَبِ
اللَّهِ، فَتَخْرُجُ كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ، فَيُذْهَب بِهِ إِلَى بَابِ
الْأَرْضِ"
telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Muhammad Al-Hamdani, telah
menceritakan kepada kami Zaid ibnu Akhram, telah menceritakan kepada kami Mu'az
ibnu Hisyam, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Qatadah, dari Qisam ibnu
Zuhair, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw., bahwa sesungguhnya seorang
mukmin itu apabila akan dicabut nyawanya, maka didatangi oleh malaikat rahmat
dengan membawa kain sutra putih. Kemudian malaikat berkata kepadanya, "Keluarlah
engkau menuju kepada nikmat Allah!" Maka keluarlah rohnya dengan menyebarkan bau
yang paling harum dari minyak misk (kesturi), sehingga sebagian dari malaikat
dengan sebagian yang lainnya saling menerimanya seraya menciuminya. Mereka
membawanya sampai di pintu langit, lalu mereka (para malaikat) yang ada di
langit itu berkata, "Bau harum apakah yang datang dari arah bumi ini?" Tidak
sekali-kali mereka mendatangi suatu langit, melainkan para malaikat yang
menghuninya mengatakan hal yang sama. Kemudian mereka membawanya kepada roh-roh
kaum mukmin, dan mereka (arwah kaum mukmin) benar-benar sangat gembira menyambut
kedatangannya, lebih gembira dari sambutan mereka kepada salah seorang dari
mereka yang pergi, lalu berkumpul dengan mereka kembali. Arwah orang-orang
mukmin itu bertanya kepadanya, "Apakah yang telah dilakukan oleh si Fulan?"
Sebagian dari mereka berkata, "Biarkanlah dia beristirahat, sesungguhnya dia
dahulu dalam keadaan susah." Maka dikatakan, "Dia telah mati, bukankah dia telah
datang kepada kalian?" Sebagian lagi berkata, "Kesusahannya telah dibuang jauh
di dasar bumi." Adapun kalau orang kafir mati, maka ia didatangi oleh
malaikat-malaikat azab dengan membawa karung, lalu mereka berkata, "Keluarlah
kamu menuju kepada murka Allah!" Maka keluarlah rohnya dengan menyebarkan bau
bangkai yang sangat busuk, kemudian ia dibawa ke pintu bumi (dasar
bumi).Ibnu Hibban telah meriwayatkan pula melalui jalur Hammam ibnu Yahya, dari Abul Jauza, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. hadis yang semisal; di dalamnya disebutkan bahwa:
قَالَ:
"فَيُسأل: مَا فَعَلَ فُلَانٌ، مَا فَعَلَ فَلَانٌ؟ مَا فَعَلَتْ فُلَانَةُ؟ "
قَالَ: "وَأَمَّا الْكَافِرُ فَإِذَا قُبضت نَفْسُهُ، وذُهب بِهَا إِلَى بَابِ
الْأَرْضِ تَقُولُ خَزَنَةُ الْأَرْضِ: مَا وَجَدْنَا رِيحًا أَنْتَنَ مِنْ هَذِهِ.
فَيُبْلَغُ بِهَا الْأَرْضُ السُّفْلَى"
lalu ia ditanya, "Apakah yang telah dilakukan oleh si Fulan, si Anu, dan
si Fulanah?" Adapun orang kafir, apabila nyawanya telah dicabut, maka rohnya
dibawa ke dasar bumi. Dan para malaikat penjaga bumi berkata, "Kami belum pernah
mencium bau yang lebih busuk daripada ini," hingga sampailah rohnya ke dasar
bumi yang paling bawah.Qatadah mengatakan, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa arwah orang-orang mukmin dikumpulkan di Al-Jabiyin, sedangkan arwah orang-orang kafir dikumpulkan di Barhut, yaitu suatu rawa yang ada di Hadramaut, kemudian kuburannya dipersempit (yakni menjepitnya).
قَالَ
الْحَافِظُ أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى
بْنُ خَلَفٍ، حَدَّثَنَا بِشْرِ بْنِ الْمُفَضَّلِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
إِسْحَاقَ، عَنْ سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ المقْبرُي، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِذَا قُبِرَ
الْمَيِّتُ -أَوْ قَالَ: أَحَدُكُمْ -أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ
يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا: الْمُنْكَرُ، وَالْآخِرُ: النَّكِيرُ، فَيَقُولَانِ: مَا
كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ: هُوَ عَبْدُ
اللَّهِ وَرَسُولُهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولَانِ: قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ
تَقُولُ هَذَا. ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي
سَبْعِينَ. ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: نَمْ. فَيَقُولُ:
أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ، فَيَقُولَانِ: نَمْ نومةَ الْعَرُوسِ
الَّذِي لَا يُوقِظُهُ إِلَّا أحَبَّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ، حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ
مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ. وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ: سَمِعْتُ النَّاسَ
يَقُولُونَ فَقُلْتُ مَثَلَهُمْ، لَا أَدْرِي. فَيَقُولَانِ: قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ
أنك
تَقُولُ
ذَلِكَ، فَيُقَالُ لِلْأَرْضِ: الْتَئِمِي عَلَيْهِ. فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ،
فَتَخْتَلِفُ أَضْلَاعُهُ، فَلَا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ
اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ"
Al-Hafiz Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya
ibnu Khalaf, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnul Mufaddal, dari Abdur
Rahman, dari Sa'id ibnu Abu Sa'id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah yang mengatakan,
"Rasulullah Saw. telah bersabda bahwa: apabila mayat telah dikuburkan, atau
seseorang di antara kalian dikuburkan, maka didatangi oleh dua malaikat yang
hitam lagi biru; salah satunya disebut Munkar, dan yang lainnya Nakir. Keduanya
berkata, 'Bagaimanakah pendapatmu tentang lelaki ini?' Maka ia menjawab, 'Dia
adalah hamba dan utusan Allah. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah,
dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.' Keduanya berkata,
'Sesungguhnya kami mengetahui bahwa kamu pasti akan mengatakan itu.' Kemudian
diluaskan baginya kuburan tempat tinggalnya seluas tujuh puluh hasta, dan diberi
cahaya di dalamnya, lalu dikatakan kepadanya, 'Tidurlah kamu.' Tetapi ia
menjawab, 'Saya mau kembali kepada keluarga saya untuk memberitahukan kepada
mereka.' Keduanya berkata, 'Tidurlah kamu seperti tidurnya pengantin, yang tiada
orang yang membangunkannya melainkan hanya istri yang dicintainya,' hingga Allah
membangunkannya hidup kembali dari tempat tidurnya itu. Jika dia adalah orang
munafik, maka jawaban yang dikatakannya adalah, 'Saya mendengar orang-orang
mengatakan sesuatu, maka saya mengatakan seperti apa yang dikatakan mereka,
tetapi saya tidak tahu.' Keduanya berkata, 'Sesungguhnya kami mengetahui bahwa
kamu pasti akan mengatakan demikian.' Maka dikatakan kepada bumi, 'Jepitlah
dia!' Lalu bumi menjepitnya sehingga tulang-tulang iganya berantakan. Dia
terus-menerus dalam keadaan tersiksa di dalam kuburnya hingga Allah
membangkitkannya dari tempat tidurnya itu."Sesudah mengetengahkan hadis ini Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan garib.
قَالَ
حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
{يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ} قَالَ: "ذَاكَ إِذَا قِيلَ لَهُ فِي الْقَبْرِ: مَنْ
رَبُّكَ؟ وَمَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ، وَدِينِيَ الْإِسْلَامُ،
وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ، جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ، فَآمَنْتُ
بِهِ وَصَدَّقْتُ. فَيُقَالُ لَهُ: صَدَقْتَ، عَلَى هَذَا عِشْتَ، وَعَلَيْهِ
مِتَّ، وَعَلَيْهِ تُبْعَثُ"
Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu
Salamah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. membacakan
firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan
ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. (Ibrahim: 27)
Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Demikian itu apabila ditanyakan kepadanya
di dalam kuburnya, "Siapakah Tuhanmu, apa agamamu, dan siapakah Nabi
(panutanmu)?" Maka ia (orang mukmin) akan menjawab, "Allah adalah
Tuhanku, Islam agamaku, dan Nabi (panutanku) adalah Muhammad; dia telah
datang kepada kami dengan membawa bukti-bukti dari sisi Allah, lalu saya beriman
kepadanya dan membenarkannya.” Maka dikatakan kepadanya, "Kamu benar. Memang
kamu hidup, mati, dan dibangkitkan dalam keadaan berpegangan kepada hal
tersebut.”
قَالَ
ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا مُجَاهِدُ بْنُ مُوسَى وَالْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ
قَالَا حَدَّثَنَا يَزِيدُ، أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي
سَلَمَةَ، عَنْ أبي هريرة إِنَّ الْمَيِّتَ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ حِينَ
يُوَلُّونَ عَنْهُ مُدْبِرِينَ، فَإِذَا كَانَ مُؤْمِنًا كَانَتِ الصَّلَاةُ عِنْدَ
رَأْسِهِ، وَالزَّكَاةُ عَنْ يَمِينِهِ، وَالصِّيَامُ عَنْ يَسَارِهِ، وَكَانَ
فِعْلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانِ
إِلَى النَّاسِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ، فَيُؤْتَى مِنْ عِنْدِ رَأْسِهِ فَتَقُولُ
الصَّلَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، فَيُؤْتَى مِنْ عَنْ يَمِينِهِ فَتَقُولُ
الزَّكَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ. فَيُؤْتَى عَنْ يَسَارِهِ فَيَقُولُ الصِّيَامُ:
مَا قِبَلي مَدخَلٌ. فَيُؤْتَى مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ فَيَقُولُ فِعْلُ
الْخَيِّرَاتِ: مَا قِبَلي مَدْخَلٌ. فَيُقَالُ لَهُ اجْلِسْ.
فَيَجْلِسُ،
قَدْ تَمثّلت لَهُ الشَّمْسُ، قَدْ دَنَتْ لِلْغُرُوبِ، فَيُقَالُ لَهُ أَخْبِرْنَا
عَمَّا نَسْأَلُكَ. فَيَقُولُ: دَعُونِي حَتَّى أُصَلِّيَ. فَيُقَالُ: إِنَّكَ
سَتَفْعَلُ، فَأَخْبِرْنَا عَمَّا نَسْأَلُكَ. فَيَقُولُ: وعَمَّ تَسْأَلُونِي؟
فَيُقَالُ: أَرَأَيْتَ هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي كَانَ فِيكُمْ، مَاذَا تَقُولُ
فِيهِ، وَمَاذَا تَشْهَدُ بِهِ عَلَيْهِ؟ فَيَقُولُ: أَمُحَمَّدٌ؟ فَيُقَالُ لَهُ:
نَعَمْ. فَيَقُولُ: أَشْهَدُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ، وَأَنَّهُ جَاءَنَا
بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ، فَصَدَّقْنَاهُ. فَيُقَالُ لَهُ: عَلَى
ذَلِكَ حَييتَ، وَعَلَى ذَلِكَ مِتَّ، وَعَلَى ذَلِكَ تُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.
ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا ويُنَوَّر لَهُ فِيهِ،
وَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ، فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلَى مَا
أَعَدَّ اللَّهُ لَكَ فِيهَا. فَيَزْدَادُ غِبْطَةً [وَسُرُورًا] ثُمَّ يُجْعَلُ
نَسَمُهُ فِي النَّسَمِ الطَّيِّبِ، وَهِيَ طَيْرٌ خُضْرٌ تُعَلَّقُ بِشَجَرِ
الْجَنَّةِ، وَيُعَادُ الْجَسَدُ إِلَى مَا بُدِئَ مِنْهُ مِنَ التُّرَابِ"،
وَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ
الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ}
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mujahid ibnu Musa dan
Al-Hasan ibnu Muhammad, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami
Yazid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari
Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Demi Tuhan yang jiwaku
berada di dalam genggaman kekuasaannya, sesungguhnya mayat benar-benar
mendengar suara terompah kalian saat kalian pulang meninggalkannya. Jika dia
seorang mukmin, maka salat berada di kepalanya, zakat di sebelah kanannya, puasa
di sebelah kirinya, dan amal kebajikan seperti sedekah, silaturahmi, amal makruf
dan berbuat kebajikan kepada orang lain berada di kakinya. Maka ia didatangi
(disiksa) dari arah kepalanya, tetapi salat berkata, "Dari arahku tidak
ada jalan masuk.” Ia didatangi dari arah kanannya, maka zakat berkata, "Dari
arahku tidak ada jalan masuk.” Ia didatangi dari arah kirinya, maka puasa
berkata, "Dari arahku tidak ada jalan masuk.” Ia didatangi dari arah kedua
kakinya, maka amal-amal kebaikannya mengatakan, "Dari arahku tidak ada jalan
masuk.” Maka dikatakan kepadanya, "Duduklah!" Maka duduklah ia, sedangkan
matahari ditampakkan kepadanya dalam keadaan mendekati terbenam. Kemudian
dikatakan kepadanya, "Jawablah terlebih dahulu apa yang akan kami tanyakan
kepadamu!" Maka ia menjawab, "Biarkanlah aku salat dahulu.” Dan dikatakan
kepadanya, "Sesungguhnya kamu pasti akan melakukannya, tetapi jawablah terlebih
dahulu apa yang akan kami tanyakan kepadamu.” Ia balik bertanya, "Apakah yang
akan kalian tanyakan kepadaku?” Dikatakan kepadanya, "Kamu tentu mengenal lelaki
yang ada di antara kalian ini (yakni Nabi Saw.). Bagaimanakah pendapatmu
tentang dia dan apakah yang kamu persaksikan terhadapnya?" Maka ia berkata,
"Apakah Muhammad?” Dikatakan kepadanya, "Benar.” Maka ia berkata, "Saya bersaksi
bahwa dia adalah utusan Allah, dan sesungguhnya dia telah datang kepada kami
dengan membawa bukti-bukti dari sisi Allah, maka kami membenarkannya.” Dan
dikatakan kepadanya, "Itulah peganganmu selama hidupmu, dan itulah yang kamu
pegang saat kamu mati, dan dengan itu pula kamu akan dibangkitkan, insya Allah.”
Kemudian diluaskan baginya tempat di kuburnya seluas tujuh puluh hasta, dan
diberikan cahaya buatnya di dalam kuburnya, serta dibukakan baginya sebuah pintu
yang menuju ke surga. Lalu dikatakan kepadanya, "Lihatlah apa yang telah
disediakan oleh Allah buatmu di dalam surga itu.” Maka makin bertambahlah
kebahagiaan dan kegembiraannya, kemudian rohnya diletakkan di dalam perut burung
surga yang bergantung di pepohonan surga, sedangkan jasadnya dikembalikan ke
dalam bentuk semula, yaitu tanah. Yang demikian itulah yang disebutkan oleh
Allah Swt. di dalam firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang
yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di
akhirat. (Ibrahim: 27)Ibnu Hibban meriwayatkan hadis ini melalui jalur Al-Mu'tamir ibnu Sulaiman, dari Muhammad ibnu Umar; dan di dalam riwayatnya disebutkan jawaban orang kafir dan azab yang diterimanya.
قَالَ
الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ بَحْرٍ الْقَرَاطِيسِيُّ، حَدَّثَنَا
الْوَلِيدُ بْنُ الْقَاسِمِ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ كَيْسان، عَنْ أَبِي حَازِمٍ،
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -أحسَبه رَفَعَهُ-قَالَ: "إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَنْزِلُ بِهِ
الْمَوْتُ، وَيُعَايِنُ مَا يُعَايِنُ، فَيَوَدُّ لَوْ خَرَجَتْ -يَعْنِي نفسُه
-وَاللَّهُ يُحِبُّ لِقَاءَهُ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يُصْعَدُ بِرُوحِهِ إِلَى
السَّمَاءِ، فَتَأْتِيهِ أَرْوَاحُ الْمُؤْمِنِينَ، فَتَسْتَخْبِرُهُ عَنْ
مَعَارِفِهِمْ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَإِذَا قَالَ: تَرَكْتُ فُلَانًا فِي
الْأَرْضِ أَعْجَبَهُمْ ذَلِكَ. وَإِذَا قَالَ: إِنَّ فُلَانًا قَدْ مَاتَ،
قَالُوا: مَا جِيءَ بِهِ إِلَيْنَا. وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَجْلِسُ فِي قَبْرِهِ،
فَيُسْأَلُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ وَيُسْأَلُ: مَنْ نَبِيُّكَ؟
فَيَقُولُ: مُحَمَّدٌ نَبِيِّي فَيُقَالُ: مَاذَا دِينُكَ؟ قَالَ: دِينِيَ
الْإِسْلَامُ. فَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ فِي قَبْرِهِ، فَيَقُولُ -أَوْ: يُقَالُ
-انْظُرْ إِلَى مَجْلِسِكَ. ثُمَّ يَرَى الْقَبْرَ فَكَأَنَّمَا كَانَتْ رَقْدَة.
وَإِذَا كَانَ عَدُو اللَّهِ نَزلَ بِهِ الْمَوْتُ وَعَايَنَ مَا عَايَنَ،
فَإِنَّهُ لَا يُحِبُّ أَنْ تَخْرُجَ رُوحُهُ أَبَدًا، وَاللَّهُ يَبْغَضُ
لِقَاءَهُ، فَإِذَا جَلَسَ فِي قَبْرِهِ -أَوْ: أُجْلِسَ -يُقَالُ لَهُ: مَنْ
رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي. فَيُقَالُ: لَا دَرَيْتَ. فَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ
مِنْ جَهَنَّمَ، ثُمَّ يُضْرَبُ ضَرْبَةً يَسْمَعُهَا كُلُّ دَابَّةٍ إِلَّا
الثِّقَلَيْنِ، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: نَمْ كَمَا يَنَامُ الْمَنْهُوشُ". قُلْتُ
لِأَبِي هُرَيْرَةَ: مَا الْمَنْهُوشُ؟ قَالَ: الَّذِي تَنْهَشُهُ الدَّوَابُّ
وَالْحَيَّاتُ، ثُمَّ يُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ.
Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Bahr
Al-Qaratisi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnul Qasim, telah
menceritakan kepada kami Yazid ibnu Kaisan, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah.
Al-Bazzar menduga bahwa Abu Hurairah me-rafa'-kan hadis ini. Disebutkan
bahwa: sesungguhnya orang mukmin itu akan ditimpa kematian dan akan
menyaksikan apa yang akan disaksikannya, maka ia menginginkan seandainya rohnya
keluar (dengan segera) dan Allah suka bersua dengannya. Sesungguhnya orang
mukmin itu dinaikkan rohnya ke langit, lalu ia didatangi oleh arwah orang-orang
mukmin (lainnya), dan mereka menanyainya tentang kenalan-kenalan mereka dari
kalangan penduduk bumi. Apabila ia menjawab bahwa ia meninggalkan si Fulan di
bumi, maka berita itu membuat mereka kagum. Tetapi apabila ia menjawab bahwa si
Fulan telah mati, maka mereka bertanya, "Mengapa dia tidak didatangkan kepada
kita?" Dan sesungguhnya orang mukmin itu didudukkan di dalam kuburnya, lalu
ditanya, "Siapakah Tuhanmu?" Maka ia menjawab, "Allah adalah Tuhanku."
Ditanyakan pula "Siapakah Nabi (panutan)mu?" Ia menjawab, "Muhammad adalah Nabi
(panutan)ku." Lalu ditanyakan, "Apakah agamamu?" Ia menjawab, "Islam adalah
agamaku." Maka dibukakan baginya sebuah pintu di dalam kuburnya —atau dikatakan—
lihatlah tempat dudukmu. Kemudian dia melihat kuburnya seakan-akan merupakan
tempat tidur. Apabila dia adalah musuh Allah dan kematian menimpanya, lalu ia
menyaksikan apa yang disaksikannya, maka sesungguhnya dia membenci rohnya
sendiri dan Allah tidak suka bersua dengannya. Apabila ia duduk atau didudukkan
di dalam kuburnya, ia ditanya, "Siapakah Tuhanmu?" Maka ia menjawab, "Tidak
tahu." Dikatakan, "Kamu tidak tahu." Lalu dibukakan untuknya sebuah pintu yang
menuju neraka Jahannam, kemudian ia dipukul dengan pukulan yang keras yang suara
(jeritan)nya terdengar oleh semua makhluk hidup kecuali manusia dan jin.
Kemudian dikatakan kepadanya, "Tidurlah kamu sebagaimana tidurnya orang yang
digigiti." Saya bertanya kepada Abu Hurairah, "Apakah yang dimaksud dengan
orang yang digigiti?" Abu Hurairah menjawab, "Orang yang digigiti oleh hewan
buas dan ular." Lalu ia dijepit oleh kuburannya. Kemudian perawi mengatakan, "Kami tidak mengetahui ada seseorang yang meriwayatkan hadis ini kecuali Al-Walid ibnu Muslim."
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ، رَحِمَهُ اللَّهُ: حَدَّثَنَا حُجَين بْنُ الْمُثَنَّى،
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ الْمَاجِشُونُ، عَنْ مُحَمَّدِ
بْنِ المُنكَدِر قَالَ: كَانَتْ أَسْمَاءُ -يَعْنِي بِنْتَ الصِّدِّيقِ -رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهَا، تُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَتْ: قَالَ: "إِذَا دَخَلَ الْإِنْسَانُ قَبْرَهُ، فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا
أحَفّ بِهِ عملُه: الصلاةُ وَالصِّيَامُ"، قَالَ: "فَيَأْتِيهِ الْمَلَكُ مِنْ
نَحْوِ الصَّلَاةِ فَتَرُدُّهُ، وَمِنْ نَحْوِ الصِّيَامِ فَيَرُدُّهُ"، قَالَ:
"فَيُنَادِيهِ: اجْلِسْ. فَيَجْلِسُ. فَيَقُولُ لَهُ: مَاذَا تَقُولُ فِي هَذَا
الرَّجُلِ؟ يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: مَنْ؟
قَالَ: مُحَمَّدٌ. قَالَ أَشْهَدُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ، قَالَ: يَقُولُ: وَمَا
يُدْرِيكَ؟ أَدْرَكْتَهُ؟ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ:
يَقُولُ: عَلَى ذَلِكَ عشتَ، وَعَلَيْهِ مُتَّ، وَعَلَيْهِ تبعثُ. وَإِنْ كَانَ
فَاجِرًا أَوْ كَافِرًا، جَاءَهُ الْمَلَكُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ شَيْءٌ
يَرُدّه، فَأَجْلَسَهُ يَقُولُ: اجْلِسْ، مَاذَا تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟
قَالَ: أَيُّ رَجُلٍ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ؟ قَالَ: يَقُولُ: وَاللَّهِ مَا أَدْرِي،
سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ. قَالَ لَهُ الْمَلَكُ: عَلَى
ذَلِكَ عشتَ، وَعَلَيْهِ متَ، وعليه
تبعثُ.
قَالَ: وتسلَّط عَلَيْهِ دَابَّةٌ فِي قَبْرِهِ، مَعَهَا سَوْطٌ تَمْرَته جَمرةٌ
مِثْلُ غَرْب الْبَعِيرِ، تَضْرِبُهُ مَا شَاءَ اللَّهُ، صَمَّاءُ لَا تَسْمَعُ
صوتَه فترحَمه"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hujain ibnul Mutsanna,
telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abu Salamah Al-Majisyun, dari
Muhammad ibnul Munkadir yang mengatakan bahwa Asma binti Abu Bakar As-Siddiq
r.a. pernah menceritakan hadis dari Nabi Saw. Nabi Saw. pernah bersabda
bahwa: apabila seorang manusia dimasukkan ke dalam kuburnya, dan jika dia
adalah seorang mukmin, maka ia dikelilingi oleh amalnya, yaitu salat dan
puasanya. Maka datanglah malaikat kepadanya dari arah amal salatnya, tetapi amal
salat mengusirnya, dan malaikat datang dari arah amal puasanya, tetapi amal
puasa mengusirnya. Lalu malaikat menyerunya, "Duduklah!" Maka duduklah ia.
Malaikat berkata kepadanya, "Apakah pendapatmu tentang lelaki ini, maksudnya
Nabi Saw.?" Ia balik bertanya, "Siapa?" Malaikat menjawab, "Muhammad." ia
berkata, "Saya bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah." Malaikat bertanya,
"Apakah yang membuatmu tahu, apakah kamu pernah menjumpainya?" Ia menjawab,
"Saya bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah." Malaikat berkata, "Engkau memang
menjadikannya sebagai pegangan hidupmu, dan kamu mati dalam keadaan memegang
prinsip ini, serta kelak engkau akan dibangkitkan dalam keadaan berpegangan
kepada keyakinan ini." Jika yang bersangkutan adalah seorang pendurhaka atau
orang kafir, maka datanglah kepadanya malaikat tanpa ada sesuatu pun antara dia
dan orang itu yang dapat mengusirnya. Lalu malaikat itu menyuruhnya duduk dan
bertanya kepadanya, "Bagaimanakah pendapatmu tentang lelaki ini?" Ia balik
bertanya, "Lelaki yang mana?" Malaikat menjawab, "Muhammad." Ia berkata, "Demi
Allah, saya tidak mengetahui, saya hanya mendengar orang-orang mengatakan
sesuatu (tentang dia), maka saya ikut mengatakannya." Malaikat berkata, "Itulah
pegangan hidupmu, dan itulah yang kamu bawa mati, serta kelak engkau akan
dibangkitkan dalam keadaan berpegang kepada hal itu." Kemudian di dalam kuburnya
ia diserahkan kepada seekor monster yang membawa sebuah cambuk yang ujungnya
adalah bara api, sedangkan besarnya sama dengan punuk unta. Monster itu
memukulnya menurut apa yang dikehendaki oleh Allah, monster itu tidak dapat
mendengar suara jeritannya agar dia jangan belas kasihan terhadapnya.Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa sesungguhnya seorang mukmin itu apabila menjelang ajalnya dihadiri oleh para malaikat, lalu mereka mengucapkan salam penghormatan kepadanya dan menyampaikan berita gembira surga kepadanya. Apabila dia telah mati, para malaikat itu turut mengiringi jenazahnya dan ikut menyalatkannya bersama orang-orang yang hadir. Apabila telah dikubur, maka ia didudukkan di dalam kuburnya, lalu dikatakan kepadanya, "Siapakah Tuhanmu?" Maka ia menjawab, "Tuhanku adalah Allah." Dikatakan kepadanya, "Siapakah rasul (panutan)mu?" Ia menjawab, "Muhammad." Dikatakan kepadanya, "Apakah syahadatmu?" Maka ia menjawab, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."Maka tempat kuburnya diluaskan buatnya sejauh mata memandang. Adapun jika orang kafir mati, maka para malaikat turun kepadanya, lalu mereka memukulinya, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya: seraya memukul muka mereka dan punggung mereka. (Muhammad: 27) Yakni di saat ia mati. Apabila ia telah dimasukkan ke dalam kuburnya, maka ia didudukkan dan dikatakan kepadanya, "Siapakah Tuhanku?" Ia tidak dapat menjawab sepatah kata pun kepada malaikat-malaikat itu, dan Allah membuatnya lupa akan apa yang harus dikatakannya. Apabila dikatakan kepadanya, "Siapakah rasul yang diutus kepadamu?" Maka ia tidak mengetahuinya dan tidak dapat menjawab mereka barang sepatah kata pun. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang aniaya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Usman, dari Hakim Al-Audi., telah menceritakan kepada kami Syuraih Ibnu Muslimah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Yusuf, dari ayahnya, dari Abu Ishaq, dari Amir ibnu Sa'd Al-Bajali, dari Abu Qatadah Al-Ansari sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. (Ibrahim: 27) hingga akhir ayat. Bahwa sesungguhnya orang mukmin itu apabila telah mati (dan telah dimakamkan), maka ia didudukkan di dalam kuburnya dan dikatakan kepadanya, "Siapakah Tuhanmu?" Ia menjawab, "Allah." Dikatakan lagi kepadanya, "Siapakah nabi (panutan)mu?" Ia menjawab, "Muhammad ibnu Abdullah." Pertanyaan tersebut diajukan kepadanya berkali-kali, kemudian dibukakan baginya sebuah pintu yang menuju ke neraka, lalu dikatakan kepadanya, "Lihatlah tempatmu di neraka itu seandainya kamu salah dalam jawabanmu." Kemudian dibukakan baginya sebuah pintu menuju surga, lalu dikatakan kepadanya, "Lihatlah tempat tinggalmu di surga, karena kamu benar dalam jawabanmu." Apabila orang kafir mati, maka ia didudukkan di dalam kuburnya, lalu dikatakan kepadanya, "Siapakah Tuhanmu? Siapakah nabimu?" Ia menjawab, "Saya tidak tahu, hanya saya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu tentangnya." Dikatakan kepadanya, "Kamu tidak tahu." Kemudian dibukakan baginya sebuah pintu menuju surga, lalu dikatakan kepadanya, "Lihatlah tempatmu jika kamu benar dalam jawabanmu." Kemudian dibukakan baginya sebuah pintu ke neraka, dan dikatakan kepadanya, "Lihatlah tempatmu sekarang, karena kamu salah dalam jawabanmu." Yang demikian itu adalah yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. (Ibrahim: 27) hingga akhir ayat.
Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Ibnu Tawus, dari ayahnya sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia. (Ibrahim: 27) Yakni kalimah "Tiada Tuhan selain Allah". dan di akhirat. (Ibrahim: 27) Yaitu pertanyaan dalam kubur.
Qatadah mengatakan, "Adapun dalam kehidupan di dunia, maka Allah meneguhkan mereka dengan kebaikan dan amal saleh, sedangkan dalam kehidupan di akhirat maksudnya diteguhkan dalam kuburnya." Hal yang sama telah diriwayatkan oleh kalangan ulama salaf.
Abu Abdullah Al-Hakim At-Turmuzi di dalam kitabnya yang berjudul Nawadirul Usul mengatakan bahwa:
حَدَّثَنَا
أَبِي، حدثنا عبد الله بن
نَافِعٍ،
عَنِ ابْنِ أَبِي فُدَيْك، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ
سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: خَرَجَ
عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ،
وَنَحْنُ فِي مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ، فَقَالَ: "إِنِّي رَأَيْتُ الْبَارِحَةَ
عَجَبًا، رَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي [جَاءَهُ مَلَكُ الْمَوْتِ لِيَقْبِضَ
رُوحَهُ، فَجَاءَهُ برُّه بِوَالِدَيْهِ فَرَدَّ عَنْهُ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ
أُمَّتِي] قَدْ بُسِطَ عَلَيْهِ عَذَابُ الْقَبْرِ، فَجَاءَهُ وُضوءه
فَاسْتَنْقَذَهُ مِنْ ذَلِكَ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي [قَدِ]
احْتَوَشَتْهُ الشَّيَاطِينُ، فَجَاءَهُ ذِكْرُ اللَّهِ فَخَلَّصَهُ مِنْ
بَيْنِهِمْ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي قَدِ احْتَوَشَتْهُ مَلَائِكَةُ
الْعَذَابِ، فَجَاءَتْهُ صَلَاتُهُ فَاسْتَنْقَذَتْهُ مِنْ أَيْدِيهِمْ. وَرَأَيْتُ
رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي يَلْهَثُ عَطَشًا، كُلَّمَا وَرَدَ حَوْضًا مُنع مِنْهُ،
فَجَاءَهُ صِيَامُهُ فَسَقَاهُ وَأَرْوَاهُ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي
وَالنَّبِيُّونَ قُعُودٌ حلَقا حَلَقًا، وَكُلَّمَا دَنَا لِحُقَّةٍ طَرَدُوهُ،
فَجَاءَهُ اغْتِسَالُهُ مِنَ الْجَنَابَةِ، فَأَخَذَ بِيَدِهِ فَأَقْعَدَهُ إِلَى
جَنْبِي. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي [مِنْ] بَيْنِ يَدَيْهِ ظُلْمَةٌ،
وَمِنْ خَلْفِهِ ظُلْمَةٌ، وَعَنْ يَمِينِهِ ظُلْمَةٌ، وَعَنْ شِمَالِهِ ظُلْمَةٌ،
وَمِنْ فَوْقِهِ ظُلْمَةٌ، وَمِنْ تَحْتِهِ ظُلْمَةٌ، وَهُوَ مُتَحَيِّرٌ فِيهَا،
فَجَاءَتْهُ حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ، فَاسْتَخْرَجَاهُ مِنَ الظُّلْمَةِ
وَأَدْخَلَاهُ النُّورَ، وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي يُكَلِّمُ
الْمُؤْمِنِينَ فَلَا يُكَلِّمُونَهُ، فَجَاءَتْهُ صلَة الرَّحِمِ، فَقَالَتْ: يَا
مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ، كَلِّمُوهُ، فَكَلَّمُوهُ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ
أُمَّتِي يَتَّقِي وَهَج النَّار أَوْ شَررهَا بِيَدِهِ عَنْ وَجْهِهِ، فَجَاءَتْهُ
صَدَقَتُهُ فَصَارَتْ سِتْرًا عَلَى وَجْهِهِ وَظِلًّا عَلَى رَأْسِهِ. وَرَأَيْتُ
رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي قَدْ أَخَذَتْهُ الزَّبَانِيَةُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ،
فَجَاءَهُ أَمْرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُهُ عَنِ الْمُنْكَرِ، فَاسْتَنْقَذَاهُ
مِنْ أَيْدِيهِمْ، وَأَدْخَلَاهُ مَعَ مَلَائِكَةِ الرَّحْمَةِ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا
مِنْ أُمَّتِي جَاثِيًا عَلَى رُكْبَتَيْهِ، بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ،
فَجَاءَهُ حُسْنُ خُلُقه، فَأَخَذَ بِيَدِهِ فَأَدْخَلَهُ عَلَى اللَّهِ، عَزَّ
وَجَلَّ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي قَدْ هَوت صَحِيفَتُهُ مِنْ قِبَلِ
شِمَالِهِ، فَجَاءَهُ خَوْفُهُ مِنَ اللَّهِ فَأَخَذَ صَحِيفَتَهُ، فَجَعَلَهَا فِي
يَمِينِهِ. [وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي قَدْ خَفَّ مِيزَانُهُ، فَجَاءَتْهُ
أَفْرَاطُهُ فَثَقَّلُوا مِيزَانَهُ] وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي قَائِمًا
عَلَى شَفِيرِ جَهَنَّمَ، فَجَاءَهُ وجَله مِنَ اللَّهِ، فَاسْتَنْقَذَهُ مِنْ
ذَلِكَ وَمَضَى. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي هَوَى فِي النَّارِ، فَجَاءَتْهُ
دُمُوعُهُ الَّتِي بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ فِي الدُّنْيَا فَاسْتَخْرَجَتْهُ
مِنَ النَّارِ، [وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي قَائِمًا عَلَى الصِّرَاطِ
يُرعَد كَمَا تُرْعَدُ السَّعَفة، فَجَاءَ حُسْنُ ظَنِّهِ بِاللَّهِ، فسكَّن
رِعْدَته، وَمَضَى] وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى الصِّرَاطِ يَزْحَفُ
أَحْيَانًا وَيَحْبُو أَحْيَانًا، فَجَاءَتْهُ صَلَاتُهُ عليَّ، فَأَخَذَتْ
بِيَدِهِ فَأَقَامَتْهُ وَمَضَى عَلَى الصِّرَاطِ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ
أُمَّتِي انْتَهَى إِلَى أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، فَغُلِّقَتِ الْأَبْوَابُ دُونَهُ،
فَجَاءَتْهُ شَهَادَةُ: أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَفَتَحَتْ لَهُ
الْأَبْوَابَ وَأَدْخَلَتْهُ الْجَنَّةَ"
telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami
Abdullah ibnu Nafi' dari Ibnu Abu Fudaik, dari Abdur Rahman Ibnu Abdullah, dari
Sa'id ibnul Musayyab, dari Abdur Rahman Ibnu Samurah yang mengatakan bahwa pada
suatu hari ketika kami berada di dalam masjid Madinah,Rasulullah saw, keluar
menemui kami, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya tadi malam aku melihat dalam
mimpiku suatu peristiwa yang menakjubkan. Aku melihat seorang lelaki dari
kalangan umatku didatangi oleh malaikat maut untuk mencabut nyawanya, maka
datanglah kepada lelaki itu amal Birrul Walidain (berbakti kepada kedua
orang tua)nya, dan mengusir malaikat maut darinya. Dan aku melihat
lelaki lain dari kalangan umatku, sedangkan azab kubur telah digelarkan
untuknya, tetapi datanglah kepadanya amal wudunya dan menyelamatkan lelaki itu
dari siksaan tersebut. Aku melihat seorang lelaki lain dari kalangan umatku
dalam keadaan dikerumuni oleh setan-setan, tetapi datanglah kepadanya amal
zikrullah-nya,maka amalnya itu menyelamatkannya dari setan-setan tersebut. Aku
melihat seorang lelaki lain dari kalangan umatku yang telah dikerumuni oleh
malaikat-malaikat juru siksa, tetapi datanglah kepadanya amal salatnya, lalu
amal salatnya itu menyelamatkan dia dari tangan meraka. Aku melihat seorang
lelaki lain dari kalangan umatku, yang menjulur-julurkan lidahnya karena
kehausan, setiap kali ia mendatangi suatu telaga, dilarang; kemudian datanglah
kepadanya amal puasanya, maka amal puasa itu memberinya minum hingga ia segar.
Aku melihat seorang lelaki lain dari kalangan umatku, saat itu para nabi sedang
duduk-duduk membentuk lingkaran-lingkaran, setiap kali ia mendekati salah satu
dari lingkaran (halqah) meraka, maka mereka mengusirnya. Kemudian
datanglah kepadanya amal mandi jinabahnya, lalu amalnya itu membawanya duduk di
sebelahku. Aku melihat seorang lelaki dari kalangan umatkuyang di depannya
terdapat kegelapan, di belakangnya terdapat kegelapan, di sebelah kanannya
terdapat kegelapan, di sebelah kirinya terdapat kegelapan, di atasnya terdapat
kegelapan, dan di bawahnya terdapat kegelapan, sedangkan dia dalam keadaan
bingung di dalam kegelapannya itu. Kemudian datanglah kepadanya amal haji dan
umrahnyajalu keduanya menyelamatkan dia dari kegelapan itu dan memasukkannya ke
dalam cahaya. Aku melihat seorang lelaki dari kalangan umatku yang mengajak
bicara dengan orang-orang mukmin, tetapi mereka tidak mau berbicara dengannya.
Maka datanglah kepadanya amal silaturahminya, lalu amalnya berkata, "Hai
golongan orang-orang mukmin, berbicaralah kalian kepadanya!" Maka mereka mau
berbicara dengannya. Aku melihat seorang lelaki dari kalangan umatkuyang
melindungi mukanya dari tamparan panas neraka dan percikan apinya dengan
tangannya, kemudian datanglah kepadanya amal sedekahnya, maka amal sedekahnya
itu menjadi pelindung dirinya dan menjadi naungan di atas kepalanya. Aku melihat
seorang lelaki dari kalangan umatku yang telah dikepung oleh malaikat-malaikat
Zabaniyah (juru siksa), Kemudian datanglah kepadanya amal amar makruf
nahi munkar-nya, lalu amalnya itu menyelamatkan dia dari tangan mereka dan
memasukkannya ke dalam lindungan malaikat-malaikat rahmat. Aku melihat seorang
lelaki dari kalangan umatku dalam keadaan bersideku di atas kedua lututnya,
antara dia dan Allah terdapat hijab penghalang. Maka datanglah kepadanya
kebaikan akhlaknya, lalu amal kebaikan akhlaknya itu membimbingnya dan
memasukkannya ke dalam haribaan Allah Swt. Aku melihat seorang lelaki dari
kalangan umatkuyang buku catatan amalnya diberikan dari sebelah kirinya,
kemudian datanglah kepadanya amal takutnya kepada Allah, lalu amalnya itu
mengambil buku catatan amalnya dan menjadikannya berada di sebelah kanannya. Aku
melihat seorang lelaki dari kalangan umatku yang neraca amalnya diringankan,
kemudian datanglah anak-anaknya, yang mati sebelum balig maka menjadi beratlah
timbangan amalnya berkat mereka.Aku melihat seorang lelaki dari kalangan
umatkuyang sedang berdiri di tepi neraka Jahannam, kemudian datanglah kepadanya
amal malunya kepada Allah, lalu amalnya itu menyelamatkan dia dari tempat itu
dan membawanya pergi jauh darinya. Aku melihat seorang lelaki dari kalangan
umatku dijerumuskan ke dalam neraka, kemudian datanglah kepadanya amal
tangisannya karena takut kepada Allah di dunia, lalu amalnya itu menyelamatkan
dia dari neraka. Aku melihat seorang lelaki dari kalangan umatku sedang berdiri
di atas sirat dalam keadaan menggigil (ketakutan) seperti anak domba,
maka datanglah kepadanya amal baik prasangka kepada Allah, lalu menenangkan
ketakutannya dan membawanya berlalu. Aku melihat seorang lelaki dari kalangan
umatku berada di atas sirat, terkadang merangkak dan terkadang mengesot,
kemudian datanglah kepadanya amal membaca salawat buatku, lalu amalnya
membimbingnya dan menegakkannya, lalu membawanya berlalu di atas sirat. Aku
melihat seorang lelaki dari kalangan umatku yang telah sampai di pintu surga,
tetapi pintu surga semuanya ditutup untuknya, kemudian datanglah kepadanya
bacaan syahadatnya yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Maka
dibukalah untuknya semua pintu surga, lalu amalnya memasukkannya ke dalam
surga.Setelah mengetengahkan hadis ini dari jalur yang telah disebutkan di atas, Al-Qurtubi mengatakan bahwa hadis ini adalah hadis yang agung, di dalamnya disebutkan amalan-amalan khusus yang dapat menyelamatkan pelakunya dari siksa-siksa tertentu. Demikianlah pula bunyi lafaz hadis yang diketengahkan oleh Al-Qurtubi di dalam kitab Tazkirah-nya.
Sehubungan dengan hal ini Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli telah meriwayatkan sebuah hadis garib yang cukup panjang. Dia mengatakan:
حَدَّثَنَا
أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ النُّكْرِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ بَكْرٍ الْبُرْسَانِيُّ أَبُو عُثْمَانَ، حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ
الْحَبَطِيُّ -وَكَانَ مِنْ خِيَارِ أَهْلِ الْبَصْرَةِ، وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ
حَزْمٍ، وَسَلَّامِ بْنِ أَبِي مُطِيعٍ -حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خُنَيْسٍ، عَنْ
ضِرَارِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ يَزِيدَ الرَّقَاشِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ
تَمِيمٍ الدَّارِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
"يَقُولُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، لِمَلَكِ الْمَوْتِ: انْطَلِقْ إِلَى وَلِيِّي
فَأْتِنِي بِهِ، فَإِنِّي قَدْ ضَربته بِالسَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ، فَوَجَدْتُهُ
حَيْثُ أُحِبُّ. ائْتِنِي بِهِ فَلأريحنَّه.
فَيَنْطَلِقُ
إِلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ وَمَعَهُ خَمْسُمِائَةٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، مَعَهُمْ
أَكْفَانٌ وحَنُوط مِنَ الْجَنَّةِ، وَمَعَهُمْ ضَبَائِرُ الرَّيْحَانِ، أَصِلُ
الرَّيْحَانَةِ وَاحِدٌ وَفِي رَأْسِهَا عِشْرُونَ لَوْنًا، لِكُلِّ لَوْنٍ مِنْهَا
رِيحٌ سِوَى رِيحِ صَاحِبِهِ، وَمَعَهُمُ الْحَرِيرُ الْأَبْيَضُ فِيهِ الْمِسْكُ
الْأَذْفَرُ. فَيَجْلِسُ مَلَكُ الْمَوْتِ عِنْدَ رَأْسِهِ، وَتَحِفُّ بِهِ
الْمَلَائِكَةُ. وَيَضَعُ كُلُّ مَلَكٍ مِنْهُمْ يَدَهُ عَلَى عُضْوٍ مِنْ
أَعْضَائِهِ ويَبْسط ذَلِكَ الْحَرِيرَ الْأَبْيَضَ وَالْمِسْكَ الأذفَر تَحْتَ
ذَقْنِهِ، ويفتَح لَهُ بابٌ إِلَى الْجَنَّةِ، فَإِنَّ نَفْسَهُ لَتَعلَّلُ عِنْدَ
ذَلِكَ بِطَرَفِ الْجَنَّةِ تَارَةً، وَبِأَزْوَاجِهَا [مَرَّةً] ومرَّةً
بِكِسْوَاتِهَا وَمَرَّةً بِثِمَارِهَا، كَمَا يُعَلّل الصَّبِيُّ أَهْلَهُ إِذَا
بَكَى". قَالَ: "وَإِنَّ أَزْوَاجَهُ لَيَبْتَهِشْنَ عِنْدَ ذَلِكَ
ابْتِهَاشًا".
قَالَ:
"وَتَنْزُو الرُّوحُ". قَالَ البُرْسَاني: يُرِيدُ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ العَجَل
إِلَى مَا تُحِبُّ. قَالَ: "وَيَقُولُ مَلَك الْمَوْتِ: اخْرُجِي يَا أَيَّتُهَا
الرُّوحُ الطَّيِّبَةُ، إِلَى سِدْرٍ مَخْضُودٍ، وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ، وَظِلٍّ
مَمْدُودٍ، وَمَاءٍ مَسْكُوبٍ". قَالَ: "ولَمَلَك الْمَوْتِ أَشَدُّ بِهِ لُطْفًا
مِنَ الْوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا، يَعْرِفُ أَنَّ ذَلِكَ الرُّوحَ حَبِيبٌ لِرَبِّهِ،
فَهُوَ يَلْتَمِسُ بِلُطْفِهِ تَحَبُّبًا لَدَيْهِ رِضَاءً لِلرَّبِّ عَنْهُ،
فتُسَلُّ رُوحُهُ كَمَا تُسَلُّ الشَّعْرَةُ مِنَ الْعَجِينِ". قَالَ: "وَقَالَ
اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ: {الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ}
[النَّحْلِ: 32] ، وَقَالَ {فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ فَرَوْحٌ
وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ} [الْوَاقِعَةِ: 88، 89] ، قَالَ: "رَوْحٌ مِنْ
جِهَةِ الْمَوْتِ، وَرَيْحَانٌ يُتَلَقَّى بِهِ، وَجَنَّةُ نَعِيمٍ تُقَابِلُهُ".
قَالَ: "فَإِذَا قَبض مَلَكُ الْمَوْتِ رُوحَهُ، قَالَتِ الرُّوحُ لِلْجَسَدِ:
جَزَاكَ اللَّهُ عَنِّي خَيْرًا، فَقَدْ كُنْتَ سَرِيعًا بِي إِلَى طَاعَةِ
اللَّهِ، بَطِيئًا بِي عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، فَقَدْ نَجَيْتَ وَأَنْجَيْتَ".
قَالَ: "وَيَقُولُ الْجَسَدُ لِلرُّوحِ مِثْلَ ذَلِكَ".
قَالَ:
"وَتَبْكِي عَلَيْهِ بِقَاعُ الْأَرْضِ الَّتِي كَانَ يُطِيعُ اللَّهَ فِيهَا،
وَكُلُّ بَابٍ مِنَ السَّمَاءِ يَصْعَدُ مِنْهُ عَمَلُهُ. وَيَنْزِلُ مِنْهُ
رِزْقُهُ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً".
قَالَ:
"فَإِذَا قَبَض مَلَكُ الْمَوْتِ رُوحَهُ، أَقَامَتِ الْخَمْسُمِائَةٍ مِنَ
الْمَلَائِكَةِ عِنْدَ جَسَدِهِ، فَلَا يَقْلُبُهُ بَنُو آدَمَ لِشِقٍّ إِلَّا
قَلَبَتْهُ الْمَلَائِكَةُ قَبْلَهُمْ، وَغَسَّلَتْهُ وَكَفَّنَتْهُ بِأَكْفَانٍ
قَبْلَ أكفان بني آدم، وحنوط قبل حنوط
بَنِي
آدَمَ، وَيَقُومُ مِنْ بَيْنِ بَابِ بَيْتِهِ إِلَى بَابِ قَبْرِهِ صَفَّانِ مِنَ
الْمَلَائِكَةِ، يَسْتَقْبِلُونَهُ بِالِاسْتِغْفَارِ، فَيَصِيحُ عِنْدَ ذَلِكَ
إِبْلِيسُ صَيْحَةً تَتَصَدَّعُ مِنْهَا عِظَامُ جَسَدِهِ". قَالَ: "وَيَقُولُ
لِجُنُودِهِ: الْوَيْلُ لَكُمْ. كَيْفَ خَلَص هَذَا الْعَبْدُ مِنْكُمْ،
فَيَقُولُونَ إِنَّ هَذَا كَانَ عَبْدًا مَعْصُومًا".
قَالَ:
"فَإِذَا صَعِدَ مَلَكُ الْمَوْتِ بِرُوحِهِ، يَسْتَقْبِلُهُ جِبْرِيلُ فِي
سَبْعِينَ أَلْفًا مِنَ الْمَلَائِكَةِ، كُلٌّ يَأْتِيهِ بِبِشَارَةٍ مِنْ رَبِّهِ
سِوَى بِشَارَةِ صَاحِبِهِ". قَالَ: "فَإِذَا انْتَهَى مَلَكُ الْمَوْتِ بِرُوحِهِ
إِلَى الْعَرْشِ، خَرّ الرُّوحُ سَاجِدًا". قَالَ: "يَقُولُ اللَّهُ، عَزَّ
وَجَلَّ، لِمَلَكِ الْمَوْتِ: انْطَلِقْ بِرُوحِ عَبْدِي فَضَعْهُ فِي سِدْرٍ
مَخْضُودٍ، وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ، وَظِلٍّ مَمْدُودٍ، وَمَاءٍ
مَسْكُوبٍ".
قَالَ:
"فَإِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ، جَاءَتْهُ الصَّلَاةُ فَكَانَتْ عَنْ يَمِينِهِ،
وَجَاءَهُ الصِّيَامُ فَكَانَ عَنْ يَسَارِهِ، وَجَاءَهُ الْقُرْآنُ فَكَانَ عِنْدَ
رَأْسِهِ، وَجَاءَهُ مَشْيُهُ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَانَ عِنْدَ رِجْلَيْهِ،
وَجَاءَهُ الصَّبْرُ فَكَانَ نَاحِيَةَ الْقَبْرِ". قَالَ: "فَيَبْعَثُ اللَّهُ،
عَزَّ وَجَلَّ، عُنُقًا مِنَ الْعَذَابِ". قَالَ: "فَيَأْتِيهِ عَنْ يَمِينِهِ"
قَالَ: "فَتَقُولُ الصَّلَاةُ: وَرَاءَكَ وَاللَّهِ مَا زَالَ دَائِبًا عُمْرَهُ
كُلَّهُ وَإِنَّمَا اسْتَرَاحَ الْآنَ حِينَ وُضِعَ فِي قَبْرِهِ". قَالَ:
"فَيَأْتِيهِ عَنْ يَسَارِهِ، فَيَقُولُ الصِّيَامُ مِثْلَ ذَلِكَ". قَالَ: "ثُمَّ
يَأْتِيهِ مِنْ عِنْدِ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ الْقُرْآنُ وَالذِّكْرُ مِثْلَ ذَلِكَ".
قَالَ: "ثُمَّ يَأْتِيهِ مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ، فَيَقُولُ مَشْيُهُ إِلَى
الصَّلَاةِ مِثْلَ ذَلِكَ. فَلَا يَأْتِيهِ الْعَذَابُ مِنْ نَاحِيَةٍ يَلْتَمِسُ
هَلْ يَجِدُ مُسَاغًا إِلَّا وجَد وَلِيَّ اللَّهِ قَدْ أَخَذَ جُنَّتَهُ". قَالَ:
"فَيَنْقَمِعُ الْعَذَابُ عِنْدَ ذَلِكَ فَيَخْرُجُ". قَالَ: "وَيَقُولُ الصَّبْرُ
لِسَائِرِ الْأَعْمَالِ: أَمَا إِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أُبَاشِرَ أَنَا
بِنَفْسِي إِلَّا أَنِّي نَظَرْتُ مَا عِنْدَكُمْ، فَإِنْ عَجَزْتُمْ كُنْتُ أَنَا
صَاحِبَهُ، فَأَمَّا إِذْ أَجَزَأْتُمْ عَنْهُ فَأَنَا لَهُ ذُخْرٌ عِنْدَ
الصِّرَاطِ وَالْمِيزَانِ".
قَالَ:
"وَيَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكَيْنِ أَبْصَارُهُمَا كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ،
وَأَصْوَاتُهُمَا كَالرَّعْدِ الْقَاصِفِ، وَأَنْيَابُهُمَا كَالصَّيَاصِي،
وَأَنْفَاسُهُمَا كَاللَّهَبِ، يَطَآنِ فِي أَشْعَارِهِمَا، بَيْنَ مَنْكِب كُلِّ
وَاحِدٍ مَسِيرَةُ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ نُزِعَتْ مِنْهُمَا الرَّأْفَةُ
وَالرَّحْمَةُ، يُقَالُ لَهُمَا: مُنْكَرٌ وَنَكِيرٌ، فِي يد كل واحد منهما مطرقة،
لو اجتمع عَلَيْهَا رَبِيعَةُ وَمُضَرُ لَمْ يُقلّوها". قَالَ: "فَيَقُولَانِ لَهُ:
اجْلِسْ". قَالَ: "فَيَجْلِسُ فَيَسْتَوِي جَالِسًا". قَالَ: "وتقع أكفانه في
حقويه". قال: "فيقولان له: مَنْ رَبُّكَ؟ وَمَا دِينُكَ؟ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟
".
قَالَ:
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يُطِيقُ الْكَلَامَ عِنْدَ ذَلِكَ، وَأَنْتَ
تَصِفُ مِنَ المَلَكَين مَا تَصِفُ؟ قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ
الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ
الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ}
قَالَ:
"فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَدِينِيَ الْإِسْلَامُ
الَّذِي دَانَتْ بِهِ الْمَلَائِكَةُ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ خَاتَمُ
النَّبِيِّينَ". قَالَ: "فَيَقُولَانِ: صَدَقْتَ". قَالَ: فَيَدْفَعَانِ الْقَبْرَ،
فَيُوَسِّعَانِ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ أَرْبَعِينَ ذِرَاعًا، وَعَنْ يَمِينِهِ
أَرْبَعِينَ ذِرَاعًا، وَعَنْ شِمَالِهِ أَرْبَعِينَ ذِرَاعًا، وَمِنْ خَلْفِهِ
أَرْبَعِينَ ذِرَاعًا، وَمِنْ عند رأسه
أَرْبَعِينَ
ذِرَاعًا، وَمِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ أَرْبَعِينَ ذِرَاعًا". قَالَ: "فَيُوَسِّعَانِ
لَهُ مِائَتَيْ ذِرَاعٍ".
قَالَ
الْبُرْسَانِيُّ: فَأَحْسَبُهُ: وَأَرْبَعِينَ ذِرَاعًا تُحَاطُ
بِهِ.
قَالَ:
"ثُمَّ يَقُولَانِ لَهُ: انْظُرْ فَوْقَكَ، فَإِذَا بَابٌ مَفْتُوحٌ إِلَى
الْجَنَّةِ". قَالَ: "فَيَقُولَانِ لَهُ: وليَّ اللَّهِ، هَذَا مَنْزِلُكَ إِذْ
أَطَعْتَ اللَّهِ". فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّهُ يَصِلُ إِلَى قَلْبِهِ عِنْدَ ذَلِكَ
فَرْحَةٌ، وَلَا تَرْتَدُّ أَبَدًا، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: انْظُرْ تَحْتَكَ". قَالَ:
"فَيَنْظُرُ تَحْتَهُ فَإِذَا بَابٌ مَفْتُوحٌ إِلَى النَّارِ قَالَ:
"فَيَقُولَانِ: وَلِيَّ اللَّهِ نَجَوْتَ آخِرَ مَا عَلَيْكَ". قَالَ: فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم: "أنه لَيَصِلُ إِلَى قَلْبِهِ
عِنْدَ ذَلِكَ فَرْحَةٌ لَا تَرْتَدُّ أَبَدًا". قَالَ: فَقَالَتْ عَائِشَةُ:
يُفْتَحُ لَهُ سَبْعَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ، يَأْتِيهِ رِيحُهَا
وَبَرْدُهَا، حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ.
وَبِالْإِسْنَادِ
الْمُتَقَدِّمِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
"وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لِمَلَكِ الْمَوْتِ: انْطَلِقْ إِلَى عَدُوِّي
فَأْتِنِي بِهِ، فَإِنِّي قَدْ بَسَطْتُ لَهُ رِزْقِي، ويَسّرت لَهُ نِعْمَتِي،
فَأَبَى إِلَّا مَعْصِيَتِي، فَأْتِنِي بِهِ لِأَنْتَقِمَ
مِنْهُ".
قَالَ:
"فَيَنْطَلِقُ إِلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ فِي أَكْرَهِ صُورَةٍ مَا رَآهَا أَحَدٌ
مِنَ النَّاسِ قَطّ، لَهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا، وَمَعَهُ سَفُود مِنَ
النَّارِ كَثِيرُ الشَّوْكِ، وَمَعَهُ خَمْسُمِائَةٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، مَعَهُمْ
نُحَاسٌ وَجَمْرٌ مِنْ جَمْرِ جَهَنَّمَ، وَمَعَهُمْ سِيَاطٌ مِنْ نَارٍ، لِينُهَا
لِينُ السِّيَاطِ وَهِيَ نَارٌ تَأَجُّجُ". قَالَ: "فَيَضْرِبُهُ مَلَكُ الْمَوْتِ
بِذَلِكَ السَّفُّودِ ضَرْبَةً يغيبُ كُلُّ أَصْلِ شَوْكَةٍ مِنْ ذَلِكَ
السَّفُّودِ فِي أَصْلِ كُلِّ شَعْرَةٍ وَعِرْقٍ وَظُفْرٍ". قَالَ: "ثُمَّ
يَلْوِيهِ لَيًّا شَدِيدًا". قَالَ: "فَيَنْزِعُ رُوحَهُ مِنْ أَظْفَارِ
قَدَمَيْهِ". قَالَ: "فَيُلْقِيهَا" فِي عَقِبَيْهِ ثُمَّ يَسْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ
عَدُوُّ اللَّهِ سَكْرَةً، فَيُرَفِّهُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَنْهُ". قَالَ:
"وَتَضْرِبُ الْمَلَائِكَةُ وَجْهَهُ ودُبُره بِتِلْكَ السِّيَاطِ". [قَالَ:
"فَيَشُدُّهُ مَلَكُ الْمَوْتِ شَدَّةً، فَيَنْزِعُ رُوحَهُ مِنْ عَقِبَيْهِ،
فَيُلْقِيهَا فِي رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ يَسْكَرُ عَدُوُّ اللَّهِ عِنْدَ ذَلِكَ
سَكْرَةً، فَيُرَفِّهُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَنْهُ". قَالَ: "فَتَضْرِبُ
الْمَلَائِكَةُ وَجْهَهُ وَدُبُرَهُ بِتِلْكَ السِّيَاطِ"] قَالَ: "ثُمَّ
يَنْتُرُهُ مَلَكُ الْمَوْتِ نَتَرة، فَيَنْزِعُ رُوحَهُ مِنْ رُكْبَتَيْهِ
فَيُلْقِيهَا فِي حَقُوَيْهِ". قَالَ: "فَيَسْكَرُ عَدُوُّ اللَّهِ عِنْدَ ذَلِكَ
سَكْرَةً، فَيُرَفِّهُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَنْهُ". قَالَ: "وَتَضْرِبُ
الْمَلَائِكَةُ وَجْهَهُ ودُبُره بِتِلْكَ السِّيَاطِ". قَالَ: "كَذَلِكَ إِلَى
صَدْرِهِ، ثُمَّ كَذَلِكَ إِلَى حَلْقِهِ". قَالَ: ثُمَّ تَبْسُطُ الْمَلَائِكَةُ
ذَلِكَ النُّحَاسَ وَجَمْرَ جَهَنَّمَ تَحْتَ ذَقَنِهِ". قَالَ: "وَيَقُولُ مَلَكُ
الْمَوْتِ: اخْرُجِي أَيَّتُهَا الرُّوحُ اللَّعِينَةُ الْمَلْعُونَةُ إِلَى سَمُوم
وَحَمِيمٍ، وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ، لَا بَارِدٍ وَلَا
كَرِيمٍ".
قَالَ:
"فَإِذَا قَبَضَ مَلَكُ الْمَوْتِ رُوحَهُ قَالَ الرُّوحُ لِلْجَسَدِ: جَزَاكَ
اللَّهُ عَنِّي شَرًّا، فَقَدْ كُنْتَ سَرِيعًا بِي
إِلَى
مَعْصِيَةِ اللَّهِ، بَطِيئًا بِي عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ، فَقَدْ هَلَكْتَ
وَأَهْلَكْتَ" قَالَ: "وَيَقُولُ الْجَسَدُ لِلرُّوحِ مِثْلَ ذَلِكَ، وَتَلْعَنُهُ
بِقَاعُ الْأَرْضِ الَّتِي كَانَ يَعْصِي اللَّهَ عَلَيْهَا، وَتَنْطَلِقُ جُنُودُ
إِبْلِيسَ إِلَيْهِ فَيُبَشِّرُونَهُ بِأَنَّهُمْ قَدْ أَوْرَدُوا عَبْدًا مِنْ
وَلَدِ آدَمَ النَّارَ".
قَالَ:
فَإِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ ضُيق عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ
أَضْلَاعُهُ، حَتَّى تَدْخُلَ الْيُمْنَى فِي الْيُسْرَى، وَالْيُسْرَى فِي
الْيُمْنَى" قَالَ: "وَيَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ أَفَاعِيَ دُهمًا كَأَعْنَاقِ
الْإِبِلِ يَأْخُذْنَ بِأَرْنَبَتِهِ وَإِبْهَامَيْ قَدَمَيْهِ فَيَقْرِضْنَهُ
حَتَّى يَلْتَقِينَ فِي وَسَطِهِ".
قَالَ:
"وَيَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكَيْنِ أَبْصَارُهُمَا كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ،
وَأَصْوَاتُهُمَا كَالرَّعْدِ الْقَاصِفِ، وَأَنْيَابُهُمَا كَالصَّيَاصِي،
وَأَنْفَاسُهُمَا كَاللَّهَبِ يَطَآنِ فِي أَشْعَارِهِمَا، بَيْنَ مَنْكِبَيْ كُلِّ
وَاحِدِ مِنْهُمَا مَسِيرَةُ كَذَا وَكَذَا، قَدْ نُزِعَتْ مِنْهُمَا الرَّأْفَةُ
وَالرَّحْمَةُ يُقَالُ لهما: منكر ونكير، في يد كل واحد مِنْهُمَا مِطْرَقَةٌ، لَوِ
اجْتَمَعَ عَلَيْهَا رَبِيعَةُ وَمُضَرُ لَمْ يُقِلُّوهَا" قَالَ: "فَيَقُولَانِ
لَهُ: اجْلِسْ". قَالَ: "فيستوي جالسا" قال: "وتقع أكفانه في حقويه" قَالَ:
"فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ وَمَا دِينُكَ؟ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟ فَيَقُولُ:
لَا أَدْرِي. فَيَقُولَانِ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَليّت". [قَالَ] فَيَضْرِبَانِهِ
ضَرْبَةً يَتَطَايَرُ شَرَرُهَا فِي قَبْرِهِ، ثُمَّ يَعُودَانِ". قَالَ:
"فَيَقُولَانِ: انْظُرْ فَوْقَكَ. فَيَنْظُرُ، فَإِذَا بَابٌ مَفْتُوحٌ مِنَ
الْجَنَّةِ، فَيَقُولَانِ: هَذَا -عَدُوَّ اللَّهِ -مَنْزِلُكَ لَوْ أَطَعْتَ
اللَّهِ".
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ،
إِنَّهُ لَيَصِلُ إِلَى قَلْبِهِ عِنْدَ ذَلِكَ حَسْرَةٌ لَا تَرْتَدُّ
أَبَدًا".
قَالَ:
"وَيَقُولَانِ لَهُ: انْظُرْ تَحْتَكَ فَيَنْظُرُ تَحْتَهُ، فَإِذَا بَابٌ
مَفْتُوحٌ إِلَى النَّارِ، فَيَقُولَانِ: عَدُوَّ اللَّهِ، هَذَا مَنْزِلُكَ إِذْ
عَصَيْتَ اللَّهِ".
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ،
إِنَّهُ لَيَصِلُ إِلَى قَلْبِهِ عِنْدَ ذَلِكَ حَسْرَةٌ لَا تَرْتَدُّ
أَبَدًا".
قَالَ:
وَقَالَتْ عَائِشَةُ: وَيُفْتَحُ لَهُ سَبْعَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا إِلَى النَّارِ،
يَأْتِيهِ [مِنْ] حَرِّهَا وَسَمُومِهَا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ
إِلَيْهَا
telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman Ahmad ibnu Ibrahim An-Nakri,
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakr Al-Barsani Abu Usman, telah
menceritakan kepada kami Abu Asim Al-Habti (seorang ulama Basrah yang
terpandang, murid Hazm) dan Salam ibnu Abu Muti', telah menceritakan kepada kami
Bakr ibnu Hubaisy, dari Darrar ibnu Amr, dari Yazid Ar-Raqqasyi, dari Anas ibnu
Malik, dari Tamim Ad-Dari, dari Nabi Saw. yang telah bersabda bahwa: Allah
Swt. berfirman kepada malaikat maut, "Pergilah kamu menemui kekasih-Ku, lalu
bawalah dia kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku telah mengujinya dengan kesukaan
dan kedukaan, dan Aku menjumpainya bersikap seperti apa yang Aku sukai. Bawalah
dia kepada-Ku, sesungguhnya Aku akan membuatnya senang." Maka
berangkatlah malaikat maut bersama lima ratus malaikat yang membawa kain kafan
dan wewangian dari surga kepada orang yang dimaksud. Mereka juga membawa
beberapa ikat kayu cendana yang batangannya sama, tetapi setiap ikatan terdiri
atas dua puluh batang yang pada ujungnya memepunyai warna yang berbeda-beda;
setiap warna mempunyai bau harum yang berbeda dengan yang lainnya, mereka
membawa pula kain sutra putih yang diberi wewangian minyak misk aifar (minyak
kesturi yang paling harum). Kemudian malaikat maut duduk di dekat kepalanya,
sedangkan malaikat-malaikat lainnya mengelilinginya, setiap malaikat memegangkan
tangannya ke bagian tubuhnya. Lalu sutra putih dan minyak kesturi azfar itu
diletakkan di bawah dagunya, dan dibukakan untuknya sebuah pintu menuju surga.
Sesungguhnya pada saat itu rohnya benar-benar merindukan surga yang dilihatnya,
adakalanya kepada bidadari-bidadari calon istrinya, adakalanya kepada pakaiannya
yang gemerlapan, dan adakalanya merindukan buah-buahannya, sebagaimana seorang
anak kecil merengek-rengek kepada orang tuanya bila menangis (meminta sesuatu).
Dan sesungguhnya para bidadari calon istrinya saat itu benar-benar sangat
gembira; Perawi mengatakan bahwa roh orang tersebut meloncat, yakni ingin
segera keluar dari tubuhnya menuju kepada apa yang didambakannya. Kemudian
malaikat maut berkata, "Hai jiwa yang baik, keluarlah kamu menuju pohon bidara
yang tidak berduri, pohon pisang yang bersusun- susun (buahnya), dan naungan
yang terbentang luas, serta air yang tercurah". Perawi melanjutkan kisahnya,
bahwa sesungguhnya malaikat maut bersikap jauh lebih lemah lembut terhadapnya
daripada lemah lembutnya seorang ibu kepada anaknya. Malaikat mengetahui bahwa
roh itu adalah kekasih Tuhannya, maka dia bersikap lemah lembut untuk
memuaskannya karena Tuhan telah rida kepadanya. Maka malaikat maut mencabut
nyawanya sebagaimana seutas rambut dicabut dari adonan roti (yakni dengan lemah
lembut). Perawi mengatakan bahwa Allah Swt. telah berfirman: orang-orang
yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat. (An-Nahl: 32) Dan
firman Allah Swt.: Adapun jika dia (orang-orang yang mati) termasuk
orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh
ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan. (Al-Waqi'ah: 88- 89) Yang
dimaksud dengan rauhun adalah ketenteraman dalam menghadapi kematiannya,
sedangkan raihan maksudnya rezeki yang menyambutnya, dan surga kenikmatan
yang ada dihadapannya. Apabila malaikat maut telah mencabut nyawanya, maka
rohnya berkata kepada jasadnya, "Semoga Allah memberikan balasan yang baik
kepadamu atas jasamu kepadaku. Sesungguhnya kamu dahulu sangat cepat membawaku
kepada ketaatan kepada Allah, lamban membawaku kepada perbuatan maksiat.
Sekarang aku selamat, begitu pula kamu". Perawi melanjutkan kisahnya,
bahwa jasad pun berkata demikian kepada rohnya. Maka semua tempat di bumi
yang dia pernah berbuat ketaatan kepada Allah ditempat itu menangisi
kematiannya, demikian pula semua malaikat yang menjaga pintu setiap langit yang
menjadi jalan naik amalnya serta tempat turun rezekinya selama empat puluh hari.
Setelah malaikat maut mencabut nyawanya, maka lima ratus malaikat berdiri
mengurus jenazahnya, sehingga tidak sekali-kali anak Adam membolak-balikkannya.
Melainkan para malaikat telah melakukan hal yang sama sebelumnya. Para malaikat
itu memandikan dan mengafaninya sebelum manusia melakukannya serta memberinya
kapur barus dan wewangian sebelum manusia melakukannya. Dari pintu rumahnya
hingga sampai ke kuburnya berdiri dua saf malaikat yang mengiringinya seraya
membaca istigfar (memohon ampun kepada Allah buat si mayat yang mukmin). Maka
pada saat itu juga iblis menjerit dengan jeritan yang meretakkan tulang-tulang
jasadnya, lalu iblis berkata kepada bala tentaranya, "Celakalah kalian, mengapa
hamba ini lolos dari kalian", Bala tentara iblis menjawab, "Sesungguhnya hamba
ini adalah seorang hamba yang di ma'sum (dipelihara Allah dari dosa-dosa)".
Bilamana malaikat maut naik membawa rohnya, ia disambut oleh Malaikat Jibril
bersama tujuh puluh ribu malaikat. Tiap-tiap malaikat menyampaikan berita
gembira kepada roh itu dengan berita gembira yang berbeda dengan apa yang
disampaikan oleh teman-temannya. Apabila malaikat maut telah sampai di 'Arasy
membawanya, maka roh itu terjungkal bersujud (kepada Allah). Dan Allah berfirman
kepada malaikat maut, "Bawalah roh hambaku ini dan letakkanlah ia di dekat pohon
bidara yang tak berduri, pdhon pisang yang bersusun-susun (buahnya), naungan
yang terbentang luas, dan air yang tercurah". Setelah jasadnya dimasukkan ke
dalam kuburnya, maka ia kedatangan amal salatnya, Jalu mengambil tempat di
sebelah kanannya, dan datang pula amal puasanya,lalu mengambil tempat di sebelah
kirinya. Amalan membaca Al-Qur'an datang kepadanya dan mengambil tempat di dekat
kepalanya. Amal berjalan menuju ke tempat salat datang kepadanya dan mengambil
tempat di dekat kedua kakinya. Dan amal sabar datang kepadanya dan mengambil
tempat di dalam kuburnya. Kemudian Allah mengirimkan sebagian dari azab-Nya.
Lalu azab itu datang dari arah kanannya, maka salat berkata kepadanya, "Pergilah
ke arah belakangmu (yakni menyingkirlah kamu)! Demi Allah, dia masih
terus-menerus menunaikan amalnya sepanjang usianya, dan sesungguhnya sekarang
dia sedang istirahat setelah diletakkan di dalam kuburnya." Azab datang
kepadanya dari sebelah kirinya, maka amal puasanya mengatakan hal yang sama
kepada malaikat azab itu. Kemudian azab datang dari arah kepalanya, maka
Al-Quran dan zikir mengatakan hal yang sama. Lalu azab datang dari arah kedua
kakinya, maka amal berjalannya menuju ke salat mengatakan hal yang sama. Tidak
sekali-kali azab datang dari suatu arah dengan maksud untuk mencari jalan masuk
kepada si mayat melainkan ia menemukan kekasih Allah itu telah dijaga ketat oleh
benteng amalnya. Maka azab pun tidak berdaya terhadapnya, lalu ia keluar
meninggalkannya. Setelah itu amal sabarnya berkata kepada amal lainnya,
"Ingatlah, sesungguhnya saya tidak turun tangan tiada lain karena saya hendak
melihat terlebih dahulu apa yang akan dilakukan oleh kalian. Jika kalian tidak
mampu mencegahnya, maka akulah yang akan mencegahnya. Tetapi sekarang kalian
ternyata sudah cukup untuk mencegahnya, dan sekarang aku akan menjadi tabungan
baginya kelak di sirat dan mizan (neraca amal). Kemudian Allah mengirimkan dua
malaikat yang mata keduanya bagaikan kilat yang menyambar, suaranya bagaikan
guntur yang menyambar, gigi taringnya bagaikan benteng, dan napasnya bagaikan
semburan api. Rambut keduanya panjang sampai ke bahu masing-masing yang lebarnya
sama dengan perjalanan sejauh anu, sedangkan rasa belas kasihan dan rahmat telah
dicabut dari kedua malaikat tersebut. Kedua malaikat itu yang satunya bernama
Munkar dan yang lainnya bernama Nakir, di tangan masing-masing tergenggam sebuah
palu (gada); seandainya kabilah Rabi'ah dan Mudar bergabung menjadi satu untuk
mengangkatnya, tentulah mereka masih belum dapat mengangkatnya. Kedua malaikat
itu berkata kepadanya, "Duduklah!" Maka bangkitlah orang mukmin itu, lalu duduk
dengan tegak, dan kain kafannya jatuh sampai pinggangnya. Keduanya bertanya
kepadanya, "Siapakah Tuhanmu, apakah agamamu, dan siapakah nabi (panutan)mu?"
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah yang akan mampu berbicara
dalam keadaan seperti itu, sedangkan engkau telah menggambarkan kedua malaikat
tersebut dengan rupa yang amat mengerikan?" Rasulullah Saw. menjawab dengan
membaca firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman
dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah
menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.
(Ibrahim: 27) Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menjawab,
"Tuhanku adalah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan agamaku adalah Islam
yang dianut juga oleh para malaikat; serta nabi (panutan)ku adalah Muhammad,
penutup para nabi." Kedua malaikat itu berkata, "Kamu benar." Lalu
dikembalikanlah ia ke dalam kuburnya dan di luaskan kuburnya sejauh empat puluh
hasta ke sebelah depannya, ke sebelah kanan dan kirinya diluaskan pula
masing-masing empat puluh hasta, dari arah belakangnya diluaskan empat puluh
hasta, dari arah kepalanya empat puluh hasta, dan dari arah kedua kakinya empat
puluh hasta. Maka diluaskan baginya sebanyak dua ratus hasta. Al-Bursani
mengatakan bahwa ia menduga si perawi bermaksud empat puluh hasta sekelilingnya.
Kemudian kedua malaikat itu berkata kepadanya, "Lihatlah ke atasmu!"
Tiba-tiba ia melihat sebuah pintu yang menuju surga dibuka. Lalu keduanya
berkata pula, "Hai kekasih Allah, inilah tempat tinggalmu karena kamu telah taat
kepada Allah." Rasulullah Saw. bersabda, "Demi Tuhan yang jiwaku berada
di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya pada saat itu juga hatinya
kemasukan rasa gembira yang tidak pernah lenyap selama-lamanya." Kemudian
dikatakan kepadanya, "Lihatlah ke bawahmu." Maka ia melihat ke arah bawahnya,
tiba-tiba terlihat sebuah pintu yang menuju neraka dibuka. Kedua malaikat itu
berkata, "Hai kekasih Allah, engkau telah selamat pada akhirnya." Perawi
melanjutkan kisahnya, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya pada saat
itu hatinya kemasukan rasa gembira yang tidak pernah pudar selama-lamanya."
Perawi mengatakan bahwa Siti Aisyah berkata, "Dibukakan baginya tujuh puluh
tujuh pintu yang menuju surga, sehingga sampai kepadanya angin surga yang
menyejukkan, hingga Allah membangkitkannya kelak (di hari kiamat)." Dengan sanad
yang sama sampai kepada Nabi Saw. disebutkan bahwa Allah Swt. berfirman kepada
malaikat maut, "Pergilah kamu kepada musuhKu, dan datangkanlah ia kepada-Ku,
karena sesungguhnya Aku telah meluaskan rezekinya dan memudahkan nikmat-Ku
baginya, tetapi ia membangkang, tidak mau taat kepada-Ku, melainkan hanya mau
durhaka kepada-Ku. Datangkanlah dia kepada-Ku, Aku akan membalasnya."
Malaikat maut berangkat untuk menjemput orang yang dimaksud dalam rupa yang
paling mengerikan yang belum pernah dilihat oleh seorang manusia pun. Dia
mempunyai dua belas mata, dan membawa tusukan dari api yang banyak durinya. Dia
datang bersama lima ratus malaikat yang membawa tembaga dan bara dari api neraka
jahannam, dan mereka membawa cemeti dari api yang lenturannya sama dengan
cemeti, tetapi berupa api yang menyala-nyala. Malaikat maut memukulnya dengan
tusuk besi itu dengan tusukan yang keras sehingga semua duri yang ada padanya
masuk ke dalam akar tiap rambut yang ada pada tubuhnya, pori-pori keringatnya,
dan kuku-kukunya. Kemudian malaikat maut memutar-mutarkannya dengan putaran yang
keras. Malaikat maut mencabut rohnya dari bawah kuku jari-jari kedua telapak
kakinya, lalu menghentikannya sampai ke mata kakinya. Disebutkan bahwa orang
yang menjadi musuh Allah itu tidak sadarkan diri karena sakit yang tak
terperikan, maka malaikat maut memelankan cabutannya. Sedangkan
malaikat-malaikat lainnya memukuli bagian muka dan bagian belakang tubuh orang
itu dengan cemeti-cemetinya. Kemudian malaikat maut menariknya kembali dengan
kuat dan mencabut rohnya dari kedua mata kakinya sampai kepada kedua lututnya,
lalu musuh Allah itu tidak sadarkan diri, dan malaikat maut memelankan
cabutannya. Para malaikat lainnya terus memukuli bagian depan dan belakang
tubuhnya dengan cemeti-cemetinya. Kemudian malaikat maut menarik rohnya dengan
tarikan yang kuat dari kedua lututnya sampai kepada pinggangnya, dan musuh Allah
itu merasakan sakit yang tak terperikan; lalu malaikat maut memelankan
cabutannya, sedangkan malaikat-malaikat lainnya memukulinya, dengan
cemeti-cemetinya pada bagian depan dan belakang tubuhnya. Demikianlah seterusnya
dilakukan hal yang sama sampai ke dadanya, lalu ke tenggorokannya, Kemudian para
malaikat menggelarkan tembaga dan bara api neraka Jahannam itu di bawah dagunya.
Lalu malaikat maut berkata, "Keluarlah, hai roh yang terkutuk, menuju kepada
siksaan angin yang amat panas, air yang panas lagi mendidih, dalam naungan asap
hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan." Apabila malaikat maut telah mencabut
rohnya, maka roh berkata kepada jasadnya, "Semoga Allah membalasmu dengan
balasan yang buruk karena perbuatanmu kepadaku. Sesungguhnya dahulu kamu
membawaku dengan cepat kepada kemaksiatan terhadap Allah. Lamban dalam membawaku
kepada ketaatan terhadap Allah. Sesungguhnya aku sekarang telah binasa, dan kamu
pun binasa pula." Jasad pun mengatakan hal yang sama kepada rohnya. Dan semua
tempat di bumi yang dia pernah berbuat durhaka padanya melaknatinya. Lalu bala
tentara iblis berangkat menghadap kepada iblis menyampaikan berita gembira
kepadanya bahwa mereka telah berhasil memasukkan seorang hamba dari Bani Adam ke
dalam neraka. Apabila ia telah diletakkan di dalam kuburnya. Maka
kuburannya menjepitnya hingga tulang-tulang iganya berantakkan; yang sebelah
kanan masuk ke sebelah kiri, sedangkan yang sebelah kiri masuk ke sebelah kanan.
Kemudian Allah mengirimkan kepadanya ular-ular hitam —yang besarnya seperti
leher unta—yang menggerogotinya dari kedua telinganya dan dari jari jempol kedua
telapak kakinya hingga bertemu di bagian tengah tubuhnya. Lalu Allah mengirimkan
dua malaikat yang mata keduanya seperti kilat menyambar, suaranya bagaikan
guntur yang menyambar, dan gigi taringnya seperti benteng, nafasnya seperti
semburan api, rambutnya panjang sampai ke pundaknya yang lebar salah satu
sisinya sama dengan jarak perjalanan seanu, rasa belas kasihan dan rahmat telah
dicabut dari hati keduanya. Kedua malaikat itu yang satunya bernama Munkar dan
yang lainnya bernama Nakir. Pada tangan masing-masing terdapat sebuah gada,
seandainya kabilah Rabi'ah dan Mudar bersatu untuk mengangkatnya, mereka tidak
dapat mengangkatnya. Kedua malaikat berkata kepadanya, "Duduklah!" Maka
ia duduk tegak dan kain kafannya jatuh sampai batas pinggangnya. Kedua malaikat
berkata kepadanya, "Siapakah Tuhanmu, apakah agamamu, dan siapakah nabi
(panutan)mu?" Ia menjawab, "Tidak tahu." keduanya berkata, "Kamu tidak tahu dan
tidak pula perna membaca (mengenainya)." Maka keduanya memukulnya dengan pukulan
yang percikannya berhamburan menerangi kuburnya, kemudian kembali memukulinya.
Kedua malaikat berkata kepadanya, "Lihatlah ke atasmu!" Tiba-tiba sebuah pintu
dari surga dibuka, lalu keduanya berkata, "Hai musuh Allah, inilah tempatmu
seandainya kamu taat kepada Allah." Rasulullah Saw. bersabda, "Demi Tuhan
yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya dia dalam
hatinya kemasukan rasa menyesal yang tidak pernah kunjung pudar
selama-lamanya." Dan keduanya berkata kepadanya, "Lihatlah ke bawahmu!"
Maka ia melihat ke arah bawahnya, Tiba-tiba sebilah pintu menuju neraka dibuka,
lalu keduanya berkata, "Hai musuh Allah, inilah tempat tinggalmu, karena kamu
durhaka kepada Allah." Rasulullah Saw. bersabda, "Demi Tuhan yang jiwaku
berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya hatinya kemasukan rasa
menyesal yang tidak pudar selama-lamanya." Perawi melanjutkan kisahnya,
bahwa Siti Aisyah r.a. telah mengatakan, "Lalu dibukakan untuknya tujuh puluh
tujuh pintu yang menuju neraka, sehingga panasnya neraka dan asapnya sampai
kepadanya, hingga Allah membangkitkannya dari kuburnya."Hadis ini sangat garib dan teksnya mengandung keanehan. Ar-Raqqasy (salah seorang perawinya) menambahkan riwayat lain dari Anas, isinya banyak mengandung hal yang garib dan munkar, sedangkan dia sendiri orangnya daif dalam periwayatan hadis, menurut pendapat para imam ahli hadis.
Karena itulah Abu Daud mengatakan bahwa:
حَدَّثَنَا
إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِيُّ، حَدَّثَنَا هِشَامُ -هُوَ ابْنُ يُوسُفَ
-عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَحير، عَنْ هَانِئٍ مَوْلَى عُثْمَانَ، عَنْ عُثْمَانَ،
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الرَّجُلِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ: "اسْتَغْفِرُوا
لِأَخِيكُمْ، وَاسْأَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ، فَإِنَّهُ الْآنَ
يُسأَلُ"
telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa Ar-Razi, telah menceritakan
kepada kami Hisyam ibnu Yusuf, dari Abdullah ibnu Bujair, dari Hani' maula
Usman, dari Usman r.a. yang mengatakan bahwa Nabi Saw. apabila ia telah selesai
dari mengebumikan jenazah seseorang, beliau berdiri di dekat kuburnya, lalu
bersabda: Mohonlah ampunan buat saudara kalian dan mintakanlah keteguhan
buatnya (kepada Allah), karena sesungguhnya dia sekarang sedang
ditanyai.Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud secara munfarid.
Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih telah mengetengahkan sebuah hadis sehubungan dengan makna firman Allah Swt.:
{وَلَوْ
تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلائِكَةُ بَاسِطُو
أَيْدِيهِمْ}
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim
(berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedangkan para malaikat
memukul dengan tangannya. (Al-An'am: 93), hingga akhir ayat.Hadisnya sangat panjang, diriwayatkan melalui jalur-jalur yang garib, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas secara marfu’, di dalamnya terdapat banyak hal yang garib pula.
{أَلَمْ
تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ
دَارَ الْبَوَارِ (28) جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ (29)
وَجَعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعُوا
فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِ (30) }
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah
menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah
kebinasaan? Yaitu neraka Jahannam, mereka masuk ke dalamnya; dan itulah
seburuk-buruk tempat kediaman. Orang-orang kafir itu telah menjadikan
sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah,
"Bersenang-senanglah kalian, karena sesungguhnya tempat kembali kalian ialah
neraka."Imam Bukhari mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran. (Ibrahim: 28). Yang dimaksud dengan kalimat 'Tidakkah kamu perhatikan' ialah tidakkah kamu ketahui.
Perihalnya sama dengan makna yang terdapat di dalam ayat lain:
{أَلَمْ
تَرَ كَيْفَ}
Apakah kamu belum memperhatikan bagaimana. (Al-Fajr: 6)dan firman-Nya:
{أَلَمْ
تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا}
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar. (Al-Baqarah:
243)Al-Bawar, artinya kebinasaan, berasal dari kata bara, yaburu, bauran, bawaran, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya pada ayat lain, yaitu:
{قَوْمًا
بُورًا}
Kaum yang binasa. (Al-Furqan: 18)Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr, dari Ata yang telah mendengar Ibnu Abbas berkata sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran. (Ibrahim: 28). Bahwa mereka adalah orang-orang kafir penduduk kota Mekah.
Menurut riwayat Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan makna ayat ini, mereka adalah Jabalah ibnul Aiham dan para pengikutnya dari kalangan orang-orang Arab Badui, kemudian mereka menggabungkan diri bersama kerajaan Romawi.
Tetapi pendapat yang terkenal dan benar dari Ibnu Abbas adalah yang pertama tadi, sekalipun maknanya menyeluruh mencakup semua orang kafir. Karena sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad Saw. untuk segenap umat manusia dan sebagai nikmat buat mereka. Barang siapa yang menerimanya dan mengamalkannya sebagai rasa syukurnya, niscaya masuk surga. Dan barang siapa yang menolaknya serta mengingkarinya, tentulah ia masuk neraka.
Telah diriwayatkan pula dari Ali hal yang semisal dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dalam riwayat pertamanya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Al-Qasim ibnu Abu Buzzah, dari Abut-Tufail, bahwa Ibnul Kawa pernah bertanya kepada sahabat Ali tentang makna firman-Nya: orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan. (Ibrahim: 28). Ali mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir Quraisy pada peristiwa Perang Badar.
Ibnu Abu Hatim mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Munzir ibnu Syazan, telah menceritakan kepada kami Ya'la ibnu Ubaid, telah rnenceritakan kepada kami Bassam (yakni As-Sairafi), dari Abut-Tufail yang menceritakan bahwa pernah seorang lelaki datang kepada Khalifah Ali, lalu bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, siapakah orang-orang yang mengganti nikmat Allah dengan kekafiran dan menjerumuskan kaumnya ke lembah kehinaan?" Khalifah Ali menjawab, "Mereka adalah orang-orang munafik dari kalangan kabilah Quraisy."
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Nufail yang mengatakan bahwa ia pernah belajar kepada Ma'qal yang menceritakan hal berikut dari Ibnu Abu Husain, bahwa Khalifah Ali ibnu Abu Talib berdiri, lalu bertanya, "Tidakah seseorang yang menanyakan kepadaku tentang makna Al-Qur'an. Demi Allah, seandainya saya hari ini mengetahui ada seseorang yang lebih alim daripada aku, niscaya aku akan datang kepadanya (untuk belajar), sekalipun dia berada di belakang lautan." Maka berdirilah Abdullah ibnul Kawa, lalu bertanya, "Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang mengganti nikmat Allah dengan kekafiran dan menjerumuskan kaumnya ke dalam lembah kebinasaan?" Maka Khalifah Ali menjawab, "Mereka adalah orang-orang musyrik Quraisy, Allah telah memberikan nikmat iman kepada mereka, tetapi mereka menukar nikmat Allah itu dengan kekafiran dan menjerumuskan kaumnya ke dalam lembah kebinasaan."
As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran. (Ibrahim: 28), hingga akhir ayat. Bahwa Muslim Al-Mustaufa telah menceritakan dari Ali yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan 'mereka' itu adalah dua golongan orang-orang yang sangat durhaka dari kalangan kabilah Quraisy, yaitu Bani Umayyah dan Bani Mugirah. Adapun Bani Mugirah, karena mereka menjerumuskan kaumnya ke lembah kebinasaan dalam Perang Badar; sedangkan Bani Umayyah, karena mereka menjerumuskan kaumnya ke lembah kebinasaan dalam Perang Uhud. Dalam Perang Badar yang memimpin adalah Abu Jahal, sedangkan dalam Perang Uhud adalah Abu Sufyan. Adapun yang dimaksud dengan lembah kebinasaan ialah neraka Jahannam.
Ibnu Abu Hatim rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Al-Haris Abu Mansur, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Amr ibnu Murrah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Khalifah Ali membaca ayat berikut, yaitu firman Allah Swt.: dan menjerumuskan kaumnya ke dalam lembah kebinasaan. (Ibrahim: 28) Bahwa mereka adalah dua kelompok manusia yang durhaka dari kalangan kabilah Quraisy, yaitu Bani Umayyah dan Banil Mugirah. Orang-orang Banil Mugirah binasa dalam Perang Badar, sedangkan Bani Umayyah diberi kesenangan hidup sampai waktu tertentu.
Abu Ishaq telah meriwayatkannya dari Amr ibnu Murrah, dari Ali dengan lafaz yang semisal. Hal ini telah diriwayatkan pula melalui berbagai jalur bersumberkan darinya (Ali).
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Ali ibnu Zaid, dari Yusuf ibnu Sa'd, dari Umar ibnul Khattab sehubungan dengan makna firman-Nya: Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran. (Ibrahim: 28) Bahwa mereka adalah dua kelompok orang-orang durhaka dari kalangan kabilah Quraisy, yaitu Banil Mugirah dan Bani Umayyah. Banil Mugirah telah kalian tumpas dalam Perang Badar, sedangkan Bani Umayah mendapat kesenangan hidup sampai waktu tertentu.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Hamzah Az-Zayyat, dari Amr ibnu Murrah yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah bertanya kepada Umar ibnul Khattab tentang makna ayat berikut, yaitu firman Allah Swt.: Tidakkahkamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? (Ibrahim: 28). Umar ibnul Khattab menjawab, "Mereka adalah dua kelompok orang-orang durhaka dari kalangan kabilah Quraisy, paman-pamanku, juga paman-pamanmu. Paman-pamanku telah dibinasakan oleh Allah dalam Perang Badar; sedangkan paman-pamanmu, maka Allah menangguhkan mereka sampai waktu tertentu."
Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Ad-Dahhak, Qatadah, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir Quraisy yang terbunuh dalam Perang Badar. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Malik di dalam kitab tafsirnya, dari nafi', dari Ibnu Umar.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَجَعَلُوا
لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِهِ}
Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya
mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. (Ibrahim:30)Maksudnya, mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang mereka sembah di samping menyembah Allah, dan mereka mengajak manusia kepada hal tersebut.
Kemudian Allah Swt. mengancam mereka dengan ancaman yang keras melalui lisan Nabi-Nya:
{قُلْ
تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِ}
Katakanlah, "Bersenang-senanglah kalian, karena sesungguhnya tempat
kembali kalian ialah neraka." (Ibrahim: 30)Yakni selagi kalian mampu melakukannya di dunia, lakukanlah. Tetapi apa pun yang akan terjadi:
{فَإِنَّ
مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِ}
maka sesungguhnya tempat kembali kalian ialah neraka." (Ibrahim:
30)Tempat kembali dan tempat menetap kalian ialah neraka. Makna ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
{نُمَتِّعُهُمْ
قَلِيلا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَى عَذَابٍ غَلِيظٍ}
Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka
(masuk) ke dalam siksa yang keras. (Lukman: 24)
{مَتَاعٌ
فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ
الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ}
(Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada
Kamilah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksayang berat,
disebabkan kekafiran mereka. (Yunus: 70)
{قُلْ
لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ
فِيهِ وَلا خِلالٌ (31) }
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah
beriman, "Hendaklah mereka mendirikan salat, menafkahkan sebagian rezeki yang
Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum
datang hari (kiamat) yang pada hari itu
tidak ada jual beli dan persahabatan.”Allah Swt. memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk taat kepada-Nya dan menunaikan kewajiban mereka kepada Allah serta berbuat baik kepada makhluk-Nya, yaitu hendaknya mereka mendirikan salat yang merupakan pengejawantahan penyembahan diri kepada Allah Swt. semata, tiada sekutu bagi-Nya; dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang diberikan kepada mereka, yaitu dengan menunaikan zakat, memberi nafkah kepada kaum kerabat serta berbuat kebaikan kepada orang lain yang bukan kerabat. Yang dimaksud dengan mendirikan salat ialah menunaikannya pada waktunya masing-masing, memelihara batasan-batasannya, rukuk, khusuk, dan sujudnya.
Allah Swt. memerintahkan pula untuk memberikan nafkah dari apa yang direzekikan kepada mereka, baik secara sembunyi maupun terang-terangan; dan hendaklah mereka mengerjakan hal tersebut dengan segera demi untuk keselamatan diri mereka.
{مِنْ
قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ}
sebelum datang hari. (Ibrahim: 31)Yakni hari kiamat.
{لَا
بَيْعٌ فِيهِ وَلا خِلالٌ}
yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. (Ibrahim:
31)Artinya tidak akan diterima dari seorang pun tebusan yang diajukannya untuk menyelamatkan dirinya, sekalipun dengan menjual dirinya. Makna ayat ini sama dengan yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
{فَالْيَوْمَ
لَا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ وَلا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا}
Maka pada hari ini tidak diterima tebusan kalian dan tidak pula dari
orang-orang kafir. (Al-Hadid: 15)Mengenai firman Allah Swt.:
{وَلا
خِلالٌ}
dan tidak pula persahabatan. (Ibrahim: 31)Ibnu Jarir mengatakan bahwa pada hari itu tidak ada teloransi persahabatan terhadap orang yang wajib terkena hukuman. Yang ada pada hari itu hanyalah keadialan semata-mata. Lafaz khilal berasal dari kalimat khalaltu fulanan (aku menjadikan si Fulan teman dekatku), bentuk masdar-nya ialah khilal, seperti pengertian yang terdapat di dalam perkataan Imru'ul Qais:
صَرَفتُ
الهَوَى عَنْهُنَّ مِنْ خَشْيَة الرَّدَى ...
وَلَسْتُ بمقْلى الْخِلَالِ وَلَا قَال
Aku palingkan cintaku dari mereka
(wanita-wanita itu)
karena khawatir akan kebinasaan,
tetapi aku tidak akan memutuskan
hubungan persahabatan yang telah aku bina.
Qatadah mengatakan, "Sesungguhnya Allah telah mengetahui bahwa di dunia ini
telah membudaya jual beli dan persahabatan yang mereka bina di dunia. Oleh
karena itu, hendaklah seseorang memilih sahabat bergaulnya dan karena apakah ia
bersahabat. Jika persahabatan itu karena Allah, hendaklah dijaga kelestariannya;
dan jika bukan karena Allah, hendaklah ia memutuskannya."Menurut kami, makna yang dimaksud ialah Allah memberitahukan bahwa tiada suatu jual beli dan tiada pula tebusan yang bermanfaat bagi seseorang, sekalipun seseorang menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi, jika memang emas ada pada hari itu. Dan tiada manfaat persahabatan seseorang, serta tiada manfaat pula syafaat seseorang jika orang yang bersangkutan menghadap kepada Allah dalam keadaan kafir.
Allah Swt. telah berfirman:
{وَاتَّقُوا
يَوْماً لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئاً وَلا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلا
تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلا هُمْ يُنْصَرُونَ}
Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat
menggantikan seseorang lain sedikit pun dan tidak akan diterima suatu tebusan
darinya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak
(pula) mereka akan ditolong. (Al-Baqarah: 123)Dan firman AllahSwt.:
{يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ
يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خُلَّةٌ وَلا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ
هُمُ الظَّالِمُونَ}
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah)
sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang
hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan
yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang
yang zalim. (Al-Baqarah: 254)
{اللَّهُ
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَأَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ
بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي
الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الأنْهَارَ (32) وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ (33) وَآتَاكُمْ
مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ (34) }
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan
menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu
berbagai buah-buahan menjadi rezeki untuk kalian; dan Dia telah menundukkan
bahtera bagi kalian supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya
dan Dia telah menundukkan (pula) bagi
kalian sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagi kalian
matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah
menundukkan bagi kalian malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepada kalian
(keperluan kalian) dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya. Dan
jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian
menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari
(nikmat Allah).Allah Swt. menyebutkan nikmat-nikmat-Nya yang telah Dia berikan kepada makhluk-Nya, bahwa Dia telah menciptakan bagi mereka langit yang berlapis-lapis sebagai atap yang dipelihara-Nya, dan bumi yang menjadi hamparannya.
وَأَنْزَلَ
مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ
شَتَّى
dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air itu
berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. (Thaha: 53)Yakni buah-buahan yang bermacam-macam dan hasil tanaman yang beraneka ragam warna, bentuk, rasa, bau, dan manfaatnya. Allah menundukkan bahtera sehingga bahtera dapat mengapung di atas air laut dan berlayar menempuhnya dengan seizin Allah. Allah menundukkan laut untuk membawa bahtera agar orangrorang yang musafir menempuh jalan laut dapat bepergian dari suatu daerah ke daerah yang lain guna mengangkut kebutuhan mereka dari suatu daerah ke daerah yang lain (impor dan ekspor). Allah juga menundukkan sungai-sungai yang membelah bumi, lalu mengalir dari suatu daerah ke daerah yang lain, sebagai rezeki buat hamba-hamba-Nya berupa air minum, pengairan, dan kegunaan-kegunaan lainnya yang bermanfaat bagi mereka.
{وَسَخَّرَ
لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ}
Dan Dia telah menundukkan (pula) bagi kalian matahari dan bulan
yang terus menerus beredar (dalam orbitnya). (Ibrahim: 33)Artinya, keduanya terus-menerus beredar pada garis edarnya malam dan dan siang hari tanpa henti-hentinya.
{لَا
الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ
النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ}
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malam pun tidak
dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
(Yasin: 40)Allah Swt. telah berfirman:
{يُغْشِي
اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ
مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ
الْعَالَمِينَ}
Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan
(diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang;
(masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Allah, Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.
(Al-A'raf: 54)Matahari dan bulan silih berganti, malam dan siang hari saling berebutan; adakalanya siang hari mengambil sebagian waktu malam hari hingga menjadi bertambah panjang. Begitu pula malam hari, adakalanya ia mengambil sebagian waktu dari siang hari sehingga siang hari pendek waktunya dan malam hari panjang.
{يُكَوِّرُ
اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ
الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى}
Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan
menundukkan matahari dan bulan; masing-masing berjalan menurut waktu yang
ditentukan. Ingatlah, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.
(Az-Zumar: 5)
*******************
Firman Allah Swt:
{وَآتَاكُمْ
مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ}
Dan Dia telah memberikan kepada kalian (keperluan kalian) dari
segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya.(lbrahim: 34)Dengan kata lain, Allah menyediakan bagi kalian segala sesuatu yang kalian perlukan dalam semua keadaan sesuai dengan apa yang kalian mohonkan kepada-Nya.
Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah dari semua yang kalian mohonkan kepada-Nya dan yang tidak kalian mohonkan kepada-Nya. Sebagian ulama membacanya dengan bacaan yang artinya "Dan Dia telah memberikan kepada kalian keperluan kalian dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya dan yang tidak kalian mohonkan kepada-Nya".
Firman Allah Swt.:
وَإِنْ
تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا}
Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian
menghinggakannya. (Ibrahim: 34)Allah Swt. menceritakan sisi ketidakmampuan hamba-hamba-Nya untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka, terlebih lagi untuk menunaikan syukurnya. Talq ibnu Habib telah mengatakan bahwa sesungguhnya hak Allah itu jauh lebih berat daripada apa yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya sebagai rasa syukurnya. Dan sesungguhnya nikmat-nikmat Allah itu jauh lebih banyak daripada apa yang dihitung-hitung oleh hamba-hamba-Nya, tetapi mereka melakukan tobatnya di pagi hari, dan di sore hari mereka bertobat pula.
Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah mengucapkan doa berikut:
"اللَّهُمَّ،
لَكَ الْحَمْدُ غَيْرَ مَكْفِيّ وَلَا مودَع، وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ
ربَّنا"
Ya Allah, bagi Engkaulah segala puji yang tidak pernah tercukupkan, tidak
pernah terpisahkan, dan tidak pernah tertinggalkan, wahai Tuhan kami.Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan di dalam kitab Musnad-nya bahwa:
حَدَّثَنَا
إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي الْحَارِثِ، حدثنا داود بن المُحبّر، حدثنا صَالِحٍ
المرْيّ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ زَيْدٍ العَبْدِي، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "يَخْرُجُ لِابْنِ آدَمَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ ثَلَاثَةُ دَوَاوِينَ، دِيوَانٌ، فِيهِ الْعَمَلُ الصَّالِحُ،
وَدِيوَانٌ فِيهِ ذُنُوبُهُ، وَدِيوَانٌ فِيهِ النِّعَمُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى
عَلَيْهِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لِأَصْغَرِ نِعَمِهِ -أحسبَه. قَالَ: فِي دِيوَانِ
النِّعَمِ: خُذِي ثَمَنَكِ مِنْ عَمَلِهِ الصَّالِحِ، فَتَسْتَوْعِبُ عَمَلَهُ
الصَّالِحَ كُلَّهُ، ثُمَّ تَنَحّى وَتَقُولُ: وَعِزَّتِكَ مَا اسْتَوْفَيْتُ.
وَتَبْقَى الذُّنُوبُ وَالنِّعَمُ فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَرْحَمَ قَالَ:
يَا عَبْدِي، قَدْ ضاعفتُ لَكَ حَسَنَاتَكَ وَتَجَاوَزْتُ عَنْ سَيِّئَاتِكَ
-أَحْسَبُهُ قَالَ: وَوَهَبْتُ لَكَ نِعَمِي"
telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abu Haris, telah menceritakan
kepada kami Daud ibnul Muhabbar, telah menceritakan kepada kami Saleh Al-Murri,
dari Ja'far ibnu Zaid Al-Abdi, dari Anas, dari Nabi Saw. yang telah bersabda
"Kelak dikeluarkan tiga diwan (catatan) bagi anak Adam pada hari kiamat,
yaitu diwan yang di dalamnya tercatatkan amal salehnya, diwan yang didalamnya
tercatatkan dosa-dosanya, dan diwan yang di dalamnya tercatatkan nikmat-nikmat
Allah Swt. yang telah diberikan kepadanya. Lalu Allah berfirman kepada
nikmat-Nya yang paling kecil, - yang menurut Al-Bazzar Ismail Ibnu Haris
adalah diwan yang di dalamnya tercatatkan nikmat-nikmat-Nya,- 'Ambillah
upahmu dari amal salehnya." Maka ia mengambil semua amal salehnya, lalu menjauh
dan berkata, 'Demi Keagungan-Mu, aku masih belum cukup, tetapi yang tertinggal
hanyalah dosa-dosanya dan catatan nikmat-nikmat-Mu.' Apabila Allah
menghendaki merahmatinya, maka Dia berfirman, 'Hai hamba-Ku, sekarang Aku lipat
gandakan kebaikan-kebaikanmu dan Aku maafkan keburukan-keburukanmu.' Menurut Al-Bazzar Ismail ibnul Haris, Allah mengatakan, 'Aku anugerahkan nikmat-nikmat-Ku kepadamu (tanpa balasan)'." Predikat hadis ini garib, dan sanadnya daif.
Di dalam kitab asar disebutkan bahwa Daud a.s. pernah berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku dapat bersyukur kepada Engkau, sedangkan syukurku kepada-Mu termasuk nikmat dari-Mu pula yang Engkau berikan kepadaku?" Maka Allah menjawab melalui firman-Nya, "Sekarang engkau, hai Daud, telah bersyukur kepada-Ku; karena kamu telah mengakui akan kelalaianmu dalam menunaikan rasa syukurmu kepada-Ku atas nikmat-nikmat-Ku yang Kuberikan kepadamu."
Imam Syafii rahimahullah mengatakan, "Segalapuji bagi Allah, yang salah satu dari nikmat-Nya tidak dapat disyukuri kecuali berkat adanya nikmat baru yang mendorong seseorang untuk bersyukur kepada-Nya."
Salah seorang penyair mengatakan:
لَوْ
كُلُّ جَارِحَة مِنِّي لهَا لُغَةٌ ...
تُثْنيِ عَلَيكَ بِمَا أولَيتَ مِنْ حَسنِ ...
لَكَانَ
مَا زَادَ شُكري إِذْ شَكَرت بِهِ ...
إليكَ أبلغَ فِي الإحسَان والمننِ ...
Seandainya setiap anggota tubuhku
dapat berbicara memuji-Mu sebab kebaikan yang telah Engkau berikan kepadaku,
niscaya lebihan rasa syukurku kepada-Mu merupakan nikmat yang paling besar yang
dianugerahkan oleh-Mu kepadaku.
{وَإِذْ
قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ
أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ (35) رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ
فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (36)
}
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, "Ya Tuhanku,
jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku
beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya
berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia; maka barang siapa
yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku; dan barang
siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.Allah Swt. —dalam bantahan-Nya terhadap orang-orang musyrik Arab— menyebutkan bahwa negeri Mekah ini sejak semula dibangun hanyalah sebagai tempat untuk menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan Ibrahim yang meramaikannya karena pembangunan yang dilakukannya berlepas diri dari orang-orang yang menyembah selain Allah. Dia (Ibrahim) mendoakan buat kota Mekah agar menjadi kota yang aman. Dalam doanya yang disitir oleh firman-Nya dia mengatakan:
{رَبِّ
اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا}
Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman
(Ibrahim: 35)Dan Allah mengabulkan permintaannya, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{أَوَلَمْ
يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ
حَوْلِهِمْ}
Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah
menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman. (Al-Ankabut: 67),
hingga akhir surat.
{إِنَّ
أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى
لِلْعَالَمِينَ فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ
كَانَ آمِنًا}
Sesungguhnya rumah yang mula-mula di bangun untuk (tempat beribadat)
manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan
menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata,
(di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah
itu), menjadi amanlah dia. (Ali Imran: 96-97)Dan dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
{رَبِّ
اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا}
Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman.
(Ibrahim: 35)Dalam ayat ini lafaz balad disebutkan dengan memakai at-ta'rif, yakni al-balad, karena Nabi Ibrahim mendoakannya sesudah membangunnya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ
وَإِسْحَاقَ}
Segala puji bagi Allah, yang telah menganugerahkan kepadaku di hari
tua(ku) Ismail dan Ishaq. (Ibrahim: 39)Telah diketahui bahwa Ismail tiga belas tahun lebih tua daripada Ishaq. Ketika Ismail dibawa oleh Nabi Ibrahim bersama ibunya ke Mekah, ia masih menyusu; dan sesungguhnya Nabi Ibrahim pada saat itu berdoa pula yang bunyinya seperti berikut: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman. (Ibrahim: 35) Seperti yang telah kami sebutkan dalam tafsir surat Al-Baqarah secara panjang lebar.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَاجْنُبْنِي
وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ}
dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.
(Ibrahim: 35)Setiap orang yang berdoa dianjurkan agar mendoakan dirinya sendiri, lalu buat kedua orang tuanya dan anak cucunya. Kemudian Nabi Ibrahim menyebutkan bahwa banyak kalangan manusia yang terfitnah oleh penyembahan kepada berhala-berhala, dan bahwa dia berlepas diri dari orang-orang yang menyembahnya, lalu ia mengembalikan urusan mereka kepada Allah Swt. Jika Allah menghendaki untuk mengazab mereka, tentulah Dia mengazab mereka; dan jika Dia menghendaki memberikan ampunan kepada mereka, tentulah Dia mengampuni mereka. Perihalnya sama dengan apa yang dikatakan oleh Nabi Isa a.s.:
{إِنْ
تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ}
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang
Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Al-Maidah: 118)Dalam kandungan ayat ini dijelaskan bahwa tiada lain segala sesuatunya dikembalikan kepada kehendak Allah, bukan merupakan pembolehan akan terjadinya hal tersebut.
قَالَ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ: حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، أَنَّ بَكْرَ
بْنَ سَوَادة حَدَّثَهُ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَير عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلَا
قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ: {رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ
تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} وَقَوْلَ
عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: {إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ
تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} وَرَفْعَ يَدَيْهِ،
[ثُمَّ] قَالَ: "اللَّهُمَّ أُمَّتِي، اللَّهُمَّ أُمَّتِي، اللَّهُمَّ أُمَّتِي"،
وَبَكَى فَقَالَ اللَّهُ: [يَا جِبْرِيلُ] اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ -وَرَبُّكَ
أَعْلَمُ وَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ؟ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ،
فَسَأَلَهُ، فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا
قَالَ، [قَالَ] فَقَالَ اللَّهُ: اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، فَقُلْ لَهُ: إِنَّا
سَنُرْضِيكَ فِي أُمَّتِكَ وَلَا نَسُوءُكَ
Abdullah ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul
Haris, bahwa Bakr ibnu Sawwadah pernah menceritakan kepadanya, dari Abdur Rahman
ibnu Jarir, dari Abdullah ibnu Amr, bahwa Rasulullah Saw. membaca firman Allah
Swt. yang menceritakan doa Nabi Ibrahim, yaitu: Ya Tuhanku, sesungguhnya
berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia. (Ibrahim:
36), hingga akhir ayat. Dan doa Nabi Isa a.s. yang disebutkan oleh firman-Nya:
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau. (Al-Maidah: 118), hingga akhir ayat. Setelah itu Rasulullah Saw.
mengangkat kedua tangannya (berdoa) dan mengatakan dalam doanya: Ya Allah,
(selamatkanlah) umatku, Ya Allah, (selamatkanlah) umatku, Ya
Allah, (selamatkanlah) umatku. Lalu beliau Saw. menangis, dan Allah
berfirman, "Hai Jibril, berangkatlah, temui Muhammad, dan tanyakanlah kepadanya
apakah yang membuatnya menangis —padahal Allah lebih mengetahui—?" Malaikat
Jibril a.s. datang dan menanyainya, lalu Rasulullah Saw. menjawabnya, (Malaikat
Jibril kembali melapor kepada Allah), maka Allah Swt. berfirman, "Pergilah
kepada Muhammad, dan katakanlah kepadanya bahwa Kami akan membuatnya puas
terhadap umatnya dan Kami tidak akan mengecewakannya."
{رَبَّنَا
إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ
الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ
تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (37)
}
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah
menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di
dekat rumah Engkau (Baitullah) yang
dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan
salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah
mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.Hal ini menunjukkan bahwa doa ini adalah doa yang berikutnya sesudah doa yang pertama yang dipanjatkannya ketika ia pergi meninggalkan Hajar dan putranya (Nabi Ismail), hal ini terjadi sebelum Baitullah dibangun. Sedangkan doa yang kedua ini dipanjatkannya sesudah ia membangun Baitullah sebagai pengukuhannya dan ungkapan keinginannya yang sangat akan rida Allah Swt. Untuk itulah di dalam doanya disebutkan:
{عِنْدَ
بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ}
di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. (Ibrahim: 37)
Adapun firman Allah Swt.:
{رَبَّنَا
لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ}
Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat.
(Ibrahim: 37)Menurut Ibnu Jarir, ayat ini berkaitan dengan firman-Nya, "al-muharram." Dengan kata lain, sesungguhnya saya menjadikannya sebagai tanah yang haram (suci) agar penduduknya dapat mendirikan salat di dekatnya.
{فَاجْعَلْ
أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ}
maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.
(Ibrahim: 37)Ibnu Abbas, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, dan lain-lainnya mengatakan bahwa seandainya Nabi Ibrahim dalam doanya mengatakan, "Af-idatan nasi," (yakni tanpa min) yang artinya 'hati seluruh umat manusia', maka tentulah orang-orang Romawi, Persia, Yahudi, dan Nasrani serta manusia lainnya akan berdesak-desakan memenuhinya. Akan tetapi, Nabi Ibrahim mengatakan, "Minan nas," yakni sebagian manusia. Dengan demikian, maka hal ini khusus bagi kaum muslim saja.
Firman Allah Swt.:
{وَارْزُقْهُمْ
مِنَ الثَّمَرَاتِ}
dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan. (Ibrahim: 37)Agar hal itu dapat dijadikan sebagai pembantu bagi mereka untuk mengerjakan ketaatan kepada-Mu; dan mengingat Mekah adalah sebuah lembah yang tidak memiliki tumbuh-tumbuhan, maka dimohonkan agar mereka beroleh buah-buahan untuk makan mereka. Allah Swt. mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim ini, seperti yang dinyatakan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{أَوَلَمْ
نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا
مِنْ لَدُنَّا}
Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram yang
aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam
(tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagi kalian), dari sisi
Kami? (Al-Qashash: 57)Ini merupakan sebagian dari kebaikan Allah, kemuliaan, rahmat, dan berkah-Nya, Mengingat di Tanah Suci Mekah tidak terdapat pepohonan yang berbuah, untuk itulah maka didatangkan kepadanya segala macam buah-buahan dari daerah-daerah yang ada di sekitarnya sebagai perkenan dari Allah atas doa Nabi Ibrahim a.s.
{رَبَّنَا
إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ
شَيْءٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ (38) الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي
عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39)
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ
دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ
يَقُومُ الْحِسَابُ (41) }
Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui
apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun
yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.
Segala puji bagi Allah, yang telah menganugerahkan kepadaku di hari
tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya
Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku,
jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan
kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu
bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari
kiamat)."Ibnu Jarir mengatakan bahwa Allah Swt. menceritakan perihal kekasihNya, yaitu Nabi Ibrahim, bahwa ia pernah berkata dalam doanya:
{رَبَّنَا
إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ}
Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan
dan apa yang kami lahirkan. (Ibrahim: 38)Artinya Engkau mengetahui maksudku dalam doaku dan apa yang aku kehendaki dalam doaku untuk penduduk kota suci ini. Sesungguhnya hal itu tiada lain menuju kepada rida-Mu dan mengikhlaskan diri kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau mengetahui segala sesuatu yang lahir dan yang batin (tidak tampak), tiada sesuatu pun di bumi ini —tiada pula di langit—yang tersembunyi dari pengetahuan-Mu.
Kemudian Nabi Ibrahim dalam doanya mengucapkan pujian kepada Tuhannya atas anak yang dianugerahkan kepadanya di saat ia telah berusia lanjut, seperti yang disitir oleh firman berikut:
{الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي
لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ}
Segala puji bagi Allah, yang telah menganugerahkan kepadaku di hari
tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar
(memperkenankan) doa. (Ibrahim: 39)Yakni Dia memperkenankan (mengabulkan) doa orang yang memohon kepada-Nya;.dan sesunggguhnya Dia telah mengabulkan permintaanku, yaitu mempunyai anak.
Kemudian Nabi Ibrahim a.s. mengatakan dalam doanya:
{رَبِّ
اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ}
Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan salat (Ibrahim:
40)Yaitu memeliharanya dan mendirikan batasan-batasannya.
{وَمِنْ
ذُرِّيَّتِي}
dan begitu pula anak cucuku. (Ibrahim : 40)Maksudnya, jadikanlah pula anak cucuku sebagai orang-orang yang mendirikan salat.
رَبَّنَا
وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ}
Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (Ibrahim: 40) Yakni kabulkanlah semua apa yang aku mohonkan kepada-Mu.
{رَبَّنَا
اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ}
Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan ibu bapakku. (Ibrahim: 41)Sebagian ulama tafsir membacanya waliwalidi dalam bentuk tunggal, yakni bukan waliwalidayya. Hal ini dilakukan oleh Nabi Ibrahim sebelum ia berlepas diri dari ayahnya, setelah ia mengetahui dengan jelas bahwa ayahnya adalah musuh Allah Swt.
{وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ
يَقُومُ الْحِسَابُ}
dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab. (Ibrahim:
41)Maksudnya, ampunilah pula semua orang mukmin pada hari Engkau menghisab hamba-hamba-Mu, lalu Engkau balas mereka sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing; jika amalnya baik, maka balasannya baik; dan jika amalnya buruk, maka balasannya buruk pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar