تَفْسِيرُ
سُورَةِ الْمُدَّثِّرِ
(Orang Yang Berkemul), Makkiyyah,
56 ayat , Turun sesudah Surat Al-Muzzammil
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.
يَا
أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3)
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ
(6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7) فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ (8) فَذَلِكَ
يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ (9) عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ (10)
Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah,
lalu berilah peringatan (kepada manusia) dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu
bersihkanlah, danperbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah! dan janganlah
kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk
(memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah. Apabila ditiup sangkakala, maka waktu
itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak
mudah.Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui hadis Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abu Salamah, dari Jabir; ia pernah mengatakan bahwa ayat Al-Qur'an yang mula-mula diturunkan adalah firman-Nya: Hai orang yang berkemul (berselimut). (Al-Muddatstsir:1)
Tetapi jumhur ulama berbeda. Mereka berpendapat bahwa Al-Qur'an yang mula-mula diturunkan adalah firman Allah Swt.:
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
(Al-'Alaq:1)Sebagaimana yang akan diterangkan di tempatnya, insya Allah.
قَالَ
الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، حَدَّثَنَا وَكِيع، عَنْ عَلِيُّ بْنُ
الْمُبَارَكِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا سَلَمَةَ
بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَوَّلِ مَا نَزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ، قَالَ: {يَا
أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ} قُلْتُ: يَقُولُونَ: {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي
خَلَقَ} ؟ فَقَالَ أَبُو سَلَمَةَ: سَأَلْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ
ذَلِكَ، وقلتُ لَهُ مِثْلَ مَا قلتَ لِي، فَقَالَ جَابِرٌ: لَا أُحَدِّثُكَ إِلَّا
مَا حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
"جَاوَرْتُ بحرَاء، فَلَمَّا قَضَيْتُ جِوَارِي هبطتُ فنُوديت فَنَظَرْتُ عَنْ
يَمِينِي فَلَمْ أَرَ شَيْئًا، وَنَظَرْتُ عَنْ شَمَالِي فَلَمْ أَرَ شَيْئًا،
وَنَظَرْتُ أَمَامِي فَلَمْ أَرَ شَيْئًا، وَنَظَرْتُ خَلْفِي فَلَمْ أَرَ شَيْئًا.
فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَرَأَيْتُ شَيْئًا، فَأَتَيْتُ خَدِيجَةَ فَقُلْتُ:
دَثِّرُونِي. وَصُبُّوا عَلَيَّ مَاءً بَارِدًا. قَالَ: فَدَثَّرُونِي وَصَبُّوا
عَلَيَّ مَاءً بَارِدًا قَالَ: فَنَزَلَتْ {يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ
فَأَنْذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ}
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah
menceritakan kepada kami Waki', dari Ali ibnul Mubarak, dari Yahya ibnu Abu
Kasiryang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Salamah ibnu Abdur
Rahman tentang ayat Al-Qur'an yang mula-mula diturunkan. Maka Abu Salamah
menjawab dengan membaca firman-Nya: Hai orang yang berkemul (berselimut).
(Al-Muddatstsir: 1) Aku berkata, bahwa orang-orang menyebutnya: Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. (Al-'Alaq:1) Maka Abu
Salamah menjawab, bahwa ia pernah bertanya kepada Jabir ibnu Abdullah tentang
masalah ini, dan kukatakan kepadanya apa yang telah kamu katakan kepadaku. Lalu
ia menjawab, bahwa ia tidak sekali-kali menceritakan hadis kepadaku melainkan
apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah Saw. kepadanya. Rasulullah Saw.
bersabda, "Aku ber-tahannus di Gua Hira. Setelah aku menyelesaikan
tahannus-ku, lalu aku turun, dan tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggilku.
Aku menoleh ke arah kanan dan ternyata tidak melihat apa pun; dan aku menoleh ke
arah kiriku, tetapi ternyata tidak kulihat sesuatu pun; dan aku memandang ke
arah depanku, ternyata tidak ada apa-apa; begitu pula sewaktu aku memandang ke
arah belakangku. Lalu aku mengarahkan pandanganku ke langit, dan ternyata
kulihat sesuatu (yang menakutkan, karena Jibril menampakkan dirinya dalam rupa
aslinya). Maka aku pulang ke rumah Khadijah dan kukatakan kepadanya,
'Selimutilah aku, dan tuangkanlah air dingin ke kepalaku (kompreslah aku)'."
Nabi Saw. melanjutkan kisahnya, bahwa lalu mereka (keluarga beliau) menyelimuti
diriku dan mengompres kepalaku, maka turunlah firman Allah Swt: Hai orang
yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu
agungkanlah. (Al-Muddatstsir: 1-3)Demikianlah menurut riwayat Imam Bukhari melalui jalur ini.
Imam Muslim meriwayatkannya melalui jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Saw. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira datang kepadaku duduk di atas sebuah kursi di antara langit dan bumi, maka aku merasa takut dengannya hingga aku terjatuh ke tanah. Kemudian aku pulang ke rumah keluargaku dan kukatakan, "Selimutilah aku, selimutilah aku, selimutilah aku," maka turunlah firman Allah Swt.: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! (Al-Muddatstsir: 1-2) sampai dengan firman-Nya: dan perbuatan dosa, tinggalkanlah. (Al-Muddatstsir: 5)
Abu Salamah mengatakan bahwa ar-rijzu artinya penyembahan berhala, setelah itu wahyu sering datang dan berturut-turut. Konteks hadis inilah yang dikenal, dan ini memberikan pengertian bahwa sesungguhnya pernah turun wahyu sebelum itu, karena sabda Nabi Saw. yang mengatakan: maka kulihat malaikat yang pernah mendatangiku di Hira. Dia adalah Malaikat Jibril yang saat itu datang kepadanya membawa firman Allah Swt: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-'Alaq: 1-5)
Sesudah itu terjadi masa fatrah dari wahyu, lalu malaikat itu turun lagi kepadanya setelah masa fatrah.
Pengertian gabungan kedua hadis tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut, bahwa wahyu yang mula-mula diturunkan sesudah beberapa lama wahyu tidak turun adalah surat ini (Al-Muzzammil).
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا
حَجَّاجٌ، حَدَّثَنَا لَيْث، حَدَّثَنَا عُقَيل، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ:
سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُولُ: أَخْبَرَنِي جَابِرُ
بْنُ عَبْدِ اللَّهِ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم
يقول: "ثُمَّ فَتَرَ الْوَحْيُ عَنِّي فَتْرَةً، فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِي سمعتُ
صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ، فَرَفَعْتُ بَصَرِي قِبَل السَّمَاءِ، فَإِذَا الْمَلَكُ
الَّذِي جَاءَنِي [بِحِرَاءٍ الْآنَ] قَاعِدٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ
وَالْأَرْضِ، فَجُثت مِنْهُ فَرَقًا، حَتَّى هَوَيت إِلَى الْأَرْضِ، فَجِئْتُ
أَهْلِي فَقُلْتُ لَهُمْ: زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي. فَزَمَّلُونِي، فَأَنْزَلَ
اللَّهُ: {يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ} ثُمَّ حَمِيَ الْوَحْيُ [بعدُ]
وَتَتَابَعَ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah
menceritakan kepada kami Lais, telah menceritakan kepada kami Aqil, dari Ibnu
Syihab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Salamah ibnu Abdur Rahman
mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, bahwa ia
pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Kemudian wahyu mengalami fatrah
dariku selama satu masa, Dan ketika aku sedang berjalan, kudengar suara dari
langit (memanggilku), maka aku mengarahkan pandanganku ke langit. Tiba-tiba aku
melihat malaikat yang pernah datang kepadaku sedang duduk di atas kursi di
antara langit dan bumi, maka tubuhku gemetar karenanya hingga aku terjatuh ke
tanah. Lalu aku pulang ke rumah keluargaku dan kukatakan kepada mereka,
"Selimutilah aku, selimutilah aku, selimutilah aku.” Maka Allah Swt. menurunkan
firman-Nya, "Hai orang yang berkemul, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan
Tuhanmu agangkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa
tinggalkanlah.” (Al-Muddatstsir: 1 -5). Kemudian wahyu datang lagi dengan
berturut-turut.Bukhari dan Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Az-Zuhri dengan sanad yang sama.
Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Syu'aib As-Simsar, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Bisyr Al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Al-Mu'afa ibnu Imran, dari Ibrahim ibnu Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan, bahwa sesungguhnya Al-Walid ibnul Mugirah membuat jamuan makan untuk orang-orang Quraisy. Maka setelah mereka menyantap jamuan itu Al-Walid bertanya kepada mereka, "Bagaimanakah pendapat kalian dengan lelaki ini (maksudnya Nabi Saw.)?" Sebagian dari mereka mengatakan seorang penyihir, sebagian yang lain mengatakan bukan seorang penyihir. Dan sebagian yang lainnya lagi mengatakan seorang tukang tenung, maka sebagian yang lainnya menjawab bukan seorang tukang tenung. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan seorang penyair, dan sebagian yang lainnya menjawabnya bukan seorang penyair. Lalu sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa bahkan dia adalah seorang penyihir yang belajar (dari orang-orang dahulu). Akhirnya mereka sepakat menyebutnya sebagai seorang penyihir yang belajar dari orang-orang dahulu. Ketika berita tersebut sampai kepada Nabi Saw., maka hati beliau berduka cita dan menundukkan kepalanya serta menyelimuti dirinya. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah. (Al-Muddatstsir: 1-7)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{قُمْ
فَأَنْذِرْ}
bangunlah, lalu berilah peringatan! (Al-Muddatstsir: 2)Yakni berjagalah dengan tekad yang bulat, lalu berilah peringatan kepada manusia. Dengan demikian, berarti dia dilantik sebagai rasul, sebagaimana dalam wahyu sebelumnya dia dilantik menjadi nabi.
{وَرَبَّكَ
فَكَبِّرْ}
dan Tuhanmu agungkanlah. (Al-Muddatstsir: 3) Maksudnya, besarkanlah nama Tuhanmu.
Firman Allah Swt.:
{وَثِيَابَكَ
فَطَهِّرْ}
Dan pakaianmu bersihkanlah. (Al-Muddatstsir: 4)Al-Ajlah Al-Kindi mengatakan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah kedatangan seorang lelaki, lalu menanyakan kepadanya tentang makna ayat ini, yaitu firman Allah Swt.: dan pakaianmu bersihkanlah. (Al-Muddatstsir: 4)
Ibnu Abbas menjawab, "Janganlah kamu mengenakannya untuk maksiat dan jangan pula untuk perbuatan khianat." Kemudian Ibnu Abbas mengatakan, "Tidakkah engkau pernah mendengar ucapan Gailan ibnu Salamah As-Saqafi dalam salah satu bait syairnya:
فَإني
بِحَمْدِ اللَّهِ لَا ثوبَ فَاجر ...
لبستُ وَلَا مِنْ غَدْرَة أتَقَنَّعُ
'Dengan memuji kepadaAllah,
sesungguhnya kukenakan pakaianku bukan untuk kedurhakaan, dan bukan pula untuk
menutupi perbuatan khianat'."
Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ata, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan
makna ayat ini: dan pakaianmu bersihkanlah. (Al-Muddatstsir: 4) Bahwa
menurut kalam orang-orang Arab, artinya membersihkan pakaian. Tetapi menurut
riwayat yang lain dengan sanad yang sama, sucikanlah dirimu dari dosa-dosa. Hal yang sama dikatakan oleh Ibrahim, Asy-Sya'bi, dan Ata. As-Sauri telah meriwayatkan dari seorang lelaki, dari Ata, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan pakaianmu bersihkanlah. (Al-Muddatstsir: 4) Dari dosa.
Hal yang sama dikatakan oleh Ibrahim An-Nakha'i. Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan pakaianmu bersihkanlah. (Al-Muddatstsir: 4) Yakni dirimu bukan pakaianmu.
Dan menurut riwayat yang lain dari Mujahid disebutkan bahwa firman-Nya: dan pakaianmu bersihkanlah. (Al-Muddatstsir. 4) Artinya, perbaikilah amalmu.
Hal yang sama dikatakan oleh Abu Razin; dan menurut riwayat yang lain, makna firman-Nya: dan pakaianmu bersihkanlah. (Al-Muddatstsir: 4) Yakni kamu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang penyair, maka berpalinglah kamu dari apa yang mereka katakan.
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan pakaianmu bersihkanlah. (Al-Muddatstsir: 4) Yaitu bersihkanlah dari perbuatan-perbuatan durhaka; dahulu orang-orang Arab mengatakan terhadap seorang lelaki yang melanggar janjinya dan tidak memenuhinya, bahwa dia adalah seorang yang kotor pakaiannya. Dan apabila dia menunaikan janjinya, maka dikatakan bahwa sesungguhnya dia benar-benar orang yang bersih pakaiannya.
Ikrimah dan Ad-Dahhak mengatakan, bahwa janganlah kamu mengenakannya untuk berbuat maksiat. Dan seorang penyair telah mengatakan:
إِذَا
المرءُ لَمْ يَدْنَس منَ اللُّؤْمِ عِرْضُه ...
فَكُلّ ردَاء يَرْتَديه جَميلُ ...
Apabila seseorang itu tidak mengotori
kehormatannya dengan sifat yang tercela, maka semua pakaian yang dikenakannya
indah.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna
firman-Nya: dan pakaianmu bersihkanlah. (Al-Muddatstsir: 4) Maksudnya,
janganlah pakaian yang kamu kenakan dihasilkan dari mata pencaharian yang tidak
baik. Dikatakan pula, "Janganlah kamu kenakan pakaianmu untuk maksiat." Muhammad ibnu Sirin telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan pakaianmu bersihkanlah. (Al-Muddatstsir: 4) Yakni cucilah dengan air.
Ibnu Zaid mengatakan bahwa dahulu orang-orang musyrik tidak pernah membersihkan dirinya. Maka Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk bersuci dan membersihkan pakaiannya. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir. Tetapi makna ayat mencakup semua pendapat yang telah disebutkan, di samping juga kebersihan (kesucian) hati. Karena sesungguhnya orang-orang Arab menyebut hati dengan sebutan pakaian, seperti apa yang dikatakan oleh Umru-ul Qais berikut ini:
أفاطمَ
مَهلا بَعْضَ هَذا التَدَلُّل ...
وَإن كُنت قَد أزْمَعْت هَجْري فأجْمِلي ...
وَإن
تَكُ قَد سَ ـاءتك مِنِّي خَليقَةٌ ...
فَسُلّي ثِيَابي مِن ثِيَابِكِ تَنْسُلِ
Hai kekasihku Fatimah, sebentar,
dengarkanlah kata-kataku yang memohon ini; bahwa jika engkau telah bertekad
untuk meninggalkanku, maka lakukanlah dengan baik-baik. Dan jika memang ada
sikapku yang kurang berkenan di hatimu, tanyakanlah kepada hatiku dengan mata
hatimu, maka engkau akan memahaminya.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan
pakaianmu bersihkanlah. (Al-Muddatstsir: 4) Artinya. bersihkanlah hati dan
niatmu. Dan Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi dan Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan bahwa perindahlah akhlakmu.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَالرُّجْزَ
فَاهْجُرْ}
dan perbuatan dosa, tinggalkanlah. (Al-Muddatstsir: 5)Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan ar-rijzu ialah berhala, yakni tinggalkanlah penyembahan berhala. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Qatadah, Az-Zuhri, dan Ibnu Zaid, bahwa sesungguhnya ar-rijzu artinya berhala.
Ibrahim dan Ad-Dahhak telah mengatakan sehbungan dengan makna firman-Nya: dan perbuatan dosa tinggalkanlah. (Al-Muddatstsir: 5) Yakni tinggalkanlah perbuatan durhaka.
Pada garis besarnya atas dasar takwil mana pun, makna yang dimaksud bukan berarti Nabi Saw. Telah melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan tersebut. Makna yang dimaksud semisal dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
يَا
أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلا تُطِعِ الْكافِرِينَ وَالْمُنافِقِينَ
Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan)
orang-orang kafir dan orang-orang munafik. (Al-Ahzab: 1)Dan firman Allah Swt.:
وَقالَ
مُوسى لِأَخِيهِ هارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلا تَتَّبِعْ سَبِيلَ
الْمُفْسِدِينَ
Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun, "Gantikanlah aku dalam
(memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan
orang-orang yang membuat kerusakan.” (Al-A'raf: 142)Adapun firman Allah Swt.:
{وَلا
تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ}
dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih
banyak. (Al-Muddatstsir: 6)Ibnu Abbas mengatakan bahwa janganlah kamu memberikan suatu pemberian dengan maksud agar memperoleh balasan yang lebih banyak darinya. Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah, Mujahid, Ata. Tawus, Abul Ahwas, Ibrahim An-Nakha'i, Ad-Dahhak, Qatadah, dan As-Saddi serta lain-lainnya. Telah diriwayatkan pula dari Ibnu Mas'ud, bahwa dia membaca firman-Nya dengan bacaan berikut, "Dan janganlah kamu merasa memberi dengan banyak."
Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa janganlah kamu merasa beramal banyak kepada Tuhanmu. Hal yang sama dikatakan oleh Ar-Rabi' ibnu Anas. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Khasif telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (Al-Muddatstsir: 6) Yakni janganlah kamu merasa lemah diri untuk berbuat banyak kebaikan. Mujahid mengatakan bahwa orang Arab mengatakan tamannana, artinya merasa lemah diri.
Ibnu Zaid mengatakan, janganlah kamu merasa berjasa dengan kenabianmu terhadap manusia dengan maksud ingin memperbanyak dari mereka imbalan jasa berupa duniawi. Keempat pendapat ini yang paling kuat di antaranya adalah yang pertama; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَلِرَبِّكَ
فَاصْبِرْ}
Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah. (Al-Muddatstsir:
7)Yaitu gunakanlah kesabaranmu dalam menghadapi gangguan mereka sebagai amalmu karena Allah Swt. Ini menurut Mujahid, Ibrahim An-Nakha'i berpendapat bahwa bersabarlah kamu terhadap nasibmu karena Allah Swt.
Firman Allah Swt.:
{فَإِذَا
نُقِرَ فِي النَّاقُورِ فَذَلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ عَلَى الْكَافِرِينَ
غَيْرُ يَسِيرٍ}
Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari
yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah. (Al-Muddatstsir:
8-10)Ibnu Abbas, Mujahid, Asy-Sya'bi, Zaid ibnu Aslam, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan Ibnu Zaid telah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan naqiir ialah sangkakala. Mujahid mengatakan bahwa bentuk sangkakala itu sama dengan tanduk.
قَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، حَدَّثَنَا أَسْبَاطُ
بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ مُطَرِّف، عَنْ عَطِيَّةَ الْعَوْفِيِّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ:
{فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ} فَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ
الْقَرْنَ وَحَنَى جَبْهَتَهُ، يَنْتَظِرُ مَتَى يُؤْمَرُ فَيَنْفُخُ؟ " فَقَالَ
أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمَا تَأْمُرُنَا
يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: "قُولُوا: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ،
عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا".
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj,
telah menceritakan kepada kami Asbat ibnu Muhammad, dari Mutarrif, dari Atiyyah
Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan makna firman-Nya: Apabila
sangkakala ditiup. (Al-Muddatstsir. 8) Rasulullah Saw, bersabda:
Bagaimana aku bisa hidup senang sedangkan malaikat Israfil telah mengulum
sangkakalanya dan mengernyitkan dahinya menunggu bila diperintahkan untuk
meniup? Maka para sahabat Rasulullah Saw. bertanya, "Apakah yang engkau
anjurkan kepada kami untuk melakukannya, ya Rasulullah?" Rasulullah Saw.
bersabda: Ucapkanlah, 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia adalah
sebaik-baik Pelindung, dan hanya kepada-Nya kami bertawakal.”Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Asbat dengan sanad yang sama. Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Abu Kuraib, dari Ibnu Fudail dan Asbat; keduanya dari Mutarrif dengan sanad yang sama. Ibnu Jarir telah meriwayatkannya pula melalui jalur lain dari Al-Aufi, dari Ibnu Abbas dengan sanad yang sama.
Firman Allah Swt.:
{فَذَلِكَ
يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ}
maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit.
(Al-Muddatstsir: 9)Yakni hari yang sangat keras iagi sangat sulit.
{عَلَى
الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ}
bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah. (Al-Muddatstsir: 10)Yaitu tidak mudah bagi mereka menjalaninya. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
يَقُولُ
الْكافِرُونَ هَذَا يَوْمٌ عَسِرٌ
Orang-orang kafir berkata, "Ini adalah hari yang berat.” (Al-Qamar:
8)Telah diriwayatkan kepada kami dari Zurarah ibnu Aufa (kadi kota Basrah) bahwa ia mengimami mereka salat Subuh, Lalu membaca surat ini. Ketika bacaannya sampai kepada firman-Nya: Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah. (Al-Muddatstsir: 8-10) Tiba-tiba ia merintih sekali rintih, Lalu terjungkal dalam keadaan tidak bernyawa lagi; semoga rahmat Allah tercurahkan kepadanya.
ذَرْنِي
وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا (11) وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا (12) وَبَنِينَ
شُهُودًا (13) وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا (14) ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ (15)
كَلَّا إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا (16) سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا (17)
إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (18) فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (19) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ
قَدَّرَ (20) ثُمَّ نَظَرَ (21) ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (22) ثُمَّ أَدْبَرَ
وَاسْتَكْبَرَ (23) فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (24) إِنْ هَذَا
إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (25) سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (26) وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ
(27) لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ (28) لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ (29) عَلَيْهَا تِسْعَةَ
عَشَرَ (30)
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku
telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak,
dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kulapangkan baginya (rezeki dan
kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku
menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia
menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur'an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian
yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang
ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian
celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, sesudah itu
dia bermasam maka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan
menyombongkan diri, lalu dia berkata, "(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah sihir
yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan
manusia.”Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apa
(neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka
Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat
penjaga).Allah Swt. berfirman, mengancam orang jahat itu yang telah diberi banyak nikmat duniawi oleh Allah, lalu ia membalasnya dengan kekafiran terhadap nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya, dan menggantinya dengan kekafiran serta keingkaran terhadap ayat-ayat Allah, dan mendustakannya serta menganggapnya sebagai perkataan manusia. Hal ini diungkapkan oleh Allah Swt. dengan menghitung-hitung nikmat yang telah Dia berikan kepadanya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{ذَرْنِي
وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا}
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya
sendirian. (Al-Muddatstsir 11)Yakni dia keluar dari perut ibunya dalam keadaan sendirian, tidak berharta dan tidak beranak, kemudian Allah memberinya rezeki,
{مَالا
مَمْدُودًا}
harta benda yang banyak. (Al-Muddatstsir: 12)Yaitu harta yang berlimpah lagi banyak. Suatu pendapat menyebutnya seribu dinar, pendapat yang lainnya mengatakan seratus ribu dinar, dan menurut pendapat yang lainnya berupa lahan pertanian yang sangat luas, sedangkan pendapat yang lainnya lagi mengatakan selain itu. Dan Allah menjadikan baginya,
{وَبَنِينَ
شُهُودًا}
dan anak-anak yang selalu bersama dia. (Al-Muddatstsir: 13)Mujahid mengatakan makna yang dimaksud ialah tidak pernah absen darinya dan selalu ada bersamanya, tidak pernah bepergian untuk berniaga, melainkan semuanya itu telah ditangani oleh budak-budaknya dan orang-orang upahannya (pegawainya), sedangkan mereka hanya tinggal saja bersama ayah mereka, dan ayah mereka merasa senang selalu bersama mereka serta merasa terhibur. Mereka (anak-anak) itu menurut apa yang disebutkan oleh As-Saddi, Abu Malik dan Asim ibnu Umar ibnu Qatadah ada tiga belas orang. Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan sepuluh orang anak. Hal ini merupakan nikmat yang tiada taranya, yaitu keberadaan anak-anak di dekat orang tua mereka.
{وَمَهَّدْتُ
لَهُ تَمْهِيدًا}
dan Kulapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan
selapang-lapangnya. (Al-Muddatstsir: 14)Yakni Aku berikan kepadanya berbagai macam harta benda dan peralatan serta hal-hal lainnya.
{ثُمَّ
يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ كَلا إِنَّهُ كَانَ لآيَاتِنَا عَنِيدًا}
kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan
Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur'an).
(Al-Muddatstsir: 15-16)Yaitu ingkar karena dia mengingkari nikmat-nikmat-Nya sesudah mengetahui.
Maka Allah Swt. berfirman dalam ayat selanjutnya:
{سَأُرْهِقُهُ
صَعُودًا}
Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan.
(Al-Muddatstsir: 17)
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا
حَسَنٌ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعة، عَنْ دَرَّاج، عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ، عَنْ
أَبِي سعيد، عن رسول الله صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "وَيْلٌ: وَادٍ فِي جَهَنَّمَ، يَهْوِي فِيهِ
الْكَافِرُ أَرْبَعِينَ خَرِيفًا قَبْلَ أَنْ يَبْلُغَ قَعْرَهُ، والصَّعُود:
جَبَلٌ مِنْ نَارٍ يَصْعَدُ فِيهِ سَبْعِينَ خَرِيفًا، ثُمَّ يَهْوِي بِهِ كَذَلِكَ
فِيهِ أَبَدًا".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah
menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Darij, dari Abul Haisam, dari Abu
Sa'id, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Wail adalah nama sebuah
jurang di dalam neraka Jahanam, orang kafir dijatuhkan ke dalamnya selama empat
puluh musim gugur sebelum mencapai dasarnya. Dan Su'ud adalah nama sebuah gunung
dari api neraka yang orang kafir naik mendakinya selama tujuh puluh musim semi,
kemudian terjatuh darinya dalam masa yang sama, untuk selama-lamanya.Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Abdu ibnu Humaid, dari Al-Hasan ibnu Musa Al-Asy-yab dengan sanad yang sama. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya kecuali hanya melalui hadis Ibnu Lahi'ah, dari Darij. Demikianlah menurut Imam Turmuzi. Ibnu Jarir telah meriwayatkannya pula dari Yunus, dari Abdullah ibnu Wahb, dari Amr ibnul Haris, dari Darij, tetapi di dalamnya terdapat hal yang garib dan munkar.
قَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَة وَعَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
-الْمَعْرُوفِ بِعَلَّانَ الْمِصْرِيِّ -قَالَ: حَدَّثَنَا مِنْجاب، أَخْبَرَنَا
شَرِيكٌ، عَنْ عَمَّارٍ الدُّهَنِيّ، عَنْ عَطِيَّةَ الْعَوْفِيِّ، عَنْ أَبِي
سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {سَأُرْهِقُهُ
صَعُودًا} قَالَ: "هُوَ جَبَلٌ فِي النَّارِ مِنْ نَارٍ يُكَلَّفُ أَنْ يَصْعَدَهُ،
فَإِذَا وَضَعَ يَدَهُ ذَابَتْ، وَإِذَا رَفَعَهَا عَادَتْ، فَإِذَا وَضَعَ
رِجْلَهُ ذَابَتْ، وَإِذَا رَفَعَهَا عَادَتْ".
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah dan Ali
ibnu Abdur Rahman yang dikenal dengan Allan Al-Muqri yang mengatakan bahwa telah
menceritakan kepada kami Minjab, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari
Ammar Ad-Duhani, dari Atiyyah Al-Aufi, dari Abu Sa'id, dari Nabi Saw. sehubungan
dengan makna firman Allah Swt: Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang
memayahkan. (Al-Muddatstsir: 17) Lalu beliau Saw. bersabda: Su'ud adalah
sebuah gunung dari api di dalam neraka, orang kafir dipaksa untuk menaikinya.
Maka apabila tangannya ia letakkan di gunung, tangannya itu lebur; dan apabila
ia menariknya, maka kembali seperti semula. Dan apabila ia letakkan kakinya,
maka kakinya itu lebur; dan apabila ia angkat kembali, maka menjadi utuh seperti
semula.Al-Bazzar dan Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Syarik dengan sanad yang sama. Qatadah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Su'ud adalah sebuah batu besar di dalam neraka Jahanam, orang kafir di seret di atasnya dengan muka di bawah. As-Saddi mengatakan bahwa Su'ud adalah sebuah batu yang licin di dalam neraka Jahanam, orang kafir dipaksa untuk mendakinya.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. (Al-Muddatstsir: 17) Yakni kepayahan karena azab. Qatadah mengatakan azab yang tiada henti-hentinya, pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
*******************
Firman Allah Swt.:
{إِنَّهُ
فَكَّرَ وَقَدَّرَ}
Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang
ditetapkannya). (Al-Muddatstsir: 18)Yaitu sesungguhnya Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Yakni Kami mendekatkan azab yang berat kepadanya karena dahulu ia jauh dari iman, sebab dia telah memikirkan dan menetapkan. Dengan kata lain, dia menangguhkan pendapatnya tentang Al-Qur'an ketika ditanya mengenainya, dan ia memikirkan pendapat apa yang akan dibuat-buatnya terhadap Al-Qur'an, dan dia merekayasanya dengan merenungkannya terlebih dahulu.
{فَقُتِلَ
كَيْفَ قَدَّرَ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ}
maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia!
Bagaimanakah dia menetapkan. (Al-Muddatstsir: 19-20)Ini merupakan kutukan terhadapnya.
{ثُمَّ
نَظَرَ}
kemudian dia memikirkan. (Al-Muddatstsir: 21) Maksudnya, kembali memikirkan dan merenungkannya.
{ثُمَّ
عَبَسَ}
sesudah itu dia bermasam muka. (Al-Muddatstsir: 22) Yakni bermuka kecut dan menatapkan pandangannya.
{وَبَسَرَ}
dan merengut. (Al-Muddatstsir: 22)Yaitu mukanya menjadi hitam dan menggambarkan rasa benci; termasuk ke dalam pengertian ini ucapan seorang penyair yang bernama Taubah ibnu Himyar:
وَقَدْ رَابَنِي مِنْهَا صُدُودٌ رَأَيْتُهُ ... وَإِعْرَاضُهَا عَنْ حَاجَتِي وَبُسُورُهَا
Sesungguhnya sangat mencurigakan
diriku sikapnya yang kulihat selalu menghambatku dan dia selalu berpaling dari
keperluanku dengan muka yang merengut.
Firman Allah Swt:
{ثُمَّ
أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ}
kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri.
(Al-Muddatstsir: 23)Yakni berpaling dari perkara hak dan mundur dengan rasa sombong, tidak mau tunduk kepada Al-Qur'an.
{فَقَالَ
إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ يُؤْثَرُ فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ
يُؤْثَرُ}
lalu dia berkata, "(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah sihir yang
dipelajari (dari orang-orang dahulu)." (Al-Muddatstsir: 24)Artinya, ini merupakan sihir yang dinukil oleh Muhammad dari orang lain yang sebelumnya, lalu ia mempelajarinya. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:
{إِنْ
هَذَا إِلا قَوْلُ الْبَشَرِ}
ini tidak lain hanyalah perkataan manusia. (Al-Muddatstsir: 25)Yakni bukan kalam Allah. Dan orang yang berkata demikian seperti yang disebutkan dalam konteks ayat adalah Al-Walid ibnul Mugirah Al-Makhzumi, salah seorang pemimpin dari Quraisy, la'natullah. Dan tersebutlah di antara berita mengenai dirinya tentang hal ini diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa Al-Walid menemui Abu Bakar ibnu Abu Quhafah, lalu bertanya kepadanya tentang Al-Qur'an. Setelah mendapat jawaban dari Abu Bakar, lalu ia keluar dan menemui orang-orang Quraisy, dan berkatalah ia kepada mereka, "Sungguh menakjubkan dengan apa yang diucapkan oleh Ibnu Abu Kabsyah. Demi Allah, apa yang dikatakannya bukanlah syair, bukan sihir, bukan pula kerasukan penyakit gila, tetapi sesungguhnya ucapannya itu benar-benar Kalamullah.”
Ketika segolongan orang-orang Quraisy mendengar ucapan Al-Walid ibnul Mugirah itu, maka mereka menebar hasutan dan mengatakan kepada orang-orang Quraisy, "Demi Allah, jika Al-Walid masuk agama baru, benar-benar orang-orang Quraisy pun akan mengikuti jejaknya." Ketika berita itu terdengar oleh Abu Jahal ibnu Hisyam, maka ia berkata, "Akulah yang akan menanganinya sebagai ganti kalian," lalu ia pergi dan masuk ke dalam rumah Al-Walid ibnul Mugirah. Dan berkatalah ia kepada Al-Walid, 'Tidakkah engkau perhatikan kaummu, sesungguhnya mereka telah mengumpulkan dana untuk diberikan kepadamu?" Al-Walid ibnul Mugirah balik bertanya, "Bukankah aku ini orang yang terkaya di antara mereka dan juga paling banyak memiliki anak?"
Abu Jahal mengatakan kepadanya, "Mereka membicarakan bahwa engkau masuk ke dalam rumah Ibnu Abu Quhafah hanyalah untuk mendapatkan makan darinya." Al-Walid bertanya, "Apakah betul mereka (kaumku) menggunjing aku demikian? Demi Allah, sekarang aku tidak akan mendekati Abu Quhafah lagi, juga Umar dan Ibnu Abu Kabsyah, dan tiadalah apa yang dikatakannya melainkan sihir yang dipelajari." Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. (Al-Muddatstsir: 11) Sampai dengan firman-Nya: Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Al-Muddatstsir: 28)
Qatadah mengatakan bahwa mereka mengira Al-Walid ibnul Mugirah mengatakan, "Demi Allah, sesungguhnya aku perhatikan apa yang dikatakan oleh lelaki ini, ternyata perkataannya itu bukanlah syair, dan sesungguhnya perkataannya itu benar-benar sangat manis dan benar-benar sangat indah. Dan sesungguhnya kata-katanya itu benar-benar tinggi dan tiada yang lebih tinggi daripadanya, dan aku tidak meragukan lagi bahwa kata-katanya itu mempunyai pengaruh yang sangat memukau bagaikan pengaruh sihir." Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan. (Al-Muddatstsir: 19) Hingga firman-Nya: sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. (Al-Muddatstsir: 22) Yakni mengernyitkan keningnya dan mukanya berubah menjadi merengut.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnuSaur, dari Ma'mar, dari Abbad ibnu Mansur, dari Ikrimah, bahwa Al-Walid ibnul Mugirah datang kepada Nabi Saw. Maka beliau membacakan kepadanya Al-Qur'an, kemudian seakan-akan Al-Walid menjadi lunak hatinya kepada Nabi Saw. Ketika hal tersebut terdengar oleh Abu Jahal, maka Abu Jahal ibnu Hisyam datang menemuinya dan berkata, "Hai Paman, sesungguhnya kaummu telah menghimpun dana untukmu." Al-Walid balik bertanya, "Mengapa?" Abu Jahal menjawab, "Mereka akan memberikannya kepadamu, karena sesungguhnya engkau telah datang kepada Muhammad berbeda dengan sikapmu yang sebelumnya." Al-Walid berkata, "Orang-orang Quraisy telah mengetahui bahwa diriku adalah orang yang paling banyak hartanya." Abu Jahal berkata, "Kalau begitu, berikanlah tanggapanmu tentang dia, agar kaummu mengetahui bahwa engkau mengingkari apa yang dikatakannya (Muhammad), dan bahwa engkau benci kepadanya."
Al-Walid bertanya, "Lalu apakah yang harus kukatakan? Demi Allah, tiada seorang pun dari kalian yang lebih mengetahui daripada aku tentang syair, dan tiada pula yang lebih mengetahui tentang puisi dan sajak selain dariku, dan tiada pula yang lebih mengetahui tentang syair jin selain dariku. Demi Allah, apa yang dikatakan Muhammad itu tidak mirip dengan sesuatu pun dari itu. Demi Allah, sesungguhnya dalam ucapan yang dikatakannya benar-benar terkandung keindahan yang tiada taranya. Dan sesungguhnya ucapannya itu benar-benar dapat menghancurkan (mengalahkan) semua yang ada di bawahnya, dan sesungguhnya ia benar-benar tinggi dan tiada yang lebih tinggi daripada dia." Abu Jahal berkata, "Demi Allah, kalau begitu kaummu tidak akan senang sebelum engkau mengatakan sesuatu yang tidak enak terhadapnya." Al-Walid menjawab, "Kalau begitu, biarkanlah aku berpikir terlebih dahulu."
Setelah ia berpikir, lalu berkata, "Sesungguhnya Al-Qur'an yang dikatakannya itu tiada lain merupakan sihir yang dipelajari dari orang lain." Maka turunlah firman Allah Swt.: Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. (Al-Muddatstsir: 11) Sampai dengan firman-Nya: Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (Al-Muddatstsir: 30)
Muhammad ibnu Ishaq dan yang lain yang bukan hanya seorang telah meriwayatkan hal yang semisal. As-Saddi mengira bahwa mereka (orang-orang Quraisy) ketika berkumpul di Darun Nudwah, mereka telah sepakat untuk menyatukan pendapat mereka tentang Nabi Muhammad dengan pendapat yang mendiskreditkannya, sebelum datang kepada mereka delegasi orang-orang Arab untuk menunaikan ibadah haji. Tujuannya ialah agar mereka terhalang dan tidak mengikutinya serta tidak tertarik kepadanya. Maka sebagian dari mereka ada yang mengatakannya seorang penyair, sebagian yang lain mengatakannya seorang tukang sihir, dan yang lainnya lagi mengatakan tukang tenung, sedangkan yang lainnya lagi mengatakannya orang gila. Hal ini diceritakan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya yang mengatakan:
انْظُرْ
كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثالَ فَضَلُّوا فَلا يَسْتَطِيعُونَ
سَبِيلًا
Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang
kamu, lalu sesallah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk
menentang kerasulanmu). (Al-Furqan: 9) dan (Al-Isra: 48)Dengan adanya semua itu Al-Walid berpikir untuk mengada-adakan pendapat dari dirinya sendiri tentang Nabi Saw., dan dia terus berpikir dan berpikir, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, lalu menentukan sikap dan berkata, "Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari dari orang-orang dahulu, ini tidak lain hanyalah perkataan manusia."
*******************
Maka Allah Swt. berfirman:
{سَأُصْلِيهِ
سَقَرَ}
Aku akan memasukkannya kedalam (neraka) Saqar. (Al-Muddatstsir:
26)Yakni Aku akan mengepung dia dengan api neraka dari segala penjurunya. Kemudian Allah Swt. berfirman:
{وَمَا
أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ}
Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? (Al-Muddatstsir: 27)Ini menggambarkan tentang keadaannya yang sangat menakutkan dan amat mengerikan, lalu ditafsirkan oleh firman selanjutnya:
{لَا
تُبْقِي وَلا تَذَرُ}
Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Al-Muddatstsir:
28)Yakni yang memakan daging mereka, urat dan otot serta kulit mereka habis dibakar, kemudian diganti lagi dengan yang lainnya, sedangkan mereka tetap menjalani siksaan itu; tidaklah mereka mati dan tidak pula hidup. Demikianlah menurut Ibnu Buraidah dan Abu Sinan serta selain keduanya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{لَوَّاحَةٌ
لِلْبَشَرِ}
(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (Al-Muddatstsir: 29)Mujahid mengatakan, bahwa yang dimaksud ialah membakar kulit. Abu Razin mengatakan, makna yang dimaksud ialah api neraka itu menjiiat kulit dengan sekali jilatan sehingga menghanguskannya menjadi hitam lebih gelap dari kelamnya malam hari. Zaid ibnu Aslam mengatakan, bahwa tubuh mereka didekatkan kepada neraka.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (Al-Muddatstsir: 29) Maksudnya, apinya membakar hangus kulit. Ibnu Abbas mengatakan, yang membakar kulit manusia.
Firman Allah Swt.:
{عَلَيْهَا
تِسْعَةَ عَشَرَ}
Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (Al-Muddatstsir:
30)Yaitu dari barisan terdepan Malaikat Zabaniyah (juru siksa), bentuk tubuh mereka besar-besar dan penampilan mereka sangat kasar lagi bengis.
قَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ
مُوسَى، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، أَخْبَرَنِي حُرَيْثٌ، عَنْ عَامِرٍ،
عَنِ الْبَرَاءِ فِي قَوْلِهِ: {عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ} قَالَ إِنَّ رَهْطًا
مِنَ الْيَهُودِ سَأَلُوا رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وسلم عن خَزَنَةِ جَهَنَّمَ. فَقَالَ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.
فَجَاءَ رَجُلٌ فَأَخْبَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَ
عَلَيْهِ سَاعَتَئِذٍ: {عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ} فَأَخْبَرَ أَصْحَابَهُ
وَقَالَ: "ادْعُهُمْ، أَمَا إِنِّي سَائِلُهُمْ عَنْ تُربَة الْجَنَّةِ إِنْ
أَتَوْنِي، أَمَا إِنَّهَا دَرْمكة بيضاء". فجاؤوه فَسَأَلُوهُ عَنْ خَزَنَةِ
جَهَنَّمَ، فَأَهْوَى بِأَصَابِعِ كَفَّيْهِ مَرَّتَيْنِ وَأَمْسَكَ الْإِبْهَامَ
فِي الثَّانِيَةِ، ثُمَّ قَالَ: "أَخْبِرُونِي عَنْ تُرْبَةِ الْجَنَّةِ".
فَقَالُوا: أَخْبِرْهُمْ يَا ابْنَ سَلَامٍ. فَقَالَ: كَأَنَّهَا خُبزَة بَيْضَاءُ.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أما إِنَّ الْخُبْزَ
إِنَّمَا يَكُونُ مِنَ الدّرمَك".
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah
menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu
Abu Zaidah, telah menceritakan kepadaku Haris, dari Amir, dari Al-Barra yang
mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Diatasnya ada sembilan
belas (malaikat penjaga). (Al-Muddatstsir: 30) Sesungguhnya ada segolongan
orang-orang Yahudi menanyakan kepada seorang lelaki dari sahabat Rasulullah Saw.
tentang para penjaga neraka Jahanam, maka lelaki itu menjawab, "Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahui." Lelaki itu datang dan menceritakan hal itu kepada
Nabi Saw., lalu saat itu juga Allah menurunkan firman-Nya: Di atasnya ada
sembilan belas (malaikat penjaga). (Al-Muddatstsir: 30) Kemudian Nabi Saw.
memanggil para sahabatnya dan bersabda: Panggillah mereka (orang-orang
Yahudi) itu. Ingatlah, sesungguhnya aku akan menanyakan kepada mereka tentang
warna tanah surga jika mereka datang kepadaku. Ingatlah, sesungguhnya warna
tanah surga itu bagaikan tepung terigu yang putih. Ternyata mereka datang,
lalu menanyakan kepada beliau tentang para penjaga neraka Jahanam. Maka Nabi
Saw. mengisyaratkan dengan jari jemari kedua telapak tangannya sebanyak dua
kali, sedangkan pada yang kedua kali beliau menggenggamkan jari jempolnya (yakni
sembilan belas malaikat penjaga). Lalu Nabi Saw. bertanya, "Ceritakanlah
kepadaku tentang warna tanah surga." Mereka berkata kepada pemimpin mereka,
"Hai Ibnu Salam, jawablah mereka !" Ibnu Salam menjawab, "Seakan-akan putihnya
seperti adonan roti." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Ingatlah, sesungguhnya
roti itu tiada lain terbuat dari tepung.Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Ibnu Abu Hatim, yakni dari Al-Barra. Tetapi menurut pendapat yang terkenal, hadis ini dari Jabir ibnu Abdullah, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar di dalam kitab musnadnya. Ia mengatakan:
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ عَبدَة، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ وَيَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ، حَدَّثَنَا
سُفْيَانُ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ:
يَا مُحَمَّدُ، غلبَ أَصْحَابُكَ الْيَوْمَ. فَقَالَ: "بِأَيِّ شَيْءٍ؟ " قَالَ:
سَأَلَتْهُمْ يَهُود هَلْ أَعْلَمَكُمْ نَبِيُّكُمْ عِدَّةَ خَزَنَةِ أَهْلِ
النَّارِ؟ قَالُوا: لَا نَعْلَمُ حَتَّى نَسْأَلَ نَبِيَّنَا صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"أَفَغُلِبَ قَوْمٌ سُئلوا عَمَّا لَا يَدْرُونَ فَقَالُوا: لَا نَدْرِي حَتَّى
نَسْأَلَ نَبِيَّنَا؟ عليَّ بِأَعْدَاءِ اللَّهِ، لَكِنْ سَأَلُوا نَبِيَّهُمْ أَنْ
يُرِيَهُمُ اللَّهَ جَهْرَةً". فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ فَدَعَاهُمْ. قَالُوا: يَا
أَبَا الْقَاسِمِ، كَمْ عَدَدُ خَزَنَةِ أَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ: "هَكَذَا"،
وَطَبَّقَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ طَبَّقَ كَفَّيْهِ، مَرَّتَيْنِ، وَعَقَدَ وَاحِدَةً،
وَقَالَ لِأَصْحَابِهِ: "إِنْ سُئِلْتُمْ عَنْ تُرْبَةِ الْجَنَّةِ فَهِيَ
الدَّرمك". فَلَمَّا سَأَلُوهُ فَأَخْبَرَهُمْ بِعِدَّةِ خَزَنَةِ أَهْلِ النَّارِ،
قَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَا تُرْبَةُ
الْجَنَّةِ؟ " فَنَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، فَقَالُوا: خُبْزَةٌ يَا أَبَا
الْقَاسِمِ. فَقَالَ: "الْخُبْزُ مِنَ الدَّرمك".
telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ubaidah, telah menceritakan kepada
kami Sufyan dan Yahya ibnu Hakarn, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari
Mujalid, dari Asy-Sya'bi, dari Jabir ibnu Abdullah r.a. yang mengatakan bahwa
seorang lelaki datang kepada Nabi Saw., lalu berkata, "Hai Muhammad,
sahabat-sahabatmu telah dikalahkan, hari ini." Nabi Saw. bertanya, "Mengapa?"
Lelaki itu menjawab, "Orang-orang Yahudi mengatakan kepada mereka, 'Apakah
nabimu telah memberitahukan kepadamu tentang jumlah para malaikat penjaga
neraka?' Mereka menjawab, 'Kami tidak mengetahuinya sebelum menanyakannya kepada
nabi kami'." Rasulullah Saw. bersabda, "'Apakah suatu kaum yang ditanyai
tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui dapat dikatakan mereka dikalahkan,
sedangkan mereka hanya menjawab, 'Kami tidak mengetahuinya sebelum menanyakannya
kepada Nabi kami'? Undanglah musuh-musuh Allah itu kemari, tetapi mereka pernah
meminta kepada nabi mereka supaya Allah menampakkannya kepada mereka
terang-terangan.", Maka Rasulullah Saw. memerintahkan agar mereka dipanggil
menghadap kepadanya, lalu mereka pun datang dan bertanya, "Hai Abul Qasim,
berapakah jumlah penjaga neraka itu?" Nabi Saw. memberi petunjuk kepada
sahabatnya dengan isyarat jari jemari kedua tangannya sebanyak dua kali,
sedangkan yang kedua kalinya beliau genggamkan salah satu jarinya, seraya
bersabda, "Jumlahnya segini." Lalu Nabi Saw. bersabda kepada para sahabatnya:
Jika kamu ditanya mengenai warna tanah surga, maka tanah surga itu putih
seperti tepung gandum. Ketika mereka menanyakan tentang bilangan penjaga
neraka, dan Nabi Saw. memberitahukannya kepada mereka, lalu beliau Saw. bertanya
kepada mereka, "Bagaimanakah warna tanah surga?" Maka sebagian dari mereka
memandang kepada sebagian yang lain, lalu berkata, "Seperti roti, hai Abul
Qasim."Nabi Saw. bersabda, "Roti itu terbuat dari tepung."Imam Turmuzi meriwayatkan hal yang sama dalam tafsir ayat ini dari Ibnu Abu Umar, dari Syaiban dengan sanad yang sama. Ia serta Al-Bazzar mengatakan hadis ini tidak dikenal melainkan hanya melalui riwayat Mujahd. Imam Ahmad telah meriwayatkannya dari Ali ibnul Madini, dari Sufyan tanpa menyebutkan darmak (tepung terigu).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar