|
6. Al An'aam
|
|
21. Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang
membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya?
Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.
|
|
6. Al An'aam
|
|
Kesaksian kaum musyrikin terhadap dirinya sendiri dan keadaan mereka di hari kiamat
22. Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun
mereka semuanya[464] kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: "Di
manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu katakan (sekutu-sekutu)
Kami?."
|
|
[464]. Semua makhluk Allah yang mukallaf.
|
|
6. Al An'aam
|
|
23. Kemudian tiadalah fitnah[465] mereka, kecuali mengatakan:
"Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah."
|
|
[465]. Yang dimaksud dengan fitnah di sini ialah jawaban
yang berupa kedustaan.
|
|
6. Al An'aam
|
|
24. Lihatlah bagaimana mereka telah berdusta kepada diri
mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu
mereka ada-adakan.
|
|
6. Al An'aam
|
|
25. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkani
(bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka
(sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di
telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap
tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk
membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al-Quran ini tidak lain
hanyalah dongengan orang-orang dahulu."
|
|
6. Al An'aam
|
|
26. Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran
dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah
membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.
|
|
6. Al An'aam
|
|
27. Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka
dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan
(ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang
yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).
|
|
6. Al An'aam
|
|
28. Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan
yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya[466]. Sekiranya mereka dikembalikan ke
dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang
mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.
|
|
[466]. Maksudnya: mereka sebenarnya tidak bercita-cita
ingin dikembalikan ke dunia untuk beriman kepada Allah, tetapi perkataan itu
semata-mata diucapkan karena melihat kedahsyatan neraka.
|
|
6. Al An'aam
|
|
29. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup
hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan
dibangkitkan"[467].
|
|
[467]. Maksudnya: jika mereka dikembalikan ke dunia,
mereka akan mengatakan demikian.
|
|
6. Al An'aam
|
|
30. Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan
kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman
Allah: "Bukankah (kebangkitan ini benar?" Mereka menjawab:
"Sungguh benar, demi Tuhan kami." Berfirman Allah: "Karena itu
rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari(nya)."
|
|
6. Al An'aam
|
|
31. Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan
pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka
dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami,
terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul
dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul
itu.
|
|
6. Al An'aam
|
|
32. Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari
main-main dan senda gurau belaka[468]. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang
yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?
|
|
[468]. Maksudnya: kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya
sebentar dan tidak kekal. Janganlah orang terperdaya dengan
kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat.
|
|
6. Al An'aam
|
|
Firman Allah yang membesarkan hati Nabi Muhammad s.a.w.
33. Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang
mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena
mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim
itu mengingkari ayat-ayat Allah[469].
|
|
[469]. Dalam ayat ini Allah menghibur Nabi Muhammad s.a.w.
dengan menyatakan bahwa orang-orang musyrikin yang mendustakan Nabi, pada
hakekatnya adalah mendustakan Allah sendiri, karena Nabi itu diutus untuk
menyampaikan ayat-ayat Allah.
|
|
6. Al An'aam
|
|
34. Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul
sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan
(yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada
mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji)
Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita
rasul-rasul itu.
|
|
6. Al An'aam
|
|
35. Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat
bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit
lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah)[470]. Kalau Allah menghendaki, tentu saja
Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali
kamu termasuk orang-orang yang jahil
|
|
[470]. Maksudnya ialah: janganlah kamu merasa keberatan
atas sikap mereka itu berpaling daripada Kami. Kalau kamu merasa keberatan
cobalah usahakan suatu mukjizat yang dapat memuaskan hati mereka, dan kamu
tentu tidak akan sanggup.
|
|
6. Al An'aam
|
|
36. Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi
(seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya)[471], akan dibangkitkan oleh Allah,
kemudian kepadaNyalah mereka dikembalikan.
|
|
[471]. Maksudnya orang-orang yang kafir tidak mendengarkan
dan tidak mematuhi seruan Allah.
|
|
6. Al An'aam
|
|
37. Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata:
"Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari
Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu
mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."
|
|
6. Al An'aam
|
|
Kesempurnaan ilmu Allah dan bukti-bukti kekuasaan-Nya
38. Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan
burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga)
seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[472], kemudian kepada Tuhanlah mereka
dihimpunkan.
|
|
[472]. sebahagian mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu
dengan Lauhul mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah
dituliskan (ditetapkan) dalam Lauhul mahfudz. Dan ada pula yang
menafsirkannya dengan Al-Quran dengan arti: dalam Al-Quran itu telah ada
pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk
kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, dan kebahagiaan makhluk pada
umumnya.
|
|
6. Al An'aam
|
|
39. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah
pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah
(kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya[473]. Dan barangsiapa yang dikehendaki
Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas
jalan yang lurus.
|
|
[473]. Lihat no. [34]
|
|
6. Al An'aam
|
|
40. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang
siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru
(tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!"
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar