{أَفَمَنْ
كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لَا يَسْتَوُونَ (18) أَمَّا الَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَى نُزُلًا بِمَا
كَانُوا يَعْمَلُونَ (19) وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ
كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ
ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ (20)
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الأدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأكْبَرِ
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (21) وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ
ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ (22)
}
Maka apakah orang yang beriman seperti orang
yang fasik (kafir)? Mereka tidak
sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi
mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah
mereka kerjakan. Adapun orang-orang yang fasik (kafir), maka tempat
mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka
dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, "Rasakanlah
siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” Dan sesungguhnya Kami merasakan
kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih
besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang
benar). Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan
dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan
memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.Allah Swt. menceritakan tentang keadilan dan kemuliaan-Nya, bahwa di hari kiamat kelak Dia tidak akan menyamakan keputusan hukum-Nya antara orang yang beriman kepada ayat-ayat-Nya lagi mengikuti rasul-rasul-Nya dan orang yang fasik. Yang dimaksud dengan orang fasik ialah orang yang keluar dari jalan ketaatan kepada Tuhannya lagi mendustakan rasul-rasul Allah yang diutus kepadanya, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah Swt.:
{أَمْ
حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا
يَحْكُمُونَ}
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan
menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang
saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang
mereka sangka itu. (Al-Jasiyah: 21)
{أَمْ
نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الأرْضِ
أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ}
Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah
(pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang
yang berbuat maksiat? (Sad: 28)Dan firman Allah Swt.:
{لَا
يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ}
Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga.
(Al-Hasyr: 20), hingga akhir ayat.Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{أَفَمَنْ
كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لَا يَسْتَوُونَ}
Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)?
Mereka tidak sama. (As-Sajdah: 18)Artinya, mereka tidak sama kelak di sisi Allah pada hari kiamat.
Ata ibnu Yasar dan As-Saddi serta selain keduanya telah menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ali ibnu Abu Talib dan Uqbah ibnu Abu Mu'it. Karena itulah maka diputuskan perkara mereka melalui firman-Nya:
{أَمَّا
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ}
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh.
(As-Sajdah: 19)Hatinya membenarkan ayat-ayat Allah dan mengamalkan sesuai dengan petunjuknya, yaitu amal-amal yang saleh.
{فَلَهُمْ
جَنَّاتُ الْمَأْوَى}
maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman. (As-Sajdah: 19)Yakni surga-surga yang di dalamnya terdapat tempat-tempat tinggal, gedung-gedung, dan rumah-rumah yang tinggi-tinggi.
{نُزُلًا}
sebagai pahala. (As-Sajdah: 19) Maksudnya, sebagai sajian dan kehormatan.
{بِمَا
كَانُوا يَعْمَلُونَ. وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا}
terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang
fasik. (As-Sajdah: 19-20)Yaitu orang-orang yang keluar dari jalan ketaatan.
{فَمَأْوَاهُمُ
النَّارُ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا
فِيهَا}
tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya,
mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya. (As-Sajdah: 20)Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{كُلَّمَا
أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا}
الْآيَةَ
Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka,
niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Al-Hajj: 22), hingga akhir
ayat.Al-Fudail ibnu Iyad mengatakan, "Demi Allah, sesungguhnya tangan-tangan mereka benar-benar terikat dan kaki-kaki mereka benar-benar terbelenggu, dan sesungguhnya luapan api neraka mengangkat mereka dan para malaikat memukuli mereka dengan pemukul."
{وَقِيلَ
لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ
تُكَذِّبُونَ}
dan dikatakan kepada mereka, "Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu
mendustakannya.” (As-Sajdah: 20)Dikatakan hal itu kepada mereka dengan nada kecaman dan celaan.
************
Firman Allah Swt.:
{وَلَنُذِيقَنَّهُمْ
مِنَ الْعَذَابِ الأدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأكْبَرِ }
Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat
(di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat). (As-Sajdah:
21)Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan azab yang dekat ialah musibah-musibah di dunia, segala macam penyakit dan malapetakanya, serta semua cobaan yang menimpa keluarganya, berupa cobaan yang biasa Allah ujikan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka bertobat kepada-Nya.
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ubay ibnu Ka'b, Abul Aliyah, Al-Hasan, Ibrahim An-Nakha'i, Ad-Dahhak, Alqamah, Atiyyah, Mujahid, Qatadah, Abdul Karim Al-Jazari, dan Khasif. Ibnu Abbas mengatakan menurut suatu riwayat yang bersumber darinya, bahwa yang dimaksud dengan azab yang dekat ialah ditegakkannya hukuman-hukuman had atas mereka.
Al-Barra ibnu Azib, Mujahid, dan Abu Ubaidah mengatakan, yang dimaksud ialah azab kubur.
Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas dan Abu Ubaidah, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat). (As-Sajdah: 21) Yang dimaksud dengan azab ialah paceklik yang melanda mereka.
Abdullah putra Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Abdullah ibnu Umar Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, dari Syu'bah, dari Qatadah, dari Urwah, dari Al-Hasan Al-'Aufi, dari Yahya ibnul Jazzar dari Ibnu Abu Laila, dari Ubay ibnu Ka'b sehubungan dengan firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di. dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat). (As-Sajdah: 21) Rembulan dan asap telah berlalu? dan pukulan serta azab yang pasti.
Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Syu'bah dengan sanad yang mauquf dan lafaz yang semisal. Pada Imam Bukhari disebutkan melalui Ibnu Mas'ud hal yang semisal.
Abdullah ibnu Mas'ud telah mengatakan pula menurut suatu riwayat yang bersumber darinya, bahwa azab yang dekat ialah musibah yang menimpa mereka dalam Perang Badar, yaitu ada yang terbunuh dan ada yang ditawan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Malik, dari Zaid ibnu Aslam.
As-Saddi dan lain-lainnya mengatakan bahwa tiada suatu rumah pun di Mekah melainkan tertimpa kesedihan karena kematian atau tertawannya orang-orang mereka. Maka mereka tertimpa musibah kematian atau musibah menebus tawanan mereka, dan sebagian dari mereka ada yang tertimpa kedua musibah tersebut.
***************
Firman Allah Swt.:
{وَمَنْ
أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا}
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan
dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling darinya? (As-Sajdah:
22)Yakni tidak ada orang yang lebih aniaya daripada orang yang diperingati oleh ayat-ayat Allah, dan dijelaskan dengan terang ayat-ayat itu kepadanya, kemudian ia berpaling darinya dan meninggalkannya serta mengingkarinya dan berpura-pura melupakannya seakan-akan ia tidak mengenalnya. Qatadah mengatakan bahwa jangan sekali-kali kamu berpaling dari zikrullah, karena sesungguhnya barang siapa yang berpaling dari berzikir kepada-Nya, sesungguhnya dia telah terpedaya sangat parah, sangat memerlukan pertolongan, dan melakukan dosa yang besar. Karena itulah maka Allah Swt. mengancam orang yang berbuat demikian melalui firman-Nya:
{إِنَّا
مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ}
Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang
berdosa. (As-Sajdah: 22)Maksudnya, Aku akan membalas orang yang berbuat demikian dengan pembalasan yang keras.
قَالَ
ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي عِمْرَانُ بْنُ بَكَّارٍ الكِلاعي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ الْمُبَارَكِ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْعَزِيزِ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ نُسَيّ، عَنْ جُنَادَةَ
بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ فَقَدْ
أَجْرَمَ، مَنْ عَقَدَ لِوَاءً فِي غَيْرِ حَقٍّ، أَوْ عقَّ وَالِدَيْهِ، أَوْ
مَشَى مَعَ ظَالِمٍ يَنْصُرُهُ، فَقَدْ أَجْرَمَ، يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى:
{إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ}
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Imran ibnu Bakkar
Al-Kala'i, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Mubarak, telah
menceritakan kepada kami Ibnu Iyasy, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz
ibnu Abdullah, dari Ubadah ibnu Nasiya, dari Junadah ibnu Umayyah, dari Mu'az
ibnu Jabal yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
Ada tiga macam perbuatan, barang siapa yang melakukannya berarti dia telah
melakukan dosa, yaitu barang siapa yang membentuk suatu panji tanpa hak, atau
menyakiti kedua orang tuanya atau berjalan bersama orang zalim membantuinya,
maka sesungguhnya dia telah berdosa. Allah Swt. telah berfirman, "Sesungguhnya
Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.”
(As-Sajdah: 22)Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Ismail ibnu Iyasy dengan sanad yang garib sekali.
{وَلَقَدْ
آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَلا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِ وَجَعَلْنَاهُ
هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ (23) وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ
بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ (24) إِنَّ رَبَّكَ
هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ
(25) }
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada
Musa Al-Kitab (Taurat), maka
janganlah kamu (Muhammad) ragu-ragu untuk bertemu dengannya (Musa)
dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan
Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan
perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari
kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.Allah Swt. menceritakan tentang hamba dan rasul-Nya Musa a.s., bahwa Dia telah memberinya Al-Kitab, yakni kitab Taurat.
Firman Allah Swt.:
{فَلا
تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِ}
maka janganlah kamu (Muhammad) meragukan pertemuan dengannya
(Musa). (As-Sajdah: 23)Menurut Qatadah maksudnya perjumpaan dengan Musa di malam beliau di-isra-kan. Kemudian diriwayatkan dari Abul Aliyah Ar-Rayyahi yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku saudara sepupu Nabi kalian, yaitu Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
أُريتُ
لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي مُوسَى بْنَ عِمْرَانَ، رَجُلًا آدَمَ طُوَالا جَعْدًا،
كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءة. وَرَأَيْتُ عِيسَى رَجُلًا مَرْبُوعَ الْخَلْقِ،
إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ، مُبْسَطَ الرَّأْسِ، وَرَأَيْتُ مَالِكًا خَازِنَ
النَّارِ وَالدَّجَّالَ، فِي آيَاتٍ أَرَاهُنَّ اللَّهُ إِيَّاهُ"
Diperlihatkan kepadaku di malam isra-ku Musa ibnu Imran, seorang lelaki
yang berkulit hitam manis, bertubuh tinggi, berambut keriting, seakan-akan
seperti seseorang dari kabilah Syanu 'ah. Dan aku melihat Isa, seorang lelaki
yang berperawakan sedang, berkulit putih kemerah-merahan, berambut ikal. Dan aku
melihat Malaikat Malik penjaga neraka, juga Dajjal.Semuanya itu diperlihatkan Allah Swt. kepada Nabi Saw. di antara tanda-tanda lainnya: maka janganlah kamu (Muhammad) meragukan pertemuan dengannya. (As-Sajdah: 23), bahwa Nabi Saw. telah melihat Musa dan bersua dengannya di malam beliau menjalani isra-nya.
Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ali Al-Hilwani, telah menceritakan kepada kami Rauh ibnu Ubadah, telab; menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Abul Aliyah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw. sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil. (As-Sajdah: 23) Bahwa Allah menjadikan Musa sebagai petunjuk bagi kaum Bani Israil. Dan firman Allah Swt.: maka janganlah kamu (Muhammad) meragukan pertemuan dengannya. (As-Sajdah: 23) Yakni pertemuan Musa dengan Tuhannya.
***********
Dan firman Allah Swt.:
{وَجَعَلْنَاهُ}
dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu. (As-Sajdah: 23) Maksudnya, Al-Kitab yang Kami turunkan kepadanya (Musa).
{هُدًى
لِبَنِي إِسْرَائِيلَ}
petunjuk bagi Bani Israil. (As-Sajdah: 23)Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam surat Al-Isra:
{وَآتَيْنَا
مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلا تَتَّخِذُوا مِنْ
دُونِي وَكِيلا}
Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab
Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), "Janganlah kamu
mengambil penolong selain Aku.” (Al-Isra: 2)
*****
Adapun firman Allah Swt.:
{وَجَعَلْنَا
مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا
يُوقِنُونَ}
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini
ayat-ayat Kami. (As-Sajdah: 24)Yaitu setelah mereka bersabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah, meninggalkan larangan-larangan-Nya, membenarkan rasul-rasul-Nya, dan mengikuti petunjuk yang dibawakan oleh para rasul kepada mereka, maka jadilah di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk kepada kebenaran dengan perintah Allah, menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada kebajikan, serta mencegah kemungkaran. Kemudian setelah mereka mengganti, mengubah, serta menakwilkan ayat-ayat Allah (dengan takwilan yang menyimpang), maka dicabutlah kedudukan itu dari mereka dan jadilah hati mereka keras. Mereka mengubah-ubah kalimah-kalimah Allah dari tempat-tempatnya, maka tiada lagi amal yang saleh dan tiada akidah lagi yang benar (pada mereka). Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
لَقَدْ
آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al-Kitab.
(Al-Jasiyah: 16)Qatadah dan Sufyan mengatakan bahwa hal itu terjadi setelah mereka bersabar dalam menjauhi keduniawian. Hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan ibnu Saleh. Sufyan mengatakan bahwa demikianlah keadaan mereka, dan tidaklah patut bagi seorang lelaki menjadi pemimpin yang dianuti sebelum ia menjauhi keduniawian.
Waki' mengatakan, Sufyan pernah mengatakan bahwa sudah merupakan suatu keharusan bagi agama didampingi oleh ilmu, sebagaimana tubuh memerlukan roti (makanan).
Ibnu Bintisy Syafii mengatakan, ayahnya belajar pada pamannya atau pamannya belajar pada ayahnya (yang antara lain asar berikut), bahwa Sufyan pernah ditanya mengenai ucapan Ali r.a. yang mengatakan bahwa kedudukan sabar dalam iman sama dengan kedudukan kepala bagi tubuh. Selanjutnya Sufyan mengatakan, "Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah Swt. yang menyatakan: 'Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.' (As-Sajdah: 24)"
Sufyan mengatakan bahwa setelah mereka memegang teguh pokok urusannya, maka jadilah mereka para pemimpin.
Sebagian ulama mengatakan bahwa dengan bekal sabar dan keyakinan, kepemimpinan dalam agama dapat diperoleh. Karena itulah Allah Swt. berfirman:
{وَلَقَدْ
آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّة
[وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ.
وَآتَيْنَاهُمْ بَيِّنَاتٍ مِنَ الأمْرِ] فَمَا اخْتَلَفُوا إِلا مِنْ بَعْدِ مَا
جَاءَهُمُ الْعِلْمُ}
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al-Kitab
(Taurat), kekuasaan dan kenabian; dan Kami berikan kepada mereka
rezeki-rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada
masanya). Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata
tentang urusan (agama). (Al-Jasiyah: 16-17)Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain dalam surat ini melalui firman-Nya:
{إِنَّ
رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ
يَخْتَلِفُونَ}
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka
pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.
(As-Sajdah: 25)Yakni menyangkut masalah akidah dan amal perbuatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar