{فَلَمَّا
جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا لَوْلا أُوتِيَ مِثْلَ مَا أُوتِيَ
مُوسَى أَوَلَمْ يَكْفُرُوا بِمَا أُوتِيَ مُوسَى مِنْ قَبْلُ قَالُوا سِحْرَانِ
تَظَاهَرَا وَقَالُوا إِنَّا بِكُلٍّ كَافِرُونَ (48) قُلْ فَأْتُوا بِكِتَابٍ مِنْ
عِنْدِ اللَّهِ هُوَ أَهْدَى مِنْهُمَا أَتَّبِعْهُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (49)
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ
اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (50) }{وَلَقَدْ وَصَّلْنَا لَهُمُ
الْقَوْلَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (51) }
Maka tatkala datang kepada mereka kebenaran
dari sisi Kami, mereka berkata, "Mengapakah tidak diberikan kepadanya
(Muhammad) seperti yang telah
diberikan kepada Musa dahulu?” Dan bukankah mereka- itu telah ingkar (juga)
kepada apa yang diberikan kepada Musa dahulu? Mereka dahulu telah berkata,
"Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang bantu-membantu.” Dan mereka
(juga) berkata, "Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka
itu.” Katakanlah, "Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab
itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan
Al-Qur'an) niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang
benar.” Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa
sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan
siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan
tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Dan sesungguhnya telah Kami turunkan
berturut-turut perkataan ini (Al-Qur'an) kepada mereka agar mereka
mendapat pelajaran.Allah Swt. berfirman, menceritakan perihal kaum yang seandainya mereka diazab sebelum tegaknya hujah atas diri mereka, tentulah mereka akan beralasan bahwa belum pernah datang kepada mereka seorang rasul pun. Namun ketika datang kebenaran dari sisi Allah melalui lisan Nabi Muhammad Saw., mereka mengatakan dengan nada membangkang, ingkar, kafir, bodoh, dan tidak percaya kepada Allah:
{لَوْلا
أُوتِيَ مِثْلَ مَا أُوتِيَ مُوسَى}
Mengapakah tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah
diberikan kepada Musa dahulu? (Al-Qashash: 48), hingga akhir ayat.Mereka bermaksud —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— mukjizat-mukjizat yang cukup banyak yang diberikan oleh Allah kepada Musa a.s., seperti tongkat, tangan yang bersinar, banjir, belalang, kutu, katak, darah, dan paceklik karena kurang pangan dan buah-buahan yang menyulitkan musuh-musuh Allah. Juga seperti terbelahnya laut, dinaungi oleh awan ke mana pergi, diturunkannya manna dan salwa serta mukjizat-mukjizat lainnya yang jelas dan hujah-hujah yang mengalahkan musuh, yang semuanya itu diberikan oleh Allah Swt. kepada Musa a.s. sebagai hujah dan bukti kebenarannya terhadap Fir'aun dan pembesar-pembesar kerajaannya, juga terhadap kaumnya sendiri (yaitu Bani Israil). Sekali pun demikian, Musa a.s. tidak memperoleh keberhasilan terhadap Fir'aun dan pembesar-pembesar kaumnya, bahkan mereka kafir kepada Musa dan Harun, sebagaimana yang tersirat dari jawaban mereka yang disitir oleh firman Allah Swt.:
{أَجِئْتَنَا
لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا
الْكِبْرِيَاءُ فِي الأرْضِ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِينَ}
Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami
dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai
kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua. (Yunus:
78)Dan firman Allah Swt.:
{فَكَذَّبُوهُمَا
فَكَانُوا مِنَ الْمُهْلَكِينَ}
Maka (tetaplah) mereka mendustakan keduanya, sebab itu mereka
adalah termasuk orang-orang yang dibinasakan. (Al-Mu-minun: 48)Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{أَوَلَمْ
يَكْفُرُوا بِمَا أُوتِيَ مُوسَى مِنْ قَبْلُ}
Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang
diberikan kepada Musa dahulu? (Al-Qashash: 48)Maksudnya, bukankah manusia dahulu ingkar kepada ayat-ayat yang besar yang disampaikan oleh Musa a.s.
{قَالُوا
سِحْرَانِ تَظَاهَرَا}
mereka dahulu telah berkata, "Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang
bantu-membantu.” (Al-Qashash: 48)Yakni dua orang tukang sihir yang saling bantu-membantu.
{وَقَالُوا
إِنَّا بِكُلٍّ كَافِرُونَ}
dan mereka berkata (juga), "Sesungguhnya kami tidak mempercayai
masing-masing mereka itu.” (Al-Qashash: 48)yakni terhadap Musa dan Harun kami tidak percaya. Dan mengingat kedekatan keduanya hingga boleh dikata tidak pernah berpisah di antara keduanya, maka dengan menyebut salah seorang dari keduanya berarti yang lain terbawa, sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair berikut:
فمَا
أدْري إذَا يَمَّمْتُ أرْضًا ...
أريدُ الخَيْرَ أيهُمَا يَليني ...
Apabila aku melangkah ke sebuah
negeri, aku tidak tahu takdir baikkah yang akan kudapatkan ataukah yang
lain.
Yakni aku tidak tahu takdir baik atau burukkah yang bakal menimpaku. Mujahid mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menyarankan kepada kaum Quraisy untuk mengatakan kepada Muhammad kalimat tersebut. Maka Allah berfirman: Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang diberikan kepada Musa dahulu?; mereka dahulu telah berkata, "Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang saling membantu." (Al-Qashash: 48) Yang dimaksud dengan saling membantu adalah keduanya saling membantu dan menolong untuk melakukan sihir, yang satu membenarkan yang lain.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Sa'id ibnu Jubair dan Abu Razin sehubungan dengan firman-Nya, sahirani yakni Musa dan Harun keduanya tukang sihir. Pendapat ini berpredikat jayid alias baik. Hanya Allah yang lebih mengetahui.
Muslim ibnu Yasir telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Mereka berkata, "Keduanya adalah dua ahli sihir yang saling membantu." (Al-Qashash: 48) Yakni yang mereka maksudkan adalah Musa a.s. dan Muhammad Saw. Demikianlah menurut riwayat Al-Hasan Al-Basri.
Al-Hasan dan Qatadah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan keduanya adalah Isa a.s. dan Muhammad Saw. Akan tetapi, pendapat ini jauh dari kebenaran, mengingat Isa tidak disebut dalam kontek ayat ini. Hanya Allah yang lebih mengetahui.
Adapun menurut ulama yang membaca sihrani tazahara, menurut Ali ibnu Abu Talhah dan Al-Aufi dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa yang dimaksud adalah Taurat dan Al-Qur'an.
Hal yang serupa dikatakan oleh Asim Al-Jundi, As-Saddi dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam As-Saddi mengatakan bahwa masing-masing dari kedua kitab itu membenarkan yang lain.
Ikrimah mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Taurat dan Injil, menurut riwayat yang dikemukakan dari Abu Zar'ah; dan dipilih oleh Ibnu Jarir.
Ad-Dahhak dan Qatadah mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Injil dan Al-Qur'an. Hanya Allah yang lebih mengetahui.
Menurut pengertian lahiriah dari qiraat sihrani adalah Taurat dan Al-Qur'an, sebab dalam firman selanjutnya disebutkan:
{قُلْ
فَأْتُوا بِكِتَابٍ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ هُوَ أَهْدَى مِنْهُمَا
أَتَّبِعْهُ}
Katakanlah.”Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab
itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan
Al-Qur'an) niscaya aku mengikutinya. (Al-Qashash: 49)Dan sering sekali Allah menyebutkan secara bergandengan antara kitab Taurat dan kitab Al-Qur'an, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{قُلْ
مَنْ أَنزلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى نُورًا وَهُدًى
لِلنَّاسِ}
Katakanlah, "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa
oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia?" (Al-An'am: 91)sampai dengan firman-Nya:
{وَهَذَا
كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ مُبَارَكٌ}
Dan ini (Al-Qur'an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang
diberkati. (Al-An'am: 92)Dan di akhir surat Al-An'am disebutkan oleh firman-Nya:
{ثُمَّ
آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ تَمَامًا عَلَى الَّذِي أَحْسَنَ}
Kemudian Kami telah memberikan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa untuk
menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan.
(Al-An'am: 154), hingga akhir ayat.Dan firman Allah Swt.:
{وَهَذَا
كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُونَ}
Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka
ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (Al-An'am: 155)Jin dalam surat Al-Ahqaf mengatakan, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya:
{إِنَّا
سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ
}
sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur'an) yang telah
diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya.
(Al-Ahqaf: 30)Waraqah ibnu Naufal telah mengatakan, "Malaikat (Jibril) inilah yang pernah diturunkan kepada Musa." Dan merupakan hal yang telah dimaklumi secara daruri bagi semua orang yang berakal, bahwa Allah Swt. tidaklah menurunkan suatu kitab dari langit di antara kitab-kitab yang Dia turunkan kepada nabi-nabi-Nya dalam bentuk yang lebih sempurna, lebih mencakup, lebih fasih, lebih besar, dan lebih mulia selain dari Al-Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Sesudah itu dalam hal tingkatan kemuliaan dan kebesarannya adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s., yaitu kitab yang disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:
{إِنَّا
أَنزلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ
الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأحْبَارُ بِمَا
اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ}
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada)
petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan
perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh
orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka
diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya.
(Al-Maidah: 44)Sedangkan kitab Injil diturunkan hanyalah untuk menyempurnakan kitab Taurat dan menghalalkan sebagian dari apa yang diharamkan atas kaum Bani Israil. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{قُلْ
فَأْتُوا بِكِتَابٍ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ هُوَ أَهْدَى مِنْهُمَا أَتَّبِعْهُ إِنْ
كُنْتُمْ صَادِقِينَ}
Katakanlah, "Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab
itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan
Al-Qur'an) niscaya aku mengikutinya, jika kalian sungguh orang-orang yang
benar. (Al-Qashash: 49)dalam membela kebenaran dan menentang kebatilan dengannya.
Firman Allah Swt.:
{فَإِنْ
لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ}
Maka jika mereka tidak menjawab
(tantanganmu). (Al-Qashash:
50)Yakni jika mereka tidak menjawab apa yang kamu katakan kepada mereka dan mereka tetap tidak mau mengikuti perkara yang hak.
{فَاعْلَمْ
أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ}
ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka
(belaka). (Al-Qashash: 50)tanpa dalil dan tanpa alasan.
{وَمَنْ
أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ}
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya
dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah. (Al-Qashash: 50)tanpa alasan yang diambil dari Kitabullah.
{إِنَّ
اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ}
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
(Al-Qashash: 50)Adapun firman Allah Swt.:
{وَلَقَدْ
وَصَّلْنَا لَهُمُ الْقَوْلَ}
Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini
(Al-Qur'an) kepada mereka. (Al-Qashash: 51)Mujahid mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah Kami terangkan perkataan ini kepada mereka.
As-Saddi mengatakan, Kami jelaskan perkataan ini kepada mereka.
Qatadah mengatakan bahwa Allah Swt. menceritakan kepada mereka apa yang telah diperbuat-Nya terhadap umat terdahulu dan apa yang Dia lakukan sekarang.
{لَعَلَّهُمْ
يَتَذَكَّرُونَ}
agar mereka mendapat petunjuk. (Al-Qashash: 51)Mujahid dan lain-lainnya telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: telah Kami turunkan berturut-turut kepada mereka. (Al-Qashash: 51) bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang Quraisy, dan memang pengertian inilah yang tersimpulkan dari makna lahiriah ayat.
Tetapi Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Amr ibnu Dinar, dari Yahya ibnu Ja'dah, dari Rifa'ah ibnu Qarzah Al-Qurazi, yang menurut Ibnu Mandah disebut Rifa'ah ibnu Syamuel, paman dari pihak ibunya Siti Safiyyah binti Huyayyin, yang menceraikan istrinya Tamimah binti Wahb, lalu dikawini oleh Abdur Rahman ibnuz Zubair ibnu Bata sesudahnya. Demikianlah menurut Ibnul Asir.
Rifa'ah mengatakan bahwa firman Allah Swt.: Dan sesungguhnya telah Kami jelaskan perkataan ini kepada mereka. (Al-Qashash: 51) diturunkan berkenaan dengan sepuluh (orang Yahudi), saya adalah salah seorang dari mereka.
Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dengan keterangan bahwa hadis tersebut merupakan perkataan Rifa'ah.
{الَّذِينَ
آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ (52) وَإِذَا يُتْلَى
عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا
مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ (53) أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا
صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ
يُنْفِقُونَ (54) وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا
أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي
الْجَاهِلِينَ (55) }
Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada
mereka Al-Kitab sebelum Al-Qur'an, mereka beriman (pula) dengan Al-Qur’an itu. Dan apabila dibacakan
(Al-Qur'an itu) kepada mereka, mereka berkata, "Kami beriman kepadanya;
sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya
kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkannya). Mereka itu diberi
pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka dan mereka menolak kejahatan dengan
kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka
nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka
berpaling darinya dan mereka berkata, "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu
amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan
orang-orang jahil.”Allah Swt. menceritakan para ulama lagi para wali dari kalangan Ahli Kitab, bahwa mereka beriman kepada Al-Qur’an, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{الَّذِينَ
آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ
بِهِ}
Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, inereka membacanya
dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. (Al-Baqarah:
121)
{وَإِنَّ
مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ إِلَيْكُمْ وَمَا
أُنزلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ}
Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah
dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka,
sedangkan mereka berendah hati kepada Allah. (Ali Imran: 199)
{إِنَّ
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ
لِلأذْقَانِ سُجَّدًا * وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ
رَبِّنَا لَمَفْعُولا}
Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila
Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil
bersujud, dan mereka berkata, "Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan
kami pasti dipenuhi.” (Al-Isra: 107-108)Dan firman Allah Swt.:
{وَلَتَجِدَنَّ
أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى
ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا
يَسْتَكْبِرُونَ. وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنزلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ
تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا
فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ}
dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan
orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Kami ini
orang Nasrani". yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu
(orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena
Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. dan apabila mereka mendengarkan apa
yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu Lihat mata mereka mencucurkan air
mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab
mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka
catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran
dan kenabian Muhammad s.a.w.).Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan tujuh puluh orang pendeta yang diutus oleh Raja Najasy setelah mereka datang kepada Nabi Saw., dan Nabi Saw. membacakan kepada mereka surat Yasin, yaitu:
{يس.
وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ}
Ya Sin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah. (Yasin: 1-2), hingga akhir
surat.Lalu mereka menangis dan masuk Islam. Maka turunlah firman Allah Swt. berkenaan dengan mereka, yaitu:
{الَّذِينَ
آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ. وَإِذَا يُتْلَى
عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا
مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ}
Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al-Kitab sebelum
Al-Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al-Qur’an itu. Dan apabila
dibacakan (Al-Qur'an itu) kepada mereka, mereka berkata, "Kami beriman
kepadanya; sesungguhnya Al-Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami,
sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkannya.”
(Al-Qashash: 52-53)Maksudnya, sebelum Al-Qur'an kami adalah orang-orang muslim; yakni orang-orang yang mengesakan Allah, ikhlas kepada-Nya, dan memenuhi seruan-Nya, Allah Swt. berfirman dalam ayat selanjutnya:
{أُولَئِكَ
يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا}
Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka.
(Al-Qashash: 54)Yakni mereka yang menyandang sifat-sifat tersebut adalah orang-orang yang beriman kepada kitab terdahulu dan kitab yang kemudian (Al-Qur'an). Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: disebabkan kesabaran mereka. (Al-Qashash: 54) dalam mengikuti perkara yang hak, sekalipun mengakui hal seperti itu merupakan suatu perbuatan yang sangat berat dirasakan oleh mereka.
Di dalam sebuah hadis sahih melalui riwayat Amir Asy-Sya'bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy'ari r.a. disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"ثَلَاثَةٌ
يُؤتَونَ أجْرهم مَرّتَين: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ ثُمَّ
آمَنَ بِي، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ، ورَجُل
كَانَتْ لَهُ أمَة فَأَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا
فتزوَّجها"
Ada tiga macam orang yang pahalanya diberi dua kali, yaitu seorang lelaki
dari kalangan Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya, kemudian beriman kepadaku;
seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak majikannya; dan seorang
lelaki yang mempunyai seorang budak perempuan, lalu ia mendidiknya dengan baik,
kemudian memerdekakannya dan mengawininya.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ السَّيلَحيني، حَدَّثَنَا
ابْنُ لَهِيعة، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: إِنِّي لتحتَ
رَاحِلَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ،
فَقَالَ قَوْلًا حَسَنًا جَمِيلًا وَقَالَ فِيمَا قَالَ: "مَنْ أَسْلَمَ مِنْ
أَهْلِ الْكِتَابَيْنِ فَلَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ، وَلَهُ مَا لَنَا وَعَلَيْهِ
مَا عَلَيْنَا
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq
As-Sulaihini, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Sulaiman ibnu
Abdur Rahman, dari Al-Qasim ibnu Abu Umamah yang menceritakan bahwa sesungguhnya
ketika ia benar-benar berada di bawah unta kendaraan Rasulullah Saw. pada hari
jatuhnya kota Mekah, beliau mengucapkan perkataan yang baik lagi indah; antara
lain beliau Saw. bersabda: Barang siapa yang masuk Islam dari kalangan Ahli
Kitab, maka ia memperoleh pahala dua kali; ia memperoleh pahala seperti yang
kita peroleh, dan ia menanggung apa yang ditanggung oleh kita.Firman Allah Swt.:
{وَيَدْرَؤُونَ
بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ}
dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan.
(Al-Qashash: 54)Mereka tidak membalas kejahatan dengan hal yang semisal, tetapi memaaf dan melupakannya.
{وَمِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}
dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka
nafkahkan. (Al-Qashash: 54)Yaitu mereka membelanjakan sebagian dari rezeki halal yang mereka peroleh kepada makhluk Allah, yaitu nafkah yang wajib, buat keluarga mereka dan kaum kerabat mereka. Mereka pun membayar zakat yang fardu dan yang sunat, juga amal taqarrub dan sedekah nafilah.
Firman Allah Swt.:
{وَإِذَا
سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ}
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang
tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya. (Al-Qashash: 55)Yakni mereka tidak bergaul dengan para pelakunya dan tidak mau berteman dengan mereka, bahkan sikap mereka adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَإِذَا
مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا}
dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan
menjaga kehormatan dirinya. (Al-Furqan: 72)Adapun firman Allah Swt.:
{وَقَالُوا
لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي
الْجَاهِلِينَ}
dan mereka berkata, "Bagi kami amal-amal kami
dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul
dengan orang-orang jahil.” (Al-Qashash:
55)Yakni apabila mereka dibodoh-bodohi dan dikata-katai dengan ucapan yang tidak layak bagi diri mereka, maka jawaban mereka adalah berpaling darinya, dan mereka tidak membalasnya dengan perlakuan yang semisal dari kata-kata yang buruk, dan tiada yang dikeluarkan oleh lisan mereka kecuali kata-kata yang baik. Karena itulah Allah Swt. menyebutkan sikap mereka melalui firman-Nya, menyitir ucapan mereka:
{لَنَا
أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي
الْجَاهِلِينَ}
Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas
dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil. (Al-Qashash:
55)Maksudnya, kami tidak ingin menempuh jalannya orang-orang yang jahil dan kami tidak menyukainya.
Muhammad ibnu Ishaq telah mengatakan di dalam kitab As-Sirah, bahwa telah datang kepada Rasulullah Saw., ketika beliau berada di Mekah, kurang lebih dua puluh orang Nasrani. Mereka telah mendengar perihal Nabi Saw. saat mereka di negeri Abesinia; mereka menjumpai Rasulullah Saw. berada di masjid, lalu mereka duduk dengannya, berbicara dengannya, serta bertanya kepadanya. Saat itu terdapat banyak kaum laki-laki dari kalangan Quraisy berada di tempat perkumpulan mereka di sekeliling Ka'bah. Setelah mereka selesai dari menanyai Rasulullah Saw. tentang berbagai hal yang ingin mereka tanyakan kepadanya, maka Rasulullah Saw. menyeru mereka untuk menyembah Allah Swt. dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka.
Setelah mereka mendengar bacaan Al-Qur'an itu, maka berlinanganlah air mata mereka. Lalu mereka memenuhi seruan Allah, beriman kepadaNya, dan membenarkan Nabi-Nya serta mengetahui dari Nabi Saw. segala apa yang telah disifatkan di dalam kitab mereka mengenai dirinya.
Ketika mereka bangkit meninggalkan Nabi Saw., maka Abu Jahal ibnu Hisyam bersama sejumlah orang Quraisy menyapa mereka seraya mengatakan, "Semoga Allah membuat kalian kecewa sebagai iringan kafilah; orang-orang di belakang kalian dari kalangan pemeluk agama kalian mengutus kalian untuk mendatangkan kepada mereka berita tentang lelaki ini. Tetapi setelah kalian duduk bersamanya, tiada lain kalian langsung meninggalkan agama kalian, lalu kalian membenarkan ucapannya. Kami tidak pernah mengetahui ada delegasi yang lebih dungu daripada kalian," atau ucapan lainnya yang semisal.
Maka mereka menjawab, "Kesejahteraan atas kalian. Kami tidak mau bersikap jahil seperti kalian, bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian; kami tidak merasa puas dengan kebaikan."
Menurut pendapat yang lain, rombongan tersebut adalah dari kalangan penduduk Nasrani Najran. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui siapakah mereka di antaranya yang sebenarnya. Menurut pendapat yang lainnya lagi, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, sesungguhnya berkenaan dengan merekalah ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah Swt.: Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al-Kitab sebelum Al-Qur'an, mereka beriman (pula) dengan Al-Qur'an itu. (Al-Qashash: 52) sampai dengan firman-Nya: kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil. (Al-Qashash: 55)
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa ia bertanya kepada Az-Zuhri tentang ayat-ayat ini, yakni berkenaan dengan siapakah penurunannya. Maka Az-Zuhri menjawab bahwa masih terngiang-ngiang di telinganya perkataan para ulama kita yang mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Raja Negus dan sahabat-sahabatnya, juga ayat-ayat yang ada di dalam surat Al-Maidah, yaitu firman-Nya:
{ذَلِكَ
بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا} إِلَى قَوْلِهِ: {فَاكْتُبْنَا مَعَ
الشَّاهِدِينَ}
Yang demikian itu disebabkan di antara mereka itu (orang-orang
Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib. (Al-Maidah: 82) sampai
dengan firman-Nya: maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi
(atas kebenaran Al-Qur'an dan kenabian Muhammad Saw.). (Al-Maidah:
83)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar