Translate

Selasa, 18 Oktober 2016

Al-Hasyr, ayat 11-20


{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لإخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (11) لَئِنْ أُخْرِجُوا لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِنْ قُوتِلُوا لَا يَنْصُرُونَهُمْ وَلَئِنْ نَصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ الأدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ (12) لأنْتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِمْ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ (13) لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ (14) كَمَثَلِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَرِيبًا ذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (15) كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ (16) فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ (17) }
Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara Ahli Kitab, "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu; dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.” Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka; dan sesungguhnyajika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedangkan hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, "Kafirlah kamu, " maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, ' 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.
Allah Swt. menceritakan perihal orang-orang munafik —seperti Abdullah ibnu Ubay dan teman-temannya— ketika mereka mengirimkan utusannya kepada orang-orang Bani Nadir untuk menjanjikan kepada mereka akan dukungan dan pertolongannya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لإخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ}
Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara Ahli Kitab, "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu; dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu.” (Al-Hasyr: 11)
Maka dijawab oleh Allah Swt. melalui firman berikutnya:
{وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ}
Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. (Al-Hasyr: 11)
Yakni benar-benar pendusta dalam janji mereka. Ini dikatakan oleh mereka barangkali karena hanya sebagai basa-basi saja karena sudah sejak semula mereka berniat tidak akan memenuhinya. Atau barangkali mereka merasa bahwa apa yang mereka katakan itu tidak mampu mereka lakukan. Karena itulah disebutkan oleh firman selanjutnya:
{وَلَئِنْ قُوتِلُوا لَا يَنْصُرُونَهُمْ}
dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tiada akan menolongnya. (Al-Hasyr: 12)
Maksudnya, mereka tidak mau berperang bersama orang-orang Bani Nadir.
{وَلَئِنْ نَصَرُوهُمْ}
sesungguhnya jika mereka menolongnya. (Al-Hasyr: 12)
Yaitu mereka membantu orang-orang Bani Nadir dan berperang bersamanya.
{لَيُوَلُّنَّ الأدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ}
niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. (Al-Hasyr: 12)
Hal ini mengandung berita gembira tersendiri (bagi kaum Muslim).
Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:
{لأنْتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِمْ مِنَ اللَّهِ}
Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. (Al-Hasyr: 13)
Rasa takut mereka kepada kalian lebih besar daripada ketakutan mereka kepada Allah. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً}
tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut lagi dari pada itu. (An-Nisa: 77)
Maka dari itu, disebutkan oleh firman-Nya:
{ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ}
Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Al-Hasyr: 13)
Selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya:
{لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ}
Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. (Al-Hasyr: 14)
Yakni karena sifat pengecut dan penakutnya, mereka tidak mampu menghadapi pasukan kaum muslim dengan perang tanding atau berhadap-hadapan, melainkan adakalanya dari balik benteng-benteng atau di balik tembok dalam keadaan terkepung sehingga mereka terpaksa harus membela dirinya. Kemudian disebutkan oleh firman-Nya:
{بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ}
Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. (Al-Hasyr: 14)
Yaitu permusuhan di antara sesama mereka sangat keras, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ}
dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. (Al-An'am: 65)
Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:
{تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى}
Kamu kira mereka itu bersatu, sedangkan hati mereka berpecah belah. (Al-Hasyr: 14)
Yakni kamu lihat mereka seakan-akan bersatu dan rukun, padahal kenyataannya mereka bertentangan di antara sesamanya dan berpecah belah. Menurut Ibrahim An-Nakha'i, makna yang dimaksud adalah kaum Ahli Kitab dan kaum munafik.
{ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ}
Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Al-Hasyr: 14)
*******************
Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:
{كَمَثَلِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَرِيبًا ذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}
(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Al-Hasyr: 15)
Mujahid, As-Saddi, dan Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah seperti apa yang dialami oleh orang-orang Quraisy dalam Perang Badar.
Ibnu Abbas mengatakan seperti orang-orang yang sebelum mereka, yakni orang-orang Yahudi Bani Qainuqa'. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah dan Muhammad ibnu Ishaq. Pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran karena orang-orang Yahudi Bani Qainuqa' telah diusir oleh Rasulullah Saw. sebelum itu.
*******************
Firman Allah Swt.:
{كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ}
(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, "Kafirlah kamu, " Maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu.” (Al-Hasyr: 16)
Yakni perumpamaan orang-orang Yahudi yang terbujuk oleh janji pertolongan dari sebagian orang-orang munafik, dan ucapan orang-orang munafik kepada mereka, "Jika kamu diperangi, maka kami akan membantumu." Kemudian setelah peristiwanya terjadi dan dijumpai mereka telah dikepung dan diperangi, maka orang-orang munafik itu berlepas diri dari mereka dan menyerahkan mereka kepada kehancuran.
Perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan setan ketika merayu manusia —semoga Allah melindungi kita dari godaannya—, "Kafirlah kamu." Maka tatkala manusia itu terpengaruh oleh rayuannya dan mau kafir, berlepas dirilah setan darinya dan berbalik mencelanya, lalu berkata:
{إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ}
Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. (Al-Hasyr: 16)
Sehubungan dengan hal ini ada sebagian ulama yang mengetengahkan kisah yang dialami oleh sebagian ahli ibadah Bani Israil sebagai contoh dari perumpamaan dalam ayat ini, tetapi bukan berarti sebagai makna yang dimaksud semata dari misal ini, bahkan menyangkut pula berbagai misal yang serupa lainnya.
Untuk itu Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khallad ibnu Aslam, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Syamil, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Ishaq; ia pernah mendengar Abdullah ibnu Nahik mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ali r.a. bercerita seperti berikut:
Di masa lalu pernah ada seorang rahib yang beribadah selama enam puluh tahun. Lalu setan bermaksud untuk menggodanya, tetapi tidak berhasil. Maka setan mendekati seorang wanita dan membuat wanita itu menjadi gila, sedangkan wanita itu mempunyai banyak saudara laki-laki. Kemudian setan berkata kepada saudara-saudara lelaki perempuan itu, "Pergilah kamu kepada pendeta ini, dialah yang akan mengobatinya."
Ali r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa lalu mereka datang dengan membawa saudara perempuan mereka yang gila itu kepada si rahib. Maka si rahib mengobatinya dan merawatnya di dalam rumahnya. Dan pada suatu hari ketika si rahib sedang sendirian bersama pasiennya, tiba-tiba ia terpesona dengan kecantikannya, akhirnya ia menggaulinya hingga mengandung. Maka untuk menutupi rasa malunya ia terpaksa membunuhnya, tidak lama kemudian saudara-saudaranya datang. Maka setan berkata kepada si rahib, "Aku adalah temanmu, kamu telah membuatku susah, akulah yang melakukan semua ini kepadamu. Maka taatilah aku, niscaya aku dapat menyelamatkanmu dari perbuatanmu itu. Sekarang bersujudlah kepadaku!" Akhirnya si rahib mau bersujud. Setelah bersujud kepada setan, maka setan berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam."
Ali r.a. melanjutkan, bahwa yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya: (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, "Kafirlah kamu!" Maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”(Al-Hasyr: 16)
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Ibrahim Al-Mas'udi, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Al-A'masy, dari Imarah, dari Abdur Rahman ibnu Yazid, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a. sehubungan dengan ayat ini: (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, "Kafirlah kamu!" Maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”(Al-Hasyr: 16) -
Dahulu pernah ada seorang wanita penggembala ternak kambing, ia mempunyai empat saudara laki-laki, dan bila malam tiba wanita penggembala itu menginap di biara seorang rahib. Rahib turun dari biaranya dan berbuat lacur (mesum) dengan wanita penggembala itu, yang lama-kelamaan hamil.
Lalu setan mendatanginya dan berkata kepadanya, "Bunuh saja wanita ini dan langsung kamu kubur, karena sesungguhnya kamu adalah seorang lelaki yang dipercaya dan perkataanmu didengar." Akhirnya si rahib membunuh wanita itu, lalu mengebumikannya. Di lain waktu setan mendatangi semua saudara lelaki wanita itu dalam mimpinya dan mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya si rahib penunggu biara itu telah berbuat mesum dengan saudara perempuanmu; dan setelah saudara perempuanmu hamil, si rahib itu membunuhnya dan menguburnya di tempat anu."
Pada keesokan harinya seseorang dari mereka mengatakan, "Demi Allah, tadi malam aku bermimpi sesuatu yang saya sendiri tidak tahu apakah aku harus menceritakannya kepada kalian ataukah tidak." Mereka menjawab, "Tidak, bahkan kamu harus menceritakannya kepada kami." Lalu ia menceritakan mimpinya itu kepada mereka. Yang lain berkata, "Demi Allah, aku pun telah bermimpi sama dengan itu." Yang lainnya lagi berkata, "Aku pun bermimpi sama dengan itu." Mereka berkata, "Demi Allah, ini adalah sesuatu yang tiada lain pasti kejadiannya."
Lalu mereka berangkat dan bersiap-siap untuk mengadukan perkara si rahib itu kepada raja mereka. Mereka mendatangi rahib itu dan menurunkannya dari biaranya, lalu membawanya pergi. Di tengah jalan, setan menemui rahib itu dan berkata kepadanya, "Sesungguhnya akulah yang menjerumuskan dirimu ke dalam perkara ini, dan tidak ada yang dapat menyelamatkan dirimu dari perkara ini selain aku. Maka sekarang bersujudlah kamu kepadaku sekali saja, aku akan menyelamatkan dirimu dari kesulitanmu ini." Akhirnya si rahib itu mau bersujud kepadanya. Setelah mereka mendatangkan rahib itu kepada raja mereka, setan berlepas diri darinya. Akhirnya si rahib ditangkap, lalu dihukum mati.
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Tawus, dan Muqatil ibnu Hayyan. Dan menurut riwayat yang terkenal di kalangan banyak ulama, rahib ini bernama Barsisa; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Kisah ini berbeda dengan kisah Juraij si ahli ibadah, karena Juraij dituduh oleh seorang wanita yang mengakui bahwa dirinya dihamili oleh Juraij, dan bahwa kandungannya adalah hasil hubungannya dengan Juraij. Kemudian kasusnya dilaporkan kepada penguasa setempat, maka Juraij dipecat dan diturunkan dari biara tempat ibadahnya, sedangkan biaranya dirusak. Juraij hanya dapat berkata, "Mengapa kalian ini?" Mereka berkata, "Hai musuh Allah, engkau telah berbuat mesum dengan wanita ini!"
Juraij menjawab, "Bersabarlah kalian." Kemudian ia mengambil bayi wanita itu yang masih merah, lalu bertanya kepadanya, "Hai bayi, siapakah sebenarnya ayahmu?" Maka dengan serta merta bayi yang masih merah itu menjawab, "Ayahku adalah penggembala." Wanita itu telah menyerahkan dirinya kepada si penggembala, akhirnya dari hasil hubungannya ia mengandung (lalu melemparkan tuduhannya kepada si Juraij). Ketika Bani Israil menyaksikan kebenaran ini, maka mereka semuanya menghormati Juraij dengan penghormatan yang berlebihan. Dan mereka mengatakan, "Kami akan membangun kembali biaramu dari emas." Juraij menjawab, "Jangan, tetapi kembalikanlah seperti semula, yaitu dengan tanah liat."
*******************
Firman Allah Swt.:
{فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا}
Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al-Hasyr: 17)
Yakni akibat perkara dari yang memerintahkan kepada kekafiran dan yang melakukannya serta tempat kembali keduanya adalah neraka Jahanam, keduanya kekal di dalamnya.
{وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ}
Demikianlah balasan orang-orang yang zalim. (Al-Hasyr: 17)
Yaitu balasan yang diterima oleh tiap-tiap orang yang zalim.

 {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19) لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (20) }
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni'surga itulah orang-orang yang beruntung.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Aun ibnu Abu Juhaifah, dari Al-Munzir ibnu Jarir, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ketika kami bersama Rasulullah Saw. di suatu pagi hari, tiba-tiba datanglah kepada Rasulullah Saw. suatu kaum yang tidak beralas kaki dan tidak berbaju. Mereka hanya mengenakan jubah atau kain 'abaya, masing-masing dari mereka menyandang pedang. Sebagian besar dari mereka berasal dari Mudar, bahkan seluruhnya dari Mudar. Maka berubahlah wajah Rasulullah Saw. melihat keadaan mereka yang mengenaskan karena kefakiran mereka. Kemudian Rasulullah Saw. masuk dan keluar, lalu memerintahkan kepada Bilal agar diserukan azan dan didirikan salat. Lalu Rasulullah Saw. salat. Seusai salat, beliau berkhotbah dan membacakan firman-Nya: Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu. (An-Nisa: 1), hingga akhir ayat. Beliau membaca pula firman Allah Swt. dalam surat Al-Hasyr, yaitu: dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (Al-Hasyr: 18) Hendaklah seseorang bersedekah dengan uang dinarnya, dengan uang dirhamnya, dengan sa' jewawutnya, dengan sa' buah kurmanya. Hingga Nabi Saw. bersabda, bahwa sekalipun dengan separo biji kurma. Maka datanglah seorang lelaki dari kalangan Ansar dengan membawa kantong yang telapak tangannya hampir tidak mampu menggenggamnya, bahkan memang tidak dapat menggenggamnya. Kemudian orang-orang lain mengikuti jejaknya hingga aku (perawi) melihat dua tumpukan makanan dan baju. Dan kulihat wajah Rasulullah Saw. berseri, seakan-akan berkilauan cemerlang, lalu beliau Saw. bersabda:
"مَن سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنقُص مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُها وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ".
Barang siapa yang memprakarsai perbuatan yang baik dalam Islam, maka baginya pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti jejaknya sesudahnya tanpa mengurangi sesuatu pun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang memprakarsai perbuatan yang buruk dalam Islam, maka dia mendapat dosanya dan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka barang sedikitpun.
Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini secara munfarid melalui hadis Syu'bah berikut sanad yang semisal.
*******************
Firman Allah Swt.:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ}
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. (Al-Hasyr: 18)
Perintah untuk bertakwa kepada Allah Swt. yang pengertiannya mencakup mengerjakan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya.
Firman Allah Swt.:
{وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ}
dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), (Al-Hasyr: 18)
Yakni hitung-hitunglah diri kalian sebelum kalian dimintai pertanggung jawaban, dan perhatikanlah apa yang kamu tabung buat diri kalian berupa amal-amal saleh untuk bekal hari kalian dikembalikan, yaitu hari dihadapkan kalian kepada Tuhan kalian.
{وَاتَّقُوا اللَّهَ}
dan bertakwalah kepada Allah. (Al-Hasyr: 18)
mengukuhkan kalimat perintah takwa yang sebelumnya.
{إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ}
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr: 18)
Artinya, ketahuilah oleh kalian bahwa Allah mengetahui semua amal perbuatan dan keadaan kalian, tiada sesuatu pun dari kalian yang tersembunyi bagi-Nya dan tiada sesuatu pun —baik yang besar maupun yang kecil— dari urusan mereka yang luput dari pengetahuan-Nya.
Firman Allah Swt.:
{وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ}
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. (Al-Hasyr: 19)
Yaitu janganlah kamu lupa dari mengingat Allah, yang akhirnya kamu akan lupa kepada amal saleh yang bermanfaat bagi diri kalian di hari kemudian, karena sesungguhnya pembalasan itu disesuaikan dengan jenis perbuatannya. Maka disebutkanlah dalam firman berikutnya:
{أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ}
Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Al-Hasyr: 19)
Yakni orang-orang yang keluar dari jalan ketaatan kepada Allah, yang akan binasa di hari kiamat lagi merugi di hari mereka dikembalikan. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ}
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Munafiqun: 9)
Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Wahhab Ibnu Najdah Al-Huti, telah menceritakan kepada kami Al-Mugirah, telah menceritakan kepada kami Jarir ibnu Usman, dari Na'im ibnu Namihah yang mengatakan bahwa di antara isi khotbah yang diucapkan oleh Abu Bakar As-Siddiq r.a. adalah seperti berikut, bahwa tidakkah kalian ketahui bahwa kalian berpagi hari dan bersore hari sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan? Maka barang siapa yang mampu menghabiskan waktunya untuk beramal karena Allah Swt., hendaklah ia mengerjakannya. Dan kalian tidak akan dapat meraih hal itu kecuali dengan pertolongan Allah Swt. Sesungguhnya ada suatu kaum yang menghabiskan waktu (usia) mereka untuk selain diri mereka. Maka Allah melarang kalian menjadi orang seperti mereka. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. (Al-Hasyr: 19) Manakah teman-teman kalian yang kalian kenal? Mereka telah menunaikan amal perbuatan mereka di masa lalu. Akhirnya mereka menerima balasannya, ada yang berbahagia dan ada yang celaka. Di manakah orang-orang yang sewenang-wenang yang terdahulu yang telah menghuni kota-kota besar yang mereka bentengi dengan tembok-tembok yang tinggi, kini mereka telah berada di bawah batu dan sumur. Dan ini adalah Kitabullah yang keajaibannya tidak pernah lenyap, maka ambillah penerangan darinya untuk menghadapi hari yang gelap. Dan ambillah penerangan dari sinar dan keterangannya. Sesungguhnya Allah telah memuji Zakaria dan ahli baitnya melalui firman-Nya: Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (Al-Anbiya: 90) Tiada kebaikan pada ucapan yang tidak dimaksudkan untuk mendapat rida Allah, dan tiada kebaikan pada harta yang tidak dibelanjakan kepada jalan Allah. Dan tiada kebaikan pada orang yang sifat jahilnya mengalah­kan sifat penyantunnya. Dan tiada kebaikan pada orang yang takut kepada celaan orang yang mencela dalam membela agama Allah. Sanad asar ini jayyid dan semua perawinya siqah. dan gurunya Jarir ibnu Usman adalah Na'im ibnu Namihah, sepanjang pengetahuan saya tiada yang mempertentangkannya dan tiada pula yang mengukuhkannya, hanya saja Abu Daud As-Sijistani telah memutuskan bahwa semua guru Jarir adalah orang-orang yang berpredikat siqah. Dan Khotbah ini telah diriwayatkan melalui jalur-jalur lain yang menguatkannya; hanya Allah-Iah Yang Maha Mengetahui.
*******************
Firman Allah Swt.:
{لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ}
Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga. (Al-Hasyr: 20)
Yakni antara mereka dan mereka tidaklah sama menurut hukum Allah Swt. kelak di hari kiamat, semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ}
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Al-Jatsiyah: 21)
{وَمَا يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَلا الْمُسِيءُ}
Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran. (Al-Mu’min: 58)
Dan firman Allah Swt.:
{أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الأرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ}
Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (Shad: 28)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah memuliakan orang-orang yang berbakti dan menghina orang-orang yang durhaka. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:
{أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ}
penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 20)
Yaitu orang-orang yang selamat dan terbebas dari azab Allah Swt. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar