{تُسَبِّحُ
لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا
يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ
حَلِيمًا غَفُورًا (44) }
Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di
dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih
dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.Tujuh langit dan bumi bertasbih menyucikan Allah. dan semua yang ada di dalamnya. (Al-Isra: 44) Yakni semua makhluk yang ada di langit dan di bumi menyucikan Allah, mengagungkan, memuliakan, dan membesarkan-Nya dari apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrik itu. Dan semuanya mempersaksikan keesaan Allah sebagai Rabb dan Tuhan mereka.
فَفي
كُلّ شَيءٍ لَهُ آيَةٌ ...
تَدُلُّ عَلى أنَّه وَاحِدٌ ...
Dalam segala sesuatu terdapat tanda
kekuasaan-Nya yang menunjukkan bahwa Dia adalah Maha Esa.
Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan Allah dalam ayat lain melalui
firman-Nya:
{تَكَادُ
السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الأرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ
هَدًّا * أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا }
hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan
gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah
mempunyai anak. (Maryam: 90-91)
قَالَ
أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ،
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حدثنا مسكين ابن مَيْمُونٍ مُؤَذِّنُ مَسْجِدِ
الرَّمْلَةِ، حَدَّثَنَا عُرْوَةُ بْنُ رُوَيم، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
قُرْطٍ؛ أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم
لَيْلَةَ
أُسْرِيَ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى، كَانَ بَيْنَ الْمَقَامِ وَزَمْزَمَ،
جِبْرِيلُ عَنْ يَمِينِهِ وَمِيكَائِيلُ عَنْ يَسَارِهِ، فَطَارَ بِهِ حَتَّى
بَلَغَ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ، فَلَمَّا رَجَعَ قَالَ: سَمِعْتُ تَسْبِيحًا فِي
السَّمَاوَاتِ الْعُلَى مَعَ تَسْبِيحٍ كَثِيرٍ: سَبَّحَتِ السَّمَاوَاتُ الْعُلَى
مِنْ ذِي الْمَهَابَةِ مُشْفِقَاتٍ لِذِي الْعُلُوِّ بِمَا عَلَا سُبْحَانَ
الْعَلِيِّ الْأَعْلَى، سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu
Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Mansur, telah menceritakan
kepada kami Sulaiman ibnu Maimun (Juru azan Masjid Ramlah), telah menceritakan
kepada kami Urwah ibnu Ruwayyim, dari Abdur Rahman ibnu Qart, bahwa Rasulullah
Saw. ketika akan menjalani Isra-Nya ke Masjidil Aqsa sedang berada di antara
Maqam Ibrahim dan sumur Zamzam. Malaikat Jibril berada di sebelah kanan, dan
Malaikat Mikail berada di sebelah kirinya. Lalu keduanya membawa Nabi Saw.
terbang sampai ke langit yang ketujuh. Ketika Nabi Saw. kembali (ke bumi),
beliau bersabda: Saya mendengar suara bacaan tasbih di langit yang tertinggi
bersamaan dengan suara tasbih (para malaikat) yang sangat banyak. Semua
penduduk langit tertinggi bertasbih menyucikan nama Tuhan Yang memiliki pengaruh
karena takut kepada Tuhan yang memiliki kekuasaan Yang Mahatinggi, Mahasuci
Tuhan Yang Mahatinggi, Mahasuci Dia dan Mahatinggi.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَإِنْ
مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ}
Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya.
(Al-Isra: 44)Maksudnya, tiada suatu makhluk pun melainkan bertasbih dengan memuji nama Allah.
{وَلَكِنْ
لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ}
tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka, (Al-Isra: 44)Yakni kalian, hai manusia, tidak mengerti tasbih mereka, karena mereka mempunyai bahasa yang berbeda dengan bahasa kalian. Pengertian ayat ini mencakup keseluruhan makhluk, termasuk hewan, benda-benda padat, dan tumbuh-tumbuhan. Demikianlah menurut pendapat yang terkenal di antara dua pendapat yang ada. Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui Ibnu Mas'ud yang mengatakan, "Kami mendengar tasbih makanan ketika sedang disantap."
Di dalam hadis Abu Zar r.a. disebutkan bahwa Nabi Saw. pernah mengambil beberapa batu kerikil dan dipegangnya, maka beliau mendengar suara tasbih batu-batu kerikil itu mirip dengan suara rintihan pohon kurma. Hal yang sama pernah terjadi di tangan Abu Bakar, Umar, dan Usman —semoga Allah melimpahkan rida-Nya pada mereka— seperti yang telah disebutkan di dalam hadis masyhur di dalam kitab-kitab Musnad.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا ابْنُ لَهيعة، حَدَّثَنَا زَبَّان، عَنْ سَهْلِ
بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَرّ عَلَى قَوْمٍ وَهُمْ
وُقُوفٌ عَلَى دَوَابٍّ لَهُمْ وَرَوَاحِلَ، فَقَالَ لَهُمْ: "ارْكَبُوهَا
سَالِمَةً، وَدَعُوهَا سَالِمَةً، وَلَا تَتَّخِذُوهَا كَرَاسِيَّ لِأَحَادِيثِكُمْ
فِي الطُّرُقِ وَالْأَسْوَاقِ، فَرُبَّ مَرْكُوبَةٍ خَيْرٌ مِنْ رَاكِبِهَا،
وَأَكْثَرُ ذِكْرًا لِلَّهِ مِنْهُ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah
menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Zaban,
dari Sahl ibnu Mu'az, dari Ibnu Anas dari ayahnya r.a., dari Rasulullah Saw.
Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. menjumpai suatu kaum, saat itu mereka sedang
duduk bertengger di atas hewan-hewan kendaraan mereka (dalam keadaan berhenti
sambil mengobrol dengan temannya masing-masing). Maka Rasulullah Saw. bersabda
kepada mereka: Kendarailah kendaraan kalian dengan baik-baik, dan
lepaskanlah (istirahatkanlah) kendaraan kalian dengan baik-baik, dan
janganlah kalian menjadikan kendaraan kalian sebagai kursi bagi obrolan kalian
di jalan-jalan dan pasar-pasar, karena banyak kendaraan yang lebih baik
daripada pengendaranya dan lebih banyak berzikir kepada Allah
daripadanya.Di dalam kitab Sunnah Imam Nasai disebutkan melalui Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. melarang membunuh katak, lalu beliau bersabda:
"نَقِيقُهَا
تَسْبِيحٌ"
Suara katak adalah tasbihnya.Qatadah telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Ubay, dari Abdullah ibnu Amr, bahwa apabila seseorang mengucapkan, "Tidak ada Tuhan selain Allah," maka hal ini merupakan kalimat ikhlas yang Allah tidak akan menerima amal seseorang sebelum ia mengucapkannya. Dan apabila seseorang mengucapkan, "Segala puji bagi Allah," maka hal ini merupakan kalimat syukur yang sama sekali Allah tidak membalas pahala hamba-Nya sebelum si hamba mengucapkannya. Dan apabila seseorang mengucapkan, "Allah Maha Besar," maka kalimat ini memenuhi segala sesuatu yang ada di antara langit dan bumi. Dan apabila ia mengucapkan, "Mahasuci Allah," maka hal ini merupakan doa semua makhluk, yang tidak sekali-kali seseorang dari makhluk Allah mendoa dengannya melainkan Allah mengakuinya sebagai doa dan tasbih. Dan apabila seseorang mengucapkan, "Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah," maka Allah Swt. berfirman, "Hamba-Ku telah Islam dan berserah diri."
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، سَمِعْتُ
الصَّقْعَبَ بْنَ زُهير [يُحَدِّثُ] عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ
يَسَارٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى الله
عليه وسلم أعرابيّ عليه جبة
مِنْ
طَيَالِسَةٍ مَكْفُوفَةٌ بِدِيبَاجٍ -أَوْ: مُزَوَّرَةٌ بِدِيبَاجٍ -فَقَالَ: إِنَّ
صَاحِبَكُمْ هَذَا يُرِيدُ أَنْ يَرْفَعَ كُلَّ رَاعٍ ابْنِ رَاعٍ، وَيَضَعَ كُلَّ
رَأْسٍ ابْنِ رَأْسٍ. فَقَامَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مُغْضَبًا، فَأَخَذَ بِمَجَامِعِ جُبَّتِهِ فَاجْتَذَبَهُ، فَقَالَ: "لَا
أَرَى عَلَيْكَ ثِيَابَ مَنْ لَا يَعْقِلُ". ثُمَّ رَجَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَلَسَ فَقَالَ: "إِنَّ نُوحًا، عَلَيْهِ السَّلَامُ،
لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، دَعَا ابْنَيْهِ فَقَالَ: إِنِّي قَاصٌّ عَلَيْكُمَا
الْوَصِيَّةَ: آمُرُكُمَا بِاثْنَتَيْنِ وَأَنْهَاكُمَا عَنِ اثْنَتَيْنِ:
أَنْهَاكُمَا عَنِ الشِّرْكِ بِاللَّهِ وَالْكِبْرِ، وَآمُرُكُمَا بِلَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ، فَإِنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَوْ
وُضِعَتْ فِي كِفَّةِ الْمِيزَانِ، وَوُضِعَتْ "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ" فِي
الْكِفَّةِ الْأُخْرَى، كَانَتْ أَرْجَحَ، وَلَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ والأرضِ
كَانَتَا حَلْقَةً، فَوُضِعَتْ "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ" عَلَيْهِمَا
لَفَصَمَتْهُمَا أَوْ لَقَصَمَتْهُمَا. وَآمُرُكُمَا بِسُبْحَانَ اللَّهِ
وَبِحَمْدِهِ، فَإِنَّهَا صَلَاةُ كُلِّ شَيْءٍ، وَبِهَا يُرْزَقُ كُلُّ
شَيْءٍ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah
menceritakan kepada kami Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, bahwa ia
pernah mendengar Mus'ab ibnu Zuhair menceritakan hadis berikut dari Zaid ibnu
Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abdullah ibnu Amr yang menceritakan bahwa
seorang Badui datang kepada Nabi Saw. dengan memakai jubah yang diberi hiasan
dengan kain sutera atau pinggirannya dihiasi dengan kain sutera. Lalu lelaki
Badui itu berkata, "Sesungguhnya teman kalian ini (Nabi Saw.) bermaksud akan
mengangkat martabat semua penggembala anak penggembala dan merendahkan semua
pemimpin anak pemimpin." Maka Nabi Saw. bangkit menuju ke tempat lelaki Badui
itu dan memegang jubahnya, lalu menariknya seraya bersabda, "Saya melihatmu
memakai pakaian orang yang tidak berakal." Kemudian Rasulullah Saw. kembali
ke tempat duduknya dan duduk lagi, lalu bersabda: Sesungguhnya Nuh a.s.
ketika menjelang ajalnya memanggil kedua putranya, lalu berwasiat, "Sesungguhnya
aku akan mengutarakan kepadamu wasiat berikut: Aku perintahkan kamu berdua untuk
mengerjakan dua perkara dan aku larang kamu melakukan dua perkara lainnya. Aku
larang kalian mempersekutukan Allah dan takabur (sombong). Dan aku
perintahkan kamu berdua membaca kalimah 'Tidak ada Tuhan selain Allah'. Karena
sesungguhnya langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya, jikalau
diletakkan pada salah satu sisi timbangan, lalu di sisi lainnya diletakkan
kalimah 'Tidak ada Tuhan selain Allah', tentulah kalimah itu lebih berat. Dan
seandainya langit dan bumi kedua-duanya dijadikan satu, lalu diletakkan padanya
kalimah "Tidak ada Tuhan selain Allah', niscaya kalimah itu akan memotongnya
atau membuatnya terbelah. Dan aku perintahkan kamu berdua untuk membaca
'Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya', karena sesungguhnya kalimah ini
merupakan doa semua makhluk, dan karenanya segala sesuatu (semua makhluk)
mendapat rezekinya.”Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Sulaiman ibnu Harb, dari Ham-madah ibnu Zaid, dari Mus'ab ibnu Zuhair dengan sanad yang sama, tetapi lafaznya lebih panjang daripada lafaz di atas. Imain Ahmad meriwayatkan hadis ini secara munfarid.
وَقَالَ
ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي نَصْرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأوْدِيّ، حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ يَعْلى، عَنْ مُوسَى بْنِ عُبَيْدَةَ، عَنْ زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ،
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِشَيْءٍ أَمَرَ
بِهِ نُوحٌ ابْنَهُ؟ إِنَّ نُوحًا، عَلَيْهِ السَّلَامُ، قَالَ لِابْنِهِ: يَا
بُنَيَّ، آمُرُكَ أَنْ تَقُولَ: "سُبْحَانَ اللَّهِ"، فَإِنَّهَا صَلَاةُ الْخَلْقِ
وَتَسْبِيحُ الْخَلْقِ، وَبِهَا يُرْزَقُ الْخَلْقُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
{وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ}
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Nasr ibnu Abdur Rahman
Al-Audi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ya'la, dari Musa ibnu
Ubaidah, dari Zaid ibnu Aslam, dari Jabir ibnu Abdullah r.a. yang mengatakan
bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Maukah aku ceritakan kepada kalian
sesuatu yang diperintahkan oleh Nuh kepada anaknya? Yaitu sesungguhnya Nabi Nuh
a.s. mengatakan kepada anaknya, "Hai anakku, aku perintahkan kamu untuk membaca
Subhanallah (Mahasuci Allah), karena sesungguhnya kalimah ini merupakan
doa makhluk; juga tasbih makhluk, karena berkat kalimah ini makhluk diberi
rezeki. Allah Swt. telah berfirman: Dan tak ada suatu pun melainkan
bertasbih dengan memujinya. (Al-Isra: 44)Sanad hadis ini mengandung ke-daif-an, karena Al-Audi orangnya dinilai daif oleh kebanyakan ulama hadis.
Ikrimah telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memujinya. (Al-Isra: 44) bahwa tiang bertasbih dan pohon-pohonan bertasbih.
Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa deritan pintu adalah tasbihnya, dan gemerciknya suara air adalah tasbihnya. Allah Swt. telah berfirman: Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memujinya. (Al-Isra: 44)
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Ibrahim, bahwa makanan pun bertasbih. Pendapat ini berpegang kepada sebuah ayat sajdah yang ada di dalam surat Al-Hajj.
Ulama lainnya mengatakan bahwa sesungguhnya tasbih itu hanya dilakukan oleh makhluk yang bernyawa, yakni termasuk pula hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memujinya. (Al-Isra: 44) Segala sesuatu yang hidup bertasbih, termasuk tumbuh-tumbuhan dan lain-lainnya yang hidup.
Al-Hasan dan Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya. (Al-Isra: 44) Keduanya mengatakan bahwa yang dimaksud ialah segala sesuatu yang bernyawa.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Wadih dan Zaid ibnu Hubab; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Jarir Abul Khattab yang mengatakan bahwa ketika kami sedang bersama Yazid Ar-Raqqasyi —yang saat itu ditemani oleh Al-Hasan dalam suatu jamuan makan— lalu mereka menghidangkan piring besar (yang terbuat dari kayu). Maka Yazid Ar-Raqqasyi berkata, "Hai Abu Sa'd, apakah piring ini bertasbih?" Maka Al-Hasan menjawab, "Ia pernah bertasbih sekali." Seakan-akan Al-Hasan berpendapat bahwa ketika kayu itu masih dalam bentuk pohon dan hidup, ia bertasbih. Tetapi setelah dipotong sehingga menjadi kayu dan mati, maka tasbihnya berhenti.
Barangkali pendapat ini merujuk kepada suatu hadis yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Saw. melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda:
"إِنَّهُمَا
لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا
يَسْتَتر مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ".
ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً، فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ فِي كُلِّ
قَبْرٍ وَاحِدَةً، ثُمَّ قَالَ: "لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ
يَيْبَسَا".
Sesungguhnya keduanya sedang disiksa dan bukanlah keduanya disiksa karena
dosa besar. Salah seorang di antara keduanya tidak pernah membersihkan diri
setelah buang air kecil, sedangkan yang lainnya gemar mengadu domba. Setelah
itu Nabi Saw. mengambil sebuah pelepah kurma, lalu membelahnya menjadi dua,
kemudian menanamkannya pada masing-masing dari dua kuburan tersebut. Dan setelah
itu beliau Saw. bersabda: Mudah-mudahan siksaan diringankan dari keduanya
selagi kedua pelepah kurma ini belum kering.Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahih masing-masing. Sebagian ulama yang membahas hadis ini mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi Saw. mengatakan, "Selagi kedua pelepah kurma ini belum kering," karena keduanya tetap bertasbih selagi masih hijau warnanya; dan apabila telah kering, maka berhentilah tasbihnya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{إِنَّهُ
كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا}
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al-Isra:
44)Dengan kata lain, sesungguhnya Allah tidak menyegerakan hukumanNya terhadap orang yang durhaka kepada-Nya, melainkan menangguhkannya dan memberinya kesempatan untuk bertobat. Apabila ternyata orang yang bersangkutan masih tetap pada kekafirannya dan tetap ingkar, maka barulah Allah menghukumnya sebagai pembalasan dari Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa. Di dalam kitab Sahihain disebutkan oleh salah satu hadisnya bahwa:
"إِنَّ
اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ، حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ". ثُمَّ
قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَكَذَلِكَ أَخْذُ
رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ}
الآية،
Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan masa tangguh kepada orang yang
zalim; sehingga manakala Allah mengazab-nya, Allah tidak membiarkannya luput
(dari azab-Nya). Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Dan
begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat
zalim. (Hud: 102), hingga akhir ayat.
{وَكَأَيِّنْ
مِنْ قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ
الْمَصِيرُ}
Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan azab-(Ku)
kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim. (Al-Hajj: 48), hingga akhir
ayat.Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim. (Al-Hajj: 45)
Dan barang siapa yang menghentikan perbuatan kufur dan maksiatnya, lalu ia kembali kepada Allah dan bertobat kepada-Nya, maka Allah pun akan menerima tobatnya. Seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَمَنْ
يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ
غَفُورًا رَحِيمًا}
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya' dirinya,
kemudian ia mohon ampun kepada Allah. (An-Nisa: 110), hingga akhir ayat.Dan dalam ayat surat ini Allah Swt. berfirman:
{إِنَّهُ
كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا}
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al-Isra:
44)Dalam surat Fafir disebutkan oleh firman-Nya:
{إِنَّ
اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ أَنْ تَزُولا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ
أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا
غَفُورًا}
Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan
sungguh jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan
keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha
Pengampun. (Fathir: 41)sampai dengan firman-Nya:
وَلَوْ
يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ
Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia. (Fathir: 45), hingga akhir
surat.
{وَإِذَا
قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا (45) وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً
أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي
الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا (46) }
Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami
adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat
suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan
sumbatan di telinga mereka agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu
menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang
karena bencinya.Allah Swt. berfirman kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad Saw.: Dan apabila kamu membaca. (Al-Isra: 45) hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik itu akan Al-Qur'an, maka Kami jadikan dinding penghalang antara kamu dan mereka.
Menurut Qatadah dan Ibnu Zaid, yang dimaksud dengan hijaban masturan ialah berupa penutup yang menutupi hati mereka. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:
{وَقَالُوا
قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ
وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ}
Mereka berkata, "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutup) apa
yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami
dan kamu ada dinding.” (Fushshilat: 5)yakni dinding yang menghalang-halangi apa yang kamu ucapkan untuk dapat sampai kepada kami.
Firman Allah Swt.:
{حِجَابًا
مَسْتُورًا}
suatu dinding yang tertutup. (Al-Isra: 45)Mastur adalah bentuk maf'ul, tetapi bermakna fa'il, yakni satir (tertutup). Perihalnya sama dengan lafaz maimun dan masy-um; yang pertama bermakna yamin, dan yang kedua bermakna sya-im karena berasal dari yumnun dan syu-mun. Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah yang tersembunyi dari pandangan mata, sehingga mata tidak dapat melihatnya. Dan selain dari itu menjadi penghalang antara mereka dan hidayah. Pendapat yang terakhir ini dipilih sebagai pendapat yang kuat oleh Ibnu Jarir.
Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al-Harawi Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-Walid ibnu Kasir, dari Yazid ibnu Tadris, dari Asma binti Abu Bakar r.a. yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan (yaitu firman-Nya): Binasalah kedua tangan Abu Lahab. (Al-Lahab: 1) Datanglah Al-Aura ibnu Jamil (istri Abu Lahab) dengan membawa lesung seraya memaki-maki dan mengatakan, "Kami datang, atau kami menolak (Abu Musa ragu dalam kalimat ini), kami tidak mau mengikuti agamanya, kami tentang perintahnya." Saat itu Rasulullah Saw. sedang duduk bersama Abu Bakar yang ada di sampingnya. Lalu Abu bakar berkata kepada Nabi Saw., "Istri Abu Lahab datang, dan saya merasa khawatir bila ia melihat engkau,." Maka Nabi Saw. bersabda, "Dia tidak akan dapat melihat diriku." Lalu Nabi Saw. membaca ayat Al-Qur'an yang melindungi dirinya dari wanita itu. Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat suatu dinding yang tertutup. (Al-Isra: 45) Lalu Ummu Jamil tiba di tempat Abu Bakar sambil berdiri bertolak pinggang, tetapi ia tidak melihat Nabi Saw. Ia berkata, "Hai Abu Bakar, saya dengar temanmu menghinaku." Abu Bakar r.a. menjawab, "Tidak, beliau tidak menghinamu." Maka Ummu Jamil pergi seraya berkata, "Semua orang Ouraisy mengetahui bahwa aku adalah anak perempuan pemimpin mereka."
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَجَعَلْنَا
عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً}
dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka. (Al-Isra: 46) Akinnah bentuk jamak dari kinan, artinya selaput yang menutupi hati.
{أَنْ
يَفْقَهُوهُ}
Agar mereka tidak dapat memahaminya (Al-Isra: 46)Yakni agar mereka tidak dapat memahami Al Qur'an.
{وَفِي
آذَانِهِمْ وَقْرًا}
dan sumbatan di telinga mereka. (Al-Isra: 46)Yaitu sumbatan yang menghalang-halangi mereka dapat mendengar Al-Qur'an dengan pendengaran yang dapat memberikan manfaat dan hidayah kepada mereka.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَإِذَا
ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ}
Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an. (Al-Isra:
46)Artinya, bilamana kamu esakan nama Tuhanmu dalam bacaan Al-Qur'anmu dan kamu katakan, "Tidak ada Tuhan selain Allah."
نُفُورًا
niscaya mereka berpaling. (Al-Isra: 46)Nufur adalah bentuk jamak dari nafir (berpaling). Perihalnya sama dengan qu'ud, bentuk jamak dari qa’id. Tetapi boleh dikatakan bahwa ia adalah bentuk masdar yang bersandar bukan dari fi'il-nya.
Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَإِذَا
ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
بِالآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ
يَسْتَبْشِرُونَ}
Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang
yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat. (Az-Zumar: 45), hingga akhir
ayat.Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an. (Al-Isra: 46), hingga akhir ayat. Bahwa manakala kaum muslim mengucapkan kalimah "Tidak ada Tuhan selain Allah", maka orang-orang musyrik memprotesnya dan kalimat itu terasa berat oleh mereka, kemudian iblis dan bala tentaranya membantu mereka. Akan tetapi, Allah membelanya dan tetap melancarkannya, meninggikannya, menolongnya serta memenangkannya atas orang-orang yang menentangnya. Sesungguhnya kalimat ini (kalimat tauhid) adalah kalimat yang bila dijadikan pegangan oleh orang yang sedang berseteru, tentulah dia akan beruntung; dan barang siapa berperang demi membelanya, tentulah dia mendapat pertolongan dari Allah. Saat itu yang mengenal kalimah tersebut hanyalah kaum muslim penduduk kawasan Jazirah Arabia yang dapat ditempuh oleh seorang pengendara hanya dalam beberapa malam saja. Sedangkan semua manusia di masa itu tenggelam di dalam, kegelapannya, mereka tidak mengenalnya dan tidak pula mengakuinya.
Pendapat lain tentang ayat tersebut Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Husain ibnu Muhammad Az-Zari', telah menceritakan kepada kami Rauh ibnul Musayyab alias Abu Raja Al-Kalbi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Malik, dari Abul Jauza, dari ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya. (Al-Isra: 46) Bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah setan-setan.
Tetapi pendapat ini garib sekali, karena sesungguhnya sudah jelas bahwa setan-setan itu apabila dibacakan Al-Qur'an atau diserukan azan atau zikrullah, mereka lari terbirit-birit.
{نَحْنُ
أَعْلَمُ بِمَا يَسْتَمِعُونَ بِهِ إِذْ يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ وَإِذْ هُمْ
نَجْوَى إِذْ يَقُولُ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلا رَجُلا مَسْحُورًا (47)
انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الأمْثَالَ فَضَلُّوا فَلا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلا
(48) }
Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana
mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka
berbisik-bisik (yaitu) ketika
orang-orang zalim itu berkata, "Kalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang
laki-laki yang kena sihir.” Lihatlah bagaimana mereka membuat
perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak
dapat lagi menemukan jalan (yang benar).Allah Swt. memberitahukan kepada Nabi-Nya tentang apa yang dibisik-bisikkan oleh pemimpin orang-orang kafir Quraisy di antara sesamanya ketika mereka datang mendengarkan apa yang dibacakan oleh Nabi Saw. secara sembunyi-sembunyi melalui kaum mereka. Mereka mengatakan bahwa Nabi Saw. adalah seorang laki-laki yang kena sihir. Demikianlah menurut pendapat yang terkenal yang mengatakan bahwa kata mas-hur adalah bentuk isim maf'ul dari as-sihr yang artinya terkena sihir. Atau dapat dikatakan bahwa ia berasal dari as-sahar yang artinya paru-paru. Dengan kata lain, tiadalah yang kalian ikuti melainkan seorang manusia yang memakan makanan. Pengertian ini sama dengan yang terdapat di dalam perkataan seorang penyair:
فَإن
تَسألينا فِيمَ نَحْنُ فَإنَّنا ...
عصافيرُ مِنْ هَذا الأنَام المُسَحَّر ...
Maka jika engkau menanyakan kepada
kami tentang apa yang kami alami, maka sesungguhnya kami adalah orang-orang
kecil dari kalangan manusia yang diberi makan.
Dikatakan yus-haru bit ta'ami wasy'syarabi artinya diberi makan dan
minum. Pendapat ini dinilai benar oleh Ibnu Jarir. Tetapi masih perlu
dipertimbangkan kebenarannya, karena sesungguhnya orang-orang kafir itu dalam
kalimatnya ini bermaksud bahwa Nabi Saw. adalah seorang yang kena sihir yang
memiliki jin. Jin itu selalu datang kepadanya menyampaikan kalam yang telah
didengarnya, kemudian Nabi Saw. membacanya.Di antara orang-orang kafir ada yang menuduhnya (Nabi Saw.) sebagai seorang penyair, ada yang menuduhnya seorang tukang tenung, ada yang menuduhnya seorang yang gila, dan ada yang menuduhnya seorang yang ahli sihir. Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{انْظُرْ
كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الأمْثَالَ فَضَلُّوا فَلا يَسْتَطِيعُونَ
سَبِيلا}
Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu;
karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang
benar). (Al-Isra: 48)Yakni mereka tidak dapat memperoleh petunjuk ke jalan yang benar dan tidak dapat menemukan jalan keluar dari kesesatannya.
Muhammad ibnu Ishaq di dalam kitab As-Sirah-nya mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muslim ibnu Syihab Az-Zuhri; ia pernah menceritakan suatu kisah bahwa Abu Sufyan ibnu Harb dan Abu Jahal ibnu Hisyam serta Al-Akhnas ibnu Syuraiq ibnu Amr ibnu Wahb As-Saqafi (teman sefakta Bani Zuhrah) keluar di suatu malam dengan tujuan untuk mendengar apa yang dibaca oleh Rasulullah Saw. dalam salatnya di malam hari di dalam rumahnya. Kemudian masing-masing orang dari mereka mengambil posisinya masing-masing untuk mencuri dengar dari tempat (posisi)nya, masing-masing dari mereka tidak mengetahui tempat temannya. Maka semalaman penuh mereka mendengarkan apa yang dibaca oleh Rasulullah Saw. Setelah fajar terbit, mereka bubar.' Dan ketika mereka bertemu di tengah perjalan pulangnya, mereka saling mencela di antara sesamanya. Sebagian dari mereka mengatakan kepada sebagian yang lain, "Janganlah kalian lakukan lagi, karena kalau ada seseorang dari kalangan awam kalian melihat kalian, maka akan menimbulkan kecurigaan di hatinya terhadap kalian." Setelah itu mereka pulang ke tempatnya masing-masing. Kemudian pada malam yang kedua, masing-masing dari mereka kembali ke tempat posisinya semula, lalu semalaman mereka mendengarkan bacaan Nabi Saw. Ketika fajar terbit mereka bubar; dan dalam perjalanan pulangnya mereka bersua, lalu sebagian dari mereka mengatakan hal yang sama seperti kemarin kepada sebagian yang lainnya, kemudian pulang ke rumahnya masing-masing. Pada malam yang ketiganya masing-masing orang dari mereka kembali ke tempat posisinya semula, lalu semalaman mereka mendengarkan bacaan Nabi Saw. (dalam salatnya) hingga fajar terbit, kemudian mereka pulang. Di tengah jalan mereka bersua, maka sebagian dari mereka mengatakan kepada sebagian yang lain, "Kita tidak mau meninggalkan tempat ini sebelum ada perjanjian di antara kita, bahwa kita tidak akan kembali lagi melakukan hal ini!" Akhirnya mereka mengadakan perjanjian di antara sesamanya, bahwa mereka tidak akan mengulanginya lagi. Setelah itu masing-masing pulang ke rumahnya. Pada keesokkan harinya Al-Akhnas ibnu Syuraiq mengambil tongkatnya, lalu keluar rumah menuju ke tempat Abu Sufyan ibnu Harb. Sesampainya di rumah Abu Sufyan, Al-Akhnas berkata kepadanya, "Hai Abu Hanzalah, bagaimanakah pendapatmu tentang apa yang telah engkau dengar dari Muhammad?" Abu Sufyan menjawab, "Hai Abu Salabah, demi Allah, sesungguhnya saya telah mendengar banyak hal yang saya ketahui, dan saya mengetahui apa yang dimaksud olehnya dengan perkataannya itu. Tetapi saya juga telah mendengar banyak hal yang tidak saya ketahui makna dan maksudnya." Al-Akhnas berkata, "Demi yang engkau sebut dalam sumpahmu itu, saya pun mempunyai pemahaman yang sama." Al-Akhnas pergi meninggalkan Abu Sufyan, lalu menuju ke rumah Abu Jahal. Sesampainya di rumah Abu Jahal, Al-Akhnas bertanya kepadanya, "Hai Abul Hakam, bagaimanakah pendapatmu tentang apa yang telah engkau dengar dari Muhammad?" Abu Jahal menjawab, "Apa yang saya dengar?" Abu Jahal melanjutkan perkataannya, "Kami dan Bani Abdu Manaf bersaing untuk merebut kedudukan. Mereka memberi makan, maka kami memberi makan pula. Mereka memberikan tunggangan, maka kami pun memberikan tunggangan pula. Dan mereka memberi, maka kami pun memberi pula. Hingga manakala kami sedang sengit-sengitnya berlomba, mereka mengatakan, 'Di antara kami ada seorang nabi yang mendapat wahyu dari langit.' Maka jika kami menjumpai masanya, demi Allah, kami tidak akan beriman kepadanya dan tidak mempercayainya selama-lamanya." Maka Al-Akhnas bangkit meninggalkan Abu Jahal dan pulang ke rumahnya.
{وَقَالُوا
أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَئِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا (49)
قُلْ كُونُوا حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا (50) أَوْ خَلْقًا مِمَّا يَكْبُرُ فِي
صُدُورِكُمْ فَسَيَقُولُونَ مَنْ يُعِيدُنَا قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ
مَرَّةٍ فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى
أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا (51) يَوْمَ يَدْعُوكُمْ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِ
وَتَظُنُّونَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا قَلِيلا (52) }
Dan mereka berkata, "Apakah bila kami telah
menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur; apakah kami benar-benar
akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” Katakanlah, "Jadilah kamu
sekalian batu atau besi atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin
(hidup) menurut pikiran kalian.” Maka
mereka akan bertanya, "Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?" Katakanlah,
"Yang telah menciptakan kalian pada yang pertama kali.” Lalu mereka akan
menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata, "Kapan itu (akan
terjadi)?" Katakanlah, "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat, " yaitu
pada hari Dia memanggil kalian, lalu kalian mematuhi-Nya sambil memujinya
dan kalian mengira bahwa kalian tidak berdiam (di dalam kubur)
kecuali sebentar saja.Allah Swt. menceritakan perihal orang-orang kafir yang menganggap mustahil terjadinya hari berbangkit, bahwa mereka mengatakan dengan nada ingkar yang perkataan mereka disitir oleh firman-Nya:
{أَئِذَا
كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا}
Apakah bila kami telah menjadi tulang dan benda-benda yang hancur.
(Al-Isra: 49)Yang dimaksud dengan rufatan ialah tanah, menurut mujahid. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa rufatan ialah debu.
{أَئِنَّا
لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا
جَدِيدًا}
apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang
baru? (Al-Isra: 49)yakni di hari kiamat kelak, padahal kami telah hancur dan telah tiada. Seperti yang disebutkan oleh Allah" dalam ayat lain menceritakan ucapan mereka melalui firman-Nya:
{يَقُولُونَ
أَئِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ* أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً*
قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ}
(Orang-orang kafir) berkata, "Apakah sesungguhnya kami benar-benar
dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga)
apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?” Mereka
berkata, "kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.”
(An-Nazi'at: 10-12)
{وَضَرَبَ
لَنَا مَثَلا وَنَسِيَ خَلْقَهُ}
Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya.
(Yasin: 78), hingga akhir ayat berikutnya.Maka Allah memerintahkan Rasul-Nya agar menjawab mereka dengan kalimat yang diajarkan-Nya, yaitu firman-Nya:
{قُلْ
كُونُوا حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا}
Katakanlah, "Jadilah kamu sekalian batu atau besi.” (Al-Isra: 50) karena kedua benda ini jauh lebih tahan daripada tulang dan tanah.
{أَوْ
خَلْقًا مِمَّا يَكْبُرُ فِي صُدُورِكُمْ}
atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut
pikiran kalian. (Al-Isra: 51)Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Ibnu AbuNujaih, dari Mujahid, bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai maknanya; maka Ibnu Abbas menjawab bahwa yang dimaksud ialah maut. Atiyyah telah meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Ibnu Umar pernah mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, "Seandainya kalian telah mati, tentulah Allah akan menghidupkan kalian kembali."
Hal yang sama telah dikatakan oleh Sa'id ibnu Jubair, Abu Saleh, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.
Makna yang dimaksud ialah seandainya kalian benda mati —yang merupakan lawan kata dari hidup—tentulah Allah dapat menghidupkan kalian; jika Dia menghendaki; karena tiada sesuatu pun yang sukar bagi-Nya jika Dia menghendaki-Nya.
Sehubungan dengan tafsir ayat ini Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadis yang bunyinya seperti berikut:
"يُجَاءُ
بِالْمَوْتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ كَبْش أَمْلَحُ، فَيُوقَفُ بَيْنَ
الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، ثُمَّ يُقَالُ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ، أَتَعْرِفُونَ
هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. ثُمَّ يُقَالُ: يَا أَهْلَ النَّارِ، أَتَعْرِفُونَ
هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. فَيُذْبَحُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، ثُمَّ
يُقَالُ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ، خُلُودٌ بِلَا مَوْتٍ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ،
خُلُودٌ بِلَا مَوْتٍ"
Kelak pada hari kiamat maut didatangkan dalam bentuk seekor kambing gibas
yang bertanduk, lalu diberdirikan di antara surga dan neraka. Kemudian
dikatakan, "Hai penduduk surga, tahukah kalian apakah ini?" mereka menjawab,
"Ya.” Kemudian dikatakan lagi, "Hai penduduk neraka, tahukah, kalian apakah
ini?" Mereka menjawab, "Ya." Selanjutnya kambing itu disembelih di antara surga
dan neraka, kemudian dikatakan, "Hai penduduk surga, kekallah kalian tanpa mati.
Hai penduduk neraka, kekallah kalian tanpa mati!"Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiran kalian. (Al-Isra: 51) Yakni jadilah kalian seperti langit, bumi, dan gunung-gunung.
Menurut riwayat yang lain, jadilah kalian sesuka kalian, maka Allah tetap akan menghidupkan kalian sesudah kalian mati.
Di dalam tafsir firman Allah Swt. berikut ini yang diriwayatkan oleh Imam Malik, dari Az-Zuhri (yaitu firman-Nya): atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiran kalian. (Al-Isra: 51) Makna yang dimaksud ialah maut (makhluk mati).
*******************
Firman Allah Swt.:
{فَسَيَقُولُونَ
مَنْ يُعِيدُنَا}
Maka mereka akan bertanya, "Siapakah yang akan menghidupkan kami
kembali?” (Al-Isra: 51)Artinya, siapakah yang akan menghidupkan kami bila kami menjadi batu atau besi atau makhluk lainnya yang kuat.
{قُلِ
الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ}
Katakanlah, "Yang telah menciptakan kalian pada yang pertama kali."
(Al-Isra: 51)Yaitu Tuhan Yang telah menciptakan kalian. Pada awal mulanya kalian bukan merupakan sesuatu yang disebut-sebut, kemudian jadilah kalian manusia yang menyebar. Sesungguhnya Dia mampu menghidupkan kembali kalian, sekalipun kalian telah berubah menjadi apa pun. Dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:
{وَهُوَ
الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ
عَلَيْهِ}
Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian
mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali
itu lebih mudah bagi-Nya. (Ar-Rum: 27), hingga akhir ayat.
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{فَسَيُنْغِضُونَ
إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ}
Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepalanya kepadamu. (Al-Isra:
51)Ibnu Abbas dan Qatadah mengatakan bahwa mereka menggeleng-gelengkan kepalanya mengandung makna mencemoohkan.
Pendapat yang dikatakan oleh keduanya ini berdasarkan pengertian bahasa, karena makna ingad ialah menggerakkan kepala dari arah bawah ke arah atas atau sebaliknya. Termasuk ke dalam pengertian ini ialah dikatakan nagdun terhadap anak burung unta. Dikatakan demikian karena bila berjalan burung itu condong ke depan seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dikatakan nagadat sinnuhu, artinya giginya bergerak dan goyah. Seorang penyair mengatakan,
ونَغَضَتْ
مِنْ هَرَم أَسْنَانُهَا ...
"Giginya telah goyah karena usianya
yang lanjut."
Firman Allah Swt.:
{وَيَقُولُونَ
مَتَى هُوَ}
dan berkata, "Kapan itu (akan terjadi)?" (Al-Isra: 51) Ungkapan ini menunjukkan pengertian bahwa mereka menganggap mustahil akan terjadinya hari berbangkit. Perihalnya sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَيَقُولُونَ
مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ}
Dan mereka berkata, "Kapankah datangnya ancaman itu, jika kalian
orang-orang yang benar?” (Al-Mulk: 25)
{يَسْتَعْجِلُ
بِهَا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِهَا}
Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu
disegerakan kedatangannya. (Asy-Syura: 18)
*******************
Mengenai firman Allah Swt.:
{قُلْ
عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا}
Katakanlah, "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat.” (Al-Isra:
51)Ayat ini dapat diartikan bahwa waspadalah kalian akan datangnya hari itu, karena sesungguhnya hari itu dekat waktunya bagi kalian. Hari itu pasti akan datang kepada kalian, karena sesuatu yang pasti terjadi akan menjadi kenyataan.
Firman Allah Swt.:
{يَوْمَ
يَدْعُوكُمْ}
yaitu pada hari Dia memanggil kalian. (Al-Isra: 52) Yakni di hari Tuhan menyeru kalian semua. Dalam ayat lain disebutkan:
{إِذَا
دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الأرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ}
apabila Dia memanggil kalian sekali panggil dari bumi, seketika itu
(juga) kalian keluar (dari kubur). (Ar-Rum: 25)Dengan kata lain, apabila Allah memerintahkan kepada kalian untuk keluar dari kuburan, maka perintah-Nya itu tidak dapat ditentang dan tidak dapat ditolak, semua menaati-Nya. Bahkan dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:
{وَمَا
أَمْرُنَا إِلا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ}
Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.
(Al-Qamar: 50)
{إِنَّمَا
قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ
فَيَكُونُ}
Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu'apabila Kami menghendaki,
Kami hanya mengatakan kepadanya, "Jadilah! Maka jadilah ia. (An-Nahl:
40)Dan firman Allah Swt.:
{فَإِنَّمَا
هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ. فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ}
Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka
dengan serta merta hidup kembali di permukaan bumi. (An-Nazi'at: 13-14)Yakni sesungguhnya menghidupkan kembali itu hanyalah dengan sekali perintah saja, maka dengan serta-merta mereka keluar dari perut bumi ke permukaannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{يَوْمَ
يَدْعُوكُمْ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِ}
yaitu pada hari Dia memanggil kalian, lalu kalian mematuhinya sambil
memuji-Nya. (Al-Isra: 52)Artinya, kalian semua memenuhi seruan-Nya karena taat kepada perintah-Nya dan patuh kepada kehendak-Nya.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud adalah lalu kalian mematuhi perintah-Nya. Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Juraij.
Qatadah mengatakan bahwa kalian memenuhi perintah-Nya dengan sepengetahuan-Nya dan karena taat kepada-Nya.
Sebagian ulama tafsir mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yaitu pada hari Dia memanggil kalian, lalu kalian mematuhinya sambil memuji-Nya. (Al-Isra: 52) Yakni bagi Allah segala puji dalam semua keadaan.
Di dalam hadis disebutkan:
"لَيْسَ
عَلَى أَهْلِ "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ" وَحْشَةٌ فِي قُبُورِهِمْ، وَكَأَنِّي
بِأَهْلِ "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ" يَقُومُونَ مِنْ قُبُورِهِمْ يَنْفُضُونَ
التُّرَابَ عَنْ رُءُوسِهِمْ، يَقُولُونَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ". وَفِي
رِوَايَةٍ يَقُولُونَ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا
الْحَزَنَ}
Orang-orang' yang biasa membaca kalimah 'Tidak ada Tuhan selain Allah'
tidak akan merasa kesepian di dalam kuburnya. Saya seakan-akan melihat ahli
kalimah 'Tidak ada Tuhan selain Allah' bangkit dari kuburan mereka seraya
menepiskan debu dari kepalanya sambil membaca kalimat 'Tidak ada Tuhan selain
Allah'. Menurut riwayat lain disebutkan bahwa mereka mengucapkan: Segala
puji bagi Allah yang telah mengilangkan dukacita dari kami. (Fathir: 34)Hal ini akan diterangkan dalam tafsir surat Fathir.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَتَظُنُّونَ}
dan kalian mengira. (Al-Isra: 52) Yaitu pada hari kalian dibangkitkan dari kubur kalian.
{إِنْ
لَبِثْتُمْ}
bahwa kalian tidak berdiam. (Al-Isra: 52) Maksudnya, tidak berdiam di kampung dunia (termasuk dalam kubur).
{إِلا
قَلِيلا}
kecuali sebentar saja. (Al-Isra: 52)Makna ayat ini semisal dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{كَأَنَّهُمْ
يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا}
Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan
tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore
atau pagi hari. (An-Nazi'at: 46)
{يَوْمَ
يُنْفَخُ فِي الصُّورِ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا *
يَتَخَافَتُونَ بَيْنَهُمْ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا عَشْرًا * نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا
يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا
يَوْمًا}
(Yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan
mengumpulkan pada hari itu orang yang berdosa dengan muka yang biru muram,
mereka berbisik-bisik di antara mereka, "Kalian tidak berdiam (di dunia)
hanyalah sepuluh (hari)." Kami lebih mengetahui apa yang mereka
katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka,
"Kalian tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sehari saja."
(Thaha: 102-104)
{وَيَوْمَ
تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَلِكَ
كَانُوا يُؤْفَكُونَ}
Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa;
"Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)".
Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan. (dari kebenaran). (Ar-Rum:
55)Dan firman Allah Swt.:
{قَالَ
كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الأرْضِ عَدَدَ سِنِينَ * قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ
بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ * قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا قَلِيلا لَوْ
أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ}
Allah bertanya, "Berapa tahunkah lamanya kalian tinggal di bumi?” Mereka
menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari,maka
tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman, "Kalian tidak
tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja kalau kalian sesungguhnya
mengetahui." (Al-Mu’minun: 112-114)
{وَقُلْ
لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزغُ بَيْنَهُمْ
إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (53) }
Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, "Hendaklah
mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan
di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi
manusia.Allah Swt. memerintahkan kepada hamba dan Rasul-Nya —Nabi Muhammad Saw.— agar memerintahkan kepada hamba-hamba Allah yang beriman, hendaklah mereka dalam khotbah dan pembicaraannya mengucapkan kata-kata yang terbaik dan kalimat yang menyenangkan. Karena sesungguhnya jika mereka tidak melakukan hal mi, tentulah setan akan menimbulkan permusuhan di antara mereka dengan membakar emosi mereka, sehingga terjadilah pertengkaran dan peperangan serta keburukan.
Sesungguhnya setan adalah musuh Adam dan keturunannya sejak setan menolak bersujud kepada Adam dan menampakkan permusuhannya terhadap Adam. Karena itulah maka Nabi Saw. melarang seseorang mengacungkan senjatanya kepada saudara semuslimnya, karena dikhawatirkan setan akan merasuki tangannya, dan adakalanya senjatanya itu ditimpakan kepada saudaranya tanpa kesengajaan darinya.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، حَدَّثَنَا مَعْمر، عَنْ
هَمَّامٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَا يُشِيرَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَى
أَخِيهِ بِالسِّلَاحِ، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَحَدُكُمْ لَعَلَّ الشَّيْطَانَ أَنْ
يَنْزَعَ فِي يَدِهِ، فَيَقَعَ فِي حُفْرَةٍ مِنْ نَارٍ
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah
menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah r.a. yang
mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Jangan sekali-kali
seseorang di antara kalian mengacungkan senjatanya terhadap saudaranya, karena
sesungguhnya seseorang di antara kalian tidak akan mengetahui bila setan
mengayunkan lengannya, sehingga terjerumuslah dia ke dalam lubang
neraka.Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Abdur Razzaq.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ، أَنْبَأَنَا
عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: حَدَّثَنِي رَجُلٌ مَنْ بَنِي سَلِيط
قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي أزْفَلَة
مِنَ النَّاسِ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: "الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا
يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا -[قَالَ حَمَّادٌ: وَقَالَ
بِيَدِهِ إلى صدره -ماتواد رَجُلَانِ فِي اللَّهِ فتفرَّق بَيْنَهُمَا إِلَّا
بِحَدَثٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا] وَالْمُحْدِثُ شَر، وَالْمُحْدِثُ شَرٌّ،
وَالْمُحْدِثُ شَرٌّ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah
menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Zaid,
dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa seorang lelaki dari kalangan Bani Salit
telah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah datang kepada Nabi Saw. yang saat
itu sedang berada di tengah-tengah sejumlah sahabatnya, Ia mendengar Nabi Saw.
bersabda: Orang muslim adalah saudara orang muslim, ia tidak boleh berbuat
aniaya terhadapnya dan tidak boleh menghinanya. Takwa itu adanya di sini.
Hammad mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda demikian seraya
mengisyaratkan tangannya ke arah dadanya sendiri. Dan tidaklah dua orang
lelaki saling menyukai karena Allah, lalu keduanya dipisahkan kecuali hanya oleh
pembicaraan yang diutarakan oleh salah seorangnya, sedangkan si pembicara itu
membicarakan keburukan, si pembicara membicarakan keburukan, si pembicara
membicarakan keburukan.
{رَبُّكُمْ
أَعْلَمُ بِكُمْ إِنْ يَشَأْ يَرْحَمْكُمْ أَوْ إِنْ يَشَأْ يُعَذِّبْكُمْ وَمَا
أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ وَكِيلا (54) وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَنْ فِي
السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ
وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا (55) }
Tuhan kalian telah mengetahui tentang kalian.
Dia akan memberi rahmat kepada kalian jika Dia menghendaki, dan Dia akan
mengazab kalian jika Dia menghendaki. Dan kami tidaklah mengutusmu untuk menjadi
penjaga bagi mereka. Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami
lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami
berikan Zabur kepada Daud.Firman Allah Swt.:
{رَبُّكُمْ
أَعْلَمُ بِكُمْ}
Tuhan kalian lebih mengetahui tentang kalian. (Al-Isra: 54)Khitab ayat ditujukan kepada manusia, yakni "hai manusia, Tuhan kalian lebih mengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah di antara kalian dan siapa yang tidak berhak mendapatkannya".
{إِنْ
يَشَأْ يَرْحَمْكُمْ}
Dia akan memberi rahmat kepada kalian jika Dia menghendaki. (Al-Isra:
54)Yaitu dengan memberi kalian taufik untuk taat kepada-Nya dan kembali kepada-Nya.
{أَوْ
إِنْ يَشَأْ يُعَذِّبْكُمْ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ}
dan Dia akan mengazab kalian, jika Dia menghendaki. Dan Kami tidaklah
mengutusmu. (Al-Isra: 54)hai Muhammad,
{عَلَيْهِمْ
وَكِيلا}
untuk menjadi penjaga bagi mereka. (Al-Isra: 54)Yakni sesungguhnya Kami mengutus kamu hanyalah sebagai pemberi peringatan kepada manusia. Maka barang siapa yang taat kepadamu, dia masuk surga; dan barang siapa yang durhaka kepadamu akan masuk neraka.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَرَبُّكَ
أَعْلَمُ بِمَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ}
Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di
bumi. (Al-Isra: 55)Yakni tentang tingkatan mereka dalam hal ketaatan dan kedurhakaan.
{وَلَقَدْ
فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ}
Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian
(yang lain). (Al-Isra: 55)Dalam ayat yang lain disebutkan melalui firman-Nya:
{تِلْكَ
الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ
وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ}
Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian
yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan
dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. (Al-Baqarah:
253)Hal ini tidaklah bertentangan dengan apa yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"لَا
تُفَضِّلُوا بَيْنَ الْأَنْبِيَاءِ"
Janganlah kalian saling mengutamakan di antara nabi-nabi.Karena sesungguhnya yang dimaksud oleh hadis ini ialah saling mengutamakan yang berlandaskan hanya karena kesukaan dan kefanatikan, bukan berdasarkan dalil. Karena itu, apabila ada dalil yang menunjukkan kepada sesuatu keutamaan, maka wajib diikuti. Tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa para rasul itu lebih utama daripada para nabi, dan bahwa ulul 'azmi dari kalangan para rasul adalah yang paling utama di antara mereka. Mereka yang termasuk ke dalam golongan ulul 'azmi ada lima orang, sebagaimana yang disebutkan dalam dua ayat Al-Qur'an; yaitu yang pertama terdapat dalam surat Al-Ahzab melalui firman-Nya:
{وَإِذْ
أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ
وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ}
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian 'dari nabi-nabi dan
dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam.
(Al-Ahzab: 7)Yang kedua, terdapat di dalam surat Asy-Syura melalui firman-Nya:
{شَرَعَ
لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا
وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا
تَتَفَرَّقُوا فِيهِ}
Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang
telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan
janganlah kalian berpecah belah tentangnya. (Asy-Syura: 13)Dan tidak ada yang memperselisihkan bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah yang paling utama di antara mereka, sesudah itu Nabi Ibrahim, lalu Nabi Musa, selanjutnya Nabi Isa putra Maryam, menurut pendapat yang terkenal. Kami telah menjelaskan dalil-dalilnya secara panjang lebar pada bagian lain.
Firman Allah Swt.:
{وَآتَيْنَا
دَاوُدَ زَبُورًا}
dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (Al-Isra: 55)Hal ini mengisyaratkan tentang keutamaan dan kemuliaan yang dimilikinya.
قَالَ
الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ،
أَخْبَرَنَا مَعْمر، عَنْ هَمَّام، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ،
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "خُفف عَلَى دَاوُدَ
الْقُرْآنَ، فَكَانَ يَأْمُرُ بِدَابَّتِهِ لتُسْرج، فَكَانَ يَقْرَأُ قَبْلَ أَنْ
يَفْرغ". يَعْنِي الْقُرْآنَ
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Nasr,
telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceri takan kepada kami
Ma'mar, dari Hammam. dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda:
Bacaan Al-Kitab dimudahkan bagi Nabi Daud, tersebutlah bahwa bila dia
memerintahkan (kepada pelayannya) agar hewan kendaraannya dipersiapkan,
lalu diberi pelana, maka tersebutlah bahwa ia telah merampungkan bacaan
Al-Kitabnya sebelum hewan kendaraannya itu siap dikendarai.
{قُلِ
ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ
عَنْكُمْ وَلا تَحْوِيلا (56) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى
رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ
عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا (57) }
Katakanlah, "panggillah mereka yang kalian
anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka
tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari kalian dan tidak
pula memindahkannya.” Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari
jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada
Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab
Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.Firman Allah Swt.:
{قُلِ}
Katakanlah. (Al-Isra: 56) hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah.
{ادْعُوا
الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ}
Panggillah mereka yang kalian anggap (tuhan) selain Allah.
(Al-Isra: 56)Yakni berhala-berhala dan tandingan-tandingan yang kalian buat-buat itu. Lalu mintalah kepada mereka, maka sesungguhnya mereka:
"
لَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ"
tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari kalian.
(Al-Isra: 56) Artinya, mereka sama sekali tidak akan dapat
melenyapkannya.
{وَلا
تَحْوِيلا}
dan tidak pula memindahkannya. (Al-Isra: 56)Misalnya mereka mengalihkan bahaya itu kepada selain kalian. Dengan kata lain, yang dapat melakukan hal itu hanyalah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Dialah yang memiliki makhluk dan semua urusan.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Katakanlah, "panggillah mereka yang kalian anggap (tuhan)." (Al-Isra: 56), hingga akhir ayat. Bahwa dahulu orang-orang musyrik mengatakan, "Kami akan menyembah malaikat, Al-Masih, dan Uzair." Merekalah yang dimaksud dalam ayat ini, yaitu para malaikat, Isa, dan Uzair! Firman Allah Swt.: Orang-orang yang mereka seru itu. (Al-Isra: 57), hingga akhir ayat.
Imam Bukhari telah meriwayatkan melalui hadis Sulaiman ibnu Mahran Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Abu Ma'mar, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya: Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka. (Al-Isra: 57) Bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah sejumlah makhluk jin yang disembah oleh orang-orang kafir, lalu jin itu masuk Islam.
Menurut riwayat lain, dahulu ada segolongan manusia menyembah segolongan makhluk jin, kemudian jin itu masuk Islam, sedangkan manusia yang menyembahnya tetap berpegang pada keyakinannya.
Qatadah telah meriwayatkan dari Ma'bad ibnu Abdullah Ar-Rumma-ni, dari Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas'ud, dari Ibnu Mas'ud sehubungan dengan firman-Nya: Orang-orang yang mereka seru itu. (Al-Isra: 57), hingga akhir ayat. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan segolongan orang-orang Arab yang menyembah sejumlah makhluk jin, lalu jin-jin itu masuk Islam bersamaan dengan sejumlah manusia, sedangkan orang-orang yang tadinya menyembah jin-jin itu tidak mengetahui bahwa yang mereka sembah telah masuk Islam. Lalu turunlah ayat ini.
Menurut riwayat lain dari Ibnu Mas'ud, mereka menyembah segolongan malaikat yang disebut jin, hingga akhir riwayat.
As-Saddi telah meriwayatkan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan Firman-Nya: Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). (Al-Isra: 57) Bahwa yang dimaksud ialah Isa, ibunya, dan Uzair.
Mugirah telah meriwayatkan dari Ibrahim bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah Isa, Uzair, matahari, dan bulan.
Menurut Mujahid, yang dimaksud dengan mereka ialah Isa, Uzair, dan malaikat.
Ibnu Jarir memilih pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud karena berdasarkan kepada firman-Nya yang mengatakan: mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka. (Al-Isra: 57) Apa yang diungkapkan oleh ayat ini tidak menyangkut masa lampau, karena itu tidak termasuk ke dalam pengertiannya Isa dan Uzair serta malaikat.
Selanjutnya Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-wasilah ialah qurbah jalan untuk mendekatkan diri, sama dengan apa yang dikatakan oleh Qatadah. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{أَيُّهُمْ
أَقْرَبُ}
siapa di antara mereka yang lebih dekat. (Al-Isra: 57)
*******************
Firman Allah Swt,:
{وَيَرْجُونَ
رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ}
dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. (Al-Isra: 57)Ibadah tidak sempurna melainkan bila dibarengi dengan rasa takut dan harap. Dengan rasa takut, tercegahlah diri orang yang bersangkutan dari mengerjakan hal-hal yang dilarang. Dan dengan rasa harap, orang yang bersangkutan bertambah rajin mengerjakan amal-amal ketaatan.
Firman Allah Swt.:
{إِنَّ
عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا}
sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.
(Al-Isra: 57)Maksudnya, azab Allah harus dihindari dan ditakuti, agar tidak terkena olehnya.
{وَإِنْ
مِنْ قَرْيَةٍ إِلا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ
مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا (58)
}
Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami
membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan
azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab
(Lauh Mahfuz)Allah Swt. memberitahukan, telah diputuskan dan telah dicatat di dalam Lauh Mahfuz yang ada di sisi-Nya, bahwa tidak ada seorang penduduk kampung pun melainkan Allah membinasakannya dengan cara mematikan semua penduduknya atau mengazab mereka.
{عَذَابًا
شَدِيدًا}
dengan azab yang sangat keras. (Al-Isra: 58)Adakalanya dengan membunuh mereka atau menimpakan cobaan menurut apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya hal itu terjadi tiada lain karena dosa-dosa dan keburukan-keburukan mereka. Di dalam ayat yang lain Allah Swt. menyebutkan kisah tentang umat-umat terdahulu:
{وَمَا
ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ}
Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri
mereka sendiri. (Hud: 101)
فَذَاقَتْ
وَبَالَ أَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًا
Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan adalah
akibat perbuatan mereka kerugian yang besar. (Ath-Thalaq: 9)
{وَكَأَيِّنْ
مِنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِ }
{وَمَا
مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالآيَاتِ إِلا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الأوَّلُونَ
وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا وَمَا نُرْسِلُ
بِالآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا (59) }
Dan sekali-kali tidak ada yang
menghalang-halangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami) melainkan
karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami
berikan kepada Samud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat
dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi
tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.Sunaid telah meriwayatkan dari Hammad ibnu Zaid, dari Ayyub, dari Sa’id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa orang-orang musyrik pernah berkata kepada Nabi Saw., "Hai Muhammad, sesungguhnya kamu menduga bahwa sebelum kamu terdapat nabi-nabi. Di antara mereka ada yang angin ditundukkan baginya, ada yang dapat menghidupkan orang-orang mati. Maka jika kamu menginginkan agar kami beriman kepadamu dan membenarkanmu, maka doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia menjadikan Bukit Safa ini emas buat kami."
Maka Allah Swt. berfirman kepada Nabi-Nya, "Sesungguhnya Aku telah mendengar apa yang dikatakan oleh mereka. Untuk itu jika kamu menghendaki agar Kami melakukannya, tentulah Kami akan memenuhi permintaan mereka. Tetapi jika sesudah itu mereka tidak beriman, maka azab Kami akan turun (menimpa mereka). Karena sesungguhnya tidak ada tawar-menawar lagi sesudah turunnya tanda-tanda kekuasaan Kami (mukjizat). Dan jika kamu menginginkan Kami menangguhkan kaummu, tentulah Kami akan memberikan masa tangguh kepada mereka." Maka Nabi Saw. berdoa memohon kepada Tuhannya:
"يَا
رَبِّ، اسْتَأْنِ بِهِمْ"
Ya Tuhanku, tangguhkanlah mereka.Hal yang sama telah dikemukakan pula oleh Qatadah dan Ibnu Juraij serta yang lainnya.
Imam Ahmad meriwayatkan, lelah menceritakan kepada kami Usman ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-A'masy, dan Ja'far ibnu Iyas, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa penduduk Mekah pernah meminta kepada Nabi Saw. agar menjadikan Bukit Safa emas buat mereka, dan gunung-gunung yang ada di sekitar mereka dilenyapkan sehingga mereka dapat melakukan cocok tanam. Maka dikatakan kepada Nabi Saw., "Jika kamu menghendaki agar mereka diberi masa tangguh, maka Kami akan menangguhkan mereka. Dan jika kamu suka bila permintaan mereka di kabulkan, maka Kami akan memenuhi apa yang mereka minta. Tetapi jika mereka tetap kafir, maka mereka akan binasa sebagaimana binasanya umat-umat sebelum mereka." Nabi Saw, berkata, "Tidak, melainkan berilah masa tangguh kepada mereka." Lalu Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. (Al-Isra: 59), hingga akhir ayat.
Imam Nasai meriwayatkan melalui hadis Jarir dengan sanad yang sama.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Salamah ibnu Kahil, dari Imran ibnu Nakim, dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa orang-orang Quraisy pernah mengatakan kepada Nabi Saw., "Doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia menjadikan Bukit Safa ini emas bagi kami, maka kami akan beriman kepadamu." Nabi Saw. bertanya, "Apakah kalian benar-benar akan melakukannya?" Mereka menjawab, "Ya." Maka Nabi Saw. berdoa. Kemudian Jibril datang kepadanya, lalu berkata, "Sesungguhnya Tuhanmu mengirimkan salam buatmu dan berpesan bahwa jika kamu suka, maka pada keesokkan paginya Bukit Safa ini akan menjadi emas buat mereka. Tetapi barang siapa di antara mereka yang kafir sesudah itu, maka Aku akan mengazab mereka dengan azab yang belum pernah Kutimpakan kepada seorang pun dari kalangan umat manusia. Dan jika kamu suka Aku bukakan bagi mereka semua pintu tobat dan rahmat, maka akan Aku lakukan." Nabi Saw. berkata, "Tidak, bahkan (saya memilih) pintu tobat dan rahmat."
Al-Hafiz Abu Ya'la di dalam kitab musnadnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail ibnu Ali Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Tamim Al-Masisi, dari Abdul Jabbar ibnu Umar Al-Abli, dari Abdullah ibnu Ata ibnu Ibrahim, dari neneknya (yaitu Ummu Ata, pelayan Az-Zubair ibnul Awwam) yang telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Az-Zubair mengatakan bahwa ketika firman Allah Swt. berikut ini diturunkan: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Asy-Syu'ara: 214) Maka Rasulullah Saw. berseru dengan suara yang keras di atas puncak Abu Qubais, "Hai keluarga Abdu Manaf, sesungguhnya aku memberikan peringatan!" Kemudian datanglah orang-orang Quraisy menemuinya, lalu Nabi Saw. memberikan peringatan dan ancaman kepada mereka. Maka mereka berkata, "Kamu menduga bahwa dirimu seorang nabi yang mendapat wahyu. Sesungguhnya Sulaiman telah ditundukkan baginya angin dan gunung, Musa telah ditundukkan baginya laut, dan Isa dapat menghidupkan orang-orang mati. Maka doakanlah pada Allah agar Dia menyisihkan (memindahkan) gunung-gunung ini dari kami dan mengalirkan sungai-sungai di buminya sehingga kami dapat menggarapnya dan melakukan cocok tanam padanya buat makan kami. Dan jika engkau tidak mau, maka doakanlah kepada Allah semoga Dia menghidupkan orang-orang mati kami agar kami dapat berbicara dengan mereka dan mereka pun dapat berbicara dengan kami. Jika engkau tidak mau, maka doakanlah kepada Allah untuk kami agar Dia menjadikan bagi kami batu besar yang berada di bawahmu itu emas sehingga kami dapat memahatnya dan dapat memberikan kecukupan kepada kami tanpa harus melakukan perjalanan musim dingin dan musim panas. Karena sesungguhnya engkau menduga bahwa dirimu sama seperti mereka (nabi-nabi itu)." Ketika kami masih berada di sekeliling Nabi Saw., tiba-tiba turunlah wahyu. Setelah wahyu selesai, Nabi Saw. bersabda:
"وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ أَعْطَانِي مَا سَأَلْتُمْ، وَلَوْ شِئْتُ لَكَانَ،
وَلَكِنَّهُ خَيَّرَنِي بَيْنَ أَنْ تَدْخُلُوا بَابَ الرَّحْمَةِ، فَيُؤَمَّنَ
مُؤْمِنُكُمْ، وَبَيْنَ أَنْ يَكِلَكُمْ إِلَى مَا اخْتَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ،
فَتَضِلُّوا عَنْ بَابِ الرَّحْمَةِ، فَلَا يُؤَمَّنَ مِنْكُمْ أَحَدٌ، فَاخْتَرْتُ
بَابَ الرَّحْمَةِ، فَيُؤَمَّنُ مُؤْمِنُكُمْ. وَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ إِنْ
أَعْطَاكُمْ ذَلِكَ ثُمَّ كَفَرْتُمْ، أَنَّهُ يُعَذِّبُكُمْ عَذَابًا لَا
يُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ"
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya,
sesungguhnya Dia mau memberiku apa yang kalian minta itu; seandainya aku
menghendaki, niscaya terjadi. Akan tetapi, Allah memberiku pilihan. Yaitu kalian
masuk ke dalam pintu rahmat, sehingga orang yang beriman di antara kalian mau
beriman, atau diserahkan kepada kalian menurut apa yang kalian pilih, nanti
akibatnya kalian akan kehilangan pintu rahmat, dan akhirnya tiada seorang pun
dari kalian yang beriman. Maka aku memilih pintu rahmat, sehingga berimanlah
orang-orang yang mau beriman dari kalian. Dan Allah memberitahukan kepadaku
bahwa jika Dia memberi apa yang kalian minta itu, lalu kalian tetap kafir, maka
sesungguhnya Dia akan mengazab kalian dengan azab yang belum pernah Dia
timpakan kepada seorang pun dari umat manusia.Lalu turunlah firman-Nya: Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. (Al-Isra: 59)
Dan Nabi Saw. membaca tiga ayat, lalu turun pula firman-Nya:
{وَلَوْ
أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الأرْضُ أَوْ
كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى}
Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu
gunung-gunung dapat diguncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya
orang-orang yang telah mati dapat berbicara. (Ar-Ra'd: 31), hingga akhir
ayat.Karena itulah Allah Swt. berfirman:
{وَمَا
مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالآيَاتِ}
Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan
(kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami). (Al-Isra: 59)Maksudnya, mendatangkan dan mengirimkan tanda-tanda kebesaran sesuai dengan apa yang diminta oleh kaummu itu adalah hal yang mudah bagi Kami. Hanya saja tanda-tanda kekuasaan Kami itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu sesudah mereka memintanya, maka diberlakukanlah sunnah Kami atas mereka, juga terhadap orang-orang yang seperti mereka. Yaitu bila mereka mendustakannya sesudah dikirimkan, maka .tiada masa tangguh lagi bagi mereka, dan azab langsung turun menimpa mereka. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. di dalam surat Al-Maidah, melalui firman-Nya:
{قَالَ
اللَّهُ إِنِّي مُنزلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي
أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ}
Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada
kalian, barang siapa yang kafir di antara kalian sesudah itu, maka sesungguhnya
Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada
seorang pun di antara umat manusia.” (Al-Maidah: 115)Allah Swt. berfirman menceritakan kaum Samud ketika mereka meminta suatu tanda kekuasaan Allah, yaitu seekor unta betina yang keluar dari batu besar yang ditentukan oleh mereka. Maka Nabi mereka (yaitu Saleh a.s.) berdoa kepada Tuhannya memohon suatu mukjizat, lalu Allah mengeluarkan seekor unta betina buat mereka dari batu besar itu sesuai dengan apa yang mereka minta.
Tetapi setelah mereka berbuat aniaya terhadap unta itu, yakni ingkar kepada Tuhan yang menciptakannya dan mendustakan Rasul-Nya serta menyembelih unta betina itu, maka Allah berfirman:
{تَمَتَّعُوا
فِي دَارِكُمْ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ}
Bersukarialah kamu sekalian di rumah kalian selama tiga hari, itu adalah
janji yang tidak dapat didustakan. (Hud: 65) Karena itulah dalam ayat surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{وَآتَيْنَا
ثَمُودَ النَّاقَةَ}
Dan telah Kami berikan kepada Samud unta betina itu . (Al-Isra:
59)Yakni Mukjizat yang berupa unta betina itu menunjukkan akan keesaan Tuhan yang menciptakannya dan membenarkan rasul-Nya yang doanya diperkenankan.
{فَظَلَمُوا
بِهَا}
tetapi mereka menganiaya unta betina itu. (Al-Isra: 59)Mereka berbuat aniaya terhadap unta betina itu, melarang hari minumny a, dan membunuhnya. Maka Allah membinasakan mereka sehabis-habisnya sebagai pembalasan dari-Nya terhadap mereka. Allah mengazab mereka dengan azab Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.
Firman A'llah Swt.:
{وَمَا
نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا}
Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.
(Al-Isra: 59)Qatadah mengatakan bahwa Allah Swt. mempertakuti manusia dengan tanda kekuasaan yang dikehendaki-Nya, agar manusia dapat mengambil pelajaran dan peringatan darinya, lalu mereka kembali kepada-Nya.
Telah diriwayatkan kepada kami bahwa kota Kufah pernah mengalami gempa di masa Ibnu Mas'ud r.a., lalu Ibnu Mas'ud r.a. berkata, "Hai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian sedang memperingatkan kalian, maka kembalilah kalian kepada-Nya!"
Hal yang sama pernah terjadi pula atas kota Madinah di masa pemerintahan Khalifah Umar ibnul Khattab r.a. selama berkali-kali, maka Khalifah Umar berkata, "Kalian telah membuat bid'ah. Demi Allah, seandainya terjadi lagi gempa, sungguh saya akan melakukan anu, sungguh aku akan melakukan anu (maksudnya memberantas perkara bid'ah)."
Dalam hadis yang muttafaq 'alaih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِنَّ
الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، وَإِنَّهُمَا لَا
يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّ اللَّهَ، عَزَّ
وَجَلَّ، يُرْسِلُهُمَا يُخَوِّفُ بِهِمَا عِبَادَهُ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ
فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ". ثُمَّ قَالَ: " يَا
أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللَّهِ مَا أَحَدٌ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ
عَبْدَهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتَهُ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللَّهِ لَوْ
تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ، لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ
كَثِيرًا"
Sesungguhnya matahari dan bulan, keduanya adalah tanda kekuasaan Allah,
dan sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena matinya seseorang dan
tidak (pula) karena hidup (lahir)nya seseorang, tetapi Allah Swt.
mempertakuti hamba-hamba-Nya melalui keduanya. Untuk itu apabila kalian melihat
gerhana, bergegaslah kalian untuk mengingat Allah, berdoa dan memohon ampun
kepada-Nya. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Hai umat Muhammad, demi
Allah, tiada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah, bila ada hamba
laki-lakinya berbuat zina atau ada hamba perempuannya berbuat zina. Hai umat
Muhammad, demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang saya ketahui,
tentulah kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.
{وَإِذْ
قُلْنَا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحَاطَ بِالنَّاسِ وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي
أَرَيْنَاكَ إِلا فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ
وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلا طُغْيَانًا كَبِيرًا (60) }
Dan (ingatlah) ketika Kami wahyukan kepadamu, "Sesungguhnya
(ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia." Dan Kami tidak menjadikan mimpi
yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan
(begitu pula) pohon kayu-yang terkutuk dalam Al-Qur'an. Dan Kami
menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar
kedurhakaan mereka.Allah Swt. berfirman kepada Rasul-Nya yang di dalamnya terkandung anjuran agar ia menyampaikan risalah-Nya (kepada umat manusia) dan memberitahukan kepadanya bahwa Allah Swt. memeliharanya dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas manusia, dan mereka semuanya berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya serta tunduk di bawah keperkasaan dan kekuatan-Nya.
Mujahid, Urwah ibnuz Zubair, Al-Hasan, Qatadah, dan lain-lainnya mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami wahyukan kepadamu, "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” (Al-Isra: 60) Yakni Allah memelihara kamu dari gangguan mereka.
Firman Allah Swt.:
{وَمَا
جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلا فِتْنَةً لِلنَّاسِ}
Dan Kami tidak manjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu,
melainkan sebagai ujian bagi manusia. (Al-Isra: 60), hingga akhir ayat.Imam bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (Al-Isra: 60) Bahwa yang dimaksud dengan mimpi dalam ayat ini ialah pemandangan yang diperlihatkan kepada Rasulullah Saw. di malam Isra. dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk di dalam Al-Qur'an. (Al-Isra: 60) Yang dimaksud ialah pohon zaqqum.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abdur Razzaq, dan lain-lainnya, dari Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari ibnu Abbas.
Hal yang sama telah ditafsirkan oleh Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Al-Hasan, Masruq, Ibrahim, Qatadah, dan Abdur Rahman ibnu Zaid serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa hal itu terjadi di malam Isra.
Dalam permulaan tafsir surat ini telah disebutkan hadis-hadis mengenai Isra secara terperinci.
Dalam kisah Isra disebutkan bahwa ada segolongan orang menjadi murtad dari agama yang hak setelah mendengar kisah ini; karena kisah ini tidak dapat diterima oleh hati dan akal mereka, maka mereka mendustakannya. Akan tetapi, Allah menjadikan kisah ini sebagai kekokohan iman dan keyakinan sebagian manusia lainnya: Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{إِلا
فِتْنَةً}
melainkan sebagai ujian. (Al-Isra: 60)Yakni sebagai cobaan dan ujian buat mereka.
Adapun yang dimaksud dengan pohon yang terkutuk ialah pohon zaqqum. Ketika Rasulullah Saw. menceritakan kepada mereka bahwa beliau telah melihat surga dan neraka serta melihat pula pohon kayu zaqqum, maka dengan spontan mereka mendustakannya. Sehingga Abu Jahal — semoga laknat Allah menimpanya—mengatakan, "Datangkanlah kepada kami buah kurma dan zubdah," lalu Abu Jahal mencampuradukkan keduanya menjadi satu dan memakannya seraya berkata, "Marilah kita buat zaqqum, kami tidak mengenal istilah zaqqum kecuali makanan (campuran kurma dan zubdah) ini." Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abbas, Masruq, Abu Malik, Al-Hasan Al-Basri, dan lain-lainnya. Dan semua ulama yang mengatakan bahwa mimpi tersebut adalah di malam Isra menafsirkan hal yang sama, yaitu pohon kayu zaqqum (maksudnya pohon yang terkutuk itu adalah pohon zaqqum).
Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud dengan pohon yang terkutuk adalah Bani Umayyah, maka pendapat ini garib lagi daif.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa ia pernah mendengar hadis dari Muhammad ibnul Hasan ibnu Zabalah, telah menceritakan kepada kami Abdul Muhaimin ibnu Abbas ibnu Sahl ibnu Sa'd, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari kakekku yang pernah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah melihat (dalam mimpinya) Bani Fulan sedang berjingkrak-jingkrak seperti kera di atas mimbar beliau. Melihat hal itu Rasulullah Saw. bersedih hati, dan sejak saat itu beliau tidak pernah tertawa sampai beliau wafat. Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (Al-Isra: 60), hingga akhir ayat.
Sanad hadis ini pun lemah sekali karena Muhammad ibnul Hasan ibnu Zabalah berpredikat matruk, dan gurunya berpredikat daif pula. Karena itulah maka ibnu Jarir memilih bahwa yang dimaksud dengan peristiwa itu terjadi di malam Isra, dan bahwa pohon kayu yang terkuruk adalah pohon zaqqum. Kemudian ibnu Jarir mengatakan, ia memilih pendapat ini dengan alasan karena semua ulama ahli takwil telah sepakat mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi dalam mimpi Nabi Saw. (yakni di malam Isra) dan pohon itu adalah pohon zaqqum.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَنُخَوِّفُهُمْ}
Dan Kami menakut-nakuti mereka. (Al-Isra: 60) Yakni orang-orang kafir, dengan ancaman dan siksaan serta pembalasan.
{فَمَا
يَزِيدُهُمْ إِلا طُغْيَانًا كَبِيرًا}
tetapi demikian itu hanyalah menambah besar, kedurhakaan mereka.
(Al-Isra: 60)Artinya, hal tersebut justru menambah mereka tenggelam di dalam kekafiran dan kesesatannya, dan hal seperti ini merupakan penghinaan Allah terhadap mereka.
{وَإِذْ
قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ قَالَ
أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا (61) قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي
كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لأحْتَنِكَنَّ
ذُرِّيَّتَهُ إِلا قَلِيلا (62) }
Dan (ingatlah) tatkala Kami berfirman kepada malaikat,
"Sujudlah kamu semua kepada Adam, " lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia
berkata, "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”
Dia (iblis) berkata, "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau
muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai
hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebagian
kecil.”Allah'Swt. menyebutkan permusuhan iblis la'natullah terhadap Adam dan keturunannya, bahwa permusuhan itu merupakan permusuhan masa silam sejak Adam diciptakan. Karena sesungguhnya Allah Swt. telah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam, maka bersujudlah mereka kepadanya kecuali iblis. Iblis membangkang dan sombong, tidak mau bersujud kepada Adam, karena merasa lebih tinggi dan memandang Adam hina. Ia mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:
{قَالَ
أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا}
Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?
(Al-Isra: 61)Di dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:
{أَنَا
خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ}
Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api, sedangkan, dia
Engkau ciptakan dari tanah liat. (Al-A'raf: 12)Iblis berkata pula dengan nada yang kurang ajar terhadap Tuhan Yang Mahaagung sebagai ungkapan rasa keingkarannya, tetapi Tuhan bersikap sabar dan memberi masa tangguh kepadanya, yaitu:
{قَالَ
أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ}
Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku?
(Al-Isra: 62), hingga akhir ayat.Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa iblis berkata, "Aku benar-benar akan menguasai keturunannya kecuali sebagian kecil dari mereka."
Menurut Mujahid, makna yang dimaksud ialah sungguh aku akan mengepung meraka.
Ibnu Zaid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sungguh aku akan menyesatkan mereka.
Semua pendapat di atas berdekatan maknanya. Kesimpulan makna ialah "terangkanlah kepadaku inikah orang yang Engkau muliakan dan Engkau lebihkan atas diriku; sungguh jika Engkau memberi tangguh kepadaku, aku benar-benar akan menyesatkan keturunannya kecuali sebagian kecil dari mereka."
{قَالَ
اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً
مَوْفُورًا (63) وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ
عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الأمْوَالِ وَالأولادِ
وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا (64) إِنَّ عِبَادِي
لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلا (65) }
Tuhan berfirman, "Pergilah, barang siapa di
antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah
balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan godalah
(bujuklah) siapa yang kamu sanggupi di
antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda
dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan
anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan
kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesunggunya hamba-hamba-Ku, kamu tidak
dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai
penjaga.”Setelah iblis meminta masa tangguh kepada Allah Swt., maka Allah Swt. berfirman kepadanya:
{اذْهَبْ}
Pergilah kamu. (Al-Isra: 63)sesungguhnya Aku telah memberikan masa tangguh kepadamu. Ayat ini semakna dengan apa yang di sebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{قَالَ
فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ * إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ
الْمَعْلُومِ}
(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi
tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. (Al-Hijr:
37-38)Kemudian Allah mengancam bahwa Dia telah menyediakan neraka Jahannam buat iblis dan para pengikutnya dari kalangan Bani Adam, yaitu melalui firman-Nya:
{فَمَنْ
تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ}
Tuhan berfirman, "Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti
kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua. (Al-Isra:
63)Yakni balasan amal perbuatan kalian.
{جَزَاءً
مَوْفُورًا}
sebagai suatu pembalasan yang cukup. (Al-Isra: 63)Mujahid mengatakan bahwa maufuran artinya penuh.
Menurut Qatadah, maufuran artinya cukup, tanpa ada yang dikurangi.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَاسْتَفْزِزْ
مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ}
Dan godalah (bujuklah) siapa yang kamu sanggupi di antara mereka
dengan ajakanmu. (Al-Isra: 64)Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan saut dalam ayat ini ialah nyanyian.
Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ialah dengan hiburan dan nyanyian yang membuat mereka terbuai dan lupa diri.
Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan godalah (bujuklah) siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu. (Al-Isra: 64) Bahwa makna yang dimaksud ialah setiap penyeru yang menyeru manusia kepada perbuatan maksiat terhadap Allah Swt.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah, dan pendapat inilah yang dipilih oleh ibnu Jarir.
Firman Allah Swt.:
{وَأَجْلِبْ
عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ}
dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang
berjalan kaki. (Al-Isra: 64)Yakni kerahkanlah semua pasukanmu, baik yang berkuda maupun yang berjalan kaki, terhadap mereka. Lafaz rajilun adalah bentuk jamak dari rajulun; sama halnya dengan lafaz rakibun, jamak dari rakibun; dan sahibun jamak dari sahibun. Makna ayat, kuasailah mereka dengan segala kemampuan yang kamu miliki. Hal ini merupakan perintah yang berdasarkan takdir, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
{أَلَمْ
تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ
أَزًّا}
Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada
orang-orang kafir untuk menggoda mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?
(Maryam: 83)Yakni menggugah orang-orang kafir untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dengan anjuran yang sungguh-sungguh, dan menggiring mereka dengan penuh semangat untuk melakukannya.
Ibnu Abbas dan Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki. (Al-Isra: 64) Makna yang dimaksud ialah setiap pengendara dan pejalan kaki yang maksiat terhadap Allah Swt.
Qatadah mengatakan, Sesungguhnya setan mempunyai pasukan berkuda dan pasukan jalan kaki dari kalangan manusia dan jin. Mereka adalah orang-orang yang taat kepada perintah setan. Di dalam bahasa Arab disebutkan Ajlaba Fulanun 'Ala Fulanin, artinya Si Fulan mengerahkan kemampuannya terhadap si Anu, yakni dengan mengeluarkan suara keras memberinya semangat. Termasuk ke dalam pengertian ini kalimat yang mengatakan bahwa Nabi Saw. melarang mengeluarkan suara teriakan dan suara gaduh dalam perlombaan. Dan termasuk ke dalam pengertian kata ini pula lafaz al-jalabah yang artinya suara teriakan yang keras.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَشَارِكْهُمْ
فِي الأمْوَالِ وَالأولادِ}
dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak. (Al-Isra:
64)Menurut Ibnu Abbas dan Mujahid makna yang dimaksud ialah perbuatan yang dianjurkan setan kepada mereka, misalnya membelanjakan harta untuk perbuatan maksiat terhadap Allah Swt.
Ata mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah melakukan riba.
Al-Hasan mengatakan, maknanya ialah menghimpun harta benda dari hasil yang kotor dan membelanjakannya ke jalan yang haram. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah.
Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa kebersamaan setan dan mereka dalam harta benda mereka ialah hal-hal yang diharamkan oleh setan dari sebagian ternak mereka, yakni ternak saibah, ternak bahirah, dan lain sebagainya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah dan Ad-Dahhak.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa hal yang paling utama sehubungan dengan makna ayat ini ialah bila dikatakan bahwa makna ayat mencakup kesemua pendapat yang telah disebutkan di atas.
Firman Allah Swt.:
{وَالأولادِ}
dan anak-anak. (Al-Isra: 64)Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Mujahid, dan Ad-Dahhak, bahwa makna yang dimaksud ialah anak-anak yang lahir dari hasil zina.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah anak-anak mereka yang mereka bunuh tanpa dosa, korban kedangkalan pikiran dan ketiadaan pengetahuan mereka.
Qatadah telah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri, bahwa demi Allah, sungguh setan telah berserikat dengan mereka dalam harta benda dan anak-anak mereka. Mereka menjadikan anak-anaknya Majusi, Yahudi, dan Nasrani serta mewarnai mereka bukan dengan celupan Islam. Mereka pun membagikan sebagian harta mereka buat setan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah.
Abu Saleh telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah penamaan anak mereka dengan nama Abdul Haris, Abdu Syams, dan Abdu Fulan.
Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang paling layak dinilai benar ialah bila dikatakan bahwa yang dimaksud ialah setiap anak yang dilahirkan oleh ibunya, lalu diberinya nama yang tidak disukai oleh Allah Swt. atau memasukkan anaknya ke dalam agama yang tidak diridai oleh Allah, atau anak dihasilkan dari hubungan zina, atau setelah lahir anak dibunuhnya, atau perbuatan-perbuatan lain yang dinilai sebagai perbuatan durhaka terhadap Allah Swt. maka semua perbuatan yang maksiat terhadap Allah Swt. termasuk ke dalam pengertian iblis ikut andil persekutuan di dalamnya, apakah yang menyangkut harta ataupun anak. Karena Allah Swt. dalam firman-Nya mengatakan:
{وَشَارِكْهُمْ
فِي الأمْوَالِ وَالأولادِ}
dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak. (Al-Isra:
64)tidak memberikan pengkhususan terhadap makna serikat yang ada di dalamnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setiap perbuatan yang menjurus kepada perbuatan durhaka terhadap Allah Swt. atau taat kepada setan, berarti setan ikut andil di dalamnya.
Apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini mempunyai alasan yang cukup terarah, semuanya bersumberkan dari ulama Salaf yang masing-masingnya menafsirkan sebagian dari pengertian perserikatan. Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui Iyad ibnu Hammad, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
"يَقُولُ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنفاء، فَجَاءَتْهُمُ
الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وحَرّمت عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ
لَهُمْ"
Allah Swt. telah berfirman, "Sesungguhnya Aku telah menciptakan
hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung kepada agama yang hak dan
menolak agama yang batil), lalu setan datang kepada mereka dan menyesatkan
mereka dari agamanya, serta mengharamkan kepada mereka apa-apa yang Aku telah
halalkan bagi mereka."Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"لَوْ
أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ،
اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا،
فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدّر بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ، لَمْ يَضُرَّهُ
الشَّيْطَانُ أَبَدًا"
Seandainya seseorang di antara mereka apabila hendak mendatangi istrinya
mengucapkan, "Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan
jauhkanlah anak yang Engkau rezekikan kepada kami dari setan, "melainkan jika
ditakdirkan bagi keduanya mempunyai anak dari hubungan itu, tentulah setan tidak
dapat membahayakan anaknya selama-lamanya.Firman Allah Swt.:
{وَعِدْهُمْ
وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا}
dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada
mereka melainkan tipuan belaka. (Al-Isra: 64)Perihalnya sama dengan apa yang diceritakan oleh Allah Swt. tentang iblis, bahwa apabila perkara hak telah terbukti kenyataannya, yaitu di hari Allah melakukan peradilan dengan hak. Disebutkan bahwa iblis (setan) berkata, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya:
{إِنَّ
اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ
فَأَخْلَفْتُكُمْ}
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar; dan
aku pun telah menjanjikan kepada kalian, tetapi aku menyalahinya. (Ibrahim:
22), hingga akhir ayat.
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{إِنَّ
عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ}
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka.
(Al-Isra: 65)Ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah Swt. bahwa Dia mendukung hamba-hamba-Nya yang beriman dan memelihara mereka dari godaan setan melalui Penjagaan-Nya. Karena itulah dalam akhir ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{وَكَفَى
بِرَبِّكَ وَكِيلا}
Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga. (Al-Isra: 65)Yakni Pemelihara, Pendukung, dan Penolong.
وَقَالَ
الْإِمَامُ
أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهيعة، عَنْ مُوسَى بْنِ
وَرْدَان، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ الْمُؤْمِنَ ليُنْضي شَيَاطِينَهُ
كَمَا يُنْضِي أَحَدُكُمْ بَعيرَه فِي السَّفَرِ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah
menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Musa ibnu Wardan, dari Abu Hurairah
r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya orang mukmin
benar-benar dapat mengekang setan-setannya sebagaimana seseorang di antara
kalian mengekang unta kendaraannya dalam perjalanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar