Translate

Sabtu, 15 Oktober 2016

Al-Mu’min, ayat 1-6

تَفْسِيرُ سُورَةِ غَافِرٍ
(Orang yang beriman)
Makkiyyah, 85 ayat kecuali ayat 56, dan 57 Madaniyyah Turun sesudah surat Az-Zumar
Sebagian ulama Salaf—antara lain Muhammad ibnu Sirin—menghukumi makruh menyebut Al-Hawamim (surat-surat yang diawali dengan Ha Mim), melainkan harus disebut Ali Ha Mim.
Abdullah ibnu Mas'ud r.a. telah mengatakan bahwa Ali Ha Mim adalah hiasan Al-Qur'an.
Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa sesungguhnya segala sesuatu itu mempunyai intinya masing-masing, dan inti Al-Qur'an ialah Ali Ha Mim, atau dia menyebutnya Al-Hawamim.
Mis'ar ibnu Kidam mengatakan bahwa surat-surat yang diawali dengan Ha Mim disebut pula dengan istilah Al-Arais (pengantin-pengantin).
Semua pendapat di atas diriwayatkan oleh Imam Al-Alim Abu Ubaid Al-Qasim ibnu Salam rahimahullah di dalam kitab Fadailul Qur'an.
Humaid ibnu Zanjuwaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas, dari Abdullah r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya perumpamaan Al-Qur'an itu sama dengan seorang lelaki yang berangkat pulang menuju ke rumah keluarganya. Ketika ia melewati daerah yang bekas kena hujan yang sepanjang jalan ia merasa kagum dengan pengaruh dari hujan itu (yang membuat tanah menjadi subur), tiba-tiba ia turun ke suatu daerah yang dipenuhi dengan taman-taman yang indah-indah. Lalu ia berkata dalam hatinya, "Aku merasa kagum dengan pengaruh hujan yang menyebabkan subur tanah pertama tadi, dan sekarang ini aku merasa lebih kagum lagi dengan keindahan taman-taman ini." Maka dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya perumpamaan hujan yang pertama tadi sama dengan keagungan Al-Qur'an, dan perumpamaan taman-taman yang indah-indah sama dengan Ali Ha Mim dalam Al-Qur'an." Demikianlah menurut apa yang diketengahkan oleh Al-Bagawi.
Ibnu Lahi'ah telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Abu Habib, bahwa sesungguhnya Al-Jarrah ibnul Jarrah pernah menceritakan atsar berikut dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya inti sarinya Al-Qur'an adalah Al-Hawamim.
Ibnu Mas'ud r.a. telah mengatakan bahwa jika bacaanku sampai pada Ali Ha Mim seakan-akan aku sampai di taman-taman yang di dalamnya aku merias diri.
Abu Ubaid mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Asyja'i, telah menceritakan kepada kami Mis'ar alias Ibnu Kidam, dari seseorang yang menceritakan atsar ini kepadanya, bahwa seorang lelaki melihat Abu Darda r.a. sedang membangun sebuah masjid, lalu dia bertanya kepadanya, "Apakah yang mendorongmu melakukan ini?" Maka Abu Darda menjawab, "Aku membangunnya demi Ali Ha Mim."
Barangkali masjid ini yang dibangun oleh Abu Darda r.a. adalah masjid yang dinisbatkan kepadanya yang ada di dalam benteng kota Dimasyq. Dan barangkali pemeliharaan kelestarian peninggalannya adalah berkat berkah dari dia dan berkah niat yang mendorong pembangunannya sejak semula. Karena sesungguhnya apa yang ada di balik kata-kata Abu Darda r.a. itu menunjukkan sebagai rasa syukur atas kemenangan kaum muslim atas musuh-musuhnya. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Rasulullah Saw. kepada para sahabatnya dalam suatu peperangannya yaitu:
"إِنْ بَيّتم اللَّيْلَةَ فَقُولُوا: حم، لَا يُنْصَرُونَ" وَفِي رِوَايَةٍ: "لَا تُنْصَرُونَ"
Jika kalian mengadakan serangan malam ini, maka ucapkanlah oleh kalian, "Ha Mim, semoga mereka tidak mendapat pertolongan (kemenangan).”Di dalam riwayat lain disebutkan "Semoga kamu (musuh-musuh) tidak mendapat pertolongan.”
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَكَمِ بْنِ ظَبْيان بْنِ خَلف الْمَازِنِيُّ، وَمُحَمَّدُ بن اللَّيْثِ الْهَمْدَانِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ مَسْعُودٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمَلِيكِيِّ، عَنْ زُرَارَةَ بْنِ مُصْعَبٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيرة، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَأَوَّلَ حم الْمُؤْمِنِ، عُصِم ذَلِكَ الْيَوْمَ مَنْ كُلِّ سُوءٍ"
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Hakam ibnu Zabyan ibnu Khalaf Al-Mazini dan Muhammad ibnul Lais Al-Hamdani. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Mas'ud, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abu Bakar Al-Mulaiki, dari Zurarah ibnu Mus'ab, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang membaca ayat Kursi dan permulaan surat Ha Mim Al-Mu’min, niscaya dipeliharalah ia dari semua keburukan di hari itu."
Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa kami tidak mengetahui hadis ini diriwayatkan melainkan melalui sanad ini. Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Al-Mulaiki, dan ia mengatakan bahwa sebagian ahlul' ilmi masih meragukan tentang hafalan Al-Mulaiki.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.


{حم (1) تَنزيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (2) غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ (3) }
Ha Mim. Diturunkan Kitab ini (Al-Qur'an) dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui, Yang Mengampuni dosa dan Menerima tobat lagi keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).
Mengenai huruf-huruf hija’i yang mengawali surat-surat Al-Qur'an telah diterangkan dalam permulaan tafsir surat Al-Baqarah dengan keterangan sehingga tidak perlu diulangi lagi di sini.
Menurut suatu pendapat, Ha-Mim adalah salah satu dari asma-asma Allah; mereka yang berpendapat demikian memperkuatnya dengan ucapan seorang penyair yang mengatakan dalam salah satu bait syairnya:
يُذَكِّرُني حامِيمَ والرمحُ شَاجر ... فَهَلا تَلَا حَاميمَ قَبْل التَّقدُّمِ ...
Dia mengingatkanku kepada Ha Mim (Allah) saat tombak telah beradu, maka mengapa dia tidak membaca (mengingatkanku kepada) Ha Mim sebelum maju perang.
Disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi melalui Ats-Tsauri, dari Abu Ishaq, dari Al-Muhalkan ibnu Abu Safrah yang mengatakan bahwa dia pernah menceritakan kepadanya sabda Rasulullah Saw. berikut ini dari orang yang mendengarnya langsung dari beliau Saw., yaitu:
"إِنْ بَيَّتم اللَّيْلَةَ فَقُولُوا: حم، لَا يُنْصَرُونَ"
Jika kalian mau mengadakan serangan malam ini, katakanlah, "Ha Mim, semoga mereka tidak mendapat pertolongan.”
Sanad hadis ini berpredikat sahih.
Abu Ubaid memilih riwayat yang menyebutkan, "Ha Mim, maka mereka tidak akan menang." Yakni jika kalian mengucapkan, "Ha Mim," niscaya mereka tidak akan mendapat kemenangan. Dia menjadikan lafaz layunsarun sebagai jawab dari faqulu.
***********
Firman Allah Swt.:
{تَنزيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ}
Diturunkan Kitab ini (Al-Qur'an) dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. (Al-Mu’min: 2)
Yakni penurunan kitab Al-Qur'an ini adalah dari Allah Yang Mempunyai Keperkasaan dan Pengetahuan, Zat-Nya tidak dapat dijangkau, dan tiada suatu atom pun yang tersembunyi bagi-Nya, sekalipun hijab penghalangnya berlapis-lapis.
**************
Firman Allah Swt.:
{غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ}
Yang Mengampuni dosa dan Menerima tobat. (Al-Mu’min: 3)
Yaitu Yang mengampuni dosa yang telah lalu dan menerima tobat di masa mendatang bagi orang yang bertobat kepada-Nya dan tunduk patuh kepada-Nya.
Firman Allah Swt.:
{شَدِيدُ الْعِقَابِ}
lagi keras hukuman-Nya. (Al-Mu’min: 3)
Yakni terhadap orang yang membangkang, melampaui batas, memilih kehidupan dunia, menentang perintah-perintah Allah, dan bersikap menantang. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الألِيمُ}
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih. (Al-Hijr: 49-50)
Kedua sifat ini sering disebutkan secara berbarengan dalam berbagai tempat dalam Al-Qur'an, dimaksudkan agar seseorang hamba selalu berada dalam keadaan rasa harap dan takut kepada-Nya.
Firman Allah Swt.:
{ذِي الطَّوْلِ}
Yang mempunyai karunia. (Al-Mu’min: 3)
Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Yang mempunyai keluasan dan kecukupan.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah.
Yazid ibnul Asam mengatakan bahwa Dzit Thaul artinya Yang mempunyai kebaikan yang banyak.
Ikrimah mengatakan bahwa Dzit Thaul artinya Yang mempunyai karunia. Qatadah mengatakan, Yang mempunyai nikmat dan keutamaan-keutamaan. Makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Swt. adalah Tuhan Yang melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya yang merasa tidak puas dengan semua karunia dan nikmat yang telah ada pada mereka, yang semuanya itu tidak akan mampu mereka mensyukuri salah satu pun darinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. (An-Nahl: 18)
Adapun firman Allah Swt.:
{لَا إِلَهَ إِلا هُوَ}
Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. (Al-Mu’min: 3)
Yakni tiada tandingan bagi-Nya dalam semua sifat yang dimiliki-Nya. Maka tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan tiada Rabb selain Dia.
{إِلَيْهِ الْمَصِيرُ}
Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk). (Al-Mu’min: 3)
Yaitu kepada-Nyalah semuanya dikembalikan, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing.
{وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ}
dan Dialah Yang Mahacepat hisab(perhitungan)-Nya (Ar-Ra'd:41)
Abu Bakar ibnu Iyasy mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Ishaq As-Subai'i mengatakan bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Khalifah Umar ibnul Khattab, lalu lelaki itu bertanya, "Hai Amirul Mu’minin, sesungguhnya aku pernah membunuh (orang), maka masih adakah tobat bagiku?" Maka Umar r.a. membacakan firman-Nya: Ha Mim. Diturunkan Kitab ini (Al-Qur'an) dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui, Yang Mengampuni dosa dan Menerima tobat lagi keras hukuman-Nya. (Al-Mu’min: 1-3) Lalu Khalifah Umar berkata kepadanya, "Beramallah, janganlah kamu berputus asa."
Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan atsar ini, juga Ibnu Jarir, sedangkan teksnya menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Marwan Ar-Ruqqi, telah mencerita­kan kepada kami Umar ibnu Ayyub, telah menceritakan kepadaku Ja'far ibnu Barqan, dari Yazid Al-Asam yang telah menceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki penduduk negeri Syam yang mempunyai kekuatan (berpengaruh). Dia biasa menghadap kepada Khalifah Umar r.a. sebagai perutusan kaumnya. Maka pada suatu hari Khalifah Umar merasa kehilangan dia, lalu menanyakan tentangnya, "Apakah yang telah dilakukan oleh si Fulan bin Anu?" Orang-orang menjawab, "Wahai Amirul Mu’minin, dia sekarang gemar minum-minuman ini (khamr)." Maka Khalifah Umar memanggil juru tulisnya (sekretarisnya), lalu berkata kepadanya, "Tulislah, dari Umar ibnul Khattab kepada Fulan bin Anu. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, sesungguhnya aku memuji kepada Allah dalam surat yang ditujukan kepadamu ini, bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, Yang Mengampuni dosa dan Menerima tobat serta sangat keras hukuman-Nya Yang Mempunyai karunia, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan hanya kepada-Nyalah makhluk dikembalikan." Setelah itu Khalifah Umar menyerukan kepada teman-temannya agar mendoakan buat teman mereka, semoga ia sadar dan kembali bertobat kepada Allah. Ketika surat itu sampai kepada lelaki yang dimaksud, maka ia langsung membacanya dan ia baca berulang-ulang, lalu berkata, "Yang Mengampuni dosa, Yang Menerima tobat, Yang sangat keras hukuman-Nya. Umar telah memperingatkan diriku akan hukum-Nya dan dia menjanjikan bahwa Allah akan memberikan ampunan bagiku."
Atsar yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Na'im melalui hadis Ja'far ibnu Barqan yang dalam riwayatnya ditambahkan bahwa lelaki itu setelah menerima surat terus-menerus mengoreksi dirinya hingga ia menangis, lalu menghentikan perbuatannya dan bersikap baik dalam tobatnya itu. Ketika beritanya sampai kepada Khalifah Umar r.a., maka Umar r.a. berkata, "Cara inilah yang harus kalian lakukan bila kalian melihat ada seseorang dari teman kalian yang terjerumus ke dalam kekeliruan. Maka luruskanlah dia, teguhkanlah hatinya, dan mohonkanlah kepada Allah semoga Dia menerima tobatnya, dan janganlah kalian menjadi penolong setan terhadapnya."
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Waqid, telah menceritakan kepada kami Abu Umar As-Saffar, telah menceritakan kepada kami Sabit Al-Bannani yang mengatakan bahwa ia pernah bersama Mus'ab ibnuz Zubair r.a. di daerah pedalaman Kufah. Lalu ia memasuki sebuah kebun dan melakukan salat dua rakaat di dalamnya. Ia membuka salatnya dengan membaca surat Ha Mim Al-Mu’min hingga sampai pada firman-Nya: Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk). (Al-Mu’min: 3). Tiba-tiba ada seorang lelaki di belakangku yang mengendarai bagal ber­bulu blonde dengan mengenakan pakaian burdah yamani. Lelaki itu berkata: Jika engkau katakan, "Yang Mengampuni dosa, " maka katakanlah olehmu, "Ya Tuhan Yang Mengampuni dosa, ampunilah bagiku dosa-dosaku.” Dan jika engkau katakan, "Yang Menerima tobat, " maka katakanlah olehmu, "Ya Tuhan Yang Menerima tobat, terimalah tobatku.” Dan jika engkau katakan, "Yang keras hukuman-Nya, maka katakanlah olehmu, "Ya Tuhan Yang keras hukuman-Nya, janganlah Engkau menghukumku." Maka aku menoleh ke belakang, dan ternyata aku tidak melihat seorang manusia pun, lalu aku keluar menuju ke pintu kebun itu dan bertanya, "Apakah kalian melihat seorang lelaki yang mengenakan kain burdah yamani?" Mereka menjawab, "Kami tidak melihat seorang pun." Maka mereka berpendapat bahwa lelaki tersebut adalah Nabi Ilyas a.s.
Kemudian Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula melalui jalur lain dari Sabit dengan lafaz yang semisal, hanya dalam riwayatnya kali ini tidak disebutkan Nabi Ilyas a.s. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.


{مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلا الَّذِينَ كَفَرُوا فَلا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلادِ (4) كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَالأحْزَابُ مِنْ بَعْدِهِمْ وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ (5) وَكَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ أَصْحَابُ النَّارِ (6) }
Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu, janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu. Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku. Dan demikianlah telah pasti berlaku ketetapan azab Tuhanmu terhadap orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka.
Allah Swt. berfirman bahwa tiada yang menolak perkara hak dan berani membantahnya sesudah perkara hak itu jelas dan buktinya telah ada.
{إِلا الَّذِينَ كَفَرُوا}
kecuali orang-orang yang kafir. (Al-Mu’min: 4)
Yakni orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, hujah, dan bukti-bukti-Nya.
{فَلا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلادِ}
Karena itu, janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu. (Al-Mu’min: 4)
Maksudnya, janganlah kamu teperdaya dengan harta benda, kemewahan, dan perhiasan yang dimiliki orang-orang kafir itu. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلادِ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ}
Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam; dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. (Ali Imran: 196-197)
Dan Firman Allah Swt.:
{نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَى عَذَابٍ غَلِيظٍ}
Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras. (Luqman: 24)
Kemudian Allah Swt. berfirman, menghibur hati Nabi-Nya yang menghadapi sikap kaumnya yang mendustakannya, bahwa bukan hanya dia sendiri yang mengalami nasib tersebut, para nabi sebelumnya pun mengalami hal yang sama. Kaum mereka masing-masing telah mendusta­kannya dan menentangnya, bahkan tidak ada yang beriman dari kalangan mereka, melainkan hanya sedikit. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ}
Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul). (Al-Mu’min: 5)
Nuh a.s. adalah rasul yang mula-mula diutus oleh Allah untuk melarang penyembahan terhadap berhala.
{وَالأحْزَابُ مِنْ بَعْدِهِمْ}
dan juga golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka. (Al-Mu’min: 5)
dari kalangan tiap-tiap umat sesudah kaum Nuh.
{وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ}
dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya. (Al-Mu’min: 5)
Maksudnya, mereka berusaha keras untuk dapat membunuh rasul mereka dengan segala macam cara yang dapat mereka lakukan, dan di antara mereka ada yang dapat membunuh rasul mereka.
{وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ}
dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran. (Al-Mu’min: 5)
Yakni mereka melakukan bantahan terhadap perkara yang hak dengan perkara yang syubhat (batil) untuk melenyapkan perkara hak yang sudah jelas dan terang.
قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، حَدَّثَنَا عَارِمٌ أَبُو النعمان، حدثنا مُعْتَمِر ابن سُلَيْمَانَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنْ حَنَش، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ] ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مِنْ أَعَانَ بَاطِلًا لِيَدْحَضَ بِبَاطِلِهِ حَقًّا، فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ"
Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali Ibnu Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Arim Abun Nu'man, telah menceritakan kepada kami Mu'tamir ibnu Sulaiman yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya menceritakan hadis berikut dari Hanasy, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi Saw yang telah bersabda: Barang siapa yang membantu perkara-perkara yang batil untuk melenyapkan perkara yang hak, maka sesungguhnya dia telah terbebas dari jaminan Allah dan jaminan Rasul-Nya.
**************
Firman Allah Swt.:
{فَأَخَذْتُهُمْ}
Karena itu, Aku azab mereka. (Al-Mu’min: 5)
Yakni Aku binasakan mereka karena mereka telah melakukan dosa-dosa yang besar-besar itu.
{فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ}
Maka betapa (pedihnya) azab-Ku. (Al-Mu’min: 5)
Artinya, kamu akan mendengar bahwa azab-Ku dan pembalasan-Ku terhadap mereka sangat keras, lagi menyakitkan dan sangat pedih.
Qatadah mengatakan bahwa demi Allah azab Allah itu amat keras.
***********
Firman Allah Swt.:
{وَكَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ أَصْحَابُ النَّارِ}
Dan demikianlah telah pasti berlaku ketetapan azab Tuhanmu terhadap orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka. (Al-Mu’min: 6)
Yaitu sebagaimana telah ditetapkan perintah azab atas orang-orang kafir dari kalangan umat-umat terdahulu, telah ditetapkan pula hal yang sama atas orang-orang yang mendustakanmu dan menentangmu, hai Muhammad. Bahkan mereka lebih berhak dan lebih diprioritaskan untuk menerima azab keras dari Allah. Karena orang yang mendustakan engkau, maka tidak lagi ada harapan untuk dapat mempercayai selain engkau. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar