تَفْسِيرُ
سُورَةِ هُودٍ
Makkiyyah, 123 Ayat. Kecuali ayat
12, 17 Dan 114 Madaniyyah. Turun sesudah Surat Yunus
قَالَ
الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ هِشَامٍ الْبَزَّارُ، حَدَّثَنَا
أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ عِكْرِمة قَالَ: قَالَ أَبُو
بَكْرٍ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا شَيّبك؟
قَالَ: " شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا
الشَّمْسُ كُوِّرَتْ "
Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu
Hisyam Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Abu Ishaq,
dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Abu Bakar r.a. pernah mengatakan bahwa ia
pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang ubannya (yakni kesusahannya).
Maka Rasulullah Saw. menjawab: Aku dibuat beruban (susah) oleh surat
Hud, surat Al-Waqi'ah, surat An-Naba, dan surat At-Takwir.
قَالَ
أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْب مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ،
حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ، عَنْ شَيْبَانَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ
عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
قَدْ شِبْتَ؟ قَالَ: " شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْمُرْسَلَاتُ،
وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ "وَفِي رِوَايَةٍ: " هُودٌ
وَأَخَوَاتُهَا ".
Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib
Muhammad ibnul Ala, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah ibnu Hisyam, dari
Syaiban, dari Abu Ishaq, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Abu
Bakar pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah beruban."
Maka Rasulullah Saw. menjawab: Aku dibuat beruban oleh surat Hud, surat
Waqi'ah, surat Mursalat, surat An-Naba, dan surat At-Takwir. Menurut riwayat
lain disebutkan, "Oleh surat Hud dan saudara-saudaranya."
قَالَ
الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بْنُ أَحْمَدَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ
الْحَسَنِ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سَلَّامٍ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ،
عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا: الْوَاقِعَةُ،
وَالْحَاقَّةُ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ " وَفِي رِوَايَةٍ: " هُودٌ
وَأَخَوَاتُهَا "
Imam Tabrani mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdan ibnu Ahmad
telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnul Hasan, telah menceritakan kepada
kami Sa'id ibnu Salam, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Muhammad, dari
Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sa'd yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda: Aku telah dijadikan beruban oleh surat Hud dan saudara-saudaranya,
yaitu Al-Waqi'ah, Al-Haqqah, dan Izasy Syamsu Kuwwirat (At-Takwir). Menurut
riwayat lain hanya disebutkan surat Hud dan saudara-saudaranya. Imam Tabrani telah meriwayatkannya pula melalui hadis Ibnu Mas'ud dengan lafaz yang semisal. Untuk itu, Al-Hafiz Abul Qasim Sulaiman ibnu Ahmad At-Tabrani mengatakan di dalam kitab Mu’jamul Kabir-nya bahwa:
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ طَارِقٍ
الرَّائِشِيُّ ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ ثَابِتٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ؛ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ قَالَ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا شَيَّبَكَ؟ قَالَ: " هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ
"
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Usman ibnu Abu Syaibah, telah
menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Tariq Ar-Rabisyi, telah menceritakan kepada
kami Amr ibnu Sabit, dari Abu Ishaq, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a., bahwa Abu
Bakar pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa Engkau beruban?" Maka
Rasulullah Saw. bersabda: (Karena) surat Hud dan surat Al- Waqi'ah.Amr ibnu Sabit, hadisnya tidak dapat dipakai; dan Abu Ishaq tidak menjumpai masa Ibnu Mas'ud.
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.
{الر
كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ (1) أَلا
تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ (2) وَأَنِ
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا
إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا
فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ (3) إِلَى اللَّهِ
مَرْجِعُكُمْ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (4) }
Alif Lam Ra, (inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan
rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah)
Yang Mahabijaksana lagi Mahatahu, agar kalian tidak menyembah selain Allah.
Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar
gembira kepada kalian dari-Nya; dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan
kalian, dan bertobatlah kepada-Nya. (Jika kalian mengerjakan yang demikian),
niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepada
kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada
tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika
kalian berpaling, maka sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa siksa di hari
kiamat. Kepada Allah-lah kembali kalian, dan Dia Mahakuasa atas segala
sesuatu.Dalam permulaan surat Al-Baqarah telah disebutkan perihal huruf-huruf Hijaiyah yang ada pada permulaan surat-surat Al-Qur'an, yaitu dengan keterangan yang tidak perlu untuk diulangi lagi dalam bab ini, dan hanya kepada Allah-lah kami memohon taufik.
Firman Allah Swt.:
{أُحْكِمَتْ
آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ}
yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi. (Hud: 1)Lafaznya tersusun rapi, sedangkan maknanya terinci. Dengan demikian, Al-Quran menjadi sempurna ditinjau dari segi bentuk dan maknanya.
Demikianlah menurut makna yang diriwayatkan oleh Mujahid dan Qatadah serta dipilih oleh Ibnu Jarir.
Firman Allah Swt.:
{مِنْ
لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ}
dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Mahatahu. (Hud:
1)Yakni yang diturunkan dari sisi Allah Yang Mahabijaksana dalam semua ucapan dan hukum-Nya, lagi Mahawaspada mengenai akibat segala urusan.
{أَلا
تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ}
agar kalian tidak menyembah selain Allah. (Hud: 2)Artinya, Al-Qur'an yang muhkam dan mufassal ini diturunkan agar hanya Allah sematalah yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Ayat ini pengertiannya sama dengan ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya:
{وَمَا
أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ
إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ}
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami
wahyukan kepadanya, "Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah
oleh kamu sekalian akan Aku." (Al-Anbiya: 25)
{وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ}
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Tagut.”
(An-Nahl: 36)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{إِنَّنِي
لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ}
Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira
kepada kalian dari-Nya. (Hud: 2)Maksudnya, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian dari azab Allah jika kalian menentang-Nya, dan sebagai pembawa berita gembira dengan pahala yang berlimpah jika kalian taat kepada-Nya.
Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw. menaiki Bukit Safa, lalu memanggil semua puak kabilah Quraisy yang terdekat, kemudian yang masih ada hubungan famili dengannya, hingga mereka berkumpul, lalu Rasulullah Saw. bersabda:
يَا
مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا تُصَبِّحُكُمْ
، أَلَسْتُمْ مُصَدِّقِيَ؟ " فَقَالُوا: مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ كَذِبًا. قَالَ:
"فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٌ شَدِيدٌ"
Hai orang-orang Quraisy, bagaimanakah penilaian kalian jika aku beritakan
kepada kalian bahwa pasukan berkuda akan menyerang kalian di waktu pagi. Apakah
kalian akan percaya kepadaku? Mereka menjawab, "Kami belum pernah melihat
engkau berbuat suatu kedustaan." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Maka
sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian di hadapan azab yang
keras.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَأَنِ
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا
إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ}
dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan kalian, dan bertobatlah
kepada-Nya. (Jika kalian mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan
memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepada kalian sampai kepada
waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang
mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. (Hud: 3)Artinya, aku perintahkan kalian untuk memohon ampun kepada Allah dari segala dosa dan bertobat darinya kepada Allah Swt. di masa mendatang, dan hendaklah kalian terus-menerus dalam keadaan seperti itu.
{يُمَتِّعْكُمْ
مَتَاعًا حَسَنًا}
niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada kalian. (Hud:
3)Yakni di dunia ini.
{إِلَى
أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ}
sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada
tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.
(Hud: 3)Yaitu di akhirat nanti. Demikianlah menurut penafsiran Qatadah, perihalnya sama dengan makna ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya:
{مَنْ
عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ
حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ}
Barang siapa yang mengerjakan amal saleh—baik laki-laki maupun perempuan—
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan
yang baik. (An-Nahl: 97), hingga akhir ayat.Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada Sa'd:
"وَإِنَّكَ
لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ، إِلَّا أجِرْت بِهَا،
حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ"
Dan sesungguhnya engkau, tidak sekali-kali mengeluarkan suatu nafkah
dengan mengharapkan rida dan pahala Allah, melainkan engkau akan mendapat pahala
balasannya, hingga makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Al-Musayyab ibnu Syarik, dari Abu Bakar, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Mas'ud r.a. sehubungan dengan firman-Nya: dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. (Hud: 3) Bahwa barang siapa yang melakukan suatu keburukan, maka dicatatkan atasnya satu keburukan; dan barang siapa yang mengerjakan suatu amal kebaikan, maka dicatatkan untuknya sepuluh pahala kebaikan. Jika ia disiksa karena perbuatan buruk yang pernah dilakukannya di dunia, maka tersisalah baginya sepuluh pahala kebaikan (di akhirat). Jika ia tidak disiksa di dunia karena suatu amal keburukannya itu, maka akan diambil satu pahala kebaikan dari sepuluh pahala kebaikannya, sehingga yang tersisa baginya ada sembilan pahala kebaikan. Kemudian Ibnu Mas'ud mengatakan, "Binasalah orang yang satuannya mengalahkan puluhannya," Yakni keburukannya menghabiskan pahala kebaikannya yang sepuluh kali lipat itu.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَإِنْ
تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ}
Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa
siksa hari kiamat. (Hud: 3)Di dalam makna ayat ini terkandung ancaman yang keras bagi orang yang berpaling dari perintah-perintah Allah Swt. dan mendustakan rasul-rasul-Nya, karena sesungguhnya azab Allah pasti akan mengenainya di hari kiamat kelak tanpa terelakkan lagi.
{إِلَى
اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ}
Kepada Allah-lah kembali kalian. (Hud: 4)Artinya, kalian akan dikembalikan hanya kepada Allah di hari kiamat kelak.
{وَهُوَ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}
dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Hud: 4)Yakni Dia Mahakuasa terhadap apa yang dikehendaki-Nya, seperti berbuat baik kepada kekasih-kekasih-Nya dan menyiksa musuh-musuhNya; juga Mahakuasa untuk menghidupkan semua makhluk di hari kiamat kelak. Di dalam ayat ini terkandung pengertian tarhib (peringatan), sebagai kebalikan dari bagian pertamanya yang mengandung targib (anjuran).
{أَلا
إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورُهُمْ لِيَسْتَخْفُوا مِنْهُ أَلا حِينَ يَسْتَغْشُونَ
ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ
الصُّدُورِ (5) }
Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk
menyembunyikan diri darinya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka
menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan
dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi
hati.Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka tidak suka bila menghadapkan kemaluan mereka ke arah langit di saat mereka melakukan senggama (jimak). Lalu Allah Swt. menurunkan ayat ini.
Imam Bukhari meriwayatkan melalui jalur Ibnu Juraij, dari Muhammad ibnu Abbad ibnu Ja'far, bahwa Ibnu Abbas membaca firman-Nya: Ingatlah, sesungguhnya mereka memalingkan dada mereka. (Hud: 5), hingga akhir ayat. Lalu aku bertanya, "Hai Ibnu Abbas, apakah yang dimaksud dengan memalingkan dada mereka?" Ibnu Abbas menjawab, "Lelaki yang sedang menyetubuhi istrinya, lalu ia merasa malu; atau dia sedang membuang hajatnya, lalu merasa malu," maka turunlah firman-Nya: Ingatlah, sesungguhnya mereka memalingkan dadanya. (Hud: 5)
Menurut lafaz yang lain, Ibnu Abbas mengatakan bahwa dahulu ada orang-orang yang merasa malu bila membuang hajatnya karena akan kelihatan dari langit, begitu pula bila mereka menyetubuhi istri-istri mereka dengan menghadap ke arah langit. Maka turunlah ayat ini berkenaan dengan mereka.
Kemudian Imam Bukhari mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amr, bahwa Ibnu Abbas membaca firman-Nya: Ingatlah, sesungguhnya mereka memalingkan dadanya untuk menyembunyikan diri darinya. Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain. (Hud: 5)
Imam Bukhari dan lain-lainnya meriwayatkan melalui Ibnu Abbas, bahwa makna firman-Nya, "Yastagsyuna," ialah 'menutupi kepala mereka dengan kainnya'.
Menurut riwayat lain, dalam tafsir ayat ini disebutkan bahwa Ibnu Abbas mengartikannya dengan pengertian ragu kepada Allah dan mengerjakan keburukan-keburukan. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Al-Hasan, dan lain-lainnya. Dengan kata lain, mereka memalingkan dadanya di kala mengucapkan sesuatu atau mengerjakan sesuatu, dengan dugaan bahwa dengan berbuat demikian mereka dapat menyembunyikan dirinya dari Allah Swt. Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa di waktu mereka menutupi dirinya dengan kain saat mereka tidur di malam hari: Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (Hud: 5) Yakni perkataan yang mereka sembunyikan. dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (Hud: 5) Maksudnya, Allah mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati mereka, yakni semua niat buruk dan rahasia mereka.
Alangkah baiknya apa yang dikatakan oleh Zuhair ibnu Abu Salma dalam Mu'allaqah-nya yang terkenal itu, yaitu:
فَلا
تَكْتُمُنَّ اللَّهَ مَا فِي نُفُوسِكُمْ ...
لِيُخْفَى، فَمَهْمَا يُكتم اللَّهُ يَعْلم ...
يُؤخَر
فيوضَع فِي كِتَابٍ فَيُدخَر ...
لِيَوْمِ حِسَابٍ، أَوْ يُعَجل فَيُنْقمِ
Jangan sekali-kali kalian
menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hati kalian dari Allah, dengan maksud
agar Allah tidak mengetahuinya. Betapapun kamu sembunyikan dari Allah, Dia Maha
Mengetahui. Dia menangguhkan, lalu mencatatnya di dalam kitab catatan
(amal) untuk
disimpan buat (dibeberkan nanti) pada hari perhitungan, atau Dia
menyegerakan pembalasan-Nya (di dunia).
Penyair Jahiliah ini telah mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Pencipta,
memiliki pengetahuan tentang segala yang terinci, juga tentang hari kembali
(hari kiamat), hari pembalasan, dan catatan amal perbuatan di dalam kitab-kitab
catatan amal yang akan dibeberkan di hari kiamat nanti.Abdullah ibnu Syaddad mengatakan, "Apabila salah seorang dari mereka bersua dengan Rasulullah Saw., maka ia memalingkan dadanya dan menutupi kepalanya (agar tersembunyi) dari Nabi Saw. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya berkenaan dengan hal tersebut."
Akan tetapi, bila damir dikembalikan kepada Allah (bukan kepada Nabi Saw.) adalah lebih utama, karena firman selanjutnya mengatakan:
{أَلا
حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا
يُعْلِنُونَ}
Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah
mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan. (Hud:
5)Ibnu Abbas membaca ayat ini dengan bacaan berikut:
أَلا
إِنِّهُمْ تَثْنوني صُدُورُهُم"
Ingatlah, sesungguhnya mereka memalingkan dadanya. (Hud: 5)Lafaz sudurahum dibaca rafa' hingga menjadi suduruhum, yakni tasnuna suduruhum, karena dianggap menjadi fa'il; bacaan ini dekat dengan makna yang dimaksud.
**************************************
Akhir juz
11
**************************************
{وَمَا
مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا
وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (6) }
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi
melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam
binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata
(Lauh Mahfuz).Allah Swt menceritakan bahwa Dialah yang menjamin rezeki makhlukNya, termasuk semua hewan yang melata di bumi, baik yang kecil, yang besarnya, yang ada di daratan, maupun yang ada di lautan. Dia pun mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Dengan kata lain, Allah mengetahui sampai di mana perjalanannya di bumi dan ke manakah tempat kembalinya, yakni sarangnya; inilah yang dimaksud dengan tempat penyimpanannya.
Ali ibnu Abu Talhah dan lain-lainnya telah menceritakan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu. (Hud: 6) Yakni tempat berdiamnya binatang itu (sarangnya) dan tempat penyimpanannya. (Hud: 6) bila telah mati.
Diriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu. (Hud: 6) Maksudnya, di dalam rahim. dan tempat penyimpanannya. (Hud: 6) di dalam tulang sulbi, seperti yang terdapat pada surat Al-An'am.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ad-Dahhak, dan sejumlah ulama. Ibnu Abu Hatim telah menyebutkan pendapat-pendapat ulama tafsir dalam ayat ini, juga menyebutkan pendapat mereka tentang ayat dalam surat Al-An'am tersebut.
Makna yang dimaksud ialah bahwa semuanya itu telah tercatat di dalam suatu Kitab yang ada di sisi Allah yang menerangkan kesemuanya itu. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:
{وَمَا
مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلا أُمَمٌ
أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ
يُحْشَرُونَ}
Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang
terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kalian.
Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah
mereka dihimpunkan. (Al-An'am:38)
{وَعِنْدَهُ
مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي
ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ
مُبِينٍ}
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di
lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya
(pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak
sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata
(Lauh Mahfuz). (Al-An'am: 59)
{وَهُوَ
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ
عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَلَئِنْ قُلْتَ
إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا
إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ (7) وَلَئِنْ أَخَّرْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ إِلَى
أُمَّةٍ مَعْدُودَةٍ لَيَقُولُنَّ مَا يَحْبِسُهُ أَلا يَوْمَ يَأْتِيهِمْ لَيْسَ
مَصْرُوفًا عَنْهُمْ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (8)
}
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi
dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di
antara kalian yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada
penduduk Mekah), "Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan sesudah mati, "
niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata, "Ini tidak lain hanyalah sihir
yang nyata.” Dan sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada
suatu waktu yang ditentukan, niscaya mereka akan berkata, "Apakah yang
menghalanginya?” Ingatlah, di waktu azab itu datang kepada mereka tidaklah dapat
dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh azab yang dahulunya mereka
selalu memperolok-olokkannya.Allah Swt. menceritakan tentang kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, bahwa Dialah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (masa), dan bahwa 'Arasy-Nya sebelum itu berada di atas air.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ:
حَدَّثَنَا
أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ جَامِعِ بْنِ شَدَّاد، عَنْ
صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزْ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي
تَمِيمٍ". قَالُوا: قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا. قَالَ: "اقْبَلُوا الْبُشْرَى
يَا أَهْلَ الْيَمَنِ". قَالُوا: قَدْ قَبِلْنَا، فَأَخْبِرْنَا عَنْ أَوَّلِ هَذَا
الْأَمْرِ كَيْفَ كَانَ؟ قَالَ: "كَانَ اللَّهُ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ، وَكَانَ
عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَكَتَبَ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ ذِكْرَ كُلِّ
شَيْءٍ". قَالَ: فَأَتَانِي آتٍ فَقَالَ: يَا عِمْرَانُ، انْحَلَّتْ نَاقَتُكَ مِنْ
عِقَالِهَا. قَالَ: فَخَرَجْتُ فِي إِثْرِهَا، فَلَا أَدْرِي مَا كَانَ
بَعْدِي
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah
menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Jami’ ibnu Syaddad, dari Safwan ibnu
Muharriz, dari Imran ibnu Husain yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda, "Terimalah kabar gembira, hai Bani Tamim!" Mereka berkata,
"Engkau telah menyampaikan berita gembira kepada kami, maka berilah kami." Nabi
Saw. bersabda, "Terimalah kabar gembira ini, hai penduduk negeri Yaman!"
Mereka menjawab, "Kami terima, maka ceritakanlah kepada kami tentang permulaan
dari kejadian ini. Bagaimanakah prosesnya?" Rasulullah Saw. bersabda: Allah
telah ada sebelum segala sesuatu terjadi, dan 'Arasy-Nya berada di atas air,
lalu Dia mencatat di dalam Lauh Mahfuz ketetapan segala sesuatu. Imran ibnu
Husain berkata, "Lalu aku kedatangan seseorang yang mengatakan kepadaku, 'Hai
Imran, unta kendaraanmu telah lepas dari tambatannYa’lalu aku pergi mengejarnya
sehingga aku tidak mengetahui hadis selanjutnya." Hadis ini diketengahkan di dalam dua kitab Sahih, yaitu Sahih Bukhari dan Sahih Muslim dengan teks yang cukup banyak, antara lain seperti berikut:
قَالُوا:
جِئْنَاكَ نَسْأَلُكَ عَنْ أَوَّلِ هَذَا الْأَمْرِ فَقَالَ: "كَانَ اللَّهُ وَلَمْ
يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ -وَفِي رِوَايَةٍ: غَيْرُهُ -وَفِي رِوَايَةٍ: مَعَهُ
-وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ، ثُمَّ
خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ".
Bahwa mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, kami datang kepadamu untuk
menanyakan tentang kisah kejadian ini pada awalnya." Maka Rasulullah Saw.
bersabda: Allah telah ada, dan tiada sesuatu pun sebelum-Nya —menurut
riwayat lain disebutkan tiada sesuatu pun selain-Nya, dan menurut
riwayat yang lainnya lagi disebutkan tiada sesuatu pun bersamaNya—
dan 'Arasy-Nya berada di atas air, lalu Allah menulis segala sesuatu di Lauh
Mahfuz kemudian menciptakan langit dan bumi.Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِنَّ
اللَّهَ قَدَّرَ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ
وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى
الْمَاءِ"
Sesungguhnya Allah telah menetapkan takdir-takdir semua makhluk sebelum
Dia menciptakan langit dan bumi dalam jarak masa lima puluh ribu tahun, dan saat
itu 'Arasy-Nya berada di atas air.Sehubungan dengan tafsir ayat ini Imam Bukhari mengatakan bahwa:
حَدَّثَنَا
أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ
الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أنفِق
أُنفقْ
عَلَيْكَ".
وَقَالَ: "يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لَا يَغيضها نَفَقَةٌ، سحَّاءَ الليلَ
وَالنَّهَارَ" وَقَالَ "أَفَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ
وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغض مَا فِي يَدِهِ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى
الْمَاءِ، وَبِيَدِهِ الْمِيزَانُ يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ"
telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami
Syu'aib, telah menceritakan kepada kami Abuz Zanad, dari Al-A'raj, dari Abu
Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Allah
Swt. berfirman, "Berinfaklah, niscaya Aku memberikan gantinya kepadamu!"
Rasulullah Saw. bersabda pula: Tangan (kemurahan) Allah selalu
penuh, tiada suatu nafkah pun yang dapat menguranginya; Dia selalu memberi
sepanjang malam dan siang hari. Bukankah kalian lihat apa yang telah
dinafkahkan-Nya sejak Dia menciptakan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang ada
di tangan kanan (kemurahan)-Nya tidaklah berkurang (karenanya).
Dan adalah 'Arasy-Nya berada di atas air, dan di tangan-Nya terletak
mizan (neraca), Dia merendahkan dan meninggikannya.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ
سَلَمَةَ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاء، عَنْ وَكِيع بْنِ عُدُس، عَنْ عَمِّهِ أَبِي
رَزِين -وَاسْمُهُ لَقِيط بْنُ عَامِرِ بْنِ الْمُنْتَفِقِ العُقَيْلي -قَالَ:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ
خَلْقَهُ؟ قَالَ: "كَانَ فِي عَمَاء، مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ،
ثُمَّ خَلَقَ الْعَرْشَ بَعْدَ ذَلِكَ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah
menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ya'la ibnu Ata, dari Waki'
ibnu Adas, dari pamannya (yaitu Abu Razin yang nama aslinya Laqit ibnu Amir
ibnul Munfiq Al-Uqaili), bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Wahai
Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya?"
Rasulullah Saw. bersabda: Dia berada di awan yang di bawahnya tidak ada udara
dan di atasnya tidak ada udara (pula), kemudian sesudah itu Dia
menciptakan 'Arasy.Hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi di dalam kitab Tafsir-nya, juga oleh Ibnu Majah di dalam kitab Sunan-nya melalui hadis Yazid ibnu Harun dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan adalah 'Arasy-Nya (sebelum itu) di atas air. (Hud: 7) Yakni sebelum Dia menciptakan sesuatu.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Wahb ibnu Munabbih, Gamrah, Qatadah, Ibnu Jarir, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan adalah 'Arasy-Nya (sebelum itu) berada di atas air. (Hud: 7) Allah menceritakan kepada kalian bagaimana permulaan penciptaan makhluk-Nya sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.
Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Dan adalah 'Arasy-Nya (sebelum itu) berada di atas air. (Hud: 7) Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, Dia membagi air itu menjadi dua bagian; sebagian dijadikan di bawah 'Arasy, dan air itu adalah lautan yang meluap.
Ibnu Abbas mengatakan, singgasana itu disebut 'Arasy karena ketinggiannya.
Ismail ibnu Abu Khalid mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa'd At-Ta-i berkata, 'Arasy itu berupa yaqut merah."
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air. (Hud: 7) Keadaan 'Arasy-Nya adalah seperti yang digambarkan oleh Allah Swt. sendiri, karena saat itu tiada lain kecuali air yang di atasnya terdapat 'Arasy, dan di atas 'Arasy adalah Tuhan Yang memiliki keagungan dan kemuliaan, kekuasaan dan pengaruh, Yang Memiliki dan Yang Menguasai, Yang Maha Penyantun lagi Maha Mengetahui, Yang Memiliki Rahmat dan Nikmat, serta Yang Maha Memperbuat segala yang dikehendakiNya.
Al-A'masy telah meriwayatkan dari Al-Minhal ibnu Amr ibnu Sa'id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air. (Hud: 7) Bunyi pertanyaan adalah, "Air itu berada di atas apa?" Ibnu Abbas menjawab, "Berada di atas angin."
*******************
Firman Allah Swt.:
{لِيَبْلُوَكُمْ
أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا}
agar Dia menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.
(Hud: 7)Artinya, Dia menciptakan langit dan bumi agar bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya yang telah Dia ciptakan, agar mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan Allah tidak menciptakan hal tersebut dengan sia-sia, seperti yang disebutkan dalam ayat lainnya:
{وَمَا
خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ
كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ}
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka
celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Shad:
27)
{أَفَحَسِبْتُمْ
أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ فَتَعَالَى
اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ
الْكَرِيمِ}
Maka apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara main-main
(saja), dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka
Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan
(yang mempunyai) 'Arasy yang mulia. (Al-Mu’minun: 115-116)
{وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ}
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{لِيَبْلُوكُمْ
أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا}
agar Dia menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.
(Hud: 7)Maksudnya, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling banyak amalnya. Dalam ayat ini tidak disebutkan paling banyak amalnya, melainkan paling baik amalnya. Dan tiadalah amal itu baik kecuali jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah Swt. dan sesuai dengan syariat (tuntunan) Nabi Saw. Apabila sesuatu amal kehilangan salah satu dari kedua syarat tersebut, maka amal itu batil dan gugur (tidak ada pahalanya).
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَلَئِنْ
قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ}
dan jika kamu katakan (kepada penduduk Mekah), "Sesungguhnya kalian
akan dibangkitkan sesudah mati.” (Hud: 7), hingga akhir ayat.Allah Swt. berfirman bahwa jika engkau beritakan—hai Muhammad— kepada orang-orang musyrik itu bahwa Allah kelak akan menghidupkan kembali mereka sesudah mati, sebagaimana Dia memulai penciptaan mereka, padahal mereka mengetahui bahwa Allah Swt. adalah Yang menciptakan langit dan bumi, seperti yang disebutkan oleh firman lainnya:
{وَلَئِنْ
سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ}
Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan
mereka," niscaya mereka menjawab, "Allah." (Az-Zukhruf: 87)
{وَلَئِنْ
سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ
لَيَقُولُنَّ اللَّهُ}
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang
menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka
akan menjawab, "Allah" (Al-'Ankabut: 61)Sekalipun mengetahui hal tersebut, mereka ingkar kepada hari berbangkit dan hari kembali kelak di hari kiamat, padahal bila dinilai dari segi kemampuan jauh lebih mudah daripada memulai penciptaan, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
{وَهُوَ
الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ
عَلَيْهِ}
Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian
mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu
adalah lebih mudah. (Ar-Rum: 27)
{مَا
خَلْقُكُمْ وَلا بَعْثُكُمْ إِلا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ}
Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kalian (dari dalam kubur)
itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan mem bangkitkan) satu
jiwa saja. (Luqman: 28)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{إِنْ
هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ}
Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata. (Hud: 7)Yakni mereka berkata dengan nada kafir dan ingkar, "Kami tidak percaya kepadamu yang mengatakan terjadinya hari berbangkit, dan tiadalah yang menyebutkan hal tersebut kecuali orang yang telah engkau sihir, lalu ia mengikuti apa yang engkau katakan."
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَلَئِنْ
أَخَّرْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ إِلَى أُمَّةٍ مَعْدُودَةٍ لَيَقُولُنَّ مَا
يَحْبِسُهُ}
Dan sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada suatu
waktu yang ditentukan. (Hud: 8)Allah Swt. berfirman, "Seandainya Kami tangguhkan azab dan hukuman terhadap orang-orang musyrik itu sampai kepada suatu waktu yang ditentukan atau waktu yang telah dibatasi. Lalu Kami janjikan hal itu kepada mereka sampai kepada batas waktu yang telah ditetapkan, niscaya mereka akan mengatakan dengan nada mendustakan dan menantang ingin segera diturunkan azab itu. 'Apakah gerangan yang menyebabkan azab itu ditangguhkan dari kami?
Dikatakan demikian karena tabiat dan watak mereka telah terbiasa dengan dusta dan ragu, maka tiada kebiasaan mereka kecuali hanyalah berdusta dan meragukan; mereka tidak dapat melepaskan tabiatnya.
Lafaz ummah di dalam Al-Qur'an dan Sunnah digunakan untuk menunjukkan makna yang beraneka ragam. Adakalanya makna yang dimaksud ialah waktu, seperti dalam firman-Nya:
{إِلَى
أُمَّةٍ مَعْدُودَةٍ}
suatu waktu yang ditentukan. (Hud: 8) Juga dalam surat Yusuf, yaitu:
{وَقَالَ
الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ}
Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat
(kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya. (Yusuf: 45)Adakalanya menunjukkan makna "imam yang diikuti", seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:
{إِنَّ
إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ
الْمُشْرِكِينَ}
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan
lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk
orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (An-Nahl: 120)Adakalanya dipakai untuk menunjukkan makna tuntunan dan agama, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya yang menceritakan perkataan orang-orang musyrik, bahwa mereka telah mengatakan:
{إِنَّا
وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ
مُقْتَدُونَ}
Sesungguhnya kami menjumpai bapak-bapak kami menganut suatu agama dan
sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. (Az-Zukhruf: 23)Adakalanya pula dipakai untuk menunjukkan makna segolongan manusia, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
{وَلَمَّا
وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ
يَسْقُونَ}
Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana
sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya). (Al-Qashash: 23)
{وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ}
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Tagut itu”
(An-Nahl: 36)
{وَلِكُلِّ
أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَاءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ
لَا يُظْلَمُونَ}
Tiap-tiap umat mempunyai rasul maka apabila telah datang rasul mereka,
diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun)
tidak dianiaya. (Yunus: 47)Makna "umat" dalam ayat ini ialah orang-orang yang diutus di kalangan mereka seorang rasul, baik yang mukmin maupun yang kafir, seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim:
"وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَهُودِيٌّ
وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ لَا يُؤْمِنُ بِي إِلَّا دَخَلَ
النَّارَ"
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiada
seorang pun dari kalangan umat ini —baik orang Yahudi ataupun orang
Nasrani— yang telah mendengarku, lalu ia tidak beriman kepadaku,
melainkan masuk neraka.Sedangkan yang dimaksud dengan "umat pengikut" adalah orang-orang yang percaya kepada para rasul, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
{كُنْتُمْ
خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ}
Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (Ali
Imran: 110)Di dalam hadis sahih disebutkan:
"
فَأَقُولُ: أُمَّتِي أمتي".
Maka aku berkata, "Umatku, umatkul"Lafaz Ummah ini pun terkadang digunakan untuk menunjukkan pengertian suatu golongan atau sebagian, sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam firman Allah Swt.:
{وَمِنْ
قَوْمِ مُوسَى أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ}
Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat (golongan)_yawg
memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak, dan dengan yang hak
itulah mereka menjalankan keadilan. (Al-A'raf: 159)
{مِنْ
أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ}
di antara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus. (Ali Imran:
113), hingga akhir ayat.
{وَلَئِنْ
أَذَقْنَا الإنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نزعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ
كَفُورٌ (9) وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ
لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ (10) إِلا
الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ
كَبِيرٌ (11) }
Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu
rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian
rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak
berterima kasih Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana
yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, "Telah hilang bencana-bencana itu
dariku, " sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang
sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu
beroleh ampunan dan pahala yang besar.Allah Swt. menceritakan perihal manusia dan sifat-sifat tercela yang ada pada dirinya, kecuali bagi orang yang dikasihi oleh Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya yang beriman. Bahwa manusia itu apabila mendapat musibah sesudah mendapat nikmat, maka ia akan berputus asa dan merasa terputus dari kebaikan di masa selanjutnya, serta kafir dan ingkar terhadap keadaan yang sebelumnya. Seakan-akan dia tidak pernah mengalami suatu kebaikan pun, dan sesudah itu dia tidak mengharapkan suatu jalan keluar pun. Demikian pula keadaannya jika ia mendapat nikmat sesudah sengsara, sebagaimana disebutkan oleh Allah Swt.:
{لَيَقُولَنَّ
ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي}
niscaya dia akan berkata, "Telah hilang bencana-bencana itu dariku."
(Hud: 10)Yaitu tidak akan ada kesengsaraan dan bencana lagi yang menimpaku sesudah ini.
{إِنَّهُ
لَفَرِحٌ فَخُورٌ}
sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. (Hud: 10) Maksudnya, merasa sangat gembira dengan nikmat yang ada di tangannya, lalu ia bersikap angkuh dan sombong terhadap orang lain. Allah Swt. berfirman dalam ayat selanjutnya.
{إِلا
الَّذِينَ صَبَرُوا}
kecuali orang-orang yang sabar. (Hud: 11) Yakni sabar dalam menghadapi bencana dan kesengsaraan.
{وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ}
dan mengerjakan amal-amal saleh. (Hud: 11) Yaitu dalam keadaan sehat dan sejahtera.
{أُولَئِكَ
لَهُمْ مَغْفِرَةٌ}
mereka itu beroleh ampunan. (Hud: 11) Yakni karena bencana yang telah menimpa mereka.
{وَأَجْرٌ
كَبِيرٌ}
dan pahala yang besar. (Hud: 11)karena apa yang telah mereka perbuat di masa makmur dan sejahteranya. Seperti yang disebutkan di dalam suatu hadis:
"وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ هَمٌّ وَلَا غَمٌّ، وَلَا نَصَب وَلَا
وَصَب، وَلَا حَزَن حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللهُ عَنْهُ
بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaanNya,
tidak sekali-kali menimpa seorang mukmin suatu derita dan tidak pula suatu
kesusahan, tidak pula suatu kepayahan, tidak pula suatu penyakit, tidak pula
suatu kesedihan sehingga duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapuskan
karenanya sebagian dari dosa-dosanya.Di dalam kitab Sahihain disebutkan:
"وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يَقْضِي اللَّهُ لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا
لَهُ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ فَشَكَرَ كَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ
ضَرَّاءُ فَصَبَرَ كَانَ خَيْرًا لَهُ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ غَيْرِ
الْمُؤْمِنِ"
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaannya, tidak
sekali-kali Allah memutuskan bagi orang mukmin suatu keputusan melainkan hal itu
baik baginya. Jika dia beroleh kegembiraan, maka dia akan bersyukur, dan
bersyukur itu baik baginya. Dan jika ia tertimpa kesedihan, maka ia bersabar,
dan bersabar itu baik baginya. Hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun selain
orang mukmin.Karena itulah dalam firman Allah Swt. disebutkan:
{وَالْعَصْرِ
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya
menetapi kesabaran. (Al-Asr: 1-3)
{إِنَّ
الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا}
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir
(Al-Ma’arij: 19), hingga beberapa ayat berikutnya.
{فَلَعَلَّكَ
تَارِكٌ بَعْضَ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَضَائِقٌ بِهِ صَدْرُكَ أَنْ يَقُولُوا لَوْلا
أُنزلَ عَلَيْهِ كَنز أَوْ جَاءَ مَعَهُ مَلَكٌ إِنَّمَا أَنْتَ نَذِيرٌ وَاللَّهُ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ (12) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا
بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ
اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (13) فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ
فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنزلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَهَلْ
أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (14) }
Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan
sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena
khawatir bahwa mereka akan mengatakan, "Mengapa tidak diturunkan kepadanya
perbendaharaan (kekayaan) atau datang
bersama-sama dia seorang malaikat?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi
peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu. Bahkan mereka mengatakan,
"Muhammad telah membuat-buat Al-Qur'an itu." Katakanlah, "(Kalau demikian),
maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan
panggillah orang-orang yang kalian sanggup (memanggilnya) selain Allah,
jika kalian memang orang-orang yang benar" Jika mereka yang kamu seru itu tidak
menerima seruan kamu (ajakan kamu) itu, maka ketahuilah sesungguhnya
Al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan
selain Dia, maka maukah kalian berserah diri (kepada Allah)?Allah Swt. berfirman menghibur Rasul-Nya dalam menghadapi pembangkangan kaum musyrik yang mengatakan apa yang telah mereka katakan terhadap Rasul, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
{وَقَالُوا
مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الأسْوَاقِ لَوْلا
أُنزلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا أَوْ يُلْقَى إِلَيْهِ كَنز أَوْ
تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ يَأْكُلُ مِنْهَا وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ
إِلا رَجُلا مَسْحُورًا}
Dan mereka berkata, "Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di
pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat
itu memberikan peringatan bersama-sama dia? Atau (mengapa tidak)
diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun
baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang
yang zalim itu berkata, "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang
lelaki yang kena sihir." (Al-Furqan: 7-8)Lalu Allah Swt. memerintahkan Rasul-Nya dan memberikan petunjuk kepadanya bahwa janganlah dadanya merasa sempit karena perlakuan mereka terhadapnya, jangan pula hal tersebut menghambatnya dan memalingkannya dari menyeru mereka di malam dan siang hari untuk menyembah Allah Swt. Dalam ayat lainnya disebutkan oleh firman-Nya:
{وَلَقَدْ
نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ}
Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan
apa yang mereka ucapkan. (Al-Hijr: 97)Sedangkan dalam surat Hud ayat 12 berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
{فَلَعَلَّكَ
تَارِكٌ بَعْضَ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَضَائِقٌ بِهِ صَدْرُكَ أَنْ
يَقُولُوا}
Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan
kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan
mengatakan.Yakni karena perkataan mereka yang demikian itu. Sesungguhnya engkau adalah seorang pemberi peringatan, dan engkau mempunyai teladan dari saudara-saudaramu dari kalangan para rasul sebelummu. Karena sesungguhnya mereka didustakan dan disakiti, tetapi mereka tetap bersabar sehingga datang kepada mereka pertolongan dari Allah Swt.
Kemudian Allah Swt. menyebutkan tentang mukjizat yang terkandung di dalam Al-Qur'an, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mendatangkan hal yang semisal dengan Al-Qur'an, tidak juga sepuluh surat yang semisal dengannya, tidak pula suatu surat darinya. Karena kalam Allah berbeda dengan perkataan makhluk, sebagaimana sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat-sifat makhluk, dan Zat Allah tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah, tidak ada Tuhan selain Dia dan tidak ada Rabb selain Dia. Kemudian Allah Swt. berfirman:
{فَإِنْ
لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ}
Jika mereka yang kalian seru itu tidak menerima seruan kalian, (Hud:
14)Maksudnya, jika mereka tidak menyambut tantangan yang telah kalian serukan kepada mereka, maka ketahuilah bahwa mereka tidak mampu melakukannya, dan bahwa Al-Qur'an ini adalah firman Allah yang diturunkan dari sisi-Nya; di dalamnya terkandung ilmu, perintah, dan larangan-Nya.
{وَأَنْ
لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}
dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kalian berserah
diri (kepada Allah)? (Hud: 14)
{مَنْ
كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ
أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ
لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ
مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16) }
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia
dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di
dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di
akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang
telah mereka kerjakan.Sehubungan dengan ayat ini Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya orang-orang yang suka riya (pamer dalam amalnya), maka pahala mereka diberikan di dunia ini. Demikian itu karena mereka tidak dianiaya barang sedikit pun. Ibnu Abbas mengatakan, "Barang siapa yang beramal saleh untuk mencari keduniawian, seperti melakukan puasa, atau salat, atau bertahajud di malam hari, yang semuanya itu ia kerjakan hanya semata-mata untuk mencari keduniawian, maka Allah berfirman, 'Aku akan memenuhi apa yang dicarinya di dunia, ini sebagai pembalasannya, sedangkan amalnya yang ia kerjakan untuk mencari keduniawian itu digugurkan, dan dia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi'."
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Anas ibnu Malik dan Al-Hasan mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Mujahid dan lain-lainnya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang suka riya.
Qatadah mengatakan, "Barang siapa yang dunia merupakan niat, dambaan, dan buruannya, maka Allah membalas kebaikannya di dunia ini. Dan bila ia datang ke akhirat, maka ia tidak lagi memiliki pahala amal kebaikan yang akan diberikan kepadanya. Adapun orang mukmin, maka amal kebaikannya dibalas di dunia ini, dan kelak di akhirat dia mendapat pahala dari amalnya itu." Dalam hadis yang marfu’ telah disebutkan hal yang semisal dengan ini.
Allah Swt. telah berfirman:
{مَنْ
كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ
ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا وَمَنْ أَرَادَ
الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ
مَشْكُورًا كُلا نُمِدُّ هَؤُلاءِ وَهَؤُلاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ
عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ
وَلَلآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلا}
Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami
segerakan bagiannya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami
kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam
keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat
dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah mukmin,
maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibatasi dengan baik Kepada
masing-masing golongan —baik golongan ini maupun golongan itu—
Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak
dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka
atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi
tingkatannya dan lebih besar keutamaannya. (Al-Isra: 18-21)
{مَنْ
كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ
حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ
نَصِيبٍ}
Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah
keuntungan itu baginya; dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia,
Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya
suatu bagian pun di akhirat (Asy-Syura: 20)
{أَفَمَنْ
كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ وَمِنْ قَبْلِهِ
كِتَابُ مُوسَى إِمَامًا وَرَحْمَةً أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ
بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ إِنَّهُ
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ (17)
}
Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada
mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur'an) dari Tuhannya, dan diikuti pula
oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al-Qur'an itu telah
ada kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada
Al-Qur’an. Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan
sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang
diancamkan baginya. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur'an itu.
Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan
manusia tidak beriman.Allah Swt. menceritakan perihal orang-orang mukmin yang berada pada fitrah Allah yang telah difitrahkan-Nya kepada semua hamba-Nya, yaitu pengakuan yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Disebutkan oleh Allah melalui firman-Nya:
{فَأَقِمْ
وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ}
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah
atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
(Ar-Rum: 30), hingga akhir ayat.Di dalam hadis Sahihain disebutkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"كُلُّ
مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدانه ويُنَصِّرانه
ويُمَجِّسانه، كَمَا تُولَدُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعاء، هَلْ تُحِسُّون
فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟ "
Setiap anak dilahirkan atas fitrah, maka hanya kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau seorang Majusi. Sama
halnya dengan ternak unta betina yang melahirkan unta dalam keadaan utuh, apakah
kalian melihat adanya kecacatan pada telinganya?Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui Iyad ibnu Hammad, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda:
"يَقُولُ
اللَّهُ تَعَالَى: إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاء، فَجَاءَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ
فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ
لَهُمْ"
Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku
dalam keadaan hanif lalu datanglah setan kepada mereka sehingga setan
menyesatkan mereka dari agamanya. Dan setan mengharamkan atas mereka apa yang
telah Aku halalkan kepada mereka. Dan setan memerintahkan kepada mereka agar
mempersekutukan Aku dengan apa yang Aku tidak menurunkan keterangan
tentangnya.”Di dalam kitab Musnad dan kitab Sunan disebutkan seperti berikut:
"كُلُّ
مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى هَذِهِ الْمِلَّةِ، حَتَّى يُعرِب عَنْهُ
لِسَانُهُ"
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan memeluk agama (Islam) ini,
sehingga lisannya dapat berbicara mengungkapkan keinginannya.Tetapi orang mukmin tetap dalam keadaan fitrah ini.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَيَتْلُوهُ
شَاهِدٌ مِنْهُ}
dan diikuti pula oleh seorang saksi dari Allah (Hud: 17)Maksudnya, yang disampaikan oleh saksi dari sisi Allah, yaitu apa yang diwahyukan oleh Allah kepada para nabi, berupa syariat-syariat yang suci sempurna, diagungkan, dan diakhiri dengan syariat Nabi Muhammad Saw.
Karena itulah Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Abul Aliyah, Ad-Dahhak, Ibrahim An-Nakha'i, As-Saddi, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya berikut ini : dan diikuti pula oleh seorang saksi dari Allah (Hud: 17) Menurut mereka, yang dimaksud adalah Malaikat Jibril a.s.
Diriwayatkan pula dari Ali r.a., Al-Hasan, dan Qatadah, bahwa yang dimaksud ialah Nabi Muhammad Saw. Kedua pendapat tersebut berdekatan maknanya, karena Jibril a.s. dan Muhammad Saw. masing-masing telah menyampaikan risalah Allah Swt. Malaikat Jibril menyampaikan kepada Nabi Muhammad, dan Nabi Muhammad menyampaikan kepada umat.
Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud adalah Ali r.a. Tetapi pendapat ini lemah dan tidak diketahui sumbernya; pendapat yang pertama dan yang kedualah yang benar.
Seorang mukmin dengan bekal fitrah yang ada pada dirinya dapat menyaksikan kebenaran syariat secara global, dan secara rinci tersimpulkan dari syariat itu sendiri. Kemudian fitrahnya membenarkan dan mengimaninya. Karena itulah Allah Swt. berfirman:
{أَفَمَنْ
كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ}
Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada
mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur'an) dari Tuhannya, dan diikuti pula
oleh saksi dari Allah. (Hud: 17)Yakni Al-Qur'an yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Saw., kemudian Nabi Muhammad Saw. menyampaikannya kepada umatnya. Kemudian Allah Swt. berfirman:
{وَمِنْ
قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى}
dan sebelum Al-Qur’an itu telah ada kitab Musa. (Hud: 17) Artinya,
sebelum Al-Qur'an telah ada kitab Musa, yaitu Taurat.
{إِمَامًا
وَرَحْمَةً}
yang menjadi pedoman dan rahmat. (Hud: 17)Allah menurunkannya kepada umat tersebut sebagai pedoman dan panutan yang mereka ikuti serta sebagai rahmat dari Allah buat mereka. Maka barang siapa yang beriman kepadanya (Taurat) dengan sebenarnya, niscaya hal itu akan membimbingnya untuk beriman kepada Al-Qur'an. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{أُولَئِكَ
يُؤْمِنُونَ بِهِ}
Mereka itu beriman kepada Al-Qur'an. (Hud: 17)Kemudian Allah berfirman mengancam orang yang mendustakan Al-Qur'an atau sesuatu dari Al-Qur'an, yaitu:
{وَمَنْ
يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ}
Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan
sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur'an, maka nerakalah tempat yang
diancamkan baginya. (Hud: 17)Maksudnya, barang siapa dari kalangan penduduk bumi yang kafir kepada Al-Qur'an, baik dari kalangan orang-orang musyrik, orang-orang kafir, orang-orang ahli kitab, dan lain-lainnya dari kalangan keturunan anak Adam dengan berbagai warna kulit, bentuk, dan bangsanya yang telah sampai kepadanya Al-Qur'an, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
{لأنْذِرَكُمْ
بِهِ وَمَنْ بَلَغَ}
supaya dengan Al-Qur'an itu aku memberi peringatan kepada kalian dan
kepada orang-orang yang sampai Al-Qur'an (kepadanya). (Al-An'am: 19)
{قُلْ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا}
Katakanlah "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada
kalian semua." (Al- A'raf: 158)
{وَمَنْ
يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ}
Dan barang siapa di atara mereka (orang-orang Quraisy) dan
sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang
diancamkan baginya. (Hud: 17)Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui hadis Syu'bah, dari Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Abu Musa Al-Asy'ari r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ أَوْ
نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ لَا يُؤْمِنُ بِي إِلَّا دَخَلَ النَّارَ"
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaannya, tiada
seorang pun dari kalangan umat ini yang mendengar tentang aku, baik dia orang
Yahudi ataupun orang Nasrani, lalu ia tidak beriman kepadaku, melainkan pasti
masuk neraka.Abu Ayyub As-Sukhtiyani telah meriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa tidak sekali-kali ia mendengar suatu hadis dari Nabi Saw. menurut apa adanya melainkan ia menjumpai yang sesuai dengannya atau yang membenarkannya di dalam Al-Qur'an. Telah sampai pula kepadanya bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:
"لَا
يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، وَلَا يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ،
فَلَا يُؤْمِنُ بِي إِلَّا دَخَلَ النَّارَ"
Tiada seorang pun dari kalangan umat ini yang mendengar aku, baik dia
orang Yahudi ataupun orang Nasrani, lalu ia tidak beriman kepadaku melainkan
masuk neraka.Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri, manakah hal yang membenarkannya dari Kitabullah? Karena jarang sekali ia mendengar sesuatu hadis dari Rasulullah, melainkan ia menjumpai hal yang membenarkannya di dalam Al-Qur'an. Akhirnya ia menjumpainya pada ayat berikut:
{وَمَنْ
يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ}
Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan
sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang
diancamkan baginya. (Hud: 17)Yakni dari kalangan pemeluk semua agama.
*******************
Firman Allah Swt.:
{فَلا
تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ}
Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur’an itu. Sesungguhnya
(Al-Qur'an) itu benar-benar dari Tuhanmu. (Hud: 17), hingga akhir
ayat.Artinya, Al-Qur'an itu benar-benar dari Allah, tiada keraguan dan tiada kebimbangan di dalamnya. Seperti yang disebutkan pula di dalam firman-Nya:
{الم
تَنزيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
Alif Lam Mim. Turunnya Al-Qur'an yang tidak ada keraguan padanya
(adalah) dari Tuhan semesta alam. (As-Sajdah: 1-2)
{الم
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ}
Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya.
(Al-Baqarah: 1-2)Adapun firman Allah Swt.:
{وَلَكِنَّ
أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ}
tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (Hud: 17) Ayat tersebut sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{وَمَا
أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ}
Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat
menginginkannya. (Yusuf: 103)
{وَإِنْ
تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ}
Dan Jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi
ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah (Al-An'am: 116)
{وَلَقَدْ
صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلا فَرِيقًا مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ}
Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya
terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang
beriman. (Saba: 20)
{وَمَنْ
أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى
رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الأشْهَادُ هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا
لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ (18) الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ
اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ (19) أُولَئِكَ
لَمْ يَكُونُوا مُعْجِزِينَ فِي الأرْضِ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ
مِنْ أَوْلِيَاءَ يُضَاعَفُ لَهُمُ الْعَذَابُ مَا كَانُوا يَسْتَطِيعُونَ
السَّمْعَ وَمَا كَانُوا يُبْصِرُونَ (20) أُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا
أَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (21) لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ
فِي الآخِرَةِ هُمُ الأخْسَرُونَ (22) }
Dan
siapakah yang lebih zalim daripada orang y ang membuat-buat dusta terhadap
Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan
berkata Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka. Ingatlah,
kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu)
orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan
menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang
yang tidak percaya adanya hari akhirat. Orang-orang itu tidak mampu
menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini, dan
sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu
dilipatgandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar
(kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihat (nya). Mereka
itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari mereka apa
yang selalu mereka ada-adakan. Pasti mereka itu di akhirat menjadi orang-orang
yang paling merugi.Allah Swt. menerangkan keadaan orang-orang yang mendustakan-Nya, juga tentang dipermalukan-Nya mereka di hari akhirat kelak di hadapan mata kepala semua makhluk dari kalangan para malaikat, para rasul, para nabi, serta seluruh umat manusia dan jin. Sehubungan dengan hal ini Imam Ahmad mengatakan;
حَدَّثَنَا
بَهْز وَعَفَّانُ قَالَا أَخْبَرَنَا هَمَّام، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ
صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِز قَالَ: كُنْتُ آخِذًا بِيَدِ ابْنِ عُمَرَ، إِذْ عَرَضَ
لَهُ رَجُلٌ قَالَ: كَيْفَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي النَّجْوَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ: "إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كنَفَه، وَيَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ،
وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ، وَيَقُولُ لَهُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا ؟ أَتَعْرِفُ
ذَنْبَ كَذَا ؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا ؟ حَتَّى إِذَا قَرَّره بِذُنُوبِهِ،
وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا
عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَإِنِّي أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. ثُمَّ يُعْطَى
كِتَابَ حَسَنَاتِهِ، وَأَمَّا الْكُفَّارُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيَقُولُ:
{الأشْهَادُ هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ
عَلَى الظَّالِمِينَ}
telah menceritakan kepada kami Bahz dan Affan; keduanya mengatakan, telah
menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari
Safwan ibnu Muharriz yang mengatakan bahwa ia dalam keadaan memegang tangan Ibnu
Umar di saat-ada seorang lelaki bertanya kepadanya, "Apakah yang telah engkau
dengar dari Rasulullah Saw. tentang najwa (berbisik) di hari kiamat
kelak?" Ibnu Umar menjawab, bahwa ia pernah mendengar Nabi Saw. bersabda:
Sesungguhnya Allah Swt. mendekati orang mukmin, lalu meletakkan perlindungan
dan naungan-Nya di atas orang mukmin itu sehingga orang mukmin itu dalam keadaan
tertutup dari pandangan manusia. Lalu Allah menyebutkan semua dosanya. Allah
berfirman kepadanya, "Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu dosa itu? Tahukah kamu
dosa anu?” Setelah Allah menyebutkan semua dosanya dan orang mukmin yang
bersangkutan merasakan bahwa dirinya pasti binasa, maka Allah berfirman,
"Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosamu itu sewaktu di dunia, dan
sesungguhnya Aku sekarang mengampuninya bagimu hari ini." Kemudian diberikan
kepadanya kitab catatan amal-amal kebaikannya. Adapun terhadap orang-orang kafir
dan orang-orang munafik, maka para saksi akan berkata, " Orang-Orang inilah yang
telah berdusta terhadap Tuhan mereka.” Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan)
atas orang-orang yang zalim.Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahihain melalui hadis Qatadah dengan sanad yang sama.
*******************
Firman Allah Swt.:
{الَّذِينَ
يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا}
(yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan
menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. (Hud: 19)Maksudnya, mereka mencegah manusia mengikuti perkara hak, mencegah manusia menempuh jalan hidayah yang menghantarkan kepada Allah, dan menjauhkan mereka dari surga.
{وَيَبْغُونَهَا
عِوَجًا}
dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok (Hud: 19) Yakni
mereka menghendaki agar jalan manusia itu bengkok, tidak lurus.
{وَهُمْ
بِالآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ}
Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya adanya hari akhirat.
(Hud: 19)Yaitu ingkar kepada hari akhirat dan mendustakan kejadian dan keberadaan hari akhirat.
{أُولَئِكَ
لَمْ يَكُونُوا مُعْجِزِينَ فِي الأرْضِ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ
مِنْ أَوْلِيَاءَ}
Orang-orang itu tidak mampu menghalangi Allah untuk (mengazab mereka)
di bumi ini, dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah.
(Hud: 20)Bahkan mereka berada di bawah keperkasaan dan kekuatan Allah Swt. serta berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya. Dia Mahakuasa untuk melakukan pembalasan terhadap mereka di dunia ini sebelum di akhirat.
{يُؤَخِّرُهُمْ
لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأبْصَارُ}
Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada
waktu itu mata (mereka) terbelalak. (Ibrahim: 42)Di dalam kitab Sahihain disebutkan hadis berikut:
"إِنَّ
اللَّهَ ليُملي لِلظَّالِمِ، حَتَّى إِذَا أخذَه لَمْ يُفْلته"
Sesungguhnya Allah benar-benar mencatat (perbuatan) orang yang
aniaya, hingga manakala Allah mengazabnya, maka ia tidak dapat menyelamatkan
(dirinya).Karena itulah Allah Swt. berfirman:
يُضَاعَفُ
لَهُمُ الْعَذَابُ
Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka. (Hud: 20), hingga akhir
ayat.Yakni dilipatgandakan azab-Nya terhadap mereka. Demikian itu karena Allah telah menjadikan bagi mereka pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi tiadalah bermanfaat bagi mereka pendengaran, penglihatan, dan hati mereka; bahkan mereka tuli, tidak mau mendengar perkara yang hak, buta, tidak mau mengikutinya, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Swt. Allah menceritakan perihal mereka saat memasuki neraka:
{وَقَالُوا
لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ
السَّعِيرِ}
Dan mereka berkata, "Sekiranya kami mendengar atau memahami
(peringatan itu), niscaya tidaklah kami bersama-sama dengan
penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10) Demikian pula yang dinyatakan dalam firman Allah Swt. berikut:
{الَّذِينَ
كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ
بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ}
Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan
Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan (An-Nahl: 88),
hingga akhir ayat.Karena itulah mereka selalu disiksa karena meninggalkan tiap-tiap perintah Allah dan karena mengerjakan tiap-tiap larangan-Nya. Menurut pendapat yang paling sahih, mereka terkena taklif terhadap semua cabang syariat—baik yang berupa perintah maupun larangan— bila dikaitkan dengan masalah akhirat.
*******************
Firman Allah Swt.:
{أُولَئِكَ
الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا
يَفْتَرُونَ}
Mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah
dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. (Hud: 21)Artinya, mereka merugikan dirinya sendiri, karena pada akhirnya mereka dimasukkan ke dalam neraka yang panas, dan mereka disiksa di dalamnya tidak pernah berhenti barang sekejap pun, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:
{كُلَّمَا
خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا}
Tiap-tiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah bagi mereka
nyalanya. (Al-Isra: 97)Adapun firman Allah Swt.:
{ضَلَّ
عَنْهُمْ}
dan lenyaplah dari mereka. {Hud: 21) Maksudnya, hapuslah dari mereka.
{مَا
كَانُوا يَفْتَرُونَ}
apa yang selalu mereka ada-adakan. (Hud: 21)Yakni sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, yaitu berhala-berhala dan tandingan-tandingan itu. Dan mereka tidak memperoleh suatu manfaat pun dari sembahan-sembahan itu, bahkan sembahan-sembahan itu menimpakan mudarat yang sangat besar terhadap mereka, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
{وَإِذَا
حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ
كَافِرِينَ}
Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat), niscaya
sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan
mereka. (Al-Ahqaf: 6)
{وَاتَّخَذُوا
مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا كَلا سَيَكْفُرُونَ
بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا}
Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar
sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka, sekali-kali tidak, kelak
mereka (sembahan-sembahan itu) akan mengingkari penyembahan
(pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan)
itu akan menjadi musuh bagi mereka. (Maryam: 81-82)Nabi Ibrahim a.s. telah berkata, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya:
{إِنَّمَا
اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ
بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ
نَاصِرِينَ}
Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah adalah untuk
menciptakan perasaan kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia ini,
kemudian di hari kiamat sebagian kalian mengingkari sebagian (yang lain)
dan sebagian kalian melaknati sebagian (yang lain); dan tempat kembali
kalian ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagi kalian para penolong pun.
(Al-'Ankabut: 25)Allah Swt. pun berfirman:
{إِذْ
تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ
وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأسْبَابُ}
(yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang
yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan
antara mereka terputus sama sekali. (Al-Baqarah: 166)Demikian pula dalam ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa mereka rugi dan binasa di hari kiamat nanti. Karena itulah dalam surat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
{لَا
جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الآخِرَةِ هُمُ الأخْسَرُونَ}
Pasti mereka itu di akhirat menjadi orang-orang yang paling merugi.
(Hud: 22)Allah Swt. menceritakan tentang tempat kembali mereka, bahwa mereka adalah orang-orang yang paling merugi di hari akhirat nanti karena mereka telah mengganti ketinggian dengan kerendahan, mengganti nikmat surga dengan panasnya api neraka, khamr surga dengan air yang sangat panas, bidadari dengan makanan dari darah dan nanah, gedung-gedung surga dengan jurang-jurang neraka, serta berada dekat dengan Tuhan Yang Maha Pemurah lagi dapat melihat-Nya dengan murka Tuhan Yang Maha Membalas serta siksaan-Nya. Maka tidaklah aneh bila mereka adalah orang-orang yang paling merugi kelak di akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar