Translate

Selasa, 04 Oktober 2016

Ar-Ra'd, ayat 25-43

{وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ (25) }
Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).
Demikianlah keadaan orang-orang yang celaka dan sifat-sifat mereka. Disebutkan pula apa yang mereka peroleh di hari akhirat dan tempat kembali mereka yang membeda dengan apa yang dialami oleh orang-orang mukmin. Sebagaimana mereka pun memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan orang-orang mukmin ketika di dunianya. Orang-orang mukmin mempunyai ciri khas selalu menunaikanjanji Allah dan menghubungkan apa yang diperintahkan oleh Allah agar "mereka menghubungkannya, sedangkan orang-orang celaka adalah:
{يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ}
Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi. (Ar-Ra'd: 25)
Di dalam sebuah hadis disebutkan:
"آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ"
Pertanda orang munafik ada tiga, yaitu: Apabila bicara, berdusta; apabila berjanji, ingkar: dan apabila dipercaya, khianat.
Menurut riwayat lainnya:
"وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجر".
Dan apabila berjanji, melanggarnya; dan apabila bersengketa, curang.
Karena itulah dalam ayat ini disebutkan:
{أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ}
orang-orang itulah yang memperoleh kutukan. (Ar-Ra'd: 25)
Yang dimaksud dengan kutukan atau laknat ialah dijauhkan dari rahmat Allah. .
{وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ}
dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam). (Ar-Ra'd: 25)
Yakni akibat dan tempat kembali yang sangat buruk, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: dan tempat kediaman mereka ialah Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. (Ar-Ra'd: 18)
Abul Aliyah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Orang-orangyang merusak janji Allah. (Ar-Ra'd: 25), hingga akhir ayat. Bahwa ada enam macam pertanda yang ada dalam diri orang-orang munafik. Apabila mereka mendapat angin di kalangan masyarakat, maka mereka menampakkan ciri-ciri khas ini, yaitu: Apabila berbicara, dusta; apabila berjanji, ingkar; apabila dipercaya, khianat; mereka merusak janji Allah sesudah diikrarkan dengan teguh, memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan gemar menimbulkan kerusakan di bumi. Apabila mereka dikalahkan, maka yang tampak dari mereka adalah tiga ciri khas, yaitu: Apabila berkata, dusta; apabila berjanji, ingkar; dan apabila dipercaya, khianat.

{اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا مَتَاعٌ (26) }
Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan di dunia ini (dibandingkan dengan) kehidupan di akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).
Allah Swt. menyebutkan bahwa Dialah yang meluaskan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia pulalah yang menyempitkannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, karena hal itu mengandung hikmah dan keadilan yang hanya diketahui oleh-Nya. Tetapi orang-orang kafir itu merasa gembira dengan kehidupan duniawi yang diberikan kepada mereka, padahal pemberian itu adalah istidraj dan penangguhan azab bagi mereka, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لَا يَشْعُرُونَ}
Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (Al-Mu’minun: 55-56)
Kemudian Allah menghinakan kehidupan dunia bila dibandingkan dengan pahala yang disimpan oleh Allah Swt. buat hamba-hamba-Nya yang mukmin kelak di hari akhirat. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا مَتَاعٌ}
padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit). (Ar-Ra'd: 26)
Sama halnya dengan yang disebutkan oleh Allah dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلا تُظْلَمُونَ فَتِيلا}
Katakanlah, "Kesenangan dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kalian tidak akan dianiaya sedikit pun. (An-Nisa: 77)
{بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى}
Tetapi kalian (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (Al-A'la: 16-17)
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيع وَيَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ قَيْسٍ، عَنِ الْمُسْتَوْرِدِ أَخِي بَني فِهْرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَمَثَلِ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ" وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki' dan Yahya ibnu Sa'id; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abu Khalid, dari Qais, dari Al-Mustawrid (saudara lelaki Bani Fihr) yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tiadalah kehidupan dunia bila dibanding dengan kehidupan di akhirat melainkan seperti seseorang di antara kalian yang mencelupkan jari telunjuknya ke laut ini, maka perhatikanlah apakah yang dihasilkannya. Rasulullah Saw. bersabda demikian seraya berisyarat dengan jari telunjuknya.
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Muslim di dalam kitab Sahih-nya.
Di dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw. melewati bangkai seekor kambing yang kedua telinganya kecil (kurus), lalu beliau Saw. bersabda:
"وَاللَّهِ لِلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَى أَهْلِهِ حِينَ أَلْقَوْهُ"
Demi Allah, sesungguhnya dunia ini lebih diremehkan oleh Allah daripada kambing ini menurut pandangan pemiliknya ketika ia mencampakkan (bangkai)nya

{وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا أُنزلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ (27) الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (28) الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ (29) }
Orang-orang kafir berkata, "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (Mukjizat) dari Tuhannya?" Katakanlah, "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada-Nya, " (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.
Allah Swt. menceritakan perkataan orang-orang musyrik melalui firman-Nya:
{لَوْلا} أَيْ: هَلَّا {أُنزلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ}
Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya? (Ar-Ra'd: 27)
Ayat tersebut semakna dengan yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
{فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الأوَّلُونَ}
maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus. (Al-Anbiya: 5)
Pembahasan mengenai hal ini telah disebutkan bukan hanya sekali saja pada kesempatan yang lalu, bahwa Allah mampu memperkenankan apa yang mereka minta itu.
Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya ketika kaumnya meminta beliau mengubah Bukit Safa menjadi emas buat mereka, dan mengalirkan buat mereka mata air yang berlimpah sumber airnya, serta menggeserkan bukit-bukit yang ada di sekitar Mekah, lalu menggantikan kedudukannya menjadi kebun-kebun dan lapangan-lapangan rumput yang hijau, "Jika kamu suka, hai Muhammad, Aku akan memberi mereka apa yang mereka minta itu. Tetapi jika mereka tetap kafir (sesudahnya), Aku akan mengazab mereka dengan azab yang belum pernah Aku timpakan kepada seorang pun dari penduduk dunia ini. Dan jika kamu suka, Aku bukakan atas mereka pintu tobat dan rahmat." Maka Rasulullah Saw. berkata:
"بَلْ تَفْتَحُ لَهُمْ بَابَ التَّوْبَةِ وَالرَّحْمَةِ"
Tidak, bukakanlah oleh-Mu pintu tobat dan rahmat buat mereka.
Karena itulah dalam ayat ini Allah Swt. berfirman kepada Rasul-Nya:
قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ}
Katakanlah, "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada-Nya.” (Ar-Ra'd: 27)
Artinya, Dialah yang menyesatkan dan yang memberi petunjuk, baik Dia memberikan mukjizat kepada Rasul-Nya sesuai dengan apa yang mereka minta ataupun tidak memperkenankan permintaan mereka; karena sesungguhnya hidayah dan penyesatan tiada kaitannya dengan keberadaan dan ketiadaan hal tersebut. Di dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:
{وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ}
Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. (Yunus: 101)
{إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ}
Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Yunus: 96-97)
{وَلَوْ أَنَّنَا نزلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ}
Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al-An'am: 111)
Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ}
Katakanlah, "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada-Nya.” (Ar-Ra'd: 27)
Yakni Allah memberikan petunjuk kepada orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya serta memohon pertolongan kepada-Nya dengan berendah diri kepada-Nya.
{الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ}
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. (Ar-Ra'd: 28)
Maksudnya, hati mereka senang dan tenang berada di sisi Allah, merasa tenteram dengan mengingat-Nya, dan rela kepada-Nya sebagai Pelindung dan Penolong(nya). Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}
Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra'd: 28)
Ayat di atas bermakna bahwa Allah berhak untuk diingati.
*******************
Firman Allah Swt.:
{الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ}
Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (Ar-Ra'd: 29)
Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna tuba ialah 'gembira dan sejuk hati'. Menurut Ikrimah, artinya 'alangkah nikmatnya apa yang mereka peroleh'. Menurut Ad-Dahhak, artinya 'ungkapan rasa keinginan beroleh kenikmatan seperti mereka'. Menurut Ibrahim An-Nakha'i, artinya 'kebaikanlah bagi mereka'.
Qatadah mengatakan bahwa kata ini merupakan kata dari bahasa Arab. Bila seseorang mengatakan kepada temannya, "Tuba Laka" artinya 'engkau telah beroleh kebaikan'. Menurut riwayat lain, ia mengatakan bahwa tuba lahum artinya kebaikanlah bagi mereka.
{وَحُسْنُ مَآبٍ}
tempat kembali yang baik. (Ar-Ra'd: 29)
Yakni tempat kembali. Semua pendapat yang telah disebutkan di atas pada prinsipnya sama, tiada pertentangan di antaranya.
Sa'id ibnu Jubair telah mengatakan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna tuba lahum, bahwa tuba adalah nama sebuah taman yang ada di negeri Habsyah. Sa'id ibnu Masju' mengatakan bahwa tuba adalah nama sebuah taman yang terletak di India. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Saddi, dari Ikrimah, bahwa tuba lahum artinya surga (taman). Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa setelah Allah menciptakan surga dan telah merampungkannya, berfirmanlah Dia: Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik (Ar-Ra'd: 29) Demikian itu sebagai ungkapan rasa takjub akan keindahannya.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Ja'far, dari Syahr ibnu Hausyab yang mengatakan bahwa tuba adalah nama sebuah pohon di dalam surga; semua pepohonan surga berasal darinya, ranting-rantingnya berasal dari balik tembok surga.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Mugis ibnu Summi, Abi Ishaq As-Subai'i, dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf yang bukan hanya seorang. Mereka mengatakan bahwa tuba adalah sebuah pohon di dalam surga, pada tiap-tiap rumah (gedung) surga terdapat ranting yang berasal darinya.
Sebagian ulama mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Pemurah, Mahasuci lagi Mahatinggi telah menanamnya sendiri dengan tangan kekuasaan-Nya dari butir mutiara, lalu Allah memerintahkan kepadanya untuk menjalar; maka pohon itu menjalar menurut yang dikehendaki oleh Allah Swt. Dari bawah akarnya memancar sumber air sungai-sungai surga yang berasa madu, khamr, dan air susu.
Abdullah ibnu Wahb telah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris, bahwa Diraj (yakni Abus Samah) pernah menceritakan kalimat berikut kepadanya, dari Abul Haisam, dari Abu Sa'id Al-Khudri secara marfu':
"طُوبَى: شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ مِائَةِ سَنَةٍ، ثياب أهل الجنة تخرج من أكمامها"
Tuba adalah sebuah pohon di dalam surga, besarnya santa dengan jarak perjalanan seratus tahun, pakaian-pakaian ahli surga keluar dari kuntum-kuntumnya.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى، سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ لَهِيعة، حَدَّثَنَا دَرَّاج أَبُو السَّمْحِ، أَنَّ أَبَا الْهَيْثَمِ حَدَّثَهُ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ] عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، طُوبَى لِمَنْ رَآكَ وَآمَنَ بِكَ. قَالَ: "طُوبَى لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي، ثُمَّ طُوبَى، ثُمَّ طُوبَى، ثُمَّ طُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلَمْ يَرَنِي". قَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَمَا طُوبَى؟ قَالَ: "شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ مِائَةِ عَامٍ، ثِيَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ تَخْرُجُ مِنْ أَكْمَامِهَا".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Lahi'ah mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Diraj (yakni Abus Samah), bahwa Abul Haisam pernah menceritakan kepadanya, dari Abu Sa'id Al-Khudri, dari Rasulullah Saw., bahwa ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, tuba (berbahagialah) bagi orang yang melihatmu dan beriman kepadamu." Rasulullah Saw. bersabda: Berbahagialah bagi orang yang melihatku dan beriman kepadaku. Berbahagialah, berbahagialah, dan berbahagialah bagi orang yang beriman kepadaku dan tidak melihatku. Lelaki lainnya bertanya kepada Rasulullah Saw., "Apakah yang dimaksud dengan tuba (berbahagialah) itu?" Rasulullah Saw. menjawab: Sebuah pohon di dalam surga yang besarnya adalah perjalanan seratus tahun, pakaian ahli surga keluar dari kuntum (bunga)nya.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan:
عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهِ، عَنْ مُغِيرَةَ الْمَخْزُومِيِّ، عَنْ وَهيب، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا"
dari Ishaq Ibnu Rahawaih, dari Mugirah Al-Makhzumi, dari Wuhaib, dari Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sa'd r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat sebuah pohon, seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun masih belum melampauinya.
Abu Hazim mengatakan bahwa lalu ia mengetengahkan hadis ini kepada An-Nu'man ibnu Ayyasy Az-Zurqi. Maka ia berkata bahwa telah menceritakan kepadanya Abu Sa’id Al-Khudri, dari Nabi Saw. yang telah bersabda:
"إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ الجَوَاد المضمَّرَ السَّرِيعَ مِائَةَ عَامٍ مَا يَقْطَعُهَا".
Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara kuda pacuan yang kencang larinya memacu kudanya selama seratus tahun, ia masih belum dapat melampauinya.
Di dalam kitab Sahih Bukhari:
مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ زُرَيع، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي قَوْلِ اللَّهِ: {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ} [الْوَاقِعَةِ: 30] قَالَ: "فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا".
melalui hadis Yazid ibnu Zurai', dari Sa'id, dari Qatadah, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya: dan naungan yang terbentang luas. (Al-Waqi'ah: 30) yaitu: Di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun tanpa bisa melampauinya.
وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُرَيْج، حَدَّثَنَا فُلَيْح، عَنْ هِلَالِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَمْرَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ سَنَةٍ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ}
Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Syuraih, telah menceritakan kepada kami Falih, dari Hilal ibnu Ali, dari Abdur Rahman ibnu Abu Amrah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun masih belum melampauinya. Bacalah oleh kalian bila kalian suka akan firman-Nya, "Dan naungan yang terbentang luas.” (Al-Waqi'ah: 30)
Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Shahihain.
Menurut lafaz lain —bagi Imam Ahmad— disebutkan pula bahwa:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ وَحَجَّاجٌ قَالَا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، سَمِعْتُ أَبَا الضَّحَّاكِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا سَبْعِينَ -أَوْ: مِائَةَ -سَنَةٍ هِيَ شَجَرَةُ الْخُلْدِ".
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far dan Hajjaj; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, bahwa ia pernah mendengar Abu Dalihak menceritakan hadis berikut dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama tujuh puluh — atau seratus tahun—. ia adalah pohon Khuldi.
قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذَكَرَ سِدْرَةَ الْمُنْتَهَى، قَالَ: "يَسِيرُ فِي ظِلِّ الْفَنَنِ مِنْهَا الرَّاكِبُ مِائَةَ سَنَةٍ -أَوْ: قَالَ-: يَسْتَظِلُّ فِي الْفَنَنِ مِنْهَا مِائَةُ رَاكِبٍ، فِيهَا فِرَاشُ الذَّهَبِ، كَأَنَّ ثَمَرَهَا القلال".
Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Yahya ibnu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari ayahnya, dari Asma binti Abu Bakar r.a. yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. menceritakan tentang Sidratul Muntaha, lalu Rasulullah Saw. bersabda: Seorang pengendara berjalan di bawah naungan salah satu tangkainya selama seratus tahun —atau bernaung di bawah sebuah rantingnya seratus orang pengendara—, padanya terdapat kupu-kupu emas, buahnya seakan-akan sebesar gentong.
Hadis diriwayatkan oleh Imam Turmuzi.

وَقَالَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ يُوسُفَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَّامٍ الْأَسْوَدِ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ الْبَاهِلِيَّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا انْطُلِقَ بِهِ إِلَى طُوبَى، فَتُفْتَحُ لَهُ أَكْمَامُهَا، فَيَأْخُذُ مِنْ أَيِّ ذَلِكَ شَاءَ، إِنْ شَاءَ أَبْيَضَ، وَإِنْ شَاءَ أَحْمَرَ، وَإِنْ شَاءَ أَصْفَرَ، وَإِنْ شَاءَ أَسْوَدَ، مِثْلُ شَقَائِقِ النُّعْمَانِ وَأَرَقُّ وَأَحْسَنُ".
Ismail ibnu Ayyasy meriwayatkan dari Sa’id ibnu Yusuf, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abu Salam Al-Aswad yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Umamah Al-Bahili mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: tiada seorang pun di antara kalian masuk surga melainkan pergi ke pohon Tuba. Maka dibukakan baginya kuntum-kuntumnya, dan ia mengambil darinya pakaian yang disukainya. Jika ia suka warna putih, mengambil warna putih; jika ia suka warna merah, mengambil warna merah; jika ia suka warna kuning, mengambil warna kuning; dan jika suka warna hitam, mengambil warna hitam; warna-warninya seperti bunga syaqaiqun nu'man dan lebih lembut lagi lebih indah.
Imam Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnuSaur, dari Ma'mar, dari Asy'as ibnu Abdullah, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa tuba adalah sebuah pohon di dalam surga. Allah berfirman kepadanya, "Mekarkanlah kuntum-kuntummu buat hamba-Ku untuk memenuhi apa yang dikehendakinya!" Maka (bunga) pohon itu mekar untuk hamba yang dimaksud dengan mengeluarkan kuda lengkap dengan pelana dan kendalinya, unta berikut semua perlengkapannya, dan segala rupa pakaian yang disukainya.
Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Wahb ibnu Munabbih dalam bab ini sebuah asar yang garib lagi aneh. Wahb rahimahullah mengatakan bahwa sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon yang disebut tuba, seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun tanpa bisa melewatinya. Bunga-bunganya adalah pakaian, dedaunannya adalah selimut, ranting-rantingnya adalah 'anbar, lembah tempatnya adalah yaqut, tanahnya adalah kafur, dan lumpurnya adalah misik (minyak kesturi). Dari akarnya keluar sungai khamr, sungai susu, dan sungai madu. Pohon ini merupakan majelis ahli surga. Ketika mereka sedang berada di majelisnya, tiba-tiba malaikat suruhan Tuhan mereka datang kepada mereka seraya menuntun unta-unta yang diberi kendali rantai emas. Keindahan kepala unta-unta itu bagaikan pelita, bulunya sangat lembut seperti sutera Mar'uzi. Di atas punggung unta-unta itu terdapat haudaj yang papannya terbuat dari batu yaqut, sandarannya terbuat dari emas, sedangkan kain penutupnya terbuat dari kain sutera tebal dan tipis. Lalu para malaikat itu membuka haudaj (tandu) yang ada di atas punggung unta-unta itu, lalu berkata, "Sesungguhnya Tuhan kalian telah mengutus kami kepada kalian untuk membawa kalian mengunjungi-Nya dan mengucapkan salam penghormatan kepada-Nya." Maka semua ahli surga menaikinya, jalannya lebih cepat daripada burung terbang dan lebih pelan daripada kupu-kupu; unta itu tidak sulit dikendarai. Seseorang berjalan berdampingan dengan saudaranya seraya berbincang-bincang dengannya, sedangkan pinggir haudaj masing-masing tidak mengenai yang lainnya; dan tiada suatu unta pun yang duduk berlutut di tempat unta lainnya, sehingga pepohonan menjauh dari jalan yang dilalui oleh mereka agar tidak memisahkan antara seseorang dengan saudaranya. Lalu mereka datang menghadap Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, dan Allah membukakan hijab diri-Nya kepada mereka sehingga mereka dapat melihat Zat Allah Yang Mahamulia. Apabila mereka telah melihat-Nya, maka berkatalah mereka, "Ya Allah, Engkau Mahasejahtera, dari Engkaulah bersumbernya kesejahteraan, dan sifat keagungan dan kemuliaan hanyalah layak bagi-Mu." Maka pada saat itu juga Allah berfirman, "Akulah Yang Mahasejahtera, dari Aku-lah kesejahteraan, dan kalian berhak mendapat rahmat dan kasih-Ku. Selamat datang kepada hamba-hamba-Ku yang takut kepada-Ku tanpa melihat-Ku dan taat kepada perintah-Ku." Mereka berkata, "Wahai Tuhan kami, kami masih belum menyembah Engkau dengan penyembahan yang sebenarnya, dan kami masih belum menghargai Engkau dengan penghargaan yang sebenarnya. Maka izinkanlah kami untuk bersujud di bawah telapak kaki kekuasaan-Mu." Allah berfirman, "Sesungguhnya sekarang ini bukanlah tempat kelelahan, bukan pula tempat untuk ibadah, tetapi sekarang adalah tempat kesenangan dan kenikmatan. Sesungguhnya Aku telah melenyapkan dari kalian kepayahan beribadah, maka mintalah kepada-Ku semua yang kalian kehendaki, karena sesungguhnya masing-masing orang dari kalian mempunyai keinginannya sendiri." Lalu mereka meminta kepada Allah Swt. sehingga orang yang paling pendek keinginannya mengatakan, "Wahai Tuhanku, ahli dunia telah bersaing dalam dunia mereka sehingga mereka saling berebutan untuk mendapatkannya. Wahai Tuhanku, maka berikanlah kepadaku semisal segala sesuatu yang mereka miliki sejak Engkau menciptakan dunia hingga dunia berakhir." Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya keinginanmu amatlah pendek, dan sesungguhnya engkau telah meminta sesuatu yang berada di bawah kedudukanmu. Sekarang inilah dari-Ku untukmu, karena sesungguhnya tiada kepayahan dalam pemberian-Ku, tiada pula yang terlarang." Kemudian Allah Swt. berfirman, "Tawarkanlah kepada hamba-hamba-Ku segala sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh angan-angan mereka dan tidak pula terdetik dalam kalbu mereka." Maka ditampakkanlah hal itu kepada mereka sehingga angan-angan mereka tidak dapat menjangkaunya. Di antara yang ditawarkan kepada mereka ialah kuda-kuda yang bertanduk, di atas empat ekor darinya terdapat dipan dari yaqut, dan pada tiap dipan terdapat kubah emas yang terbuka. Pada tiap-tiap kubah terdapat kupu-kupu emas yang beterbangan. Di dalam tiap kubah itu juga terdapat dua pelayan bidadari yang bermata jelita. Masing-masing bidadari memakai pakaian dua lapis, yaitu pakaian surga; tiada suatu warna pun yang ada di dalam surga melainkan ada pada warna pakaian itu, dan tiada suatu wewangian pun melainkan tercium dari kedua pakaian itu. Cahaya wajah kedua bidadari itu dapat menembus ketebalan kubah sehingga orang yang melihatnya menduga bahwa keduanya berada di bagian luar kubah. Tulang sumsumnya dapat terlihat dari bagian luar betisnya, seperti kabel putih yang ada di dalam batu yaqut merah. Kedua bidadari memandang keutamaan yang dimiliki oleh majikannya sama dengan keutamaan matahari atas batu, atau bahkan lebih utama lagi. Majikan pun memandang hal yang sama kepada keutamaan yang dimiliki oleh kedua bidadari tersebut. Kemudian ia masuk menemui keduanya. Maka keduanya mem­berikan penghormatan kepadanya, lalu merangkulnya serta menempel kepadanya seraya berkata, "Demi Allah, kami tidak menduga bahwa Allah menciptakan makhluk seperti engkau." Kemudian Allah memerintahkan para malaikat untuk membawa mereka. Maka para malaikat berjalan bersama mereka membentuk saf ke dalam surga, sehingga masing-masing orang dari ahli surga sampai ke tempat tinggal yang telah disediakan untuknya.
Asar ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim berikut sanadnya, dari Wahb ibnu Munabbih.
Di dalam riwayatnya ditambahkan, "Lihatlah karunia Tuhan kalian yang diberikan kepada kalian!" Tiba-tiba terlihatlah kubah-kubah di Rafiqul A’la dan gedung-gedung yang dibangun dari permata dan marjan, pintu-pintunya dari emas, dipan-dipannya dari yaqut, hamparan-hamparannya dari kain sutera tebal dan tipis, mimbar-mimbarnya dari nur yang cahayanya memancar dari pintu-pintunya, dan halamannya dari nur seperti cahaya matahari, sedangkan mimbar yang ada padanya seperti bintang gemerlapan yang ada di siang hari. Tiba-tiba tampaklah gedung yang tinggi-tinggi berada di surga yang tertinggi terbuat dari yaqut yang cahayanya sangat cemerlang. Seandainya tidak ditundukkan (untuk dapat dilihat), niscaya pandangan mata tidak akan dapat melihatnya (karena silaunya). Bagian gedung-gedung itu yang terbuat dari yaqut putih dihampari dengan sutera putih, bagian yang terbuat dari yaqut merah dihampari dengan kain sutera merah, bagian yang terbuat dari yaqut hijau dihampari dengan kain sutera hijau, dan bagian yang terbuat dari yaqut kuning dihampari dengan kain sutera kuning. Gedung-gedung itu semua pintunya terbuat dari zamrud hijau, emas merah, dan perak putih. Tiang-tiang dan sudut-sudutnya dari permata, jendela-jendelanya berbentuk kubah yang terbuat dari mutiara, dan menara-menaranya bertingkat-tingkat terbuat dari marjan. Setelah mereka berangkat menuju tempat yang diberikan oleh Tuhan mereka, maka disodorkan kepada mereka kuda-kuda yang tubuhnya dari yaqut putih —tetapi ditiupkan roh ke dalam tubuhnya (sehingga hidup)— didampingi oleh pelayan yang terdiri atas anak-anak muda yang tetap muda. Tangan masing-masing anak memegang pemacu kuda-kuda itu, tali kendali serta cocok hidungnya terbuat dari perak putih yang dihiasi dengan mutiara dan yaqut, sedangkan pelananya bagaikan dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata serta dilapisi dengan kain sutera yang tebal dan yang tipis. Kemudian kuda-kuda itu berangkat membawa mereka berpesiar di tengah-tengah taman surga. Setelah mereka sampai di tempatnya masing-masing, mereka menjumpai para malaikat sedang duduk di atas mimbar-mimbar nur menunggu mereka dengan maksud mengunjungi mereka, menyalami mereka, dan mengucapkan selamat kepada mereka sebagai penghormatan buat mereka dari Tuhan mereka. Setelah mereka memasuki gedung-gedung mereka, di dalamnya mereka menjumpai semua yang mereka inginkan, semua yang mereka minta, dan semua yang mereka angan-angankan. Tiba-tiba pada pintu tiap gedung tersebut terdapat empat taman, dua di antaranya mempunyai pohon-pohon dan buah-buahan, sedangkan dua lainnya kelihatan berwarna hijau tua; di dalam kedua taman itu terdapat dua buah mata air yang mengalir, segala macam buah-buahan yang berpasangan, serta bidadari-bidadari yang dipingit di dalam kemahnya masing-masing. Setelah mereka menempati tempatnya masing-masing, maka Allah Swt. berfirman kepada mereka, "Apakah kalian telah menjumpai apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kalian dengan sebenarnya?" Mereka menjawab, "Ya, wahai Tuhan kami." Allah berfirman, "Apakah kalian puas dengan pahala Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Wahai Tuhan kami, kami telah puas, maka ridailah kami." Allah Swt. berfirman, "Berkat rida-Ku kepada kalian, Aku tempatkan kalian di rumah-Ku dan kalian dapat melihat Zat-Ku, serta para malaikat-Ku menyalami kalian. Maka selamat, selamatlah bagi kalian." sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (Hud: 108) Yakni tiada terhenti dan tiada yang terlarang. Maka pada saat itu juga mereka mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami dan memasukkan kami ke tempat tinggal yang kekal berkat karunia-Nya. Di dalamnya kami tidak lagi mengalami kepayahan, tidak pula mengalami lesu. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri."
Konteks asar ini garib lagi ajaib, tetapi sebagian darinya mempunyai syahid (bukti) yang menguatkannya.
Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Allah Swt. berfirman kepada lelaki yang paling akhir masuk surga, "Mintailah!" Lalu lelaki itu meminta; dan setelah permintaannya habis, Allah Swt. berfirman, "Mintalah anu dan mintalah anu," sambil mengingatkannya. Kemudian Allah berfirman, "Hal seperti itu dan sepuluh kali lipatnya adalah untukmu."
Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan sebuah hadis melalui Abu Zar, dari Rasulullah Saw., dari Allah Swt.:
يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، فَسَأَلُونِي، فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ  مَسْأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ من ملكي شيئا، إلا كما ينقص المخيط إِذَا أُدْخِلَ فِي الْبَحْرِ"، الْحَدِيثَ بِطُولِهِ.
Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama dari kalian dan orang yang terakhir dari kalian —dari kalangan manusia dan jin— berdiri di suatu tanah lapang, lalu mereka meminta kepada­Ku dan Aku berikan kepada setiap orang apa yang dimintanya, hal tersebut tiada mengurangi milik-Ku barang sedikit pun, melainkan sebagaimana berkurangnya lautan apabila dimasukkan sebuah jarum ke dalamnya. hingga akhir hadis.
Khalid ibnu Ma'dan mengatakan, "Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon yang dikenal dengan nama Tuba. Pohon itu mempunyai susu, semua anak-anak ahli surga menyusu darinya. Dan sesungguhnya kandungan yang gugur dari seorang wanita kelak berada di salah satu dari sungai surga, ia hidup di dalamnya hingga hari kiamat nanti; maka ia dibangkitkan dalam rupa seorang anak yang berumur empat puluh tahun." Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

{كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ (30) }
Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al-Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah, "Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan hanya kepada-Nya aku bertobat.”
Allah Swt. berfirman, "Sebagaimana Kami utus kamu, hai Muhammad, kepada umat ini,"
{لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ}
supaya kamu membacakan kepada mereka (Al-Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu. (Ar-Ra'd: 30)
Yakni agar kamu menyampaikan kepada mereka risalah dari Allah buat mereka, begitu pula Kami telah mengutus (utusan-utusan Kami) kepada umat-umat terdahulu yang kafir kepada Allah. Para utusan sebelum kamu telah didustakan oleh umatnya masing-masing, maka engkau mempunyai suri teladan dari para rasul pendahulumu. Dan sebagaimana Kami telah menimpakan azab dan pembalasan kami kepada mereka yang kafir di masa lalu, maka hendaklah umatmu pun berhati-hati, jangan sampai tertimpa azab dan pembalasan-Ku yang pernah menimpa para pendahulu mereka. Karena sesungguhnya pendustaan umatmu terhadap kamu jauh lebih parah daripada pendustaan yang dialami oleh para rasul terdahulu dari umatnya.
Allah Swt. telah berfirman:
{تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ}
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu. (An-Nahl: 63)
Adapun firman Allah Swt.:
{وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ}
Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu. tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu. (Al-An'am: 34)
Menerangkan tentang bagaimana Kami tolong mereka dan Kami jadikan bagi mereka akibat yang baik —begitu pula bagi para pengikut mereka— di dunia dan akhirat.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ}
padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Ar-Ra'd: 30)
Yakni umat yang Kami utus kamu kepada mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Mereka tidak mengakui-Nya, karena mereka menolak penyebutan Allah dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya. Dalam perjanjian Hudaibiyah mereka menolak menulis kalimat Bismillahir Rahmanir Rahim, dan mereka mengatakan, "Kami tidak mengenal Rahman dan Rahim" Demikianlah yang dikatakan oleh Qatadah, sedangkan hadis mengenainya berada di dalam kitab Sahih Bukhari. Padahal Allah Swt. telah berfirman di dalam Kitab-Nya:
{قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى}
Katakanlah, "Serulah Allah, atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai al-asmd-ul husna (nama-nama yang terbaik). (Al-Isra: 110)
Di dalam kitabSahih Muslim, dari Abdullah ibnu Umar, disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِنَّ أَحَبَّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ
Sesungguhnya nama yang paling disukai oleh Allah ialah Abdullah dan Abdur Rahman.
*******************
{قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ}
Katakanlah, "Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia.” (Ar-Ra'd: 30)
Yakni Tuhan yang kalian ingkari itu aku beriman kepada-Nya dan mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Rabb kami. Dia adalah Tuhanku, tiada Tuhan selain Dia.
{عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ}
hanya kepada-Nya aku bertawakal. (Ar-Ra'd: 30)
dalam semua urusanku.
{وَإِلَيْهِ مَتَابِ}
dan hanya kepada-Nya aku bertobat. (Ar-Ra'd: 30)
Artinya, hanya kepada-Nya aku kembali dan bertobat, karena sesungguhnya tiada yang patut mendapat kedudukan tersebut selain Dia.

{وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الأرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى بَلْ لِلَّهِ الأمْرُ جَمِيعًا أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا وَلا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ حَتَّى يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ (31) }
Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat diguncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu Al-Qur'an itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.
Allah Swt. berfirman memuji Al-Qur'an yang diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad Saw. dengan menyebutkan keutamaannya di atas semua kitab lain yang telah diturunkan-Nya sebelum itu. Maka disebutkanlah:
{وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ}
Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat diguncangkan. (Ar-Ra'd: 31)
Yakni seandainya di dalam kitab-kitab suci terdahulu terdapat suatu kitab yang dengannya gunung-gunung dapat dipindahkan dari tempatnya, atau bumi dapat terbelah dan terpisah karenanya, atau orang-orang yang telah mati dapat berbicara di dalam kuburnya, niscaya hanya Al-Qur'an sajalah yang pantas menyandang sifat tersebut, bukan kitab lainnya. Atau dengan cara yang lebih utama dapat dikatakan bahwa memang Al-Qur'an demikian keadaannya karena unsur i'jaz yang terkandung di dalamnya, sehingga seluruh manusia dan jin apabila bersatu untuk membuat satu surat yang semisal dengan surat Al-Qur'an, niscaya mereka tidak mampu membuatnya. Tetapi sekalipun demikian, orang-orang musyrik itu kafir dan ingkar kepada Al-Qur'an.
{بَلْ لِلَّهِ الأمْرُ جَمِيعًا}
Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. (Ar-Ra'd: 31)
Maksudnya, tempat kembali semua urusan itu hanyalah kepada Allah Swt. semata, apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tiada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya; barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya.
Terkadang kata Al-Qur'an ditujukan kepada setiap kitab suci terdahulu, karena ia berakar dari kata al-jam'u (himpunan).
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، حَدَّثَنَا مَعْمَر، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ: هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "خُفِّفَت عَلَى دَاوُدَ الْقِرَاءَةُ، فَكَانَ يَأْمُرُ بِدَابَّتِهِ أَنْ تُسْرَجَ، فَكَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُسرج دَابَّتُهُ، وَكَانَ لَا يَأْكُلُ إِلَّا مَنْ عَمَلِ يَدَيْهِ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Hammam ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa berikut ini adalah apa yang pernah diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami. Ia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Diringankan atas Nabi Daud bacaan kitabnya. Dan dia memerintahkan agar kendaraannya dipelanai, dan dia usai dari bacaan Al-Qur’annya sebelum pelana kendaraannya rampung. Dan dia tidak pernah makan kecuali dari hasil tangannya (sendiri).
Hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid.
Yang dimaksud dengan Al-Qur'an dalam hadis ini ialah kitab sucinya, yakni kitab Zabur.
*******************
Firman Allah Swt.:
{أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا}
Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui. (Ar-Ra'd: 31)
Yakni menyangkut keimanan semua makhluk. Dengan kata lain, tidakkah mereka mengetahui dan mengerti:
{أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا}
bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. (Ar-Ra'd: 31)
Karena sesungguhnya tiada suatu hujah pun, tiada pula suatu mukjizat pun yang lebih utama dan lebih fasih serta lebih besar pengaruhnya terhadap jiwa selain dari Al-Qur'an. Seandainya Allah menurunkannya kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Di dalam sebuah hadis sahih di sebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ أُوتِيَ مَا آمَنَ عَلَى مِثْلِهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُهُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ"
Tiada seorang nabi pun melainkan telah diberi (mukjizat) dari jenis yang dianut oleh manusia di masanya. Dan sesungguhnya apa yang diberikan kepadaku hanyalah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepadaku. Maka aku berharap semoga aku adalah salah seorang di antara mereka (para nabi) yang paling banyak pengikutnya.
Dengan kata lain, mukjizat semua nabi hilang dengan meninggalnya nabi yang bersangkutan; sedangkan Al-Qur'an ini adalah hujah yang tetap lestari selamanya. Keajaiban-keajaibannya tidak pernah habis, tidak membosankan, sekalipun banyak diulang; dan para ulama tidak pernah merasa kenyang dari (menggali makna-makna)nya. Al-Qur'an adalah keputusan yang tegas dan bukan hal yang lemah; barang siapa di antara orang yang angkara murka meninggalkannya, pasti Allah akan membinasakannya; dan barang siapa yang mencari petunjuk kepada selain Al-Qur'an, Allah pasti menyesatkannya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah menceritakan kepada kami Minjab ibnul Haris, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Imarah, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Hissan, dari Atiyyah Al-Aufi. Umar ibnu Hissan mengatakan bahwa ia menanyakan kepada Atiyyah tentang makna ayat berikut: Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat diguncangkan. (Ar-Ra'd: 31), hingga akhir ayat. Atiyyah menjawab bahwa mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata kepada Nabi Muhammad, "Mengapa engkau tidak menyingkirkan gunung-gunung Mekah ini dari kami sehingga tanahnya menjadi luas, maka kami akan bercocok tanam padanya; atau engkau belahkan bumi bagi kami, sebagaimana Sulaiman membelah angin buat kaumnya; atau engkau hidupkan bagi kami orang-orang yang telah mati, sebagaimana Isa menghidupkan orang-orang mati bagi kaumnya?" Maka Allah menurunkan ayat ini. Umar ibnu Hissan bertanya, "Apakah engkau pernah melihat hadis ini dari salah seorang sahabat Nabi Saw.?" Atiyyah menjawab, "Ya, dari Abu Sa'id, dari Nabi Saw."
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Asy-Sya'bi, Qatadah, As-Sauri, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang sehubungan dengan latar belakang penurunan ayat ini. Qatadah mengatakan, "Seandainya hal tersebut dapat dilakukan dengan kitab suci selain kitab suci kalian, niscaya hal tersebut dapat dilakukan pula dengan Al-Qur'an kalian."
*******************
Firman Allah Swt.:
{بَلْ لِلَّهِ الأمْرُ جَمِيعًا}
Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. (Ar-Ra'd: 31)
Ibnu Abbas mengatakan bahwa tiada sesuatu pun dari urusan-urusan itu yang terjadi melainkan berdasarkan apa yang dikehendaki oleh Allah yang pada awalnya tidak akan dilakukan. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Ishaq berikut sanadnya, dari Ibnu Abbas, dan Ibnu Jarir telah meriwayatkannya pula.
Sejumlah ulama Salaf mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui. (Ar-Ra'd: 31) Yakni tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui. Ulama lainnya mengartikan 'tidakkah orang-orang yang beriman itu memahami dengan jelas'. bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. (Ar-Ra'd: 31)
Lain pula dengan Abul Aliyah. Dia mengartikan bahwa sesungguhnya orang-orang yang beriman telah berputus asa untuk dapat memberi petunjuk; dan sekiranya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada semua manusia.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَلا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ}
Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebab­kan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka. (Ar-Ra'd: 31)
Yaitu disebabkan pendustaan mereka, malapetaka, dan musibah terus menerus menimpa mereka di dunia ini atau menimpa daerah-daerah yang ada di dekat mereka, agar mereka mengambil pelajaran (Jarinya. Makna ayat ini sama dengan ayat lainnya, yaitu:
{وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَى وَصَرَّفْنَا الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}
Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitar kalian dan Kami telah datangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertobat). (Al-Ahqaf: 27)
{أَفَلا يَرَوْنَ أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا أَفَهُمُ الْغَالِبُونَ}
­Maka apakah mereka tidak melihat bahwa Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka apakah mereka yang menang? (Al-Anbiya: 44)
Qatadah telah meriwayatkan dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya: atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka. (Ar-Ra'd: 31) Maksudnya, malapetaka atau bencana. Pengertian inilah yang tersiratkan dari makna lahiriah konteks ayat.
Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Mas'udi, dari Qatadah, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana di­sebabkan perbuatan mereka sendiri. (Ar-Ra'd: 31) Yang dimaksud dengan Qari'ah ialah sariyyah (pasukan dari musuh). atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka. (Ar-Ra'd: 31) sehingga datanglah janji Allah. (Ar-Ra'd: 31) Yang dimaksud dengan janji Allah ialah penaklukan kota Mekah.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, dan Mujahid dalam suatu riwayatnya.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: mereka ditimpa oleh bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri. (Ar-Ra'd: 31) Yaitu azab dari langit yang diturunkan kepada mereka. atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka. (Ar-Ra'd: 31) Yakni dengan turunnya Rasulullah Saw. di dekat mereka dan mereka diperangi oleh Rasulullah Saw.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah.
Ikrimah telah mengatakan dalam suatu riwayat dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna Qari'ah, bahwa yang dimaksud ialah bencana, mereka (ulama tafsir) semuanya mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sehingga datanglah janji Allah. (Ar-Ra'd: 31) Yakni penaklukan kota Mekah. Menurut Al-Hasan Al-Basri, makna yang dimaksud adalah hari kiamat.
*******************
Firman Allah Swt.:
{إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ}
Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (Ar-Ra'd: 31)
Artinya, Allah tidak akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, bahwa Dia akan menolong mereka dan pengikut-pengikut mereka di dunia dan akhirat nanti.
{فَلا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ مُخْلِفَ وَعْدِهِ رُسُلَهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ}
Karena itu, janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan siksa. (Ibrahim: 47)

{وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَمْلَيْتُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ (32) }
Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka Aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu, ke­mudian Aku binasakan mereka. Alangkah hebatnya siksaan-Ku itu.
Allah Swt. berfirman menghibur Rasul-Nya dalam menghadapi pen­dustaan yang dilakukan oleh sebagian kaumnya yang mendustakannya:
{وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ}
Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu. (Ar-Ra'd: 32)
Dengan kata lain, engkau mempunyai contoh dari kalangan mereka.
{فَأَمْلَيْتُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا}
maka Aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu. (Ar-Ra'd: 32)
Yakni Aku tangguhkan siksaan terhadap mereka.
{ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ}
kemudian Aku binasakan mereka. (Ar-Ra'd: 32)
dengan siksaan yang keras, seperti yang telah Aku sampaikan kepadamu perihal apa yang telah Aku lakukan terhadap mereka dan akibat yang mereka terima dari perbuatannya, tetapi sengaja Aku beri mereka masa tangguh. Makna ayat ini sama dengan makna yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ الْمَصِيرُ}
Dan berapa banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Ku-lah kembalinya (segala sesuatu). (Al-Hajj:48)
Di dalam kitab Shahihain disebutkan sebuah hadis yang mengatakan:
"إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ"، ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ}
Sesungguhnya Allah benar-benar memberi tangguh kepada orang yang zalim, sehingga apabila Dia mengazabnya, niscaya Dia tidak membiarkannya lolos. Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (Hud: 102)

{أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي الأرْضِ أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (33) }
Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah, "Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu.” Atau apakah kalian hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi. atau kalian mengatakan (tentang hal itu) sekadar perkataan di lahir saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorang pun yang akan memberi petunjuk.
Firman Allah Swt.:
{أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ}
Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya. (Ar-Ra'd: 33)
Allah Maha Memelihara, Maha Mengetahui lagi Maha Mengawasi setiap diri yang bernyawa. Dia mengetahui semua yang dilakukan oleh orang-orang yang beramal baik dan buruk, tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lainnya:
{وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ}
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. (Yunus: 61)
{وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا}
dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). (Al-An'am: 59)
{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ}
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Aliah­lah yang memberi rezeki-nya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Hud: 6)
{سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ}
Sama saja (bagi Allah), siapa di antara kalian yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. (Ar-Ra'd: 10)
{يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى}
Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (Thaha: 7)
{وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}
Dan Dia  bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. (Al-Hadid: 4)
Maka apakah Tuhan yang memiliki sifat tersebut sama dengan berhala-berhala yang mereka sembah, padahal berhala-berhala itu tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, tidak berakal, dan tidak memiliki manfaat buat dirinya sendiri, tidak pula buat para penyembahnya; dan tidak dapat melenyapkan mudarat dari dirinya, tidak pula dari diri para pengabdinya? Jawabannya tidak disebutkan karena sudah cukup dimengerti dari konteksnya,.yang diisyaratkan oleh firman Allah Swt.:
{وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ}
Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. (Ar-Ra'd: 33)
Yakni mereka menyembah sekutu-sekutu itu bersama Allah, yang mereka persekutukan bersama Allah itu berupa berhala-berhala, tandingan-tandingan, dan patung-patung.
{قُلْ سَمُّوهُمْ}
Katakanlah, "Sebutkanlah sifat-sifat mereka.” (Ar-Ra'd: 33)
Dengan kata lain, beri tahukanlah kepada kami tentang mereka dan jelaskanlah kepada kami tentang mereka agar mereka dapat dikenal, karena sesungguhnya mereka tidak ada hakikatnya. Sebab itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي الأرْضِ}
Atau apakah kalian hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi. (Ar-Ra'd: 33)
Sebagai jawabannya, tidak ada wujudnya; karena sesungguhnya jika sesuatu itu ada wujudnya di bumi, tentulah Allah mengetahuinya, sebab tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.
{أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ}
atau kalian mengatakan (tentang hal itu) sekadar perkataan di lahir saja. (Ar-Ra'd: 33)
Menurut Mujahid, makna yang dimaksud ialah pendapat yang berdasarkan pada dugaan.
Menurut Ad-Dahhak dan Qatadah, maksudnya perkataan yang batil (pendapat yang batil).
Dengan kata lain, sesungguhnya kalian menyembah berhala-berhala itu hanyalah berdasarkan dugaan dari kalian saja bahwa berhala-berhala itu dapat memberikan manfaat dan mudarat, lalu kalian menamakannya sebagai tuhan-tuhan.
{إِنْ هِيَ إِلا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنزلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى}
Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan bapak-bapak kalian mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (An-Najm: 23)
{بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ}
Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka. (Ar-Ra'd: 33)
Menurut Mujahid, yang dimaksud dengan tipu daya ialah pendapat mereka, yakni kesesatan yang mereka jalani dan seruan mereka kepada kesesatan di malam dan siang hari. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُمْ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ}
Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus. (Fushshilat: 25), hingga akhir ayat.
وصَدُّوا عَنِ السَّبِيل
dan dihalanginya dari jalan (yang benar). (Ar-Ra'd: 33)
Bagi orang yang membacanya saddu, artinya 'bahwa setelah setan menghiasi kebatilan kepada mereka sehingga mereka memandangnya sebagai perkara yang hak, maka mereka menyeru kepadanya dan menghalang-halangi manusia dari mengikuti jalan para rasul'. Dan bagi yang membacanya suddu, artinya 'mereka dihalangi dari jalan yang benar setelah setan menghiasi kebatilan mereka sehingga mereka memandang­nya benar, karena itulah mereka tidak mau mengikuti jalan yang benar'. Dalam firman selanjutnya disebutkan:
{وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ}
Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorang pun yang akan memberi petunjuk. (Ar-Ra'd: 33)
Ayat tersebut sama dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا}
Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah. (Al-Maidah: 41)
{إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ}
Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong pun. (An-Nahl: 37)

{لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَشَقُّ وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ (34) مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ (35) }
Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah. Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedangkan naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.
Allah Swt. menyebutkan siksa yang diterima orang-orang kafir dan pahala yang diterima oleh orang-orang yang bertakwa. Untuk itu, sesudah menceritakan keadaan orang-orang musyrik dan kekufuran serta kemusyrikan mereka, Allah Swt. pun berfirman:
{لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا}
Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia. (Ar-Ra'd: 34)
Yakni melalui tangan orang-orang mukmin, ada yang dibunuh, ada pula yang ditawan.
{وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ}
dan sesungguhnya azab akhirat. (Ar-Ra'd: 34)
yang disimpan buat mereka selain dari kehinaan dalam kehidupan di dunia.
أَشَقُّ
adalah lebih keras. (Ar-Ra'd: 34)
Yaitu jauh lebih keras daripada apa yang mereka alami di dunia. Sehubungan dengan ini Rasulullah Saw. bersabda kepada dua orang yang terlibat dalam kasus li'an:
"إِنَّ عَذَابَ الدُّنْيَا أَهْوَنُ مِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ"
Sesungguhnya azab dunia lebih ringan ketimbang azab akhirat.
Dan memang kenyataannya adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. itu, karena sesungguhnya azab di dunia itu ada akhirnya, sedangkan azab di akhirat bersifat kekal di dalam neraka. Kerasnya azab neraka bila dibandingkan dengan azab dunia tak terperikan, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
{فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ وَلا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ}
Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa­Nya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. (Al-Fajr: 25-26)
{بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ وَأَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا لا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا وَادْعُوا ثُبُورًا كَثِيرًا قُلْ أَذَلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا}
Dan Kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat. Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka), "Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak.” Katakanlah, "Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa?” Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka. (Al-Furqan: 11-15)
Karena itulah dalam ayat ini disebutkan pada firman selanjutnya:
{مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ}
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa. (Ar-Ra'd: 35)
Yakni gambaran dan ciri khasnya.
{تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ}
ialah (seperti taman); yang mengalir sungai-sungai di dalamnya,. (Ar-Ra'd: 35)
Yaitu sungai-sungai yang mengalir di sekitar daerah dan sisi-sisinya, menuruti apa yang dikehendaki oleh penduduknya. Sungai-sungai itu mengalirkan air surgawi yang berlimpah, dan penduduk surga dapat mengalirkannya ke arah mana yang mereka kehendaki. Makna ayat ini semisal dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:'
{مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ}
(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. (Muhammad: 15), hingga akhir ayat.
*******************
Firman Allah Swt.:
{أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا}
buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). (Ar-Ra'd: 35)
Maksudnya, di dalamnya terdapat buah-buahan, makanan-makanan, dan minuman-minuman yang tiada henti-hentinya dan tidak pernah habis.
Di dalam kitab Sahihain disebutkan hadis Ibnu Abbas tentang masalah salat gerhana matahari, yang di dalamnya antara lain disebutkan bahwa:
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، رَأَيْنَاكَ تَنَاوَلْتَ شَيْئًا فِي مَقَامِكَ هَذَا، ثُمَّ رَأَيْنَاكَ تَكعْكعت فَقَالَ: "إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ -أَوْ: أُرِيتُ الْجَنَّةَ -فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا".
mereka (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, kami melihat engkau meraih sesuatu dari tempatmu itu, kemudian kami lihat engkau mundur." Maka Rasulullah Saw. menjawab: Sesungguhnya aku melihat surga —atau aku melihat surga— lalu aku berniat memetik setangkai anggur darinya. Seandainya aku benar-benar memetiknya, niscaya kalian akan makan sebagian darinya selama dunia ini masih ada.
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أَبُو عَقيل، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ، إِذْ تَقَدَّمُ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَقَدَّمْنَا، ثُمَّ تَنَاوَلَ شَيْئًا لِيَأْخُذَهُ ثُمَّ تَأَخَّرَ. فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ لَهُ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، صَنَعْتَ الْيَوْمَ فِي الصَّلَاةِ شَيْئًا مَا رَأَيْنَاكَ كُنْتَ تَصْنَعُهُ. فَقَالَ: "إِنِّي عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَمَا فِيهَا مِنَ الزَّهْرَةِ وَالنَّضْرَةِ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا قِطْفًا مِنْ عِنَبٍ لِآتِيَكُمْ بِهِ، فَحِيلَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ، وَلَوْ أَتَيْتُكُمْ بِهِ لَأَكَلَ مِنْهُ مِنْ بَيْنِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يَنْقُصونَه".
Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah, telah menceritakan kepada kami Abu Uqail, dari Jabir yang mengatakan, "Ketika kami dalam salat Lohor, tiba-tiba Rasulullah Saw. maju ke depan, kemudian Rasulullah Saw. meraih sesuatu seakan-akan hendak mengambilnya, tetapi setelah itu beliau mundur kembali. Setelah salat selesai, Ubay ibnu Ka'b bertanya kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, pada hari ini engkau telah melakukan sesuatu dalam salat yang belum pernah kami lihat engkau melakukannya sebelum itu.' Maka Rasulullah Saw. menjawab: 'Sesungguhnya surga ditampilkan kepadaku dan semua bunga serta pohonnya yang hijau, maka aku bermaksud hendak memetik setangkai buah anggur darinya untuk diberikan kepada kalian, tetapi antara aku dan buah anggur ada penghalang. Seandainya aku dapat mendatangkannya buat kalian, tentulah semua makhluk yang ada di antara langit dan bumi dapat memakannya tanpa menguranginya'.”
Imam Muslim meriwayatkan melalui hadis Abuz Zubair, dari Jabir yang berkedudukan sebagai syahid (bukti) bagi sebagiannya.
عَنْ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدٍ السُّلَمِيِّ: أَنَّ أَعْرَابِيًّا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْجَنَّةِ، فَقَالَ: فِيهَا عِنَبٌ؟ قَالَ: "نَعَمْ". قَالَ: فَمَا عِظَم الْعُنْقُودِ؟ قَالَ: "مَسِيرَةُ شَهْرٍ لِلْغُرَابِ الْأَبْقَعِ وَلَا يَفْتُرُ"
Dari Atabah ibnu Abdus Salma, disebutkan bahwa ada seorang Badui bertanya kepada Nabi Saw. tentang surga. Ia bertanya, "Apakah di dalam surga ada buah anggur?" Nabi Saw. menjawab, "Ya." Lelaki Badui bertanya, "Sebesar apakah tangkai buah anggurnya?" Rasulullah Saw. menjawab, "Besarnya sama dengan perjalanan satu bulan bagi burung gagak yang hitam legam (bila terbang) tanpa berhenti."
Hadis ini merupakan riwayat Imam Ahmad.
قَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ، حَدَّثَنَا رَيْحَانُ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ مَنْصُورٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلابة، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ، عَنْ ثَوْبان قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا نَزَعَ ثَمَرَةً مِنَ الْجَنَّةِ عَادَتْ مَكَانَهَا أُخْرَى".
Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Madini, telah menceritakan kepada kami Raihan ibnu Sa'id, dari Abbad ibnu Mansur, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Asma, dari Sauban yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya seseorang apabila memetik sebiji buah dari surga, maka tumbuh lagi buah lain yang menggantikan kedudukannya.
Dari Jabir ibnu Abdullah, disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"يَأْكُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ وَيَشْرَبُونَ، وَلَا يَمْتَخِطُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ وَلَا يَبُولُونَ، طَعَامُهُمْ جُشَاء كَرِيحِ الْمِسْكِ، وَيُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّقْدِيسَ كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ".
Penduduk surga makan dan minum tanpa mengeluarkan ingus, tanpa buang air besar dan tanpa buang air kecil, makanan mereka (dikeluarkan melalui) bersendawa yang baunya wangi seperti minyak kesturi, dan mereka diilhami untuk bertasbih dan bertaqdis (menyucikan Allah) sebagaimana mereka diilhami untuk bernapas.
Hadis ini adalah riwayat Imam Muslim.
Imam Ahmad dan Imam Nasai meriwayatkan:
مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ، عَنْ ثُمَامَةَ  بْنِ عُقْبَةَ سَمِعْتُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَقَالَ: يَا أَبَا الْقَاسِمِ، تَزْعُمُ أَنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَأْكُلُونَ وَيَشْرَبُونَ؟ قال: نَعَمْ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، [إِنَّ الرَّجُلَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ] لَيُعْطَى قُوَّةَ مِائَةِ رَجُلٍ فِي الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ وَالشَّهْوَةِ". قَالَ: فَإِنَّ الَّذِي يَأْكُلُ وَيَشْرَبُ تَكُونُ لَهُ الْحَاجَةُ، وَلَيْسَ فِي الْجَنَّةِ أَذًى؟ قَالَ: "حَاجَةُ أَحَدِهِمْ رَشْحٌ يَفِيضُ مِنْ جُلُودِهِمْ، كَرِيحِ الْمِسْكِ، فَيَضْمُرُ بَطْنُهُ".
melalui hadis Al-A'masy, dari Tamam ibnu Uqbah; ia pernah mendengar Zaid ibnu Arqam mengatakan bahwa seorang lelaki dari kalangan ahli kitab pernah datang, lalu bertanya, "Wahai Abul Qasim, engkau menduga bahwa penduduk surga makan dan minum?" Rasulullah Saw. menjawab: Ya, demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya seseorang dari penduduk surga benar-benar diberi kekuatan seratus orang lelaki dalam hal makan, minum, bersetubuh, dan syahwat (berahi). Lelaki ahli kitab bertanya, "Sesungguhnya orang yang makan dan minum itu tentunya akan membuang hajat, sedangkan di dalam surga tidak terdapat kotoran." Rasulullah Saw. menjawab: Hajat seseorang dari mereka berupa keringat yang keluar dari kulit mereka, baunya wangi seperti minyak kesturi, lalu perut mereka mengempes (mengecil). (Riwayat Ahmad dan Nasai)
قَالَ الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ: حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ، عَنْ حُمَيْدٍ الْأَعْرَجِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّكَ لَتَنْظُرُ إِلَى الطَّيْرِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَخِرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ مَشْوِيًّا
Al-Hasan ibnu Arafah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Khalifah, dari Humaid ibnul A'raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepadanya: Sesungguhnya kamu benar-benar memandang seekor burung di surga, maka burung itu jatuh terjungkal di hadapanmu dalam keadaan telah terpanggang (siap untuk dimakan).
Di dalam sebagian hadis disebutkan bahwa apabila seseorang telah memakannya, maka burung panggang itu kembali berujud burung dan terbang seperti sediakala dengan seizin Allah Swt.
{وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ لَا مَقْطُوعَةٍ وَلا مَمْنُوعَةٍ}
dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya. (Al-Waqi'ah: 32-33)
Dan firman Allah Swt.:
{وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلا}
Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. (Al-Insan: 14)
Demikian pula naungannya, tidak pernah hilang dan tidak pernah surut, seperti yang disebutkan dalam firman Allah Swt.:
{وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلا ظَلِيلا}
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai istri-istri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman. (An-Nisa: 57)
Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan sebuah hadis melalui berbagai jalur, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً، يَسِيرُ الرَّاكِبُ الْمُجِدُّ الْجَوَادَ الْمُضَمَّرَ السَّرِيعَ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا"، ثُمَّ قَرَأَ: {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ}
Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara yang tangguh memacu kuda balapnya dengan cepat di bawah naungannya selama seratus tahun (tanpa berhenti) masih belum melampauinya. Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: dan naungan yang terbentang luas. (Al-Waqi'ah: 30)
Allah Swt. sering kali menyebutkan gambaran surga dan neraka secara beriringan, agar surga diingini dan neraka dihindari. Karena itulah setelah Allah menyebut gambaran tentang surga dalam ayat ini, maka Dia mengiringinya dengan firman-Nya:
{تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ}
Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. (Ar-Ra'd: 35)
Sama halnya dengan yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ}
Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga, penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 20)
Bilal ibnu Sa'd—khatib kota Dimasyq—mengatakan dalam salah satu khotbahnya: Hai hamba-hamba Allah, bukankah telah datang kepada kalian juru pewarta yang mewartakan kepada kalian bahwa sesuatu dari ibadah kalian diterima dari kalian atau sesuatu dari kesalahan kalian diampuni bagi kalian? Maka apakah kalian mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Al-Mu’minun: 115) Demi Allah, seandainya disegerakan bagi kalian pahala di dunia, niscaya kalian semua akan malas mengerjakan hal-hal yang difardukan kepada kalian, atau kalian menjadi orang yang cinta taat kepada Allah demi pahala duniawi kalian dan kalian tidak akan bersaing (berlomba) dalam meraih surga. buahnya tak henti-henti. (Ar-Ra'd: 35)
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

{وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنزلَ إِلَيْكَ وَمِنَ الأحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلا أُشْرِكَ بِهِ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ (36) وَكَذَلِكَ أَنزلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا وَاقٍ (37) }
Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebagiannya. Katakanlah, "Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali.” Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.
Firman Allah Swt:
{وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ}
Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka. (Ar-Ra'd: 36)
Mereka adalah orang-orang yang menghidupkan ajaran-ajarannya sesuai dengan apa yang dikandungnya.
{يَفْرَحُونَ بِمَا أُنزلَ إِلَيْكَ}
bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu. (Ar-Ra'd: 36)
Yakni kitab Al-Qur'an yang diturunkan kepadamu, mengingat di dalam kitab-kitab mereka terdapat bukti-bukti yang membenarkannya dan berita gembira tentang kedatangannya. Seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain, yaitu:
{الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ}
Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya (Al-Baqarah: 121), hingga akhir ayat.
Demikian pula dalam ayat berikut ini:
{قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأذْقَانِ سُجَّدًا وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولا}
Katakanlah, "Berimanlah kalian kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). (Al-Isra: 107) sampai dengan firman-Nya: sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” (Al-Isra: 108)
Yakni sesungguhnya apa yang dijanjikan oleh Allah di dalam kitab-kitab kami —menyangkut pengutusan Muhammad Saw.— adalah benar dan pasti terjadi. Mahasuci Allah, alangkah benarnya janji-Nya, bagi-Nya semata segala puji.
{وَيَخِرُّونَ لِلأذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا}
Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk. (Al-Isra: 109)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{وَمِنَ الأحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُ}
dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebagiannya. (Ar-Ra'd: 36)
Artinya, di antara golongan ahli kitab ada sebagian orang yang mengingkari apa yang diturunkan kepadamu.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan di antara golongan-golongan yang bersekutu. (Ar-Ra'd: 36) Yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. ada yang mengingkari sebagiannya. (Ar-Ra'd: 36) Maksudnya, mengingkari sebagian perkara hak yang diturunkan kepadamu.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.
Hal ini sama dengan yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنزلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ}
Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah. (Ali Imran: 199), hingga akhir ayat.
Allah Swt. berfirman:
{قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلا أُشْرِكَ بِهِ}
Katakanlah, "Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia.” (Ar-Ra'd: 36) .
Yakni sesungguhnya aku diutus untuk menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagaimana para rasul sebelumku diutus membawa ajaran yang sama.
{إِلَيْهِ أَدْعُو}
"Hanya kepada-Nya aku seru (manusia)." (Ar-Ra'd: 36)
Artinya, hanya ke jalan-Nya aku menyeru umat manusia.
{وَإِلَيْهِ مَآبِ}
"dan hanya kepada-Nya aku kembali.” (Ar-Ra'd: 36)
Yaitu kembali dan berpulangku.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَكَذَلِكَ أَنزلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا}
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. (Ar-Ra'd: 37)
Yakni sebagaimana Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum kamu dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab dari langit, begitu pula Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an sebagai peraturan dengan berbahasa Arab; yang dengannya Kami muliakan engkau dan Kami lebihkan engkau di atas selainmu, berkat kitab Al-Qur'an yang jelas lagi terang ini.
{لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنزيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ}
Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur'an) kebatilan, baikdari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. (Fushshilat: 42)
Firman Allah Swt.:
{وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ}
Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka. (Ar-Ra'd: 37)
Yakni jika kamu mengikuti pendapat-pendapat mereka.
{بَعْد مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ}
setelah datang pengetahuan kepadamu. (Ar-Ra'd: 37)
Yaitu pengetahuan dari Allah Swt.
{مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا وَاقٍ}
maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Ar-Ra'd: 37)
Hal ini mengandung ancaman yang ditujukan kepada orang-orang yang berpengetahuan, agar jangan mengikuti jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat, sesudah mereka berjalan di atas jalan yang benar, yaitu sunnah nabawi dan hujah yang jelas yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw.
{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ (38) يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ (39) }
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).
Allah Swt. menyebutkan bahwa sebagaimana Kami telah mengutusmu, hai Muhammad, sebagai seorang rasul dan kamu seorang manusia, begitu pula Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum kamu dari kalangan manusia; mereka makan makanan, berjalan di pasar-pasar, dan beristri serta mempunyai anak. dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. (Ar-Ra'd: 38)
Allah Swt. telah berfirman kepada rasul-Nya yang paling utama dan yang menjadi penutup para rasul:
{قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ}
Katakanlah, "Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku.” (Al-Kahfi: 110)
Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"أَمَّا أَنَا فَأَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأَقُومُ وَأَنَامُ، وَآكُلُ الدَّسَمَ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي"
Adapun aku berpuasa dan berbuka, berdiri (salat) dan tidur, makan daging dan mengawini wanita. Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnah (tuntunanku), dia bukan termasuk golonganku.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ، أَنْبَأَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ أَرْطَاةَ عَنْ مَكْحُولٍ قَالَ: قَالَ أَبُو أَيُّوبَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ: التَّعَطُّرُ، وَالنِّكَاحُ، وَالسِّوَاكُ، وَالْحِنَّاءُ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaj ibnu Artah, dari Mak-hul yang mengatakan bahwa Abu Ayyub pernah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ada empat perkara yang termasuk sunnah para rasul, yaitu memakai wewangian, nikah, bersiwak, dan memakai pacar.
Abu Isa At-Turmuzi telah meriwayatkannya melalui Sufyan ibnu Waki', dari Hafis ibnu Gailan, dari Al-Hajjaj, dari Mak-hul, dari Abusy Syimal, dari Abu Ayyub, kemudian ia menyebutkan hadis ini. Dan ia (Turmuzi) mengatakan bahwa hadis ini lebih sahih daripada hadis yang di dalam sanadnya tidak disebut Abusy Syimal.
Firman Allah Swt.:
{وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ}
Dan tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. (Ar-Ra'd: 38)
Artinya, tidaklah seorang rasul mendatangkan kepada kaumnya sesuatu hal yang bertentangan dengan hukum alam (mukjizat) melainkan dengan seizin Allah, bukan atas kehendaknya sendiri. Segalanya diserahkan kepada Allah. Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya dan memutuskan apa yang disukai-Nya.
{لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ}
Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu). (Ar-Ra'd: 38)
Yakni bagi tiap masa tertentu ada kitab yang mencatat batas akhirnya. Segala sesuatu ada batasannya yang ditentukan di sisi-Nya.
{أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالأرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ}
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuz)? Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (Al-Hajj: 70)
Ad-Dahhak ibnu Muzahim mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu). (Ar-Ra'd: 38) Yakni bagi tiap kitab ada batas masanya.  Dengan kata lain, tiap kitab yang diturunkan dari langit ada batasan masa yang telah ditentukan di sisi Allah dan ada batas masa berlakunya. Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki. (Ar-Ra'd: 39)  darinya (kitab-kitab itu). dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). (Ar-Ra'd: 39) sehingga semuanya di-mansukh oleh Al-Qur'an yang Dia turunkan kepada Rasulullah Saw.
Mengenai makna firman Allah Swt. yang mengatakan:
{يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ}
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). (Ar-Ra'd: 39)
Ulama tafsir berselisih pendapat mengenai penafsirannya.
As-Sauri, Waki', dan Hasyim telah meriwayatkan dari Ibnu Abu Laila, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Allah-lah yang mengatur urusan sunnah (hukum). Maka Dia menghapuskan apa yang dikehendaki-Nya, terkecuali nasib celaka, nasib bahagia, hidup, dan mati.
Di dalam riwayat lain sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). (Ar-Ra'd: 39) Disebutkan bahwa segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk dihapus, Dia menghapusnya, kecuali mati, hidup, celaka, dan bahagia; karena sesungguhnya urusan tersebut telah diselesaikan oleh-Nya.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). (Ar-Ra'd: 39) Kecuali hidup, mati, celaka, dan bahagia; hal tersebut tidak berubah.
Mansur mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Mujahid tentang doa seseorang seperti berikut: "Ya Allah, jika namaku berada dalam golongan orang-orang yang berbahagia, maka tetapkanlah namaku itu di antara mereka. Dan jika namaku berada dalam golongan orang-orang yang celaka, maka hapuskanlah namaku dari golongan mereka, dan jadikanlah namaku termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia." Maka Mujahid menjawab, "Baik." Kemudian Mansur menjumpainya lagi setahun kemudian atau lebih, dan ia menanyakan pertanyaan yang sama kepada Mujahid. Maka Mujahid membacakan firman-Nya: Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati. (Ad-Dukhan: 3), hingga akhir dua ayat berikutnya. Kemudian Mujahid berkata bahwa Allah memberikan ketetapan dalam malam yang diberkati segala sesuatu yang akan terjadi dalam masa satu tahun menyangkut masalah rezeki atau musibah. Kemudian Dia men­dahulukan apa yang Dia kehendaki dan menangguhkan apa yang Dia kehendaki. Adapun mengenai ketetapan-Nya tentang kebahagiaan dan kecelakaan, maka hal ini telah ditetapkan-Nya dan tidak akan diubah lagi.
Al-A'masy telah meriwayatkan dari Abu Wa'il (yaitu Syaqiq ibnu Salamah) bahwa dia sering sekali mengucapkan doa berikut: "Ya Allah, jikalau Engkau telah mencatat kami termasuk orang-orang yang celaka, maka sudilah kiranya Engkau menghapusnya, dan catatlah kami ke dalam golongan orang-orang yang bahagia. Dan jika Engkau telah mencatat kami ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia, maka tetapkanlah keputusan itu. Karena sesungguhnya Engkau menghapuskan apa yang Engkau kehendaki dan menetapkan apa yang engkau kehendaki, di sisi­Mu terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz)." Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.
Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Abu Hakimah Ismah, dari Abu Usman An-Nahdi, bahwa Umar ibnul Khattab r.a. mengucapkan doa berikut dalam tawafnya di Baitullah seraya menangis: Ya Allah, jika Engkau telah mencatat nasibku celaka atau berdosa, maka hapuskanlah, karena sesungguhnya Engkau menghapuskan apa yang Engkau kehendaki dan menetapkan apa yang Engkau kehendaki; dan di sisi-Mu terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz), maka jadikanlah (catatan nasibku) bahagia dan mendapat ampunan.
Hammad telah meriwayatkan dari Khalid Al-Hazza, dari Abu Qilabah, dari Ibnu Mas'ud r.a., bahwa dia pun membaca doa tersebut. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Syarik, dari Hilal ibnu Humaid, dari Abdullah ibnu Alim, dari Ibnu Mas'ud.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Khassaf, dari Abu Hamzah, dari Ibrahim, bahwa Ka'b berkata kepada Umar ibnul Khattab, "Wahai Amirul Mukminin, seandainya tidak ada suatu ayat dalam Kitabullah (Al-Qur'an), tentulah aku akan menceritakan kepadamu apa yang akan terjadi sampai hari kiamat." Umar ibnul Khattab bertanya, "Ayat apakah itu?" Ka'b menjawab bahwa ayat tersebut adalah firman Allah Swt. yang mengatakan: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki. (Ar-Ra'd: 39), hingga akhir ayat.
Pengertian semua pendapat di atas menyimpulkan bahwa takdir itu dapat dihapus oleh Allah menurut apa yang Dia kehendaki darinya, dan Dia menetapkan apa yang Dia kehendaki darinya.
Pendapat ini barangkali berpegang kepada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa:
حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، وَهُوَ الثَّوْرِيُّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي الجَعْد، عَنْ ثَوْبَان قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إن الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبه، وَلَا يَرُدُّ القَدَر إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ".
telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Sufyan (yaitu As-Sauri), dari Abdullah ibnu Isa, dari Abdullah ibnu Abul Ja'd, dari Sauban yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya seorang lelaki benar-benar terhalang dari rezekinya disebabkan dosa yang dikerjakannya, dan tiada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah usia kecuali perbuatan baik.
Imam Nasai dan Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama. Di dalam hadis sahih telah disebutkan bahwa silaturahmi menambah usia. Di dalam hadis lainnya disebutkan:
"إِنَّ الدُّعَاءَ وَالْقَضَاءَ لَيَعْتَلِجَانِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ"
Sesungguhnya doa dan qada (takdir), kedua-duanya benar-benar saling tolak menolak di antara langit dan bumi.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sahl ibnu Askar, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jarir, dari Ata, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Allah mempunyai Lauh Mahfuz yang besarnya sejauh perjalanan lima ratus tahun, terbuat dari batu permata (intan) putih yang mempunyai dua penyanggah terbuat dari yaqut. Setiap hari Allah memeriksanya sebanyak tiga ratus enam puluh kali periksaan. Dia menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang dikehendaki, di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab. '
Al-Lais ibnu Sa'd telah meriwayatkan dari Ziyad ibnu Muhammad, dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dari Fudalah ibnu Ubaid, dari Abu Darda yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
" [إن الله] يَفْتَحُ الذِّكْرَ فِي ثَلَاثِ سَاعَاتٍ يَبْقَيْنَ مِنَ اللَّيْلِ، فِي السَّاعَةِ الْأُولَى مِنْهَا يَنْظُرُ فِي الذِّكْرِ الَّذِي لَا يَنْظُرُ فِيهِ أَحَدٌ غَيْرُهُ، فَيَمْحُو مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ"
Az-Zikr (Lauh Mahfuz) dibuka pada saat malam hari tinggal tiga jam lagi. Pada jam yang pertama dilakukan pemeriksaan oleh Allah padanya yang tiada seorang pun melihat pemeriksaan itu selain Dia, maka Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. hingga akhir hadis, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Al-Kalbi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). (Ar-Ra'd: 39) Bahwa Allah menghapuskan sebagian dari rezeki dan menambahkannya, dan Dia menghapuskan sebagian dari ajal (usia) dan menambahkannya. Ketika ditanyakan kepadanya, "Siapakah yang menceritakan hal itu kepadamu?" Al-Kalbi menjawab bahwa yang menceritakannya adalah Abu Saleh, dari Jabir ibnu Abdullah ibnu Rabbab, dari Nabi Saw. Sesudah itu ia ditanya mengenai makna ayat ini, maka ia menjawab, "Allah mencatat semua keputusan. Apabila hari Kamis, maka dibiarkanlah sebagian darinya segala sesuatu yang tidak mengandung pahala, tidak pula siksaan. Seperti ucapanmu, 'Saya makan, saya minum, saya masuk, saya keluar, dan lain sebagainya,' yang menyangkut pembicaraan, sedangkan pembicaraan itu benar. Dan Dia menetapkan apa yang ada pahalanya serta apa yang ada sanksi siksaannya."
Ikrimah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Kitab itu ada dua, yaitu Kitab (catatan) yang Allah menghapuskan sebagian darinya menurut apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki darinya, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetap­kan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz). (Ar-Ra'd: 39) Hal ini menyangkut perihal seseorang yang melakukan amal ketaatan selama suatu masa, kemudian ia kembali mengerjakan perbuatan maksiat kepada Allah, lalu ia mati dalam keadaan sesat, maka hal inilah yang dihapuskan. Dan yang ditetapkan ialah perihal seseorang yang mengerja­kan kemaksiatan kepada Allah, tetapi telah ditetapkan baginya kebaikan hingga ia mati, sedangkan dia dalam keadaan taat kepada Allah. Maka dialah yang ditetapkan oleh Allah.
Tetapi telah diriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair, bahwa makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}
Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah: 284)
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). (Ar-Ra'd: 39) Allah mengganti apa yang Dia kehendaki, maka Dia menghapuskannya; dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, maka Dia tidak menggantinya. dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz). (Ar-Ra'd: 39) Kesimpulan maknanya ialah 'di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab yang di dalamnya terkandung hal yang dihapuskan, hal yang diganti, dan hal yang ditetapkan'.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). (Ar-Ra'd: 39) Ayat ini semakna dengan firman-Nya dalam ayat yang lain:
{مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا}
Ayat apa saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya. (Al-Baqarah: 106), hingga akhir ayat.
Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). (Ar-Ra'd: 39) Bahwa orang-orang kafir Quraisy, ketika ayat berikut ini diturunkan: Dan tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. (Ar-Ra'd: 38) Mereka berkata, "Sekarang kita tidak melihat Muhammad memiliki suatu kemampuan pun. Sesungguhnya dia tidak berdaya." Maka turunlah ayat ini sebagai ancaman dan peringatan terhadap mereka. Dengan kata lain, disebutkan bahwa sesungguhnya bila Kami menghendaki, tentulah Kami mengadakan baginya sebagian dari urusan Kami menurut apa yang Kami kehendaki. Dan Allah menetapkan pada bulan Ramadan (ketetapan-Nya), maka Dia menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan rezeki-rezeki manusia serta musibah-musibah mereka, dan semua yang Dia berikan dan yang Dia bagikan buat mereka.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan. (apa yang Dia kehendaki). (Ar-Ra'd: 39) Bahwa barang siapa yang ajalnya telah datang, maka ia dimatikan, dan Allah menetapkan kehidupan bagi orang yang ditetapkan-Nya masih hidup hingga sampai pada ajalnya. Pendapat ini dipilih oleh Abu Ja'far ibnu Jarir rahimahullah.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ}
dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz). (Ar-Ra'd: 39)
Maksudnya, perkara halal dan perkara haram.
Sedangkan menurut Qatadah, makna yang dimaksud ialah keseluruhan Kitab dan pokoknya.
Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab. (Ar-Ra'd: 39) bahwa yang dimaksud ialah Kitab yang ada di sisi Tuhan semesta alam.
Sunaid ibnu Daud mengatakan, telah menceritakan kepadaku Mu'tamir, dari ayahnya, dari Yasar, dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah bertanya kepada Ka'b tentang makna Ummul Kitab. Maka Ka'b menjawab, "Ummul Kitab ialah ilmu Allah tentang apa yang Dia ciptakan dan apa yang diperbuat oleh ciptaan-Nya. Kemudian Allah berfirman kepada ilmu-Nya, 'Jadilah engkau sebuah Kitab.' Maka jadilah ia sebuah Kitab.
Ibnu Juraij mengatakan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab. (Ar-Ra'd: 39) Bahwa yang dimaksud ialah Az-Zikr (Al-Qur'an).


{وَإِنْ مَا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ (40) أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (41) }
Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampai­kan saja, sedangkan Kamilah yang menghisab amalan mereka. Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dialah Yang Mahacepat hisab-Nya.
Allah Swt. berfirman kepada Rasul-Nya:
{وَإِنْ مَا نُرِيَنَّكَ}
Dan jika Kami perlihatkan kepadamu. (Ar-Ra'd: 40)
hai Muhammad, sebagian dari kehinaan dan pembalasan yang telah Kami siapkan buat musuh-musuhmu di dunia.
{أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ}
atau Kami wafatkan kamu. (Ar-Ra'd: 40)
sebelum itu.
{فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ}
karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja. (Ar-Ra'd: 40)
Yakni sesungguhnya Kami mengutusmu hanyalah untuk menyampaikan kepada mereka risalah Allah, dan engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu.
{وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ}
sedangkan Kamilah yang menghisab. (Ar-Ra'd: 40)
Yaitu menghisab amalan mereka dan membalasnya. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ إِلا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الأكْبَرَ إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ}
Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka. (Al-Gasyiyah: 21-26)
*******************
Firman Allah Swt.:
{أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا}
Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami men­datangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? (Ar-Ra'd: 41)
Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksudnya adalah 'tidakkah mereka (orang-orang kafir itu) melihat bahwa Kami memberikan kemenangan kepada Muhammad Saw. melalui penaklukan yang dilakukannya daerah demi daerah?'. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa maksudnya 'apakah mereka tidak melihat kepada negeri itu yang dibinasakan, sedangkan di daerah yang lainnya terjadi keramaian?'.
Mujahid dan Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit), dari tepi-tepinya? (Ar-Ra'd: 41) Yakni kerusakannya.
Menurut Al-Hasan dan Ad-Dahhak, makna yang dimaksud ialah kemenangan kaum muslim atas orang-orang musyrik.
Ibnu Abbas —menurut riwayat Al-Aufi— menyebutkan bahwa makna yang dimaksud ialah berkurangnya penduduk daerah itu dan berkurangnya keberkatan daerah tersebut.
Menurut Mujahid, makna yang dimaksud ialah berkurangnya jiwa, hasil buah-buahan, dan rusaknya daerah itu.
Asy-Sya'bi mengatakan, "Jika yang berkurang itu adalah daerahnya, tentulah kamu akan merasakan bahwa bumi semakin sempit bagimu. Tetapi yang berkurang ialah jiwa penduduknya dan hasil buah-buahannya."
Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah. Ikrimah mengatakan, "Seandainya yang dikurangi itu adalah buminya, tentulah kamu tidak dapat menemukan suatu tempat pun buat kamu duduk (tinggal)," tetapi makna yang dimaksud ialah kematian.
Menurut suatu riwayat, Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah rusaknya daerah-daerah itu dengan kematian ulama, ahli fiqih, dan ahli kebaikannya.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, bahwa makna yang dimaksud ialah meninggalnya ulamanya.
Sehubungan dengan pengertian ini Al-Hafiz Ibnu Asakir telah mengatakan dalam biografi Ahmad ibnu Abdul Aziz Abul Qasim Al-Masri (seorang pemberi wejangan penduduk Asbahan) bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Talhah ibnu Asad Al-Murri di Dimasyq, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Ajari di Mekah, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Namzal syair berikut yang ia tujukan bagi dirinya sendiri: Bumi menjadi hidup selagi orang alimnya hidup. Bilamana ada seorang alim darinya yang mati, maka matilah sebagian dari daerahnya. Perihalnya sama dengan bumi yang tetap hidup selagi hujan masih menyiraminya; dan jika hujan tidak menyirami­nya, maka akan terjadi kerusakan pada daerah-daerahnya (yang tidak tersirami hujan).
Pendapat pertamalah yang paling utama, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah kemenangan agama Islam atas kemusyrikan daerah demi daerah. Makna ayat ini semisal dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَى}
Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu. (Al-Ahqaf: 27), hingga akhir ayat.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

{وَقَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلِلَّهِ الْمَكْرُ جَمِيعًا يَعْلَمُ مَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ وَسَيَعْلَمُ الْكُفَّارُ لِمَنْ عُقْبَى الدَّارِ (42) }
Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.
Firman Allah Swt.:
{وَقَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ}
Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya. (Ar-Ra'd: 42)
Yaitu terhadap rasul-rasul mereka, dan mereka menginginkan agar rasul-rasul itu disingkirkan dari negeri mereka. Maka Allah membalas tipu daya mereka itu dan menjadikan akibat yang terpuji (baik) bagi orang-orang yang bertakwa. Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:
{وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ}
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Al-Anfal: 30)
{وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا} الْآيَةَ
Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedangkan mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka.(An-Naml: 50-52)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{يَعْلَمُ مَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ}
Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri. (Ar-Ra'd: 42)
Artinya, Allah Swt. mengetahui semua rahasia dan apa yang tersimpan di dalam hati, dan kelak Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya.
{وَسَيَعْلَمُ الْكَافِرُ}
dan orang-orang kafir akan mengetahui. (Ar-Ra'd: 42)
Menurut qiraat lain disebutkan al-kuffar dalam bentuk jamak, bukan al-kafir.
{لِمَنْ عُقْبَى الدَّارِ}
untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu. (Ar-Ra'd: 42)
Yakni bagi siapa kemenangan itu, apakah bagi mereka atau bagi pengikut para rasul. Tidak, bahkan kemenangan dan akibat yang terpuji di dunia dan akhirat hanyalah bagi pengikut para rasul. Hanya bagi Allah-lah segala puji.

{وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلا قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ (43) }
Berkatalah orang-orang kafir, "Kamu bukan seorang yang dijadikan rasul.” Katakanlah, "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kalian dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab."
Allah berfirman, bahwa orang-orang kafir itu mendustakanmu (Muhammad) dan mereka mengatakan:
{لَسْتَ مُرْسَلا}
Kamu bukan seorang yang dijadikan rasul. (Ar-Ra'd: 43)
Artinya, Allah tidaklah menjadikanmu sebagai seorang rasul.
{قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ}
Katakanlah, "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kalian. (Ar-Ra'd: 43)
Yakni cukuplah Allah sebagai saksi antara aku dan kalian yang menyaksikan atas diriku terhadap apa yang aku sampaikan dari risalah­Nya; dan menjadi saksi atas kalian, hai orang-orang yang berdusta dalam ucapannya, apa yang kalian buat-buat itu adalah kedustaan belaka.
Firman Allah Swt.:
{وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ}
dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab.” (Ar-Ra'd: 43)
Menurut suatu pendapat, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Salam, menurut Mujahid. Tetapi pendapat ini dinilai garib, mengingat ayat ini adalah ayat Makkiyyah, sedangkan Abdullah ibnu Salam hanya baru masuk Islam setelah Nabi Saw. tiba di Madinah.
Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah yang dikemukakan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa mereka adalah sebagian dari kalangan pemeluk agama Yahudi dan Nasrani. Qatadah menegaskan bahwa di antara mereka adalah Ibnu Salam, Salman, dan Tamim Ad-Dari.
Dalam suatu riwayat yang bersumberkan darinya Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Allah Swt. Disebutkan bahwa Sa'id ibnu Jubair mengingkari bila makna yang dimaksud oleh ayat ini adalah Abdullah ibnu Salam, dengan alasan bahwa ayat ini Makkiyyah. Dan ia membaca ayat ini: dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab. (Ar-Ra'd: 43) Lalu ia mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah ilmu dari sisi Allah. Bacaan yang sama dikemukakan oleh Mujahid dan Al-Hasan Al-Basri.
Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui hadis Harun Al-A'war, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw. membaca ayat ini dengan bacaan: dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab. (Ar-Ra'd: 43)
Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa hadis ini tidak ada pokoknya melalui riwayat Az-Zuhri di kalangan para perawi yang siqah.
Menurut kami, hadis ini telah diriwayatkan oleh Abu Ya'la di dalam kitab Musnad-nya melalui jalur Harun ibnu Musa melalui Sulaiman ibnu Arqam — sedangkan dia berpredikat daif—, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya secara marfu' pula, tetapi masih belum kuat.
Pendapat yang benar sehubungan dengan masalah ini ialah yang mengatakan bahwa firman-Nya: dan antara orang yang mempunyai. (Ar-Ra'd: 43)
Lafaz min adalah isim jinis yang pengertiannya mencakup ulama ahli kitab yang menjumpai sifat Nabi Muhammad dan ciri khasnya dalam kitab-kitab mereka yang terdahulu melalui berita-berita gembira yang diwartakan oleh para nabi. Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:
{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ} الْآيَةَ
dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Yaitu), orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil. (Al-A'raf: 156-157)
{أَوَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ آيَةً أَنْ يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ}
Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya? (Asy-Syu'ara: 197), hingga akhir ayat.
Demikian pula dalam ayat-ayat lainnya yang semisal yang di dalamnya disebutkan berita tentang ulama Bani Israil, bahwa mereka mengetahui hal tersebut melalui kitab-kitab suci mereka. Telah disebutkan pula di dalam hadis mengenai para rahib yang diriwayatkan melalui Abdullah ibnu Salam, bahwa ia telah masuk Islam di Mekah sebelum hijrah.
Al-Hafiz Abu Na'im Al-Asbahani di dalam kitab Dalailun Nubuwwah (yaitu sebuah kitab yang besar) menyebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad At-Tabrani, telah menceritakan kepada kami Abdan ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Musaffa, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, dari Muhammad ibnu Hamzah ibnu Yusuf ibnu Abdullah ibnu Salam, dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Abdullah ibnu Salam), bahwa ia pernah berkata kepada para rahib Yahudi, "Sesungguhnya aku bermaksud memperbaharui perjanjian di masjid bapak kami, Ibrahim dan Ismail." Maka berangkatlah Ibnu Salam menuju tempat Rasulullah Saw. yang saat itu masih berada di Mekah. Ibnu Salam menjumpai orang-orang baru pulang dari menunaikan ibadah haji, dan ia menjumpai Rasulullah Saw. di Mina. Saat itu beliau sedang dikelilingi oleh banyak orang. Maka ia ikut bergabung bersama orang-orang itu.
Ketika Rasulullah Saw. melihatnya, beliau bertanya, "Apakah kamu yang bernama Abdullah ibnu Salam?" Ia menjawab, "Ya." Rasulullah Saw. bersabda, "Mendekatlah kamu." Ibnu Salam mendekat kepada Rasulullah Saw., kemudian Rasulullah Saw. bersabda, "Saya mau ber­tanya kepadamu dengan nama Allah, hai Abdullah ibnu Salam. Bukankah kamu menjumpai di dalam kitab Taurat nama Rasulullah?" Ibnu Salam balik bertanya, "Ceritakanlah tentang Tuhan kita!" Rasulullah Saw. pada saat itu juga kedatangan Malaikat Jibril yang langsung berdiri di hadapannya. Lalu Malaikat Jibril menyampaikan firman Allah Swt.: Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Al-Ikhlas: 1-2), hingga akhir surat.
Kemudian Rasulullah Saw. membacakan surat Al-Ikhlas itu kepada Abdullah ibnu Salam Setelah itu Ibnu Salam berkata, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah." Setelah peristiwa itu Abdullah ibnu Salam kembali ke Madinah dan menyembunyikan keislamannya.
Ketika Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah, Abdullah ibnu Salam sedang berada di atas pohon kurma, memetik buahnya. Maka setelah mendengar berita itu ia menjatuhkan dirinya dari atas pohon kurma.
Ibunya berkata, "Ya Allah, apa yang engkau lakukan ini? Seandainya yang datang itu adalah Musa ibnu Imran, tidaklah layak bagimu menjatuhkan dirimu dari puncak pohon kurma itu." Abdullah ibnu Salam menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya aku lebih gembira dengan kedatangan Rasulullah Saw. ketimbang Musa ibnu Imran saat dia diutus." Hadis ini berpredikat garib sekali.
Demikianlah akhir dari tafsir surat Ar-Ra'd, segala puji bagi Allah Swt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar