{وَقِيلَ
يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ
الأمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
(44) }
Dan difirmankan, "Hai bumi, telanlah airmu; dan
hai langit (hujan), berhentilah, "
dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itu pun
berlabuh di atas Bukit Judi, dan dikatakan, "Binasalah orang-orang yang
zalim.”Allah Swt. menceritakan bahwa setelah Dia menenggelamkan seluruh penduduk bumi kecuali orang-orang yang ada di dalam bahtera itu, lalu Allah memerintahkan kepada bumi agar menelan airnya yang telah dipancarkan darinya dan berkumpul di permukaannya. Allah memerintahkan pula kepada langit agar menghentikan hujannya.
{وَغِيضَ
الْمَاءُ}
dan air pun disurutkan. (Hud: 44) Yaitu mulai menyurut dan berkurang.
{وَقُضِيَ
الأمْرُ}
dan perintah pun diselesaikan. (Hud: 44)Maksudnya, telah selesai dari membinasakan seluruh penduduk bumi yang kafir kepada Allah, sehingga tiada sesuatu pun dari rumah mereka yang tersisa.
{وَاسْتَوَتْ}
dan bahtera pun berlabuh (Hud: 44)Yakni berlabuhlah bahtera itu bersama orang-orang yang ada di dalamnya.
{عَلَى
الْجُودِيِّ}
di atas bukit Judi. (Hud: 44)Mujahid mengatakan bahwa Judi adalah nama sebuah bukit yang terletak di Jazirah Arab. Semua gunung saling meninggikan dirinya dari banjir pada hari itu agar tidak tenggelam, tetapi Bukit Judi ber-tawadu (merendahkan dirinya) kepada Allah Swt. Karena itu, ia tidak tenggelam, dan bahtera Nabi Nuh berlabuh di atasnya.
Qatadah mengatakan bahwa bahtera Nabi Nuh berlabuh di atasnya selama satu bulan sebelum mereka turun dari bahtera. Qatadah mengatakan, "Allah membiarkan bahtera Nabi Nuh tetap ada di atas Bukit Judi, yaitu di salah satu kawasan jazirah, sebagai pelajaran dan pertanda, hingga dapat dilihat oleh generasi pertama dari kalangan umat ini (umat Nabi Saw.) Berapa banyak bahtera yang ada sesudahnya, tetapi semuanya hancur dan menjadi debu."
Ad-Dahhak mengatakan bahwa Al-Judi adalah sebuah bukit yang terletak di Mausul. Sebagian ulama mengatakan bahwa bukit yang dimaksud adalah Bukit Tur.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Rafi', telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, dari Taubah ibnu Salim yang mengatakan, "Aku melihat Zur ibnu Hubaisy melakukan salatnya di Az-Zawiyah ketika ia masuk dari pintu gerbang Kindah yang ada di sebelah kananmu. Lalu aku bertanya kepadanya, Sesungguhnya engkau kulihat sering melakukan salat di sini pada hari Jumat?' Ia menjawab, 'Telah sampai suatu berita kepadaku bahwa bahtera Nabi Nuh pernah berlabuh di sini'."
Alba ibnu Ahmar telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Nabi Nuh di dalam bahteranya ditemani oleh delapan puluh orang lelaki berikut istri-istri mereka. Dan sesungguhnya mereka berada di dalam bahtera itu selama seratus lima puluh hari.
Dan sesungguhnya Allah mengarahkan bahtera ke Mekah, lalu tawaf di Baitullah selama empat puluh hari, kemudian Allah mengarahkannya ke Bukit Al-Judi, dan bahtera itu menetap di puncaknya.
Maka Nabi Nuh mengirimkan burung gagak untuk mendatangkan berita tentang daratan kepadanya. Lalu burung gagak pergi, dan ia hinggap pada bangkai sehingga membuatnya melalaikan tugasnya. Kemudian Nabi Nuh mengirimkan burung merpati (untuk mendatangkan berita yang sama), maka burung merpati kembali dengan membawa daun pohon zaitun dan kedua kakinya berlumuran lumpur. Sejak saat itu Nabi Nuh a.s. mengetahui bahwa air telah surut, maka ia turun ke bagian bawah Bukit Al-Judi, yakni di lembahnya.
Nabi Nuh mulai membangun sebuah kota, lalu ia beri nama Samanin; dan di suatu masa, bahasa mereka terpecah belah menjadi delapan puluh bahasa, salah satunya adalah bahasa Arab., Sebagian dari mereka tidak dapat memahami bahasa sebagian yang lain, dan Nabi Nuhlah yang menjadi juru penerjemahnya di kalangan mereka.
Ka'b Al-Ahbar mengatakan, sesungguhnya bahtera Nuh a.s. mengelilingi kawasan Timur dan Barat sebelum ia menetap di Bukit Al-Judi.
Qatadah dan lain-lainnya mengatakan bahwa mereka menaiki bahtera itu pada tanggal sepuluh Rajab, lalu mereka berlayar selama seratus lima puluh hari; dan bahtera itu menetap di Bukit Al-Judi selama satu bulan, sedangkan mereka masih berada di dalamnya. Dan mereka baru keluar dari bahtera pada hari Asyura bulan Muharam.
Hal yang semisal telah disebutkan di clalam sebuah hadis marfu diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Disebutkan bahwa mereka melakukan puasa pada hari mereka keluar dari bahtera itu.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ
حَبِيب الْأَزْدِيُّ، عَنْ أَبِيهِ حَبِيبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ شُبَيل، عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بِأُنَاسٍ مِنَ الْيَهُودِ، وَقَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا
الصَّوْمُ؟ قَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللَّهُ مُوسَى وَبَنِي
إِسْرَائِيلَ مِنَ الْغَرَقِ، وَغَرِقَ فِيهِ فِرْعَوْنُ، وَهَذَا يَوْمٌ اسْتَوَتْ
فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الجُودِيّ، فِصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى، عَلَيْهِمَا
السَّلَامُ، شُكْرًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى، وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا
الْيَوْمِ". فَصَامَ، وَقَالَ لِأَصْحَابِهِ: "مَنْ كَانَ أَصْبَحَ مِنْكُمْ
صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، وَمَنْ كَانَ أَصَابَ من غَذاء أَهْلِهِ،
فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far, telah
menceritakan kepada kami Abdus Samad ibnu Habib Al-Azdi, dari ayahnya (yaitu
Habib ibnu Abdullah), dari Syibi, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Nabi
Saw. bersua dengan sejumlah orang Yahudi yang sedang melakukan puasa pada hari
Asyura, maka Nabi Saw. bertanya, "Puasa apakah ini?" Mereka menjawab,
"Hari ini adalah hari saat Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari
tenggelam dan pada hari yang sama Fir'aun ditenggelamkan. Dan hari ini adalah
hari saat bahtera (Nuh a.s.) berlabuh di atas Bukit Al-Judi. Maka Nuh dan Musa
melakukan puasa pada hari ini sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Allah Swt."
Maka Nabi Saw. bersabda: Aku lebih berhak terhadap Musa dan lebih berhak
untuk melakukan puasa pada hari ini. Nabi Saw. melakukan puasa pada hari
itu, dan beliau bersabda kepada para sahabatnya: Barang siapa yang berpagi
hari di antara kalian dalam keadaan berpuasa, hendaklah ia melanjutkan puasanya.
Dan barang siapa yang telah menyantap sebagian dari makanan keluarganya, maka
hendaklah ia melanjutkan harinya dengan puasa.Hadis ini garib bila ditinjau dari segi jalur ini, tetapi sebagian darinya ada syahid yang menguatkannya di dalam kitab Sahih.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَقِيلَ
بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ}
dan dikatakan, "Binasalah orang-orang yang zalim.” (Hud: 44)Artinya, binasa dan merugilah mereka serta dijauhkanlah mereka dari rahmat Allah Swt. Sesungguhnya mereka telah binasa sampai ke akar-akarnya, sehingga tiada seorang pun dari mereka yang masih hidup.
Imam Abu Ja'far ibnu Jarir dan Al-Habr Abu Muhammad ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan di dalam kitab Tafsir-nya masing-masing:
مِنْ
حَدِيثِ مُوسَى بْنِ يَعْقُوبَ الزَّمْعِيِّ، عَنْ قَائِدٍ -مَوْلَى عُبَيْدِ
اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ -أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
أَبِي رَبِيعَةَ أَخْبَرَهُ: أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: "لَوْ رَحِمَ اللَّهُ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ أَحَدًا لَرَحِمَ أُمَّ
الصَّبِيِّ"، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "كَانَ
نُوحٌ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، مَكَثَ فِي قَوْمِهِ أَلْفَ سَنَةٍ [إِلَّا خَمْسِينَ
عَامًا] ، يَعْنِي وَغَرَسَ مِائَةَ سَنَةٍ الشَّجَرَ، فَعَظُمَتْ وَذَهَبَتْ كُلَّ
مَذْهَبٍ، ثُمَّ قَطَعَهَا، ثُمَّ جَعَلَهَا سَفِينَةً وَيَمُرُّونَ عَلَيْهِ
وَيَسْخَرُونَ مِنْهُ وَيَقُولُونَ: تَعْمَلُ سَفِينَةً فِي البَرّ، فَكَيْفَ
تَجْرِي؟ قَالَ: سَوْفَ تَعْلَمُونَ. فَلَمَّا فَرَغَ ونَبَع الْمَاءُ، وَصَارَ فِي
السِّكَكِ خشِيت أُمُّ الصَّبِيِّ عَلَيْهِ، وَكَانَتْ تُحِبُّهُ حُبًّا شَدِيدًا،
فَخَرَجَتْ إِلَى الْجَبَلِ، حَتَّى بَلَغَتْ ثُلُثَهُ فَلَمَّا بَلَغَهَا الْمَاءُ
[ارْتَفَعَتْ حَتَّى بَلَغَتْ ثُلُثَيْهِ، فَلَمَّا بَلَغَهَا الْمَاءُ] خَرَجَتْ
بِهِ حَتَّى اسْتَوَتْ عَلَى الْجَبَلِ، فَلَمَّا بَلَغَ رَقَبَتَهَا رَفَعَتْهُ
بِيَدَيْهَا فَغَرِقَا فَلَوْ رَحِمَ اللَّهُ مِنْهُمْ أَحَدًا لَرَحِمَ أُمَّ
الصَّبِيِّ"
melalui hadis Ya'qub ibnu Musa Az-Zam'i, dari Qaid pelayan Ubaidillah ibnu
Abu Rafi', bahwa Ibrahim ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Rabi'ah pernah bercerita
kepadanya bahwa Siti Aisyah r.a. telah menceritakan kepadanya bahwa Nabi Saw.
pernah bersabda: Seandainya Allah merahmati seseorang dari kalangan kaum Nuh,
niscaya Dia membelaskasihani ibu bayi itu. Rasulullah Saw. melanjutkan
kisahnya: Nuh a.s. tinggal di kalangan kaumnya selama sembilan ratus lima
puluh tahun. Ia menanam pohon selama seratus tahun, dan pohon-pohon yang
ditanamnya itu menjadi besar dan menjulang tinggi sekali. Lalu Nuh menebangnya
dan menjadikannya perahu. Mereka (kaumnya) melewatinya dan mengejeknya
seraya berkata, "Kamu buat perahu di daratan, bagaimana dapat berlayar?” Nuh
menjawab, "Kelak kalian akan mengetahui.” Setelah Nuh selesai dari
pembuatan perahunya, maka memancarlah air sehingga membanjiri jalan-jalan dan
kawasan kota. Maka ibu si bayi itu takut akan keselamatan anaknya yang sangat
dicintainya. Lalu ia keluar menaiki sebuah gunung hingga mencapai ketinggian
sepertiganya. Ketika air mencapainya, maka ia naik lagi ke atas gunung itu
hingga mencapai dua pertiga ketinggiannya. Dan ketika air bah mencapainya, maka
ia naik ke atas puncak gunung itu. Dan ketika air mencapai lehernya, maka ia
mengangkat bayinya dengan kedua tangannya, tetapi akhirnya keduanya tenggelam.
Seandainya Allah mengasihani seseorang dari mereka, niscaya Dia mengasihani ibu
si bayi itu.Hadis ini garib bila ditinjau dari jalur ini. Kisah bayi dan ibunya ini telah diriwayatkan dari Ka'b Al-Ahbar, Mujahid ibnu Jubair dengan alur kisah yang semisal.
{وَنَادَى
نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ
وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ (45) قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ
أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ
عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (46) قَالَ رَبِّ إِنِّي
أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلا تَغْفِرْ لِي
وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (47) }
Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata,
"Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji
Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang
seadil-adilnya.” Allah berfirman, "Hai
Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan
diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik
Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui
(hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu
jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” Nuh berkata, "Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau
sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya) Dan sekiranya Engkau tidak
memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku,
niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.”Sebuah permintaan yang penuh dengan rasa berserah diri dan kejujuran dari Nuh a.s. tentang keadaan anaknya yang ditenggelamkan:
{فَقَالَ
رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي}
Nuh berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku."
(Hud: 45)Maksudnya, sedangkan Engkau telah menjanjikan kepadaku keselamatan seluruh keluargaku, dan janji-Mu adalah benar, tidak akan diingkari; maka mengapa Engkau menenggelamkannya. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.
{قَالَ
يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ}
Allah berfirman, "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk
keluargamu." (Hud: 46)yang telah Aku janjikan keselamatan mereka, karena sesungguhnya Aku hanya menjanjikan kepadamu keselamatan orang-orang yang beriman saja dari kalangan keluargamu. Karena itulah dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:
{وَأَهْلَكَ
إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ}
dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu
ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. (Hud: 40 ;
Al-Mu’minun: 27)Putra Nabi Nuh itu termasuk di antara mereka yang telah ditakdirkan harus ditenggelamkan karena kekafirannya dan menentang perintah ayahnya sebagai Nabi Allah. Banyak dari kalangan para imam yang me-nas-kan kekeliruan orang yang berpendapat bahwa anak yang ditenggelamkan tersebut bukanlah putranya, dalam tafsir ayat ini. Dan ia mengatakan bahwa anak tersebut adalah anak zina. Dan menurut pendapat yang lainnya lagi, anak yang ditenggelamkan tersebut adalah anak istri Nabi Nuh, yaitu anak tirinya. Demikianlah menurut riwayat yang bersumberkan dari Mujahid, Al-Hasan, Ubaid ibnu Umair, Abu Ja'far Al-Baqir, dan Ibnu Juraij. Sebagian dari mereka berdalilkan kepada firman Allah Swt. yang mengatakan:
{إِنَّهُ
عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ}
sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik.
(Hud: 46)
{فَخَانَتَاهمُا}
lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. (At-Tahrim:
10)Di antara orang yang mengatakan pendapat tersebut adalah Al-Hasan Al-Basri yang berdalilkan kepada kedua ayat di atas. Sebagian dari mereka mengatakan anak istrinya, yakni anak tiri Nuh a.s. Pendapat ini dapat diartikan sependapat dengan apa yang dimaksudkan oleh Al-Hasan; atau dia bermaksud bahwa anak tersebut dinisbatkan kepada Nuh a.s. secara majaz, karena anak tersebut dipelihara di rumah Nuh a.s.
Ibnu Abbas dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf mengatakan bahwa tidak ada seorang istri nabi yang berbuat zina. Mengenai firman-Nya yang mengatakan:
{إِنَّهُ
لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ}
sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu. (Hud: 46)yang telah Aku janjikan kepadamu keselamatan mereka.
Pendapat Ibnu Abbas dalam tafsir ayat ini adalah benar, dan tidak ada jalan untuk menghindar darinya. Karena sesungguhnya Allah Swt. sangat pencemburu dan tidak akan mungkin Dia biarkan ada seorang istri nabi yang berbuat zina. Karena itulah Allah Swt. sangat murka terhadap orang-orang yang menuduh hal yang tidak senonoh terhadap Ummul Mu’minin Siti Aisyah putri Abu Bakar As-Siddiq, istri Nabi Saw. Dan Dia mengingkari orang-orang mukmin yang mempergunjingkan hal ini serta menyiarkannya. Untuk itulah disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
{إِنَّ
الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ
هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي
تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ}
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari
golongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi
kalian, tetapi hal itu mengandung kebaikan bagi kalian. Tiap-tiap seseorang dari
mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara
mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu,
baginya azab yang besar. (An-Nur: 11)sampai dengan firman-Nya:
{إِذْ
تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ
بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ
عَظِيمٌ}
(Ingatlah) di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut
dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit
juga, dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi
Allah adalah besar. (An-Nur: 15)Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah dan lain-lainnya, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa anak itu memang anaknya, hanya dia bertentangan dengan ayahnya dalam hal amal dan niat (akidah).
Dalam sebagian qiraatnya Ikrimah mengatakan bahwa sesungguhnya anak itu telah melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, dan perbuatan khianat (seperti yang disebutkan di atas) bukanlah pada tempatnya. Telah disebutkan pula di dalam hadis bahwa Rasulullah Saw. membacanya dengan bacaan tersebut.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ
سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ شَهْر بْنِ حَوْشَب، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ
قَالَتْ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ:
"إِنَّهُ عَمِلَ غَيْرَ صَالِح"، وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : {يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ
أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ
يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا} وَلَا يُبَالِي {إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ
الرَّحِيمُ}
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah
menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Syahr ibnu
Hausyab, dari Asma binti Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar
Rasulullah Saw. membacakan ayat ini dengan bacaan berikut: Sesungguhnya
perbuatannya perbuatan yang tidak baik. (Hud: 46) Ia pernah pula mendengar
Nabi Saw. membacakan firman-Nya: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas
terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. (Az-Zumar: 53) Yakni tanpa
mempedulikannya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Az-Zumar: 53)
قَالَ
أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا هَارُونُ النَّحْوِيُّ، عَنْ
ثَابِتٍ البُنَاني، عَنْ شَهْر بْنِ حَوْشَب، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ قَرَأَهَا: "إِنَّهُ عَمِل غَيْرَ صَالِح"
Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Waki', telah
menceritakan kepada kami Harun An-Nahwi, dari Sabit Al-Bannani, dari Syahr ibnu
Hausyab, dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah Saw. membacanya dengan bacaan
berikut: Sesungguhnya perbuatannya perbuatan yang tidak baik. (Hud:
46)Imam Ahmad mengulangi pula riwayat ini dalam kitab Musnad-nya. Ummu Salamah adalah Ummul Mu’minin, tetapi menurut makna lahiriahnya —hanya Allah yang lebih mengetahui— dia adalah Asma binti Yazid, karena Asma binti Yazid pun dijuluki dengan nama panggilan itu (yakni Ummu Salamah).
Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, dari Ibnu Uyaynah, dari Musa ibnu Abu Aisyah, dari Sulaiman ibnu Qubbah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas ketika berada di sisi Ka'bah ditanya mengenai firman Allah Swt.: lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. (At-Tahrim: 10) Maka Ibnu Abbas menjawab, "Ingatlah, sesungguhnya bukan karena zina, melainkan si istri tersebut menceritakan kepada orang-orang bahwa suaminya gila." Dan hal ini tentu saja menunjukkan kepada pengertian perbuatan khianat. Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: sesungguhnya perbuatannya perbuatan yang tidak baik. (Hud: 46)
Ibnu Uyaynah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ammar Az-Zahabi, bahwa ia pernah bertanya kepada Sa'id ibnu Jubair mengenai hal tersebut. Maka Sa'id ibnu Jubair menjawab bahwa dia memang anak Nabi Nuh, Allah tidak pernah berdusta.
Allah Swt. telah berfirman:
{وَنَادَى
نُوحٌ ابْنَهُ}
Dan Nuh berseru memanggil anaknya. (Hud: 42)Sebagian ulama mengatakan bahwa tiada seorang istri nabi yang berbuat fasik. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Ad-Dahhak, Maimun ibnu Mahran, dan Sabit ibnul Hajjaj. Pendapat inilah yang dipilih oleh Abu Ja'far ibnu Jarir, dan pendapat inilah yang benar, tidak diragukan lagi.
{قِيلَ
يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ
مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (48)
}
Difirmankan, "Hai Nuh, turunlah dengan selamat
sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat
(yang mukmin) dari orang-orang yang
bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam
kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari
Kami.”Allah Swt. menceritakan firman-Nya kepada Nuh a.s. ketika bahteranya telah berlabuh di atas Bukit Al-Judi, yaitu ucapan kesejahteraan yang ditujukan kepadanya, kepada orang-orang mukmin yang bersamanya, dan kepada seluruh orang mukmin dari kalangan keturunannya sampai hari kiamat. Seperti yang dikatakan oleh Muhammad ibnu Ka'b, bahwa termasuk ke dalam ucapan sejahtera (salam) ini setiap orang mukmin —baik laki-laki maupun perempuan— sampai hari kiamat nanti. Demikian pula mengenai azab dan kesenangan sementara, ditujukan kepada setiap orang kafir laki-laki dan perempuan sampai hari kiamat nanti.
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa ketika Allah bermaksud menghentikan banjir besar, Dia mengirimkan angin ke atas permukaan bumi. Maka air pun berhenti, dan semua sumber air di bumi yang berlimpah lagi besar tertutup, begitu pula semua pintu langit (yakni hujannya).
Allah Swt. berfirman:
وَقِيلَ
يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ
Dan difirmankan, "Hai bumi, telanlah airmu.” (Hud: 44), hingga akhir
ayat.Maka air pun mulai berkurang dan menyurut serta mengering.
Menurut dugaan Ahli Kitab Taurat, berlabuhnya bahtera Nabi Nuh di atas Bukit Al-Judi adalah pada bulan tujuh tanggal tujuh belasnya. Dan pada permulaan bulan kesepuluh Nuh a.s. melihat puncak-puncak bukit. Setelah berlalu empat puluh hari, Nuh membuka pintu bahteranya, lalu ia mengirimkan burung gagak untuk melihat keadaan air, tetapi burung gagak tidak kembali lagi. Lalu Nuh mengirimkan burung merpati, dan burung merpati itu kembali lagi kepadanya karena tidak menemukan daratan untuk tempat hinggapnya. Maka Nabi Nuh mengulurkan tangannya kepada merpati itu dan menangkapnya, lalu memasukkannya kembali kedalam bahtera.
Kemudian berlalulah tujuh hari, dan Nuh kembali mengirimkan burung merpati untuk melihat keadaan daratan. Merpati itu kembali kepadanya pada sore harinya, sedangkan di paruhnya terdapat daun pohon zaitun. Maka Nuh mengetahui bahwa air telah menyurut dari permukaan bumi
Nuh tinggal selama tujuh hari lagi, kemudian ia kembali mengirimkan burung merpati itu, dan ternyata burung merpati itu tidak kembali, maka Nuh mengetahui bahwa daratan telah muncul. Setelah genap satu tahun sejak Allah mengirimkan banjir besar hingga Nuh mengirimkan burung merpati dan pada tanggal satu bulan pertama dari tahun berikutnya daratan telah tampak, maka Nuh membuka penutup bahteranya. Dan pada bulan yang kedua dari tahun berikutnya, yaitu pada tanggal dua puluh enamnya:
قِيلَ
يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلامٍ مِنَّا
Difirmankan, "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera.” (Hud: 48),
hingga akhir ayat.
{تِلْكَ
مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلا
قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ (49)
}
Itu adalah di antara berita-berita penting
tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak
(pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang
baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.Allah Swt. berfirman kepada Nabi-Nya, bahwa kisah ini dan yang serupa dengannya:
{مِنْ
أَنْبَاءِ الْغَيْبِ}
di antara berita-berita penting tentang yang gaib. (Hud: 49)Yakni termasuk di antara berita-berita yang gaib di masa lalu, Kami wahyukan kepadamu dengan apa adanya seakan-akan kamu menyaksikannya sendiri:
{نُوحِيهَا
إِلَيْكَ}
Kami wahyukan kepadamu. (Hud: 49)Maksudnya, Kami ajarkan kepadamu tentangnya sebagai wahyu yang Kami turunkan kepadamu:
{مَا
كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا}
tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum
ini. (Hud: 49)Yakni tidaklah kamu —-tidak pula seseorang pun dari kaummu— mengetahui kisah ini sebelumnya, sehingga berkatalah orang-orang yang mendustakanmu, bahwa sesungguhnya kamu telah mempelajarinya dari seseorang. Tidak, bahkan Allah-Iah yang memberitahukannya kepadamu sesuai dengan kejadian yang sebenarnya, seperti juga yang dikisahkan oleh kitab-kitab para nabi sebelum kamu.
Maka bersabarlah terhadap pendustaan orang-orang yang mendustakanmu dari kalangan kaummu, juga bersabarlah dalam menghadapi gangguan mereka yang menyakitkan terhadap dirimu. Karena sesungguhnya Kami pasti akan memenangkan kamu dan meliputi kamu dengan perhatian Kami, dan Kami jadikan akibat yang terpuji bagimu dan bagi para pengikutmu di dunia dan di akhirat. Perihalnya sama dengan apa yang telah Kami lakukan terhadap para utusan lainnya, Kami menolong mereka dari musuh-musuhnya, sebagaimana yang disebutkan oleh firman Allah Swt.:
إِنَّا
لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman.
(Al-Mu’min: 51), hingga akhir ayat.
وَلَقَدْ
سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ إِنَّهُمْ لَهُمُ
الْمَنْصُورُونَ
Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang
menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat
pertolongan. (Ash-Shaffat: 171-172)Adapun firman Allah Swt.:
{فَاصْبِرْ
إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ}
Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang
yang bertakwa. (Hud: 49)
{وَإِلَى
عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ
غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلا مُفْتَرُونَ (50) يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ
عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلا تَعْقِلُونَ
(51) وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ
السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا
تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (52) }
Dan kepada kaum ‘Ad
(Kami utus) saudara mereka Hud. Ia
berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagi kalian Tuhan
selain Dia. Kalian hanya mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta upah
kepada kalian bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang
telah menciptakanku. Maka tidakkah kalian memikirkan(nya)?” Dan (dia
berkata), "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhan kalian lalu bertobatlah
kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atas kalian, dan Dia
akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian, dan janganlah kalian berpaling
dengan berbuat dosa.”Allah Swt. telah berfirman, "Dan telah Kami utus,
{إِلَى
عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا}
kepada kaum 'Ad saudara mereka Hud. (Hud: 50)untuk memerintahkan mereka agar menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan melarang mereka menyembah berhala-berhala yang mereka ada-adakan dan mereka jadikan nama-namanya sebagai tuhan-tuhan sembahan mereka. Nabi Hud mengatakan pula kepada kaumnya bahwa dia tidak mengharapkan suatu upah pun dari mereka atas nasihat dan penyampaian risalah dari Allah ini, sesungguhnya yang ia harapkan hanyalah pahala Allah belaka yang telah menciptakannya.
{أَفَلا
تَعْقِلُونَ}
Maka tidakkah kalian memikirkan(nya)? (Hud: 51)Yakni memikirkan orang yang menyeru kepada kalian untuk kebaikan dunia dan akhirat kalian tanpa upah sedikit pun.
Kemudian Nabi Hud menganjurkan kaumnya untuk beristigfar, karena dengan istigfar itu dosa-dosa yang telah lalu dapat dihapuskan, dan hendaknyalah mereka bertobat dari dosa-dosa tersebut di masa mendatangnya. Barang siapa yang menyandang sifat ini, niscaya Allah akan memudahkan jalan rezekinya dan semua urusannya, dan Allah akan selalu memeliharanya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{يُرْسِلِ
السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا}
niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atas kalian. (Hud: 52;
Nuh: 11)Di dalam sebuah hadis disebutkan seperti berikut:
"مَنْ
لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مَنْ كُلِّ هَم فَرَجًا، وَمَنْ كُلِّ
ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ".
Barang siapa yang tetap melakukan istigfar, Allah menjadikan baginya
kemudahan dari setiap kesulitan dan dari setiap kesempitan jalan keluarnya,
serta Allah memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga-duganya.
{قَالُوا
يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ
قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ (53) إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ
بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي
بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (54) مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا
تُنْظِرُونِ (55) إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ
دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
(56) }
Kaum Ad berkata, "Hai Hud kamu tidak
mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan
meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali
tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian
sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Hud menjawab,
"Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian, bahwa
sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan dari
selain-Nya. Sebab itu, jalankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku dan
janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada
Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan
Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang
lurus.”Allah Swt. menceritakan bahwa mereka mengatakan kalimat berikut kepada nabi mereka:
{مَا
جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ}
kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata. (Hud:
53)Maksudnya, hujah dan bukti yang membenarkan apa yang kamu akui itu.
{وَمَا
نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ}
dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena
perkataanmu. (Hud: 53)Yakni hanya karena perkataanmu, "Tinggalkanlah sembahan-sembahan itu," lalu kami meninggalkan mereka:
{وَمَا
نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ}
dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu (Hud: 53) Artinya, kami tidak akan membenarkan dan tidak akan mempercayaimu.
{إِنْ
نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ}
Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah
menimpakan penyakit gila atas dirimu. (Hud: 54)Mereka mengatakan, "Tiadalah dugaan kami terhadapmu melainkan bahwa sebagian dari sembahan kami telah menimpakan penyakit saraf ke dalam otakmu karena kamu telah melarang kami menyembah mereka dan kamu mencela mereka."
{قَالَ
إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي
بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ مِنْ دُونِهِ}
Hud menjawab, "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah oleh
kalian, bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan
dari selain-Nya.” (Hud: 54-55)Hud mengatakan, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari semua tandingan dan berhala yang kalian ada-adakan itu."
{فَكِيدُونِي
جَمِيعًا}
Sebab itu, jalankanlah tipu daya kamu sekalian terhadapku. (Hud:
55)Yakni oleh kalian dan sembahan-sembahan kalian, jika memang kalian benar.
{ثُمَّ
لَا تُنْظِرُونِ}
Dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. (Hud: 55)barang sekejap mata pun.
*******************
Firman Allah Swt. yang mengatakan:
{إِنِّي
تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ
بِنَاصِيَتِهَا}
Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak
ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya.
(Hud: 56)Maksudnya, semuanya berada di bawah kekuasaan dan keperkasaan-Nya. Dialah Tuhan, Hakim yang seadil-adilnya dan tidak pernah lalim dalam keputusan-Nya; sesungguhnya Dia berada pada jalan yang lurus.
Al-Walid ibnu Muslim telah meriwayatkan dari Safwan ibnu Amr, dari Aifa' ibnu Abdul Kala'i sehubungan dengan firman-Nya: Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (Hud: 56) Aifa' mengatakan bahwa Allah memegang ubun-ubun semua hambaNya, lalu Dia mengajari orang mukmin, sehingga terasa bagi orang mukmin bahwa Dia lebih sayang ketimbang seorang ayah kepada anaknya. Lalu Aifa' membacakan firman-Nya:
{مَا
غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ}
apakah yang memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu
Yang Maha Pemurah. (Al-Infithar: 6)Dalam jawaban Nabi Hud ini terkandung hujah yang mematahkan dan dalil yang pasti yang menunjukkan kebenaran dari apa yang disampaikannya kepada mereka; juga menunjukkan kebatilan dari apa yang mereka kerjakan, yaitu penyembahan mereka kepada berhala-berhala. Padahal berhala-berhala itu tidak dapat memberikan manfaat, tidak pula dapat mendatangkan mudarat, bahkan berhala-berhala itu adalah benda-benda mati yang tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, tidak dapat melindungi, dan tidak dapat memusuhi. Sesungguhnya yang berhak disembah secara murni dan ikhlas hanyalah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Di tangan kekuasaan-Nyalah kerajaan, dan Dialah yang mengaturnya. Tidak ada sesuatu pun melainkan berada di bawah kepemilikan, pengaruh, dan kekuasaan-Nya; maka tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.
{فَإِنْ
تَوَلَّوْا فَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَيْكُمْ وَيَسْتَخْلِفُ
رَبِّي قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلا تَضُرُّونَهُ شَيْئًا إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ حَفِيظٌ (57) وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا هُودًا وَالَّذِينَ
آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَنَجَّيْنَاهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ (58)
وَتِلْكَ عَادٌ جَحَدُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْا رُسُلَهُ وَاتَّبَعُوا
أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ (59) وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً
وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلا إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ أَلا بُعْدًا لِعَادٍ
قَوْمِ هُودٍ (60) }
Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya aku
telah menyampaikan kepada kalian apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)«ya
kepada kalian. Dan Tuhanku akan mengganti (kalian) dengan kaum yang
lain (dari) kalian; dan kalian tidak dapat membuat mudarat kepada-Nya
sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. Dan
tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman
bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka
(di akhirat) dari azab yang berat. Dan itulah (kisah) kaum Ad yang
mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, mendurhakai rasul-rasul Allah,
dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang
(kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan
(begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir
kepada Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum
Hud itu.Nabi Hud berkata kepada kaumnya, "Jika kalian berpaling dari apa yang aku sampikan kepada kalian ini yang menganjurkan beribadah kepada Allah, Tuhan kalian semata—tiada sekutu bagi-Nya—dan hujah untuk itu telah ditegakkan atas kalian melalui penyampaianku kepada kalian akan risalah Allah yang telah mengutusku dengan membawanya.
{وَيَسْتَخْلِفُ
رَبِّي قَوْمًا غَيْرَكُمْ}
'Dan Tuhanku akan mengganti kalian dengan kaum yang lain dari
kalian.” (Hud: 57)Kaum yang menyembah-Nya semata, tidak mempersekutukan-Nya, dan tidak peduli terhadap kalian, karena sesungguhnya kalian tidak dapat menimpakan mudarat terhadap-Nya karena kekafiran kalian terhadapNya, bahkan kekafiran kalian itu akibatnya akan menimpa diri kalian sendiri."
{إِنَّ
رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ}
Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. (Hud:
57)Yakni Maha Menyaksikan dan Maha Memelihara semua ucapan dan perbuatan hamba-hamba-Nya, lalu kelak Dia akan membalaskannya kepada mereka. Jika baik, maka balasannya baik; dan jika buruk, maka balasannya buruk pula.
{وَلَمَّا
جَاءَ أَمْرُنَا}
Dan tatkala datang azab Kami. (Hud: 58)berupa angin yang sangat dingin dan kencang, maka Allah membinasakan mereka sampai keakar-akarnya dan menyelamatkan Hud dan para pengikutnya dari azab yang keras berkat rahmat dan belas kasihan-Nya.
{وَتِلْكَ
عَادٌ جَحَدُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ}
Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan
Tuhan mereka. (Hud: 59)Mereka kafir kepada ayat-ayat Tuhannya dan durhaka kepada rasul-rasul Allah. Dikatakan demikian karena orang yang kafir terhadap seorang nabi, berarti sama saja dengan kafir kepada semua nabi, sebab pada hakikatnya tidak ada perbedaan di antara mereka, karena semuanya wajib diimani. Kaum ‘Ad kafir terhadap Nabi Hud, maka kekufuran mereka disamakan dengan kafir terhadap semua rasul.
{وَاتَّبَعُوا
أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ}
dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi
menentang (kebenaran). (Hud: 59)Mereka menolak mengikuti rasul mereka yang benar, dan mereka lebih memilih mengikuti perintah penguasa yang sewenang-wenang lagi pengingkar kebenaran. Karena itulah mereka selalu diikuti oleh laknat Allah dan hamba-hamba-Nya yang beriman di dunia ini setiap kali mereka disebut-sebut. Di hari kiamat kelak mereka akan dipanggil di hadapan para saksi:
أَلا
إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ
Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. (Hud:
60), hingga akhir ayat.As-Saddi mengatakan bahwa tidak sekali-kali ada seorang nabi yang diutus sesudah kaum 'Ad, melainkan mereka dilaknati melalui lisan nabi itu.
{وَإِلَى
ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ
إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ (61)
}
Dan kepada Samud (Kami utus) saudara mereka. Saleh. Saleh berkata, "Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagi kalian Tuhan selain Dia. Dia
telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian
pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya.
Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa
hamba-Nya)."Allah Swt. berfirman:
{إِلَى
ثَمُودَ}
Dan kepada Samud (Kami utus). (Hud: 61) Mereka adalah orang-orang yang bertempat tinggal di kota-kota Hajar yang terletak di antara Tabuk dan Madinah. Mereka hidup sesudah kaum 'Ad, lalu Allah mengutus seorang rasul kepada mereka yang juga dari kalangan mereka.
{أَخَاهُمْ
صَالِحًا}
saudara mereka Saleh. (Hud: 61)Lalu Nabi Saleh memerintahkah mereka agar menyembah Allah semata. Karena itu, Saleh a.s. berkata kepada mereka:
{هُوَ
أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ}
Dia telah menciptakan kalian dari tanah. (Hud: 6,1)Maksudnya, Dia memulai penciptaan kalian dari tanah; dari tanah Dia menciptakan nenek moyang kalian, yaitu Adam.
{وَاسْتَعْمَرَكُمْ
فِيهَا}
dan menjadikan kalian pemakmurnya. (Hud: 61)Yakni Dia menjadikan kalian sebagai para pembangun yang memakmurkan bumi dan yang menggarap pemanfaatannya.
فَاسْتَغْفِرُوهُ
Karena itu, mohonlah ampunan-Nya. (Hud: 61) atas dosa-dosa kalian yang telah lalu.
{ثُمَّ
تُوبُوا إِلَيْهِ}
kemudian bertobatlah kepada-Nya. (Hud: 61)dalam menjalani masa depan kalian, yakni janganlah kalian ulangi lagi dosa-dosa itu di masa mendatang.
{إِنَّ
رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ}
Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan
(doa hamba-Nya). (Hud: 61)Makna ayat tersebut sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain, yaitu:
{وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا
دَعَانِ} الآية
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang
yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku. (Al-Baqarah: 186), hingga akhir
ayat.
{قَالُوا
يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ
نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا
إِلَيْهِ مُرِيبٍ (62) قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ
مِنْ رَبِّي وَآتَانِي مِنْهُ رَحْمَةً فَمَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ
عَصَيْتُهُ فَمَا تَزِيدُونَنِي غَيْرَ تَخْسِيرٍ (63) }
Kaum Samud berkata, "Hai Saleh, sesungguhnya
kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu
melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan
sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama
yang kamu serukan kepada kami." Saleh berkata, "Hai kaumku, bagaimana pikiran
kalian jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku
rahmat dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu, kalian
tidak menambah apa pun kepadaku selain dari kerugian.”Allah Swt. menceritakan pembicaraan antara Nabi Saleh a.s. dan kaumnya, serta keadaan kaumnya yang bodoh lagi pengingkar karena mereka mengatakan:
{قَدْ
كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا}
sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami
harapkan. (Hud: 62)Kami mengharapkan pendapatmu sebelum kamu mengatakan apa yang telah kamu katakan itu.
{أَتَنْهَانَا
أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا}
apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh
bapak-bapak kami? (Hud: 62)dan tradisi yang biasa dilakukan oleh para pendahulu kami.
{وَإِنَّنَا
لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ}
dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan
terhadap agama yang kamu serukan kepada kami. (Hud: 62)Yakni sangat meragukan seruanmu itu.
{قَالَ
يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي}
Saleh berkata, "Hai kaumku, bagaimana pikiran kalian jika aku mempunyai
bukti yang nyata dari Tuhanku. (Hud: 63)Maksudnya, bukti yang meyakinkan dan tanda yang pasti yang membenarkan apa yang aku sampaikan kepada kalian ini.
{وَآتَانِي
مِنْهُ رَحْمَةً فَمَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ عَصَيْتُهُ}
dan diberi-Nya aku rahmat dari-Nyat maka siapakah yang akan
menolongku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. (Hud: 63)dan aku tinggalkan seruanku kepada kalian yang mengajak kepada kebenaran dan menyembah Allah semata. Sekiranya aku meninggalkan hal tersebut, pastilah kalian tidak dapat memberikan manfaat apa pun kepadaku dan tidak dapat memberikan tambahan kepadaku.
{غَيْرَ
تَخْسِيرٍ}
selain dari kerugian. (Hud: 63) Yakni kerugian yang nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar